Rabu, 05 Juli 2023

Pride of Banua, Uniknya "Tanda Cinta" di Jersey Barito Putera

Siluet Foto Haji Leman dan Istri, Hajah Nurhayati  di Jersey Barito Putera 2018 | @kaekaha


Nama Barito Putera atau lengkapnya "Persatuan Sepakbola Barito Putera" dan  biasa disingkat menjadi PS. Barito Putera tentu sudah sangat familiar bagi para penikmat olahraga sepakbola di Indonesia. Dari nama depannya yang ikonik, PS! Kelihatan sekali kalau  klub ini termasuk generasi klasik era Perserikatan dan Galatama!

Klub sepakbola profesional "milik keluarga" satu-satunya di Indonesia yang masih bertahan dan tetap terus berkiprah di kompetisi tertinggi Liga Indonesia setelah 35 tahun berdiri ini, beberapa hari yang lalu baru saja meluncurkan squad-nya berikut jersey baru untuk mengarungi kompetisi liga 1 2023/2024 dengan cara yang unik dan pastinya berbeda dengan klub-klub profesional manapun.

Baca Juga :  Meneladani Sosok Haji Leman, Putra Dayak Pendiri Barito Putera

Ada sebentuk relasi yang cukup unik antara PS. Barito Putera dengan banua (bhs. Banjar yang maknanya setara dengan istilah "wanua"-nya masyarakat ManadoSulawesi Utara), "kampung halaman"-nya Kalimantan Selatan. Sebagai kebanggaan banua yang sampai detik ini tetap konsisten mengusung spirit "pride of Banua", luar biasanya Laskar Antasari  (julukan Barito Putera), layaknya "kacang yang tak lupa kulit". Mereka juga sangat cinta dan  membanggakan banua, kampung halaman-nya. Naaah keren kan!?


Tidak heran jika setiap ada hajatan besar, manajemen Barito Putera selalu mengangkat tradisi dan budaya melayu Banjar khas Kalimantan Selatan, home base PS. Barito Putera, termasuk dalam peluncuran squad Laskar Antasari, berikut 3 desain jersey barunya tersebut. 

Dalam acara "tasyakuran kolosal" bertajuk Barito Putera Bersholawat yang digelar di halaman ruang publik Masjid Raya Sabilal Muhtadin, salah satu masjid terbesar dan tercantik sekaligus landmark penting Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas ini, dari semua yang hadir, termasuk ribuan suporter dan pecinta Laskar Antasari dari berbagai unsur masyarakat umum, juga forkopimda Kalimantan Selatan, para habaib dan juga ulama-ulama kharismatik di banua yang juga didapuk sebagai Dewan Penasihat, semuanya melangitkan doa untuk keberhasilan dan kesuksesan Barito Putera. 

Baca Juga :  "Tradisi Unik" Peluncuran Tim and Jersey Barito Putera di Majelis Taklim Guru Zuhdi 

Ini yang unik! Ketika sebuah entitas berbasis olahraga sebagai representasi prestasi fisik duniawi "dikawinkan" dengan shalawatan sebagai praktik spiritual yang telah melekat erat dengan tradisi budaya-spiritual Urang Banjar yang diyakini berkorelasi secara vertikal dengan Sang Khalik. Sebagai upaya untuk selalu melibatkanNya di setiap usaha dan upaya Laskar Antasari meraih semua mimpi dan harapannya.

Secara matematis manfaat linier dari sinergi keduanya sepertinya memang tidak bisa begitu saja terdeteksi, tapi secara mental dan spiritual diyakini banyak pihak mampu mendongkrak keyakinan dan rasa percaya diri semua elemen Laskar Antasari dalam upayanya mencetak sejarah menjuarai Liga 1 2023/2024. Semoga!


 

Tanda Cinta di Jersey

Seperti sudah di publikasikan di berbagai media, manajemen Barito Putera di musim 2023/2024 kali ini kembali merilis 3 desain jersey berbeda. Uniknya, jersey utama untuk pertandingan kandang (home) dari tim "warisan" era kompetisi Galatama pada tahun 80-an yang masih tersisa ini (Barito Putera berdiri pada 21 April 1988), desain kaosnya yang berkerah didominasi oleh warna kuning dan biru, dianggap identik dengan Jersey klub Al Nassr dari Arab Saudi yang sekarang memang sedang naik daun, karena diperkuat oleh megabintang timnas Portugal, Christiano Ronaldo. 

Karenanya, banyak netizen yang menyebut jersey utama Barito Putera edisi terbaru ini sebagai "Al Nassr versi Banjar" atau ada juga yang menyebut sebagai "Al Nassr versi kearifan lokal".  Tapi menurut manajemen, jersey terbaru squad Laskar Antasari ini merupakan representasi dari semangat juara squad Barito Putera pada kompetisi Divisi Utama  musim 2011/2012, satu dekade silam. Wallahualam! 

Baca Juga :  Mengulik Bus Mewah Tunggangan Baru Skuad Barito Putera

Untuk jersey kedua, yaitu untuk pertandingan tandang (away), warnanya masih relatif sama dengan jersey musim sebelumnya yang di dominasi warna hitam dan sedikit aksen garis diagonal berwarna kuning. Sedangkan untuk jersey ketiga, didominasi oleh warna putih dan sedikit sentuhan pemanis warna gold yang kontras di bagian-bagian ujung yang membuat jersey tampak semakin elegan dan berkharisma.

Ada tradisi unik dan juga inspiratif sebagai bentuk pengejawantahan slogan Pride of Banua yang terus dilestarikan oleh PS. Barito Putera di setiap merilis jersey baru yang pada dasarnya merupakan sebuah simbol tanda cinta. Berikut faktanya!


Pride of Banua  | Screenshot You Tube Barito Putera Official

"Pride of Banua"

Jika anda jeli mengamati jersey Barito Putera, terutama sejak musim 2018/2019. Saat itu, PS Barito Putera yang merayakan ulang tahun ke -30 meluncurkan jersey khusus edisi ulang tahun yang ditandai dengan beberapa tanda cinta yang unik, estetik dan tentunya sangat menginspirasi, yaitu sebuah siluet foto berdiameter sekitar 5 cm dari dua sosok founding father, pendiri dan pemilik kerajaan bisnis Hasnur Group, termasuk PS. Barito Putera, Haji Sulaiman HB atau Haji Leman bersama isteri, Hajah Nurhayati. 

"Tanda cinta" pertama dan utama semua elemen Barito Putera kepada pendiri sekaligus pemilik PS. Barito Putera ini posisinya di bagian punggung jersey atau tepatnya diatas nomor punggung pemain dan Samapi saat ini masih tetap terpasang di semua Jersey pemain Barito Putera. Ini yang tidak dimiliki oleh klub-klub profesinal lain di seluruh penjuru dunia.

Wasaka | Screenshot You Tube Barito Putera Official

Tidak hanya itu, "tanda cinta" Barito Putera memang tidak hanya berhenti pada sosok Haji Leman dan isteri saja, tapi juga kepada banua. Kampung halaman kita semua, Kalimantan Selatan. 

Baca Juga :  Barito Putera Raih Penghargaan Tim Paling Fair Play di Liga 1 Musim 2018

Selain siluet Haji Leman dan Istri, di jersey pemain Barito Putera juga terdapat sebentuk tanda cinta  kepada banua yang begitu identik, yaitu adanya tulisan frasa "Pride of Banua" yang lokasinya persis diatas siluet foto Haji Leman dan Istri di bagian belakang Jersey

Frasa ini menjadi unik, menarik dan tentunya ikonik, selain maknanya yang inspiratif, juga karena susunan katanya yang juga nyentrik, yaitu menggabungkan bahasa Inggris dengan Bahasa Banjar yang secara otomatis juga ikut mempopulerkan kosakata bahasa Banjar ke ranah yang lebih luas.

Lambang Daerah Kalimantan Selatan | wikipedia.org


Selain itu, di bagian ban lengan luar Jersey tersemat juga sesanti atau slogan heroik nan legendaris yang diyakini bertuah, kebanggaan Urang Banjar yang dalam sejarahnya dipopulerkan oleh Pahlawan nasional Sultan Suriansyah untuk membakar semangat pengikutnya saat berjuang melawan penjajah Belanda, Waja Sampai Kaputing atau disingkat menjadi Wasaka.

Sesanti yang juga tersemat dalam lambang daerah Kalimantan Selatan ini, lengkapnya berbunyi "Haram Manyarah, Waja Sampai Kaputing" yang maknanya adalah berjuang tanpa kenal menyerah, tetap bertekad baja sampai akhir. Ini jelas identik dengan sesanti perjuangan nenek moyang kita saat mengusir penjajah, berjuang sampai titik darah penghabisan! 

Itulah sebabnya kenapa Barito Putera di juluki sebagai Laskar Antasari!

Terima kasih, Semoga Bermanfaat!

Salam Matan Kota 1000 Sungai,
Banjarmasin nan Bungas!


Artikel ini juga tayang di Kompasiana pada 30 Juni 2023  jam  10:07 WIB (klik disini untuk membaca) dan terpilih sebagai Artikel Pilihan.

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN

 








 

Senin, 03 Juli 2023

Keunikan Situs "Masjid di Dalam Masjid Agung Al-Karomah", Martapura, Kalimantan Selatan

 
Tampak Bangunan Lama Masjid Berbahan Kayu |@kaekaha

Kota Martapura, ibu kota Kabupaten Banjar di Kalimantan Selatan, selain dikenal dengan beragam batuan mulianya, juga kesohor dengan julukannya sebagai Kota Serambi Mekah-nya Kalimantan Selatan.

Martapura Kota Santri

Wajar, karena di kota yang pernah menjadi pusat pemerintahan sekaligus saksi bisu kejayaan Kesultanan Banjar inilah, ditangan 12 sultan yang pernah memerintahnya, nafas peradaban Islami yang dibangun sejak ratusan tahun silam masih kental terasa dan terlihat sampai detik ini.

Kalau anda masih ingat dengan lagu qasidah legendaris berjudul Kota Santri, seperti narasi dalam lirik lagu qasidah itulah suasana pagi dan sore hari di kota Martapura.  


    Suasana di kota santri
    Asyik senangkan hati
    Tiap pagi dan sore hari
    Muda-mudi berbusana rapi
    Menyandang kitab suci
    Hilir-mudik silih berganti
    Pulang-pergi mengaji


Nafas ke-Islaman yang begitu kental terasa dan terlihat begitu meneduhkan di Kota Martapura sampai saat ini, tidak terlepas dari peran para tetuha (moyang ; bahasa Banjar) sejak ratusan tahun silam, yaitu para alim ulama bumi Banjar yang sebagian besar memang bermukim di seputar Kota Martapura, Kota tua yang juga dikenal sebagai kampung halaman dari para ulama besar bumi Banjar ini.
 
Baca Juga :  Mengenal Datu’ Kalampaian dan 4 Serangkai Ulama dari Tanah Jawi (Melayu) Inspirasi Nusantara

Di Martapura, para tetuha, alim ulama ini membangun pondok pesantren yang sampai sekarang masih eksis dan banyak bertebaran di seluruh sudut Kota Martapura, berikut puluhan ribu santrinya yang datang dari berbagai kota di seluruh pelosok nusantara.

Selain pesantren, salah satu peninggalan sejarah peradaban Islam di Kota Martapura yang telah berusia ratusan tahun dan sampai sekarang tetap menjadi simpul dari aktifitas reliji, sosial dan budaya masyarakat kota adalah Masjid Jami Martapura yang mulai dibangun pada tanggal 10 Rajab 1315 H atau 5 Desember 1897 M ada juga yang menyebutnya tanggal 10 Muharram 1280 H atau 27 April 1863 M. Wallahu A'lam Bisshawab.
 
Lorong Beranda Masjid | @kaekaha

Megahnya Arsitektur Masjid Al Karomah

Masjid Jami Martapura yang sejak tanggal 12 Rabiul Awal 1415 H atau 20 Agustus 1994 namanya dirubah menjadi Masjid Agung Al Karomah ini, seperti layaknya bangunan-bangunan di bumi Banjar pada umumya, pada awal didirikannya menggunakan struktur kayu ulin (Eusideroxylon zwageri) untuk semua bagian bangunannya, mulai dari pondasi, rangka, dinding, lantai, sampai atap sirap berbentuk tumpang limas segi empat dan meruncing di bagian atas mirip dengan atap Masjid Sultan Suriansyah, di Kota Lama Kuin yang memang menginduk pada arsitektur dari Masjid Agung Demak.

Baca Juga :  Masjid Sultan Suriansyah, Monumen Berdirinya Kota Banjarmasin
 
Sampai saat ini,  Masjid Al Karomah pernah mengalami tiga kali renovasi besar. Uniknya, setiap dilakukan renovasi tersebut arsitektur masjid ini juga ikut dirubah. Terakhir, renovasi yang menelan dana sebesar 27 milyar dan diikuti penggantian nama masjid menjadi Masjid Agung Al Karomah ini hanya menyisakan soko guru, beberapa meter lantai yang sekarang dipasang kaca tebal, kotak amal kuno  dan mimbar dari masjid yang asli.

Arsitektur baru Masjid Agung Al-Karomah mengadopsi gaya masjid-masjid modern di timur tengah dengan kubah-kubah berbentuk sepeti bawang berlapis enamel berwarna dominan biru dan hijau dengan pola simetris yang sangat indah sebanyak 7 (tujuh) buah,  3 (tiga) kubah utama pada bagian tengah bangunan dan 4 (empat) kubah yang lebih kecil di setiap sudut bangunan utamanya.  

Dominasi arsitektur modern Islam ala timur tengah yang diadopsi Masjid  Agung Al-Karomah juga tampak pada model gapura berwarna krem dengan pintu masuk berbentuk setengah lingkaran untuk menuju ke  halaman utama masjid yang bisa diakses dari Jalan nasional paling panjang dan paling populer di Kalimantan Selatan, Jalan Ahmad Yani.

Selain itu, masjid yang terletak persis di jantung kota yang dijuga dikelilingi pusat-pusat aktifitas sosial masyarakat Kota Martapura, seperti pasar, alun-alun dan juga kantor-kantor pemerintahan ini juga mempunyai menara bergaya modern yang tidak kalah cantiknya dan juga stasiun radio dakwah yang tetap eksis di tengah gempuran media online.

Pintu Gerbang Masjid | @kaekaha


Uniknya Situs Masjid Di Dalam Masjid


Salah satu sisi unik dari Masjid Agung Al Karomah di Kota Martapura ini adalah teknik arsitektur dan juga penataan interior bagian dalam masjidnya yang bisa memadu padankan dengan cerdas arsitektur masjid lama yang terbangun dari struktur kayu ulin (Eusideroxylon zwageri) yang tetap dihidupkan secara utuh meskipun tanpa dinding dengan aksitektur modern yang begitu megah dan berkelas khas timur tengah, sehingga seolah-olah kita seperti melihat ada bangunan masjid tua dari kayu ulin didalam masjid megah berstruktur beton yang konon bisa menampung sebanyak 21.000 jamaah ini. Wooow keren kan?

    Baca Juga :  Masjid Sabilal Muhtadin, Ruang Dialektika Budaya Kalimantan

Struktur bangunan masjid lama yang menggunakan kayu ulin (Eusideroxylon zwageri) bisa dilihat dari 4 (empat) tiang soskoguru yang masih tegak berdiri menopang Langit-langit yang juga berbahan kayu ulin dengan model kuno yang tepat di bagian tengahnya terpasang chandeliers bergaya tidak kalah klasiknya, sangat kontras dengan pilar-pilar beton besar yang mengelilinginnya.

Tiang Sokoguru | @kaekaha

Bergeser sedikit kedepan dari struktur bangunan lama di tengah bagian masjid, kita akan berdiri tepat dibawah kubah utama Masjid Agung Al Karomah yang sangat besar berwarna biru langit. Jika beruntung, bertepatan dengan pembersihan masjid atau karpet masjid di gulung untuk diganti yang baru, di lokasi ini kita bisa mendapati lantai berlapis kaca tempat imam dari bangunan masjid yang sengaja didesain sebagai "monumen" dalam masjid.

Di bagian atas, kita akan mendapati cekungan kubah utama yang begitu besar berwarna biru langit yang bagian tengahnya terpasang chandeliers. Saking besarnya, di sekeliling kubah terdapat 16 (enam belas) tiang beton penyangga yang berfungsi sebagai penopang beratnya. Selain, tiang beton untuk penopang kubah utama, di dalam masjid ini juga terdapat banyak sekali struktur tiang penopang yang tersebar di seluruh ruangan masjid.

Struktur Tiang Beton Penyangga Kubah | @kaekaha


Bergeser lagi beberapa meter dari bawah kubah utama menuju ke arah depan kita mendapati ruang imam yang berada tepat dibawah kubah kecil yang bagian tengahnya juga terdapat chandeliers cantik. Antara ruangan imam yang juga sangat besar ini dengan tempat shalat jamaah diberi tanda pemisah berupa penyekat ruangan atau sketsel kecil dari bahan kayu berukir.

    Baca Juga :  Cerita Masjid Tua Tanpa Nama di Sungai Jingah                        

Di ruangan imam inilah, mimbar unik berbahan kayu ulin (Eusideroxylon zwageri) yang berhias ornamen ukiran stylish dari untaian kembang di semua bagiannya yang  berbentuk panggung, lengkap dengan kubah kecil dibagian atapnya dan tangga untuk naik khatib yang akan berkhutbah, peninggalan masjid lama yang berumur ratusan tahun tampak masih kokoh dengan bagian belakang bersandar di dinding.

Sketsel Penyekat Ruang Masjid | @kaekaha


Sampai sekarang, mimbar tua karya H.M Musyafa ini masih dimanfaatkan untuk khutbah Jumat dan khutbah untuk shalat-shalat berjamaah lainnya yang dalam tuntunannya terdapat khutbah dari seorang khatib.

Uniknya, sama seperti di tiang-tinga sokoguru, di tangga naik mimbar yang berkarpet saat itu terdapat kambang barenteng  atau bunga segar biasanya berupa bunga kenanga, melati dan mawar yang dirangkai dengan tali yang umumnya oleh Urang Banjar ditempakan di tempat-tempat yang dianggap bertuah atau dikeramatkan. Sudah pasti, bau harumnya yang menyegarkan dan menenangkan akan menyebar ke segala penjuru ruangan. Haruuuuuuum!

Mimbar Berusia Ratusan Tahun | @kaekaha



Khusus di hari Jumat, biasanya Masjid Agung Al Karomah di Kota Martapura ini mendapatkan "tamu" jenazah untuk disahalatkan lebih banyak dari biasanya, karena pada penghulu hari itu tidak hanya warga dari seputar Kota Marapura saja yang biasanya hadir untuk shalat jumat termasuk mengirimkan jenazah untuk di shalatkan, tapi juga dari berbagai penjuru kabupaten Banjar yang mempunyai total luas ± 4.688 km²  atau separuh lebih luas dari Propinsi DI Yogyakarta dan sedikit lebih kecil dari luas Propinsi Bali.

Ambulance/Mobil Jenazah di Masjid Agung Al Karomah | @kaekaha



Semoga bermanfaat!

Salam dari Kota 1000 Sungai,
Banjarmasin nan Bungas!



Artikel ini juga tayang di Kompasiana pada 30 April 2020  jam  12:35 WIB (klik disini untuk membaca) dan terpilih sebagai Artikel Pilihan.

 
Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN














 

Tetirah, Menepikan Diri di Antara Pesona "Sumedang Grote Moskee"

Khusyuk Bermunajat di Sumedang Grote Moskee alias Masjid Agung Sumedang | @kaekaha

Salah satu peninggalan kebudayaan Islam di berbagai belahan dunia yang mempunyai eksistensi paling aktual dan Insha Allah akan terus terjaga adalah arsitektur tempat ibadahanya atau kita biasa menyebutnya sebagai masjid atau baitullah

Baca Juga : Kronika Writingthon Jelajahi Sumedang 2020

Uniknya, masyarakat nusantara mempunyai beragam sebutan untuk menyebut tempat ibadah umat Islam ini. Mulai dari yang paling umum seperti masjid, langgar, mushalla, surau sampai masigit (Banjar), meunasah (Aceh), musajik (Minang), Masojid (Mandailing/Tapanuli), kobung/kobhung (Madura) dll  

 

View Cantik Sumedang Grote Moskee atau Masjid Agung Sumedang dengan Latar Perbulitan Hijau | @kaekaha

Inilah salah satu keunikan dinamika perkembangan budaya Islam di nusantara, terkhusus untuk arsitektur tempat ibadahnya. Selain nama atau penyebutannya di masing-masing daerah berbeda-beda, ukuran fisik dan pemanfaatannya juga berpotensi menjadi rujukan pemberian namanya. Hayo, apa sebutan masjid atau mushalla di daerahmu?

Selain keragaman dari nama penyebutannya, keunikan lain dari tempat ibadah umat Islam adalah tidak adanya pattern atau patron khusus pada desain arsitekturnya. Asal tidak mengadopsi bentuk riil ornamen makhluk bernyawa atau makhluk hidup dan bentuk-bentuk bangun yang bersifat merendahkan apapun dan siapapun, masjid yang juga menjadi pusat aktifitas umat bisa dibangun dengan mengadopsi bentuk apapun.

Itulah sebabnya, masing-masing komunitas etnis dan juga daerah di penjuru nusantara bahkan dunia, mempunyai kearifan bentuk arsitektur masjid yang berbeda-beda yang kemudian menjadi cirikhasnya. 


Instalasi Disinfektan Pencegah Covid-19 di Lingkungan Masjid | @kaekaha

Di bumi Priangan, Jawa barat yang meliputi kawasan Sukabumi, Cianjur, Bandung, Sumedang, Garut, Tasikmalaya dan Ciamis, masing-masing  mempunyai warisan masjid-masjid bersejarah berusia ratusan tahun dengan cirikhas kearifan arsitektur yang luar biasa indah, megah dan hebatnya masih tetap terjaga sampai saat ini. 

Baca Juga :  "Negeri Bedil" Cipacing, Etalase Kreatifitas Kelas Dunia di Sudut Kota Tahu Sumedang

Salah satunya yang cukup mempesona adalah Sumedang Grote Moskee atau Masjid Agung Sumedang, masjid tua bersejarah yang menurut catatan sejarah mulai dibangun pada 3 Juni 1850 dan selesai pada 1854 di lahan wakaf dari R. Dewi Siti Aisyah, atas gagasan Pangeran Sugih atau Pangeran Soeria Koesoemah Adinata, bupati Sumedang yang menjabat dari tahun 1836 sampai tahun 1882.


Teras Peneduh Mengelilingi Bangunan Masjid dengan Pilar yang Begitu Banyak | @kaekaha


Seperti layaknya masjid agung lain di Pulau Jawa yang menjadi simbol keagungan pemerintahan, lokasi Masjid Agung Sumedang yang berada di lingkungan Kaum RW.10, Kelurahan Regol Wetan, Kecamatam Sumedang Selatan ini juga tepat di sebelah barat alun-alun kota dan berdekatan dengan  pusat pemerintahan/kraton, penjara dan fasilitas umum lainnya, tepat di Jantung Kota Sumedang.

Tidak heran jika masjid yang berlatar belakang view perbukitan hijau yang menyegarkan ini selalu ramai oleh aktifitas umat, tidak hanya di jam-jam sholat lima waktu saja, tapi hampir setiap waktu pengunjung tidak pernah sepi, termasuk di masa pandemi Covid-19 saat ini. Hanya saja, ketatnya protokol kesehatan tetap memaksa pengunjung untuk terus mematuhi semua ketentuan.  


Tiang-tiang Besar di Dalam Ruang Masjid | @kaekaha

Sisi unik Sumedang Grote Moskee atau Masjid Agung Sumedang adalah desain arsitekturnya yang memadukan beberapa kearifan budaya berbeda, Islam, Tionghoa dan Eropa (Belanda).

Fakta ini tidak terlepas dari keterlibatan langsung para perantau dari negeri Cina dalam pembuatan bangunan masjid. Para perantau yang datang langsung dari negeri China ke Sumedang yang kelak juga mempopulerkan kuliner tahu yang sekarang menjadi ikon Sumedang. Sedangkan pengaruh Belanda (Eropa) sangat memungkinkan, karena masjid-masjid kuno nusantara, termasuk Sumedang Grote Moskee atau Masjid Agung Sumedang ini dibangun saat pendudukan dan penjajahan kompeni di nusantara.

Tiang Besar dan Tinggi Bergaya Yunani, Dinding Tebal serta Pintu dan Jendela Berukuran Raksasa Khas Bangunan Kolonial | @kaekaha

Pengaruh budaya Tionghoa, konon  bisa dilihat dari bentuk atap Masjid yang bersusun tiga makin keatas semakin kecil/meruncing, mirip bangunan pagoda, kelenteng atau vihara yang tingkatan paling atas berbentuk limas disebut mamale. Juga ornamen ukiran di bagian atas kusen pintu dan jendela.

Baca Juga :  "Mengudap" "Legitnya Madu" Ubi Cilembu di Kota Buludru, Sumedang

Atap berundak yang biasa disebut meru ini secara umum memang menjadi cirikhas masjid-masjid kuno di seluruh nusantara yang sebenarnya merupakan domain kebudayaan Hindu-Buddha sebagai manifestasi bangunan suci tempat para dewa. Fakta diadopsinya bentuk meru untuk masjid, selain terkait faktor teknis sirkulasi udara dan air hujan, bisa jadi memang bagian dari strategi dakwah untuk menghindari munculnya kekagetan budaya atau cultural shock sehingga bisa merangkul masyarakat sekitar yang saat itu kemungkinan besar mayoritas pemeluk Buddha dan Hindu.


Atap Berundak dengan Mustaka di Puncak Mamale | @kaekaha

Pembeda Sumedang Grote Moskee atau Masjid Agung Sumedang dengan masjid kuno lainnya yang paling mudah dilihat dari jarak jauh sekalipun adalah keberadaan mustaka atau hiasan berbentuk mirip mahkota binokasih milik raja-raja di masa lampau yang bertengger di puncak limas atau mamale.

Sedangkan pengaruh Belanda (Eropa) tampak pada beberapa bagian desain masjid. seperti keberadaan selasar/teras keliling, dinding sangat tebal,  14 (empat belas) tiang artistik bergaya abad 19  berdiameter sekitar 1 meter yang konon dibangun dari susunan batu-bata dan cukup tinggi menyangga atap masjid, begitu juga dengan 20 (dua puluh) jendela berukuran besar setinggi 4 m dan lebar 1,5 m yang tersebar merata di dinding-dinding masjid, menjadikan ruangan masjid tetap sejuk dan nyaman untuk beribadah meskipun cuaca diluar relatif cukup terik.


Interior Masjid Lebih Mirip View Singgasana Keraton | @kaekaha

Uniknya, khusus untuk tiang atau pilar, secara keseluruhan Masjid Agung Sumedang ini ditopang sebanyak 166 tiang, selain 14 tiang raksasa dengan diameter 100 cm, masjid juga ditopang sebanyak 106 tiang dengan diameter 60 cm di bagian luar.

Detail keunikan Masjid Agung Sumedang juga menyentuh bagian interior. Jika kita hanya sebatas melihat dari tampilan foto (seperti diatas), tampilan bagian mihrab tempat imam shalat dan mimbar untuk khatib berkhutbah dalam kesatuan frame, maka yang terlihat lebih identik dengan mahligai sebuah keraton, bukan layaknya mihrab masjid pada umumnya. Unik kan?

Mimbar Antik Untuk Berkhutbah | @kaekaha

Tampilan bak mahligai keraton ini tidak lepas dari keberadaan ornamen berukir berbahan kayu jati dengan aksen tiongkok pada sisi luar kusen pintu bagian mihrab, 2 (dua) buah jam duduk kayu dan mihrab tua berukir indah dan beratap limas kecil yang lebih menyerupai singgasana  seorang raja daripada mimbar untuk berkhutbah, dengan aksen warna keemasan pada bagian tiang dan warna cokelat kayu pada bagian lainnya.   

Baca Juga :  Jalan Sunyi "Panahan Kasumedangan" Menolak Punah

Menariknya lagi, kayu panjang seperti tombak yang biasa dipegang khatib saat berkhutbah pada shalat Jumat yang terbuat dari kayu jati itu masih orisinil dan berusia lebih dari seabad.

Pedagang Kuliner Tradisional dengan Perkakas Jualan yang Unik-unik | @kaekaha

Sisi Luar Masjid

Dalam konsep peradaban Islam, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah khusus, apalagi hanya dikhususkan untuk sholat lima waktu saja, karena sejatinya masjid juga berperan sebagai pusat ibadah dalam maknawi yang lebih luas, yaitu sebagai pusat dakwah rahmatan lil alamin dan sekaligus pemberdayaan umat.  

Fakta riil konsep masjid seperti diatas jelas sekali terlihat di lingkungan Sumedang Grote Moskee atau Masjid Agung Sumedang. Selepas waktu sholat Ashar, di bagian selasar atau teras-teras yang banyak ditopang oleh pilar-pilar yang cukup unik, terlihat banyak sekali aktifitas dakwah keIslaman disitu, mulai dari pembelajaran Alquran dengan bergam kelas-kelasnya dan terlihat juga sebagian anak-anak yang belajar seni musik hadrah.

Pedagang Kuliner Tradisional dengan Perkakas Jualan yang Unik-unik | @kaekaha

Sementara itu di sisi kanan Masjid atau di depan area tempat wudhu yang tidak jauh dari sekretariat masjid dan juga minimarket, serta beragam unit usaha masjid lainnya, terlihat banyak penjual kuliner tradisional khas Sunda dengan perkakas jualannya masing-masing. Ini yang unik dan pastinya saya suka!

Kapan lagi bisa menikmati tahu gejrot pedas, cuanki, cilok, kerak telor, rujak buah dan lain-lainnya kuliner tradisional khas Sunda dengan citarasa yang lebih identik bila dibandingkan dengan yang beredar di  Kota 1000 Sungai!

   

Semoga bermanfaat!

Salam dari Kota 1000 Sungai,
Banjarmasin nan Bungas!

 

Artikel ini juga tayang di Kompasiana pada 05 Pebruari 2021  jam  15:00 WIB (klik disini untuk membaca) dan terpilih sebagai Artikel Pilihan.

 

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN

 

Sabtu, 24 Juni 2023

[Kronika] Writingthon Jelajahi Sumedang

 

Semua Peserta Writingthon Jelajahi Sumedang (WJS-2020) dan Kadisparbudpora, Harry Tri Santosa di Depan Komplek Gedung Negara Kota Sumedang | @kaekaha

Even literasi "super keren" bertajuk Writingthon Jelajahi Sumedang (WJS-2019) ini, kalau tidak salah  merupakan even Writingthon besutan Bitread Publishing yang ke-7, tapi sepertinya menjadi even Writingthon berlevel nasional dengan gaung terbesar ke-3 yang pernah dilaksanakan, setelah Writingthon Asian Games (WAG-2018) dan Writingthon Jelajah Kota Garut (WJKG-2019).

Tidak heran jika dalam penyelenggaraannya, peserta yang submit karya tulis feature populer sesuai tema yang diperlombakan jauh melebihi target, menurut rilis panitia lebih dari dua ribuan karya! Woooooooow...

Menariknya, even literasi pariwisata dan budaya yang secara resmi berlabel "Writingthon Jelajahi Sumedang" (2020) ini, merupakan even ke-2 setelah Writingthon Jelajah Kota Garut (2019) dari rencana even Writingthon series di berbagai Kota/Kabupaten di Jawa Barat.

Sayang seribu kali sayang, pandemi covid 19 tidak hanya "membuyarkan" rencana Writingthon series saja yang entah kapan akan kembali lagi?  

Writingthon Jelajahi Sumedang yang sejatinya sudah direncanakan dengan matang, diselenggarakan di akhir bulan Pebruari 2020, juga ikut terkena imbasnya, hingga hingga akhirnya melahirkan berbagai drama seru yang hikmahnya sangat sayang untuk dilewatkan. Mau tahu kronikanya? Yuk duduk manis dan baca artikel ini sampai tuntas ya...!


Publikasi even Writingthon Jelajahi Sumedang (WJS) | Bitread.id


Publikasi even Writingthon Jelajahi Sumedang (WJS) hasil kerjasama bitread publishing, pemkab Sumedang, PHRI dan komunitas kreatif lainnya ini bertebaran di berbagai media sosial Bitread.id, pemerintah Kabupaten Sumedang, PHRI dan para pegiat literasi lainnya sejak tanggal 13 Januari 2020.

Mungkin karena saya nggak begitu aktif di medsos, maka baru beberapa hari kemudian saya mendapatkan kabar even ini dari grup perpesanan pemenang Writingthon Jelajah Kota Garut yang baru sebulan sebelumnya diselenggarakan.

Twibbon Writingthon Jelajahi Sumedang | @kaekaha


Karena masih juga belum bisa move on dari keseruan dua even Writingthon yang sebelumnya berhasil saya ikuti, yaitu Writingthon Asian Games (WAG-2018) dan Writingthon Jelajah Kota Garut (WJKG-2019) plus tidak ingin ketinggalan even yang pendaftarannya hanya dari tanggal 13 Januari sampai 17 Pebruari 2020 tersebut, maka saya langsung merespon kabar baik ini dengan segera mengumpulkan materi tulisan tentang Sumedang.

Akhirnya, saya merilis artikel feature pertama dengan judul "Negeri Bedil" Cipacing, Etalase Kreatifitas Kelas Dunia di Sudut Kota Tahu Sumedang pada tanggal 29 Januari 2020 di Kompasiana. Kerennya, artikel ini langsung diganjar dengan label Artikel Utama (AU) alias headline lho! Keren kan!

Status AU alias headline pada artikel lomba yang saya tulis di Kompasianauser generated blog terbesar di Indonesia ini, jelas menjadi nilai tambah tersendiri dan membuat saya semakin yakin untuk bisa terbang lagi  Sumedang.

Info Perpanjangan Masa Pendaftaran | bitread.id


Tepat pada tanggal deadline atau tanggal 17 Pebruari 2020, "drama" Writingthon Jelajahi Sumedang (WJS) dimulai!

Secara mengejutkan, panitia memperpanjang masa pengumpulan karya  atau masa pendaftaran even ini  sampai 28 Pebruari 2020. Waaaah ini kesempatan bagi semua yang belum sempat submit karya dan ini belum pernah terjadi di even Writingthon sebelumnya lho!

Benar saja, akhirnya tepat pada tanggal 28 Pebruari 2020 jam 24.00 WIB, melalui akun medsos-nya pihak panitia menyatakan masa pendaftaran karya telah ditutup.

Kampung Karuhun, Sumedang Selatan | @kaekaha
 
Berselang sepekan kemudian atau tepatnya tanggal 7 Maret 2020, akhirnya yang ditunggu-tunggu oleh semua peserta muncul juga! Akhirnya panitia mengumumkan peserta yang lolos seleksi dan berhak mengikuti karantina selama sekitar 4 hari di kawasan wisata Kampung Karuhun, Sumedang Selatan.
 
Sayangnya dari sekian banyak nama yang ada di dalam daftar pemenang di laman bitread.id, disitu tidak ada namaku. Hadeeeeeh sedih deh jadinya! Tapi ya sudahlah memang belum rejekinya mau gimana....?

Tapi, ikut seneng juga karena ada beberapa teman alumni Writingthon Asian Games (WAG-2018) dan Writingthon Jelajah Kota Garut (WJKG-2019) yang akhirnya juga "mencatatkan namanya dalam sejarah writingthon" dengan lolos di even ini.

 

 
Ada Ubaidillah (Aceh) dan Mustakim (Lampung) alumni WAG, juga Ferdy calon sarjana (saat itu) yang alumni dari WJKG. Selain itu ada juga beberapa kolega di Kompasiana alias Kompasianer-Kompasianer keren dan terkenal yang lolos ke karantina ke Kampung Karuhun di Sumedang Selatan, seperti, Detha Arya Tifada dan Adi Nugroho.

Eh...selamat ya sob! Mudahan ada sumur di ladang untuk kita ikut mandi, mudahan ada umur panjang untuk kita bersua lagi...

Goodbye to Writingthon Jelajahi Sumedang (WJS)

Hari berganti hari bulan berganti bulan, saya mulai melupakan Writingthon Jelajahi Sumedang (WJS). Selain karena memang bukan rejeki saya, Writingthon series yang mulai di ekspose jelas menjadi harapan saya kedepannya dan satu lagi,  pandemi covid-19 yang  mulai masuk Indonesia benar-benar mulai menyita perhatian saya.

Pengumuman WJS di Nopember 2020 | bitread.id

Sampai akhirnya pada tanggal 23 Nopember 2020 ada notif masuk dari postingan IG bitread.id yang mengabarkan  seleksi peserta Writingthon Jelajahi Sumedang (WJS) "dibuka lagi", tapi dengan durasi waktu hanya 2 minggu (23/11-05/12), pengumuman pemenang 8/12 dan karantina 10-12/12.

Kerennya! Kali ini lombanya limited, karena hanya dipilih 5 penulis terbaik saja! Woooooooow! Seketika darah penulis saya langsung bergejolak!

Lho memangnya Writingthon Jelajahi Sumedang (WJS) yang di awal tahun kemarin batal? Belum terlaksana ya? Atau, atau dan atau ...

Ah entahlah! Karena tidak ada penjelasan dari panitia, rasa penasaran saya pastinya tidak pernah terjawab! Tapi sebenarnya ini sih nggak penting ya!

Karena yang terpenting adalah segera nulis feature terbaik tentang Sumedang, lagi dan lagi! Lagian, saya kok yakin ya, kali ini bakalan lolos ke Sumedang, saya merasa ini jawaban doa saya yang dulu! Sekaligus cara Allah SWT membawa saya terbang ke Sumedang!?


Tidak pakai lama, saya langsung mengunggah karya feature yang berjudul Senandika Esok Hari, "Mengudap" "Legitnya Madu" Ubi Cilembu di Kota Buludru, Sumedang di kanal Kompasiana pada tanggal 5 Desember 2020 dan Alhamdulillah, artikel ini diganjar label pilihan oleh Kompasia.

Berselang 4 hari berikutnya atau tanggal 9-nya, saya kembali mengunggah artikel feature tentang Sumedang dengan judul Jalan Sunyi "Panahan Kasumedangan" Menolak Punah. Alhamdulillah, untuk artikel yang termasuk langka ini, kurator Kompasiana kembali memberi label Artikel Utama (AU) atau headline.

Berbekal 3 artikel keren yang sudah saya submit ke panitia, sekali lagi saya yakin kali ini bakal lolos ke Sumedang!


Pengumuman Perpanjangan Masa Pendaftaran Karya | @bitread.id

Ternyata, drama belum berhenti setelah dua karya saya kembali ikut meramaikan even ini. Tepat tanggal 5/12, panitia kembali memperpanjang durasi waktu pengumpulan karya! Artinya, deadline pengumpulan karya peserta kembali mundur dan diitetapkan paling lambat tanggal 12/12-2020 jam 23.59 WIB.

Waaaah Writingthon Jelajahi Sumedang 2020 benar-benar menjadi pemecah rekor "perpanjangan" waktu even. Ini memang tidak seperti biasanya, tapi ya mudahan berakhir dengan indah!

Setelah sepekan menunggu, akhirnya hari yang ditunggu-tunggu datang juga! Kali ini,  5 nama pemenang sebagai peserta tambahan benar-benar diumumkan panitia dan lagi! Namaku tidak ada dalam daftar pemenang!

Pemenang Kuota Tambahan WJS 2020 | Bitread_id

Dari 5 nama pemenang Kuota Tambahan WJS 2020 ini, 3 diantaranya saya kenal, yaitu Andrie Mastiyanto (Kompasianer), Irfal Mujaffar (alumni  WJKG 2019) dan Daniah Arthamevta Putri Hidayah (alumni WAG-Pelajar 2018 dan WJKG 2019).

Ya sudahlah! Berarti memang belum rejeki saya untuk ikut mengeksplor potensi sosial, ekonomi, budaya sekaligus pariwisata di Sumedang dan saya yakin Allah SWT pasti akan memberikan ganti yang lebih baik! Insha Allah...

Setelah hampir saja menyerah dan mengikhlaskan WJS 2020, tiga hari berselang  saya mendapatkan pesan dari panitia via WA yang mengabari sekaligus menanyakan kesediaan saya untuk menjadi peserta pengganti. Woooooow ternyata drama masih berlanjut gaes!


Tanpa pikir panjang, saya langsung menerima penawaran panitia dengan cara langsung mengirimkan biodata serta kelengkapan administratif yang dibutuhkan hari itu juga (seingat saya limit waktunya sebelum jam 7 malam).

Alhamdulillah, sejarah sekaligus rekor baru di even Writingthon Insha Allah akan terwujud. Rekor apa itu!? Rekor hattrick alias 3 kali berturut-turut lolos mengikuti even Writingthon level nasional secara berurutan. Keren kan!




Sumedang Aku Datang!


Salah satu sisi unik dari even Writingthon yang paling saya sukai sekaligus nikmati adalah momen dan juga kemasan rangkaian aktifitasnya yang tidak pernah sama, selalu berbeda dan selalu memberi  kejutan-kejutan insidental yang menyenangkan!

Begitu juga dengan even WJS 2020 ini. Tidak hanya rangkaian drama di masa seleksi, tapi semuanya! Nggak percaya? Yuk kita lanjut ya...

Surat Sakti Untuk Terbang ke Sumedang  | @kaekaha

Karena sekarang sedang dalam situasi pandemi covid-19, maka untuk terbang ke Sumedang dari Banjarmasin, saya juga harus lolos dari kontaminasi covid-19. Untuk itu, saya harus pegang tanda "sehat" itu saat boarding naik pesawat.

Alhamdulillah, sehari sebelum terbang atau tanggal 16/12, akhirnya saya mendapatkan juga surat keterangan bebas covid-19 setelah melakukan rapidtest di salah satu klinik di Kota Banjarmasin. Itu artinya besok 17/12 Insha Allah saya akan terbang juga ke Sumedang!

Bersabung ke artikel ke-dua  “Terbang Pagi Buta” Menuju Writingthon Jelajahi Sumedang.


Terima kasih, Semoga bermanfaat

Salam matan Kota 1000 Sungai,
Banjarmasin nan Bungas!

 

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN

 

 

Minggu, 05 Maret 2023

"Kembalikan ke Tempat Semula" Mantra Sakti Merapikan Barang Apa Saja dan di Mana Saja!

Ilustrasi menerapkan prinsip "Kembalikan ke tempat semula" niscaya merapikan rumah akan lebih efisien dan mudah. Sumber: Shutterstock via Kompas.com

"Kembalikan ke Tempat Semula" atau ada juga versi serupa tapi tak samanya "Kembalikan Seperti Semula" dan beberapa variasi frasa lainnya, tentu sudah sangat familiar bagi individu maupun organisasi/perusahaan yang telah akrab dengan housekeeping management.

Frasa diatas, seringkali dimanfaatkan untuk "mengingatkan" sekaligus melatih tanggung jawab pengakses "ruang publik" dalam internal organisasi/perusahaan agar ikut peduli dan bertanggungjawab atas kenyamanan dan kemungkinan keamanan "ruang publik" dimaksud.

Salah satu contoh pemanfaatan dan juga penerapan frasa "Kembalikan ke Tempat Semula" dan atau "Kembalikan Seperti Semula"  dalam internal organisasi/perusahaan, antara lain pada ruang baca, mushala atau masjid, area workshop dan atau bengkel.

Baca Juga :  Mubaadalah, Konsep "Bapak Rumah Tangga" ala Rasulullah SAW

Jika mengurai makna frasanya, pada "Kembalikan ke Tempat Semula" jelas menitik beratkan pada "tempat", yaitu tempat asalnya barang atau benda yang sengaja diambil untuk dimanfaatkan. Sedangkan pada "Kembalikan Seperti Semula" menitik beratkan pada bentuk dan atau kelengkapan asal dari benda yang sengaja kita manfaatkan fungsinya.

Merapikan Buku |aliexpress.com

Pada ruang baca, aplikasi frasa "Kembalikan ke Tempat Semula" mengarah pada buku-buku atau obyek dalam ruang baca lainnya, mungkin perangkat audio, video atau lainnya yang telah diambil dari rak buku untuk tempat asalnya untuk berbagai keperluan. Bisa untuk  dilihat, dibaca, dicatat isinya atau untuk keperluan lainnya.

Tujuannya jelas, agar buku atau obyek produk ruang baca lainnya segera dikembalikan ke tempat asalnya setelah dimanfaatkan, hingga segera tertata rapi kembali ditempatnya, tidak  menumpuk dan berserakan di meja baca, meja tulis atau tempat-tempat tidak semestinya yang tidak menutup kemungkinan bisa menyebabkan terjadinya berbagai kerusakan.

Baca Juga :  Estetika "Seni Menjemur Baju" dan Manfaatnya yang Tak Terduga

Dengan begitu, selain menjaga estetika ruangan agar tetap rapi dan enak dilihat, sehingga bermanfaat juga untuk menjaga mood pengakses lainnya, juga sekaligus meminimalisir kemungkinan kerusakan dan yang pasti juga akan mempermudah akses orang lain yang juga memerlukannya.

Sedangkan untuk frasa "Kembalikan Seperti Semula" bisa jadi aplikasinya pada perlengkapan pendukung, seperti lampu, gorden penutup agar tidak silau, perangkat audio-vodeo, bahkan bisa jadi fasilitas pendingin ruangan atau AC, exhaust fan dan juga gelas untuk minum dan juga pemanfaatan kran di toilet/kamar mandi.

Tumpukan Sarung | @kaekaha

Di mushalla atau masjid, biasanya frasa "Kembalikan ke Tempat Semula" mengarah pada-pada obyek yang bisa dimanfaatkan secara publik seperti Alquran, mukena, sarung, tasbih atau bahkan sajadah. 

Dengan mengembalikan seperti semula "lipatan" sarung, mukena dan juga sajadah setelah kita pakai, tentu akan membantu menjaga kerapian dan juga estetika ruangan dalam mushalla atau masjid, sehingga tetap nyaman di pakai siapa saja untuk beribadah. 

Syukur-syukur, "disempurnakan" dengan tindakan selanjutnya! Mengembalikan semua perangkat ibadah yang telah dilipat seperti bentuk semula ke tempat asal atau ke tempat semula, setelah kita selesai memakainya. 

Sarung dikembalikan ke rak/lemari tempatnya sarung, begitu juga dengan mukena, sajadah atau mungkin tasbih dan juga Alquran yang selesai kita baca.

Alat Bengkel yang Rapi | bukuwarung.com

Di antara tempat atau area yang terbiasa memasang himbauan dalam bentuk frasa "Kembalikan ke Tempat Semula" dan atau "Kembalikan Seperti Semula", area workshop dan atau bengkel sepertinya menjadi area yang paling signifikan merasakan manfaatnya, dibanding area lainnya.

Umumnya, ruang kerja area workshop dan atau bengkel selain menyediakan peralatan bengkel berukuran besar yang tidak bisa digeser apalagi dipindah-pindah, juga menyediakan kelengkapan alat kerja (tools) dengan ukuran yang jauh lebih kecil dengan bentuk dan fungsi yang pastinya juga beragam.

Baca Juga :  Esai Foto | Para Penjemput Rizki di Pasar (Tradisional) Ahad, Banjarmasin

Dengan jumlah personil yang tentunya juga lebih dari satu dengan gaya dan kepribadian yang berbeda-beda pula, tentu pemanfaatan  frasa "Kembalikan ke Tempat Semula" dan atau "Kembalikan Seperti Semula", di area workshop dan atau bengkel akan sangat membantu menyeragamkan persepsi, dalam rangka pemeliharaan dan perawatan beragam tools dan inventaris lainnya.

Mengembalikan ke Tempat Semula | tekiro.com

Dengan begitu, keberadaan serta kelengkapan beragam tools milik workshop dan atau bengkel bisa lebih mudah dimonitor dan dikontrol. Cepat ditemukan ketika akan diperlukan, segera terdeteksi jika tidak ada dalam formasi tempat standarnya, hingga perawatan lebih mudah dan intensif, plus pastinya akan menghemat banyak pos pengeluaran akibat lost-nya beragam tools.

Belajar dari penerapan himbauan "Kembalikan ke Tempat Semula" dan atau "Kembalikan Seperti Semula" di perusahaan atau organisasi yang telah lebih dulu familiar dengan housekeeping management, sejatinya kita juga bisa mengaplikasikannya dimana saja! Termasuk di lingkungan sosial, apalagi dalam lingkungan rumah tangga.

Untuk pemanfaatan dalam rumah tangga, frasa di atas juga tidak kalah bermanfaatnya lho! Satu hal terpenting untuk menciptakan habitus "Kembalikan ke Tempat Semula" dan atau "Kembalikan Seperti Semula" dalam rumah tangga adalah konsistensi yang konsisten.

Merapikan Peraltan Dapur | rumah.com

Tanpa konsistensi yang konsisten, "penegakan" himbauan "Kembalikan ke Tempat Semula" dan atau "Kembalikan Seperti Semula" dimana saja, apalagi dalam keluarga tidak akan pernah bisa terwujud.

Godaan untuk memberi toleransi kepada anggota keluarga yang tidak konsisten pada himbauan "Kembalikan ke Tempat Semula" dan atau "Kembalikan Seperti Semula" jelas menjadi ancaman utama yang harus dieliminir sebijaksana mungkin.

Untuk output maksimal, semua anggota keluarga wajib terlibat dan dilibatkan dalam membentuk habitus "Kembalikan ke Tempat Semula" dan atau "Kembalikan Seperti Semula ini, termasuk anak-anak! 

Karena jika sejak dini telah dilibatkan, maka aktifitas pengulangan-demi pengulangan dalam rangka mematuhi himbauan dari kedua frasa diatas, dengan sendirinya akan terekam dalam alam bawah sadar anak hingga lengket lebih kuat, sehingga dengan sendirinya akan membentuk habitusnya.


Salam dari Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas!


Artikel ini juga tayang di Kompasiana pada 28 Juni 2021  jam  14:02 WIB (klik disini untuk membaca) dan terpilih sebagai Artikel Utama.

 

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN