Senin, 03 Juli 2023

Tetirah, Menepikan Diri di Antara Pesona "Sumedang Grote Moskee"

Khusyuk Bermunajat di Sumedang Grote Moskee alias Masjid Agung Sumedang | @kaekaha

Salah satu peninggalan kebudayaan Islam di berbagai belahan dunia yang mempunyai eksistensi paling aktual dan Insha Allah akan terus terjaga adalah arsitektur tempat ibadahanya atau kita biasa menyebutnya sebagai masjid atau baitullah. 

Baca Juga : Kronika Writingthon Jelajahi Sumedang 2020

Uniknya, masyarakat nusantara mempunyai beragam sebutan untuk menyebut tempat ibadah umat Islam ini. Mulai dari yang paling umum seperti masjid, langgar, mushalla, surau sampai masigit (Banjar), meunasah (Aceh), musajik (Minang), Masojid (Mandailing/Tapanuli), kobung/kobhung (Madura) dll  

 

View Cantik Sumedang Grote Moskee atau Masjid Agung Sumedang dengan Latar Perbulitan Hijau | @kaekaha

Inilah salah satu keunikan dinamika perkembangan budaya Islam di nusantara, terkhusus untuk arsitektur tempat ibadahnya. Selain nama atau penyebutannya di masing-masing daerah berbeda-beda, ukuran fisik dan pemanfaatannya juga berpotensi menjadi rujukan pemberian namanya. Hayo, apa sebutan masjid atau mushalla di daerahmu?

Selain keragaman dari nama penyebutannya, keunikan lain dari tempat ibadah umat Islam adalah tidak adanya pattern atau patron khusus pada desain arsitekturnya. Asal tidak mengadopsi bentuk riil ornamen makhluk bernyawa atau makhluk hidup dan bentuk-bentuk bangun yang bersifat merendahkan apapun dan siapapun, masjid yang juga menjadi pusat aktifitas umat bisa dibangun dengan mengadopsi bentuk apapun.

Itulah sebabnya, masing-masing komunitas etnis dan juga daerah di penjuru nusantara bahkan dunia, mempunyai kearifan bentuk arsitektur masjid yang berbeda-beda yang kemudian menjadi cirikhasnya. 


Instalasi Disinfektan Pencegah Covid-19 di Lingkungan Masjid | @kaekaha

Di bumi Priangan, Jawa barat yang meliputi kawasan Sukabumi, Cianjur, Bandung, Sumedang, Garut, Tasikmalaya dan Ciamis, masing-masing  mempunyai warisan masjid-masjid bersejarah berusia ratusan tahun dengan cirikhas kearifan arsitektur yang luar biasa indah, megah dan hebatnya masih tetap terjaga sampai saat ini. 

Baca Juga :  "Negeri Bedil" Cipacing, Etalase Kreatifitas Kelas Dunia di Sudut Kota Tahu Sumedang

Salah satunya yang cukup mempesona adalah Sumedang Grote Moskee atau Masjid Agung Sumedang, masjid tua bersejarah yang menurut catatan sejarah mulai dibangun pada 3 Juni 1850 dan selesai pada 1854 di lahan wakaf dari R. Dewi Siti Aisyah, atas gagasan Pangeran Sugih atau Pangeran Soeria Koesoemah Adinata, bupati Sumedang yang menjabat dari tahun 1836 sampai tahun 1882.


Teras Peneduh Mengelilingi Bangunan Masjid dengan Pilar yang Begitu Banyak | @kaekaha


Seperti layaknya masjid agung lain di Pulau Jawa yang menjadi simbol keagungan pemerintahan, lokasi Masjid Agung Sumedang yang berada di lingkungan Kaum RW.10, Kelurahan Regol Wetan, Kecamatam Sumedang Selatan ini juga tepat di sebelah barat alun-alun kota dan berdekatan dengan  pusat pemerintahan/kraton, penjara dan fasilitas umum lainnya, tepat di Jantung Kota Sumedang.

Tidak heran jika masjid yang berlatar belakang view perbukitan hijau yang menyegarkan ini selalu ramai oleh aktifitas umat, tidak hanya di jam-jam sholat lima waktu saja, tapi hampir setiap waktu pengunjung tidak pernah sepi, termasuk di masa pandemi Covid-19 saat ini. Hanya saja, ketatnya protokol kesehatan tetap memaksa pengunjung untuk terus mematuhi semua ketentuan.  


Tiang-tiang Besar di Dalam Ruang Masjid | @kaekaha

Sisi unik Sumedang Grote Moskee atau Masjid Agung Sumedang adalah desain arsitekturnya yang memadukan beberapa kearifan budaya berbeda, Islam, Tionghoa dan Eropa (Belanda).

Fakta ini tidak terlepas dari keterlibatan langsung para perantau dari negeri Cina dalam pembuatan bangunan masjid. Para perantau yang datang langsung dari negeri China ke Sumedang yang kelak juga mempopulerkan kuliner tahu yang sekarang menjadi ikon Sumedang. Sedangkan pengaruh Belanda (Eropa) sangat memungkinkan, karena masjid-masjid kuno nusantara, termasuk Sumedang Grote Moskee atau Masjid Agung Sumedang ini dibangun saat pendudukan dan penjajahan kompeni di nusantara.

Tiang Besar dan Tinggi Bergaya Yunani, Dinding Tebal serta Pintu dan Jendela Berukuran Raksasa Khas Bangunan Kolonial | @kaekaha

Pengaruh budaya Tionghoa, konon  bisa dilihat dari bentuk atap Masjid yang bersusun tiga makin keatas semakin kecil/meruncing, mirip bangunan pagoda, kelenteng atau vihara yang tingkatan paling atas berbentuk limas disebut mamale. Juga ornamen ukiran di bagian atas kusen pintu dan jendela.

Baca Juga :  "Mengudap" "Legitnya Madu" Ubi Cilembu di Kota Buludru, Sumedang

Atap berundak yang biasa disebut meru ini secara umum memang menjadi cirikhas masjid-masjid kuno di seluruh nusantara yang sebenarnya merupakan domain kebudayaan Hindu-Buddha sebagai manifestasi bangunan suci tempat para dewa. Fakta diadopsinya bentuk meru untuk masjid, selain terkait faktor teknis sirkulasi udara dan air hujan, bisa jadi memang bagian dari strategi dakwah untuk menghindari munculnya kekagetan budaya atau cultural shock sehingga bisa merangkul masyarakat sekitar yang saat itu kemungkinan besar mayoritas pemeluk Buddha dan Hindu.


Atap Berundak dengan Mustaka di Puncak Mamale | @kaekaha

Pembeda Sumedang Grote Moskee atau Masjid Agung Sumedang dengan masjid kuno lainnya yang paling mudah dilihat dari jarak jauh sekalipun adalah keberadaan mustaka atau hiasan berbentuk mirip mahkota binokasih milik raja-raja di masa lampau yang bertengger di puncak limas atau mamale.

Sedangkan pengaruh Belanda (Eropa) tampak pada beberapa bagian desain masjid. seperti keberadaan selasar/teras keliling, dinding sangat tebal,  14 (empat belas) tiang artistik bergaya abad 19  berdiameter sekitar 1 meter yang konon dibangun dari susunan batu-bata dan cukup tinggi menyangga atap masjid, begitu juga dengan 20 (dua puluh) jendela berukuran besar setinggi 4 m dan lebar 1,5 m yang tersebar merata di dinding-dinding masjid, menjadikan ruangan masjid tetap sejuk dan nyaman untuk beribadah meskipun cuaca diluar relatif cukup terik.


Interior Masjid Lebih Mirip View Singgasana Keraton | @kaekaha

Uniknya, khusus untuk tiang atau pilar, secara keseluruhan Masjid Agung Sumedang ini ditopang sebanyak 166 tiang, selain 14 tiang raksasa dengan diameter 100 cm, masjid juga ditopang sebanyak 106 tiang dengan diameter 60 cm di bagian luar.

Detail keunikan Masjid Agung Sumedang juga menyentuh bagian interior. Jika kita hanya sebatas melihat dari tampilan foto (seperti diatas), tampilan bagian mihrab tempat imam shalat dan mimbar untuk khatib berkhutbah dalam kesatuan frame, maka yang terlihat lebih identik dengan mahligai sebuah keraton, bukan layaknya mihrab masjid pada umumnya. Unik kan?

Mimbar Antik Untuk Berkhutbah | @kaekaha

Tampilan bak mahligai keraton ini tidak lepas dari keberadaan ornamen berukir berbahan kayu jati dengan aksen tiongkok pada sisi luar kusen pintu bagian mihrab, 2 (dua) buah jam duduk kayu dan mihrab tua berukir indah dan beratap limas kecil yang lebih menyerupai singgasana  seorang raja daripada mimbar untuk berkhutbah, dengan aksen warna keemasan pada bagian tiang dan warna cokelat kayu pada bagian lainnya.   

Baca Juga :  Jalan Sunyi "Panahan Kasumedangan" Menolak Punah

Menariknya lagi, kayu panjang seperti tombak yang biasa dipegang khatib saat berkhutbah pada shalat Jumat yang terbuat dari kayu jati itu masih orisinil dan berusia lebih dari seabad.

Pedagang Kuliner Tradisional dengan Perkakas Jualan yang Unik-unik | @kaekaha

Sisi Luar Masjid

Dalam konsep peradaban Islam, masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah khusus, apalagi hanya dikhususkan untuk sholat lima waktu saja, karena sejatinya masjid juga berperan sebagai pusat ibadah dalam maknawi yang lebih luas, yaitu sebagai pusat dakwah rahmatan lil alamin dan sekaligus pemberdayaan umat.  

Fakta riil konsep masjid seperti diatas jelas sekali terlihat di lingkungan Sumedang Grote Moskee atau Masjid Agung Sumedang. Selepas waktu sholat Ashar, di bagian selasar atau teras-teras yang banyak ditopang oleh pilar-pilar yang cukup unik, terlihat banyak sekali aktifitas dakwah keIslaman disitu, mulai dari pembelajaran Alquran dengan bergam kelas-kelasnya dan terlihat juga sebagian anak-anak yang belajar seni musik hadrah.

Pedagang Kuliner Tradisional dengan Perkakas Jualan yang Unik-unik | @kaekaha

Sementara itu di sisi kanan Masjid atau di depan area tempat wudhu yang tidak jauh dari sekretariat masjid dan juga minimarket, serta beragam unit usaha masjid lainnya, terlihat banyak penjual kuliner tradisional khas Sunda dengan perkakas jualannya masing-masing. Ini yang unik dan pastinya saya suka!

Kapan lagi bisa menikmati tahu gejrot pedas, cuanki, cilok, kerak telor, rujak buah dan lain-lainnya kuliner tradisional khas Sunda dengan citarasa yang lebih identik bila dibandingkan dengan yang beredar di  Kota 1000 Sungai!

   

Semoga bermanfaat!

Salam dari Kota 1000 Sungai,
Banjarmasin nan Bungas!

 

Artikel ini juga tayang di Kompasiana pada 05 Pebruari 2021  jam  15:00 WIB (klik disini untuk membaca) dan terpilih sebagai Artikel Pilihan.

 

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN

 

Sabtu, 24 Juni 2023

[Kronika] Writingthon Jelajahi Sumedang

 

Semua Peserta Writingthon Jelajahi Sumedang (WJS-2020) dan Kadisparbudpora, Harry Tri Santosa di Depan Komplek Gedung Negara Kota Sumedang | @kaekaha

Even literasi "super keren" bertajuk Writingthon Jelajahi Sumedang (WJS-2019) ini, kalau tidak salah  merupakan even Writingthon besutan Bitread Publishing yang ke-7, tapi sepertinya menjadi even Writingthon berlevel nasional dengan gaung terbesar ke-3 yang pernah dilaksanakan, setelah Writingthon Asian Games (WAG-2018) dan Writingthon Jelajah Kota Garut (WJKG-2019).

Tidak heran jika dalam penyelenggaraannya, peserta yang submit karya tulis feature populer sesuai tema yang diperlombakan jauh melebihi target, menurut rilis panitia lebih dari dua ribuan karya! Woooooooow...

Menariknya, even literasi pariwisata dan budaya yang secara resmi berlabel "Writingthon Jelajahi Sumedang" (2020) ini, merupakan even ke-2 setelah Writingthon Jelajah Kota Garut (2019) dari rencana even Writingthon series di berbagai Kota/Kabupaten di Jawa Barat.

Sayang seribu kali sayang, pandemi covid 19 tidak hanya "membuyarkan" rencana Writingthon series saja yang entah kapan akan kembali lagi?  

Writingthon Jelajahi Sumedang yang sejatinya sudah direncanakan dengan matang, diselenggarakan di akhir bulan Pebruari 2020, juga ikut terkena imbasnya, hingga hingga akhirnya melahirkan berbagai drama seru yang hikmahnya sangat sayang untuk dilewatkan. Mau tahu kronikanya? Yuk duduk manis dan baca artikel ini sampai tuntas ya...!


Publikasi even Writingthon Jelajahi Sumedang (WJS) | Bitread.id


Publikasi even Writingthon Jelajahi Sumedang (WJS) hasil kerjasama bitread publishing, pemkab Sumedang, PHRI dan komunitas kreatif lainnya ini bertebaran di berbagai media sosial Bitread.id, pemerintah Kabupaten Sumedang, PHRI dan para pegiat literasi lainnya sejak tanggal 13 Januari 2020.

Mungkin karena saya nggak begitu aktif di medsos, maka baru beberapa hari kemudian saya mendapatkan kabar even ini dari grup perpesanan pemenang Writingthon Jelajah Kota Garut yang baru sebulan sebelumnya diselenggarakan.

Twibbon Writingthon Jelajahi Sumedang | @kaekaha


Karena masih juga belum bisa move on dari keseruan dua even Writingthon yang sebelumnya berhasil saya ikuti, yaitu Writingthon Asian Games (WAG-2018) dan Writingthon Jelajah Kota Garut (WJKG-2019) plus tidak ingin ketinggalan even yang pendaftarannya hanya dari tanggal 13 Januari sampai 17 Pebruari 2020 tersebut, maka saya langsung merespon kabar baik ini dengan segera mengumpulkan materi tulisan tentang Sumedang.

Akhirnya, saya merilis artikel feature pertama dengan judul "Negeri Bedil" Cipacing, Etalase Kreatifitas Kelas Dunia di Sudut Kota Tahu Sumedang pada tanggal 29 Januari 2020 di Kompasiana. Kerennya, artikel ini langsung diganjar dengan label Artikel Utama (AU) alias headline lho! Keren kan!

Status AU alias headline pada artikel lomba yang saya tulis di Kompasiana,  user generated blog terbesar di Indonesia ini, jelas menjadi nilai tambah tersendiri dan membuat saya semakin yakin untuk bisa terbang lagi  Sumedang.

Info Perpanjangan Masa Pendaftaran | bitread.id


Tepat pada tanggal deadline atau tanggal 17 Pebruari 2020, "drama" Writingthon Jelajahi Sumedang (WJS) dimulai!

Secara mengejutkan, panitia memperpanjang masa pengumpulan karya  atau masa pendaftaran even ini  sampai 28 Pebruari 2020. Waaaah ini kesempatan bagi semua yang belum sempat submit karya dan ini belum pernah terjadi di even Writingthon sebelumnya lho!

Benar saja, akhirnya tepat pada tanggal 28 Pebruari 2020 jam 24.00 WIB, melalui akun medsos-nya pihak panitia menyatakan masa pendaftaran karya telah ditutup.

Kampung Karuhun, Sumedang Selatan | @kaekaha
 
Berselang sepekan kemudian atau tepatnya tanggal 7 Maret 2020, akhirnya yang ditunggu-tunggu oleh semua peserta muncul juga! Akhirnya panitia mengumumkan peserta yang lolos seleksi dan berhak mengikuti karantina selama sekitar 4 hari di kawasan wisata Kampung Karuhun, Sumedang Selatan.
 
Sayangnya dari sekian banyak nama yang ada di dalam daftar pemenang di laman bitread.id, disitu tidak ada namaku. Hadeeeeeh sedih deh jadinya! Tapi ya sudahlah memang belum rejekinya mau gimana....?

Tapi, ikut seneng juga karena ada beberapa teman alumni Writingthon Asian Games (WAG-2018) dan Writingthon Jelajah Kota Garut (WJKG-2019) yang akhirnya juga "mencatatkan namanya dalam sejarah writingthon" dengan lolos di even ini.

 

 
Ada Ubaidillah (Aceh) dan Mustakim (Lampung) alumni WAG, juga Ferdy calon sarjana (saat itu) yang alumni dari WJKG. Selain itu ada juga beberapa kolega di Kompasiana alias Kompasianer-Kompasianer keren dan terkenal yang lolos ke karantina ke Kampung Karuhun di Sumedang Selatan, seperti, Detha Arya Tifada dan Adi Nugroho.

Eh...selamat ya sob! Mudahan ada sumur di ladang untuk kita ikut mandi, mudahan ada umur panjang untuk kita bersua lagi...

Goodbye to Writingthon Jelajahi Sumedang (WJS)

Hari berganti hari bulan berganti bulan, saya mulai melupakan Writingthon Jelajahi Sumedang (WJS). Selain karena memang bukan rejeki saya, Writingthon series yang mulai di ekspose jelas menjadi harapan saya kedepannya dan satu lagi,  pandemi covid-19 yang  mulai masuk Indonesia benar-benar mulai menyita perhatian saya.

Pengumuman WJS di Nopember 2020 | bitread.id

Sampai akhirnya pada tanggal 23 Nopember 2020 ada notif masuk dari postingan IG bitread.id yang mengabarkan  seleksi peserta Writingthon Jelajahi Sumedang (WJS) "dibuka lagi", tapi dengan durasi waktu hanya 2 minggu (23/11-05/12), pengumuman pemenang 8/12 dan karantina 10-12/12.

Kerennya! Kali ini lombanya limited, karena hanya dipilih 5 penulis terbaik saja! Woooooooow! Seketika darah penulis saya langsung bergejolak!

Lho memangnya Writingthon Jelajahi Sumedang (WJS) yang di awal tahun kemarin batal? Belum terlaksana ya? Atau, atau dan atau ...

Ah entahlah! Karena tidak ada penjelasan dari panitia, rasa penasaran saya pastinya tidak pernah terjawab! Tapi sebenarnya ini sih nggak penting ya!

Karena yang terpenting adalah segera nulis feature terbaik tentang Sumedang, lagi dan lagi! Lagian, saya kok yakin ya, kali ini bakalan lolos ke Sumedang, saya merasa ini jawaban doa saya yang dulu! Sekaligus cara Allah SWT membawa saya terbang ke Sumedang!?


Tidak pakai lama, saya langsung mengunggah karya feature yang berjudul Senandika Esok Hari, "Mengudap" "Legitnya Madu" Ubi Cilembu di Kota Buludru, Sumedang di kanal Kompasiana pada tanggal 5 Desember 2020 dan Alhamdulillah, artikel ini diganjar label pilihan oleh Kompasia.

Berselang 4 hari berikutnya atau tanggal 9-nya, saya kembali mengunggah artikel feature tentang Sumedang dengan judul Jalan Sunyi "Panahan Kasumedangan" Menolak Punah. Alhamdulillah, untuk artikel yang termasuk langka ini, kurator Kompasiana kembali memberi label Artikel Utama (AU) atau headline.

Berbekal 3 artikel keren yang sudah saya submit ke panitia, sekali lagi saya yakin kali ini bakal lolos ke Sumedang!


Pengumuman Perpanjangan Masa Pendaftaran Karya | @bitread.id

Ternyata, drama belum berhenti setelah dua karya saya kembali ikut meramaikan even ini. Tepat tanggal 5/12, panitia kembali memperpanjang durasi waktu pengumpulan karya! Artinya, deadline pengumpulan karya peserta kembali mundur dan diitetapkan paling lambat tanggal 12/12-2020 jam 23.59 WIB.

Waaaah Writingthon Jelajahi Sumedang 2020 benar-benar menjadi pemecah rekor "perpanjangan" waktu even. Ini memang tidak seperti biasanya, tapi ya mudahan berakhir dengan indah!

Setelah sepekan menunggu, akhirnya hari yang ditunggu-tunggu datang juga! Kali ini,  5 nama pemenang sebagai peserta tambahan benar-benar diumumkan panitia dan lagi! Namaku tidak ada dalam daftar pemenang!

Pemenang Kuota Tambahan WJS 2020 | Bitread_id

Dari 5 nama pemenang Kuota Tambahan WJS 2020 ini, 3 diantaranya saya kenal, yaitu Andrie Mastiyanto (Kompasianer), Irfal Mujaffar (alumni  WJKG 2019) dan Daniah Arthamevta Putri Hidayah (alumni WAG-Pelajar 2018 dan WJKG 2019).

Ya sudahlah! Berarti memang belum rejeki saya untuk ikut mengeksplor potensi sosial, ekonomi, budaya sekaligus pariwisata di Sumedang dan saya yakin Allah SWT pasti akan memberikan ganti yang lebih baik! Insha Allah...

Setelah hampir saja menyerah dan mengikhlaskan WJS 2020, tiga hari berselang  saya mendapatkan pesan dari panitia via WA yang mengabari sekaligus menanyakan kesediaan saya untuk menjadi peserta pengganti. Woooooow ternyata drama masih berlanjut gaes!


Tanpa pikir panjang, saya langsung menerima penawaran panitia dengan cara langsung mengirimkan biodata serta kelengkapan administratif yang dibutuhkan hari itu juga (seingat saya limit waktunya sebelum jam 7 malam).

Alhamdulillah, sejarah sekaligus rekor baru di even Writingthon Insha Allah akan terwujud. Rekor apa itu!? Rekor hattrick alias 3 kali berturut-turut lolos mengikuti even Writingthon level nasional secara berurutan. Keren kan!




Sumedang Aku Datang!


Salah satu sisi unik dari even Writingthon yang paling saya sukai sekaligus nikmati adalah momen dan juga kemasan rangkaian aktifitasnya yang tidak pernah sama, selalu berbeda dan selalu memberi  kejutan-kejutan insidental yang menyenangkan!

Begitu juga dengan even WJS 2020 ini. Tidak hanya rangkaian drama di masa seleksi, tapi semuanya! Nggak percaya? Yuk kita lanjut ya...

Surat Sakti Untuk Terbang ke Sumedang  | @kaekaha

Karena sekarang sedang dalam situasi pandemi covid-19, maka untuk terbang ke Sumedang dari Banjarmasin, saya juga harus lolos dari kontaminasi covid-19. Untuk itu, saya harus pegang tanda "sehat" itu saat boarding naik pesawat.

Alhamdulillah, sehari sebelum terbang atau tanggal 16/12, akhirnya saya mendapatkan juga surat keterangan bebas covid-19 setelah melakukan rapidtest di salah satu klinik di Kota Banjarmasin. Itu artinya besok 17/12 Insha Allah saya akan terbang juga ke Sumedang!

Bersabung ke artikel ke-dua  “Terbang Pagi Buta” Menuju Writingthon Jelajahi Sumedang.


Terima kasih, Semoga bermanfaat

Salam matan Kota 1000 Sungai,
Banjarmasin nan Bungas!

 

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN

 

 

Minggu, 05 Maret 2023

"Kembalikan ke Tempat Semula" Mantra Sakti Merapikan Barang Apa Saja dan di Mana Saja!

Ilustrasi menerapkan prinsip "Kembalikan ke tempat semula" niscaya merapikan rumah akan lebih efisien dan mudah. Sumber: Shutterstock via Kompas.com

"Kembalikan ke Tempat Semula" atau ada juga versi serupa tapi tak samanya "Kembalikan Seperti Semula" dan beberapa variasi frasa lainnya, tentu sudah sangat familiar bagi individu maupun organisasi/perusahaan yang telah akrab dengan housekeeping management.

Frasa diatas, seringkali dimanfaatkan untuk "mengingatkan" sekaligus melatih tanggung jawab pengakses "ruang publik" dalam internal organisasi/perusahaan agar ikut peduli dan bertanggungjawab atas kenyamanan dan kemungkinan keamanan "ruang publik" dimaksud.

Salah satu contoh pemanfaatan dan juga penerapan frasa "Kembalikan ke Tempat Semula" dan atau "Kembalikan Seperti Semula"  dalam internal organisasi/perusahaan, antara lain pada ruang baca, mushala atau masjid, area workshop dan atau bengkel.

Baca Juga :  Mubaadalah, Konsep "Bapak Rumah Tangga" ala Rasulullah SAW

Jika mengurai makna frasanya, pada "Kembalikan ke Tempat Semula" jelas menitik beratkan pada "tempat", yaitu tempat asalnya barang atau benda yang sengaja diambil untuk dimanfaatkan. Sedangkan pada "Kembalikan Seperti Semula" menitik beratkan pada bentuk dan atau kelengkapan asal dari benda yang sengaja kita manfaatkan fungsinya.

Merapikan Buku |aliexpress.com

Pada ruang baca, aplikasi frasa "Kembalikan ke Tempat Semula" mengarah pada buku-buku atau obyek dalam ruang baca lainnya, mungkin perangkat audio, video atau lainnya yang telah diambil dari rak buku untuk tempat asalnya untuk berbagai keperluan. Bisa untuk  dilihat, dibaca, dicatat isinya atau untuk keperluan lainnya.

Tujuannya jelas, agar buku atau obyek produk ruang baca lainnya segera dikembalikan ke tempat asalnya setelah dimanfaatkan, hingga segera tertata rapi kembali ditempatnya, tidak  menumpuk dan berserakan di meja baca, meja tulis atau tempat-tempat tidak semestinya yang tidak menutup kemungkinan bisa menyebabkan terjadinya berbagai kerusakan.

Baca Juga :  Estetika "Seni Menjemur Baju" dan Manfaatnya yang Tak Terduga

Dengan begitu, selain menjaga estetika ruangan agar tetap rapi dan enak dilihat, sehingga bermanfaat juga untuk menjaga mood pengakses lainnya, juga sekaligus meminimalisir kemungkinan kerusakan dan yang pasti juga akan mempermudah akses orang lain yang juga memerlukannya.

Sedangkan untuk frasa "Kembalikan Seperti Semula" bisa jadi aplikasinya pada perlengkapan pendukung, seperti lampu, gorden penutup agar tidak silau, perangkat audio-vodeo, bahkan bisa jadi fasilitas pendingin ruangan atau AC, exhaust fan dan juga gelas untuk minum dan juga pemanfaatan kran di toilet/kamar mandi.

Tumpukan Sarung | @kaekaha

Di mushalla atau masjid, biasanya frasa "Kembalikan ke Tempat Semula" mengarah pada-pada obyek yang bisa dimanfaatkan secara publik seperti Alquran, mukena, sarung, tasbih atau bahkan sajadah. 

Dengan mengembalikan seperti semula "lipatan" sarung, mukena dan juga sajadah setelah kita pakai, tentu akan membantu menjaga kerapian dan juga estetika ruangan dalam mushalla atau masjid, sehingga tetap nyaman di pakai siapa saja untuk beribadah. 

Syukur-syukur, "disempurnakan" dengan tindakan selanjutnya! Mengembalikan semua perangkat ibadah yang telah dilipat seperti bentuk semula ke tempat asal atau ke tempat semula, setelah kita selesai memakainya. 

Sarung dikembalikan ke rak/lemari tempatnya sarung, begitu juga dengan mukena, sajadah atau mungkin tasbih dan juga Alquran yang selesai kita baca.

Alat Bengkel yang Rapi | bukuwarung.com

Di antara tempat atau area yang terbiasa memasang himbauan dalam bentuk frasa "Kembalikan ke Tempat Semula" dan atau "Kembalikan Seperti Semula", area workshop dan atau bengkel sepertinya menjadi area yang paling signifikan merasakan manfaatnya, dibanding area lainnya.

Umumnya, ruang kerja area workshop dan atau bengkel selain menyediakan peralatan bengkel berukuran besar yang tidak bisa digeser apalagi dipindah-pindah, juga menyediakan kelengkapan alat kerja (tools) dengan ukuran yang jauh lebih kecil dengan bentuk dan fungsi yang pastinya juga beragam.

Baca Juga :  Esai Foto | Para Penjemput Rizki di Pasar (Tradisional) Ahad, Banjarmasin

Dengan jumlah personil yang tentunya juga lebih dari satu dengan gaya dan kepribadian yang berbeda-beda pula, tentu pemanfaatan  frasa "Kembalikan ke Tempat Semula" dan atau "Kembalikan Seperti Semula", di area workshop dan atau bengkel akan sangat membantu menyeragamkan persepsi, dalam rangka pemeliharaan dan perawatan beragam tools dan inventaris lainnya.

Mengembalikan ke Tempat Semula | tekiro.com

Dengan begitu, keberadaan serta kelengkapan beragam tools milik workshop dan atau bengkel bisa lebih mudah dimonitor dan dikontrol. Cepat ditemukan ketika akan diperlukan, segera terdeteksi jika tidak ada dalam formasi tempat standarnya, hingga perawatan lebih mudah dan intensif, plus pastinya akan menghemat banyak pos pengeluaran akibat lost-nya beragam tools.

Belajar dari penerapan himbauan "Kembalikan ke Tempat Semula" dan atau "Kembalikan Seperti Semula" di perusahaan atau organisasi yang telah lebih dulu familiar dengan housekeeping management, sejatinya kita juga bisa mengaplikasikannya dimana saja! Termasuk di lingkungan sosial, apalagi dalam lingkungan rumah tangga.

Untuk pemanfaatan dalam rumah tangga, frasa di atas juga tidak kalah bermanfaatnya lho! Satu hal terpenting untuk menciptakan habitus "Kembalikan ke Tempat Semula" dan atau "Kembalikan Seperti Semula" dalam rumah tangga adalah konsistensi yang konsisten.

Merapikan Peraltan Dapur | rumah.com

Tanpa konsistensi yang konsisten, "penegakan" himbauan "Kembalikan ke Tempat Semula" dan atau "Kembalikan Seperti Semula" dimana saja, apalagi dalam keluarga tidak akan pernah bisa terwujud.

Godaan untuk memberi toleransi kepada anggota keluarga yang tidak konsisten pada himbauan "Kembalikan ke Tempat Semula" dan atau "Kembalikan Seperti Semula" jelas menjadi ancaman utama yang harus dieliminir sebijaksana mungkin.

Untuk output maksimal, semua anggota keluarga wajib terlibat dan dilibatkan dalam membentuk habitus "Kembalikan ke Tempat Semula" dan atau "Kembalikan Seperti Semula ini, termasuk anak-anak! 

Karena jika sejak dini telah dilibatkan, maka aktifitas pengulangan-demi pengulangan dalam rangka mematuhi himbauan dari kedua frasa diatas, dengan sendirinya akan terekam dalam alam bawah sadar anak hingga lengket lebih kuat, sehingga dengan sendirinya akan membentuk habitusnya.


Salam dari Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas!


Artikel ini juga tayang di Kompasiana pada 28 Juni 2021  jam  14:02 WIB (klik disini untuk membaca) dan terpilih sebagai Artikel Utama.

 

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN







 

Sabtu, 04 Maret 2023

Kosakata Banjar (2) | Hintalu

Hintalu Jaruk alias Telur asin | @kaekaha


Hintalu merupakan kosakata baku dalam bahasa Banjar untuk menyebut kata "telur" (bahasa Indonesia) atau egg (Inggris). 

Uniknya, di masyarakat Banjar yang juga mempunyai beberapa sub suku, seperti Banjar Pahuluan, Banjar Batang Banyu dan Banjar Kuala, juga menyebabkan munculnya beragam rumpun dialek, hingga menyebabkan banyak kosakata yang secara tulisan sama tapi berbeda dalam menyambatnya atau menyebutnya, termasuk dalam menyebut kata hintalu.

Dalam praktik berkomunikasi masyarakat, kata hintalu  menjadi banyak versi yang kemudian bisa saja digolongkan ke bagian kosakata tidak bakunya. Ada yang menyebut intalu, antalu, hantalu bahkan ada juga yang hanya menyabut dengan talu saja.

Baca Juga :  "Hintalu Tambak", Penguasa Hajat Hidup Urang Banjar yang Semakin Langka 

Saat ini, kosakata hintalu sedang menjadi trending topic di banua Banjar. Apalagi di grup emek-emak, terlebih di lingkungan para pawadaian alias para tukang wadai atau pembuat kue, khususnya kue-kue yang didalamnya mengandung hintalu.

Sudah menjadi rahasia umum kan, wadai Banjar atau kue khas Banjar yang terkenal manis dan legit, sebagian besar mengandung hintalu, bahkan beberapa diantaranya bisa dibilang berbahan hintalu melulu, baik hintalu hayam atau telur ayam, maupun hintalu itik alias telur itik.

Sebabnya bukan hanya karena, hintalu menjadi salah satu komponen sembilan bahan pokok semata, tapi karena harga eceran hintalu ayam di Kota 1000 Sungai yang di akhir tahun 2021 ini melejit melangit hingga menyentuh angka Rp. 30.000/kg. Wadouuuuuw bisa dibayangkan bukan gimana pandiran  eh ... obrolan emak-emak kalau sudah begitu?

Hintalu Karuang yang sama sekali tidak ada telurnya | @kaekaha

Layaknya kata dalam bahasa-bahasa lain yang digunakan di dunia, kosakata hintalu  juga banyak ditemukan dalam bentuk frasa baru yang mempunyai arti dan makna berbeda dengan makna asalnya (leksikal).  

Salah satunya yang paling banyak dikenal orang adalah hintalu karuang, sejenis olahan bubur khas Banjar benbentuk bulat-bulat sebesar biji keleker alias kelereng terbuat dari beras ketan dengan kuah kinca manis legit.

Baca Juga :  Sarapan Lontong Tampusing Ma Haji, Kuliner "Bahari" Khas Banjarmasin

Memang sih, istilah bubur hintalu karuang yang komponen utamanya bola-bola dari ketan yang relatif mirip dengan telur burung ini, penamaanya juga merujuk pada telur burung karuang, khususnya untuk ukuran besarnya bola-bola ketan yang diidentikkan dengan besarnya telur si burung  cucak-cucakan (Pycnonotidae) yang sangat hobi bernyanyi dan konon dulunya banyak hidup di banua Banjar tersebut.

Tapi ada juga frasa baru yang masih berhubungan dengan telur juga, seperti hintalu jaruk yang artinya telur asin, walaupun kosakata jaruk sendiri dalam arti sebenarnya adalah asinan atau proses mengasinkan dengan ujuan untuk pengawetan makanan. Ada juga hintalu tambak yang maksudnya adalah telur itik yang didapat dari indukan itik yang cara memeliharanya balapasan  atau dilepaskan, bukan yang dikandangkan.

Hintalu dalam Kamus Bahasa Banjar | @kaekaha

 Tidak hanya itu, dalam peribahasa Banjar, juga ditemukan beberapa diantaraya yang menggunakan kosakata hintalu sebagai inti dari tematik ungkapannya, salah satunya yang berbunyi "baik mambuang hintalu sabuku daripada rusak sakataraan".

Baca Juga : "Bebek Hungang" dan Uniknya Stratifikasi Level Kebodohan pada Bahasa Banjar

Arti umum dari peribahasa diatas adalah lebih baik membuang telur sebutir daripada rusak telur satu sangkar. Untuk maknanya, sepertinya semua bisa memahaminya kan? 


Semoga Bermanfaat!

Salam dari Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas!



Artikel ini juga tayang di Kompasiana pada 01 Januari 2022  jam  08:10 WIB (klik disini untuk membaca) dan terpilih sebagai Artikel Pilihan.

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN

 

Transformasi Bakso di Tangan-tangan Kreatif Masyarakat Nusantara (1)


Bakso Rombong Becak | @kaekaha

Bagi masyarakat nusantara, kuliner berkuah kaldu dengan isian utama bola-bola daging, mie, bihun atau soun dan biasanya dikasih topping bawang goreng dan rajangan daun sop (seledri) atau daun bawang  (kucay) yang biasa disebut sebagai bakso, baso, bakwan atau sebutan lainnya yang bisa jadi di tiap daerah bisa berbeda-beda, tentu sudah sangat familiar.

Bagaimana tidak, kuliner  yang  paling nikmat disantap saat  panas ini, sekarang layaknya "koloni jamur di musim penghujan", ada dimana-mana dan "penampakannya"  beraneka rupa pula, pun cita rasanya!

Sepertinya hanya warung bakso yang persebarannya bisa benar-benar merata ke seluruh Nusantara dengan beragam variannya, head to head dengan kedai masakan Padang dan juga warung seafood-lalapan khas Lamongan, dua kuliner khas nusantara yang lebih dulu dikenal begitu aktif melebarkan sayap ke seluruh pelosok nusantara.

Kedai Bakso Terpal Pinggir Jalan | @kaekaha

Dari level warung atau kedai bakso yang sifatnya manggon atau menetap alias tidak mobile saja, di kota seperti Banjarmasin nan Bungas yang dulu dikenal sebagai ibu kota propinsi dengan wilayah terkecil di level Pulau Kalimantan dan mungkin juga di Indonesia ini, hampir di tiap gang mulai dari kampung sampai komplek perumahan, ada saja warung bakso dengan beragam cirikhas serta variannya sebagai pembeda sekaligus daya tarik masing-masing.

Baca Juga :  Berburu "Bebek Kaki Lima", Menikmati Romantisme Kuliner Jalanan Legendaris Nusantara

Uniknya, kalau diperhatikan lebih serius, ternyata eksistensi warung bakso itu identik dengan klub-klub sepakbola lho! Jika anda penggemar berat liga Inggris, tentu tidak asing dengan eksistensi 7 klub Liga Inggris yang sama-sama berasal dari Kota London, sebut saja Arsenal, Chelsea, Cristal Palace, Fulham dan lain-lainnya. 

Seperti mereka, warung bakso tenyata juga mempunyai basis penggemar masing-masing dan untuk menjaga loyalitas fans berat masing-masing, ternyata mereka juga harus merawat komunikasi dan wajib "berprestasi", setidaknya dengan konsisten menjaga kualitas sajiannya.

Bakso & Mie Ayam Wonogiri | @kaekaha

Sebenarnya, ada keasyikan tersendiri lho, ketika memperhatikan detail keragaman bentuk maupun model rombong bakso nusantara, berikut kompartemen-nya masing-masing yang sudah pasti sangat tergantung dengan kebutuhan dan tentunya kecerdasan plus kreatifitas masing-masing pemiliknya.

Ada yang hanya menggunakan rombong saja tanpa roda yang beberapa diantaranya juga menambahkan tenda portable, ada juga outlet yang lebih serius dan modern dengan memanfaatkan rombong outlet berbahan seng layaknya rombong kaki lima lainnya dan tentu saja warung atau kedai yang memang sudah memanfaatkan bangunan semi permanen maupun yang permanen di lokasi-lokasi strategis. 

Bahkan sekarang, tidak sedikit  outlet bakso yang sengaja mendesain kedai baksonya "lebih serius" layaknya rumah makan atau bahkan restaurant-restaurant kekinian yang tentunya tidak hanya sekedar  menawarkan "acara makan bakso" semata, tapi biasanya juga menambahkan beragam inovasi kekinian, hingga memberikan pengalaman "ngebakso"  yang berbeda, salah satunya yang  mungkin sedang rame dan ngetren adalah ngebakso dengan konsep prasmanan dan all you can eat yang dulu sepertinya tidak pernah terpikirkan.

Fragmentasi di Kedai Bakso|@kaekaha

Memang sih, "restaurant" bakso yang model begini memang tidak banyak dan biasanya memilih segmen pasar kelas premium atau setidaknya, segmen-segmen tertentu yang memang loyal dengan bakso hingga bisa dilabeli sebagai bakso mania. Tidak heran jika, semua konsep berjualan baksonya juga relatif berbeda dengan kedai-kedai bakso pada umumnya. 

Tidak hanya sekedar urusan seputar masakan bakso berikut keragaman isiannya saja yang menjadi perhatian, tapi juga kenyamanan ekstra bagi pelanggannya, seperti konsep penyajian, lay out interior-eksterior, sampai hiburan dan juga pilihan lokasinya tidak bisa asal-asalan, bahkan  banyak diantaranya yang didahului dengan proses riset.

Restoran Bakso Pak Min dengan Hiburan Musik | @kaekaha

Tapi uniknya, apapun model, gaya atau bahkan level kedai-restoran bakso yang ada di sekitar kita, ternyata tidak otomatis berbanding lurus alias tidak  berhubungan secara langsung dengan kualitas citarasa baksonya. 

Jadi "penampakan" fisik kedai-restoran bakso bukanlah parameter terbaik untuk "menilai" citra kualitas olahan bakso yang dijajakannya. Betul!?

Baca Juga : Terbujuk Nostalgia, Bakwan Malang "Pikulan" Ini Sedapnya Unik

Bukan rahasia lagi, banyak sekali kita temukan di sekitar kita, destinasi kuliner "bakso-bakso rakyat" yang dijajakan di tempat-tempat yang sangat sederhana, bahkan dengan cara seadanya pula, tapi karena citarasa olahannya memang maknyus, maka pembeli dari manapun dan latar belakang apapun tidak akan segan-segan untuk datang memburu kenikmatannya. 

Cak Mat dengan "Rombong Pikul" Bakwan Malang | @kaekaha

Itu baru bakso-bakso versi manggon, belum termasuk tukang bakso yang jualan ider alias jualan dengan cara menjaja secara keliling khas masyarakat nusantara yang pastinya jauh lebih epik, heroik dan tentunya juga tak kalah unik! 

Kita semua tahu, bagaimana karakter dan etiket kuat para "pedagang-pedagang" nusantara yang identik dengan keuletan dan juga kerja kerasnya. Begitu juga dengan orang-orang kreatif di belakang gerobak-gerobak bakso yang tersebar di seluruh pelosok negeri ini, tidak hanya cerdas dan kreatif saja, mereka semua pekerja keras! 

 


Rombong Cuankie di Kota Garut | @kaekaha

Tidak heran jika di Tangan-tangan kreatif mereka, kuliner yang mempunyai akar sejarah sangat panjang dari negeri China dan diperkirakan telah ada sejak abad ke-17 ini, seperti termuliakan!

Baca Juga :  Tergoda Sajian "Cuanki Jalanan" Asli dari Kota Garut

 Seperti berjodoh, simbiosis mutualisme diantara keduanya menjadikan transformasi bakso di tangan masyarakat Nusantara menjadi jauh lebih massive hingga naik kelas dan populer seperti sekarang, sehingga pada gilirannya menjadi sebuah komoditi perekonomian yang sangat menjanjikan bagi para pelaku usahannya.

Gerobak Dorongnya Imut ya!? | @kaekaha

Tidak heran jika di Kota Banjarmasin dan sepertinya juga kota-kota lain di nusantara, sudah banyak para pedagang bakso yang sebagian besar merupakan perantau dari Pulau Jawa sejak era 70-an, sekarang telah menikmati hasil jerih payahnya yang benar-benar dimulai dari nol, menjadi saudagar-saudagar mapan dari usaha kuliner bakso. 

Menurut para saudagar bakso yang juga generasi pertama perantau dari Jawa yang juga tergabung dalam beberapa organisasi persaudaraan perantau dari Jawa di Kalimantan ini, bakso manggon yang sudah mapan dengan nama besar yang sudah dikenal di Banjarmasin, semuanya diawali dengan jualan keliling atau ider dengan menggunakan gerobak. Woooow!


Bakso Dorongan Favorit Ibu-ibu di Kampung | @kaekaha

Tradisi menjajakan makanan dengan cara berkeliling atau ider dalam budaya masyarakat nusantara, khususnya di Pulau Jawa, sebenarnya mempunyai perjalanan sejarah yang juga tidak kalah panjang. Salah satunya yang paling  ikonik tentu seni menjajakan kuliner paling "tradisional", yaitu dengan cara dipikul.

Baca Juga :  Ayam Masak Bom, Lezatnya Olahan Ayam "Berpenyedap" Arang Membara

Dulu di Pulau Jawa, cara menjual makanan dengan cara dipikul keliling kampung pada malam hari yang tentunya sangat menguras tenaga ini, biasa dilakukan oleh para pedagang Soto Ayam dan Sate-gule  kambing yang teriakan ataupun bunyi-bunyian tanda kehadirannya selalu memberi "hiburan" tersendiri, karena kekhasannya yang unik dan ikonik.  Sayangnya, cara ini sepertinya mulai punah  pada dekade akhir 80-an.

Bakso Rombong Becak Tanpa Atap | @kaekaha

Bersyukurnya, seperti ingin membangkitkan memori, di awal 90-an mulai muncul para pedagang bakso, khususnya Bakwan Malang alias bakso khas dari Malang yang menggunakan pikulan, tapi tentunya setelah dilakukan modifikasi, sehingga rombong baksonya lebih compact, tidak sebesar dan seberat rombong soto atau Sate-gule legendaris di era sebelumnya.

Baca Juga :  Sedapnya Soto Banjar Ayam Bapukah/Bapulas Khas Haji Anang

Pada episode berikutnya, di Jawa Barat atau tepatnya di Garut, lahir kuliner baru yang populer dengan nama Cuanki, varian baru dari keluarga bakso-baksoan yang tentunya juga mempunyai cirikhas dan keunikannya sendiri yang menjadikannya juga istimewa.

Bakso Rombong Becak Motor | @kaekaha

Uniknya, nama Cuanki merupakan akronim dari "cari uang jalan kaki", sebuah istilah yang  merujuk pada cara penjual varian bakso yang isiannya sangat beragam ini saat menjual dagangannya, yaitu dengan menjajakannya dengan cara dipikul dan berjalan kaki keliling kampung sampai saat ini.

Sayangnya, mungkin karena model jualan pakai pikulan ini sepertinya kurang efesien, meskipun sebagian ada yang menyebutnya unik dan estetis, menjadikan model jualan bakso pikulan tidak begitu populer, sehingga secara perlahan mulai menghilang tergantikan oleh model-model lain yang jauh lebih simple, praktis, efektif dan efisien.

Bakso Rombong Sepeda Motor | @kaekaha

Diawali dengan transformasi model gerobak ke arah yang lebih "pintar" dengan menambahkan sepasang roda sehingga bisa lebih mudah untuk berpindah tempat dengan cara di dorong, selanjutnya dari waktu ke waktu  "rombong bakso bergerak" juga terus berubah mengikuti tuntutan jaman yang memang terus bergerak cepat.

Luar biasanya, pada fase ini gerobak bakso tidak hanya menjadi lebih fleksibel, bisa dipindah kemana saja dengan coverage area yang tentunya jauh lebih luas, tapi juga mempunyai ruang yang lebih besar, meskipun tetap jauh lebih hemat tenaga. 

Bakso Kota Harga "Endeso" | @kaekaha

Situasi ini menjadikan kreatifitas para pedagang bakso semakin tertantang untuk terus berinovasi, salah satunya dengan melakukan diversifikasi dagangan dengan menambahkan menu baru, seperti mie ayam dan bahkan juga minuman, seperti es teh, es kelapa, es campur dan lain-lainnya dengan 

Sepertinya, mulai dari titik ini juga para pedagang bakso dari Pulau Jawa akhirnya semakin masive melebarkan sayap ke seluruh pelosok nusantara, termasuk ke Kota Banjarmasin hingga menjadi saudagar-saudagar bakso

Setelah era gerobak dorong mulai dianggap tidak lagi efektif, sehingga mulai jarang terlihat dijalanan, kecerdasan dan kreativitas para pedagang bakso kembali dituntut untuk menciptakan alat berjualan baru yang lebih praktis, efektif dan efisien, memang prosesnya juga tidak cepat dan mudah, hingga akhirnya beberapa dekade berikutnya mulai bermunculan rombong bakso yang berjualan dengan menggunakan sepeda motor bahkan juga mobil.

Uniknya rombong bakso sepeda motor inipun bentuk dan model modifikasinya juga sangat beragam, dari yang relatif sederhana sampai yang cukup canggih.

Ada yang model becak, dimana gerobak bakso di tempatkan di bagian depan, layaknya penumpang becak pada umumnya. Ada juga yang gerobak baksonya ditempatkan di bagian belakang dengan kelengkapan kompartemen yang semakin banyak untuk berbagai keperluan yang tentunya bergantung pada kebutuhan penjual bakso ya. Keren kan kreatifitas masyarakat nusantara!?

(Bersambung)

 

Artikel ini juga tayang di Kompasiana pada 19 Pebruari 2023  jam  22:42 WIB (klik disini untuk membaca)

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN