Sabtu, 07 November 2020

KoranKaltim.com "Tombo Kangen Mujarab" Kerinduanku pada Banua Etam

KoranKaltim referensi teraktual seputar Kalimantan Timur | korankaltim.com

 Nostalgia di Banua Etam

Sejak meginjakkan kaki pertama kali di Kota Tepian, Samarinda serta Kota Beriman, Balikpapan dan akhirnya harus bolak-balik Surabaya-Banjarmasin-Balikapapan pada kurun waktu 2004-2006 silam untuk melaksanakan "tugas negara", memang harus saya akui, sosio kultur dua kota terbesar di Kalimantan Timur yang terbangun layaknya miniatur nusantara yang sarat dengan keragaman itu benar-benar telah membuat saya jatuh cinta.

Namanya juga jatuh cinta, setelah purna tugas dan wajib pulang ke markas besar di Surabaya,  lama-kelamaan muncul juga kerinduan yang begitu mendalam atau Urang Banjar menyebutnya sebagai karindangan setelah begitu lama tidak bersua dan hanya mendengar kabarnya saja  tentang banua etam, Kalimantan Timur.

Dulu, setiap pulang dari kantor yang terletak di seberang Taman Tepian Mahakam di jalan Slamet Riyadi, sebelum pulang ke kost-an di jalan Abul Hasan, saya selalu menyempatkan main ke semacam dermaga yang terbuat dari kayu ulin (Eusideroxylon zwageri) di tepian Sungai Mahakam, bagian dari Taman Tepian Mahakam yang masih belum selesai di benahi.


 
Kenangan medio 2006 di Tepian Mahakam dengan Latar Belakang Sungai Mahakam dan Islamic Centre yang masih dalam pembangunan | @kaekaha

Menurut saya, saat itu tempat ini sangat romantis, apalagi jika temaram senja mulai meningkahi sang mentari agar segera kembali ke peraduannya. Saya sangat menikmati suasana senja di tempat ini, beragam aktifitas original khas masyarakat yang tersaji begitu natural, layaknya penawar lelah aktifitas seharian di kantor.

Kerlap-kerlip "manja" lampu di Jembatan Mahakam, hilir mudik tongkang pengangkut batubara ditengah sungai, uniknya para pencari ikan yang berburu dengan beragam cara tradisonal, muda-mudi yang sepertinya memadu kasih dan yang paling menakjubkan saya adalah fakta banyaknya pedagang yang menjual beraneka produk, mulai dari makanan, minuman, mainan, beragam jasa dan banyak lagi lainya yang hampir semuanya ternyata "imigran" alias pendatang dari Pulau Jawa seperti saya. 

Inilah momentum awal, saya merasa tidak sendirian di seberang lautan. para "imigran" dari Jawa ini layaknya jembatan emas untuk mengenal banua etam lebih dekat dan lebih intim,sekaligus jatuh cinta pada segala pesona dan eksotikanya.     

Baca Juga : Pesona Pulau Derawan Bikin "Mabuk Kepayang"

Dulu, sewaktu komunikasi belum bisa dilakukan secara online dan realtime seperti sekarang, untuk mengobati karindangan alias rindu berat saya pada semua yang berbau banua etam, setelah kembali menetap di Surabaya/Banjarmasin, saya harus calling teman-teman, khususnya crew di Kota Tepian, Samarinda. 

Selain tanya kabar, ujung-ujungnya pasti minta tolong dikirimi via email foto-foto romantis tempat kesukaan saya di dermaga taman tepian Mahakam, Masjid tua Shiratal Mustaqiem di Samarinda seberang, juga update pembangungan Islamic centre (saat itu masih dalam tahap pembangunan dan digadang-gadang menjadi yang terbesar di Asia Tenggara), koran harian terbitan lokal (kebetulan saya kolektor koran, baik terbitan lokal, nasional maupun internasional) dan amplang kuku macan, sejenis camilan kerupuk yang terbuat dari ikan belida atau ada juga yang menyebutnya sebagai ikan pipih (Chitala lopis). 

Kerinduan terobati? Mau tidak mau, bisa tidak bisa saat itu ya harus terobati...he...he...he...! Karena memang tidak ada jalan lain. 

Momen Menjadi "Joki" DRE etape 3, Balikpapan-Tanjung Redeb, Berau | @kaekaha
 

 Menjelajah Banua Etam

Bersyukur, pada awal 2016 saya dan beberapa teman kompasianer (penulis di kompasiana) dari berbagai kota di Indonesia, terpilih mengikuti ajang ekspedisi lintas Pulau Kalimantan, termasuk banua etam, Kalimantan Timur yang disponsori oleh salah satu pabrikan otomotif asal Jepang yang sudah kesohor di dunia. 

Khusus untuk perjalanan etape jelajah Kalimantan Timur dari Balikpapan menuju Kota Tanjung Redeb di Kabupaten Berau yang saat itu kami tuntaskan sekitar tiga hari, benar-benar menjadi hari yang sangat spesial. Bagaimana tidak? 

Baca Juga : 650 km Menjelajah Jalur Roller Coaster Kalimantan Timur

Tiga hari penuh kami menjelajah bumi banua etam nan eksotis. Menyusuri alam liar khas borneo, ruang konservasi alam dengan plasma nutfah yang tidak terhitung lagi jumlah serta nilainya, juga beragam kearifan tradisi, budaya serta keyakinan masyarakat yang ada di dalamnya, menjadi momen melepas kerinduan pada banua etam yang mengendap selama sekitar satu dekade. 

Saat itu, kami benar-benar menikmati secara utuh hampir semua elemen eksotis yang menjadikan sosio kultur dan juga alam banua etam sangat layak untuk di kangeni!

 

Bandara Kalimarau, Berau Luar Biasa Cantiknya! | @kaekaha

Sayangnya, setelah pulang ke daerah masing-masing saya dan semua risers (semua peserta ekspedisi) justeru malah kebingungan sendiri, pasalnya kami sangat sulit untuk move on!  

Bayang-bayang pesona Kota "Cerdas" Balikpapan, Islamic Centre Samarinda, Desa Budaya Pampang, Desa Budaya Miau Baru dan tentunya eksotika kepulauan Derawan yang hadir layaknya sepotong tanah surga yang jatuh ke bumi, sangat sulit untuk kami buang jauh-jauh. 

Baca Juga :  Inspirasi Cantik dari Bandara Kalimarau dan SAMS Sepinggan 

Bahkan sampai sekarang, di grup WA risers DRE yang masih terpelihara sampai sekarang, kami masih sering membahas momen-momen indah perjalanan kami di sepanjang jalan banua etam, saat menembus jalur-jalur eksterm layaknya rolller coaster di tengah rimba yang masih perawan, berikut ragam kearifan budaya masyarakat setempat yang begitu menginspirasi.

Saat Berkunjung ke Desa Adat Miau Baru, Kongbeng, Kutai Timur | @kaekaha
 

KoranKaltim.com Obat Kangen pada Banua Etam

Beruntung, saya masih kebagian jaman milenial yang serba digital seperti saat ini! Karenanya, kerinduan saya dan juga teman-teman risers yang sempat menjelajah banua etam diawal tahun 2016 silam   kepada eksotika banua etam lebih mudah terobati, bahkan ditengah pandemi covid-19 seperti saat ini.

Bagaimana tidak, selain mode plesiran virtual yang sekarang banyak dibangun oleh berbagai pihak yang berkepentingan, terutama terkait pariwisata regional Kalimantan Timur, teknologi informasi berbagai penyedia informasi lokal di Kalimantan Timur juga sudah sangat maju yang tentunya berperan besar memeratakan budaya digital sekaligus mencerdaskan masyarakat Kalimantan Timur, salah satunya yang selalu on fire adalah korankaltim.com berikut media grup-nya.

Berawal dari rekomendasi teman-teman sekantor dulu di Samarinda dan Balikpapan, untuk keperluan info aktual terkait banua etam, saya sekarang malah minded dengan artikel-artikel korankaltim.com khususnya untuk keperluan referensi penulisan artikel-artikel bergenre sosio kultur dan humaniora khas bumi Kalimantan di berbagai media langganan saya, termasuk beberapa media blog generatif dan blog pribadi yang saya kelola.

Membuka laman korankaltim.com yang menyajikan menu berita populer dan aktual begitu lengkap, saya seperti dibawa menjelajahi semua lini hidup dan kehidupan aktual dan krusial masyarakat secara utuh, tidak hanya di level banua etam semata yang memang menjadi core artikelnya, tapi juga level nasional, bahkan internasional.
 
 
korankaltim.com

 
Dari artikel yang lumayan "berat" seperti tema politik, pendidikan dan ekonomi-bisnis, sampai budaya, olahraga dan hiburan, semuanya tersaji dengan ulasan yang lugas dan sederhana berbasis pada data yang lengkap dan akurat, sehingga informasi dalam artikel lebih mudah sampai pada segmen pembacanya.

Lebih spsesifik, coba perhatikan, artikel-artikel yang tersaji di semua menu korankaltim.com! Cirikhas pada judul artikelnya yang cenderung panjang dengan pilihan diksi yang lugas dan sederhana, jelas memberi kesan pada kelas mutu artikel pada pandangan pertama!

Cirikhas korankaltim.com yang satu ini, jelas "saya banget" gitu loh! Saya paling suka dengan artikel model seperti ini, satu visi dengan artikel-artikel saya yang rata-rata juga berjudul panjang. 

Menurut saya, artikel dengan judul panjang itu memudahkan pembaca untuk lebih mudah meraba simpul artikel, sekaligus menganalisa kualitas kolektif serta komprehensifnya materi data artikel, pembentuk moment of truth-nya pembaca.

Berdasar pengamatan dan pengalaman saya, setidaknya ada dua jenis pembaca artikel berita, sepertinya termasuk pembaca korankaltim.com juga, yaitu pembaca yang memang memerlukan informasi serta data terkait artikel dimaksud dan pembaca yang hanya sekedar ingin meng-update informasi.

Keduanya tentu mempunyai perilaku berbeda jika melihat basis kepentingannya, bagi pembaca yang mempunyai kepentingan pada informasi dan data, setelah membaca judul panjang yang mengandung diskripsi dan data, pasti akan "memeriksa" sampai detail sajian materi dalam artikel. 

Sedangkan pembaca yang sekedar ingin meng-update informasi, dengan membaca judul yang relatif panjang, diskriptif dan berisi simpul data, biasanya sudah merasa cukup. 

Maknanya, korankaltim.com bisa memberikan pengalaman membaca konten berita terbaiknya kepada siapa saja dimanapun berada, termasuk saya dan juga kamu! 

Nggak percaya? Coba deh buka link artikel aktual berjudul "Update Covid-19 di Kaltim : Hampir Berimbang, Penderita Baru Capai 265, Pasien Sembuh Sentuh 299 Kasus"  berikut, dan segera kenali, kamu termasuk tipe pembaca yang mana?

 

"Selamat Ulang Tahun ke-14 Koran Kaltim"

 

Semoga Bermanfaat!

Salam dari Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas!


Jumat, 06 November 2020

Menemukan "Pasar Terapung Lok Baintan" dari Jalur Darat

Pasar Terapung Lok Baintan | @kaekaha

Pasar Terapung di Banjarmasin dikenal luas sejak dijadikan iklan ID Station  oleh salah satu televisi swasta nasional di awal tahun 90-an. Pasar terapung yang dijadikan syuting saat itu adalah Pasar Terapung Muara Kuin, yaitu Pasar Terapung yang diperkirakan sudah berusia ratusan tahun yang lokasinya di muara Sungai Kuin, anak Sungai Barito. 

Sayang, sejak pertengahan tahun 2000-an pamor pasar terapung alami satu-satunya di dunia ini turun drastis seiring dengan menurunnya pamor pariwisata di Kalimantan Selatan, karena berbagai sebab. Pasar terapung di tepian Sungai Barito yang berarus kuat dan bergelombang ini seperti hidup segan mati tak mau!

 


Bersyukur, sejak sekitar 5 tahun terakhir geliat pasar terapung mulai terlihat kembali, terutama sejak ditemukannya pasar terapung di Desa Lok Baintan, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar. Pasar Terapung di DAS Sungai Martapura ini tidak kalah eksotiknya dengan Pasar Terapung Muara Kuin di jaman keemasannya. 

Bahkan beberapa kalangan menilai Pasar Terapung Lok Baintan lebih menjual dan lebih atraktif dibanding dengan pendahulunya. Lokasinya yang berada agak masuk ke di tengah pedalaman memberikan sensasi wisata yang unik dan sedikit menantang. Pemandangan alam sekitar yang masih perawan dibalut dengan diorama budaya sungai khas kehidupan masyarakat  Banjar, semakin mendekatkan kita pada alam. 

Terlebih lagi, untuk menikmati suasana pasar terapung alami di Lok Baintan kita tidak terganggu oleh lalu lintas kapal-kapal besar penarik tongkang batubara atau pengangkut hasil hutan lainnya layaknya di Pasar Terapung Muara Kuin dan satu lagi, diatas lokasi Pasar Terapung terdapat jembatan gantung bertali baja yang membentang dari masing-masing tepian sungai yang bisa dijadikan tempat untuk mengabadikan eksotisnya pasara terapung. Benar-benar enjoyfull!

Pasar Terapung Lok Baintan | @kaekaha


Berbeda dengan Lokasi Pasar Terapung Muara Kuin yang masih di dalam Kota Banjarmasin dan bisa diakses dengan jalan darat yang lebih cepat, untuk mengunjungi lokasi Pasar Terapung Lok Baintan di butuhkan waktu yang agak lama dari Kota Banjarmasin, sekitar 1jam perjalanan dengan menaiki perahu kelotok khas Banjarmasin. 

Tapi jangan kuatir, 1 (satu) jam perjalanan menuju lokasi Pasar Terapung Lok Baintan akan terasa singkat jika anda adalah penikmat wisata alam dan budaya. Karena sajian ekosistem alam perawan Kalimantan dan budaya sungai masyarakat Banjar akan memanjakan mata dan wawasan anda.

Menuju Lok Baintan via jalur sungai | @kaekaha

 Menemukan Pasar Terapung Lok Baintan sebenarnya tidak hanya bisa dilakukan melalui jalur sungai saja, seperti yang sudah lazim di lakukan oleh sebagian besar pengunjung. Untuk wisatawan/pengunjung yang ingin merasakan sensasi berbeda atau mungkin ada phobia dengan air/sungai,  ada jalur darat yang bisa dimanfaatkan sekaligus dinikmati untuk menemukan eksotisnya Pasar Terapung Lok Baintan. 

Walaupun sebenarnya bisa untuk kendaraan roda 4 sekelas minibus, tapi disarankan akan memberikan sensasi lebih jika menggunakan kendaraan roda dua seperti sepeda motor atau bahkan sepeda. Selain jalan yang sempit hanya cukup untuk melintas satu mobil saja, jarak menuju lokasi juga tidak terlalu jauh apalagi bagi anda para goweser! Jaraknya sekitar 10 km dari pusat Kota Banjarmasin. 

Memang, untuk eksplorasi jalur darat relatif kurang familiar bagi wisatawan. Tapi tunggu dulu, sensasi petualangannya tidak kalah seru lho....! Pokoknya dijamin bikin  fresh.....! Berikut ulasannya!

Dari arah Kota Banjarmasin, perjalanan langsung menuju ke arah luar kota menuju Jalan Veteran atau jalan martapura lama ke Pasar Sungai Lulut, pasar unik di tepian anak sungai Martapura. Disekitar Pasar Sungai Lulut anda bisa berhenti sejenak untuk menikmati suasana pasar tradisional masyarakat Banjar yang sekelilingnya terdapat kanal kanal yang masih aktif dilalui masyarakat dengan menggunakan jukung atau kelotok, melihat fragmentasi ini akan membawa angan kita ke venezia versi Banjarmasin!

Kanal cantik di belakang los pasar Sungai Lulut | @kaekaha

handil di belakang los Pasar Sungai Lulut

Di ruas Pasar Sungai Lulut yang lokasinya tepat di pinggir jalan veteran (sebagian ada yang menyebut jalan Sungai Lulut, tapi ada juga yang menyebut jalan Martapura lama), kita akan bertemu dengan jembatan berkonstruksi baja yang bentuknya unik seperi busur di sebelah kiri jalan. 

Konstruksi Jembatan ini menurut saya juga termasuk unik dan khas Kalimantan Selatan. Jembatan sengaja dibentuk melengkung seperti busur karena sungai dibawahnya merupakan jalur lalu lintas aktif masyarakat. Jadi maksudnya, agar kepala pengendara kelotok/jukung tidak nyangkut di badan jembatan.

Jembatan Busur khas Kalimantan Selatan | @kaekaha

Kalau Jembatan busur sudah terlihat, sebenarnya kita sudah meninggalkan wilayah Kota Banjarmasin. Posisi jembatan sudah masuk wilayah desa Sungai Bakung, Kec. Sungai Tabuk Kabupaten Banjar. Untuk menuju ke Pasar Terapung Lok Baintan, maka kita harus belok kiri dengan menaiki jembatan busur, karena kalau lurus terus maka kita akan menuju Kota Martapura. Ibu kota Kabupaten Banjar yang dikenal sebagai kota Intan.

Jenis jalan yang harus dilalui menuju Pasar Terapung Lok Baintan | @kaekaha

Turun dari Jembatan busur kita terus lurus meyusuri jalan yang terbuat dari susunan paving blok sejauh sekitar 1km, selanjutnya jalanan di dominasi oleh tanah keras yang bertabur dengan batu-batu split hasil pengerasan oleh pemerintah beberapa waktu yang lalu. Jujur! saya sebenarnya agak bingung ketika melihat kondisi jalan menuju destinasi wisata andalan Kalimantan kok sepertinya kurang mendapat perhatian ya...? Padahal....! Ah sudahlah kita jalan lagi aja yuk...! 

Hijaunya alam di sepanjang jalan menuju Pasar terapung | @kaekaha

Ternyata semakin jauh saya memacu kendaraan, jalanan semakin menantang . Kali ini bukan batu split yang terhampar di jalanan tanah tersebut, tapi berupa pecahan batu kali yang berbentuk bongkahan. Jadi saya tidak bisa memacu kendaraan lebih kencang lagi. Untung pemandangan hijau segar areal kebun jeruk, nangka, pisang, area rawa lebak/persawahan dan hutan nipah yang banyak mendominasi sepanjang jalan berhasil merayu mata saya untuk menikmati kesegarannya. Tapi, saya tetap tidak merekomendasikan akses jalur darat ini untuk ibu-ibu hamil, apalagi jika harus mengendarai kendaraan roda dua.

Ada satu hal menarik yang sempat membuat saya takjub, sejak turun dari jembatan busur, yaitu keramahan warga di sepanjang jalan yang saya lalui! Setiap berpapasan dengan warga setempat seyum tulus mereka selalu mengembang penuh ketulusan, padahal saya sama sekali tidak kenal dengan mereka. "Sesuatu" yang seharusnya biasa ini, bagi saya menjadi sangat luar biasa! Karena jarang saya temukan di lingkungan perkotaan tempat saya tinggal.

SDN Gudang Hirang 2| @kaekaha

Setelah menempuh perjalanan kira-kira 4 km dari jembatan busur, kita akan bertemu dengan pertigaan jalan di desa Gudang Hirang Kec. Sungai Tabuk, satu-satunya persimpangan yang saya temui sejak turun dari jembatan busur. Di pertigaan yang ditandai oleh bangunan Sekolah Dasar Negeri Gudang Hirang 2 di sebelah kiri jalan ini, kita ambil arah belok kiri. 

Pasar terapung bayangan di sisi hilir | @kaekaha

Dari belokan ini,  kita sudah bisa melihat sungai Martapura yang menjadi lokasi Pasar Terapung Lok Baintan. Tapi, Lokasi Pasar Terapung yang disini bukanlah lokasi yang sebenarnya, karena lokasi Pasar Terapung yang sebenarnya di bawah jembatan Gantung Lok Baintan yang letaknya masih sekitar 1 km lagi dari lokasi ini. Lokasi ini disebut oleh sebagian pengunjung pasar terapung sebagai pasar terapung bayangan. 

Pasar terapung Lok Baintan sisi bayangan| @kaekaha

Disebut bayangan karena mereka berada ditempat yang tidak semestinya. Para pedagang pasar terapung ini biasa muncul di lokasi ini ketika hari mulai beranjak terang atau jam 7 keatas dengan cara membiarkan arus sungai membawa perahu mereka berjalan sendiri kira-kira sejauh 1 km dari tempat awal mereka berjualan di bawah jembatan gantung Lok Baintan. Para pedagang yang sebagian besar berasal dari daerah arah hulu, untuk pulang atau kembali ke arah hulu biasa di tarik oleh perahu kelotok yang lebih besar secara berombongan, berikut videonya


Dari lokasi Pasar terapung bayangan ini untuk menuju lokasi pasar terapung dibawah Jembatan Gantung Lok Baintan, jalan yang harus dilalui relatif lebih bagus daripada rute sebelumnya, karena di sini kita sudah berada di area perkampungan Desa Lok Baintan Luar. 

Batas Desa Lok Baintan Luar | @kaekaha

Dari arah kita datang, jembatan gantung Lok Baintan sama sekali tidak kelihatan, karena tertutup oleh rumah-rumah panggung warga dan sayangnya sama sekali tidak ada penunjuk arah atau papan keterangan lokasi Jembatan Gantung Lok Baintan di sekitar lokasi, kecuali papan nama yang menempel diatas pilar-pilar kayu raksasa penopang kawat sling baja jembatan. 

Saya baru sadar kalau sudah sampai di lokasi ketika melihat ujung-ujung tali kawat sling raksasa sebesar lengan anak-anak tertambat di dinding-dinding tebal dan kokoh di sebelah kiri tempat saya berhenti.

Pilar Kayu Jembatan Gantung Lok Baintan | @kaekaha

Sampai di bibir Jembatan Gantung Lok Baintan yang terlihat miring kearah kiri tersebut, matahari sudah lumayan tinggi, sekitar jam 8 pagi WITA. Aktifitas pasar terapung sudah bergeser ke arah Pasar terapung bayangan. Beruntung saya masih sempat mengabadikan rombongan pedagang yang tengah pulang dari berdagang ke kampung masing-masing ke arah hulu dengan di tarik kelotok.

Aktifitas Pasar Terapung Lok Baintan | @kaekaha

Setelah aktifitas pasar terapung benar-benar habis dan mendokumentasikan beberapa spot tersisa yang menurut saya menarik dengan kamera, akhirnya saya memilih untuk pulang. Nah...untuk jalan pulang, saya sengaja memilih jalur yang berbeda dengan jalur berangkat, karena banyak jalan menuju Roma...eh, Rumah! Tunggu ulasan jalur menemukan rumah dari Pasar Terapung Lok Baintan, pada postingan berikutnya ya!

Yuk jalan-jalan ke banua Banjarmasin.....

Keterangan Bahasa Banjar : 

Banua  : Daerah ; Wilayah ; Desa ; Kampung

Handil  :  Saluran ; kanal

Artikel ini juga di posting di Kompasiana pada 6 Mei 2016   01:14

 

 

 

 

 

 

 

 

Kamis, 05 November 2020

Kecil Disuka, Muda Terkenal, Tua Kaya-Raya, Mati Masuk Surga!

 

Cover Album Minoritas (1996) | @kaekaha

Inspirasi dari suara kaum "Minoritas" ( Slank, 1996)

Bagi para Slankers generasi awal di era 90-an, kalimat judul diatas tentu tidak asing lagi! Kalimat "provokatif" yang menurut saya sangat visioner tersebut sengaja saya kutip dari lirik salah satu lagu dari grup musik fenomenal yang bermarkas di Gang Potlot tersebut. Lagu berjudul "entah jadi apa?" ini termuat dalam album "Minoritas" yang rilis tahun 1996 yang menurut saya merupakan salah satu album studio masterpiece Slank pada formasi awal yang saat itu diperkuat Kaka (Vokal), Bimbim (Drum) Bongky (Bass) Pay (Gitar) dan Indra Q (Keyboard).  

Di album yang menelurkan hits bang bang tut dan kalau kau ingin jadi pacarku ini, sebenarnya mempunyai materi lagu yang semuanya layak menjadi hits. Semua lagu dalam album ini benar-benar berasa "roh" slank-nya, baik dari sisi musikalitasnya maupun kecerdasan pemilihan diksi dalam lirik-liriknya. Album yang saat itu diedarkan dalam format pita kaset tersebut, di side A selain berisi hits bang bang tut, berikutnya ada komposisi tut wuri handayani, Jinna! belasan dalam pelarian, gemerlap kota, bidadari penyelamat. Sedangkan pada side B, tersusun komposisi-komposisi eksentrik semacam suku benalu, h.a.m. burger, pak tani, entah jadi apa? dan hits kalau kau ingin jadi pacarku. 

 

Edisi kaset album | @kaekaha

Sayang, album ekspresif yang sarat dengan ungkapan kritik sosial kaum "minoritas" seperti judul albumnya ini merupakan album studio terakhir dari kebersamaan format awal sekaligus format terbaik Slank (menurut saya...!), karena setelah album ini Bongky (Bass) Pay (Gitar) dan Indra Q (Keyboard) menyatakan mundur dari Slank dan beberapa saat kemudian mendirikan grup baru bernama BIP yang ditengarai merupakan akronim dari nama ketiganya, Bongki Indra Pay. 

Mengkaji Kalimat Provokatif Visioner!

Apa sih yang menarik dari kalimat "Kecil Disuka, Muda Terkenal, Tua Kaya-Raya, Mati Masuk Surga!" yang saya kutip dari lirik lagu Slank Entah Jadi Apa? tersebut? 

Seperti saya sebutkan diatas, kalimat tersebut menurut saya punya potensi provokasi yang multi intrepretasi dan multi tafsir!  Tentu hanya Tuhan dan Slank yang tahu maksud yang sebenarnya. Hanya saja, merujuk pada pada komentar teman-teman saya yang kebetulan ikut menjadi saksi dari terbitnya album Slank yang memuat lirik lagu tersebut, setidaknya ada 2 poros pemahaman. Bagi yang apatis dan cenderung pesimis (rata-rata mahasiswa yang saat itu resah dengan keadaan sosial ekonomi dan budaya yang kebetulan berada di awal jurang krisis ekonomi multidimensi menjelang kejatuhan orde baru yang entah kebetulan atau tidak bertepatan dengan time release atau setting lahirnya album ini) pasti akan langsung mencibir kalimat diatas sekaligus berkomentar dengan kalimat-kalimat sumbang seperti ini, "Emang surga punyak engkong lo....!" atau "Kalau anak konglomerat mah ya mungkin saja.... tapi kalo kong lo melarat ya mustahil bin mustajab!"  Kalimat-kalimat sumbang ini benar-benar muncul dalam berbagai obrolan di berbagai forum kala itu (terutama obrolan kami anak-anak kuliahan yang saat itu syarat dengan keterbatasan... he...he...curhat jadinya!) 

Tapi itu dulu! Ketika euforia ketertindasan di berbagai bidang terasa semakin menyesakkan dada dari hari ke hari. Sekarang setelah pikiran lebih dewasa dan terbuka, saya justeru melihat sebuah visi yang luar biasa dari kalimat  "Kecil Disuka, Muda Terkenal, Tua Kaya-Raya, Mati Masuk Surga!" tersebut. Seandainya saya dan rekan-rekan saat itu (1996) lebih mempunyai positive thingking, kalimat ini bisa menjadi kalimat motivasi yang luar biasa dahsyatnya! Coba perhatikan dan kalau perlu renungkan dalam-dalam kalimat diatas dengan cara melepas rangkaian kalimatnya menjadi per- frasa, mulai dari "kecil disuka"  sampai "mati masuk surga!" Bukankah semuanya merupakan sebuah visi dan atau  doa mulia seorang anak manusia untuk menjadi manusia dengan "stempel" yang baik bahkan mungkin mulia! Dan yang menarik, semua  frasa  dalam kalimat tersebut sepertinya saling terkait satu sama lain dari awal sampai akhir, seperti layaknya sebuah fragmentasi tutorial perjalanan hidup ideal seorang anak manusia. 

Ketika waktu kecil disuka oleh banyak orang dilingkungan sekitar, selain karena bawaan fisik bisa juga karena kebaikan akhlak yang sudah ditanamkan sejak dini oleh orangtua dan lingkungan. Untuk bisa terkenal disaat muda (makna denotatif) tentu bukan perkara mudah untuk mendapatkannya, perlu kerja keras dan kerja cerdas untuk mewujudkannya. Alhamdulillah jika bisa mewujudkannya! Ketika disaat muda sudah terkenal, tentu bisa dimanfaatkan untuk menjalin dan membangun relasi, komunikasi bahkan eksistensi seluas-luasnya untuk membangun masa depan yang lebih menjanjikan. Dari titik ini, dengan dibarengi ikhtiar dan doa secara kontinyu, Insha Allah untuk menjadi orang kaya di masa tua sepertinya tinggal menuggu takdir saja. Saat hidup dimasa tua dianugerahi fasilitas serba kecukupan, tentu semakin mudah untuk mendapatkan surga-Nya, karena tidak ada lagi yang perlu di risaukan, fasilitas dari Tuhan berupa kekayaan yang tersedia tinggal dimanfaatkan semaksimal mungkin untuh mendekatkan diri kepada-Nya melebihi yang lainnya, Sehingga kemungkinan "mati masuk surga" semakin terbuka lebar! Insha Allah. Untuk detailnya, mari kita kupas tahapan kehidupannya satu per-satu...     

Dimulai dari frasa  "kecil disuka", menurut saya yang dimaksud disini adalah siklus manusia ketika masih kecil atau usia kanak-kanak. Pada siklus ini memang si anak masih sebatas berposisi sebagai obyek saja. Artinya dia bisa disuka oleh semua (orang) lebih karena posisinya sebagai makhluk yang masih suci dan belum tersentuh oleh dosa. Kalaupun karena ada kelebihan fisik, seperti montok, putih, bersih, ganteng, lucu dan atribut lain yang membuatnya di sukai oleh semua (orang), semua bukan karena usahanya sendiri tapi lebih karena anugerah dari Yang Maha Kuasa melalui kedua orang tua. Jadi untuk bisa menjadi kecil disuka, tentu membutuhkan suport dari orang-orang di sekitar, terutama orang tua.

Nah, disinilah "pelajaran" visionernya dimulai! Posisi kita yang telah bergeser menjadi orang tua, tentunya mempunyai keinginan anak-anak kita nantinya adalah "individu-individu" generasi unggul dengan berbagai atribut yang (ter) baik bukan?  Untuk mewujudkan keinginan tersebut tentu kita sebagai orang tua harus mempunyai perencanaan "visi" mendidik berikut metode aplikasinya secara tepat. Coba bayangkan, seandainya kita tidak mempunyai perencanaan yang tepat dan aplikatif, apa jadinya output yang dihasilkan? Lha ... kalau masih kecil saja semua atribut yang menempel pada si anak sudah tidak disukai (orang) bagaimana besarnya?

Selanjutnya, frasa "muda terkenal", terkenal dalam konteks frasa ini bisa diartikan terkenal dalam arti yang sebenarnya atau bisa juga dimaknai secara luas sebagai bentuk keberhasilan atau kebermanfaatan lainnya, yang pasti dalam konteks yang positif bukan hanya asal terkenal!  Seperti kita ketahui, di jaman sekarang banyak sekali jalan untuk menjadi terkenal. Mungkin masih ingat dengan ungkapan "kalau mau terkenal, kencingi saja air zamzam!" Tentu bukan ini yang kita maksudkan bukan?

Pada tahapan "muda terkenal" dalam koridor positif, tentu tidak bisa datang tiba-tiba dengan sendirinya. Umumnya, untuk menjadi seorang "muda terkenal" tidaklah mudah, perlu niat, tekad, semangat, strategi dan ikhtiar usaha keras plus cerdas, bahkan bisa jadi memerlukan perjuangan dan pengorbanan ekstra  yang tidak sedikit dan sederhana.  Di titik ini, penerapan pola perencanaan strategis melalui pendekatan fungsi-fungsi ilmu manajemen, mungkin akan lebih mempermudah proses pencapaian target posisi "muda terkenal" 

Berikutnya, frasa "tua kaya raya", menjadi orang tua yang kaya raya atau kaya raya di saat tua pasti menjadi pilihan dan harapan diantara kita semua, Betul? Berbicara masalah "kaya dan kekayaan" tentu tidak bisa lepas dari yang namanya "proses" yaitu proses untuk bisa menjadi kaya! Bicara proses berarti bicara ikhtiar atau usaha, kalau sudah bicara ikhtiar atau usaha berarti kita harus menerapkan metode, cara dan atau strategi! Sekali lagi, disini sepertinya pendekatan fungsi-fungsi ilmu manajemen bisa membantu mempermudah jalannya proses.

Untuk bisa kaya raya disaat tua, memang bukan perkara mudah! Setidaknya dengan berusaha menerapkan fungsi-fungsi ilmu manajemen yang dimulai dari perencanaan yang matang sejak awal, secara konsisten dan berkesinambungan sebagai ikhtiar proses yang dijalani bisa lebih terukur, sehingga akan semakin mempermudah kemungkinan tercapainya kehidupan yang layak bahkan kaya raya di masa tua, Insha Allah semua tinggal menunggu takdirnya saja.
 

Salah satu alasan, kenapa sebagian besar orang ingin kaya raya di masa tua adalah agar lebih tenang di usia senja dan lebih mudah berkonsentrasi mendekatkan diri kepada-Nya. Nah, insha Allah kemungkinan diberi kemudahan mati masuk sorga semakin terlihat jalannya...   Mau dan berani mencoba?

Bisakah Mewujudkannya!? 

Pada dasarnya, tidak ada yang tidak mungkin di dunia yang serba nisbi ini! Kalau Allah berkehendak sesuai dengan angan dan usaha kita kenapa tidak? Menurut saya, pertanyaan yang harus kita jawab justeru sejauh mana kesanggupan kita  untuk mewujudkan semua mimpi-mimpi kita? Strategi apa yang bisa kita manfaatkan untuk mewujudkannya?

Kumpulan frasa kata yang disusun Slank dalam lirik lagu berjudul Entah Jadi Apa? tersebut, menurut saya masih masuk akal, artinya masih sangat mungkin bagi kita untuk mewujudkannya. 

Bagaimana caranya?  Segera bergerak dan berbenah... Insha Allah, yuk!

 

Artikel ini jga diposting di Kompasiana pada 10 Desember 2016   01:56

Minggu, 19 Juli 2020

Tradisi Jujuran, "Hadiah" untuk Meminang Gadis Banjar yang Unik dan Katanya Mahal

Pengantin Banjar | @kaekaha

Setiap daerah di Indonesia, masing-masing pasti mempunyai struktur adat istiadat dan juga tradisi budaya yang telah berurat dan berakar begitu kuat sebagai kearifan lokal yang terus dipelihara dan terpelihara dalam pranata peradaban kehidupan masyarakat di wilayah budaya masing-masing, salah satunya yang paling menarik adalah adat istiadat perkawinan.

Jika mengacu pada jumlah suku dan sub suku di Indonesia yang begitu banyak, apalagi jika dikaitkan juga dengan beragamnya agama dan kepercayaan masyarakat di Indonesia (adat dan tradisi perkawinan mempunyai keterkaitan dan keterikatan dengan agama dan kepercayaan dari pemeluknya).

Maka bisa dipastikan Indonesia juga mempunyai banyak sekali ragam adat istiadat perkawinan. Bahkan, bisa jadi jumlahnya dua atau tiga kali lipat dari jumlah suku di Indonesia.

Menariknya, seperti layaknya beragam adat istiadat dan tradisi budaya di Indonesia lainnya yang selalu mempunyai sisi unik, adat istiadat perkawinan di berbagai daerah pasti juga mempunyai keunikan spesifik.

Selain itu, adat istiadat perkawinan di masing-masing daerah bersifat khas sebagai kristalisasi dari nilai-nilai kebaikan dan kebijaksanaan yang dipercaya, diterapkan dan senantiasa dijaga keberlangsungannya dalam kurun waktu yang cukup lama secara turun temurun yang kemudian sering kita sebut sebagai kearifan lokal.

Salah satu adat istiadat perkawinan asli Indonesia yang mempunyai kekhasan yang cukup menarik, datang dari adat istiadat masyarakat Suku Banjar yang sebagian besar berdomisili di bagian tenggara Pulau Kalimantan yang sekarang masuk dalam wilayah Kalimantan Selatan.

Bagi Anda yang mempunyai calon istri Urang Banjar, di manapun domisili dan tempat tinggalnya, ada baiknya mengetahui sisi unik dari adat tradisi perkawinan khas urang Banjar ini. 

Karena dimanapun diaspora Urang Banjar, biasanya mereka tetap teguh memegang adat istiadat selama tidak bertentangan dengan adat setempat, apalagi terkait adat perkawinan. Agar Anda tidak terkejut dan tetap berpikir positif.
Salah satu sisi unik tradisi adat perkawinan masyarakat Banjar yang paling banyak mendapat perhatian khalayak adalah keberadaan tradisi “jujuran”, yaitu tradisi adat bahari (lama/tua) berupa pemberian hadiah atau seserahan perkawinan dalam bentuk sejumlah uang dari pihak laki-laki kepada pihak perempuan yang biasanya diserahkan secara khusus pada moment acara adat bertajuk maantar jujuran.
Tradisi ini menjadi unik karena, meskipun labelnya pemberian “hadiah” dari pihak calon mempelai laki-laki kepada pihak calon mempelai perempuan, tapi disinilah sesungguhnya “momen” paling menentukan dari kelanjutan rencana pinangan ini.

Meskipun hadiah ini dari pihak laki-laki, tapi adat keumumannya, besaran nilainya ditentukan dari pihak perempuan dan wajib dipenuhi oleh pihak mempelai laki-laki yang ingin mempersunting gadis Banjar yang terkenal religius, ramah, dan santun.

Bila pihak calon mempelai laki-laki ternyata tidak mau, tidak bisa atau tidak sanggup memenuhi angka besaran jujuran yang diminta pihak perempuan, maka tidak menutup kemungkinan rencana pernikahan berikut kisah asmara yang terajut selama bertahun-tahun diantara kedua calon mempelai bisa menguap alias batal begitu saja! Woooooow, ngeri-ngeri sedap bukan?
Uniknya lagi, besaran rupiah untuk jujuran memang tidak ada rumus baku untuk menghitungnya!
Hanya saja, mindset yang berlaku umum di masyarakat Banjar adalah “Semakin besar nilai angka jujuran yang diberikan oleh pihak mempelai laki-laki, maka semakin tinggi juga "nilai" pengantin perempuan juga keluarganya di masyarakat”.

Hal ini sangat sesuai dengan fakta umum yang sering terjadi di masyarakat, dimana semakin tinggi status sosial, baik karena faktor keturunan, kekayaan, pendidikan, pekerjaan, bahkan hingga kecantikan yang dimiliki seorang perempuan, biasanya akan berbanding lurus dengan angka jujuran yang diminta keluarga kepada pihak mempelai laki-laki.

Khusus untuk besaran angka riilnya, memang tidak ada yang benar-benar mengumumkannya secara terbuka. Tapi masyarakat umumnya bisa memperkirakannya dari kemegahan acara resepsi/pesta pernikahan, termasuk semua keperluan pernikahan atau belanja pengantin baru untuk isi kamar pengantin seperti ranjang, lemari, meja rias. 

Bahkan, banyak atau sedikit tamu yang akan diundang konon juga sangat dipengaruhi oleh besaran angka jujuran-nya.
Faktanya, saat ini rata-rata besaran jujuran yang umum terdengar di masyarakat adalah dikisaran 50-100 juta, sedangkan untuk kalangan crazy rich di Banjarmasin, angka ratusan sampai milyaran sepertinya bukanlah sesuatu yang luar biasa.
Hanya saja yang perlu dicatat dan digaris bawahi! "Semua besaran angka jujuran itu layaknya bau kentut, baunya ada dan tercium tapi bentuk berikut pemiliknya umumnya tidak pernah secara jelas terlihat atau terang-terangan mengaku. Begitu juga jujuran, sejauh yang umum terjadi tidak pernah diumumkan secara terbuka, hanya kabar burung yang mengabarkan besaran angkanya".

Memang, seiring perjalanan waktu makna jujuran di beberapa tempat sudah mulai bergeser. Sekarang mulai sering terlihat di kelompok masyarakat tertentu, jujuran diposisikan sebagai alat untuk menunjukan gengsi dan derajat kehormatan keluarga di lingkungan sosialisasi masing-masing, bahkan kabarnya sudah ada yang “kebablasan” mengumumkan besaran angkanya saat resepsi perkawinan.
Disinilah jujuran sering menjadi dilema! Menjadi buah simalakama! Bahkan bisa menjadi penghambat dan penghalang niat suci dua insan anak manusia untuk menyempurnakan sunnah Rasulullah SAW untuk menikah.
Jika kita kalkulasi rata-rata pendapatan umum pemuda siap nikah di usia ideal 25 tahun, dengan rata-rata pengalaman kerja 3 tahun (asumsi, jika Strata 1 lulus usia 22 tahun) sepertinya masih terlalu jauh untuk bisa mempersiapkan jujuran minimal sebesar 50 jutaan untuk meminang sang pujaan hati, kecuali dibantu oleh keluarga.

Lantas, apa yang terjadi ketika pihak laki-laki benar-benar tidak mampu? 
Apakah kisah cinta amorita antara pemuda biasa dengan puteri cantik nan kaya raya, puteri dari konglomerat pengusaha batubara seperti kisah cinta dalam sinetron-sinetron yang berakhir bahagia bisa terjadi di Banjarmasin?

Memang! Ada yang tetap berusaha berpikir positif dengan menempatkan “kemustahilan” pada angka-angka jujuran yang terkadang justeru benar-benar muncul dari pihak mempelai perempuan, sebagai bukti keseriusan dan juga motivasi untuk bekerja lebih keras, lebih cerdas dan lebih kreatif lagi demi cintanya kepada sang puteri. Tapi, kalau tetap saja tidak mampu?
Disinilah kearifan dan kebijaksanaan para tetuha (yang dituakan) dari kedua belah pihak keluarga terutama dari pihak mempelai perempuan dipertaruhkan.
Opsi bagi pihak calon mempelai perempuan: 

Pertama, bisa saja tetap bersikukuh mempertahankan “angka” jujuran yang diminta, meskipun pihak mempelai laki-laki jelas-jelas tidak mampu. 
Tujuannya, selain untuk mengukur keseriusan serta kesungguhan pihak mempelai laki-laki, sebagian kalangan bahkan menjadikannya sebagai upaya untuk menjaga kehormatan keluarga pihak mempelai perempuan, bahkan ada juga yang menjadikannya sebagai "cara halus" untuk menolak pinangan pihak mempelai laki-laki. 

Kedua, membuka kemungkinan “bernegosiasi” demi kebaikan bersama. Untuk opsi kedua ini memang lebih lazim terjadi, terutama bagi keluarga yang diantara kedua belah pihak sudah saling mengenal dengan baik. 

Hanya saja, konsekuensi dari membuka kemungkinan negosiasi angka jujuran ini bagi pihak perempuan, kemungkinan besar hanya malu pada tetangga dan kemungkinan menjadi bahan gunjingan masyarakat karena angka jujuran yang akan didapat tidak sesuai dengan “kelas atau level sosial" keluarga.


Sedangkan opsi bagi pihak calon mempelai laki-laki: 

Pertama, jika benar-benar tidak mampu, tidak bisa atau tidak mau untuk memenuhi permintaan angka jujuran dari pihak calon mempelai perempuan, opsinya hanya menolak atau membatalkan pinangan saja.

Kedua, bernegosiasi. Konsekuensi risikonya mungkin terkait masalah “harga diri” dari calon mempelai laki-laki di hadapan keluarga calon mempelai perempuan dan juga lingkungan sosialisasi masing-masing. Tapi kalau demi sang ratu?

Situasi berbeda jika, dari pihak mempelai perempuan mau membuka diri untuk bernegosiasi, umumnya pihak laki-laki akan memanfaatkan kesempatan ini sebaik mungkin.
Kira-kira kalau Anda mengalami sendiri situasi ini, opsi mana yang menjadi pilihan Anda?
Memang sangat disayangkan, jika pernikahan sebagai jalan menuju ibadah, harus terhalang oleh nafsu gengsi belaka, apalagi kalau kedua calon mempelai sudah saling menyukai, menyayangi satu sama lain, dan sudah lama merajut kasih.

Bersyukurnya, sekarang masyarakat terlihat lebih arif, bijaksana, dan proporsional dalam menyikapi dilema jujuran yang dulunya sering menjadi buah simalakama.

Meskipun sampai detik ini masih sering terdengar anak-anak crazy rich yang mendapatkan atau memberikan jujuran dengan besaran angka yang fantastis. 

Tetapi tidak jarang juga terdengar kabar dari crazy rich lainnya yang menyerahkan sepenuhnya besaran angka jujuran semampu pihak calon mempelai laki-laki. 

Mudah-mudahan sabda Rasulullah SAW inilah inspirasinya; “Sebaik-baik nikah adalah yang paling mudah.” (HR. Abu Daud, No. 2117; Al-Hakim, 2:181-182)

Inilah keunikan sesungguhnya dari jujuran.

Semoga bermanfaat!

Adat Badamai, Inspirasi Urang Banjar Meraih Kemenangan Ramadan

Islamaktual.com


"Jihad yang paling utama adalah seseorang berjihad (berjuang) melawan dirinya dan hawa nafsunya" (Hadits shahih diriwayatkan oleh Ibnu An-Najjar dari Abu Dzarr).

Hadis sahih yang diriwayatkan oleh Ibnu An-Najjar dari Abu Dzarr Radhiyallahu anhu dan juga oleh Abu Nu'aim dan Ad-Dailami ini juga dishahihkan oleh Syaikh Al-Albani di dalam Shahih Al-Jami'ush-Shaghr, no 1099 dan secara rinci beliau jelaskan dalam Silsilah Ash-Shhihah, no. 1496.

Marah dan kemarahan yang berujung pada permusuhan dan perseteruan merupakan bagian dari misi penyesatan setan kepada kita melalui salah satu titik terlemah dalam sistem kontrol kita sekaligus titik paling vital dari fitrah kita sebagai manusia, yaitu  hawa nafsu.

Karenanya, Islam sangat menganjurkan umatnya untuk mengelola nafsu amarah sebijak mungkin, agar tidak menimbulkan permasalahan yang berdampak negatif, karena secara medik ternyata marah yang berlebihan akan direspon oleh tubuh dengan melepaskan hormon-hormon stres seperti kortisol dan adrenalin yang bisa meningkatkan tekanan darah dan menyebabkan masalah kesehatan lainnya jika tidak dikelola dengan benar.

Apalagi saat ini, kita berada di bulan suci Ramadhan yang penuh dengan berkah, rahmat dan ampunan plus adanya janji Allah "medali" kemenangan diujung Ramadhan berupa kembalinya kita kepada fitrah seperti layaknya bayi yang baru lahir yang bersih dari dosa!
Memang bukan perkara mudah untuk bisa mengelola potensi amarah, karenanya Rasulullah sampai memberi perumpamaan orang yang bisa mengelola amarah itu sebagai orang yang kuat (Fath al-Bari, 10/520)
Untuk itu, Rasulullah Muhammad Shallallahu 'alaihi Wassallam memberi tuntunan berupa strategi yang praktis dan efektif untuk mengendalikan amarah yang Insha Allah mudah untuk diamalkan oleh semua umat Islam, berikut anjuran nabi tersebut :
  1. Membaca Ta'awwudz. Rasulullah bersabda "Ada kalimat kalau diucapkan niscaya akan hilang kemarahan seseorang, yaitu A'udzu billah minasy syaithaanir rajim (Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk)." (HR. Bukhari Muslim).
  2. Berwudlu. Rasulullah bersabda, "Kemarahan itu dari setan, sedangkan setan tercipta dari api, api hanya bisa padam dengan air, maka kalau kalian marah berwudlulah." (HR. Abu Dawud).
  3. Mengubah posisi. Dalam sebuah hadits dikatakan, "Kalau kalian marah maka duduklah, kalau tidak hilang juga maka bertiduranlah." (HR. Abu Dawud).
  4. Tenang dan Diam. Dalam sebuah hadits dikatakan, "Ajarilah (orang lain), mudahkanlah, jangan mempersulit masalah, kalau kalian marah maka diamlah." (HR. Ahmad).
  5. Bersujud, artinya shalat sunnah mininal dua rakaat. Dalam sebuah hadits dikatakan "Ketahuilah, sesungguhnya marah itu bara api dalam hati manusia. Tidaklah engkau melihat merahnya kedua matanya dan tegangnya urat darah di lehernya? Maka barangsiapa yang mendapatkan hal itu, maka hendaklah ia menempelkan pipinya dengan tanah (sujud)." (HR. Tirmidzi).*

 
Masjid Sultan Monumen Berdirinya Kota Banjarmasin| @kaekaha

Adat Badamai, Jalan Urang Banjar Meraih Kemenangan Ramadhan

Suku Banjar mengenal Islam diperkirakan jauh sebelum agama Islam menjadi agama resmi Kesultanan Banjar yang berdiri pada abad ke-16 melalui kontak dagang dengan para saudagar dari Pulau Jawa dan menemukan momentum untuk berkembang secara luas sejak Pangeran Samudera yang kelak dikenal sebagai pendiri kesultanan Banjar menyatakan masuk Islam dan mengganti namanya menjadi Sultan Suriansyah, sekaligus menjadikan Islam sebagai agama resmi kesultanan.

Sejak saat itu Islam dengan segala pernak-perniknya menjadi identitas spiritual dan cultural yang melekat pada masyarakat suku Banjar. Sampai sekarang, jejak-jejak kedekatan diantara keduanya masih tampak jelas, baik dalam bentuk ritus adat (personal maupun komunal), falsafah kehidupan, hukum, tradisi dan juga berbagai peninggalan fisik seperti arsitektur masjid, surau dsb.
Salah satu tradisi adat Kesultanan Banjar yang sampai sekarang masih menjadi inspirasi bagi Urang Banjar dalam menjalani kehidupan sehari-hari, khususnya terkait muamallah yang memungkinkan munculnya perseteruan, permusuhan ataupun persengketaan adalah adat badamai.
Adat yang sumber awalnya adalah Undang-Undang Sultan Adam 1835 (UUSA 1835) yaitu Undang-Undang Kesultanan Banjar yang terbit pada tahun 1835 diera kepimpinan Sultan Adam Al-Wastsiq Billah yang memerintah pada tahun 1825-1857, khususnya pasal Pasal 21 yang isinya adalah "Tiap kampung kalau ada perbantahan isi kampungnja ija itu tetuha kampungnja kusuruhkan membitjarakan mupaqat-mupaqat lawan jang tuha-tuha kampungnja itu lamun tiada djuga dapat membitjarakan ikam bawa kepada hakim" 

Artinya, "Tiap-tiap kampung bilamana terjadi sengketa, maka diperintahkan untuk mendamaikan (mamatut) dengan tetuha kampung, bilamana tidak berhasil barulah dibawa kepada hakim" ini, sampai saat ini tetap menjadi landasan norma dan perilaku dalam masyarakat Banjar. 

Bahkan sampai sekarang masih menjadi suatu tradisi mamatut, yaitu tradisi penyelesaian sengketa yang sudah melembaga untuk merukunkan kembali setiap pertikaian, sehingga tidak terjadi perasaan dendam   antara kedua belah pihak.
Menurut Prof. Dr. Ahmadi Hasan, M.H. cendekiawan dari UIN Antasari, Banjarmasin dalam disertasi doktoral beliau menyatakan, adat badamai adalah upaya penyelesaian sengketa secara damai yang dikerjakan atau dilakukan secara berulang-ulang dan menjadi suatu kebiasaan yang lazim dan melembaga pada masyarakat Banjar.
Selain itu, adat badamai  yang juga lazim disebut dengan babaikan, baparbaik, bapatut atau mamatut, baakuran atau juga penyelesaian dengan cara suluh, bisa dimaknai sebagai  hasil proses perembukan atau musyawarah dalam pembahasan bersama dengan maksud mencapai suatu keputusan sebagai penyelesaian dari suatu masalah yang muncul.

Adat badamai, statusnya bisa naik menjadi hukum adat ketika masyarakat sudah menganggap perbuatan badamai itu sebagai suatu hal yang mesti berlaku pada masyarakat adat Banjar,  karena itu sebagai suatu yang mesti dilakukan.

Dipilihnya adat badamai sebagai bagian dari pranata sosial masyarakat adat suku Banjar tentu bukan tanpa maksud dan tujuan. Adanya mekanisme musyawarah untuk mendapatkan keputusan terbaik sebagai pilihan jalan keluar dari semua permasalahan masyarakat yang muncul,  dianggap bisa menghindarkan perseteruan, persengketaan, permusuhan bahkan menghilangkan perasaan dendam antar masyarakat yang  dapat membahayakan tatanan sosial masyarakat.

Selain itu, musyawarah juga dianggap sebagai media komunikasi yang efektif untuk mempererat silaturahmi sekaligus jalinan kekerabatan antar sesama warga masyarakat, sehingga akan semakin memperkuat sekaligus memperketat proses kontrol sosial yang diharapkan bisa menekan munculnya perseteruan, perselisihan ataupun persengketaan di lingkungan masyarakat, sehingga  adat Badamai ikut berperan menciptakan keamanan ketertiban dan perdamaian. 

Merujuk pada posisi faktual adat Badamai dalam struktur budaya Urang Banjar, menjadi wajar ketika sampai saat ini masyarakat enggan menyelesaikan segala perseteruan, perselisihan atau persengketaan apapun itu melalui lembaga ligitasi (jalur lembaga peradilan), bahkan untuk urusan terkait pelanggaran lalu lintas sekalipun, atau bahkan terkait tindakan yang bisa mengarah ke pelanggaran pidana seperti perkelahian yang berujung pada penganiayaan .

Inilah wajah Badamai  Urang Banjar!

Semoga bermanfaat.


Artikel ini juga tayang di Kompasiana pada 26 Mei 2019   16:55

Saatnya Mengembalikan Jakarta sebagai Kota Air Terindah

 
Lansekap Kota 1000 Sungai,  Banjarmasin | @kaekaha

Banjarmasin Sister City Jakarta

Antara Kota Banjarmasin di Kalimantan Selatan dan Kota Jakarta di ujung barat Pulau Jawa terbentang jarak lebih dari 900 km, tapi tahukah anda jika diantara keduanya mempunyai kemiripan bahkan keidentikan yang menjadikan keduanya layak bersanding menjadi sister city alias kota kembar.

Seperti layaknya "saudara kembar", usia kedua kota "tua" inipun hanya terpaut 1 (satu) tahun saja. Tanggal 22 Juni 2019 yang lalu Jakarta berulang tahun ke-492, sedangkan Banjarmasin 24 September 2019 berulang tahun ke 493, alias setahun lebih tua.


Sebagai saudara kembar, wajar saja jika keduanya mempunyai hubungan batin yang sangat kuat, begitu pula ketika sampai saat ini Jakarta terus dihantui oleh Banjir dan kelangkaan air tanah, wajar dan tidak ada salahnya jika kemudian Jakarta merasa perlu belajar kepada saudara tuanya Banjarmasin, terkait upayanya menjadi kota ramah air sekaligus kembali kepada takdir alaminya sebagai "kota air".


Sebagai kota yang sama-sama terletak di dataran rendah, Banjarmasin dan Jakarta mempunyai fakta topografis yang sama. 

Sebagian besar ketinggian permukaan wilayah daratan keduanya berada dibawah permukaan air laut dan secara kontinyu terus mengalami penurunan sehingga membentuk kantong-kantong air (ruang biru) di daratan, karenanya Banjarmasin dijuluki sebagai Kota 1000 Sungai, sedang Jakarta kedepannya bisa menjadi Kota 1000 Rawa.

Bedanya, di Banjarmasin kantong-kantong air ini lazim di kenal masyarakat sebagai rawa-rawa, sungai, Anjir, handil, saka, tatah dan lainnya yang sampai sekarang masih bisa kita lihat baik wujud maupun manfaatnya bagi masyarakat Banjar.

Ruang Biru di Banjarmasin dengan Sawah dan Perumahan diatasnya | @kaekaha

Sedangkan di Jakarta, kantong-kantong air yang ada sepertinya tinggal situ dan sungai saja, sedangkan "daerah biru" berupa rawa-rawa sepertinya banyak yang telah beralih fungsi menjadi pemukiman dan hanya meninggalkan nama depan " rawa" di depan nama kawasan tersebut, seperti rawa buaya, rawa badak,  rawa bebek, rawa mangun dll.

Uniknya, dua kota kembar yang sama-sama segera menyandang nama "mantan ibu kota" ini ternyata mempunyai catatan sejarah masalah lingkungan yang sama sekali tak sama alias jauh berbeda, khususnya terkait bencana banjir.

Seperti kita ketahui, Prasasti Tugu jejak peninggalan Kerajaan Tarumanegara diabad 5 sudah mengabarkan adanya banjir di wilayah yang sekarang kita kenal sebagai Jakarta, begitu juga di jaman pendudukan dan penjajahan belanda di abad 17.
Artinya, banjir merupakan masalah klasik Kota Jakarta yang belum juga ada jalan keluarnya sampai detik ini !

Bagaimana dengan Banjarmasin? 

Ini bedanya! Secara logika Banjarmasin harusnya tidak jauh beda dengan Jakarta, menjadi langganan banjir! Tapi faktanya, sejauh ini tidak ditemukan catatan ataupun fakta sejarah musibah banjir terjadi di Banjarmasin, pun sampai detik ini. 

Kok bisa?

Sepertinya beberapa kearifan lokal masyarakat suku Banjar terkait budaya air inilah jawabannya.
Masyarakat Banjar sebagai penduduk asli Kota Banjarmasin dikenal mempunyai kedekatan budaya yang sangat kuat dengan perairan darat, baik sungai maupun rawa.

Kedekatan  keduanya selama berabad-abad melahirkan budaya unik dan khas yang sekarang kita kenal sebagai budaya sungai, yaitu entitas budaya yang menjadikan lingkungan sungai dan perairan darat lainya sebagai urat nadi kehidupan yang dalam perjalanannya melahirkan tradisi cara/pola hidup, berperilaku, dan adaptasi manusia di lingkungan perairan darat yang berlaku secara turun temurun.

Bagian dari Budaya Sungai khas Banjarmasin | @kaekaha

Budaya Sungai inilah, kunci utama Kota Banjarmasin yang 24 September 2019 ini akan merayakan hari jadi yang ke-593, sampai setua itu Alhamdulillah tidak pernah tersentuh banjir!

Tidak hanya itu! Budaya sungai juga menjadi katalis utama masyarakat Banjar secara turun-temurun  terus "peduli" untuk melestarikan cirikhas kotanya sebagai kota ramah air dengan terus melahirkan berbagai kearifan lokal berbasis lingkungan sungai dan perairan darat lainnya.
Buktinya?
Meskipun beberapa dekade tetakhir arah pembangunan di banua lebih berorientasi "daratan" yang secara tidak langsung mengajak untuk "memunggungi" sungai, tetap saja tidak bisa membuat masyarakat Kota Banjarmasin sepenuhnya menjadikan sungai sebagai "halaman belakang"
Terbaru, walikota Banjarmasin justeru meluncurkan slogan baru sebagai pentahbisan Kota Banjarmasin sebagai kota air, yaitu Banjarmasin kota sungai terindah (di dunia).

Ironisnya, menurut Yu sing, Arsitek dan pengamat perkotaan dari Studio Akanoma Bandung, justeru rendahnya kepedulian masyarakat Jakarta akan lingkunganya inilah pangkal dari masalah lingkungan di Jakarta.

Banjarmasi Kota Sungai Terindah | @kaekaha


Berikut ini "produk budaya"  turunan  dari budaya sungai khas masyarakat Banjar yang diyakini membantu terbwntuknya ekologi Banjarmasin sebagai kota ramah air dan sekaligus membebaskannya dari bencana banjir,

Satu. Teknologi Kanal khas Banjar

Pada budaya masyarakat Banjar dikenal ada tiga jenis tingkatan saluran air buatan atau kanal, yaitu 
  1. Anjir/Antasan, semacam saluran primer yang menghubungkan antara dua sungai. Anjir berfungsi untuk kepentingan umum dengan titik berat sebagai sistem irigasi pertanian dan sarana transportasi.
  2. Handil/Tatah, semacam saluran yang muaranya di sungai atau di Anjir. Handil dibuat untuk menyalurkan air ke lahan pertanian daerah daratan. Handil ukurannya lebih kecil dari Anjir dan merupakan milik kelompok atau bubuhan tertentu.
  3. Saka, merupakan saluran tersier untuk menyalurkan air yang biasanya diambil dari Handil. Saluran ini berukuran lebih kecil dari Handil dan merupakan milik keluarga atau pribadi. 
Beragam teknologi kanal khas buatan Urang Banjar di atas mempunyai ragam fungsi yang sangat penting bagi masyarakat.
Selain untuk kepentingan irigasi pertanian serta sebagai prasarana transportasi,  kanal-kanal tersebut juga berfungsi sebagai penampung dan penyalur air  pada saat air sungai pasang, sehingga dapat mengurangi luapan air serta menghindari banjir di kota.
Bahkan beberapa diantaranya juga berfungsi  sebagai "kanal perlindungan" untuk kepentingan pertahanan yang dibangun mengelilingi benteng sebagaimana terdapat pada Benteng Tatas (sekarang Masjid Sabilal Muhtadin).
Menurut Prof Dr HJ Schophuys, ahli hidrologi asal Belanda, kanal berupa  Anjir, Handil dan Saka betul-betul karya asli masyarakat Banjar yang disebutnya sebagai sistem irigasi orang Banjar.

Kemampuan dan kebiasaan orang Banjar membuat kanal berbagai ukuran merupakan keistimewaan sekaligus membuktikan tingkat peradaban yang mereka miliki sebagai bukti nyata keramahan pada alam lingkungannya, dataran rendah yang sangat dipengaruhi oleh pasang surut.

Sejak ratusan tahun yang lalu Urang Banjar sudah mampu membangun kanal yang panjangnya mencapai puluhan kilometer hanya dengan kekuatan tangan dan alat sangat sederhana yang disebut Sundak, yaitu alat yang terbuat dari kayu ulin tipis atau lempengan baja berukuran lebar 20 cm dan panjang 35 cm.

Ini yang membedakannya dengan kanal-kanal di Jakarta yang dibuat sejak jaman Belanda dengan paradigma lebih untuk "mengeringkan Jakarta" dengan cara mempercepat lalulintas "air bah" kiriman dari hulu menuju laut untuk menghindari banjir yang menurut Yu Sing, sesuatu yang mustahil.

Masyarakat Banjar, sejak dulu  menyadari daerahnya sebagai  kawasan pasang surut dimana daratannya sama tinggi atau bahkan lebih rendah dari permukaan air laut, untuk mencegah meluapnya air karena naiknya debit air sungai kiriman dari hulu, masyarakat Banjar lebih memilih untuk memperluas penampang dan penampung air permukaan dengan cara membuka kanal atau saluran-saluran air buatan berbagai ukuran yang bisa menghubungkan antar sungai, antar kanal, antar rawa atau bahkan antar sungai, kanal dan juga rawa sekaligus.
Cara kerjanya, jika air kiriman dari hulu sungai berlebih maka air tidak serta merta membanjiri Kota, tapi terdistribusi ke berbagai kanal buatan yang juga terhubung dengan kawasan retensi atau resapan, bahkan sampai ke selokan-selokan perumahan.
Begitu juga sebaliknya, jika debit air sungai turun atau surut maka "air lebih" di kanal bisa kembali mengisi sungai.

Teknologi kanal ala urang Banjar ini diyakini lebih efektif mencegah banjir, daripada kanal yang difungsikan sebagai "jalan tol" untuk membuang air bah ke laut yang secara logika jelas mustahil untuk daerah pasang surut seperti Banjarmasin dan jakarta.

Paradigma teori ini sesuai dengan yang dilakukan Jepang, khususnya saat membangun Stadion Yokohama yang dilengkapi dengan sistem multipurpose retarding basin bagi Sungai Tsurumi.

Tampak Belakang Rumah Panggung di Banjarmasin | @kaekaha

Dua, Rumah Panggung

Berbeda dengan rumah panggung di daerah pedalaman Kalimantan lainnya yang biasanya untuk mengantisipasi serangan binatang buas, maka rumah panggung di Kota Banjarmasin dimaksudkan untuk tetap menjaga eksistensi daerah resapan meskipum pemukiman warga terus menjamur dan menutup sebagian besar "ruang biru" yang tersebar di seluruh penjuru kota Banjarmasin.
Kalau anda pernah ke Banjarmasin dan melihat deretan ruko atau rumah-rumah berarsitektur modern dengan halaman semen atau material padat lainnya di kiri-kanan jalan,  jangan salah! Semua bangunan itu sebenarnya rumah panggung
Kalau tampak depan, biasanya bangunan-bangunan itu mirip layaknya bangunan di tanah keras biasa seperti di Pulau Jawa, karena bagian depan/halaman memang diperbolehkan diurug tapi tidak untuk bagian belakang. Jadi kalau melihat tampak belakang, baru kelihatan cirikhas bangunan rawa berupa rumah panggung dengan kaki-kaki terbuat dari kayu ulin atau beton.

Untuk mengawal dari sisi legalitas kearifan lokal khas masyarakat Banjar yang satu ini, Pemerintah Kota Banjarmasin juga membuat payung hukum berupa  Peraturan Daerah Kota Banjarmasin Nomor 14 tahun 2009 tentang Bangunan Panggung. 

Harapannya, dengan adanya payung hukum ini, kelestarian budaya sungai dan perairan darat berikut berbagai kearifan lokal khas banua ini tidak hanya menjadi milik serta tanggung jawab suku Banjar semata, tapi menjadi milik serta tanggung jawab semua warga Kota Banjarmasin yang realitanya memang seperti miniatur nusantara.

Untuk Jakartaku, Jakarta kita! Memang tidak mudah  untuk kembali menjadi Kota yang ramah air, tapi semua masih mungkin! 
Semua harus bergandeng tangan, bahu-membahu, bersama-sama menjadikan Jakarta sebagai Kota Air Terindah di dunia! Mau...?
Selain terus belajar dengan saudara tua Banjarmasin, Jakarta harus aktif bergerak dan kreatif  berinovasi  menambah atau setidaknya mengoptimalkan penampang "ruang biru" yang ada, selain itu menurut  Yu Sing ada beberapa hal yang dari sekarang bisa dikerjakan Jakarta,
  1. Normalisasi sungai dari sampah dan juga betonisasi yang menyebabkan hilangnya vegetasi tepian sungai, sehingga menyebabkan langkanya air tanah dan penurunan permukaan tanah.
  2. Menambah dan merenovasi RTH denggan konsep rain garden, taman didesain memiliki porositas yang tinggi dengan ketinggian lebih rendah dari jalan agar bisa menyerap air sebanyak mungkin, baru lebihnya dialirkan ke sungai. Selain bisa mengisi kekosongan air tanah, strategi ini juga bisa meminimalisir sedimentasi sungai.
  3. Menambah Biopori sebagai media optimalisasi resapan air ke dalam tanah.



Artikel ini juga tayang di Kompasiana pada 11 September 2019   09:42 dan terpilih menjadi salah satu dari total lima pemenang bersama dalam rangka lomba blog bertema "Aku dan Air, Menabung Air Hujan, Memanen Manfaat" Hasil kerja sama antara Kompasiana dengan Pemerintah DKI Jakarta dan Bank DKI dengan hadiah sebesar 5 juta untuk lima orang pemenang.