Tampilkan postingan dengan label Lok Baintan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Lok Baintan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 November 2020

Jembatan Gantung Tandipah, Mengantarku Pulang dari Pasar Terapung Lok Baintan

Jembatan Tandipah | @kaekaha
 
Melanjutkan catatan Menemukan "Pasar Terapung Lok Baintan" dari Jalur Darat yang saya posting minggu lalu, kali ini saya akan melanjutkan catatan perjalanan saya memngeksplorasi jalur darat menuju destinasi wisata pasar terapung Lok Baintan di Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, khususnya untuk jalur pulang menuju Kota Banjarmasin

Untuk menuju pulang ke Kota Banjarmasin yang berjarak sekitar 10 km dari Lokasi Pasar terapung di bawah Jembatan Gantung Lok Baintan, saya sengaja mencari jalan alternatif yang belum banyak terekspos. Saya memilih jalan untuk menyusuri sungai yang posisinya berseberangan dengan jalan saya berangkat menuju Pasar terapung Lok Baintan. Jadi untuk menuju jalan tersebut, saya harus menyeberangi jembatan gantung Lok Baintan.


 

Setelah menyeberangi jembatan gantung, saya mengambil arah ke kiri memasuki perkampungan tepi sungai menuju arah desa Tandipah. Suasana pedesaan khas tepi sungai Kalimantan langsung menyapa saya. 

Hunian berupa rumah semi panggung yang terbuat dari kayu dengan atap sirap atau seng banyak mendominasi, hanya beberapa bangunan semi panggung dengan dinding semen yang terlihat. Itupun bagian pondasinya tetap dari kayu ulin atau kayu besi.  Meskipun kampung ini tidak terlalu padat dan relatif sepi,  tapi aktivitas warga dengan budaya sungainya tetap sesekali terlihat.


Perkampungan tepi sungai | @kaekaha

Jukung melintas di sebelah rumah di tepian sungai | @kaekaha

Jalanan yang saya lewati kurang lebih masih sama dengan tipikal jalanan yang saya lewati pada waktu berangkat menuju Lok Baintan, yaitu berupa jalan tanah yang dikeraskan dengan tutupan berupa taburan batu koral. 

Sekitar 5 menit berjalan saya sudah bertemu kembali dengan jembatan berkonstruksi kayu khas Kalimantan Selatan yang dibuat menggembung atau melengkung ke atas di bagian tengah layaknya busur, hal ini menandakan bahwa sungai di bawahnya merupakan jalur lalu lintas aktif masyarakat dan ini menandakan di pedalaman atau sepanjang aliran anak sungai ada penghuni atau perkampungannya.

 

Jembatan kayu busur | @kaekaha

 Dibandingkan dengan jalan berangkat menuju Lok Baintan yang posisinya berada di seberang sungai, jalan menuju pulang ke Kota Banjarmasin yang saya lalui sekarang lebih sempit dengan variasi lebar antara 1-2 meter saja  dan jauh lebih sepi. Jarang sekali saya bertemu dengan masyarakat yang beraktivitas, baik di kebun, ladang, rawa lebak atau di sepanjang jalan.

Sepanjang perjalanan yang lebih banyak melalui area hutan semak belukar, sebagian nipah, rawa lebak yang difungsikan sebagai sawah, kebun dan ladang masyarakat ini, masih jarang terlihat rumah penduduk. Kalaupun ada rumah penduduk biasanya lokasinya berkelompok di sekitar jembatan yang dibangun diatas aliran anak sungai Martapura yang menuju ke pedalaman. 

Di sinilah uniknya, sepanjang perjalanan sekitar 4-5 km saya bertemu dengan belasan jembatan berbagai ukuran dan berbagai konstruksi. Intinya, kalau jembatan dibuat rata dengan jalan, artinya sungai di bawahnya bukan jalur transportasi aktif dan di pedalaman atau di sepanjang aliran anak sungai biasanya tidak berpenghuni.

Jalanan sempit berbatu dan jembatan di sepanjang jalan | @kaekaha

 Dalam perjalanan pulang ini, saya beberapa kali bertemu dengan rombongan paunjunan (rombongan pemancing) yang sepertinya datang dari luar kampung dan komunitas goweser atau pesepeda yang menuju ke arah Lok Baintan. 

Khusus untuk  rombongan paunjunan, yang biasa berburu ikan haruan (Channa striata), papuyu (Anabas testudineus), sapat siam (Trichogaster pectoralis) dll dengan cara berkelompok, biasanya mereka mempunyai jadwal kunjungan ke lokasi pemancingan berupa rawa-rawa lebak secara teratur dan bergantian di tiap lokasi atau daerahnya dan biasanya mereka sudah hapal betul dengan siklus musim berburu ikan, maklum aktivitas maunjun (Bhs.Banjar ; memancing) bagi masyarakat Banjar bukan hanya sekedar hobi atau aktifitas menghabiskan waktu saja, tapi bisa menjadi profesi.

ikan haruan (Channa striata) di pasar semua produksi dari alam | @kaekaha

Sebagai gambaran, ikan haruan (Channa striata), papuyu (Anabas testudineus), sapat siam (Trichogaster pectoralis) adalah 3 jenis ikan paling diminati masyarakat Banjar, sebagai lauk untuk makan sehari-hari. Kebetulan kuliner andalan masyarakat Banjar seperti nasi kuning dan ketupat Kandangan, bahan utamanya ya ikan haruan (Channa striata) itu. 

Jadi permintaannya dari hari-kehari semakin tinggi seiring semakin populernya kuliner nasi kuninmg dan ketupat Kandangan dan sayangnya untuk budidaya ternak masih belum bisa maksimal. 

Mungkin ada yang sudah tahu harga sekilo ikan haruan atau ikan gabus di Banjarmasin? Sekarang untuk ukuran besar yang sekilo isi satu ekor, harganya sekitar 110.000,- /kg jadi kalau rata-rata sehari dapat 5 kg ikan haruan sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, bahkan untuk menyekolahkan anak sampai perguruan tinggi. Ini fakta lho! (Insha Allah, akan saya tulis dalam artikel terpisah).

Di Lokasi ini kawanan burung itu terlihat menyeberang jalan | @kaekaha

 Di perjalanan ini beberapa kali saya bertemu dengan beberapa satwa-satwa, seperti sejenis unggas, tupai, biawak dan entah apa namanya. Khusus untuk jenis unggas, beberapa kali saya melihat jenis yang belum pernah saya lihat sebelumnya, baik yang bertengger di dahan pohon maupun yang berjalan diatas tanah. 

Salah satunya, saya sempat terkaget-kaget, ketika tiba-tiba melihat sejenis burung yang hidup berkelompok sekitar 3-5 ekor, bentuknya seperti ayam mutiara tapi larinya sangat kencang diatas tanah  menyeberang jalan di hadapan saya.

Memasuki kampung Tandipah | @kaekaha

Gambaran Desa Tandipah | @kaekaha

Setelah berjalan sekitar, 3-4 km saya baru bertemu dengan perkampungan yang sedikit ramai, bangunan rumah lebih bervariasi dan tekstur jalanan kampung ini terlihat berbeda dengan kampung sebelumnya yang bertabur batu koral. 

Di kampung ini, terlihat sisa-sisa jalanan beraspal yang sepertinya sudah sangat lama sekali tidak diperbarui lagi, sehingga terkelupasnya sebagian besar aspal jalanan menyisakan kerikil dan batu split yang tampak di sepanjang jalan.

Papan penunjuk arah SDN Sungai Tandipah | @kaekaha

Aktifitas masyarakat di luar rumah juga semakin terlihat, warung-warung kelontong juga mulai banyak terlihat menghiasi sepanjang jalan. Bahkan saya juga melihat ada papan penunjuk keberadaan sekolah, walaupun dari jalanan yang saya lalui bangunan fisik sekolah tidak nampak terlihat. 

Betul dugaan saya, ternyata saya memang sudah memasuki desa Tandipah yang menjadi muara dari perjalanan pulang saya menuju Kota Banjarmasin, karena setelah berjalan lagi sekitar 1-2 km  akhirnya saya bertemu dengan titian kayu ulin yang menuju ke Jembatan Gantung Tandipah. 

Setelah melewati titian sepanjang sekitar 50 meter, akhirnya jembatan gantung Tandipah mulai terlihat membentang panjang diatas Sungai Martapura.

Titian papan ulin menuju Jembatan Gantung Tandipah | @kaekaha

Jembatan Gantung Tandipah dilihat dari sisi titian Desa Tandipah | @kaekaha

Berbeda dengan konstruksi jembatan Gantung Lok Baintan yang rangka tiang utamanya terbuat dari  terbuat dari Kayu ulin atau kayu besi, konstruksi tiang utama jembatan Gantung Tandipah terbuat dari baja dengan penguat tali sling baja sebesar lengan anak-anak. Sedangkan untuk alas jembatan, berkebalikan dengan Jembatan Gantung Lok Baintan, di Jembatan Tandipah alasnya terbuat dari rangkaian papan kayu ulin. 

Walaupun bukan destinasi wisata, tapi pemandangan fragmentasi alam yang terlihat dari atas dan samping Jembatan Gantung Sungai Tandipah tidak kalah cantiknya dengan pemandangan dari Jembatan Gantung Lok Baintan.

Pemandangan alam dari atas Jembatan Gantung Tandipah | @kaekaha

 
Aktifitas transportasi sungai di bawah Jembatan Gantung Tandipah | @kaekaha

Pemandangan dari samping Jembatan Gantung Tandipah | @kaekaha

Setelah menyeberangi Jembatan Gantung Tandipah, di samping kiri turunan bibir jembatan terdapat bangunan masjid disebelah kiri dan are pekuburan di sebelah kanan. Setelah menuruni titian dari papan kayu ulin sepanjang sekitar 20 meter, maka kita akan bertemu lagi dengan jalan kita berangkat menuju Pasar Terapung Lok baintan. 

Dari arah Jembatan Gantung Tandipah bila belok kiri maka kita akan menuju ke Pasar terapung Lok Baintan dan jika belok kanan maka kita akan bertemu dengan Jembatan busur di sekitar Pasar Tradisonal Sungai Lulut. Artinya, untuk kembali pulang ke arah Kota Banjarmasin maka kita ambil arah ke kanan dan setelah bertemu Jembatan Busur kita kembali ambil arah belok kanan. Disini kita sudah kembali menyusuri jalan Veteran dan mulai memasuki hiruk pikuk jalanan Kota Banjarmasin.

Jembatan Busur, pintu masuk/keluar petualangan | @kaekaha

Tertarik mencoba, menjelajahi alam Kalimantan Selatan plus menikmati sajian budaya sungai yang eksotis? Yuk....jalan-jalan ke Banjarmasin! Sampai jumpa.


Artikel ini juga di posting di Kompasiana pada 16 Mei 2016   00:40


Jumat, 06 November 2020

Menemukan "Pasar Terapung Lok Baintan" dari Jalur Darat

Pasar Terapung Lok Baintan | @kaekaha

Pasar Terapung di Banjarmasin dikenal luas sejak dijadikan iklan ID Station  oleh salah satu televisi swasta nasional di awal tahun 90-an. Pasar terapung yang dijadikan syuting saat itu adalah Pasar Terapung Muara Kuin, yaitu Pasar Terapung yang diperkirakan sudah berusia ratusan tahun yang lokasinya di muara Sungai Kuin, anak Sungai Barito. 

Sayang, sejak pertengahan tahun 2000-an pamor pasar terapung alami satu-satunya di dunia ini turun drastis seiring dengan menurunnya pamor pariwisata di Kalimantan Selatan, karena berbagai sebab. Pasar terapung di tepian Sungai Barito yang berarus kuat dan bergelombang ini seperti hidup segan mati tak mau!

 


Bersyukur, sejak sekitar 5 tahun terakhir geliat pasar terapung mulai terlihat kembali, terutama sejak ditemukannya pasar terapung di Desa Lok Baintan, Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar. Pasar Terapung di DAS Sungai Martapura ini tidak kalah eksotiknya dengan Pasar Terapung Muara Kuin di jaman keemasannya. 

Bahkan beberapa kalangan menilai Pasar Terapung Lok Baintan lebih menjual dan lebih atraktif dibanding dengan pendahulunya. Lokasinya yang berada agak masuk ke di tengah pedalaman memberikan sensasi wisata yang unik dan sedikit menantang. Pemandangan alam sekitar yang masih perawan dibalut dengan diorama budaya sungai khas kehidupan masyarakat  Banjar, semakin mendekatkan kita pada alam. 

Terlebih lagi, untuk menikmati suasana pasar terapung alami di Lok Baintan kita tidak terganggu oleh lalu lintas kapal-kapal besar penarik tongkang batubara atau pengangkut hasil hutan lainnya layaknya di Pasar Terapung Muara Kuin dan satu lagi, diatas lokasi Pasar Terapung terdapat jembatan gantung bertali baja yang membentang dari masing-masing tepian sungai yang bisa dijadikan tempat untuk mengabadikan eksotisnya pasara terapung. Benar-benar enjoyfull!

Pasar Terapung Lok Baintan | @kaekaha


Berbeda dengan Lokasi Pasar Terapung Muara Kuin yang masih di dalam Kota Banjarmasin dan bisa diakses dengan jalan darat yang lebih cepat, untuk mengunjungi lokasi Pasar Terapung Lok Baintan di butuhkan waktu yang agak lama dari Kota Banjarmasin, sekitar 1jam perjalanan dengan menaiki perahu kelotok khas Banjarmasin. 

Tapi jangan kuatir, 1 (satu) jam perjalanan menuju lokasi Pasar Terapung Lok Baintan akan terasa singkat jika anda adalah penikmat wisata alam dan budaya. Karena sajian ekosistem alam perawan Kalimantan dan budaya sungai masyarakat Banjar akan memanjakan mata dan wawasan anda.

Menuju Lok Baintan via jalur sungai | @kaekaha

 Menemukan Pasar Terapung Lok Baintan sebenarnya tidak hanya bisa dilakukan melalui jalur sungai saja, seperti yang sudah lazim di lakukan oleh sebagian besar pengunjung. Untuk wisatawan/pengunjung yang ingin merasakan sensasi berbeda atau mungkin ada phobia dengan air/sungai,  ada jalur darat yang bisa dimanfaatkan sekaligus dinikmati untuk menemukan eksotisnya Pasar Terapung Lok Baintan. 

Walaupun sebenarnya bisa untuk kendaraan roda 4 sekelas minibus, tapi disarankan akan memberikan sensasi lebih jika menggunakan kendaraan roda dua seperti sepeda motor atau bahkan sepeda. Selain jalan yang sempit hanya cukup untuk melintas satu mobil saja, jarak menuju lokasi juga tidak terlalu jauh apalagi bagi anda para goweser! Jaraknya sekitar 10 km dari pusat Kota Banjarmasin. 

Memang, untuk eksplorasi jalur darat relatif kurang familiar bagi wisatawan. Tapi tunggu dulu, sensasi petualangannya tidak kalah seru lho....! Pokoknya dijamin bikin  fresh.....! Berikut ulasannya!

Dari arah Kota Banjarmasin, perjalanan langsung menuju ke arah luar kota menuju Jalan Veteran atau jalan martapura lama ke Pasar Sungai Lulut, pasar unik di tepian anak sungai Martapura. Disekitar Pasar Sungai Lulut anda bisa berhenti sejenak untuk menikmati suasana pasar tradisional masyarakat Banjar yang sekelilingnya terdapat kanal kanal yang masih aktif dilalui masyarakat dengan menggunakan jukung atau kelotok, melihat fragmentasi ini akan membawa angan kita ke venezia versi Banjarmasin!

Kanal cantik di belakang los pasar Sungai Lulut | @kaekaha

handil di belakang los Pasar Sungai Lulut

Di ruas Pasar Sungai Lulut yang lokasinya tepat di pinggir jalan veteran (sebagian ada yang menyebut jalan Sungai Lulut, tapi ada juga yang menyebut jalan Martapura lama), kita akan bertemu dengan jembatan berkonstruksi baja yang bentuknya unik seperi busur di sebelah kiri jalan. 

Konstruksi Jembatan ini menurut saya juga termasuk unik dan khas Kalimantan Selatan. Jembatan sengaja dibentuk melengkung seperti busur karena sungai dibawahnya merupakan jalur lalu lintas aktif masyarakat. Jadi maksudnya, agar kepala pengendara kelotok/jukung tidak nyangkut di badan jembatan.

Jembatan Busur khas Kalimantan Selatan | @kaekaha

Kalau Jembatan busur sudah terlihat, sebenarnya kita sudah meninggalkan wilayah Kota Banjarmasin. Posisi jembatan sudah masuk wilayah desa Sungai Bakung, Kec. Sungai Tabuk Kabupaten Banjar. Untuk menuju ke Pasar Terapung Lok Baintan, maka kita harus belok kiri dengan menaiki jembatan busur, karena kalau lurus terus maka kita akan menuju Kota Martapura. Ibu kota Kabupaten Banjar yang dikenal sebagai kota Intan.

Jenis jalan yang harus dilalui menuju Pasar Terapung Lok Baintan | @kaekaha

Turun dari Jembatan busur kita terus lurus meyusuri jalan yang terbuat dari susunan paving blok sejauh sekitar 1km, selanjutnya jalanan di dominasi oleh tanah keras yang bertabur dengan batu-batu split hasil pengerasan oleh pemerintah beberapa waktu yang lalu. Jujur! saya sebenarnya agak bingung ketika melihat kondisi jalan menuju destinasi wisata andalan Kalimantan kok sepertinya kurang mendapat perhatian ya...? Padahal....! Ah sudahlah kita jalan lagi aja yuk...! 

Hijaunya alam di sepanjang jalan menuju Pasar terapung | @kaekaha

Ternyata semakin jauh saya memacu kendaraan, jalanan semakin menantang . Kali ini bukan batu split yang terhampar di jalanan tanah tersebut, tapi berupa pecahan batu kali yang berbentuk bongkahan. Jadi saya tidak bisa memacu kendaraan lebih kencang lagi. Untung pemandangan hijau segar areal kebun jeruk, nangka, pisang, area rawa lebak/persawahan dan hutan nipah yang banyak mendominasi sepanjang jalan berhasil merayu mata saya untuk menikmati kesegarannya. Tapi, saya tetap tidak merekomendasikan akses jalur darat ini untuk ibu-ibu hamil, apalagi jika harus mengendarai kendaraan roda dua.

Ada satu hal menarik yang sempat membuat saya takjub, sejak turun dari jembatan busur, yaitu keramahan warga di sepanjang jalan yang saya lalui! Setiap berpapasan dengan warga setempat seyum tulus mereka selalu mengembang penuh ketulusan, padahal saya sama sekali tidak kenal dengan mereka. "Sesuatu" yang seharusnya biasa ini, bagi saya menjadi sangat luar biasa! Karena jarang saya temukan di lingkungan perkotaan tempat saya tinggal.

SDN Gudang Hirang 2| @kaekaha

Setelah menempuh perjalanan kira-kira 4 km dari jembatan busur, kita akan bertemu dengan pertigaan jalan di desa Gudang Hirang Kec. Sungai Tabuk, satu-satunya persimpangan yang saya temui sejak turun dari jembatan busur. Di pertigaan yang ditandai oleh bangunan Sekolah Dasar Negeri Gudang Hirang 2 di sebelah kiri jalan ini, kita ambil arah belok kiri. 

Pasar terapung bayangan di sisi hilir | @kaekaha

Dari belokan ini,  kita sudah bisa melihat sungai Martapura yang menjadi lokasi Pasar Terapung Lok Baintan. Tapi, Lokasi Pasar Terapung yang disini bukanlah lokasi yang sebenarnya, karena lokasi Pasar Terapung yang sebenarnya di bawah jembatan Gantung Lok Baintan yang letaknya masih sekitar 1 km lagi dari lokasi ini. Lokasi ini disebut oleh sebagian pengunjung pasar terapung sebagai pasar terapung bayangan. 

Pasar terapung Lok Baintan sisi bayangan| @kaekaha

Disebut bayangan karena mereka berada ditempat yang tidak semestinya. Para pedagang pasar terapung ini biasa muncul di lokasi ini ketika hari mulai beranjak terang atau jam 7 keatas dengan cara membiarkan arus sungai membawa perahu mereka berjalan sendiri kira-kira sejauh 1 km dari tempat awal mereka berjualan di bawah jembatan gantung Lok Baintan. Para pedagang yang sebagian besar berasal dari daerah arah hulu, untuk pulang atau kembali ke arah hulu biasa di tarik oleh perahu kelotok yang lebih besar secara berombongan, berikut videonya


Dari lokasi Pasar terapung bayangan ini untuk menuju lokasi pasar terapung dibawah Jembatan Gantung Lok Baintan, jalan yang harus dilalui relatif lebih bagus daripada rute sebelumnya, karena di sini kita sudah berada di area perkampungan Desa Lok Baintan Luar. 

Batas Desa Lok Baintan Luar | @kaekaha

Dari arah kita datang, jembatan gantung Lok Baintan sama sekali tidak kelihatan, karena tertutup oleh rumah-rumah panggung warga dan sayangnya sama sekali tidak ada penunjuk arah atau papan keterangan lokasi Jembatan Gantung Lok Baintan di sekitar lokasi, kecuali papan nama yang menempel diatas pilar-pilar kayu raksasa penopang kawat sling baja jembatan. 

Saya baru sadar kalau sudah sampai di lokasi ketika melihat ujung-ujung tali kawat sling raksasa sebesar lengan anak-anak tertambat di dinding-dinding tebal dan kokoh di sebelah kiri tempat saya berhenti.

Pilar Kayu Jembatan Gantung Lok Baintan | @kaekaha

Sampai di bibir Jembatan Gantung Lok Baintan yang terlihat miring kearah kiri tersebut, matahari sudah lumayan tinggi, sekitar jam 8 pagi WITA. Aktifitas pasar terapung sudah bergeser ke arah Pasar terapung bayangan. Beruntung saya masih sempat mengabadikan rombongan pedagang yang tengah pulang dari berdagang ke kampung masing-masing ke arah hulu dengan di tarik kelotok.

Aktifitas Pasar Terapung Lok Baintan | @kaekaha

Setelah aktifitas pasar terapung benar-benar habis dan mendokumentasikan beberapa spot tersisa yang menurut saya menarik dengan kamera, akhirnya saya memilih untuk pulang. Nah...untuk jalan pulang, saya sengaja memilih jalur yang berbeda dengan jalur berangkat, karena banyak jalan menuju Roma...eh, Rumah! Tunggu ulasan jalur menemukan rumah dari Pasar Terapung Lok Baintan, pada postingan berikutnya ya!

Yuk jalan-jalan ke banua Banjarmasin.....

Keterangan Bahasa Banjar

Banua  : Daerah ; Wilayah ; Desa ; Kampung

Handil  :  Saluran ; kanal

Artikel ini juga di posting di Kompasiana pada 6 Mei 2016   01:14