Selasa, 22 Agustus 2023

3 Treatment Tradisional "Galuh Banjar" Untuk Kulit Sehat dan Segar

3 Treatment Tradisional "Galuh Banjar" Untuk Kulit Sehat dan Segar
Pedagang Pasar  Terapung Menggunakan Pupur Dingin | @kaekaha

 Masyarakat suku Banjar di Kalimantan Selatan, khususnya para galuh Banjar (gadis Banjar) dan  ibu-ibunya mempunyai sebuah tradisi kecantikan warisan leluhur yang sampai sekarang masih dijaga dan dipertahankan dengan baik, hingga menjadi salah satu rahasia terpenting kecantikan alami kulit para Galuh Banjar dari jaman ke jaman, termasuk disaat menjalani ritual  puasa selama Ramadan.

Sudah menjadi rahasia umum, kawasan Kota 1000 Sungai dan Kalimantan Selatan secara umum, banyak di dominasi oleh dataran rendah, terutama daerah-daerah yang menjadi DAS Barito yang berhulu di perbatasan Propinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat sampai ke muaranya di Muara Barito dekat Kota Banjarmasin.

Baca Juga :  Sedapnya "Lempeng Mie Karih Daging" Khas Urang Banjar, Mau?

Tidak heran jika kawasan DAS Barito menjadi kawasan-kawasan dataran rendah yang mempunyai suhu udara rata-rata sangat panas. Sebagai bentuk adaptasi masyarakatnya terhadap suhu panas inilah, akhirnya memicu berbagai kreatifitas masyarakat untuk bisa survive, salah satunya adalah dengan munculnya pupur dingin atau ada juga yang menyebutnya sebagai pupur Bangkal, karena bahan baku utamanya dari beras dan pohon Bangkal.

Pupur Dingin Khas Banjar | @kaekaha
Pupur Dingin Khas Banjar | @kaekaha

Pupur dingin atau bedak dingin telah lama menjadi produk perawatan kulit (skin care) tradisional banjar. Hebatnya, karena terbuat dengan bahan-bahan alami, seperti beras dan rempah menjadikan bedak dingin minim efek samping, kecuali jika penggunanya memiliki riwayat alergi terhadap salah satu bahan yang terdapat di dalamnya.

Walaupun disebut bedak, tapi cara pemakaiannya lebih mirip seperti masker dan akan memberikan rasa sejuk atau dingin di kulit, sehingga menambah efek relaksasi ke kulit. Manfaat bedak dingin antara lan, mengatasi Jerawat, mengurangi minyak, mencerahkan kulit, mencegah kerusakan oleh Sinar matahari, meredakan iritasi kulit, melembutkan kulit, mengecilkan Pori-pori

Baca Juga :  Terpesona Desain Unik dan Nyentrik Masjid Bambu Kiram di Kalimantan Selatan

Selain pupur dingin, Galuh Banjar juga mempunyai tradisi lanjutan untuk perawatan kulit yang biasa disebut sebagai Bekasai. Hanya saja, Bekasai yang mirip aktifitas luluran tapi dengan bahan lulur tradisional yang khas Banjar ini umumnya di lakukan oleh para Galuh Banjar ketika akan melaksanakan pesta pernikahan dan hajatan-hajatan sejenis agar tubuh sang mempelai wanita lebih bersih, segar, halus, bercahaya dan cantik berseri saat bersanding dipelaminan.

Bahan alami Bekasai antara lain daun kayu sapat, serai wangi, daun nilam, daun pandan, daun kenanga dan rempah pilihan lainnya yang menghasilkan aroma therapy yang khas untuk merelaksasikan tubuh. Secara umum Bekasai bisa  membuat kulit lebih sehat, lebih cerah, lebih halus licin dan kenyal , kelembaban dan elastisitasnya terjaga, menghilangkan bau badan yg tidak sedap, melembapkan serta memberikan keharuman sepanjang hari tanpa efek samping.

 

Batimung yuk! | @kaekaha
Batimung yuk! | @kaekaha

Setelah pupur dingin dan Bekasai, perawatan kulit khas Banjar selanjutnya adalah tradisi Batimung. Sebuah tradisi solus per Aqua atau spa tradisional khas Banjar yang sangat bermanfaat untuk kecantikan kulit, melancarkan darah dan juga memperbaiki metabolisme dalam tubuh.

Batimung biasa dilakukan calon mempelai pengantin, agar tubuh lebih harum, kulit lebih cerah berseri-seri, halus, sehat dan segar saat acara resepsi pernikahan digelar.

Bahan-bahan tradisional untuk diuapkan antara lain pulasari, akar wangi, temulawak, ginseng, pucuk ganti, kayu manis, mesoyi, bunga sisir, kapulaga, adas, jeruk purut, temugiring, cengkeh, lada, biji klabet dan lain-lain.

Sebenarnya, Batimung ini merupakan versi lengkap dari perawatan kulit dan tubuh ala Urang Banjar, karena didalamnya sudah termasuk maskeran pupur dingin dan juga Bekasai. 

Berikut tahapan proses Batimung, dimulai dari  barandam batis atau merendam kaki dalam air rendaman jeruk dan sereh, setelah itu dilanjut dengan cengkaruk atau luluran dengan bahan beras ketan, bunga mawar, temugiring, buah dan daun jeruk, bunga kenanga dan cempaka. Prosesi ini bermanfaat untuk melancarkan peredaran darah dan mengangkat kulit mati.

Setelahnya ada prosesi baurut atau pijat dengan menggunakan minyak lala'an atau minyak kelapa dan dilanjut dengan proses bakasai sejenis cengkaruk tapi manfaatnya untuk mengharumkan dan melembabkan kulit. Barulah setelah itu Batimung dimulai dengan menguapi sekujur badan bahan-bahan herbal bermanfaat.

Baca Juga :  Romansa Anak-anak Langgar 80-an Menghidupkan Ramadan

Setelah prosesi Batimung, dilanjut dengan barandam awak atau merendam badan dalam air yang telah dicampur dengan wewangian herbal sesuai selera dan prosesi terakhir adalah maskeran dengan pupur dingin atau pupur bangkal agar tubuh sang mempelai wanita lebih sehat, bersih, segar, halus, bercahaya dan cantik berseri saat bersanding dipelaminan.

Semoga Bermanfaat!

Salam matan Kota 1000 Sungai,
Banjarmasin nan Bungas!

Artikel ini juga tayang di Kompasiana pada 1 April 2023  jam  23:19 WIB (klik disini untuk membaca) 

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN
Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN

 

 


Minggu, 13 Agustus 2023

Wadai Ipau, "Pemersatu Tulang Berserak" Saat Lebaran

 

Wadai Ipau | @kaekaha



Pernah mendengar nama "wadai ipau"?

Yah, wadai merupakan sebutan masyarakat Suku Banjar alias Urang Banjar di Kalimantan Selatan untuk kue. Kue apa saja, bisa kue basah, kue kering atau apa saja selama itu masih disebut sebagai kue, maka sebutannya dalam Bahasa Banjar adalah wadai.

Khusus untuk wadai ipau, kue yang satu ini memang sangat unik! Cita rasanya yang dianggap anomali dari tradisi kuliner khas Banjar lainnya yang pada umumnya bercitarasa manis legit, maka wadai ipau yang menjadi buruan Urang Banjar selama bulan Ramadan dan juga saat lebaran ini justeru bercitarasa gurih-asin dan pedas, tentu jika ditambahkan dengan saus pedas saat menikmatinya! 

Secara umum, dikenal ada dua jenis wadai ipau, yaitu wadai ipau karing dan wadai ipau siram santan. Untuk wadai ipau karing (kering: Bahasa Banjar) biasanya penyajiannya lebih simple dan sederhana, disajikan dengan bawang goreng dan abon. Sedangkan wadai ipau siram santan, ditambah dengan siraman saus santan yang dicampur dengan susu, taburan daun seledri atau daun Sop dan bawang goreng.

Baca Juga: Sedapnya "Lempeng Mie Karih Daging" Khas Urang Banjar, Mau?

Umumnya, wadai ipau bentuknya bulat berlapis-lapis seperti lempeng yang ditumpuk-tumpuk. Di antara tumpukan lempeng-lempeng itulah ada isian berupa telur, wortel, bawang bombay, sayur, kentang dan daging yang kesemuanya dimasak dalam loyang yang disumab atau di kukus dengan bumbu-bumbu tradisional dengan aroma rempah khas perpaduan kuliner Banjar-Arab yang cukup kuat.

 

Wadai Ipau, isinya daging, sayur dan ragam rempah | @kaekaha

Memang, wadai ipau yang tumbuh dan berkembang di Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas ini, memang lebih dikenal sebagai kuliner tradisional khas Kampung Antasan Kecil Barat alias kampung Arab di Banjarmasin yang sejak dulu secara turun-temurun juga dikenal dengan beragam olahan daging kambingnya yang termasyhur!

Uniknya, meskipun dikenal sebagai kuliner Arab dari kampung Arab di Banjarmasin, tapi konon tidak ada satupun bentuk kuliner asli dari Arab yang bisa dijadikan referensi rujukan asal-usul wadai ipau ini. Begitu juga dengan misteri nama "ipau"-nya sendiri yang sudah begitu melekat. Belum ada yang mengenali, dari mana asal-usul nama tersebut!? Unik bukan?

Bahkan menurut budayawan Banjar yang juga Kompasianer, Zulfaisal Putera, penamaan wadai ipau ini tidak berciri khas tradisi Banjar yang umum. Seperti kita pahami bersama, ada empat hal yang mendasari penamaan Wadai Banjar, yaitu

 

Wadai Ipau | @kaekaha

Pertama, berdasar bahan dasar kue, seperti, Tapai Lakatan yang dibuat dari lekatan (ketan). Kedua, berdasar cara membuatanya, seperti Pisang Basanga atau pisang goreng (Bahasa banjar: digoreng). Ketiga, berdasar bentuk kuenya, seperti Wadai Cincin. Keempat, berdasar warna sajiannya, seperti Apam Habang (merah). Nah sepertinya penamaan wadai ipau tidak dan satupun yang sesuai dengan kriteria di atas! Nah lho?

Apalah arti sebuah nama!? Begitulah kira-kira Shakespeare memaknai sebuah nama dan sepertinya memang relevan sih! Apapun asal-usul penamaan nama wadai ipau, itu tidak kan mengurangi sedikitpun esensi cita rasa menggoda wadai ipau yang melegenda!

Wadai Ipau sampai detik ini masih saja menjadi magnet terkuat untuk "menarik" perhatian sekaligus kehadiran Urang Banjar di berbagai acara, apalagi di acara-acara buka bersama dan lebaran! Wajar karenanya jika kemudian wadai ipau juga disebut-sebut sebagai pemersatu bangsa, pemersatu tulang berserak saat lebaran. Wallahu a'lam Bish-shawabi.

Semoga Bermanfaat!

Salam matan Kota 1000 Sungai,
Banjarmasin nan Bungas!

 

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN


Sabtu, 12 Agustus 2023

Menikmati "Citarasa Pulang Kampung" di Mie Ayam Solo Mas Sidik

Menikmati Racikan Mie Ayam Solo Mas Sidik | @kaekaha 

Ada banyak alasan, penikmat kuliner pada akhirnya mempercayakan pleasure lidahnya kepada jenis kuliner-kuliner tertentu dan atau juga pada destinasi atau warung-warung makan dan juga kedai-kedai yang tertentu juga untuk mendapatkan kenikmatan dan kepuasan berkuliner yang paripurna.

Begitu juga sebaliknya dengan rumah makan, kedai dan warung-warung destinasi kulineran, mereka tentunya juga punya sejuta cara untuk bisa memberikan pengalaman berkuliner yang paripurna kepada semua penikmat sajiannya. Kalau belum punya, coba simak artikel ini sampai habis ya...

Baca Juga :  Transformasi Bakso di Tangan-tangan Kreatif Masyarakat Nusantara (1)

Sebagai penikmat kuliner dengan "spesifikasi khusus", berkuah kaldu plus citarasa khas gurih cenderung asin, sudah pasti saya juga mempunyai pilihan jenis-jenis kuliner tertentu, baik sekedar sebagai mood booster atau memang sengaja, (sesekali) memanjakan lidah untuk pleasure mencecap citarasa-citarasa kuliner sedap yang bisa memberi kepuasan lahir dan batin saya.


Mie Ayam Solo Racikan Mas Sidik | @kaekaha

Ada dua jenis kuliner berkuah kaldu yang mempunyai intensitas paling tinggi dalam hal memanjakan sekaligus menghibur lidah saya, yaitu "kuliner sejuta penikmat" berharga relatif murah tapi tentu saja tidak serta merta berasa murahan yang juga sering disebut-sebut sebagai kuliner kembar siam, karena keduanya biasa dijual di waktu dan tempat yang sama secara bersamaan oleh pedagang yang sama, yaitu bakso dan mie ayam.

Diantara sekian banyak kedai bakso dan mie ayam yang tersebar di seantero Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas dan juga di sekitarnya yang sudah pasti mempunyai cirikhasnya masing-masing, saya paling sering menikmati kuliner yang berakar dari budaya kuliner Tiongkok ini di kedai "Mie Ayam Solo Mas Sidik" di belakang Pasar Ahad, Pal 7 atau ada yang menyebutnya sebagai kawasan Pemurus Pal 7.


Kedai Mie Ayam Solo Mas Sidik Tampak Samping | @kaekaha



Awalnya, saya tertarik mencoba olahan mie ayam Mas Sidik ini karena terpaksa lho!

Soalnya, di pinggiran Kota Banjarmasin yang ke arah Kota Banjarbaru, khususnya di seputaran A. Yani km. 7 ini memang tidak ada penjual mie ayam "manggon" atau menetap yang mulai jualan dari pagi atau setidaknya mulai jam 9-an untuk mood booster saya di pagi hari, selain kedai Mie Ayam Solo-nya Mas Sidik. Selain itu, lokasinya yang strategis di belakang pasar Ahad Pal 7 juga menjadikan akses dan jaraknya paling mudah dan dekat untuk diakses dari rumah.

Selain itu, label "Mie Ayam Solo" yang menjadi identitas kedai ini, sebenarnya di awal-awal juga seperti mengintimidasi saya, sehingga membuat saya semakin merasa terpaksa untuk datang ke kedai Mas Sidik ini. Bagaimana tidak, keumuman kuliner khas Solo terlanjur terkenal dengan kecenderungan citarasanya yang manis, padahal saya kan penikmat kuliner bercitarasa gurih-asin garis keras! Wis...wis...wis piye Iki?


Mas Sidik in action | @kaekaha

Beruntungnya, gaya Mas Sidik berjualan mie ayam cukup asyik!

Memasuki kedai mungilnya yang kira-kira hanya bisa menampung kurang lebih 8 pengunjung dewasa saja, pengunjung otomatis akan dihibur oleh rengeng-rengeng musik campursari-an dari musisi-musisi lagu Jawa kondang seperti alm. Manthous, alm. Didi Kempot, Koko Thole dan kadang-kadang musisi-musisi muda seperti Denny Caknan dan lain-lainnya.

Lagu-lagunya yang sudah pasti familiar ditelinga, Javanese vibes-nya jelas akan mengantarkan semua pengunjung dan  pendengarnya pada beragam kenangan, termasuk memori tentang tanah seberang, kampung halamannya hingga tanpa sadar biasanya ikut berdendang, setidaknya di dalam hati.

Dari titik inilah, biasanya interaksi antara pembeli dengan Mas Sidik yang asli Klaten, Jawa Tengah semakin intensif dan intim, layaknya bertemu saudara yang lama terpisah jarak dan waktu, begitu juga dengan pembeli lain.


Suasana Pagi di Kedai Mie Ayam  Solo Mas Sidik | @kaekaha

Meskipun sebenarnya Mas Sidik tidak memilih-memilah pelanggan dan selalu welcome kepada siapa saja yang ingin merasakan racikan mie ayamnya, tapi dari "prejengan" kedainya yang relatif njawani,  tentu saja dengan sendirinya akan mengundang lebih banyak pembeli atau pelanggan yang mempunyai hubungan dengan Pulau Jawa. 

Ada yang memang perantau dari Jawa alias diaspora Jawa, bisa juga entitas Jawa Gambut alias keturunan suku Jawa yang lahir dan besar di Kalimantan Selatan dan tidak sedikit juga yang sudah mix alias campuran dari berbagai suku. Mereka-mereka inilah pelanggan setia Mas Sidik, hingga menjadikan kedai Mas Sidik layaknya "markas" untuk reunian.

Uniknya, meskipun sebagian banyak pelanggan Mas Sidik memang masih berhubungan dengan Pulau Jawa, tapi tetap saja latar belakang taste influence masing-masing pelanggan tetap berbeda-beda. Apalagi kalau ketemu dengan pelanggan dari daerah lain, pasti deh lidahnya punya komposisi favoritnya masing-masing.


Racikan Mie Ayam Solo untuk Take Away | @kaekaha

Tidak usah jauh-jauh mencari sampling-nya, menurut Mas Sidik sendiri, diawal-awal belajar mengolah mie ayam dari resep kakak sendiri, citarasa orisinilnya lebih cenderung ke gurih-asin, tapi karena Mas Sidiknya sendiri lebih suka dengan olahan kuliner berbasis rasa gurih-manis, maka mie ayam Solo miliknya juga dimodif menjadi lebih gurih-manis, kembali ke selera awal khas kuliner Solo dan pastinya berbeda dengan resep dari "sang guru". Nah iya kan!

Baca Juga :  Mengenal Entitas Budaya "Jawa Gambut" di Kalimantan Selatan

Menyadari keniscayaan ini, Mas Sidik tidak kurang akal dan dia mempunyai strategi jitu untuk memberi kepuasan sekaligus experience menikmati mie ayam Solo "manis" olahannya dengan kenikmatan universal kepada semua pelanggannya.

Kalau umumnya pembeli biasa menerima saja sajian mie ayam yang dibuat oleh penjualnya, maka Mas Sidik mempersilahkan semua pelanggannya untuk "mengintervensi" racikan olahan mie ayam karyanya sebelum disajikan. Pembeli bisa menambahkan sendiri bumbu bawang, garam, penyedap dan ubarampe bumbu rahasia lainnya sesuai selera. 


Topping Olahan Ayam, Sumber Citarasa Manis | @kaekaha

Tapi uniknya, yang melakukan ini biasanya justeru pelanggan baru, karena untuk pelanggan lama Mas Sidik biasanya sudah hafal diluar kepala komposisi favorit masing-masing pelanggannya. Tidak hanya racikan bumbunya saja, tapi juga tingkat kematangan mie-nya dan juga pilihan serta kuantiti topping-toopingnya berupa bakso, telur rebus, ceker, kepala sampai ampadal alias ati ampela juga. Asyik bukan!?

Tidak hanya itu asyiknya kedai mie ayam Solo Mas Sidik. Ini yang orisinil! "Sepertinya hanya di kedai ini deh, saya menemukan sumpit untuk makan mie dan separuh porsi mie ayam harganya benar-benar separuhnnya juga"! Hayooo pernah ga nemu yang begini?

Bisa kan membayangkan rasanya menikmati mie ayam dengan racikan paten yang sesuai dengan selera kita sendiri!? Ini tidak hanya sekedar enak dan sedap semata, tapi juga nikmat kawaaaaan! Inilah sebab, akhirnya saya bisa berkompromi dengan "manisnya" citarasa dasar mie ayam Solo-nya Mas Sidik. 

Mie Ayam Solo Mas Sidik, Pal 7 Banjarmasin | @kaekaha

Jika datang kepagian untuk sarapan, menikmati rengeng-rengeng lagu-lagu Jawa campursari yang bisanya bisa juga di request, sepertinya sudah cukup menjadi teman asyik untuk melahap semangkuk mie ayam dengan citarasa otentik sesuai selera plus segelas teh es manis (sebutan Urang Banjar untuk es teh) dengan aroma khas yang di datangkan dari Jawa. Duuuuuuh sedapnya benar-benar bisa menjadi mood booster yang efektif lho!

Baca Juga :  Berburu "Bebek Kaki Lima", Menikmati Romantisme Kuliner Jalanan Legendaris Nusantara

Nanti menjelang siang dan puncaknya di sekitar tengah hari atau sekitar shalat Dhuhur saat pelanggan sedang penuh-penuhnya, berada di kedai Mas Sidik tak ubahnya seperti reuni dengan keluarga atau teman-teman lama yang lamaaaaaa sekali tak bertemu. Disini, kita seperti menikmati sedapnya pulang kampung, ya citarasa pulang kampung ala Mie Ayam Solo Mas Sidik, Pal 7 Banjarmasin. Mau!?

Semoga Bermanfaat.

Salam matan Kota 1000 Sungai,
Banjarmasin nan Bungas!

 

Artikel ini juga tayang di Kompasiana pada 12 Agustus 2023  jam  09:00 WIB (klik disini untuk membaca)

 

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN

 







 

Honda Vario 150 eSP Melanggengkan Tradisi Bahunda Masyarakat Banjar

 
Tradisi Bahunda dari Kalimantan Selatan | @kaekaha


Tradisi Bahunda, Tradisi unik Masyarakat Banjar
 
Tradisi Bahunda merupakan salah satu tradisi unik masyarakat Banjar untuk menyebut aktifitas berkendaraan bermotor roda dua, apapun jenis atau merek kendaraan yang dikendarai. Istilah ini berkembang diseluruh wilayah dimana Urang Banjar (sebutan untuk orang Banjar) berada, yaitu di daerah Kalimantan Selatan, sebagian Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Istilah Bahunda sudah sejak lama menjadi bagian dari budaya tutur masyarakat Banjar.

Menurut versi kakek buyut saya yang kebetulan seorang tetua kampung, istilah Bahunda memang menjadi tradisi unik dalam budaya tutur masyarakat Banjar sejak masuknya sepeda motor merek Honda di Kalimantan (Selatan) dan pembiasaan penyebutan ini berlangsung secara turun-temurun sampai sekarang. 
 
Menurut beliau, pertama kali sepeda motor Honda (beliau menyebut Hunda) masuk ke Kalimantan, didatangkan oleh orang-orang kaya di Banjar dari Surabaya bahkan sebagian dari Jakarta, karena di Banjarmasin dan seluruh Kalimantan saat itu belum ada dealer seperti sekarang. Bahkan saat itu Propinsi Kalimantan Selatan sebagai propinsi tertua di Kalimantan, seingat beliau juga belum terbentuk. Saat itu Kalimantan masih menjadi 1 propinsi tunggal dengan ibu kota di Banjarmasin. 
 
Woooow! Meskipun tidak ada catatan resminya, dari cerita kakek buyut saya tersebut bisa disimpulkan bahwa hubungan sejarah antara Honda dengan masyarakat Banjar ternyata sudah lama terjalin.
 
Paman sayur Bahunda jua! | @kaekaha


Sayang, beliau tidak bisa menjelaskan awal mula napa Urang Banjar manyambat bahunda gasan urang nang manaiki kendaraan bamutur ruda dua? (Kenapa orang Banjar selalu menyebut orang yang mengendarai sepeda motor dengan sebutan bahunda?). Kalau dibilang, karena Honda yang pertama kali masuk ke Kalimantan!? Ternyata tidak juga! Karena menurut beliau,  ada merek lain yang lebih dulu masuk.  Lantas.....

Morfologi Istilah kata bahunda, pada dasarnya merupakan kata serapan dari kata Honda yang mendapat imbuhan suku kata ba. Jadi bentuk asli kata serapannya adalah Bahonda. Tapi, karena dalam dialek bahasa Banjar, huruf o akan dilafalkan/dibaca menjadi u, maka dalam perjalanan eksistensinya berdasar tata bahasa Banjar, kata Bahonda akan ditulis sekaligus dilafalkan menjadi Bahunda. 
 
Penambahan imbuhan suku kata ba, pada tata bahasa Banjar akan mengubah kata benda yang mendapat imbuhan menjadi kata kerja. Jadi kata istilah Bahunda secara leksikal berarti mengendarai sepeda motor merk Hunda  atau Honda.

Disini uniknya! Meskipun dalam perkembangannya, pasar sepeda motor di lingkungan masyarakat Banjar terus tumbuh dan berkembang dari waktu-kewaktu yang ditandai dengan kehadiran beberapa merk dan jenis sepeda motor baru di pasaran, tetap tidak menggoyahakan eksistensi tradisi Bahunda di masyarakat Banjar. 
 
Bahkan dalam perkembangannya, tradisi bahunda tidak saja merujuk pada merk sepeda motor Honda yang dikendarai, tapi sudah melebar ke semua merk kendaraan roda dua yang ada. Intinya, apapun merk kendaraan sepeda motor yang dikendarai, tetap saja urang Banjar menyambat Bahunda! (orang Banjar tetap saja menyebutnya naik Honda). Kenapa bisa begitu?
 
Peta Kalimantan Selatan | bpk.go.id


Eksistensi Tradisi Bahunda di Kalimantan Selatan

Istilah tradisi Bahunda sampai sekarang masih eksis di lingkungan masyarakat Banjar, terutama di daerah Banjar Pahuluan atau Banjar Hulu (sebagian menyebut sebagai Banjar Asli) yang menjadi daerah induk dari cikal bakal kelahiran bahasa, sastra dan kesenian Banjar . 
 
Daerah ini disebut pahuluan, karena daerah ini merupakan hulu sungai atau sumber mata air dari sungai-sungai besar yang mengalir di Kalimantan Selatan. Sekarang, daerah-daerah ini dikenal juga dengan nama Banua Anam yang meliputi Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS), Hulu Sungai Tengah (HST), Hulu Sungai Utara (HSU), Rantau, Tabalong dan Kabupaten paling muda, Balangan. 
 
Di daerah-daerah ini, istilah tradisi Bahunda masih dipakai oleh sebagian besar masyarakat. Jadi, seandainya anda berkesempatan berkunjung ke daerah Amuntai (HSU) yang terkenal dengan itik Alabio-nya, jangan heran bila mendapati eksistensi tradisi unik ini dalam kehidupan sehari-hari. Menyebut Bahunda kepada orang yang naik sepeda motor merk lain.....

Berbeda dengan daerah Banjar Pahuluan, untuk daerah Banjar Pesisir  atau Banjar Hilir, sebutan untuk wilayah Kalimantan Selatan yang dilalui aliran sungai, seperti Kabupaten Banjar, Kota Banjarbaru, dan Kota Banjarmasin, istilah tradisi Bahunda memang  masih eksis, hanya saja sebaran pelestarinya relatif terbatas pada sebagian besar kaum tua yang usianya diatas 40 tahunan dan sebagian saja saja anak muda yang masih menggunakannya sehari-hari.  

Hal serupa juga berlaku di wilayah bagian paling timur dan selatan Kalimantan Selatan yang merupakan daerah pesisir laut, yang meliputi Kabupaten Tanah Laut, Tanah Bumbu dan Kota Baru. Kebetulan ketiga daerah ini memang mempunyai sistem dan pola budaya yang berbeda dengan daerah Banjar Pahuluan maupun dengan Banjar Hilir. 
 
Di ketiga daerah yang pada masa orde baru menjadi pusat masuknya pendatang dari luar melalui program transmigrasi ini, pola budaya yang berkembang di masyarakat merupakan budaya akulturasi, percampuran antara budaya lokal Kalimantan Selatan dengan budaya yang dibawa oleh pendatang yang masuk. 
 
Kabupaten Tanah Laut dengan ibu kota Pelaihari, sejauh ini dikenal sebagai kampung Jawa-nya Kalimantan Selatan, disini adat dan budaya Jawa terlihat lebih dominan. Bahasa ibu sebagian besar masyarakat adalah Bahasa Jawa. 
 
Sedangkan di Kabupaten Tanah Bumbu yang beribu kota di Batu Licin dan Kabupaten Kotabaru di Pulau Laut budaya Bugis Makassar sudah menjadi trademark wilayah Kalimantan Selatan yang kaya dengan Batubara ini. Disini, bahasa ibu msyarakat lebih dominan Bahasa Bugis Makassar. Perbedaan struktur budaya inilah yang menyebabkan eksistensi tradisi Bahunda  hanya menyisakan pada kaum tua dan sebagian kaum muda Banjar.

Simbiosis Mutualisma dalam Tradisi Bahunda


Eksistensi tradisi Bahunda pada masyarakat Banjar bisa tetap terjaga sampai sekarang, tentu tidak terlepas dari soliditas 2 (dua) faktor penyangganya dalam menjaga tradisi hebat masing-masing dalam upayanya menjalin komunikasi dengan perubahan jaman yang terus berkembang dengan pesat, yaitu
 
Terjaganya komunikasi budaya lintas generasi dalam masyarakat Banjar. Sejauh ini, budaya dan tradisi masyarakat Banjar sebagai simbol dari peradaban suku Banjar di Kalimantan Selatan dan sekitarnya relatif masih terjaga denan baik. Salah satu indikasinya adalah eksistensi bahasa Banjar yang tetap terjaga, menjadi tuan runah sekaligus bahasa ibu bagi masyarakat Banjar. Buktinya,  tetap lestari dan terjaganya tradisi Bahunda!
 
Terjaganya Tradisi Honda menghadirkan produk sepeda motor berkualitas.Tradisi Honda merilis produk baru dengan inovasi teknologi terbaru yang selalu menjadi trendsetter dijamannya dan dikelasnya secara kontinyu plus tersedianya ruang interaksi berupa dealer dan layanan purna jual yang  fullinovasi, teknologi, nyaman, representatif dan tersebar sampai pelosok-pelosok lingkungan masyarakat Banjar, merupakan salah satu bentuk strategi komunikasi yang efektif untuk melanggengkan Tadisi Bahunda .

Dari diskripsi 2 (dua) penyangga lestarinya tradisi Bahunda  diatas, terlihat bagaimana sinergi keduanya dalam menciptakan sebuah komunikasi efektif yang tidak hanya bersifat insidental untuk kepentingan sesaat saja. Tapi sebuah komunikasi berkelanjutan yang memberikan benefit berimbang alias sama-sama menguntungkan yang sering kita sebut sebagai simbiosis mutualisma. 
 
Berikut detail konsepnya,Terpeliharanya Tadisi Bahunda merupakan bukti nyata kuatnya brand image dan brand position merk HONDA di dalam alam bawah sadar masyarakat Banjar. Hal ini tentu akan berpengaruh terhadap market share produk HONDA di lingkungan masyarakat Banjar. Di dalam sebuah pasar yang sudah berorientasi Honda minded tentu akan memuluskan langkah Honda untuk menguasai pasar. 
 
Hal ini sudah terbukti! Menurut data AISI (Asosiasi Industri Sepeda Motor Indonesia) yang release di awal tahun 2016, sampai detik ini marketshare Honda di lingkungan masyarakat Banjar, khususnya Kalimantan Selatan masih menduduki peringkat pertama dengan capaian sekitar 70%. Artinya, 10 dari pengendara sepeda motor di Kalimantan Selatan 7 diantaranya memakai Honda dan dari 70% tersebut 80% diantaranya disumbang oleh produk matic. 
 
Melihat kenyataan ini, tentu Honda tidak akan tutup mata. Honda dengan cerdasnya, akan semakin memperkuat peran ruang interaksi yang dimiliki semaksimal mungkin untuk memberikan pelayanan ekstra dan prima kepada masyarakat Banjar dan berbagai bentuk pelayanan ekstra ini tentu akan membuat masyarakat Banjar tidak akan bisa pindah kelain hati. Inilah yang disebut Simbiosis mutualisma. Dari sini, sepertinya misteri awal mula munculnya tradisi budaya tutur Bahunda  mulai mendapatkan gambarannya.
 
150 eSP Menjaga Tradisi Honda, Melanggengkan Tradisi Bahunda

Tradisi Honda sebagai produsen sepeda motor yang secara kontinyu selalu menerapkan inovasi teknologi terbaru disetiap produk baru yang diluncurkan dan selalu menjadi trendsetter dijamannya dan dikelasnya, telah dikenal luas oleh masyarakat Banjar dan dunia tentunya.

Diantara berbagai keunggulan yang dimiliki produk Honda, “irit bahan bakar” merupakan icon yang paling merasuk dalam pikiran dan alam bawah sadar masyarakat konsumen Indonesia dan masyarakat Banjar khususnya. Jadi kalau disebut kata Honda, 100% konsumen larinya pasti kepada tagline “irit bahan bakar”. 
 
Maka tidak heran jika tagline ini terus dipertahankan Honda dengan berbagai inovasi teknologi yang ditanam disetiap produknya. Begitu juga untuk produk terbarunya  Honda Vario 150 eSP, varian terbaru skuter matic legendaris produksi Honda, Vario yang berkonsep eksklusif dan premium dengan mengususng mesin berkapasitas 150 cc pertama yang diproduksi di Indonesia.



Hebatnya Honda, mereka tidak mau hanya terjebak dengan tagline yang sudah menjadi tradisi mereka tersebut. Inovasi teknologi Honda yang berkembang sangat pesat dari waktu ke waktu terus memberikan sensasi kesempurnaan berkendara ala Honda. Melalui produk terbarunya Vario 150 eSP, yang secara resmi memasang tagline mentereng Ride The Perfect atau kesempurnaan berkendara, sepertinya Honda benar-benar ingin memanjakan semua pengendara produk-produknya!

Sesuai dengan skala prioritas umum masyarakat Indonesia yang terlanjur mengidentikkan produk Honda dengan “irit bahan bakar”, maka ulasan pertama kita untuk membuktikan bahwa Vario 150 sempurna benar-benar menjaga tradisi hebat Honda adalah mengulas tentang teknologi canggih yang diaplikasikan pada Vario 150 eSP, terutama yang berkaitan dengan asupan bahan bakar!

Skema PGM-FI (Grafis : welovehonda.com)
 
 
Skema Teknologi eSP | Grafis : welovehonda.com



Penerapan teknologi Programmed Fuel Injection (PGM-FI) yang akan mengatur pasokan bahan bakar dan udara secara optimal secara elektronis dan Enhanced Smart Power (ESP) yang akan memaksimalkan pembakaran secara efisien dan mengurangi gesekan untuk meminimalisir energi yang terbuang percuma, menjadikan Vario 150 eSP tetap irit dan memiliki kadar emisi gas buang yang rendah tanpa mengurangi performa.


Teknologi Idling Stop System | Grafis : welovehonda.com

Sedangkan fitur canggih Idling Stop System (ISS), akan mengatur kinerja mesin. Mesin akan mati secara otomatis jika berhenti selama 3 detik dan hanya dengan menarik tuas gas, maka secara otomatis mesin akan menyala sendiri. Artinya, fitur ISS bisa membantu efisiensi penggunaan bahan bakar sesuai kebutuhan.

Dari uji yang independent yang dilakukan detik oto, dengan bahan bakar 1 liter rata-rata Vario 150 eSP mampu mencapai jarak hingga 51,4 km . Dengan kapasitas tangki bahan bakar sebesar 5.5 liter. Jika diisi penuh, maka jarak tempuh yang bisa dicapai adalah mencapai 282,7 km. 

Kalau di Kalimantan, sama dengan menempuh perjalanan dari Banjarmasin – Ampah (Kalimantan Tengah) yang biasa ditempuh selama 9-10 jam perjalanan darat dengan angkutan umum. Wooooow irit banget! Hebatnya lagi, teknologi eSP pada Vario 150 eSP menghasilkan emisi gas buang lebih rendah sesuai standar emisi Euro 3, sehingga lebih ramah lingkungan.  

Alam Kalimantan, khususnya wilayah Kalimantan Selatan dikenal mempunyai medan yang relatif berat. Lestarinya tradisi Bahunda dan sejarah komunikasi Honda  dengan masyarakat Banjar yang awet berpuluh-puluh tahun lamanya, secara tersirat sudah menjelaskan bagaimana ketangguhan performa produk-produk Honda menapaki jalur darat Kalimantan yang terkenal buas! Berikut ulasan kedua kita tentang performa Vario 150 Esp!

Dimensi 1.921 x 683 x 1.096 mm dengan berat kosong 109 kg menjadikannya relatif lebih lincah dan gesit, coba bandingkan dengan dimensi Honda PCX 150 yang lebih bongsor walaupun mempunyai mesin yang relatif sama.

Bodi ergonomis Vario 150 eSP yang ditunjang dengan desain jok tempat duduk yang nyaman dan empuk akan memberikan kenyamanan dan keamanan ekstra bagi pengendara, terutama untuk keperluan touringjarak jauh. Jarak terendah dengan tanah setinggi 135 mm relatif aman untuk medan bergelombang, genangan air, tanah berpasir apalagi di medan tanjakan. Ini sangat cocok dengan medan ekstrim Kalimantan!

Skema CBS (Grafis : welovehonda.com)

Mesin berteknologi canggih Vario 150 eSP sangat responsif, mampu menghasilkan torsi 5.000 rpm dengan daya maksimum mencapai 8.500 rpm. Sedangkan kombinasi mesin 4 tak, SOHC dengan pendingin cairan dan transmisi V-Matic memiliki kompresi pembakaran 10 : 6 : 1 akan menghasilkan tenaga yang relatif besar (maksimal 9,3 kW/12,46 HP), hingga mampu digeber sampai 102 km/jam dalam tempo hanya 11.9 detik di jalanan langsam. Untuk menunjang keamanan pengendara,  teknologi pengereman Combi Brake System (CBS) yang akan mengatur keseimbangan deselerasi roda yang menggunakan ban jenis tubles dengan ukuran depan 80/90 dan belakang 90/90 secara optimal juga dipasang untuk mengimbangi kelincahan dan tenaga besar yang dihasilkan oleh dapur pacu canggih Vario 150 eSP.

Dalam tradisi Bahunda, elemen penting yang biasa dipertimbangkan masyarakat Banjar adalah tentang kelengkapan fitur. Berikut ulasan ketiga tentang fitur canggih dan fungsional Vario 150 eSP yang sangat menarik!

Skema Answer Back System | welovehonda.com
 

Seperti layaknya pada mobil, Vario 150 Sempurna dilengkapi dengan Answer Back System, yaitu fitur aplikasi teknologi cerdas panggil jarak jauh dengan menggunakan remote control. Sepeda motor secara otomatis akan merespon dengan suara dan lampu yang menyala hanya dengan memencet alarm remote yang tersedia pada kunci Vario 150 eSP. Teknologi mutakhir ini sangat bermanfaat untuk kontrol jarak jauh keberadaan sepeda motor kita, jadi lebih mudah mengetahui lokasi parkir sepeda motor yang kadang sering dipindah-pindah tukang parkir, bahkan bisa juga untuk ngecek jarak jauh sepeda motor kita masih ada atau tidak di area parkir.

Magnetic Key Shutter | welovehonda.com

Untuk tambahan pengaman, Vario 150 eSP dilengkapi fitur Magnetik Key Shutter atau sistem penguncian bermagnet yang bisa meminimalisir pencurian sepeda motor. Sedangkan fitur tambahan yang memberikan banyak manfaat adalah adanya bagasi multifungsi berkapasitas 18 liter di bawah jok, ini yang disukai masyarakat Banjar yang lebih dikenal sebagai pedagang, karena bisa memuat barang lebih banyak.

 Bagasi berkapasitas 18 liter | welovehonda.com

Meskipun dilengkapi dengan beragam fitur canggih dan fungsional, Vario 150 Sempurna sangat friendly alias mudah dioperasikan dan relatif awet dan tahan lama, karena semua part yang terpasang merupakan produk berkualitas dari Honda Genuine Parts dan hebatnya lagi, untuk memberikan kemudahan perawatan berkala, sekarang Honda didukung 3.646 bengkel resmi Astra Honda Authorized Service Station (AHASS), 250 outlet layanan sepeda motor Honda, 350 bengkel mitra binaan dan 7.652 toko suku cadang yang siap melayani jutaan pengguna sepeda motor Honda diIndonesia dengan baik. Ada lagi?

LED Headlight | welovehonda.com



Hal menarik selanjutnya yang menjadi andalan Vario 150 eSP adalah tampilan emblem 3 dimensi yang semakin memperkuat karakter premium yang diusung, apalagi bila dipadu dengan Dynamic Panel Meter yang menggabungkan sistem analog dan digital sangat memudahkan pengendara untuk mengontrol panel meter meskipun dalam keadaan berkendara plus 5 (lima) pilihan warna eksklusif yang begitu menggoda. Exclusice Matte Black, Exclusive Pearl White, Bionic Red, Titanium Black dan Sonic White Blue. 

Selain itu Desain lampu depan yang tergabung menjadi satu dengan lampu sein dan lampu jenis LED yang tertanam pada lampu depan model dual keen eyes headlight, selain memberi kesan ekslusif, premium dan modis juga memberikan pola pencahayaan maksimal tapi tetap hemat energi listrik. Begitu juga dengan tampilan desain lampu belakang, stop lamp dan sign lamp yang menyatu dan tampak lebih besar semakin memperkuat kesan eksklusif dan premium Vario 150 eSP.

Varian warna Vario 150 eSP | welovehonda.com-diolah

Terjawab sudah, kenapa tradisi Bahunda bisa bertahan selama puluhan tahun di Kalimantan! Tradisi Honda menerapkan berbagai inovasi teknologi terbaru yang selalu menjadi trendsetter dijamannya dan dikelasnya secara kontinyu, tetap terjaga sampai sekarang. Jar urang Banjar, Kada usah banyak pandir! (Kata orang Banjar, Tidak usah banya bicara!) Hanya satu kata "sempurna!". 
 
Vario 150 Sempurna merupakan bukti, keseriusan HONDA untuk menjaga tradisi cerdas mereka. Maka, tidak salah jika masyarakat Banjar dan Indonesia menjatuhkan pilihan kepada Vario 150 Sempurna, karena memang pantas menjadi rekomendasi untuk siapa saja. Pria-wanita, tua-muda apapun profesinya, apapun keperluannya dan di manapun berada! Vario 150 Sempurna akan memberikan kesempurnaan berkendara  dan yang pasti kehadiran Vario 150 Sempurna akan semakin melanggengkan tradisi Bahunda kita! We Love Honda.....

Ride the perfect, the one and only, Salam Bahunda! 

Artikel ini juga tayang di Kompasiana pada 03 Mei 2016  jam  02:12 WIB (klik disini untuk membaca)



Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN





Jumat, 11 Agustus 2023

Stasiun Barat dan Sejarah Keterlibatannya dalam Perang Asia Pasifik

Ruang Tunggu Stasiun Barat (2012) | @kaekaha

Nama Stasiun Barat atau orang di kampung saya biasa menyebutnya sebagai Stasiun Mbarat,  stasiun kecil kelas 3 yang terletak diantara Stasiun Besar Madiun dan Stasiun Geneng (Ngawi), sepertinya tidak begitu populer bagi masyarakat Nusantara, terkecuali mungkin bagi para pelancong dan penikmat transportasi kereta api yang sering lalu lalang di seputaran DAOP 7 Madiun, Jawa Timur.

Tapi siapa sangka, stasiun kereta api bersejarah yang dibangun Belanda tepat di tengah-tengah kampung halaman tempat saya lahir dan dibesarkan tersebut, ternyata mempunyai peran sejarah cukup penting dalam konstelasi pertempuran perang Pasifik/Perang Asia Pasifik atau masyarakat Jepang lebih mengenalnya sebagai Perang Asia Timur Raya (Greater East Asia War) tahun 1937-1945 yang berakhir dengan luluh lantaknya bumi Hiroshima dan Nagasaki.

Stasiun Barat  | Widodo Groho Triatmojo

Penasaran dengan keterlibatan stasiun kecil yang pernah menjadi tempat bermain saya waktu bocah ini dalam perang Pasifik yang akhirnya menyeret Amerika ke dalam Perang Dunia ke-2, setelah Pearl Harbour dan koloni sekutu di sekitarnya dibombardir Jepang pada 7 Desember 1941? Yuk duduk manis dan simak artikelnya sampai habis ya!

Nama Barat atau Mbarat yang menempel pada nama Stasiun ini sampai sekarang sebenarnya masih menjadi misteri. Karena kosakata Barat ini tidak terafiliasi kepada nama dan istilah apapun yang berlaku di sekitar stasiun, kecuali kosakata Barat dalam beberapa tradisi lesan di kampung kami yang berarti angin.

Baca Juga :  "Kereta Apiku" dan Orang-Orang Nekat di Balik Berdirinya Pabrik Sepur di Madiun

Memang, sejak tahun 2000 nama Barat juga diabadikan menjadi nama kecamatan baru di wilayah kami sebagai hasil pemekaran kecamatan sebelumnya. Tapi tetap saja belum ada literatur rujukan yang bisa menjelaskan secara definitif sejarah asal-usul nama Barat ini. It's Ok, kita kembali ke Stasiun Barat aja ya!


Gudang Stasiun Barat (2012) | @kaekaha

Stasiun Barat Tempo Dulu

Stasiun Barat diyakini dibangun oleh Staatsspoorwegen, perusahaan kereta api pemerintahan Hindia Belanda, sepaket dengan pembangunan jalur rel kereta api yang menghubungkan Madiun-Paron (sekarang Stasiun Ngawi)-Sragen-Solo Balapan sejauh sekitar 97 km yang dibangun pada 1883-1884 dan direnovasi pada era 1930-an karena semakin padatnya aktifitas.

Kepadatan aktifitas dimaksud tidak lepas dari semakin sibuknya operasional pengangkutan bahan baku tebu dan hasil produksi gula dari PG Poerwodadie, pabrik gula yang dibangun tahun 1832 berjarak sekitar 5 km dari Stasiun Barat milik  Nederlandsche Handel Maatschapij (NHM).

Tidak hanya itu, pada dekade yang sama atau tepatnya pada tahun 1939, pemerintahan Hindia Belanda juga membangun lapangan udara khusus militer (militaire Luchvaart) baru bernama Lapangan Udara Maospati yang sekarang lebih dikenal sebagai Lanud Iswahyudi berjarak sekitar 3 km kearah Selatan setasiun Barat.

Stasiun Barat, Magetan era Hindia Belanda. Foto: KITLV

 

Keterlibatan dalam Perang Asia Timur

Sudah menjadi rahasia umum, setiap infrastruktur yang dibangun pemerintahan Hindia Belanda, umumnya  untuk dua kepentingan, yaitu untuk kepentingan militer atau ekonomi, khususnya jalur distribusi hasil dari alam yang dikeruknya, baik dari pertambangan, perkebunan, pertanian dan lain-lainnya.

Begitu juga dengan pendirian stasiun Barat yang sudah pasti dirancang jauh-jauh hari juga, setidaknya untuk mendukung operasional dua aset penting pemerintahan penjajah Hindia Belanda di sekitarnya, yaitu Pabrik Gula Poerwodadie, PG Rejosari dan Lanud Iswahyudi.

Seperti kita ketahui, karesidenan Madiun merupakan wilayah di ujung barat Jawa Timur yang tanahnya cukup subur dan cocok untuk perkebunan tebu. Karenanya, tidak heran jika kemudian kawasan ini dikenal mempunyai pabrik gula peninggalan Belanda terbanyak di Indonesia.

Uniknya, dari 8 pabrik gula yang terkonsentrasi di Madiun, Magetan dan Ngawi ini, separuh diantaranya berlokasi dekat dengan stasiun kereta api, bahkan ada juga yang hampir bersebelahan, salah satunya ya Stasiun Barat dengan PG Poerwodadie.

Lanud Iswahyudi merupakan simpul yang mempertemukan Stasiun Barat dengan aktifitas perang Asia Timur Raya, antara pasukan sekutu dengan Jepang, khususnya di seputaran tahun 1941, setelah Lanud Iswahyudi dijadikan pangkalan militer sekaligus basis tentara sekutu di Pulau Jawa.

Gerbong Angkutan Barang di Stasiun Barat (2012) | @kaekaha

Posisi dan peran Stasiun Barat cukup strategis dalam perang Asia Pasifik, khususnya bagi pasukan dan alutsista perang milik sekutu yang bermarkas di Lanud Iswahyudi, karena satu-satunya jalur suplai bahan bakar (dan bisa jadi kebutuhan lainnya juga) menuju ke pangkalan militer ini hanya bisa melalui persimpangan jalur kereta di stasiun Barat dan sudah pasti kontrol operasionalnya juga ada di dalam Stasiun Barat.

Bisa dibayangkan apa yang terjadi seandainya saat itu ada sabotase di titik ini!?

Jalur rel khusus kereta tangki bahan bakar dari Stasiun Barat ke Lanud Iswahyudi yang melewati pekarangan warga, tepat di tengah-tengah kampung kami ini, pasca kemerdekaan tetap dipakai oleh perusahaan minyak negara untuk menyuplai bahan bakar bagi alutsista tempur di Lanud Iswahyudi sampai awal 90-an dan perannya digantikan oleh armada truk tangki, tapi rel kereta bersejarah ini masih ada sampai saat ini.


Stasiun Barat aka Stasiun Magetan (2021) | Widodo Groho Triatmojo

Stasiun Barat Sekarang

Dulu, di akhir era 90-an, pernah santer terdengar isu di kampung kami kalau fungsi operasional Stasiun Besar Madiun Kota akan dipindah ke Stasiun Barat, karena lahan Stasiun Madiun akan di manfaatkan semaksimal mungkin untuk pengembangan PT. INKA, tapi sampai sekarang ternyata isu itu tidak pernah terbukti. Mungkin memang sekedar kabar dari burung kali ya!?

Tapi, karena perkembangan kebutuhan jalur kereta api, akhirnya benar-benar memaksa Stasiun Barat berubah total. Tahun 2015, bangunan lama stasiun, termasuk bangunan utama yang ikonik, gudang dan bangunan-bangunan pendukung lainnya dirobohkan tanpa sisa, karena terkena proyek penambahan jalur rel kereta.

Sedangkan bangunan baru yang menggantikan fungsi bangunan lama dibangun dengan gaya artistik modern, jauh lebih besar dan megah. Sayangnya, sama sekali tidak meninggalkan jejak arsitektur bangunan lama yang tentu saja memberi kenangan mendalam pada masyarakat sekitar, termasuk saya dan juga teman-teman masa kecil.

Baca Juga : Kronik Nostalgia Anak-anak Kereta: Kereta Api dan Ragam Budaya yang Dibentuknya

Sampai-sampai, kami para diaspora merasa kesulitan untuk mengenali perwujudannya yang sekarang lho!Jujur, sampai sekarang sebenarnya saya masih bingung mau sedih atau bahagia, melihat tampilan destinasi bersejarah Stasiun Barat saat ini.

Sekarang, Stasiun Barat yang sejak Pebruari 2019 resmi berganti nama menjadi Stasiun Magetan memang terlihat lebih berkelas, luas dan representatif untuk keperluan layanan transportasi rakyat. Dengan 4 jalur rel kereta, dimana jalur 2 untuk jalur lurus ke barat dan ke timur, jalur 3 dan 4 untuk jalur persilangan atau langsir dan jalur 1 untuk parkir, langsir dan juga menaikkan dan menurunkan penumpang,  sekarang bisa melayani penumpang dari berbagai kelas layanan, tidak hanya angkutan barang saja seperti di jaman Belanda atau sekedar kelas ekonomi jarak pendek seperti pada era sebelumnya.

Khusus pada jalur 1, dulunya jalur ini terkoneksi dengan jalur lori (decauvile) Pabrik Gula Poerwodadie sepanjang hampir 5 km untuk mengangkut tebu dan gula, tapi jalur koneksi ini tidak digunakan lagi sejak akhir 80-an, karena digantikan oleh armada truk.


Semoga Bermanfaat.

Salam matan Kota 1000 Sungai,
Banjarmasin nan Bungas!

Artikel ini juga tayang di Kompasiana pada 05 Agustus 2023  jam  20:08 WIB (klik disini untuk membaca) dan terpilih sebagai Artikel Utama plus terpilih sebagai pemenang lomba blog  CLICKompasiana (Commuter Line Community Kompasiana) dengan tema "Stasiun Bersejarah"

Commuter Line Community Kompasiana | CLICKompasiana


Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN



 

Delman Betawi dalam Pusaran Jaman

Delman Khas Betawi di Antara Antrian Bajaj| @kaekaha

Salah satu (jejak) budaya Betawi yang sampai sekarang masih eksis, lumayan masih sering terlihat wira-wiri di jalanan ibu kota adalah sejenis kereta kuda tradisional khas Betawi yang lebih dikenal masyarakat sebagai delman.

Memang sih, wira-wirinya delman di jalanan Jakarta sekarang ini, seperti di seputaran Monas atau Kota Tua tidak lagi sebagai alat transportasi umum seperti di era keemasannya di tahun-tahun 50-an, tapi sebatas melayani para wisatawan yang ingin menikmati eksotisme dua destinasi kebanggaan Jakarta tersebut dengan cara berbeda, mengelilinginya sekaligus bernostalgia dengan naik delman. Asyik yak?

Khusus di seputaran Kota Tua Jakarta, setidaknya ada 2 model delman yang bisa kita temukan, yaitu delman dengan roda besar berbahan utama kayu mirip dengan rodanya dokar dan yang kedua, delman dengan roda mobil mirip dengan cidomo kereta kuda khas dari Pulau Lombok dan sekitarnya.

Sayangnya, keberadaan sarana transportasi tradisional legendaris yang namanya diambil dari perancangnya, Ir Charles Theodore Deeleman ini, nasibnya tetap saja tidak lebih baik dari semua produk jaman berlabel "tradisional" yang sebagian besar memang dalam situasi "hidup segan mati tak mau". Begitu juga dengan delman khas Betawi ini.

Mirisnya lagi, keberadaan delman dan kereta-kereta tradisional sejenis lainnya yang masih mengandalkan tenaga kuda sebagai penariknya, seperti andong, bendi, sado, dokar dan lain-lainnya di berbagai kota di Indonesia, banyak diantaranya yang justeru melahirkan polemik di masyarakat dan juga pemerintah.

Baca Juga :  Saatnya Mengembalikan Jakarta sebagai Kota Air Terindah

Ini yang unik! Selain masalah kebersihan yang sering menjadi alasan penolakan delman, akses jalan di perkotaan juga banyak yang tidak bisa mengakomodir keberadaan mereka.

Jadi jujur saja, ketika secara tidak sengaja bertemu dengan delman khas Betawi tengah sendirian dengan berbagai pernak-pernik kelengkapannya yang khas berada diantara barisan bajaj, saat menyusuri kawasan wisata Kota Tua, Jakarta pada 2018 silam dalam rangkaian even Writingthon Asian Games, benar-benar berasa surprise!

Bagaimana tidak, ketika di Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas kota tempat tinggal saya saat ini begitu sulit menemukan kereta kuda, karena memang tidak ada tradisi itu. Begitu juga dengan nasib Dokar, kereta kuda khas kampung halaman saya di kaki Gunung Lawu yang juga semakin sulit ditemukan, di Ibu Kota Jakarta justeru ketemu sama delman. Woooow!

Mudahan ini bukan delman-delman terakhir yang mengaspal di Jakarta.


Semoga bermanfaat!

Salam matan Kota 1000 Sungai,
Banjarmasin nan Bungas!

Artikel ini juga tayang di Kompasiana pada 29 Juli 2023  jam  23:31 WIB (klik disini untuk membaca) dan terpilih sebagai Artikel Pilihan plus foto utamanya terpilih sebagai pemenang ke-2 lomba foto KOPAJA71 (Kompasianer Jakarta) dalam rangka ulang tahun Jakarta ke-496 tahun 2023.

Komunitas Kompasianer Jakarta | KOPAJA71.Dok


Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN