Selamat Ulang Tahun ke-11, Kompasiana (kompasiana)
Tepat tanggal 22 Oktober 2019 yang lalu, Kompasiana berulang tahun yang ke-11 (sebelas) tahun. Menurut artikel berjudul "Melacak Mengapa Ulang Tahun Kompasiana 22 Oktober?"
tulisan kompasianer Dwiki Setiawan yang diposting di Kompasiana pada
tanggal 23 Nopenber 2010, penetapan tanggal bersejarah itu sepertinya
didasarkan pada dua hal, yaitu platform Kompasiana yang pada hari itu, Rabu 22 Oktober 2008 memasuki versi betha dan Kompasiana wajah baru ini resmi dicantolkan ke KOMPAS.com dan akan mengisi salah satu navigasi utama situs itu.
Seperti
ditakdirkan berjodoh! Saya bergabung dengan Kompasiana juga di bulan
Oktober, tepatnya tanggal 30 Oktober atau beda 8 (delapan) hari setelah
ulang tahun Kompasiana, tapi 5 (lima) tahun setelah Kompasiana berdiri,
yaitu tahun 2013. Artinya, kalau Kompasiana ulang tahun dan umurnya
bertambah setahun begitu pula usia saya sebagai kompasianer! Berbanding
lurus dengan usia Kompasiana berbading selisih 5 (lima) tahun. Jika Usia
Kompasiana sekarang 11 (sebelas) tahun, maka usia saya sebagai
Kompasianer baru 6 (enam) tahun.
akun Kompasiana saya (kompasiana)
Menurut saya, Usia 11 (sebelas)
tahun yang dicapai Kompasiana, menjadi bukti sahih keberhasilan
manajemen Kompasiana dengan sesanti keren #BeyondBlogging-nya untuk bermain cantik sekaligus
lugas dan cerdas di segmen platform blog keroyokan yang hiruk pikuknya
selama 1 (satu) dekade terakhir begitu riuh dengan persaingan inovasi
dan benefit yang dikemas dengan cirikhas dan keunikan masing-masing
platform brand.
Sedangkan usia 6 (enam) tahun saya sebagai Kompasianer, jelas banyak memberi saya cacatan...eh, catatan maksudnya!
Kalau
memperhatikan sekian ribu wajah kompasianer yang sampai detik ini tetap
aktif dan eksis berkontribusi menulis setiap hari di Kompasiana,
sepertinya relatif sedikit yang "usianya" sebagai kompasianer diatas
lima apalagi enam tahun. Ini bagus! Artinya, regenerasi alamiah
kompasianer berjalan dengan baik.
Sedangkan saya sendiri, sebagai salah satu kompasianer yang relatif tergolong "tua" atau setidaknya termasuk estewe alias setengah tua-lah
ya, mungkin bisa dianggap sebagai anomalis. Gara-gara munculnya konsep
"cinta bertumbuh" kepada Kompasiana yang secara bertahap dan
perlahan-lahan merasuk hingga lama-kelamaan berurat dan berakar dalam
hati dan pikiran saya menjadikan kompasiana itu layaknya candu. Yah...
candu yang membuat saya semakin sulit untuk melupakan apalagi
meninggalkan Kompasiana.
logo kompasiana (kompasiana)
Kok bisa sih awet nulis di Kompasiana!? Emang dapat apa? Emang ada apanya sih Kompasiana?
Jauh
sebelum memulai menulis di Kompasiana, bahkan juga di blog pribadi,
saya sudah lebih dulu menulis di berbagai media cetak baik lokal maupun
nasional. Dari pengalaman nulis di berbagai media ini, selain
mendapatkan apresiasi berupa fulus dan juga kiriman media cetak
yang memuat tulisan saya, saya juga mendapatkan ilmu, pengalaman dan
kepuasan batin tak terhingga sabagai penulis.
Ketika dunia blogging mulai beranjak populer, saya juga ikut
"bermain" blog dengan menuangkan semua ide, gagasan, keinginan, harapan
bahkan curhatan dan juga keluh kesah saya dalam blog pribadi saya, tapi
sampai dititik ini masih belum terpikirkan untuk menjadikan blog
sebagai "sawah ladang" tempat mencari rejeki.
Blog Pertamaku
Sayang, karena
minimnya konsistensi dan kurang fokus, menyebabkan lambatnya proses
membangun blog untuk mendapatkan angka keterbacaan tinggi. Daripada
berbagai ide, gagasan dan juga pendapat yang saya tulis dengan
perjuangan ekstra tidak pernah dibaca orang, akhirnya saya memilih jalan
pintas dengan cara membuat akun di 4 (empat) platform blog keroyokan
terbesar dan terkenal di Indonesia sekaligus (dua milik grup televisi
swasta nasional, satu milik majalah terkenal dan satunya lagi adalah,
Kompasiana).
Sejak saat itu, selain tetap menulis di media cetak
saya mulai keranjingan menulis dan mempostingnya di 4 (empat) platform
blog keroyokan terbesar dan terkenal di Indonesia tersebut secara
bergantian. Dari sinilah awal mulanya benih-benih cinta dan sayangku
pada Kompasiana mulai bertumbuh.
Persentuhan saya dengan 4 (empat)
platform blog keroyokan ini secara bersamaan, mau tidak mau, sengaja
tidak sengaja, menuntun saya untuk membandingkan/mengkomparasi kekuatan
dan kelemahan dari ketiga platform blog keroyokan tersebut.
Akhirnya,
karena beberapa sebab, termasuk karena bubarnya salah satu dari 4
(empat) platform blog keroyokan tersebut, juga cara pengoperasian
platform blognya yang sangat mudah dan banyaknya lomba menulis blog
untuk menguji kemampuan dan kualitas menulis, saya lebih memilih fokus
untuk menulis di Kompasiana. Inilah awal mula cinta dan sayang saya
kepada Kompasiana mulai bertumbuh.
Piagam dan plakat juara (dokpri)
Cinta dan sayang itu terus
terawat walaupun tidak setiap hari saya sanggup menulis di Kompasiana.
Balada cinta bertumbuh saya pada Kompasiana seperti menemukan momentum
terbaiknya ketika 2 (dua) tahun berselang, setelah karya tulisan saya
yang berjudul "Membangun Ruang Publik Berbasis (Budaya) Sungai Ala Kota Banjarmasin"secara
tidak terduga meraih juara ke-2 (dua) pada lomba blog dengan tema "Hari
habitat dunia 2015" yang diselenggarakan oleh Kementerian PUPR dengan
hadiah uang tunai 7,5 juta dan jalan-jalan ke Bali. Woooow nggak boleh
ngiri ya!
Momentum cinta bertumbuh itu semakin berurat, ketika jumlah artikel
saya berada di angka 142, dimana tanpa saya duga sebelumnya, saat itu
akun saya mendapat kepercayaan tertinggi dari admin Kompasiana, baik
terkait latar belakang bio saya, track record dan juga kualitasnya, yaitu anugerah berupa centang biru.
Bagi
saya, contreng biru disamping kanan nama akun saya tersebut, merupakan
salah satu titik balik dari perjalanan panjang saya di dunia tulis
menulis. Contreng biru tidak hanya menjadi wujud kepercayaan sekaligus
penghargaan tertinggi kompasiana kepada kualitas saya dan karya tulisan
saya, tapi juga titik balik untuk sebuah keyakinan bahwa dengan menulis
akan mempertemukan kita dengan banyak keajaiban, termasuk semakin
berurat dan berakarnya cinta bertumbuh dan rasa sayang saya kepada
Kompasiana.
Semakin bertumbuhnya cinta dan sayang saya kepada Kompasiana menemui
kulminasinya ketika tahun lalu, saat ulang tahun Kompasiana ke-10
(sepuluh) sebagai penanda 1 (satu) dekade kehadiran Kompasiana, dalam
acara Kompasianival nama saya masuk dalam nominasi kompasianer The Best Citizen Jurnalism.
Akankah, di ajang Kompasianival 2019 atau #11Tahun Kompasiana ini, cinta bertumbuh saya kepada Kompasiana bisa menemukan cinta sejatinya? Semoga!
Jejak Gemilang Pencapaian ULM
Sebagai Universitas negeri tertua dan terbesar di Pulau Kalimantan,Harat-nya reputasi Universitas Lambung Mangkurat (ULM), Banjarmasin tidak perlu diragukan lagi
Secara faktual, di usianya yang ke-61 tahun 2019 ini, dibawah komando "Sang Matematikawan" Prof Sutarto Hadi yang tahun 2018 memulai periode kedua kepemimpinannya itu, ULM terus bergerak, bertransformasi menjadi universitas terkemuka dan berdaya saing terkhusus di bidang lingkungan lahan basah.
Didukung penuh dengan kekuatan 1200-an tenaga pengajar aktif yang 320-an diantaranya berkualifikasi Doktor (S3) plus 49 guru besar, ULM terus mendorog line up dosen muda potensialnya untuk terus meningkatkan kualifikasinya sampai level pendidikan tertinggi.
Sebagai bentuk dukungan, ULM tidak ragu-ragu untuk berinvestasi dana sampai puluhan miliar rupiah untuk aktifitas riset/penelitian sebagai upaya peningkatkan kualitas Sumber Daya manusia (SDM) sekaligus ikhtiar untuk menambah kualifikasi dosen bergelar Doktor maupun profesor, guna mendorong akselerasi strategis di bidang akademik, penelitian, pengabdian masyarakat, publikasi dan Inovasi.
Menristekdikti,
meresmikan gedung baru ULM
(Klikkalsel)
Selain terus memperkuat line up di jajaran pengajar, ULM juga terus melengkapi berbagai sarana dan prasana belajar mengajar berikut kelengkapan pendukungnya.
Teraktual, bersama 7 (tujuh) universitas negeri di Indonesia lainnya yang tergabung dalam E-Learning IDB Project 7in1 (The Development and Upgrading of Seven Universities in Improving The Quality and Relevance of Higher Education in Indonesia), yaitu Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Tanjungpura (UNTAN, Pontianak), Universitas Negeri Surabaya (UNESA), Universitas Negeri Gorontalo (UNG), Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT, Manado) dan Universitas Syiah Kuala (UNSYIAH, Banda Aceh), ULM memulai sistem perkuliahan jarak jauh (distance learning) berbasis online yang sebelumnya digagas pemerintah untuk meningkatkan SDM dan memberikan akses pendidikan bagi seluruh lapisan masyarakat.
Untuk mendukung semua aktifitas pendidikan, termasuk distance learning tersebut, ULM membangun 12 (dua belas) gedung baru yang dikerjakan sekitar 2 (dua) tahun sejak 2017 dengan rincian 10 (sepuluh) gedung baru di kampus Banjarmasin, yaitu Fakultas Ekonomi, Laboratorium Sains dan Sosial, Laboratorium Sains dan Matematika, Laboratorium Sins dan Integrasi, Gedung Serba Guna, FISIP, Fakultas Hukum, S2 Fakultas Ekonomi.
Sedangkan 2 (dua) gedung baru lainnya dibangun di area kampus Banjarbaru, yaitu Auditorium dan Sport Center seluas 1.000 meter persegi yang secara keseluruhan menghabiskan dana sebesar 384,7 miliar rupiah hibah dari Islamic Development Bank (IsDB).
Gedung auditorium ULM yang baru dibangun (kanalkalimantan.com)
Terbaru, untuk mengangkat harkat dan martabat masyarakat di Pulau Kalimantan melalui pendidikan, ULM telah mengajukan proposal pendirian program studi doktoral atau strata 3 (S3), yaitu untuk proram studi kedokteran, lingkungan, Ekonomi Pertanian, Hukum, Studi Pembangunan, Ilmu Menejemen dan Ilmu Pendidikan.
Diluar fasilitas pendukung proses belajar mengajar, ULM juga membangun prasara pendukung yang tidak berhubungan langsung dengan proses belajar mengajar, salah satunya adalah media center yang diharapkan dapat memperkuat komunikasi dengan dunia luar kampus, khususnya untuk mempermudah sosialisasi berbagai agenda, program dan kegiatan kepada masyarakat luas.
Selain itu, sebagai bentuk komitmen dan dukungan kepada difabel, ULM tidak hanya memberi kesempatan yang sama kepada anak difabel untuk mendapatkan pendidikan tinggi di ULM, tapi juga terus melengkapi dan memperbaharui semua fasilitas penunjang aktifitas mahasiswa difabel di lingkungan kampus ULM.
Ilustrasi disabilitas dapat masuk kuliah
(beritabanjarmasin.com)
Untuk memaksimalkan komitmen tersebut, ULM membentuk Unit Layanan Difabel (ULD), yaitu sebuah wadah untuk menghimpun sekaligus memberdayakan relawan (volunteer) yang siap membantu aktifitas mahasiswa difabel (yang membutuhkan) selama di kampus, termasuk memberi edukasi empatik kepada mahasiswa lain terkait kepedulian dan berbagai teknis bantuan kepada teman-teman mahasiswa difabel saat beraktifitas di kampus ULM.
Hebatnya, ULD di ULM ini merupakan satu-satunya di Pulau Kalimantan! Keren kan!?
Diantara "prestasi" ULM terbaru yang paling aktual dan membanggakan adalah saat mutu proses kependidikan di ULM berikut semua aspek yang meyertainya diakui oleh Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) yang akhirnya mengganjar ULM dengan predikat akreditasi A pada awal tahun 2019.
Akreditasi A yang diraih ULM, sudah pasti semakin memperkuat posisi brand image sekaligus nilai tawar ULM dihadapan stakeholder, terlebih bagi para alumninya di pasar dunia kerja dan usaha. Karenanya, sekarang jajaran manajemen ULM berikut para alumninya tidak perlu lagi merasa inferior, saat berinteraksi maupun saat berkompetisi dengan berbagai perguruan tinggi lain di Indonesia.
Dies Natalis ke-61 tahun Universitas Lambung Mangkurat (ulm.ac.id)
Eksistensi & Aktualisasi ULM di Era Disrupsi Teknologi
Pencapaian akreditasi A yang diraih ULM bukanlah tujuan akhir dari 61 (enam puluh satu) tahun perjalanan panjang ULM. Tapi justeru menjadi titik balik, titik awal ULM memulai menapak kelas jalan yang lebih tinggi, lebih berat dan tentunya lebih menantang dijaman revolusi industri 4.0.
Gedung Pasca Sarjana ULM (Dok.pribadi)
Untuk tetap bisa bertahan (eksis) di level terbaiknya, maka ULM harus mempunyai "peran strategis" yang bisa dirasakan manfaatnya secara langsung oleh masyarakat disekitarnya. Untuk itu, ULM harus open minded, terbuka dan membuka diri untuk mengetahui kebutuhan riil masyarakat banua disamping tetap harus bergerak, berinisiasi, berkreasi, berinovasi dan kalau perlu berafiliasi atau berkolaborasi dengan berbagai nomenklatur sosial budaya masyarakat baik di level internasional, nasional maupun lokal banua yang terus berubah dan berkembang sangat cepat . Sehingga secara naluriah akan melahirkan pola Simbiosis Mutualismaatau jalinan interaksiyang sangat kuat dan strategis dengan prinsip saling menguntungkan antara ULM dan masyarakat banua.
Jika membaca kronika perjalanan ULM yang begitu dinamis dan penuh warna (setidaknya dalam satu dekade terakhir), pilihan visioner ULM menjadi universitas terkemuka dan berdaya saing, terkhusus di bidang lingkungan lahan basah merupakan sebuah pilihan yang tepat, bahkan bisa dibilang sebagai sebuah keniscayaan, karena memang itulah identitas banua kita dan pengembangan pemanfaatan lahan basah secara maksimal, efektif dan efisien merupakan kebutuhan masyarakat banua.
Selanjutnya, tinggal mempertajam sekaligus menterjemakan visi yang telah dituangkan dalam SK Rektor nomor 263/UN/KP/2015, tertanggal 27 Februari 2015 tersebut kedalam sebuah rencana kerja yang komprehensif, compatible, realistis, terukur, dan relatif mudah untuk dieksekusi.
Masjid Kampus ULM, Baitul Hikmah
(Dok.pribadi)
Realitas Simbiosis Mutualisma ULM dan Masyarakat Banua!
Berdasarkan data profil ULM di Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDDIKTI) milik Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, hasil pelaporan tahun 2018/2119, jumlah total mahasiswa ULM adalah 33.917 orang.
Dari jumlah total mahasiswa yang hampir mencapai empat puluh ribua-an tersebut, sebagian besar pastilah Urang Banua Kalimantan Selatan atau setidaknya Urang Borneo alias Kalimantan.
Dari data tersebut, ada pesan tersirat dari masyarakat banua kepada ULM yang bisa kita baca bersama, yaitu betapa besarnya kepercayaan dan harapan Urang Banua terhadap reputasi gemilang ULM!
Masyarakat banua memang sangat membutuhkan uluran tangan ULM sebagai mitra terdekat sekaligus terbaik untuk membangun kesejahteraan peradaban masyarakat banua!
Sebagai lembaga pendidikan negeri tertua, terbesar dan ternama di Kalimantan, jaminan kualitas ULM pasti didukung dengan kekuatan legal formal, bergaining power, SDM, kestabilanpendaanaandan sudah pasti pengalaman. Inilah akar dari kepercayaan dan harapan besar yang ditanamkan masyarakat banua kepada ULM.
Untuk membulatkan lagi kepercayaan, dan harapan besar masyarakat banua kepada ULM, setidaknya ada dua "kebutuhan utama" masyarakat banua yang bisa dipenuhi oleh ULM kedepannya, yaitu
Memasyarakatkan optimasi teknologi terapan untuk pemanfaatan lahan basah yang benar-benar bisa diaplikasian dan dimanfaatkan masyarakat untuk meningkatkan perekonomian regional
Formalisasi studi, konservasi dan aktualisasi pendidikan peradaban seni dan budaya Kalimantan.
Untuk point ke-1, karena sudah berjalan, bahkan secara khusus diabadikan dalam visi ULM, maka harapannya adalah semua upaya ULM untuk "menggarap" potensi besar lahan basah banua, benar-benar bisa memberi manfaat secara maksimal untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat banua Kalimantan Selatan.
Sedangkan untuk point ke-2, ini yang spesial! Karena benar-benar berangkat dari kegelisahan level akar rumput yang lenguhannya relatif jarang bisa sampai apalagi bisa tembus ke dinding tebal pemangku kebijakan di level atas.
Seni Tari Dayak khas Kalimantan (dokpri)
Kalimantan Membutuhkan Lembaga Pendidikan Formal untuk Seni dan Budaya
Pulau Kalimantan dikenal sangat kaya dengan beragam adat istiadat, seni, budaya dan bahasa khas dari berbagai masyarakat adatnya yang bersifat indigenous (asli) dan endemic (lokal).
Dalam perjalanannya, berbagai keragaman ini ada yang bisa bertahan, bahkan bisa tumbuh dan berkembang, baik dengan cara single fighter / mandiri maupun dengan cara akulturasi dengan ragam yang lain, tapi tidak sedikit pula yang harus tumbang, hilang dan lenyap karena kalah dalam seleksi alam. Ini point-nya!
Kekayaaan ragam adat istiadat, seni, budaya dan bahasa khas dari berbagai masyarakat adat di Kalimantan, sejauh ini belum mempunyai "penjaga" yang secara komprehensif dengan prinsip efektif dan efisien bisa mempertahankan, syukur-syukur bisa mengembangkan atau setidaknya bisa mendokumentasikannya secara benar sesuai standar dengan latar konsep yang bisa dipertanggungjawabkan.
Sejauh ini, ragam adat istiadat, seni, budaya dan bahasa khas dari berbagai masyarakat adat di Kalimantan "hampir seluruhnya" dipertahankan dengan strategi tradisional yang merupakan salah satu ciri pelestarian seni budaya paling primitif dan kuno, yaitu dengan cara dituturkan dan diturunkan secara alamiah tanpa ada campur tangan dari metode, konsep ataupun tahapan-tahapan pembelajaran layaknya proses edukatif lainnya.
Kain Sasirangan khas Banjarmasin (dokpri)
Untuk itu, sepertinya Kalimantan sangat membutuhkan semacam lembaga pendidikan formal yang bisa menjadi pusat studi, sekaligus konservasi dan revitalisasi peradaban budaya asli Kalimantan yang berkedudukan di Kalimantan
Sebagai pembanding, budaya masyarakat Bali di Pulau Bali, masyarakat Sunda di Jawa Barat atau budaya masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat yang semuanya bersifat homogen (tunggal) dan mempunyai sebaran budaya relatif terbatas hanya di lingkungan propinsi masing-masing, sejak lama sudah mempunyai lembaga pendidikan formal yang sengaja dibangun pemerintah sebagai pusat pembelajaran (studi), pendidikan perlindungan (konservasi) sekaligus tempat menggaungkannya kembali ke masyarakatnya. Bila di Bali ada ISI Denpasar yang berdiri sejak 1967, di Jawa Barat ada ISBI Bandung yang berdiri sejak 1968 dan di Sumatera Barat ada ISI Padangpanjang yang berdiri sejak 1965. Kapan di Kalimantan berdiri ISBI Borneo?
Memang semua lembaga pendidikan seni dan budaya di Indonesia, semuanya berdiri mandiri alias lepas dari Universitas negeri yang ada di daerah masing-masing. Tapi sebagai upaya "tanggap darurat" sekaligus upaya rintisan, sepertinya tidak ada salahnya jika ULM mulai menginisiasi dibentuknya wadah representatif untuk studi seni dan budaya khas Kalimantan yang heterogen, ada Dayak, Banjar, Kutai dan juga budaya perpaduan hasil proses akulturasi diantara mereka dan juga para pendatang lainnya.
Sama seperti entitas budaya lain yang ada di dunia, mereka juga sangat menginginkan eksistensi, sehingga juga memerlukan ruang studi/penelitian, (pendidikan) konsevasi, revitalisasi dan juga aktualisasi segera! Entah dengan membentuk program studi, fakultas atau juga semacam politeknik-nya seni dan budaya!
Kenapa ULM? Karena ULM merupakan satu-satunya lembaga di Kalimantan Selatan, mungkin juga di Pulau Kalimantan yang mempunyai semua piranti pendukung yang diperlukan untuk mewujudkan mimpi berdirinya wadah yang reperesentatif untuk studi, sekaligus wadah (pendidikan) konsevasi, revitalisasi dan juga aktualisasi seni dan budaya Kalimantan yang heterogen. Ini pilihan paling realistis, setidaknya untuk saat ini.
Masyarakat banua pasti semakin bangga kepada ULM, jika kedepannya bisa menjadi pusat dari studi, (pendidikan) konservasi, revitalisasi sekaligus aktualisasi dari 2 (dua) identitas wajah banua, yaitu optimasi IPTEK, terkhusus pemanfaatan potensi lahan basah yang melimpah di Kalimantan dan peradaban budaya khas Kalimantan.
Bagaimana ULM? Mau menerima harapan dan tantangan Urang Banua?
Berita Bahagia di Hari Bahagia Deg! Jantung saya seperti berhenti berdetak untuk sesaat, ketika membaca pesan singkat yang baru saja masuk ke HP saya dari sebaris nomor yang tidak saya kenal. Dari isi pesannya, pemilik nomor mengaku dari majalah National Geographic Indonesia selaku tim official dari kontes foto (lomba) Pasar Rakyat
“Selamat sore, Kartika Eka H, Saya Harry… dari National Geographic Indonesia. Selamat anda menjadi salah satu pemenang kontes foto #PasarRakyat kategori Smartphone.
Mohon melakukan konfirmasi data diri berupa nama lengkap, no telp (lebih dari 1), foto kopi KTP & NPWP dan file foto highrest beserta keterangan nama pasar dan lokasi pasar. Data dikirimkan via email ke harry…@gramedia-majalah.com dan m.nas…@nationalgeographin.co.id”
NGI Edisi Juli 2016 (Grafis : nationalgeographic.co.id)
Antara percaya dan nggak percaya, saat itu saya terbengong-bengong sendirian, nggak tahu mau ngapain!? Tiba-tiba ponsel saya berbunyi dan di layar muncul nomor telepon asing dengan kode dari Jakarta (021), tanpa pikir panjang telepon langsung saya angkat. Benar dugaan saya, dari seberang seseorang memperkenalkan diri dari majalah National Geographic Indonesia dan menyampaikan berita yang isinya kurang lebih sama dengan isi SMS yang baru saja saya baca.
Semuanya semakin jelas, setelah saya membuka email dari official majalah National Geographic Indonesia yang memuat link pengumuman pemenang dari situs resmi kontes foto #PasarRakyat kerjasama antara Bank Danamon dengan situs Fotokita milik majalah National Geographic Indonesia.
Hati saya semakin berbunga-bunga ketika membuka link pengumuman pemenang, disitu terpampang foto hasil karya saya dengan tema kearifan lokal masyarakat Banjar berupa “akad jual beli” dalam transaksi jula beli masyarakat dengan setting Pasar Terapung Lok Baintan di Kecamatan Sungai Tabuk Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan dengan predikat sebagai juara 1 untuk kategori smartphone dan yang paling seru, foto-foto juara ini akan dimuat dalam segmen khusus di majalah National Geographic Indonesia. Hmmmm... siapa yang tidak senang dan bangga, karya foto dimuat majalah sekelas National Geographic Indonesia? Gak boleh ngiri ya....he..he...he...
Alhamdulillah! Saya langsung sujud syukur saat itu juga. Karuan saja, apa yang saya lakukan sukses menjadi tontonan beberapa pasang mata yang kebetulan berada di sekitar saya. O ya, kebetulan saat itu saya sedang mengantri beli obat di apotik salah satu Rumah Sakit Ibu dan Anak di Kota Banjarmasin, tempat istri saya yang beberapa saat lagi menjalani operasi bedah Caesar kelahiran anak kami yang ke-4.
Berkah Hobi “Njepret”
ujur! Saya sendiri awalnya hampir tidak percaya dengan berita kemenangan saya di ajang tahunan yang diselengarakan oleh duet Bank Danamon dengan situs Fotokita milik majalah National Geographic Indonesia ini.
Betapa tidak, ini merupakan moment pertama kali saya bisa ikut secara sadar dalam kompetisi foto yang serius dan beneran (emang kemarin-kemarin ikutan lomba fotonya sambil pingsan mas…!? He…he…he…), apalagi menurut release panitia, total foto yang masuk untuk event tahun 2016 ini sebanyak 7000-an foto untuk 3 (tiga) kategori yaitu, wartawan (DSLR), umum (mirrorless/kamera saku) dan smartphone, woooow! Sudah gitu salah satu jurinya adalah Arbain Rambey. Siapa fotografer negeri ini yang nggak kenal sama fotografer senior yang satu ini!?
Saya sangat mengapresiasi kontes #PasarRakyat kerjasama antara Bank Danamon dengan situs Fotokita milik majalah National Geographic Indonesia yang memberi kesempatan semua fotografer berbagai kelas dan kemampuan untuk bertarung secara fair melalui 3 kategori yang disediakan.
Rasanya, memang sudah saatnya dunia fotografi mengikuti petuah "Jangan lihat siapa yang bicara, tapi lihatlah isi dari bica... Eh, maaf! Maksud saya, "Jangan lihat siapa yang memfoto! Tapi lihat hasil fotonya!" Sepakat?
Saya menganggap, semua merupakan berkah dari hobi saya suka njepret moment-moment yang saya anggap menarik (terutama tema humaniora dan landscape alam) dengan kamera ponsel, kapanpun dan dimanapun saya berada, kecuali di kamar mandi ya….he…he…he… Apalagi, sejak fitur kamera yang ditanam dalam ponsel, khususnya smartphone yang beredar di pasaran saat ini, hampir semuanya mempunyai kemampuan menangkap moment gambar dengan kemampuan terbaiknnya, resolusi tinggi plus berbagai fitur canggih lainnya seperti geo-tagging, touch focus, face detection, panorama, HDR dll yang tentunya memberi kemudahan bagi pengguna untuk mengabadikan berbagai moment menarik yang ada di depan mata dengan cara yang lebih mudah, tapi hasilnya luar biasa indah. Mau?
Perlunya Bank Foto Pribadi
Hobi saya njepret saebenarnya sudah ada sejak saya dalam kandungan ibu saya! Kalau nggak percaya coba cek deh catatan kandungan ibu saya saat hamil saya! (Kalau masih ada ya di dukun bayi di lereng Gunung Lawu…he…he…he…).
Bagi saya, njepret berbagai moment menarik yang ada di depan mata, sebenarnya termasuk hobbi akut lho! Soalnya bukan lagi sekedar kewajiban apalagi iseng semata, tapi sudah menjadi kebutuhan lahir dan batin!
Dimuat NGI Edisi Juli 2016 (Foto : Koleksi pribadi)
Menjadi kebutuhan lahir, karena sejak dalam kandungan saya sudah hobi njepret! he..he..he...! Bukan, bukan! Begini, saya memerlukan berbagai moment menarik dalam bentuk gambar karena hobbi saya yang lain, yaitu menulis! Selain menulis untuk aktifitas ngeblog, saya juga hobi dan mempunyai aktifitas menulis di beberapa surat kabar, majalah baik lokal maupun nasional baik online maupun cetak. Lha, kalau tulisan di blog, koran atau majalah tidak ada ilustrasi gambar pendukung, kan sama dengan menyiksa pembacanya! Apalagi kalau tulisan tentang pariwisata!? Betul...?
Jadi, fungsi hasil jepretan kamera ponsel, bagi saya memberi dua fungsi utama sebagai sumber inspirasi untuk menulis sekaligus sebagai bumbu pelengkap renyahnya tulisan. Syukur Alhamdulillah! kalau ada lomba atau kontes foto dan kebetulan stok fotonya saya punya, seperti kontes foto #PasarRakyat diatas. Ternyata ada berkah rejeki dari hobi njepret!
Karya foto dimuat di koran lokal
Sedangkan untuk kebutuhan batin saya kira berbanding lurus dengan kepuasan kita ketika tulisan yang juga berisi ilustrasi gambar hasil jepretan kita, ternyata diapresiasi banyak orang apalagi bisa memberi manfaat dengan menginpirasi pembacanya. Selain dapat duit, juga dapat pahala lho! Insha Allah...
Puas? Belum, karena saya tidak akan pernah puas dengan hasil karya foto saya! Saya akan terus berburu moment-moment menarik lainnya,
Yuk lebih sering njepret! Biar feeling semakin terasah dan berkahnya semakin lengket....
“Kok bisa, di Kalimantan panas!?” “Katanya banyak hutan!?” “Katanya paru-paru dunia!?” “Mana yang benar bro!?”
Begitulah
kira-kira respon beberapa teman, sabat dan kerabat, terutama yang
tinggal di luar Pulau Kalimantan, terkhusus lagi di Pulau Jawa, ketika
mengomentari artikel-artikel saya yang dibagian awalnya biasa saya
selipkan berbagai feature terkaiteksotika alam, adat istiadat serta budaya khas masyarakat Banjar berikut realitassosial yang menyertainya.
Memang
benar, Kalimantan banyak hutan, Kalimantan paru-paru dunia! Begitu juga
iklim udara Banjarmasin yang panas! Semua benar! Lho, kok bisa nggak
nyambung!
Segarnya rimbun simbar menjangan (dokpri)
Begini son!
Pulau Kalimantan itu luas bahkan sampai sekarang masih tercatat sebagai pulau terluas ke-3 di dunia. Menurut Greenpeace, sepuluh tahun lalu luas tutupan hutan di Pulau Kalimantan seluas 25,5 juta hektar.
Hutan
yang biasa kita kenal sebagai hutan hujan tropis ini punya peran
penting dalam menjaga stabilitas iklim dunia, sehingga akhirnya dunia
menyebutnya sebagai paru-paru dunia.
Sedangkan kota
Banjarmasin, kota tua yang terletak di sudut tenggara Pulau Kalimantan
ini, lokasinya tepat berada di delta Sungai Barito, salah satu sungai
terbesar dan terpanjang di Kalimantan dan juga Indonesia. Sebagai kota delta yang sudah pasti berada di dataran rendah, rata-rata suhu udara permukaannya berkisar antara 26-33 derajat plus kelembaban udara yang cukup tinggi.
Uniknya
lagi, rata-rata ketinggian daratannya cukup fantastis, yaitu antara
60-80 cm dibawah permukaan air laut. Situasi topografis inilah yang
menyebabkan daratan Kota Banjarmasin didominasi oleh kantong-kantong
lahan basah berupa rawa-rawa Lebak dan sungai. Berangkat dari fakta
inilah lahir julukan Kota 1000 Sungai untuk Kota Banjarmasin.
Keberadaan
lahan basah yang mendominasi sebagian besar wilayah Kota Banjarmasin
ini, memberi kontribusi besar terhadap panas dan tingginya kelembaban
udara Kota Banjarmasin.
Susah membedakan daratan dan perairan di Banjarmasin (dokpri)
Kok bisa!?
Begini logikanya! Berbeda dengan daratan yang cepat menyerap panas dan cepat melepas panas, sifat air sebaliknya, lambat menyerap panas dan lambat pula melepas panas. Ini yang terjadi di Banjarmasin.
Jadi,
stabilnya panas suhu udara di Kota Banjarmasin pada siang hari dipicu
oleh dua sumber panas sekaligus, yaitu sinar matahari yang tidak
terfilter oleh tutupan pepohonan dan pelepasan panas secara perlahan
oleh air yang menggenangi sebagian besar daratan Kota Banjarmasin
(logika mudahnya, Kota Banjarmasin seperti berada di atas bejana perebus
air yang direbus di tempat terbuka di siang hari bolong! Kebayang kan gimana rasanya... he... he... he...!).
Puncak
pelepasan panas dari perairan darat ini akan terjadi ketika matahari
mulai menghilang atau ketika malam mulai tiba. Jadi jangan dikira bila
malam hari datang suhu udara Kota Banjarmasin serta merta akan ikut
turun! Yang terjadi Justru sebaliknya, semakin gerah dan pengap.
Selain
itu, minimnya tegakkan vegetasi tanaman hijau karena keterbatasan lahan
dan rendahnya kepedulian masyarakat akan pentingnya tanaman hijau
sebagai produsen udara segar yang sangat diperlukan makhluk hidup,
ditengarai juga berperan memperlambat turunnya suhu panas daratan Kota
Banjarmasin.
Termasuk
juga luasan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kota Banjarmasin yang masih belum
bisa memenuhi amanat UU No.26 tahun 2007, khususnya pasal 29 yaitu 30%
dari total luas wilayah.
Hutan dalam Pohon model curah (dokpri)
Kesegaran hijau daun dari
pepohonan tidak hanya meneduhkan dan menyejukkan mata saja, tapi juga
berfungsi sebagai penyerap CO2 sekaligus produsen O2 plus sebagai filter
dari tajamnya tusukan sinar matahari langsung di siang hari yang
terkadang bisa sampai menusuk tulang! ...he...he... Hiperbol ya...
Itulah
realita Pulau Kalimantan kita dan Kota Banjarmasin kita, Kota 1000
Sungai yang memang panas dan lembab, apalagi pas masuk bulan kemarau
seperti saat ini, siang panasnya menggigit, sampai menjelang tengah
malam biasanya panas dan gerah, tapi setelahnya sampai menjelang
matahari terbit ganti dinginnya cuaca yang menggigit.
Hutan dalam Pohon, mix model (dokpri)
Cara Sederhana Menghijaukan Lingkungan Bertolak dari fragmentasi "panas" ala Kota 1000 Sungai seperti diatas plus berbagai kendala lingkungannya untuk menghijaukan kota, memancing munculnya ide-ide segar untuk menyegarkan kota dari berbagai kalangan.
Salah satunya adalah cara sederhana yang mulai saya kembangkan secara mandiri di lingkungan Komplek tempat tinggal kami, yaitu kreasi “hutan dalam pohon”. Sekali lagi, “hutan dalam pohon” bukan sebaliknya ya!
Kalau pohon dalam hutan itu sih sudah biasa, memang sudah tempatnya. Tapi kalau “hutan dalam pohon”, ini yang akan menambah kesejukan serta kesegaran mata kita! Penasaran!? “Hutan dalam pohon” merupakanteknik
sederhana menambah luas penampang hijauan daun dengan memanfaatkan
tegakan berbagai pohon yang tumbuh di lingkungan sekitar yang bermanfaat
untuk menambah kesejukan serta kesegaran mata, menambah potensi
produksi O2 yang sehat sekaligus memaksimalkan penyerapan CO2 di
lingkungan tempat tinggal perkotaan. SemakinPenasaran!?
Hutan dalam Pohon, Single model (dokpri)
Begini caranya!
Di rumah saya yang tanpa halaman, ada pohon ketapang (Terminalia catappa) yang tumbuh sendiri di sela-sela dinding pagar dengan selokan, pohon ketapang inilah obyek trial dari kreasi “hutan dalam pohon” edisi pertama.
Awalnya
saya menempelkan atau lebih tepatnya menaruh beberapa batang tanaman
anggrek di sela-sela dua batang pohon ketapang , jadi seolah-olah batang
anggrek dan akarnya seperti dijepit oleh kedua batang ketapang tadi.
Eh... lama-kelamaan, lha kok akar dan batangnya tumbuh semakin banyak,
bahkan akhirnya mengeluarkan bunga, putih kecoklatan yang indah. Jujur,
saya sama sekali tidak memperlakukan mereka secara istimewa lho!
Saking
seneng, bangga dan semangatnya melihat bunga anggrek pertama bisa
sampai berbunga, akhirnya saya memindahkan lagi sekitar empat jenis
tanaman anggrek lain yang entah apa nama dan jenisnya, sekaligus saya
taruh diatasnya. Kali ini,
tanaman anggrek saya pindahkan dengan rumahnya alias tempat dia nempel,
yaitu batang dalam tanaman pakis yang sudah di gergaji berbentuk
kotak-kotak.
Anggrek pertama (dokpri)
Di tempat asalnya, tanaman
anggrek saya seperti hidup segan mati tak mau! Alhamdulillah, ditempat
yang baru, saya ikat di sela-sela cabang batang pohon ketapang hidupnya
seperti lebih terjamin, terus mengeluarkan cabang baru dan
ujung-ujungnya terus berbunga dan berbungaaaaaa! Waduuuuh, kalau sedang
berbunga rasanya nggak mau kemana-mana deh...ingin memandangnya terus!
Mulai
dari sini, saya melihat ada perubahan dilingkungan tempat tinggal kami.
Sejak masing-masing tanaman anggrek di pohon mulai mengeluarkan
bunganya baik secara bersamaan maupun bergiliran, banyak tetangga bahkan
orang yang lewat sering berhenti di bawah pohon ketapang di depan rumah
saya yang kebetulan sangat rindang karena bentuk susunan batang tempat
tumbuh daunya yang seperti payung raksasa.
Apalagi sejak diatas
tanaman anggrek itu saya tambahkan lagi “koleksi” baru, beberapa
bongkahan tanaman “unik dan eksotis” simbar menjangan (Platycerium bifurcatum) dan Kadaka (Asplenium nidus) beberapa lama kemudian.
Ada
yang sekedar berteduh sesaat karena kepanasan sambil selfie, ada juga
yang memang berhenti ingin melihat bunga anggrek yang kebetulan sedang
berbunga dengan warna ungu yang cantik, bahkan ada juga paman penjual
pentol dan tukang sol sepatu yang hampir tiap hari "ngetem" disitu beberapa saat sambil menunggu pelanggan.
simbar menjangan (Platycerium bifurcatum)
Jika kebetulan bertemu saya,
diantara mereka ada yang bertanya tentang bunga-bunga anggrek yang
tumbuh subur di pohon ketapang tersebut. Sebagian besar pertanyaan
mereka adalah nama dan jenis anggrek tersebut plus pengaruh posisi hidup mereka yang menempel di pohon inang (tanaman epifit) terhadap kehidupan pohon inangnya! Hayo apa kira-kira jawabannya ya..?.
Kalau
pertanyaan terkait nama dan jenis tanaman anggreknya, jelas saya tidak
begitu tahu jawaban detailnya. Kalau untuk pertanyaan kedua, terkait
kehidupan tanaman epifit yang menempel pada inang sih Insha Allah tidak
menggangu tanaman inangnya. Sebagian besar mereka bertanya, kalau di
tempelkan di pohon Mangga apakah pohon mangganya tetap bisa berbuah
secara normal? Jawaban saya.. Insha Allah! he... he... he....
Kadaka (Asplenium nidus)
Alhamdulillah
setelah hampir setahun, kedua tanaman ini tidak hanya sekedar semakin
membesar dan menghijau, tapi ternyata juga beranak pinak menjadi banyak.
Bahkan yang membuat saya heran adalah munculnya tanaman epifit
paku-pakuan liar yang ikut tumbuh di dalam rumpun.
Alhamdulillah, sekarang saya mendapatkan banyak manfaat dari kreasi “hutan dalam pohon” di depan rumah.
Selain
menambah pasokan O2 yang baik untuk kesehatan warga di lingkungan
tempat tinggal saya (meskipun saat ini mungkin belum signifikan), rumpun
hijau segar di bagian batang pohon ketapang dan munculnya bunga-bunga
warna-warni dari 5 jenis anggrek berbeda yang tertempel disitu ternyata
selain bikin adem dan meneduhkan di mata dan fikiran juga menginspirasi
banyak tetangga saya untuk membuat kreasi yang sama.
Sejak
saat itu, beberapa tetangga bahkan orang yang lewat di depan rumah mulai
ada yang meminta batang anggrek untuk ditempel di pohon peneduh di
rumah masing-masing dan sejak saya membaca tren positif dari konsep “hutan dalam pohon” yang saya ujicoba, saya juga mulai mempersiapkan
pembibitan untuk memperbanyak tanaman, terutama untuk anggrek karena
relatif paling mudah dibanding jenis paku-Pakuan yang lain.
Untuk
keperluan pembibitan, saya memanfaatkan batang-batang tua anggrek yang
sudah berbunga dan tidak produktif lagi yang biasanya ditandai dengan
mulai tumbuhnya perakaran di pangkal batang dengan cara dipotong. Batang-batang
hasil pemangkasan ini saya taruh di media tanam tertentu, agar bisa
muncul tunas. Inilah yang biasa saya berikan kepada tetangga-tetangga.
Alhamdulillah bisa bersedekah....
Anakan paku-Pakuan yang ikut tumbuh (dokpri)
Selain untuk pembibitan,
ternyata pemotongan secara berkala pada batang-batang anggrek tua ini
juga bermanfaat untuk merangsang tumbuhnya tunas muda yang kelak akan
mengeluarkan bunga, sekaligus untuk mengurangi populasi batang tua yang
semakin membengkak sehingga mengurangi eksotika “hutan dalam pohon”.
Eh, ada lagi yang semakin membuat hati saya sekarang lebih berbunga-bunga demi melihat “hutan dalam pohon” di depan rumah saya tersebut, yaitu mulai hadirnya burung-burung di pohon ketapang tersebut, jika awalnya hanya singgah dan ngoceh sebentarmenjelang
fajar subuh, lama kelamaan kawanan burung kutilang itu secara reguler
mulai sering bercengkerama dengan sesamanya di dahan-dahan pepohonan di
depan rumah dan beberapa milik tetangga.
Bahkan
beberapa diantaranya sampai ada yang mebuat sarang untuk tempat tinggal
di rumpun tanaman simbar menjangan yang terlihat hijau menyegarkan
mata.
Suara
kicaunya di pagi hari menjadi orkestra alam yang begitu langka di
kawasan perkotaan seperti di Banjarmasin. Menariknya lagi, beberapa kali
saya melihat kehadiran salah satu binatang langka berbulu coklat
keabu-abuan yang saya duga sejenis tupai di pohon tersebut. Wooow!
Urang Banjar mempunyai ragam kuliner
yang sebagian besar memberi pesan tersirat betapa dekatnya mereka
dengan alam, khususnya dengan sungai dan atau rawa yang memang
mendominasi hampir sebagian besar landscape daratan Kalimantan Selatan.
Kuliner populer dari hasil olah cipta Urang Banjar seperti Soto Banjar, Katupat Kandangan, Lontong Tampusing, Garih Batanak dan beragam Gangan(jangan;
bhs Jawa) atau sayur semuanya mempunyai elemen bahan yang berasal dari
hasil sungai atau rawa, baik berbagai jenis ikan sampai unggas yang
berhabitat di sungai atau rawa, selain itu ada juga sejenis siput atau
keong sungai yang menjadi bahan kuliner unik dan sedap khas urang Banjar yang biasa disebut katuyungoleh masyarakat Banjar.
Katuyung atau ketuyung ada juga yang menyebutnya sebagai tutut atau juga kolnenek di luar sana, secara fisik mempunyai bentuk cangkang segitiga kerucut sepanjang sekitar 3 cm dengan ujung runcing di bagian belakang (analogi bagian ekor).
Katuyungbisa
dimasak dengan berbagai macam variasi bumbu sesuai dengan selera
masing-masing. Hanya saja, bagi masyarakat Banjar secara umum, Katuyung biasa
dimasak dengan cara mencampurnya dengan beberapa macam jenis sayuran
seperti bayam, kacang panjang, rebung, jagung manis dan waluh yang
diberi kuah santan, kalau menurut saya citarasanya mirip sayur bobor-nya
orang Jawa Timur.
Untuk mendapatkan olahan Gangan Katuyung yang kenyal dan suedap, katuyung harus direbus dua kali. Rebusan pertama untuk mematangkan dagingnya, sedangkan rebusan kedua
untuk memantapkan kekenyalan dagingnya. Untuk memantapkan sekaligus
memperkuat citarasa, di rebusan kedua ini diberi tambahan santan cair,
lalu ketika sudah hampir matang baru ditambahkan lagi santan kental.
Selain memperkuat cita rasa,
santan kental ini juga menjadi pengikat supaya santan cairnya tidak
pecah saat disajikan. Jadi, selain rasa gurihnya semakin mantap
tampilannya juga bagus!
Untuk menikmati gangan katuyung secara paripurna,biasanya paket komplit dalam sajiannya selalu ditambahkan sambal acanatau sambal terasi untuk menyempurnakan kenikmatannya dan gangan katuyung ini bisa dimakan sebagai teman makan nasi atau langsung dinikmati tanpa nasi layaknya camilan. Karena gangan katuyung disajikan
masih dengan cangkangnya yang keras (biasanya bagian ujung kerucut
cangkang di potong), maka cara paling asyik untuk menikmati Gangan Katuyung adalah dengan cara dikunyut atau dihisap dari lubang bagian depan.
Disinilah sensasi paling asyik, nikmat dan paling bikin ketagihan kala menyantap biota sungai yang satu ini. Saking asyiknya ngunyut katuyung,
biasanya lupa sama nasi dihadapan. Baru setelah katuyung-nya habis baru
ingat sama nasi yang belum tersentuh! He...he...he...
Di
Kota 1000 Sungai, Banjarmasin Bungas! Kuliner yang relatif mulai langka
ini, walaupun tidak semua warung atau rumah makan menyediakan dan
menjualnya, tapi tidak terlalu sulit juga untuk mendapatkannya.
Biasanya
di warung atau rumah makan yang menjual masakan khas Banjar selalu
menyediakan menu ini dan untuk urusan harganyapun juga relatif murah!
Rata-rata seporsi Gangan Katuyung dijual dalam ukuran mangkuk seharga Rp.10.000,- yang kira-kira berisi sekitar 20 katuyung. Tertarik untuk ikut mencoba!? Bisa kok masak sendiri, berikut resepnya!
Bahan -bahan :
1/2 kilo ketuyung (bersihkan dengan sikat, potong ujungnya)
1 buah labu kuning potong2
1 bonggol jagung besar potong2
1/4 buah rebung iris2
3 cm kacang panjang potong2
300 gram kelapa parut
1 ruas laos sjempol geprek
2 lmbr salam
terasi sesuai selera
7 siung bawang merah iris tipis
3 siung bawang putih iris tipis
secukupnya gula garam dan penyedap jika diperlukan
Cara Memasak :
Rebus katuyung sekitar 15 menit untuk membuang lendir, kotoran serta mematangkan dagingnya, lalu buang air rebusan dan sisihkan katuyung nya. Rebus juga rebung sekitar 5 menit lalu buang airnya dan sisihkan.
Peras santan, pisahkan yg kental dengan yang encer, lalu didihkan santan yang encer dan masukan acan (terasi), bawang merah, bawang putih, laos dan daun salam.
Rebus lagi katuyung tambahkan santan encer yang sudah dibumbui, masukan juga jagung dan rebung dan tunggu sampai mendidih.
Setelah
mendidih, masukan lagi labu dan kacang panjang dan setelah benar-benar
mendidih masukan santan kental, setelah itu kecilkan api dan terus di
aduk-aduk agar santannya tidak pecah sambil ditambahkan garam, gula
serta penyedap rasa jika diperlukan, sesuai dengan selera.
Jangan lupa bikin sambal acan alias sambal terasinya ya! Caranya biasa saja seperti bikin sambal umumnya, hanya saja yang paling pas untuk menikmati gangan katuyung yang citarasanya dominan gurih agak manis, sambal acan orang Banjar biasanya pedas cenderung asin biar berimbang dan lebih mantap nan sedap.
Gangan Katuyung siap di hidangkan untuk sarapan di Minggu pagi yang ceria...
Mudahkan? Semoga bermanfaat ya!
Catatan :
Klik disini untuk membaca artikel serupa kanal Kompasiana saya. Terima kasih.