Minggu, 30 November 2025

Serendipitas Sepiring Tahu Campur : Ketika Tradisi, Gizi dan Aroma, (Tak Sengaja) Bersua dalam Rasa

Serendipitas Semangkuk Tahu Campur : Ketika Rasa, Tradisi, dan Gizi Bersua Tanpa Janji" | @kaekaha!


Pernah mencari tahu bagaimana awal mula sebuah rasa dan citarasa bisa terpatri menjadi selera dari lidah kita hingga menjadikan olahan-olahan makanan yang identik, semisal makanan berkuah kaldu bercitarasa umami alias gurih sebagai kesukaan kita?

Selera Kita dari Lidah Ibu!

Menurut ibu saya, awal semua rasa, dimulai dari suapan pertama, gigitan pertama, kunyahan pertama, sampai jadi makanan yang disuka datangnya dari lidah ibu! Karena dari dulu, selera kita itu muncul dari apa yang disuapkan ibu yang sudah pasti jiga makanan kesukaan beliau. Begini penjelasannya!

Proses terbentuknya selera (khususnya masakan), prosesnya diawali dari suapan pertama dan secara beruturut-turut diikuti dengan gigitan pertama, kunyahan pertama, sampai taste atau citarasa olahan ibu yang referensi komposisinya pasti berdasar pada standar "lidah" beliau yang secara kontinyu atau repetitif menjadi menu asupan kita begitu melekat dalam otak, hingga akhirnya menjadi selera kita dan melahirkan ungkapan masakan ibu paling enak sedunia! 

Diskripsi diatas menjadi salah satu bukti riil yang paling mudah dipahami sekaligus dibuktikan oleh siapa saja, terkait "cara kerja" transfer ilmu dan pengetahuan, termasuk peran penting, serta strategisnya posisi seorang ibu dalam proses pembentukan referensi dasar kehidupan putra-putrinya, sehingga banyak kalangan yang menyebut ibu sebagai sekolah pertama bagi mereka. 

Karena itu, ibu-ibu harus cermat dan tidak boleh salah dalam memilihkan "blue chip" selera asal terbaik bagi putra-putri tercintanya, karena itu akan menentukan banyak hal dalam perjalanan hidup generasi penerus kita, tidak hanya soal selera makanan saja ternyata, tapi juga gaya hidup yang sangat-sangat mungkin ikut menentukan kelestarian dan keberlangsungan alam dan lingkungan di sekitarnya!

Sepiring Tahu Campur  | @kaekaha!

Namanya Tahu Campur 

Menyebut nama tahu campur, kuliner khas dari Lamongan, Jawa Timur itu, bagi saya dan trah Karso Pawiro, kakek buyut saya almarhum dari jalur ibu, bukanlah sekedar kuliner berkuah kaldu "tetelan" sapi dengan ubarampe superlengkap dan full gizi semata, tapi juga memori kolektif yang menyimpan begitu banyak cerita di dalam gudang ingatan dari generasi ke generasi.

Harap maklum, salah satu kuliner berkuah kaldu kesukaan saya dan juga keluarga besar kami ini selalu menjadi maskot di setiap acara kumpul-kumpul keluarga seperti yang pernah saya spill dalam artikel bertema lebaran yang berjudul Ketika Tahu Campur Buatan Ibu Tak Pernah Gagal Memanggilku PulangApalagi kalau tahu campurnya, ibu saya sendiri yang mengolahnya. Duuuuh nggak bakalan ada lawan mase...He...he...he..! 

Tahu campur olahan ibu yang selalu hadir dengan penuh cinta tidak hanya dibuat dari bahan-bahan yang masih segar saja, tapi juga yang  terbaik di kelasnya! Sedangkan divisi bumbu-bumbunya juga selalu hadir lengkap alias full team, tidak boleh ada satupun rempah-rempah yang terlewat dalam list yang semuanya konon diwarisi secara utuh dari ibunya ibu alias Mbah Uti saya.  

Menariknya, berawal dari tradisi (kebiasaan keluarga) memasak dengan bahan-bahan yang masih segar itu, ibu juga memberi contoh sekaligus mengajari kami untuk membiasakan diri menanam sebanyak dan seberagam mungkin tanaman pangan, mulai umbi-umbian, empon-empon, rempah-rempah, sayuran, buah-buahan dan lain-lainnya di pekarangan.

Tidak heran jika, orkestrasi ala dapur yang dipimpin ibu setiap kali memasak tahu campur akan selalu menawan siapa saja yang terlanjur mencium wanginya kuah full rempah yang akan menguar dan menyebar mengikuti arah angin yang bertiup. Kalau sudah begitu, biasanya tidak ada yang sanggup lagi menolak panggilan pulang kuliner yang lahir bukan dari resep yang direncanakan, melainkan dari keajaiban serendipitas yang tak pernah terpikirkan sebelumnya ini.

Biasanya, kalau tahu campur sudah siap, kami akan duduk melingkar di atas tikar pandan yang dibeber di tengah ruangan terluas dalam rumah, sambil ngobrol ngalor ngidul dengan sanak saudara atau siapa saja yang ada di kiri kanan kita. 

Setelah semua lengkap, biasanya Mbah kung atau bapak akan memulai dengan memimpin doa  dan setelahnya, bulik dan kakak-kakak perempuan kami akan meracik dan sekaligus menyajikannya satu per-satu kepada kami yang sudah duduk paling manis menanti giliran dapat sepiring tahu campur sedap. Sungguh kebersamaan yang tak kan mungkin terlupakan kawan!

Serendipitas Sepiring Tahu Campur : Ketika Tradisi, Gizi dan Aroma, Bersua dalam Rasa | @kaekaha

Serendipitas Tahu Campur

Selain citarasanya yang memang juara! Ada satu lagi yang membuat "saudara kandung" Soto Lamongan ini menjadi cukup istimewa bagi saya, secara pribadi, yaitu kisah asal usulnya yang konon berawal dari sebuah kebetulan, ketidaksengajaan atau istilah kerennya banyak yang menyebutnya sebagai serendipiti. 

Mengenai detail kisah uniknya bolehlah dibaca pada artikel saya yang berjudul "Kisah Serendipiti di Balik Kelezatan Sepiring Tahu Campur"Silakan klik saja pada judul sekaligus link-nya dan nikmati informasi menarik dan bernasnya. Selamat membaca!         

Tahu campur bukanlah sajian yang dirancang secara akademis atau dicatat rapi dalam buku resep. Ia lahir dari momentum-momentum kecil para penjual Soto Lamongan yang berani mencoba hal baru, menggabungkan bahan-bahan yang "seharusnya" tak bertemu dalam satu piring, namun ternyata saling mengisi.

Di sanalah serendipitas terjadi, penemuan yang muncul dari ketidaksengajaan, namun bernilai luar biasa. Konon, seorang penjual Soto Lamongan yang lapar selepas jualan, berusaha berkreasi dari sisa dagangan berupa kuah soto yang ditambahkannya tetelan daging sapi dan juga petis udang yang diaduk dalam piring.

Setelahanya, bahan-bahan sisa dari dapur seperti mie kuning, lentho, kecambah, tahu goreng  dan juga bahan paling aneh, yaitu daun slada segar dimasukkan dalam piring juga. Sesuap demi suap, olahan kuliner baru itu dinikmati si bapak dengan perlahan bersama kerupuk udang  dan hasilnya! Sambil tersenyum manis tanda nikmat, lahirlah kuliner ikonik yang kelak kita kenal sebagai tahu campur.


Sate Kikil dan Sate Kerang Teman Terbaik Santap Tahu Campur | @kaekaha!

Superfood dari Dapur Lamongan

Kalau diperhatikan lebih detail, isian dari Tahu Campur khas Lamongan ini cukup ramai dan komplit ya! Bagaimana tidak, selain jenisnya yang begitu banyak dan datang dari karakter yang berbeda, kandungan gizi dan manfaat lainnya dalam baha-bahan penyusunnya juga tidak kalah lengkap. Bahkan karenanya, banyak yang menyebut kuliner tahu campur ini selayaknya "kolektor superfood" lokal nusantara yang paling lengkap. Sebut saja,

  • Daging sapi sebagai sumber protein dan zat besi.

  • Tahu sebagai protein nabati yang ramah pencernaan.

  • Sayuran segar yang membawa vitamin dan serat.

  • Mie kuning dan lontong sebagai karbohidrat pengisi energi.

  • Bumbu petis yang kaya mineral dari hasil laut.

  • Kuah kaldu sapi yang gurih alami tanpa perlu tambahan rasa berlebihan.

Keren kan, konsep superfood khas Indonesia yang sejak dulu diam-diam selalu punya versinya sendiri, lahir dari serendipitas dalam piring-piring kecil di dapur dan kedai-kedai sederhana pinggir jalan  yang memperlihatkan bahwa pangan sehat sesungguhnya tak harus mahal, tak harus langka, dan tak harus diimpor. Karena bisa saja ditemukan dari hasil bumi di sekitar rumah dan diracik oleh tangan-tangan berintuisi kuliner yang sudah berakar puluhan tahun.

Tahu Campur, Pemersatu Keluarga di Meja Makan

Ada sesuatu yang magis dari makanan yang "bercampur" ala tahu campur ini.  Keragamannya yang tetap bisa menyatu dengan kuah yang meresap ke segala sisi sehingga selalu memanjakan sejak suapan pertama, membuat siapa pun merasa diterima dan pulang, bahkan sejak mencium jejak aromanya yang menggoda.

Wajar karenanya, sebagai salah satu kuliner dengan jejak tradisi yang sangat kuat, menjadikan tidak sedikit keluarga di Jawa Timur dan tentu saja di Lamongan (berikut perantauan-perantauan di kota besar lainnya) menjadikan tahu campur sebagai simbol kebersamaan. Momen-momen seperti Lebaran, libur semester, atau sekadar berakhir pekan, sering menjadi alasan bagi anak cucu dan orang-orang tercinta untuk pulang dan berkumpul di meja makan untuk sekedar menikmati menu tombo kangen, tahu campur.

Bagi perantau, sepiring tahu campur bisa mengembalikan spirit sekaligus perasaan menjadi "anak ibu". Rasa petisnya yang khas membawa ingatan pada suara ibu saat memanggil makan. Sayur sladanya yang segar dan tahunya yang lembut mengingatkan pada kebersaaan di meja keluarga dan tetelan urat daging plus kaldu sapi hangatnya seperti merangkul kerinduan setelah perjalanan panjang. Lengkap bukan?


Kerupuk dalam Blek, Teman Bersantap  Tahu Campur | @kaekaha!

Merawat Tradisi Berkreatifitas dan Pangan Lokal 

Dari  Serendipitas sepiring tahu campur kita belajar! Kreativitas tanpa batas memang buka sekedar "mimpi di siang bolong semata, tapi mimpi yang diwujudkan menjadi nyata dengan tekad, kesungguhan serta usaha pantang menyerah dan satu lagi, kuliner enak dan legendaris ternyata tak selalu lahir dari perhitungan dan aksi yang rumit dari tukang-tukang masak prosfesional saja! 

Tapi bisa saja lahir dari orang-orang "profesional" sejati alias orang yang setia dengan profesinya dan keberanian sederhana untuk mencoba, mencoba dan mencoba, salah satunya mencampur yang ada di depan mata dengan perhitungan komposisi berdasar intuisi kuliner yang sudah berakar puluhan tahun. 

Seperti seni kolase yang menyatukan serpihan-serpihan menjadi karya penuh makna,  tahu campur membuktikan bahwa makanan memang bukan sekadar pengisi perut semata, tapi bagian dari identitas dan budaya.  Inilah pelajaran berharga darinya!

  1. Eksplorasi itu esensial.
    Dari keberanian mencoba bahan-bahan sederhana, lahirlah kuliner daerah legendaris.

  2. Pangan lokal bisa sangat bernilai.
    Bahan-bahan sehari-hari bisa menjadi makanan sehat dan lengkap nutrisi.

  3. Kuliner punya kekuatan memanggil pulang.
    Dari aroma kuah yang mengepul, sebuah keluarga bisa kembali berkumpul.


Akhirnya...

Di balik kuahnya yang menggoda dan petisnya yang eksotis, tahu campur menyimpan nilai jauh lebih besar tentang kreativitas, kehangatan keluarga, dan kecintaan pada bahan pangan sekitar. Serendipitas menjadikan tahu campur lebih dari sekadar hidangan, dia pengingat bahwa hal-hal luar biasa bisa lahir dari hal-hal sederhana di dapur kita.

Mungkin, dari sepiring tahu campur yang Anda nikmati nanti, Anda akan merasakan bukan hanya kelezatan, tetapi juga sebuah cerita panjang tentang rumah, tentang perjalanan hidup, dan tentang tradisi yang tak pernah lelah memanggil pulang.

Salam matan Kota 1000 Sungai,
Banjarmasin nan Bungas!

Konten ini juga tayang di Kompasiana.com pada tanggal 22 November 2025   21:47 Klik di sini untuk baca. Artikel ini diikutsertakan dalam "lomba" artikel untuk program Topik Pilihan di KOMPASIANA dengan tema "Dari Piring Seimbang ke Masa Depan Gemilang".
 
Dari Piring Seimbang ke Masa Depan Gemilang (Dok.Kompasiana)

 
...dan Alhamdulillah artiekl ini terpilih menjadi salah satu dari total 10 artikel terbaik yang terpilih dari ratusan artikel yang masuk kurasi dan mendapatkan apresiasi saldo Go Pay sebesar Rp.500.000, cek pengumuman pemenangnya di sini

 
Daftar Artikel Terbaik (Dok. Kompasiana)

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN




 

Pantun Selamat Teruntuk yang Terhebat di Kompasiana Award 2025

Para pemenang Kompasiana Awards 2025 | Kompasiana/Hesti



Raja ampat memanglah indah
Sayang hutannya mulai dibabat
Kompasiana Award usai sudah
Takdir tertulis tuk para sahabat

Naik kereta turunnya di Kroya
Jalur Utara-Selatan bertemu di sini
Selamat Buat Kang Fery ya!
Sukses untuk KotY tahun ini

Kabupaten Cianjur gudangnya tomat
Buahnya besar segarnya tahan lama
Buat Mbak Ire banyak selamat
Menyabet Best Storytelling yang pertama  

Kepulauan Banda surganya buah Pala
Buahnya bulat kualitasnya bagus
Selamat, Bang Billy memang idola!
Sekali rengkuh gelarnya dua sekaligus

Ke Amuntai santapnya panggang belibis
Seekor tak cukup belilah lima
Banyak Selamat Bang Raja Lubis
Pemenang Best Passion yang pertama 

Serui  ibukota Kabupaten Yapen
Kuliner seafood  itu andalannya
Bang Iqbal jago nulis cerpen
Wajar Best in Fiction jadi miliknya

Jualan kembang di Pasar Segiri
Dari Samarinda kirim ke kotamu
Selamat Bang Jandris si-Pelestari
Dunia menanti tangan dinginmu 

Singgah di Bone siapkan kantung
Pilih saja beragam oleh-olehnya
Buat nomine yang belum beruntung
Tetap semangat ya menulisnya

Kepiting Soka dari Balikpapan
Sajian istimewa untuk tamu
Kompasiana award tahun depan
Bisa saja menjadi rejekimu


Glosarium :

  • Ikut prihatin atas terjadinya aktivitas pembabatan hutan untuk tambang di Raja Ampat yang menyebabkan kerusakan lingkungan, meskipun pemerintah telah mencabut izin empat perusahaan tambang nikel pada Juni 2025 silam yang mengancam ekosistem dalam tutupan hutan seluas 7.200 hektare di dalam konsesi tambang.
  • Kroya merupakan salah satu Kecamatan di Kabupaten Cilacap yang mempunyai keunikan tersendiri, khususnya bagi penikmat perjalanan darat dengan menggunakan kereta api, tahu kenapa? Karena Stasiun Kroya merupakan jalur padat yang mempertemukan 3 jalur kereta api di Pulau Jawa, yaitu jalur selatan dan jalur utara, plus jalur cabang menuju kota pelabuhan Cilacap.
  • Jawa Barat merupakan propinsi penghasil tomat terbesar di Indonesia dan Kabupaten Cianjur bersama-saa dengan Kabupaten Garut, Bandung, Sukabumi dan Bogor menjadi lumbungnya.
  • Sejak beberapa abad silam, Kepulauan Banda di Maluku dikenal luas masyarakat dunia sebagai penghasil buah Pala dengan kualitas terbaik, hingga menjadi rebutan beberapa negara penjajah dari Eropa.
  • Kota Amuntai ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Utara, Propinsi Kalimantan Selatan yang dikenal dengan beberapa varietas ternak unggul seperti Itik Alabio dan juga ayam Murung Panggang yang sudah diakui secara nasional oleh pemerintah, memang mempunyai lansekap ala yang unik, karena didominasi oleh lahan rawa dengan intensitaskkedalaman yang berbeda-beda. Tidak heran jika kemudian banyak bahan pangan populenya merupakan hasil sungai dan rawa, salah satunya adalah Belibis Panggang.
  • Serui yang menjadi ibu kota Kabupaten kepulauan Yapen sebagai hasil dari pemekaran Kabupaten Yapen Waropen memang terkenal dengan kuliner hasil lautnya yang melipah dan pasti sedap    
  • Pasar Segiri merupakan pasar tradisional terbesar di Kota Samarinda yang terletak di Kecamatan Samarinda Ulu. Dulu di era 80-90an, harga-harga bahan pangan di pasar ini sering menjadi acuan harga yang selalu di bacakan di berita radio RRI pada sesi Berita Ekonomi jam 20.00 WIB.
  • Kabupaten Bone yang berjuluk "Bumi Arung Pallaka" merupakan salah satu Kabupaten di Sulawesi Selatan yang mempunyai akar sejarah berupa tradisi dan budaya warisan Kerajaan Bone yang terkenal dengan pemimpinnya Arung Pallaka. Tidak heran jika daerah yang dikenal dengan produk budaya khas seperti Songkok To Bone dan kue tradisional Bolu Cukke ini, juga mempunyai destinasi wisata alam dan budaya uang menawan.
  • Kepiting Soka merupakan kuliner khas yang unik dan enak persembahan alam pesisir dari Kota Balikpapan, Propinsi Kalimantan Timur yang sudah sangat kesohor. Olahan kepitingnya yang segar dan renyah akan selalu membuat siapa saja yang pernah mencobanya untuk kembali dan kembali mencarinya! Mau coba? 


Salam matan Kota 1000 Sungai,
Banjarmasin nan Bungas!

Artikel ini juga tayang di Kompasiana pada 1 Desember 2025   00:37 (silakan klik disini untuk membaca). 

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN






 

Senin, 24 November 2025

100 Tahun Muhammadiyah Alabio, Seabad Jejak Dakwah, Sekolah dan Napas Perubahan dari Pedalaman Kalimantan


100 Tahun Muhammadiyah Alabio, Seabad Jejak Dakwah, Sekolah dan Napas Perubahan dari Pedalaman Kalimantan (Sumber grafis : suaramuhammadiyah.id)

 

Senja di Alabio tak pernah kehilangan pesonanya. Di antara rumah panggung yang berjajar di tepi sungai dan aroma ikan gabus yang diasap di dapur-dapur warga, gema pengajian dari langgar dan sekolah Muhammadiyah masih terdengar seperti ritme lama yang belum pernah putus. 

Tahun ini, ritme itu mencapai usia 100 tahun, usia yang tak hanya menandai perjalanan organisasi, tetapi juga sejarah panjang transformasi sosial di salah satu kota tua Alabio di Kabupaten Hulu Sungai Utara yang juga dikenal dengan plasma nutfah Itik Alabio, salah satu itik loka unggul nusantara.


Alabio, Kota Rawa yang Hidup dari Air, Dagang, dan Tradisi

Alabio adalah kawasan tua di Kabupaten Hulu Sungai Utara (HSU), Kalimantan Selatan. Daerah ini terkenal dengan rawa dan perairan sebagai denyut ekonomi, perdagangan tradisional yang ramai sejak masa kolonial, kerajinan anyaman purun dan usaha kecil yang diwariskan turun-temurun, budaya religius yang kuat, dengan surau dan majelis yang hidup dari generasi ke generasi.

Alabio juga menjadi titik pertemuan antara pedagang lokal, ulama kampung, serta jaringan intelektual Banjar yang sejak awal abad ke-20 sudah berinteraksi dengan pembaruan Islam dari Pulau Jawa. Lingkungan sosial-ekonomi yang dinamis inilah yang kemudian membuka ruang bagi hadirnya gagasan baru berbasis keagamaan dan ketauhidan yang kelak kita kenal sebagai Muhammadiyah.


Awal Mula: Benih Pembaruan dari Tahun 1925

Jejak sejarah Muhammadiyah Alabio dimulai pada 1925, ketika arus pembaruan Islam ala K.H. Ahmad Dahlan mulai sampai ke Kalimantan Selatan. Sejumlah tokoh lokal yang pernah bersentuhan dengan gagasan modernisme Islamm elalui perdagangan, pendidikan, maupun hubungan kekerabatan, membawa pulang semangat tersebut ke Alabio.

H. M. Japeri dan H. Usman Amin disebut sebagai pendiri awal cabang ini. Di masa awalnya, kegiatan Muhammadiyah Alabio berlangsung di rumah panggung sederhana, diterangi lampu semprong, dengan diskusi-diskusi selepas Isya yang membahas pendidikan, ekonomi umat, hingga persoalan kemiskinan. 

Dakwah Muhammadiyah hadir bukan sebagai gerakan yang menggurui, melainkan sebagai upaya menguatkan struktur sosial yang sudah ada—dengan pendekatan lebih terorganisir dan berorientasi masa depan.


Momentum Awal: Konferensi, Pengakuan Resmi, dan Sekolah

Perkembangan Muhammadiyah Alabio tergolong cepat, 1926–1930 untuk Masa Pembentukan Struktur dengan rincian sebagai berikut :

  • 1926–1928: pendirian sekolah-sekolah dasar ala Muhammadiyah seperti Standaard School dan kemudian Vervolgschool met den Qor’an.

  • 1928: berdiri Wustha School setingkat sekolah menengah pertama.

  • 1929: Konferensi I Muhammadiyah Alabio, dihadiri tokoh nasional A. R. Sutan Mansyur.

  • 5 Maret 1930: Cabang Alabio memperoleh pengakuan resmi dari Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui Surat Ketetapan No. 253.

Sejak titik itu, Alabio menjadi pusat pergerakan Muhammadiyah di Kalimantan Selatan sebelum menyebar ke Sungai Tabukan, Barabai, Amuntai Kota, dan Kandangan hingga akhirnya menyeberang sampai ke Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. 


Pendidikan dan Dakwah: Wajah Muhammadiyah Alabio yang Paling Awal

Di Alabio, pendidikan menjadi poros utama dakwah. Murid-murid belajar mengaji serta pelajaran umum, seperti berhitung, bahasa Melayu, dan materi lainnya di ruang-ruang kelas dengan papan yang sederhana tapi bersemangat.

Beberapa di antara amal usaha penting yang lahir dari cabang ini :

1. Pesantren Nurul Amin Muhammadiyah Alabio

Dikelola oleh tokoh-tokoh lokal:
KH. Kasypul Anwar • KH. Maksum Yasin • KH. Abdul Hamid Ibrahim • Ust. Abdul Hamid Kaderi • Ust. Jailani B.

2. Panti Asuhan Muhammadiyah Alabio

Diakui sebagai salah satu panti asuhan tertua di Kalimantan.

Panti ini berdiri dari spirit Al-Ma’un: merawat anak yatim dan dhuafa. Di sinilah gagasan sosial Muhammadiyah menemukan bentuk paling konkret.

3. Sekolah-sekolah Muhammadiyah

Dirintis sejak 1920-an dan terus berkembang menjadi MI, MTs/TSM, hingga boarding school.


Alabio Hari Ini: Modern, Tapi Masih Tunduk pada Tradisi

Kota Alabio hari ini memang telah banyak berubah dibanding 100 tahun silam. Ini bisa kita lihat dari jalanan beton mulai menggantikan jalan titian, pasar-pasar modern muncul berdampingan dengan pasar terapung tradisional, remaja-remaja Muhammadiyah aktif di IPM dan Pemuda Muhammadiyah, perempuan Aisyiyah terlibat dalam pendidikan anak, UMKM, dan kesehatan.

Namun akar sosialnya tidak tercerabut. Alabio sampai detik ini masih tetap religius, tetap lekat dengan rawa dan air, dan tetap menjadikan pendidikan sebagai jalan naik kelas peradaban.


1 Abad Muhammadiyah Alabio (1925–2025): Dari Tradisi ke Abad Digital

Perayaan 100 tahun bukan sekadar seremoni, melainkan momentum membaca ulang perjalanan sejarah. Berikut kegiatan Pra-Milad 1 Abad Muhammadiyah Alabio yang puncak resepsinya berlangsung kemarin, Ahad 24/11/2025 di Alabio, 

  • Jalan sehat ribuan peserta

  • Lomba paduan suara Aisyiyah dan NA

  • Lomba balogo dan lomba asinan/pahalatan

  • Bazar 28 stan UMKM, anyaman purun, kuliner Banjar

  • Pemutaran film sejarah Muhammadiyah Alabio

  • Rencana penerbitan buku sejarah 1 abad

Acara-acara ini tidak hanya merayakan masa lalu, tapi memperlihatkan bagaimana Muhammadiyah Alabio berada dan akan terus berada di tengah denyut masyarakatnya.


Warisan 100 Tahun Muhammadiyah Alabio ?

Ada banyak warisan Muhamadiayah bagi peradaban nusantara,  masyarakat di Kalimantan, seperti  

  • struktur pendidikan yang kuat, dari dasar hingga pesantren, 
  • kesadaran sosial berbasis spirit Al-Ma’un,
  • Kader ulama, guru, pedagang, dan pemimpin lokal
  • Tradisi literasi, musyawarah, dan organisasi modern

  • Jaringan dakwah yang menjangkau desa-desa rawa

Ini bukan sekadar sejarah organisasi. Ini adalah sejarah masyarakat.


Menuju Abad Kedua: Cahaya Itu Masih Menyala

Seratus tahun Muhammadiyah Alabio memberi pesan sederhana namun kuat, bahwa perubahan besar bisa dimulai dari kota kecil; bahwa dakwah bisa berjalan berdampingan dengan kearifan lokal; dan bahwa pendidikan tetap menjadi cahaya paling setia dalam menghadapi zaman.

Di Alabio di tanah rawa yang tenang dan religius, cahaya itu masih menyala, dan tampaknya masih lama akan terus bersinar. [AN]




 

Senin, 17 November 2025

Memutar Kembali Kisah Laskar Pelangi, Menonton Anak-anak Hebat di Sekolah Ramah untuk Semua

 
(Replika) Bangunan SD Muhamadiyah Gantong, Pusat Cerita Novel dan Film Laskar Pelangi | @kaekaha!
(Replika) Bangunan SD Muhamadiyah Gantong, Pusat Cerita Novel dan Film Laskar Pelangi | @kaekaha!
 
 
Kisah Menggugah Dari Belitung

Cerita Laskar Pelangi berawal dari sebuah bangunan sekolah yang reyot dan hampir ambruk hingga salah satu sisi dinding kayunya harus ditopang batang-batang kayu log, di mana atapnya yang bocor, ruang kelas yang pengap dan lembab, juga bangku-bangku tua di dalamnya yang tidak utuh lagi juga mengabarkan buku-buku pelajaran yang tak terbeli layaknya barang mewah! 

    Tapi siapa sangka, dari bangunan dan juga fasilitas sekolah yang jauh dari kata layak dibawah ampuan dua guru bijak dan bersahaja, Pak Arfan dan Bu Mus kelak melahirkan sekelompok anak-anak hebat yang terus berjuang mati-matian untuk tetap belajar, tetap berkreasi dalam keterbatasan dan terus berusaha bermimpi besar meski dunia serasa tidak berpihak kepada mereka! 

Itulah sinopsis Laskar Pelangi, novel fenomenal yang disebut-sebut sebagai novel terbaik Indonesia sepanjang masa, karya autobiografi Andrea Hirata yang rilis pada 2005 yang "pesannya" semakin tampak kuat setelah visualisasi yang begitu sempurna untuk membawa kita tertawa, menangis dan merenung bersama-sama melalui versi filmnya yang tak kalah bagus dan fenomenal rilis juga pada 2008.

Siapa sangka, kisah inspiratif Laskar Pelangi yang berlatar era 70-an itu masih sangat aktual diputar, dinikmati dan diserap spiritnya yang ternyata sangat relevan dengan gerakan nasional "7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat" dan juga "ekosistem" sekolah ramah untuk semua yang digulirkan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang memungkinkan setiap siswa tanpa terkecuali merasa aman, dihargai dan punya kesempatan yang sama meraih bintang.

Koleksi Poster Foto Lintang dengan Sepedanya di Salah Satu Ruang Khusus Lintang di Museum Kata Andrea Hirata di Belitung | @kaekaha!
Koleksi Poster Foto Lintang dengan Sepedanya di Salah Satu Ruang Khusus Lintang di Museum Kata Andrea Hirata di Belitung | @kaekaha!
 

Laskar Pelangi Cermin Teraktual!
Gerakan "7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat", yaitu bangun pagi, beribadah, berolahraga, makan sehat dan bergizi, gemar belajar, bermasyarakat dan tidur cepat merupakan gaya hidup, kebiasaan sederhana tapi powerfull yang diharapkan mampu menanamkan disiplin diri, empati sosial, dan tanggung jawab, diluncurkan Kemendikdasmen di akhir 2024 sebagai aktualisasi Asta Cita Presiden Prabowo, membentuk generasi emas 2045 yang sehat, cerdas, dan berkarakter.

Bagi yang telah khatam membaca novel Laskar Pelangi, apalagi ditambah dengan menonton filmnya, tentu mafhum kalau detail menu cerita dalam kisah Laskar Pelangi selayaknya cermin sempurna untuk menerjemahkan, menggambarkan "7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat" dalam kehidupan sehari-hari. 

Masih ingat dengan sosok Lintang si-anak pantai yang juga dikenal sebagai anak paling pintar dan berwawasan paling luas di antara teman-teman laskar pelanginya? Rumahnya yang berjarak belasan kilometer dari SD Muhammadiyah Gantong, mengharuskannya mengayuh sepeda agar bisa belajar di sekolah setiap harinya.

Untuk itu, setiap harinya dia harus tidur cepat agar keesokan paginya bisa bangun pagi dan tidak terlambat berangkat ke sekolah, apalagi dia sejak kecil sudah dididik orangtuanya selayaknya masyarakat melayu lainnya yang dikenal sebagai muslim yang taat beribadah yang biasa memulai pagi dengan ibadah salat Subuh.

Baca Juga Yuk! "Tadabbur Literasi" di Museum Kata Negeri Laskar Pelangi, Ini Ceritaku Bertemu Ikal di Belitung

Mengayuh sepeda belasan kilometer setiap hari bagi anak sekecil Lintang, jelas jauh lebih dari cukup kalau sekedar dianggap sebagai aktifitas olahraga, begitu juga kebiasaan keluarga nelayan pada umumnya yang terbiasa makan ikan segar hasil tangkapan sebagai menu makan sehari-hari yang sehat tapi tetap terjangkau . 

Kepintarannya yang kelak juga dieksplorasi pada lomba cerdas cermat antar sekolah yang menjadikan nama SD Muhammadiyah Gantong semakin harum, jelas buah dari kegemarannya belajar dan bergaul dengan siapa saja, termasuk membaca buku, koran, majalah atau apa saja meskipun kemiskinan menyebabkan mereka hidup tanpa listrik sekalipun.

Tentu, "cermin" dari aktualisasi "7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat" dalam kisah Laskar Pelangi ini tidak berhenti pada sosok Lintang semata, tapi hampir semua karakter tokohnya! Masih ingat dengan perkataan Bu Mus "Kita harus pintar, tapi jangan sombong"!? Ini jelas memberi pesan agar anak-anak didiknya "gemar belajar" dan tetap "bermasyarakat". 

Pembiasaan "7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat" selayaknya Lintang dan anak-anak Laskar Pelangi lainnya tentu tidak tiba-tiba! Tapi melalui pendekatan proses yang bisa dimulai sesegera mungkin atau sejak dini yang secara perlahan akan membentuk mental disiplin, bertanggung jawab dan juga kasih sayang. 

Di sini dibutuhkan peran aktif orang tua agar proses bisa berjalan secara konsisten, sehingga anak-anak bisa tumbuh dalam lingkungan yang penuh cinta dan kasih sayang yang membawa sehatnya jasmani dan rohani, serta kepekaan terhadap sesama, bekal penting untuk menumbuhkan kepribadian yang kuat, beriman, bertakwa, dan peduli terhadap lingkungan sosial, fondasi utama menuju Sekolah yang Ramah untuk Semua, lingkungan belajar yang aman, nyaman, dan menggembirakan bagi seluruh anak.

Koleksi Poster Foto Ikal Saat Kehilangan Lintang di Salah Satu Ruang Khusus Ikal di Museum Kata Andrea Hirata di Belitung | @kaekaha!
Koleksi Poster Foto Ikal Saat Kehilangan Lintang di Salah Satu Ruang Khusus Ikal di Museum Kata Andrea Hirata di Belitung | @kaekaha!


Laskar Pelangi Blueprint Masa Depan SRS

Definisi Sekolah Ramah untuk Semua (SRS) menurut Permendikbudristek No. 46 Tahun 2023 adalah "Lingkungan belajar yang aman, sehat, inklusif, ramah gender, dan bebas dari kekerasan, diskriminasi, serta perundungan" dan kisah nyata Laskar Pelangi yang diceritakan Andrea Hirata, bukan sekadar novel best seller semata, tapi cermin hidup pendidikan inklusif, Sekolah Ramah untuk Semua di tengah keterbatasan ekstrem. 

Hari ini, ketika Indonesia menggaungkan Sekolah Ramah untuk Semua (SRS), spirit Laskar Pelangi terbukti mempunyai relevansi yang kuat, pendidikan yang ramah untuk semua bukan soal fasilitas mewah, tapi soal hati yang terbuka untuk semua anak, tanpa terkecuali.

Konsep Sekolah Ramah untuk Semua (SRS) merupakan perluasan visi inklusi pendidikan nasional yang mencakup tidak hanya anak-anak, tapi juga remaja, guru, staf, dan komunitas sekolah secara keseluruhan. 

    Berbeda dengan Sekolah Ramah Anak (SRA) yang lebih fokus pada anak usia dini dan dasar, SRS menekankan lingkungan belajar yang aman, adil, dan mendukung bagi semua pihak, termasuk siswa berkebutuhan khusus, etnis minoritas, anak dari keluarga miskin, hingga guru yang rentan burnout. 

Prinsip dasarnya adalah nondiskriminasi, aksesibilitas universal, partisipasi aktif, dan perlindungan dari segala bentuk kekerasan, baik fisik, verbal, maupun struktural dan SD Muhammadiyah Gantong dalam kisah Laskar Pelangi merupakan prototipe sekolah ramah untuk semua, jauh sebelum istilah itu lahir!

Laskar Pelangi mengingatkan bahwa sekolah ramah untuk semua lahir dari empati, bukan dari aturan kaku. Sekolah harus menjadi pelangi bagi setiap individu, tak peduli latar belakangnya!

Ketika A Kiong yang notabene berbeda etnis dan agama diterima menjadi murid SD Muhammadiyah Gantong dan bisa berteman dan bersahabat dengan Ikal dan lain-lainnya, di sini kita melihat dengan jelas inklusi sosial dipraktikkan dengan baik di sekolah ini. Memang sih semua tidak lepas dari didikan Bu Mus yang menyebut "Bedanya (A Kiong) membuat kita istimewa, bukan lemah."

Bayangkan jika MPLS 2025 mengintegrasikan 7 Kebiasaan dengan screening Laskar Pelangi. Siswa baru, guru, juga orang tua akan terinspirasi untuk membangun budaya saling menghormati. SRS bukan soal anggaran besar, tapi komitmen kolektif untuk mewujudkan kurikulum yang relevan budaya lokal, kebijakan anti-bullying yang tegas dan konsepsi ramah untuk semua lainnya.

Mewujudkan pelangi di setiap kelas Laskar Pelangi bukan sekedar nostalgia, tapi panggilan aksi! Dengan mengintegrasikan 7 Kebiasaan Anak Indonesia Hebat, kita bisa ciptakan sekolah ramah untuk semua yang tak hanya ajar baca-tulis semata, tapi membangun karakter hebat dan komunitas yang solid. (11125)

Salam matan Kota 1000 Sungai,
Banjarmasin nan Bungas!


Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN 

 
Konten ini telah tayang di Kompasiana.com pada tanggal 1 November 2025   23:57 Klik di sini untuk baca dan diikutsertakan dalam lomba Blog competition bertema "Sekolah Ramah untuk Semua: Lingkungan Aman, Nyaman, dan Menggembirakan" yang diselenggarakan oleh Kompasiana bersama dengan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) RI.
 
Alhamdulilah artikelnya berhasil meraih juara ke 2 dengan hadiah uang yunai sebesar Rp.1,7 juta.cek pengumuman pemenangnya di sini