Soto Madiun Kesukaan Saya | @kaekaha |
Awal semua rasa,
Mulai dari suapan pertama, kunyahan pertama,
gigitan pertama, sampai jadi makanan yang disuka
...
Awal semua rasa kita hari ini, datangnya dari lidah mama
Karena dari dulu, selera kita itu dari apa yang mama suka
Pernah
membaca dua bait pesan diatas? Atau mungkin pernah mendengar audionya
dari media? Baiklah, kalimat-kalimat yang tersusun menjadi dua bait
diatas saya dapatkan dari salah satu iklan produk consumer goods yang tayang di televisi dan jaringan internet yang biasanya memang rajin tayang di sepanjang Ramadan. Ada yang tahu?
Baca Juga Yuk! Semua Menang, Semua Senang di "War Takjil" Pasar Wadai, Banjarmasin
Tapi maaf, di sini saya tidak akan membahas iklan maupun produk consumer goods yang diiklankan dengan untaian kalimat-kalimat diatas, karena saya justeru tertarik dengan kesederhanaan dan keindahan susunan diksi dari dua paragraf diatas yang ternyata menghasilkan susunan kata yang begitu cantik dengan makna yang ternyata juga begitu dalam, bagaimana kronik selera dalam rasa terbentuk! Semua mama yang mengawalinya!
Pernah mendengar orang-orang disekitar kita atau mingkin malah saya atau anda sendiri pernah menyebut, "masakan mama atau ibu kita masakan ternikmat di dunia", hingga sanggup menciptakan sebentuk kerinduan yang tidak bisa diganti dengan apapun yang membuat seorang anak rela menmpuh ribuan kilo jarak hanya untuk mengecap kembali olahan masakan dari tangan mamanya?
Ternyata, kalimat-kalimat yang tersusun dalam dua bait di ataslah jawaban misterinya!
Pertanyaanya, kira-kira apa yang bakal terjadi ketika dua orang anak yang sama-sama tumbuh dalam lingkungan (ibu) yang sama-sama berhasil menurunkan pattern atau patron selera rasa otentik yang sama-sama kuatnya, bahkan levelnya bukan hanya berlabel keluarga saja, tapi entitas tradisi dan budaya yang berbeda, tiba-tiba disatukan oleh ikatan perkawinan (tanpa pacaran lo ya!) yang tidak hanya mengharuskan mereka berbagi cinta dan kasih sayang semata, tapi juga berbagi rasa, selera rasa?
Soto (Banjar) Kuin | @kaekaha |
Itu yang terjadi dengan saya dan isteri yang memang lahir dan tumbuh dari dua entitas tradisi dan budaya berbeda dan uniknya, ternyata kami tumbuh dalam lingkungan yang sama-sama masih memegang aktualisasi budaya yang cukup kuat dan otentik, yaitu budaya Jawa dan budaya Banjar.
Tidak heran jika di awal-awal rumah tangga kami dulu, sering terjadi benturan-benturan akibat perbedaan tradisi dan budaya, dari yang lumayan bikin pening orang sekampung, sampai yang remeh-temeh hingga bikin semua terkekeh-kekeh.
Uniknya, sampai sekarang, setelah 2 dekade lebih kebersamaan kami, khusus untuk urusan selera rasa ini masih harus memerlukan "deal-deal" tertentu alias kompromi agar sama-sama bisa menikmati secara paripurna, kuliner kesukaan masing-masing. Salah satu contoh riilmya adalah soal urusan baras (beras;bahasa Banjar) yang akan kita masak.
Baca Juga Yuk! Mindfull Eating untuk Ramadan dan Kehidupan yang Sehat Penuh Berkah
Saya yang terbiasa dengan nasi dari beras jawa yang pulen dan cenderung lembek, benar-benar kelabakan ketika harus bersantap nasi dari beras Banjar yang pera dan testurnya agak keras, apalagi baras usang yang harganya justeru paling mahal se-Indonesia itu. Begitu juga sebaliknya, isteri saya mengaku seperti makan lakatan (ketan;bahasa Banjar) ketika harus makan nasi pulen dari beras Jawa.
Ada yang tahu, kira-kira bentuk komprominya seperti apa? Isteri saya selalu mencampur dua jenis beras itu sebelum memasaknya dan hasilnya, ternyata lahirlah jenis nasi baru yang kita sebut sebagai nasi Baja, singkatan dari Banjar-Jawa dan Alhamdulillah, sampai sekarang kami merasa cocok dan nyaman dengan nasi baja ini. Begitu juga dengan anak-anak yang akhirnya menjadi penikmat semua kuliner perpaduan olahan mamanya.
Cancangan Itik Khas Banjar | @kaekaha |
Cerita deal-dealan dan kompromi-kompromian ini semakin seru kalau memasuki bulan Ramadan, tentu saja termasuk untuk urusan menu sahur dan buka puasa.
Biasanya, kami memulai kompromi dengan kuliner-kuliner "kembar tapi tidak identik" semisal Soto, Rawon, olahan Itik atau bebek, sampai gangan asam Banjar dan jenis kuliner BAJA alias Banjar-Jawa lainnya yang terus kami eksplor referensinya, terutama yang mempunyai kembaran plus syukur-syukur kesemuanya sama-sama kita suka.
Baca Juga Yuk! "Basambang" di Rawa-rawa, Bersama Julak Mamutiki Iwak
Saya bilang kembar tapi tidak identik karena kuliner yang sebutkan diatas ada versi Jawanya dan ada juga versi Banjarnya. Uniknya, meskipun namanya sama tapi wujud dan citarasanya jauh berbeda, salah satunya ya Soto. Kalau di Banjarmasin ada Soto Banjar, di kampung saya ada Soto kampung atau ada juga yang menyebut Soto Madiun dan juga Soto Lamongan.
Terus gimana cara komprominya, apa seperti nasibnya beras yang dicampur hingga lahirlah nasi baja? Tentu saja tidak, kalau Soto Banjar dengan Soto Madiun atau Soto Lamongan dicampur, jujur saja, kami memang belum pernah melakukan trial untuk itu, tapi membayangkan saja saya sudah nggak tega! He...he...he....
Bebek Goreng Suroboyoan | @kaekaha |
Kami memilih jalan kompromi yang lebih manusiawi alias tetap ramah di kantong kami untuk urusan ini. Biasanya ada 2 opsi yang wajib dipilih salah satunya melalui voting dengan suara terbanyak. Iya dong, kami tetap harus demokratis dengan melibatkan 4 jagoan kami yang lagi demen-demennya makan untuk menentukan pilihannya...he...he...he...
Opsi pertama, kalau untuk sahur kita menikmati Soto Madiun, maka untuk buka puasanya gantian menikmati Soto atau sop Banjar. Sedangkan untuk opsi keduanya, gantian menunya harian. Misalkan, hari ini kita bersantap sahur dan berbuka dengan bebek goreng Suroboyoan, maka besok baru ganti menu dengan Itik panggang khas Banjar atau cancangan itik yang citarasa rempahnya sangat menggoda. Seru kan!?
@kaekaha Awal semua rasa, Mulai dari suapan pertama, kunyahan pertama, gigitan pertama, sampai jadi makanan yang disuka ... Awal semua rasa kita hari ini, datangnya dari lidah mama Karena dari dulu, selera kita itu dari apa yang mama suka Pernah mendengar orang-orang disekitar kita atau mingkin malah saya atau anda sendiri pernah menyebut, "masakan mama atau ibu kita masakan ternikmat di dunia", hingga sanggup menciptakan sebentuk kerinduan yang tidak bisa diganti dengan apapun yang membuat seorang anak rela menmpuh ribuan kilo jarak hanya untuk mengecap kembali olahan masakan dari tangan mamanya? Ternyata, kalimat-kalimat yang tersusun dalam dua bait di ataslah jawaban misterinya! Simak info menarik selengkapnya hanya di @kompasiana.com Bersama @kaekaha #RamadanBercerita2025 #RamadanBercerita2025Hari10 #DiariRamadanKompasiana #EveryStoryMatters #RamadanBercerita #DiariRamadan #Ramadan #MysteryChallenge #kulinerBanjarJawa #KulinerBaja #kaekaha ♬ suara asli - kaekaha
Menariknya, gara-gara deal-dealan dan kompromi-kompromian ini, isteri saya terpacu untuk giat belajar beragam kuliner Jawa Timuran, hingga sekarang menurut validasi dari ibu saya yang juga mentornya, sudah berada di level mahir. Bahkan menurut ibu saya juga, khusus untuk masakan botok sayur dan geneman sembukan alias olahan daun kentut-kentutan olahan isteri saya sudah lebih enak dan berkarakter dari olahan ibu saya yang notebene adalah gurunya.
Inilah cara sederhana kami bersenang-senang dengan segala perbedaan yang jelas-jelas tidak mungkin kami hindari. Keniscayaan ini terlalu indah untuk kami ingkari. Alhadulillah dengan memodifikasinya, kami bisa merajutnya menjadi keseruan-keseruan tak terduga yang menambah warna-warni kehidupan keluarga kami semakin semarak dan tentunya membuat kai semakin bahagia. Insha Allah. (BDJ12325)
Semoga Bermanfaat!
Salam matan Kota 1000 Sungai,
Banjarmasin nan Bungas!
Artikel ini juga tayang di kompasiana pada 12 Maret 2025 jam 22:37 (Kik disini untuk membacanya)
Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar