Senin, 13 Mei 2024

Elegi Undangan Merah Jambu Bergambar Dirimu!

Cantik | terkini.id


"Nang, apa sabujurnya nang handak ikam cari? Usiamu sudah lebih dari cukup, bahkan adik-adikmu semuanya sudah mempunyai momongan!" Seperti pagi-pagi sebelumnya, sejak si Muksin sepupu yang juga sahabatku sejak kecil, sebulan lalu akhirnya menikahi teman sekantornya, obrolan di meja makan pagi ini kembali dibuka ibu dengan topik "panas" yang entah sampai kapan akan terus sidin ulang-ulang.

Bahkan, karena layaknya memutar kaset pita di pagi hari yang diulang secara terus menerus, aku sampai hapal dimana sidin akan menempatkan koma, titik bahkan juga penebalan intonasi bertanda seru dari kalimat-kalimat yang hak patennya pasti milik sidin ini.

"Sabar ma, Burhan juga terus berusaha mencari menantu idaman gasan pian, semua butuh proses dan pastinya juga tidak semudah membalik telapak tangan. Intinya mama sabar aja ya, sambil terus doakan Burhan agar segera berjodoh dengan bidadari yang akan menjadi pendamping Burhan di dunia dan akhirat", jawabku sambil merapikan piring dan peralatan makan lain yang baru saja kami gunakan menyantap lontong tampusing dengan lauk kepala iwak haruan, menu sarapan kegemaran keluarga kami.

Sejak abah meninggal dua bulan setelah Mumtaz, adik bungsuku yang melangsungkan pernikahan kira-kira dua tahun lalu dan langsung mengikuti suaminya yang tugas belajar ke Mesir, begitu juga dengan Jihan dan Rahma adik-adik perempuanku lainnya yang lebih dulu mengikuti suaminya masing-masing tinggal di luar kota, praktis tinggal aku dan mama saja yang tinggal di rumah berarsitektur tradisional Banjar, gajah baliku yang sejak puluhan atau mungkin malah ratusan tahun silam telah menjadi tempat tinggal turun-temurun "klan" padatuan dari pihak mamaku ini.

Tidak heran jika kemudian suasananya menjadi jauh lebih sepi dan hening, apalagi jika siang hari, ketika aku dan mama sama-sama beraktifitas. Saya ngantor di sebuah perusahaan tambang lokal, sedangkan mama menjadi guru sekaligus kepala sekolah SD di Kebun Bunga, yang lokasinya masih di seputar jalan A. Yani, tidak jauh dari kantorku.


Baca Juga :  Diary Personalia | Pacaran 10 Tahun, Eh ... Giliran Nikah Cuma Bertahan 3 Bulan


"Jangan terlalu bepilih-pilih, kada bagus! Sudah berapa kali juga ibu memberikan pilihan, tapi semuanya kamu tolak!" Obrolan masih berlanjut di dalam mobil, ketika saya mengarahkan mobil hardtop kuning, peninggalan almarhum abah, menuju SD Kebun Bunga untuk mengantarkan ibu sekalian saya juga berangkat menuju kantor.

"Maaf ma, bukannya Burhan terlalu memilih untuk urusan mencari istri, tapi semua yang mama pilihkan tidak satupun masuk kriteria. Dari gaya berpakaian mereka saja, mama pasti sudah tahu, sulit bagi Burhan untuk memenuhinya, belum lagi make up dan yang lain-lainnya!"  Jawabku sambil terus menatap lalulintas pagi di jalan paling kesohor di seantero Pulau Kalimantan yang sepagi itu sudah mulai bermacet-macet ria, gara-gara beberapa alat berat yang membongkar paksa beberapa konstruksi bangunan dan juga jembatan liar disepanjang sungai di tepi jalan yang diduga menjadi salah satu penyebab parahnya banjir besar di awal tahun kemarin.

"Ya sudah, terserah ikam saja, tapi ingat mama sudah tua, sebentar lagi juga pensiun. Kepingin rasanya mama menghabiskan masa tua dengan menimang-nimang cucu sendiri bukan cucu orang lain, ya! 

Setiap mendengar ucapan ibu yang satu ini, mulutku selalu seperti dirantai dan terkunci oleh puluhan gembok yang hilang kuncinya, diam seribu bahasa sampai ibu mengucapkan salam, setelah si kuning berhenti tepat didepan pintu gerbang tanpa pagar sekolah SD Kebun Bunga.

"Waalaikum salam", jawabku sambil meraih tangan beliau untuk mencium telapak dan punggung tangan beliau yang saya yakini merupakan pintu pembuka segala keberkahan.


Baca juga  :  Rezeki Anak Saleh | "Berkah" Digigit Anjing


Penunjuk waktu di smartphone-ku menunjukkan pukul 07.47 WITA, artinya masih ada  waktu lebih dari sepuluh menit sebelum jam masuk kantor pada pukul 08.00 WITA mewajibkan siapapun sudah ada di ruang kerja masing-masing dan siap untuk memulai aktivitas.

"Burhan ...!"  Sapa seseorang dari arah belakangku membuyarkan imajinasi pagiku.

"Eh, Tika! Kayak hantu aja tiba-tiba nongol dari belakang ... "  Spontan aku mengeluarkan jurus ice breaker jika ketemu dengan perempuan yang sebenarnya selalu membuatku gugup dan kurang percaya diri.

"Alamaaaaaak, cantik begini dibilang hantu! Tapi ngangeni khaaaan?"  Aku hanya tersenyum mendengar guyonan si-Tika atau Kartika, asisten manajer produksi yang kebetulan memang lumayan akrab, karena selain satu almamater, dulu waktu KKN di lereng Gunung Argopuro di perbatasan antara Kabupaten Jember dan Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur,  kami pernah satu kelompok, meskipun dia sebenarnya dua tingkat lebih muda dariku.

"Eh boss, ngopi dulu yuk sebentar di kantin, sekalian ada yang mau diomongin nih!" Tiba-tiba Tika menarik tanganku mengajakku belok ke kantin yang posisinya memang dekat parkiran mobil.

"Aduh sorry Ka, aku pagi ini ada meeting sama bos, jadi musti siapin semuanya! Nanti siang ato sore pulang ngantor aja ya ngopinya!?" Kali ini ganti aku yang menggenggam sekaligus menarik tangan Tika untuk masuk ke kantor.

"Lhaaaaaah ini, berdua belum muhrim kok sudah pada gandengan tangan sih! Minta diantar ke KUA ya!?" Tepat setelah melewati pintu kaca didepan resepsionis, dari toilet lobby kantor muncul taci Heni, manajer keuangan yang selalu menjodoh-jodohkan kami berdua ini seperti tidak kehabisan kata untuk "menggoda" kami berdua, termasuk momen tak terduga pagi ini, ketangkap basah pegangan tangan  yang sanggup menarik perhatian beberapa karyawan yang kebetulan berada di lobby, termasuk petugas Satpam kantor dan juga tamu yang sudah duduk manis.

"Waduuuuuuh!" Gumamku dalam hati begitu bertemu karyawan paling senior sekaligus paling tahu situasi dan kondisi "sosial ekonomi dan budaya" bahkan juga gosip asmara semua karyawan lebih detail dari pada pejabat HRD sekalipun ini. Spontan kulepaskan cengkeraman tanganku di telapak tangan Tika yang seketika itu juga langsung kabur menuju ruangan kerjanya di bagian paling belakang ruas kantor ini. 


Baca Juga :  Sssssst, Jangan Ganggu Ritual Sunnah Rasulku di Malam Jumat Ya!


Melihat Tika yang langsung kabur, Taci Heni langsung mendekatiku, "Han, apalagi yang kamu tunggu!? Sudah ditembak belum?" Tanya taci Heni sambil mengerlingkan mata, ketika langkahnya sudah sejajar denganku.

"Sudah dilamar aja! Kaina keduluan orang hanyar manyasal ikam!" Taci melanjutkan kalimatnya tanpa berusaha menunggu jawaban dan penjelasanku

"Ikam 28, Tika 26, pas banar itu! Hayuk lakasi, akukah melamarakan?" Taci terus saja mengeluarkan kalimat-kalimat provokasinya kepadaku, sambil tersenyum genit penuh arti.

Beruntung, dari balik pintu ruang meeting tiba-tiba keluar kepala Pak Robby, manajer HRD memberiku kode kepadaku dan juga taci Heni untuk segera masuk ke ruangan meeting. 

"Kira-kira, Tika maulah ci?" Tanyaku pelan sambil membuka pintu ruang meeting.

"Ikam ni aduuuuuh jadi laki-laki kok peragu gitu, harus yakin laaaaaah!" Jawab taci Heni pelan tepat di kuping kiriku sesaat sebelum aku duduk di kursi ruang meeting.

Setelah duduk tepat disampingku, kulihat taci Heni menulis sesuatu di sticky note kecil berwarna kuning ngejreng dan setelah selesai  langsung digeser dengan tangan kanannya kearahku. 

"Ikam ni terlalu banyak pertimbangan! Tidak semua perempuan itu matre seperti yang kamu pikirkan! Lagian kalian sudah lama saling kenel dan mengenal, sudah gitu sudah sama-sama punya penghasilan, apa lagi?" Itu isi tulisan taci Heni di sticky note. Aku hanya bisa tersenyum membaca tulisan provokatif taci Heni yang seharusnya bisa membakar keraguan dan ketidakpedeanku dihadapan perempuan selama ini. 

"Entahlah, aku sendiri juga tidak tahu "penyakit" apa yang sebenarnya membuatku selalu gugup dan gemetaran jika harus bicara cinta, apalagi mencintai seorang perempuan, terlebih yang baru ku kenal!"

"Tapi Tika anak orang berada ci, kita semua tahu gaya pakaiannya, tongkrongannya! Apa saya sanggup nantinya!? Tanpa banyak berpikir, dibalik sticky note yang berisi tulisan taci Heni tadi langsung saya tuliskan apa yang saya rasakan selama ini. Entah, kegilaan apa yang membuatku bisa terprovokasi menuliskan itu semua.

"Kalian sudah sama-sama dewasa dan aku yakin Tika orangnya juga tidak seperti yang kamu bayangkan. Sejauh yang kutahu dia orangnya sederhana, bahkan teramat sederhana jika melihat latar belakangnya. Sudaaaaah, kalau memang suka lakasi dilamar aja, rejeki sudah ada yang mengatur! Jangan sampai kedahuluan orang dan yang penting kesempatan belum tentu datang dua kali lho han!Tulis Taci Heni lagi di sticky note baru yang kali ini berwarna merah jambu.

Aku menatap ke arah taci Heni dan langsung tersenyum bahagia ketika melihat sidin juga tersenyum penuh arti. Entah kenapa, tiba-tiba hatiku begitu plong dan lega, seperti ada beban teramat berat yang seketika itu terlepas. 

"Apakah semua ini petunjuk dari-Nya!? Pagi tadi, mama terus memintaku untuk serius mencari pendamping, Tika tiba-tiba mengajakku ngopi dan katanya ada yang mau disampaikan dan yang paling menarik, ketika Taci Heni, "mak comblang" yang dikenal mempunyai reputasi mumpuni di lingkungan regional pabrik tiba-tiba terus memprovokasiku untuk melamar Tika!" Dalam hatiku mencoba merangkai kejadian-demi kejadian pagi ini.


Baca Juga :  Tradisi Poligami dan Kawin "Badadiaman" dalam Budaya Masyarakat Banjar 


Sudah menjadi tradisi masyarakat Suku Banjar, bulan Muharam diawal tahun kalender Islam selalu ramai dengan hajatan, khususnya perkawinan, karenanya tidak heran jika bulan Muharam juga disebut masyarakat sebagai salah satu musim kawin di lingkungan masyarakat Banjar.

Begitu juga bulan ini, dalam seminggu ini saja sudah enam hajatan perkawinan yang kuhadiri. Selain karyawan pabrik, ada juga kawan bermain bola, tetangga di kampung atau juga kawan-kawan sehobi main musik panting, musik tradisional Banjar di komunitas seni yang menikah. Menariknya, ada pelajaran penting yang saya dapatkan saat menghadiri acara-acara perkawinan ini, terlebih ketika menghadiri undangan resepsi pernikahan Syarif, Office Boy di kantor yang menikahi teman SD-nya.

Luar biasa sekali, aku tahu betul berapa gaji Syarif tiap bulannya, tapi dia lebih berani dariku untuk mengambil sikap menyegerakan membina rumah demi menyempurnakan kodrat keimanannya. "Masha Allah! Ya Allah, berilah hamba petunjuk dan juga kekuatan untuk memulainya..."

Setelah menumpahkan semua uneg-uneg dalam tahajud yang kulanjutkan dengan shalat Istikharah, hatiku semakin mantab untuk meminang Tika. Aku harus yakin dengan diriku sendiri. Demi Allah, besok aku akan mengatakan semuanya secara langsung kepada Tika.

"Bismillah!" Gumamku dalam hati.

Jam di smartphone-ku menunjukkan pukul 07.55 WITA ketika untuk kelima kalinya aku memeriksa tempat parkiran untuk memastikan kehadiran Tika. Tapi sayangnya, untuk yang kelima kalinya juga aku harus gigit jari. Tika dan juga mobil Innova tunggangannya belum juga nongol di sisa lima menit menjelang limit masuk kantor, sehingga mebuatku sangat gelisah.

"Tidak biasanya, Tika terlambat, ada apa ya? Atau jangan-jangan dia tahu aku akan menembaknya!? Sehingga sengaja memberiku kejutan juga! Aaaaah ngaco! Sudahlah ... ", Sambil berjalan menuju ruang kerja, dalam hatiku terus muncul gejolak menggelora yang berrcampur aduk dengan kegelisahan, ketakutan dan banyak perasaan aneh yang sebelumnya belum pernah aku rasakan.

Ketika mau membuka pintu ruangan, akau melihat Taci Heni keluar dari ruangannya yang bersebelahan dengan ruanganku. Anehnya, tatapan Taci Heni kepadaku tidak seperti biasanya, dari matanya aku mengakap kesan dan pesan sayu layaknya orang sedang bersedih yang sayangnya  aku tidak tahu sebab-musababnya. 

Apalagi ketika aku menanyakan tentang Tika yang sampai saat ini belum terlihat batang hidungnya, sekaligus memberitahukan maksudku untuk mengutarakan niatku kepada Tika. Bukannya merespon dengan spontan layaknya para motivator seperti biasanya, Taci Heni justeru mengangkat kedua bahunya dan berlalu pergi meninggalkanku.

Aku langsung masuk ruanganku sesaat setelah Taci Heni meninggalkanku dengan meninggalkan tanda tanya besar memenuhi ruang di otakku. "Ada apa ini sebenarnya!?"

Setelah duduk dan menyeruput teh hangat buatan si Syarif yang lumayan meredakan kegelisahanku, aku memeriksa beberapa berkas lamaran kerja diatas mejaku yang setiap hari selalu ada saja yang masuk meskipun pabrik tidak membuka lowongan pekerjaan. Tiba-tiba, dari sekitar empat berkas lamaran kerja yang kesemuanya bersampul cokelat itu, menyembul sebuah berkas atau tepatnya seperti kertas undangan berbungkus plastik berwarna merah jambu.

Dibagian sampul depan terlihat foto Adit, foreman (kapala shift selevel dibawah supervisor) bagian produksi yang baru lulus masa percobaan beberapa hari yang lalu, bahkan SK pengangkatannya sebagai karyawan tetap, juga baru kemarin aku serahkan, tampak tersenyum bahagia memakai baju adat Banjar dengan menggandeng tangan perempuan yang tidak terlihat sosoknya karena fotonya menghiasi bagian belakang sampul undangan dan baru terlihat kalau undangan dibalik. 

Deg! Untuk sesaat dunia seperti berhenti bergerak ketika undangan merah jambu itu kubalik dan semakin jelas ketika kedua sisinya kubuka bersamaan diatas mejaku. 

"Astagfirullah ... Tika!"




KAMUS BANJAR  :  

Nang                                                                                :  panggilan sayang kepada anak lelaki

sabujurnya nang handak ikam cari?                    :  sebenarnya apa yang kamu cari?

gasan pian                                                                      :  untuk anda (orang yang dihormati)

padatuan                                                                         :  nenek moyang

lakasi                                                                                 :  segera

kaina keduluan orang hanyar manyasal ikam  :  nanti keduluan orang kamu baru menyesal


 

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar