Rabu, 12 Maret 2025

Keluarga Gado-gado dan "Kompromi Uniknya" dalam Menu Sahur dan Berbuka

Soto Madiun Kesukaan Saya | @kaekaha


​​


Awal semua rasa,
Mulai dari suapan pertama, kunyahan pertama,
gigitan pertama, sampai jadi makanan yang disuka
...
Awal semua rasa kita hari ini, datangnya dari lidah mama
Karena dari dulu, selera kita itu dari apa yang mama suka



Pernah membaca dua bait pesan diatas? Atau mungkin pernah mendengar audionya dari media? Baiklah, kalimat-kalimat yang tersusun menjadi dua bait diatas saya dapatkan dari salah satu iklan produk consumer goods yang tayang di televisi dan jaringan internet yang biasanya memang rajin tayang di sepanjang Ramadan. Ada yang tahu?

Baca Juga Yuk! Semua Menang, Semua Senang di "War Takjil" Pasar Wadai, Banjarmasin

Tapi maaf, di sini saya tidak akan membahas iklan maupun produk consumer goods yang diiklankan dengan untaian kalimat-kalimat diatas, karena saya justeru tertarik dengan kesederhanaan dan keindahan susunan diksi dari dua paragraf diatas yang ternyata menghasilkan susunan kata yang begitu cantik dengan makna yang ternyata juga begitu dalam, bagaimana kronik selera dalam rasa terbentuk! Semua mama yang mengawalinya!

Pernah mendengar orang-orang disekitar kita atau mingkin malah saya atau anda sendiri pernah menyebut, "masakan mama atau ibu kita masakan ternikmat di dunia", hingga sanggup menciptakan sebentuk kerinduan yang tidak bisa diganti dengan apapun yang membuat seorang anak rela menmpuh ribuan kilo jarak hanya untuk mengecap kembali olahan masakan dari tangan mamanya? 

Ternyata, kalimat-kalimat yang tersusun dalam dua bait di ataslah jawaban misterinya!

Pertanyaanya, kira-kira apa yang bakal terjadi ketika dua orang anak yang sama-sama tumbuh dalam lingkungan (ibu) yang sama-sama berhasil menurunkan pattern atau patron selera rasa otentik yang sama-sama kuatnya, bahkan levelnya bukan hanya berlabel keluarga saja, tapi entitas tradisi dan budaya yang berbeda, tiba-tiba disatukan oleh ikatan perkawinan (tanpa pacaran lo ya!) yang tidak hanya mengharuskan mereka berbagi cinta dan kasih sayang semata, tapi juga berbagi rasa, selera rasa?

Soto (Banjar) Kuin | @kaekaha


Itu yang terjadi dengan saya dan isteri yang memang lahir dan tumbuh dari dua entitas tradisi dan budaya berbeda dan uniknya, ternyata  kami tumbuh dalam lingkungan yang sama-sama masih memegang aktualisasi budaya yang cukup kuat dan otentik, yaitu budaya Jawa dan budaya Banjar.

Tidak heran jika di awal-awal rumah tangga kami dulu, sering terjadi benturan-benturan akibat perbedaan tradisi dan budaya, dari yang lumayan bikin pening orang sekampung, sampai yang remeh-temeh hingga bikin semua terkekeh-kekeh. 

Uniknya, sampai sekarang, setelah 2 dekade lebih kebersamaan kami, khusus untuk urusan selera rasa ini masih harus memerlukan "deal-deal" tertentu alias kompromi agar sama-sama bisa menikmati secara paripurna, kuliner kesukaan masing-masing. Salah satu contoh riilmya adalah soal urusan baras (beras;bahasa Banjar) yang akan kita masak. 

Baca Juga Yuk! Mindfull Eating untuk Ramadan dan Kehidupan yang Sehat Penuh Berkah

Saya yang terbiasa dengan nasi dari beras jawa yang pulen dan cenderung lembek, benar-benar kelabakan ketika harus bersantap nasi dari beras Banjar yang pera dan testurnya agak keras, apalagi baras usang yang harganya justeru paling mahal se-Indonesia itu. Begitu juga sebaliknya, isteri saya mengaku seperti makan lakatan (ketan;bahasa Banjar) ketika harus makan nasi pulen dari beras Jawa. 

Ada yang tahu, kira-kira bentuk komprominya seperti apa? Isteri saya selalu mencampur dua jenis beras itu sebelum memasaknya dan hasilnya, ternyata  lahirlah jenis nasi baru yang kita sebut sebagai nasi Baja, singkatan dari Banjar-Jawa dan Alhamdulillah, sampai sekarang kami merasa cocok dan nyaman dengan nasi baja ini. Begitu juga dengan anak-anak yang akhirnya menjadi penikmat semua kuliner perpaduan olahan mamanya.

Cancangan Itik Khas Banjar | @kaekaha

Cerita deal-dealan dan kompromi-kompromian ini semakin seru kalau memasuki bulan Ramadan, tentu saja termasuk untuk urusan menu sahur dan buka puasa. 

Biasanya, kami memulai kompromi dengan kuliner-kuliner "kembar tapi tidak identik" semisal Soto, Rawon, olahan Itik atau bebek, sampai gangan asam Banjar dan jenis kuliner BAJA alias Banjar-Jawa lainnya yang terus kami eksplor referensinya, terutama yang mempunyai kembaran plus syukur-syukur kesemuanya sama-sama kita suka.

Baca Juga Yuk! "Basambang" di Rawa-rawa, Bersama Julak Mamutiki Iwak

Saya bilang kembar tapi tidak identik karena kuliner yang sebutkan diatas ada versi Jawanya dan ada juga versi Banjarnya. Uniknya, meskipun namanya sama tapi wujud dan citarasanya jauh berbeda, salah satunya ya Soto. Kalau di Banjarmasin ada Soto Banjar, di kampung saya ada Soto kampung atau ada juga yang menyebut Soto Madiun dan juga Soto Lamongan.

Terus gimana cara komprominya, apa seperti nasibnya beras yang dicampur hingga lahirlah nasi baja? Tentu saja tidak, kalau Soto Banjar dengan Soto Madiun atau Soto Lamongan dicampur, jujur saja, kami memang belum pernah melakukan trial untuk itu, tapi membayangkan saja saya sudah nggak tega! He...he...he....

Bebek Goreng Suroboyoan | @kaekaha

Kami memilih jalan kompromi yang lebih manusiawi alias tetap ramah di kantong kami untuk urusan ini. Biasanya ada 2 opsi yang wajib dipilih salah satunya melalui voting dengan suara terbanyak. Iya dong, kami tetap harus demokratis dengan melibatkan 4 jagoan kami yang lagi demen-demennya makan untuk menentukan pilihannya...he...he...he...

Opsi pertama, kalau untuk sahur kita menikmati Soto Madiun, maka untuk buka puasanya gantian menikmati Soto atau sop Banjar. Sedangkan untuk opsi keduanya, gantian menunya harian. Misalkan, hari ini kita bersantap sahur dan berbuka dengan bebek goreng Suroboyoan, maka besok baru ganti menu dengan Itik panggang khas Banjar atau cancangan itik yang citarasa rempahnya sangat menggoda. Seru kan!? 

@kaekaha Awal semua rasa, Mulai dari suapan pertama, kunyahan pertama, gigitan pertama, sampai jadi makanan yang disuka ... Awal semua rasa kita hari ini, datangnya dari lidah mama Karena dari dulu, selera kita itu dari apa yang mama suka Pernah mendengar orang-orang disekitar kita atau mingkin malah saya atau anda sendiri pernah menyebut, "masakan mama atau ibu kita masakan ternikmat di dunia", hingga sanggup menciptakan sebentuk kerinduan yang tidak bisa diganti dengan apapun yang membuat seorang anak rela menmpuh ribuan kilo jarak hanya untuk mengecap kembali olahan masakan dari tangan mamanya? Ternyata, kalimat-kalimat yang tersusun dalam dua bait di ataslah jawaban misterinya! Simak info menarik selengkapnya hanya di @kompasiana.com Bersama @kaekaha #RamadanBercerita2025 #RamadanBercerita2025Hari10 #DiariRamadanKompasiana #EveryStoryMatters #RamadanBercerita #DiariRamadan #Ramadan #MysteryChallenge #kulinerBanjarJawa #KulinerBaja #kaekaha ♬ suara asli - kaekaha

Menariknya, gara-gara deal-dealan dan kompromi-kompromian  ini, isteri saya terpacu untuk giat belajar beragam kuliner Jawa Timuran, hingga sekarang menurut validasi dari ibu saya yang juga mentornya, sudah berada di level mahir. Bahkan menurut ibu saya juga, khusus untuk masakan botok sayur dan geneman sembukan alias olahan daun kentut-kentutan olahan isteri saya sudah lebih enak dan berkarakter dari olahan ibu saya yang notebene adalah gurunya.  

Inilah cara sederhana kami bersenang-senang dengan segala perbedaan yang jelas-jelas tidak mungkin kami hindari. Keniscayaan ini terlalu indah untuk kami ingkari. Alhadulillah dengan memodifikasinya, kami bisa merajutnya menjadi keseruan-keseruan tak terduga yang menambah warna-warni kehidupan keluarga kami semakin semarak dan tentunya membuat kai semakin bahagia. Insha Allah. (BDJ12325) 

 Semoga Bermanfaat!

Salam matan Kota 1000 Sungai,
Banjarmasin nan Bungas!

Artikel ini juga tayang di kompasiana pada 12 Maret 2025 jam  22:37 (Kik disini untuk membacanya)

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN


 

Selasa, 11 Maret 2025

Masjid Sultan Suriansyah, Monumen Berdirinya Kota Banjarmasin

 

Interior Masjid Sultan Suriansyah (Foto : @kaekaha)

Singgah di Kota Banjarmasin, belum lengkap bila belum mengunjungi satu-satunya saksi tersisa penanda berdirinya Kota Tua Banjarmasin, yaitu Masjid Sultan Suriansyah di daerah Kuin. Monumen berupa kompleks bangungan masjid yang menurut sejarah didirikan Sultan sesaat setelah resmi diangkat menjadi pemimpin di Kesultanan Banjar.

Lokasi situs Masjid Sultan Suriansyah atau juga biasa disebut dengan Masjid Kuin ini dulunya merupakan kawasan kotaraja atau ibu kota Kesultanan Banjar yang dikenal dengan sebutan wilayah Kota Banjar Lama. Untuk menuju kesana relatif mudah, selain karena lokasinya masih di jantung kota, di dalam Kota sendiri banyak papan penunjuk arah untuk menuju lokasi masjid yang terletak di jalan Alalak Utara RT 5, Kelurahan Kuin Utara, Kecamatan Banjarmasin Utara, Kota Banjarmasin ini.

Masjid Sultan Suriansyah (Foto : @kaekaha)

Ada dua alternatif moda transportasi untuk menuju Masjid Sultan Suriansyah yang lokasinya berdekatan dengan komplek makam keluarga kesultanan di tepian Sungai Kuin ini, yaitu melalui jalur darat atau jalur sungai. 

Untuk jalur sungai, pengunjung bisa memilih menyewa kelotok dari dermaga di siring Kota atau mengikuti paket wisata susur sungai yang menyuguhkan paket mengelilingi Kota melalui jalur sungai yang  salah satu destinasi tujuannya ke Masjid Sultan Suriansyah. Untuk informasi lebih detail bisa juga cek di aplikasi Pegipegi atau kontak langsung customer service Pegipegi via telepon di 0804 1400 777 atau juga bisa via email di cs@pegipegi.com.

Baca juga : Unda-Nyawa, Ini "Lo-Gue" Versi Bahasa Banjar!

Berada di bangunan cagar budaya Masjid Sultan Suriansyah yang dilindungi negara melalui UU No.11 Tahun 2010 ini, kita seperti berada di dalam lorong waktu yang membawa kita kembali ke masa awal berdirinya kesultanan Banjar di abad 16. 

Jika tidak terlihat dan terdengar  lalu lalang mobil, sepeda motor atau juga kelotok yang lewat di jalan raya/sungai depan masjid, maka arsitektur kuno masjid, berikut eksterior dan interior masjid yang dibangun dengan kayu ulin atau kayu besi (Eusideroxylon zwageri)  ini benar-benar akan menghadirkan suasana Banjarmasin dimasa lampau.

Pintu utama (Foto : @kaekaha)

Kalau diperhatikan dengan seksama, model arsitektur Masjid Sultan Suriansyah mirip sekali dengan Masjid Agung Demak di Jawa Tengah. Lho kok bisa!? Hal ini terkait dengan sejarah bedirinya Kota Banjarmasin.

Berawal  dari kehadiran Khatib Dayyan, mubaligh yang juga panglima perang Kesultanan Demak utusan Sultan Trenggono yang bertugas untuk membantu Pangeran Samudra mempertahankan diri dari serangan pamannya sendiri, Pangeran Tumanggung dari Kerajaan Daha. 

Berkat kelihaian diplomasi yang dibangun oleh Khatib Dayyan, akhirnya perang saudara antar paman dan keponamakan itu berakhir manis, keduanya berdamai dan akhirnya Pangeran Tumanggung mengakui kedaulatan Kerajaan Banjar yang dipimpin oleh keponakannya, Pangeran Samudra. Peristiwa ini diperkirakan terjadi pada tanggal 24 September 1526 yang akhirnya diabadikan sebagai hari jadi Kota Banjarmasin.

Kaligrafi berpadu motif daun jaruju (Foto : @kaekaha)

Setelah Kerajaan Banjar resmi berdiri dan Pangeran Samudera juga resmi diangkat menjadi raja, maka atas bimbingan Khatib Dayyan, Pangeran Samudera dan seluruh rakyatnya akhirnya memeluk Islam dan berganti nama menjadi Sultan Suriansyah. 

Konsekuensinya, untuk keperluan beribadah sholat 5 waktu berjamaah di lingkungan istana, akhirnya Sultan Suriansyah mendirikan masjid pertama di tanah Kalimantan dengan referensi model, bentuk dan gaya arsitektur dari masjid Agung Demak yang diperkenalkan oleh Khatib Dayyan. Masjid itulah yang sekarang kita kenal dengan nama Masjid Sultan Suriansyah.

Meskipun dibangun dengan referensi dari Masjid Agung Demak, tapi karena adanya perbedaan alam, adat istiadat dan budaya menjadikan arsitektur Masjid Sultan Suriansyah layaknya hasil “perkawinan”  antara budaya Jawa dan Banjar, sehingga di beberapa bagian memunculkan perbedaan yang signifikan dengan induknya, Masjid Agung Demak.

Atap mihrab terpisah dari atap ruang induk (Foto : @kaekaha) 

Beberapa diantaranya adalah, konstruksi panggung dengan hanya satu bangunan utama tanpa pendopo dan atap pada mihrab terpisah dari atap bangunan induk, keberadaan pataka yang tinggi menjulang di puncak meru yang lebih runcing, keberadaan Jamang/Siger di ujung pertemuan atap dan keberadaan pagar susur atau Kandang Rasi yang semuanya terbuat dari kayu ulin.

Meskipun telah mengalami pemugaran beberapa kali, keaslian struktur dasar bangunan masjid yang berdiri di area lahan seluas 30 x 25 meter dengan ukuran 15,5 x 15,7 meter dan tinggi 10 meter ini, masih terjaga sampai sekarang. Begitu juga konstruksi bangunan fisik yang secara keseluruhan terbuat dari kayu ulin  (Eusideroxylon zwageri) atau juga dikenal dengan sebutan kayu besi yang terkenal kuat dan kokoh mulai dari atap (sirap), dinding, pintu, jendela sampai lantai semuanya masih tetap utuh terjaga sampai sekarang.

pagar susur atau Kandang Rasi (Foto @kaekaha)

konstruksi kayu ulin ini, memberi kesan kuat, tua dan kuno atau orang Banjar menyebutnya sebagai bangunan Bahari. Kesan ini secara keseluruhan memperkuat posisi masjid sebagai bangunan terpenting atau bertuah bagi masyarakat di sekitarnya.

Arsitektur Masjid Sultan Suriansyah sebagaimana bangunan-bangunan kuno bersejarah lainnya, juga mempunyai sisi unik berupa simbol-simbol filosofis tertentu pada detil-detil bangunannya. 

Contoh yang paling mudah dilihat adalah jumlah pintu masjid yang totalnya ada 17 buah dan uniknya,
masing-masing pintu itu mempunyai nama sendiri-sendiri, layaknya dua masjid besar di tanah suci, Masjidil Haram di Makkah dan Masjidil Nabawi di Madinah.

Ornamen penghias pada dinding gebyog (Foto : @kaekaha) 

Tentu bukan sebuah kebetulan ketika jumlah pintu tersebut sama dengan jumlah rakaat shalat fardhu. Mungkin, makna lugasnya adalah agar semua rakyat Kesultanan Banjar saat itu, jangan sampai meninggalkan 17 rakaat alias sholat 5 (lima) waktu. Wallahu A'lam Bishawab.

Dibagian dalam Masjid Sultan Suriansyah, interiornya tidak jauh berbeda dengan masjid kebanyakan. Bedanya, dalam mihrab terdapat sebuah mimbar tua peninggalan Sultan Suriansyah yang terbuat dari kayu ulin yang bagian atasnya terdapat ornamen berupa pelengkung/lengkungan berhias kaligrafi arab yang berbunyi "Allah Muhammadarasulullah".

cantiknya ornamen pintu samping (Foto : @kaekaha)

Pada bagian kanan atas terdapat tulisan "Krono Legi : Hijrah 1296 bulan Rajab hari Selasa tanggal 17", sedang pada bagian kiri terdapat tulisan : "Allah subhanu wal hamdi al-Haj Muhammad Ali al-Najri". Ini berarti pembuatan mimbar pada hari Selasa Legi tanggal 17 Rajab 1296, atas nama Haji Muhammad Ali al-Najri.

Sedangkan di bawah tempat duduk mimbar terdapat undak-undakan atau anak tangga berjumlah 9 yang dihiasi dengan ukiran berupa sulur-suluran, kelopak bunga dan arabes yang distilir. 

Ditengah-tengah langit ruangan masjid, terdapat lampu gantung besar (chandelier) cantik yang berbentuk layaknya sekuntum bunga yang sedang mekar jika dilihat tepat dari bawahnya. Hiasan ini semakin memperkuat kesan klasik pada Masjid yang ruangannya terasa adem ini.

Chandelier cantik dengan latar plafon kayu ulin (Foto @kaekaha)

Dibagian kanan dan kiri mihrab terdapat pintu utama (lawang agung), masing-masing terdapat sebuah inskripsi yang tertulis pada bidang berbentuk segi delapan berukuran 50 cm x 50 cm. 

Pada daun pintu sebelah kanan terdapat 5 baris inskripsi Arab-Melayu berbunyi : " Ba'da hijratun Nabi Shalallahu 'alahihi wassalam sunnah 1159 pada Tahun Wawu ngaran Sultan Tamjidillah Kerajaan dalam Negeri Banjar dalam tanah tinggalan Yang mulia."

Sedangkan pada daun pintu sebelah kiri terdapat 5 baris inskripsi Arab-Melayu berbunyi: "Kiai Damang Astungkara mendirikan wakaf Lawang Agung Masjid di Nagri Banjar Darussalam pada hari Isnain pada sapuluh hari bulan Sya'ban tatkala itu (tidak terbaca)". 

Kedua inskripsi ini menunjukkan pada hari Senin tanggal 10 Sya'ban 1159 telah berlangsung pembuatan Lawang Agung (pintu utama) oleh Kiai Demang Astungkara pada masa pemerintahan Sultan Sepuh atau Sultan Tamjidullah I (1734-1759).


Mihrab Sultan dan Lawang Agung berusia 5 abad (Foto : @kaekaha) 

Secara umum, selain motif kaligrafi arab, ragam hias/ornamen yang terpahat di Masjid Sultan Suriansyah didominasi oleh ragam motif ukiran khas Banjar berupa, motif flora (daun jaruju, bunga mawar dan melati, buah manggis, buah waluh dan batang sulur-suluran yang berpilin-pilin), motif fauna (stilisasi buntut ayam jago pada ragam jamang/sigar dan burung enggang pada puraka) dan motif geometris berbentuk mirip kipas  yang didominasi warna hijau dan kuning, ciri khas yang membungkus hampir seluruh ornamen yang menghiasi masjid.

Motif dan warna dominan hijau dan kuning ini menunjukkan kedekatan masyarakat Banjar dengan alam dan lingkungannya. Khusus untuk ornamen motif flora dan motif fauna, distilir dulu sebelum diterapkan menjadi ornamen hias Masjid, hal ini untuk menghindari kemusyrikkan sebab Islam melarang bentuk atau gambar menyerupai makhluk hidup.

Lantai Kayu Ulin (Foto : @kaekaha)

Keunikan lain dari masjid ini adalah keberadaan lantai kayu yang disusun dari batangan-batangan kayu ulin berbentuk persegi  berwarna hitam keabuabuan yang membentuk ornamen estetis yang unik, cantik dan terlihat kinclong dan licin bila diinjak kaki telanjang.  Melihat susunan batang kayunya yang unik, membuat kening siapapun yang melihatnya akan berkerut, betapa cerdas yang membuat pola dan menyusunnya menjadi komposisi yang sangat cantik.

Dermaga Masjid Sultan Suriansyah (Foto : @kaekaha) 

Masjid Sultan Suriansyah merupakan tonggak sejarah sekaligus poros dimulainya penyebaran Islam di Kalsel, bahkan di Kalimantan. Posisi ibu kota Kesultanan Banjar yang di tepian sungai memang sangat strategis menjadi basis dakwah ke pedalaman Kalimantan. 

Untuk mempermudah akses transportasi sungai, di depan Masjid atau di tepian sungai kuin yang dipisahkan oleh jalan raya beraspal terdapat dermaga tua yang dibangun beriringan dengan bangunan utama masjid Sultan. Hanya saja, kondisi dermaga memang sudah mengalami renovasi. Sekarang kondisi dermaga sudah terlihat lebih  modern, karena sudah dilapisi oleh keramik putih.

Jembatan Tua Kayu Ulin (Foto : @kaekaha)

Sedangkan di sisi sebelah kanan masjid, terdapat jembatan kayu ulin yang usianya konon juga setua bangunan Masjid Sultan yang dicat dengan warna dominan hijau dan kuning,  senada dengan warna cat Masjid Sultan dan dermaga tua di sampingnya. Cantik banget pooknya! 

Nah.....! Sebentar lagi libur akhir tahun dan libur tahun baru segera tiba! Pegipegi yuk! Jelajahi tempat wisata keren di Banjarmasin. Nggak usah bingung, pakai aja aplikasi Pegipegi semua beres! Mau cari tiket pesawat ke Banjarmasin, cari hotel atau cari info terkait tempat wisata di Banjarmasin? Semua ada...

Yuk! Kutunggu ya di Banjarmasin...

Artikel ini juga tayang di kompasiana pada 27 Oktober 2018 jam  14:11 (Kik disini untuk membacanya)




Masjid Bersejarah Sultan Suriansyah (Foto : @kaekaha)

Yuk Coba "Self Challenging", Alternatif Olahraga yang Ramah Puasa!

Olahraga Ringan Selama Bulan Ramadan | @kaekaha

Sejak beberapa episode Ramadan terakhir, saya terus berusaha mencari cara paling efektif untuk tetap bisa berolahraga, tetap "adil" memberikan hak kepada tubuh untuk tetap cukup bergerak secara teratur agar tetap sehat dan bugar. Meskipun, jenis, pola dan juga durasinya berbeda dengan olahraga yang rutin saya tekuni di hari-hari biasa.

Semua saya lakukan setelah saya mengetahui dari beberapa literatur yang saya baca, selain terus memaksimalkan beragam amaliyah ruhaniah khas Bulan Ramadan, ternyata Rasulullah SAW juga tetap berolahraga secara teratur. Tentu saja, porsi olahraganya sudah dimodifikasi agar tidak mengganggu ibadah puasanya. Ini yang menginspirasi saya!

Luar biasanya, berdasarkan referensi dari beberapa hadis sahih terbukti, olahraga kegemaran Rasulullah SAW ternyata nggak kaleng-kaleng mas bro! Memanah, anggar, gulat, berenang, dan berkuda. Keren kan!?

Selain karena terinspirasi oleh aktifitas ramadan Rasulullah SAW yang tetap berolahraga untuk menjaga kesehatan dan kebugaran, secara faktual saya juga merasakan ketidaknyaanan di badan saya, setelah seminggu berpuasa tanpa sedikitpun aktifitas olahraga sama sekali

Baca Juga Yuk! "Basambang" di Rawa-rawa, Bersama Julak Mamutiki Iwak

Badan jadi serasa nggak fit, pegal-pegal di persendian dan sekujur punggung dari pinggang hingga pangkal leher, bahkan kadang-kadang sampai kesusahan kalau harus menengok ke kanan atau ke kiri.

Pengalaman dari check up kesehatan sebelumnya, dulu sih waktu saya masih malas olahraga tapi tetap brutal menjadi pemakan segala! He...he...he... Biasanya sih, itu karena kolesterol saya naik, salah satunya karena stres pekerjaan yang numpuk dan itu relevan dengan gaya hidup saya selama seminggu pertama puasa yang minim gerak karena pekerjaan yang menumpuk, ditambah kecenderungan saya yang kembali brutal menjadi pemakan segala, terutama saat berbuka puasa.

Olahraga Ringan Selama Bulan Ramadan | @kaekaha

Setelah mencari referensi disana-sini dan jawaban dari keluhan saya hanya dua, yaitu tetap olahraga  dan kendalikan asupan makanan saat sahur dan juga berbuka puasa, seperti yang saya tuliskan dalam artikel "Mindfull Eating untuk Ramadan dan Kehidupan yang Sehat Penuh Berkah", akhirnya mau nggak mau saya memulai lagi berolahraga lagi.

Untuk olahraganya fleksibel aja kok! Prinsipnya sih dilakukan dengan  intensitas yang terukur, tidak terlalu lama dan tidak terlalu berat atau menyesuaikan dengan kebiasaan, kebutuhan serta kemampuan fisik  masing-masing. 

Setidaknya, cukup untuk memperlancar sirkulasi peredaran darah dan tetap menjaga berlangsungnya pembakaran kalori meskipun dalam skala terkecil, sehingga metabolisme tubuh tetap berjalan dengan baik.

Baca Juga Yuk! Segera Mulai, Sebesar Apapun Langkah untuk Meraih Dunia dan Akhirat

Tujuannya, agar aktifitas olahraga kita tidak mengganggu ibadah puasa tapi tetap cukup memberikan kebugaran dan kesehatan pada  tubuh, syukur-syukur kalau olahraga yang kita pilih jenis olahraga yang disunahkan oleh Rasulullah SAW di atas. Masha Allah!

Jadi olahraganya sih apa saja ya, asal masih dalam koridor prinsip-prinsip diatas OK aja sih! Kalau saya sih, biasanya mengawali dengan senam-senam ringan tapi serius seperti foto yang diperagakan anak-anak saya diatas, , sampai stretching, termasuk gerakan kayang dan sit up semampunya, kadang bisa juga dilanjut dengan main bulu tangkis di halaman rumah atau jalan santai terukur keliling komplek. 

Olahraga Ringan Selama Bulan Ramadan | @kaekaha


Sayangnya, kadang-kadang karena kesibukan saya tidak bisa menyediakan waktu khusus untuk olahraga, meskipun hanya 30 menit sampai 1 jam seperti biasanya. Apalagi saya biasa olah raganya di sore selepas Ashar atau menjelang Magrib seperti saran dr Michael Triangto, SpKO, praktisi kesehatan olahraga dari Slim and Health Sports Therapy. 

Beruntung, akhirnya saya menemukan tips baru yang mencerahkan yaitu aktifitas yang Insha Allah memberikan manfaat sepadan dengan olahraga, meskipun secara faktual kita tidak secara khusus sedang berolahraga yang biasa saya sebut sebagai self callenging!

Apa itu self callenging?
   
Self callenging ini merupakan sebuah tantangan terhadap diri sendiri untuk sekreatif mungkin memodifikasi aktifitas rutin kita sehari-hari menjadi media berolahraga.

Contohnya, di pagi hari, kalau biasanya saya berangkat ke masjid untuk shalat Subuh yang jaraknya sekitar 1 km naik sepeda motor, maka untuk selanjutnya saya ganti dengan jalan kaki PP alias pergi-pulang dan seringnya untuk jalan pulang saya pilih jalan yang berbeda dengan jalan berangkat. 

Lumayan lo ini! Karena waktu tempuhnya lebih dari 30 menit, waktu ideal secara umum berolahraga di bulan puasa yang banyak disarankan oleh praktisi kesehatan .

Ke Pasar jalan Kaki atau Bersepeda untuk yang Lebih Jauh | @kaekaha

Aktifitas jalan kaki ke Masjid ini yang paling memungkinkan untuk saya lakukan, sementara ini baru untuk salat subuh PP dan salat isya atau tarawih untuk P terakhir saja alias pulangnya, karena biasanya berangkatnya sejak sebelum Maghrib dan dilanjut itikaf sampai datang waktu salat Isya yang dilanjut dengan Tarawih dan salat Witir.    

Baca Juga Yuk! Masjid Sultan Suriansyah "Mesin Waktu" Menuju Sejarah Berdirinya Kota Banjarmasin

Sejauh ini, selain aktifitas ke masjid, aktifitas lain yang bisa saya modifikasi untuk self callenging baru aktifitas ke pasar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk berbuka dan sahur yang hampir setiap pagi juga kami lakukan. Biasanya, sama istri naik sepeda motor, sekarang diganti dengan jalan kaki saja dengan strategi yang sama, selalu memilih jalan pulang yang berbeda dengan jalan berangkat.

Bagi anda yang punya kebun atau sawah yang range jaraknya 1-2 km bisa juga tuh dimodif untuk self callenging. Atau mungkin anda yang pekerja kantoran yang tempat kerjanya bertingkat. Kalau biasanya naik ke lantai 2 atau 3 pakai lift mulai sekarang dibisakan pakai tangga saja. Lumayan lo!

Mau lagi yang lain? Silakan kreasikan sendiri aktifitas rutin anda menjadi olahraga. Selamat mencoba!(BDJ11325)

Semoga bermanfaat!

Salam Matan Kota 1000 Sungai,
Banjarmasin nan Bungas!

Artikel ini juga tayang di kompasiana pada 11 Maret 2025 jam  16:48 (Klik disini untuk membacanya)


Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN





Sabtu, 08 Maret 2025

"Basambang" di Rawa-rawa, Bersama Julak Mamutiki Iwak

Menyusuri Tepian Sungai Sungai dan Rawa Menuju Titik-titik Tampairay | @kaekaha

Ngabuburit di rawa, bersama Pak de mengambil/memanen ikan

Ngabuburit di rawa, bersama Pak de mengambil/memanen ikan. Begitulah kira-kira makna terjemahan dari judul tulisan diatas. Basambang atau basasambang, merupakan kosakata dalam bahasa Banjar yang mempunyai makna sepadan dengan kata ngabuburit dalam bahasa Sunda  maupun bahasa Indonesia. 

Sedangkan kata mamutiki sebenarnya memang identik dengan kata kata memetik dalam bahasa Indonesia tapi untuk makna jamak/banyak, sehingga bisa juga dimaknai sebagai mengumpulkan dan penggunaan kata mamutiki ini dalam bahasa Banjar juga cenderung lebih luas.

Baca Juga Yuk! Berusaha Melazimkan Setiap Detik Waktu Kita Bernilai Ibadah 

Sedangkan tampiray adalah sebutan Urang Banjar untuk lukah atau bubu dan sejenisnya, yaitu sebuah alat untuk menjebak ikan di rawa-rawa atau tepian sungai yang biasanya dirangkai dari bahan rotan, bambu atau sekarang sudah ada juga yang membuat dari bahan kawat 

Tampiray atau lukah ini sebenarnya banyak tersebar di berbagai daerah di nusantara. Pembedanya mungkin hanyalah bahan, ukuran dan juga desain bentuk tampiray-nya yang secara umum disesuaikan dengan target ikan yang diincar, baik jenis maupun ukurannya, juga target lokasi peletakan tampiray-nya yang biasanya di titik-titik strategis pinggiran sungai atau rawa-rawa.

Jadi, cerita ini memang perihal "basambang", ngabuburit versi kearifan lokal Urang Banjar di Kalimantan Selatan berikut diasporanya di senja hari Bulan Ramadan. Yuk, Basambang di rawa...

Tampiray yang Baru Saja Dibangkit atau Diangkat | @kaekaha


Merujuk pada julukannya yang telah lama melekat sebagai Kota 1000 Sungai, tentu masyarakat nusantara dan dunia sudah mafhum dengan fakta unik topografis dan juga geografis Kota Banjarmasin, mantan ibu kota Propinsi  Kalimantan Selatan ini.

Rata-rata ketinggian daratan kotanya yang hanya 60-80 cm dibawah permukaan air laut, menyebabkan sebagian besar daratannya didominasi perairan darat, berupa sungai dan rawa-rawa. Inilah asal muasal julukan Kota 1000 Sungai yang kelak menjadi identitas Kota Banjarmasin.

Baca Juga Yuk! Lho Mbah, Arah Kiblat Sholatnya Kok ke Arah Barat?

Persentuhan selama berabad-abad antara Urang Banjar dengan ekosistem perairan darat, melahirkan kearifan lokal yang kelak kita kenal sebagai budaya sungai dan salah satu kearifan lokalnya yang sampai sekarang masih eksis dan terbukti ikut berperan menjaga kelestarian ekosistem sungai dan rawa adalah tradisi maiwak atau cara menangkap ikannya yang sangat ramah lingkungan.  

Di antara sekian banyak cara menangkap ikan dalam tradisi maiwak khas Urang Banjar ini, ada satu teknik maiwak yang paling populer karena ramah lingkungan dan cocok untuk ekosistem tepi sungai dan rawa, relatif mudah, sederhana, tidak perlu skill khusus, tapi setiap hari hasilnya bisa dipanen, yaitu teknik maiwak dengan menggunakan tampiray. 

Nah, sore ini kita akan basambang alias ngabuburit produktif dengan mamutiki  atau memanen ikan dari puluhan sampai ratusan  tamparay yang tersebar dipinggir sungai dan rawa-rawa belakang rumah. Yuk siap-siap!  

Tampiray dari Bahan Kawat Siap Dipasang kembali Setelah Ikannya Dikeluarkan | @kaekaha

Secara keseluruhan, aktifitas mamutiki atau tepatnya mamanen ikan dari dalam tampiray ini biasa disebut Urang Banjar sebagai mambangkit (mengangkat;bahasa Banjar) tampiray. 

Aktifitas ini sangat mengasyikkan, karena dilakukan dengan menyusuri anak-anak sungai dan jalur air rawa-rawa di sela-sela berbagai jenis kumpay, sejenis rerumputan rawa dengan menggunakan jukung atau perahu kayu kecil khas Banjar yang sensasinya tuh dijamin ngangeni banget!

Jadwal mamutiki atau memanen iwak dari Tampiray ini idealnya dua kali dalam sehari, pagi dan sore. Jadi pas banget untuk aktifitas basambang atau ngabuburit.

Baca Juga Yuk! Memaknai Produktivitas Berkelas ala Cak Udin "Rombeng"

Hal di lakukan untuk meminimalisir kematian ikan yang terjebak dalam tampiray, terutama ikan dengan badan besar yang juga sering terperangkap. Karena kalau ikan terlanjur mati, biasanya hanya bisa diolah menjadi iwak karing dan iwak asin (ikan kering/ikan asin;bahasa Banjar) saja, nggak bisa diolah menu lain. Sayang kan!?

Apalagi kalau hari panas dan banyu (air;bahasa Banjar) sedang surut, biasanya saat begitu ikan yang terjebak di tampiray jauh lebih banyak daripada saat banyu tinggi akibat air pasang karena hujan atau sungai konektor dapat kiriman banjir dari hulu. 

Anak Sungai yang Menjadi Tempat Memasang Tampiray Sekaligus Jalur Basambang Kita sore ini | @kaekaha

Oiya, tipikal rawa di Banjarmasin rata-rata merupakan rawa pasang surut atau rawa lebak yang terhubung dengan sungai, handil, anjir atau jalur-jalur pengairan tradisional khas Banjar lainnya dengan kedalaman bervariasi. Untuk rawa-rawa lebak yang menjadi obyek penempatan tampiray ini, kedalamannya antara 0,5 meter sampai 1 meter yang biasanya akan semakin dalam jika semakin dekat dengan sungai konektor.

Baca Juga Yuk! Semua Menang, Semua Senang di "War Takjil" Pasar Wadai, Banjarmasin

Di Banjarmasin, iwak atau ikan yang menjadi target maiwak dengan menggunakan tampiray ini umumnya adalah ikan-ikan berukuran kecil seperti sapat atau ikan sepat (Trichopodus trichopterus), ikan Sapat Siam (Trichopodus pectoralis), Papuyu atau ikan bethik/bethok (Anabas testudineus).

Meskipun terkadang ada juga ikan-ikan berbadan lumayan besar ikut terjebak, seperti haruan atau ikan gabus (Channa striata), pentet atau sejenisikan lele asli Kalimantan, walut atau belut (Monopterus albus), kadang-kadang ada juga ikan mas atau nila, bahkan juga ular rawa yang terjebak dan tidak bisa keluar lagi dari tampiray.

Ikan Hasil Mambangkit Tampiray Pertama | @kaekaha

Sejak bahari (dulu;bahasa Banjar), aktifitas mambangkit tampiray ini menjadi salah satu aktifitas favorit Urang Banua, termasuk para galuh alias gadis-gadis Banjar, bahkan juga anak-anak, karena sensasi mengangkat tampiray itu memang nggak ada obat! Apalagi kalau di dalamnya banyak terdapat ikan dengan jenis yang beragam dan cukup besar-besar. Duh ... berjuta rasanya mas bro!

Sebenarnya, daya tarik aktivitas yang satu ini bukan hanya sensasi pas mambangkit dan mautiki iwak-nya saja lho! Karena tampiray ini diletakkan terpisah dengan jarak yang lumayan berjauhan dan jumlahnya cukup banyak, bisa puluhan sampai ratusan, maka dengan mendayung jukung, saat menuju ke masing-masing lokasi tampiray, bisa menjadi olahraga alternatif untuk membantu membakar lemak.

Dan satu lagi! Di sepanjang perjalanan mendayung jukung, kita juga akan disuguhi kekhasan sekaligus keunikan ekosistem rawa dan sungai atau jalur pengairan tradisional khas Kalimantan Selatan yang juga ijo royo-royo bikin adem mata, hati dan pikiran.

Baca Juga Yuk! Segera Mulai, Sebesar Apapun Langkah untuk Meraih Dunia dan Akhirat

Selain padi khas rawa tanaman milik warga yang ditanam di sawah yang juga bagian dari rawa lebak dangkal, rawa-rawa ini juga menjadi habitat berbagai jenis tanaman-tanaman rawa berdaun hijau segar seperti Genjer (Limnocharis flava), Jariangau (Acorus calamus L. Acoraceae), Kalakai atau pakis (Stechnolaena palustris),  supan-supan atau sayuran putri malu (Neptunia oleracea), talipuk atau bunga teratai (Nymphae pubescens Willd) dan banyak lagi yang lainnya.

Gimana, sudah siap basambang bersama Julak, mambangkit dan mamutiki iwak dari tampiray?

Hayuk bajajalanan ka Banjarmasin!(BDJ8325)


Semoga Bermanfaat!

Salam matan Kota 1000 Sungai,
Banjarmasin nan Bungas!


"Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadan 1446 H"

Artikel ini juga tayang di kompasiana pada 8 Maret 2025   21:35 (Kik disini untuk membacanya)


Jumat, 07 Maret 2025

Segera Mulai, Sebesar Apapun Langkah untuk Meraih Dunia dan Akhirat Terbaik

Kalau Anda Tidak Buta Warna, Pasti Bisa Mengenali dan Membaca Tulisan dalam Bulatan Pada Gambar di Atas | @kaekaha 

...Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri... (QS. Ar-Ra’d 11)

Dunia saya tida-tiba serasa gelap, masa depan hancur yang sehancur-hancurnya, karena kelainan buta warna yang diam-diam saya warisi dari jalur ibu saya yang seorang ternyata seorang carrier alias pembawa sifat buta warna tapi beliau sendiri tidak buta warna, benar-benar menggagalkan cita-cita besar saya, bahkan disaat satu tangan saya sudah merengkuhnya!

Sejak saat itu juga, menyantap materi tema-tema pengembangan diri baik soft skill maupun hard skill, pengetahuan, etika, pola pikir, motivasi dan lain-lainnya yang juga populer sebagai self growth atau juga self improvement itu, sudah selayaknya Nasi Pecel, Madiun ataupun Es Dawet Jabung, Ponorogo yang menjadi makanan dan minuman saya sehari-hari! 

Baca Juga Yuk! Berusaha Melazimkan Setiap Detik Waktu Kita Bernilai Ibadah

Kalau anda penasaran dengan kisah tragedi buta warna yang saya alami, cerita pendek versi online-nya yang berjudul Oedipus Complex, Ketika Cinta Tidak Lagi Buta (Warna) bisa dibaca di kanal KKN Kompasiana ya! 

Nah untuk versi cetaknya yang dibukukan dengan judul sama tapi dengan isi yang sedikit aja beda karena editan oleh editor dan diterbitkan dengan judul bukunya Kuliah Kerja Ngonten : Dari Serem ke Sayang, Dari Ketawa ke Bimbang oleh Kompasiana dan Penerbit Elex Media Komputindo bisa dibeli di Gramedia ya! Promosi dikit boleh dong...he...he...he...  

"Kitab Kuning" KKN | @kaekaha

Semua saya lakukan karena "kewarasan saya" yang tidak mau gagal menjadi manusia, saya tidak mau bunuh diri dengan bersedih dan membiarkan diri berlarut-larut dalam keterpurukan akibat kelainan buta warna yang saya ratapi siang dan malam. Tidak mudah sih, perlu waktu dan perjuangan yang "berdarah-darah" untuk bisa survive!

Terbukti, berlarut-larut dalam kesedihan dan keterpurukan, faktanya tidak merubah apapun! Kelainan buta warna di mata saya tidak juga tiba-tiba berganti dengan mata normal seperti yang anda-anda punya!

Sampai di situ, saya memang harus realistis! Saya harus tahu diri dan nggak perlu ngeyel memaksakan diri, tetap berharap bisa jadi dokter, tentara atau profesi lain yang memang "mengharamkan" buta warna, karena sampai kiamat pasti nggak bakalan lolos. Rugi waktu, rugi tenaga dan juga rugi biaya jadinya.

Baca Juga Yuk! Lho Mbah, Arah Kiblat Sholatnya Kok ke Arah Barat?

Beruntung memang, saya tumbuh dalam lingkungan keluarga dengan basic kultur, keyakinan dan juga pendidikan yang cukup kondusif, sehingga lingkungan juga berperan besar membantu saya untuk tetap kuat secara mental dan spiritual, hingga akhir pergulatannya saya tetap bisa berpikir logis dan realistis menyikapi anugerah buta warna yang sebelumnya sama sekali tidak saya ketahui track record-nya. Bahkan, akhirnya saya meyakini, pasti ada rencana dahsyatNya dibalik ini semua!

Tes Buta Warna Sejak Dini di Rumah | @kaekaha

Selain materi-materi pengembangan diri klasik dan modern dari dunia barat, sebagai muslim sudah pasti saya juga menyantap materi pengembangan diri dalam Islam dari berbagai sumber yang akhirnya semakin memantapkan pemahaman dan keyakinan saya. 

Saya memang harus mengembangkan diri dengan mengikhlaskan kelainan buta warna yang saya miliki berikut berbagai tragedi yang pernah terjadi karenanya dan berusaha terus untuk menggali semua potensi yang saya miliki sebagai modal awal untuk memulai hidup dengan peta yang baru, mimpi, harapan, cita-cita yang semuanya baru.

Di titik ini saya banyak terinspirasi dari literatur-literatur Islam baik yang klasik maupun kontemporer, terutama sepenggal dari QS. Ar-Ra’d ayat 11, pembuka dari artikel ini dan juga QS. An Nisa ayat 100 yang secara implisit memberi insight untuk segera berhijrah yang dalam konteks saya saat itu adalah bersegera move on dengan segera berpindah haluan kepada dunia yang baru. 

Alhamdulillah, meskipun awalnya tetap tidak mudah, tapi akhirnya Allah SWT memang membuktikan janji-janjinya, mempertemukan saya dengan dunia baru yang ternyata jauh lebih berwarna! Ini bemar-benar lebih berwarna, karena salah satu usaha saya di bidang usaha kerajinan tangan mengharuskan saya benar-benar berkutat dengan warna. Bukankan dunia ini memang penuh misteri mengejutkan?


Setelah dunia baru saya mulai memberikan hasil dengan stabilitas dan kualitas kehidupan yang semakin terjaga baik, pergulatan saya dengan kehidupan tentu saja mulai berbeda arenanya. Di level ini memang relatif tidak lagi berdarah-darah seperti di awal saat merintis dunia baru, tapi ternyata menjaga konsistensi alias untuk bisa istiqamah ternyata juga tidak mudah. Banyak sekali godaan yang datang!

Pernah dengar cerita tentang keberhasilan atau kesuksesan luar biasa dari orang-orang biasa yang diuji dengan himpitan bermacam-macam kekurangan dan kesusahan, tapi justeru "gatot" alias gagal total ketika diuji dengan keberlimpahan, termasuk kekayaan, ketenaran dll? Saya tidak mau terjebak dalam drama-drama seperti itu. Saya tidak mau jatuh ataupun terjatuh untuk yang kedua kalinya!

Anda boleh percaya dan sangat boleh juga untuk tidak percaya! Faktanya, sungguh di titik ini saya kembali beruntung! Alhamdulillah, dalam pengembaraan spiritual yang begitu intensif saya lakukan, secara bertahap akhirnya saya menemukan dasar berpijak aktual bagi kita-kita menjalani hidup dan kehidupan yang pastinya nggak kaleng-kaleng  dari beberapa sumber Alquran dan Hadis sahih Rasulullah SAW.  

Baca Juga Yuk! Memaknai Produktivitas Berkelas ala Cak Udin "Rombeng"

Seperti dalam  QS. Ali Imran ayat 139, QS. Al-Ankabut ayat 2, QS.Al Insyiraḥ ayat 5-8 yang secara umum membahas ujian sebagai sebuah keniscayaan yang harus dihadapi dengan teguh dan tidak boleh bersikap lemah, karena di setiap kesulitan yang dihadapi akan selalu disertai dengan kemudahan.



Selajutnya ada juga dalam QS. An Najm ayat  39 dan QS. Al Baqarah ayat 148 yang secara umum meyakinkan saya bahwa segala daya upaya dan usaha merupakan sarana yang efektif untuk pengembangan diri. Sedangkan QS. Ali Imran ayat 185  dan  QS. Al Hashr ayat 18 memberikan kesadaran bahwa akhirat adalah ending atau muara  dari sebuah kesuksesan.

Dari hadis sahih Rasulullah SAW, saya sangat terinspirasi oleh sebuah riwayat yang datang dari sahabat  Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang menyebut Rasulullah SAW pernah menasehati seseorang yang isinya, 

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara,  waktu mudamu sebelum datang tuamu, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu dan hidupmu sebelum datang matimu.”

Menurut saya, momentum terbaik untuk melaksanakan pengembangan diri bagi masing-masing orang jelas berbeda-beda dan yang paling tahu dan paham dengan timing terbaiknya ya diri pribadinya masing-masing. 

Hanya saja, di Bulan suci Ramadan yang dijanjikan Allah SWT dengan beragam keistimewaan, dirasa paling tepat menjadi momentum pelaksanaannya, karena praktik "terapi" pengembangan diri yang pada dasarnya memang sebuah sunatullah alias sebuah keniscayaan yang dianjurkan dalam Islam, tidak hanya akan lebih efektif prosesnya saja, tapi juga akan bernilai ibadah yang pahalanya berlipat ganda! (BDJ7325)

Semoga Bermanfaat
Salam matan Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas!

Artikel ini juga tayang di Kompasiana pada 7 Maret 2025  jam 23:01 (klik disini kalau mau membaca)

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN




 

Kamis, 06 Maret 2025

Semua Menang, Semua Senang di "War Takjil" Pasar Wadai, Banjarmasin

Wadai Puteri Selat dan Hamparan Tatak di Pasar Wadai, Favorit War Takjil di Pasar Wadai | @kaekaha

Bulan suci Ramadan, bulan ke-9 dalam kalender Hijriah yang begitu agung karena beragam keistimewaannya dalam keyakinan Islam ini, telah sejak lama menjadi sumber inspirasi sekaligus katalis bagi lahir dan terbentuknya berbagai entitas budaya dengan beragam tradisi unik dan khas yang tersebar di seluruh penjuru dunia. 

Salah satunya yang cukup otentik dan sekarang menjadi perhatian masyarakat di dunia adalah tradisi seputar kuliner berikut pernak-perniknya nan unik yang menyertai datangnya bulan suci ramadan. 

Uniknya, syariat bagi umat Islam untuk menunaikan ibadah puasa selama sebulan penuh selama Ramadan, ternyata justeru mendorong kreatifitas umat untuk melahirkan karya-karya kuliner yang unik, khas dan tidak jarang mempunyai manfaat spesifik tertentu sebagai menu bersantap saat buka puasa.

Wadai Bingka Barandam, Wadai Favorit untuk Berbuka Puasa yang Paling Dicari saat War Takjil di Pasar Wadai |@kaekaha


Itu juga yang terjadi di lingkungan Urang Banjar, sebutan untuk masyarakat suku Banjar di Kalimantan Selatan yang sejak bahari (lama;bahasa Banjar) memang dikenal dengan wadai-wadai (kue;bahasa Banjar) basah Ramadannya yang termasyhur dengan citarasanya yang rerata manis dan legit.

Baca Juga Yuk! Berusaha Melazimkan Setiap Detik Waktu Kita Bernilai Ibadah

Siapa Urang Banjar yang tak kenal ragam wadai basumap (wadai basah kukus;bahasa Banjar) yang identik untuk buka puasa seperti wadai puteri selat, sari muka, sari india, hula-hula, lam, maksubah sampai beragam bingka bakar dan juga bingka barandam, si-wadai unik dan enak berkuah kinca segar.

Karena aneka wadai khasBanjar bercitarasa manis legit diatas menjadi menu pencuci mulut yang wajib ada di meja makan saat berbuka puasa, tidak heran jika akhirnya juga melahirkan tradisi pasar wadai alias pasar kue di sepanjang bulan Ramadan yang kelak semakin mendunia seiring dengan lahirnya budaya pop kekinian, berburu wadai untuk buka puasa yang sekarang lebih dikenal sebagai war takjil.

Keramaian Pasar Wadai di Banjarmasin, Arena War Takjil yang Tidak Pernah Sepi di Sepanjang Bulan Ramadan |@kaekaha


Sebenarnya tradisi beburu wadai, kemungkinan termasuk war takjil juga, khususnya ala Urang Banjar ini sudah sejak dulu ada dan beriringan dengan munculnya tradisi pasar wadai itu sendiri yang sejarahnya bisa dibaca pada artikel berjudul Perjalanan Panjang Pasar Wadai Mewarnai Ramadan di Kota Banjarmasin. 

Tapi harus diakui memang, lahirnya istilah war takjil setelah pandemi covid-19 yang sempat "menghilangkan" semua tradisi Ramadan di dunia, termasuk pasar wadai yang terpaksa tidak diselenggarakan beberapa kali periode Ramadan, turut berperan mengembalikan denyut nadi bursa pasar kue Ramadan terbesar se Kalimantan ini, hingga kembali hidup dan menghidupi.

Baca Juga Yuk! Lho Mbah, Arah Kiblat Sholatnya Kok ke Arah Barat?

Pasar wadai Ramadan atau pasar kue yang diselenggarakan pemerintah Kota Banjarmasin dan Pemerintah Propinsi Kalimantan Selatan sebulan penuh selama bulan Ramadhan ini merupakan even kuliner legendaris yang menjadi kalender tetap pemerintah dalam rangka menyemarakkan syiar bulan suci Ramadan setiap tahunnya.

Pasar  yang hadir selayaknya bazar kuliner on the road, karena biasanya memang di selenggarakan di tepi ruas jalan dan sungai Martapura di beberapa titik jantung Kota Banjarmasin sepanjang lebih dari 500-an meter ini senyatanya tidak hanya menyediakan beragam kuliner tradisional Banjar lengkap saja, tapi juga kuliner nasional yang di bawa oleh para pendatang dan juga kuliner internasional, khususnya dari jazirah Arab. Jadi sangat cocok menjadi arena war takjil yang sesungguhnya!

Pintu Gerbang Pasar Wadai Saip Menyambut Semua Serdadu-serdadu Pemburu Takjil untuk "War Takjil" | @kaekaha

 

Khusus untuk baramian (main-main/hiburan;bahasa Banjar) war takjil yang sekarang sedang ngetren dikalangan anak muda di seluruh Indonesia. Pasar wadai di Kota Banjarmasin merupakan arena bertempur yang paling cocok! 

Apalagi dua entitas pasar wadai yang biasanya masing-masing diselenggarakan terpisah oleh pemko Banjarmasin dan Pemprop Kalimantan Selatan, untuk tahun 2025 ini keduanya bersatu dan diselenggarakan di satu tempat yang sama yaitu di sepanjang Jalan Jendral Sudirman atau siring 0 kilometer, Banjarmasin. 

Di sepanjang ruas Jalan Jendral Sudirman yang juga dikenal sebagai kawasan kantor gubernur lama ini, ada lebih dari 200 stan kuliner yang siap melayani "serdadu-serdadu" militan pemburu takjil yang siap melakukan war takjil. Arena yang lebih panjang dan lengkap sudah pasti akan memberikan pengalaman war takjil yang takkan terlupakan.

 

Selain beragam wadai-wadai basah pencuci mulut yang citarasanya aduhai, untuk war takjil tersedia beragam wadai karing alias kue kering khas Banjar seperti wadai ilat sapi, juga beragam jenis bubur manis khas Banjar, seperti bubur hintalu karuang, bubur gunting, bubur baayak, bubur randang dan kawan-kawannya.

Baca Juga Yuk! Memaknai Produktifitas Berkelas Ala Cak Udin "Rombeng"

Satu lagi! Ini yang banyak ditunggu-tunggu oleh serdadu-serdadu pemburu kuliner militan, yaitu hadirnya beragam kuliner berat khas Banjar yang relatif lebih mudah ditemukan di bulan Ramadhan! Anda pernah menikmati karih kambing, karih ayam atau bubur karih khas Banjar yang begitu kaya dengan bumbu rempah menggoda? 

Atau mungkin mau merasakan Katupat Kandangan, Soto dan sop Banjar, Salada Banjar, Lontong Banjar, Katupat Batumis, Lamang, atau mungkin Ipau? Itu lho pizza tradisional khas Urang Banjar yang citarasa gurih plus rempah-rempahnya selalu bikin Karindangan alias rindu berat?

Semua ada dan tersedia cukup setiap harinya! Itulah sebabnya kalau war takjil di Pasar Wadai Banjarmasin, semuanya menang dan semuanya senang. (BDJ6325).


Semoga Bermanfaat
Salam matan Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas!

Artikel ini juga tayang di Kompasiana pada Kamis, 6 Maret 2025  jam 14:34 (klik disini kalau ingin membacanya)

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN




 

Minggu, 02 Maret 2025

Bukan Aku, Tapi "Mie Habang" Ini yang Akan Membuatmu Kangen Banjarmasin!

Mie Habang Kuah Sop, Kuliner Berkuah Kaldu sarat Rempah Khas Kalimantan Selatan yang Sedepnya Membuat Karindangan | @kaekaha

Masih ingat dengan artikel saya yang berjudul Ini Sop dan Soto Banjar, Duo "Kembar Siam" Berkuah Rempah Khas Kalimantan yang sempat nangkring di angkringan "Artikel Utama" yang sejak konsepnya diperbarui, menjadi lebih lama bertahta di puncak halaman user interface alias antarmuka Kompasiana di awal tahun 2025 lalu?

Alhamdulillah, artikel kuliner yang terafiliasi dalam topil alias topik pilihan "makanan berempah" ini, ternyata mendapat sambutan luar biasa dari pembaca dan sepertinya banyak menjawab pertanyaan dan juga rasa penasaran penikmat kuliner  nusantara, khususnya penikmat kuliner berkuah kaldu dan wabil khusus-nya lagi para "kolektor rasa" persotoan nusantara terhadap kuliner dari Pulau Kalimantan.

Baca Juga Yuk! Menikmati Musik Panting & Soto Banjar di Tepian Sungai Martapura Banjarmasin

Nah, setelah kita mendedah duo kuliner "kembar siam" full rempah Soto dan Sop Banjar sedetail-detailnya, seperti kok nggak afdol ya kalau kita tidak mengulik kuliner-kuliner sarat rempah khas Banjar lainnya, apalagi kalau kulinernya cukup unik, enak dan masih ada "hubungan kekerabatan" dengan Soto dan Sop Banjar. Mau? 

Mie Habang Original Sebelum Diberi Kuah Sop | @kaekaha

Setidaknya, sejauh yang saya ketahui sampai saat ini, ada dua jenis kuliner khas Banjar yang masih berkerabat dengan Soto dan Sop Banjar, karena keduanya secara faktual memang menjadikan "kuah" dari sop Banjar sebagai elemen utama dari olahan sedapnya, hingga menjadi ciri khas dari tekstur, citarasa dan tentunya penampakan kulinernya.

Baca Juga Yuk! Sedapnya Soto Banjar Ayam Bapukah/Bapulas Khas Haji Anang

Jika anda berkesempatan jalan-jalan ke Kota Banjarmasin atau kota-kota satelit disekitarnya yang disatukan dalam kawasan strategis propinsi Banjarbakula atau disebut juga sebagai kawasan Banjar Raya yang meliputi Kota Banjarmasin-Kota Banjarbaru-Kabupaten Banjar-Kabupaten Barito Kuala dan Kabupaten  Tanah Laut, cari dan temukan kuliner Mie Habang (Kuah Sop) dan Bubur Sop khas Banjar.

Mie Habang (kuah sop), Kuliner Berkuah Kaldu sarat Rempah Khas Kalimantan Selatan yang Sedepnya Akan Membuatmu Karindangan | @kaekaha

Keduanya cukup populer di seputaran Banjar Raya, sehingga untuk mendapatkannya relatif mudah, terutama di warung atau kedai-kedai masakan tradisional Banjar yang tersebar dimana-mana. 

Hanya saja, mungkin karena keduanya lebih identik sebagai menu untuk sarapan, maka pagi hari merupakan waktu yang paling pas untuk berburu dua kuliner murah tapi nggak murahan ini. 

Sudah siap untuk berburu kawan?

Tapi untuk kali ini, sepertinya kita akan "berburu" Mie Habang (Kuah Sop) dulu aja ya, biar lebih gayeng menikmatinya! Sedangkan untuk Bubur Sop khas Banjarnya, Insha Allah akan saya tuliskan di artikel terpisah, biar detail ensiklopediknya juga lebih tertata baik dan memorable, hingga selalu evergreen.

Sayur Sop, Sumber Utama Citarasa Sajian Mie Habang dan Bubur Sop | @kaekaha

Pertama kali menginjakkan kaki di Kota Banjarmasin lebih dua dekade silam, saya begitu tergoda dengan kuliner mie berwarna merah menyala "endemik" Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas! yang lazim dijual di warung-warung bakso dan mie ayam, juga di kedai-kedai masakan Banjar yang tersebar di segala penjuru kota dengan sebutan mie yamin.

Tapi mie yamin merah menyala khas Banjar ini jelas beda dengan mie yamin dari Pulau Jawa yang kita kenal dengan citarasanya yang cenderung manis, meskipun sekarang sudah bertransformasi dengan adanya pilihan citarasa yang bisa di request sesuai dengan selera, seperti mie yamin Bandung. 

Selain mie warna merahnya yang unik, perbedaan mie yamin khas Banjar ini ada pada kuahnya yang menggunakan kuah sop  khas Banjar yang macam rempahnya saja mencapai puluhan jenis, kalau ingin tahu detailnya silakan baca di artikel Eksistensi "Sambal Banjar" Sarat Rempah di Antara Serbuan Bumbu Instan Pabrikan. 

Belakangan mie yamin khas Banjar juga terus bertransformasi, tidak hanya pada racikan bumbu dan isian topping mienya saja yang semakin variatif, tapi juga pergeseran nama, bahkan keidentikan dengan penjualnya. Sebutan mie yamin, sekarang lebih identik dengan mie merah dengan ukuran lebih besar (mirip mie untuk bakmie di Pulau Jawa) dengan bumbu khusus yang disiram kuah mie ayam-bakso dan dijual di warung bakso-mie ayam, sedangkan mie merah dengan kuah sop yang sekarang "bergeser" dijual di kedai-kedai masakan Banjar bukan lagi populer sebagai mie yamin, tapi lebih dikenal sebagai "mie habang", sebuah frasa dalam bahasa Banjar yang artinya mie merah. 

Naaah, biar semakin nyamleng menikmatinya! Detail tentang sedapnya kuliner mie yamin khas Banjar yang biasa disajikan selayaknya mie ayam dan pastinya jauh berbeda dengan olahan mie yamin di luar sana, juga kolaborasinya dengan bakso hingga melahirkan kuliner baru bertitel bakso yamin yang juga khas Kota 1000 Sungai, Insha Allah akan saya kupas tuntas di artikel terpisah aja ya, kan kita mau menikmati mie habang, sayang!

Uniknya Mie Habang, Bukan Bulat Gilig Seperti Biasanya Bentuk Mie, Tapi Berbentuk Kotak | @kaekaha


Kuliner mie merah khas Banjar yang dijual di kedai atau warung-warung  masakan Banjar yang sekarang lebih populer dengan sebutan mie habang ini, biasanya bentuk mienya bukan bulat gilig seperti biasanya bentuk mie, tapi berbentuk kotak, dengan ukuran diameter diagonal yang lebih kecil.

Mie habang bisa disajikan tanpa kuah karena pada dasarnya mie yang biasanya diurai di nampan besar ini memang sudah dibumbui rempah sop tapi memang masih dalam versi yang minimalis, termasuk dengan irisan sayur kol atau kubis, meskipun kuantitasnya tergolong minimalis, juga topping yang biasanya berupa irisan telur itik rebus dan kondimen khasnya berupa bawang goreng dan juga daun sop. Beda bukan dengan mie yamin!?

Baca Juga Yuk! Tanda Tanya dalam Sepiring Mie Bancir, Khas Kota Banjarmasin nan Bungas 

Secara tradisi, Urang Banjar banyak yang menjadikan mie habang ini soulmate untuk menyantap buras, itu lho lontong yang berbalut citarasa gurihnya santan. Meskipun sebenarnya, disantap langsung juga tidak kalah nikmatnya, apalagi ditambahkan sambal pedas, saus, kecap dan tentunya limau kuit ataupun jeruk nipis sesuai selera.


Apalagi ditemani sama ayam goreng krispi bercitarasa cenderung gurih-asin, khususnya bagian kepala, sayap maupun ceker ayamnya yang sejak lama memang telah soulmate-an sama mie habang. Duh, ini dasar liwar banar nyamannya wal ai alias ini enak banget kawan!

Tapi meskipun begitu, menurut saya! Sekali lagi menurut saya lho ya! Masih ada lagi cara terbaik untuk menikmati mie habang secara paripurna alias maksimal, yaitu dengan menambahkan sop khas Banjar secukupnya atau sesuai selera ke dalam piring mie habang yang sudah siap disantap.

Kalau kuahnya sedikit hanya nyemek-nyemek saja, kami biasa menyebutnya mie bancir. Nah kalau kuahnya banyak seperti kesukaan saya, jadilah mie habang kuah sop yang sempurna! 

Waaah kalau sudah sampai di fragmen yang ini, dijamin anda, anda dan anda semua akan selalu karindangan alias kangen berat sama saya, eh sama Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas! Tahu kenapa? Karena ini unik dan uenaaak tenan!

Coba bayangkan ya! Mie habang yang pada dasarnya sudah berbumbu racikan rempah sop, meskipun masih versi minimalisnya, diguyur kuah sop berbumbu full rempah khas masakan Banjar yang di dalamnya juga berisi potongan-potongan ayam, wortel, kubis, daun bawang prei, daun sop atau seledri, kucai dan taburan bawang goreng. Beneran, ini enak banget! (BDJ23225)


Semoga Bermanfaat!

Salam matan Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas!

Artikel ini juga tayang di Kompasiana pada 23 Februari 2025   21:20


 jam 00:01  WIB (klik disini untuk membaca)

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN