Kamis, 12 September 2024

Memorabilia Kompasiana, Candu Eksklusif yang Belum Juga Ada Obatnya?

Paket Memorabilia dari Kompasiana | @kaekaha

"Bagaimana kalau K-Reward bulanan kita juga memberi opsi merchandise resmi Kompasiana?"

Tulisan ini boleh saja disebut-sebut sebagai sekuel dari catatan "Ada Drama di Balik Semua Koleksi Memorabilia dari Kompasiana Ini!" yang pernah saya unggah sebagai artikel  pada akhir 2020 silam dan Alhamdulillah, terpilih menjadi artikel utama.

Jadi kalau anda,  para pembaca yang Budiman ingin mengetahui latar belakang tulisan artikel ini, boleh juga sih baca-baca artikel terkait sebelumnya. Klik aja tautan hidup dari artikelnya, Insha Allah pasti sampai. He...he...he... Terima kasih ya sudah berkunjung!

Catatan tentang memorabilia Kompasiana diatas, saya tulis dalam rangka memeriahkan Kompasianival, "hari raya-nya" para Kompasianer ke-12 pada 2020 silam yang waktu itu, kebetulan untuk pertama kalinya dalam sejarah, semua hajatannya di selenggarakan secara virtual, karena Pandemi Covid-19.

Di tulisan sekuel yang hadir hampir 4 tahun setelahnya ini, saya menulisnya bukan dalam rangka even tertentu, meskipun bulan depan atau 22 Oktober nanti, Kompasiana akan berulang tahun yang ke-16 yang biasanya juga akan dikuti beragam even dan tentunya lebaran Kompasianer alias Kompasianival sebagai gongnya.

Eh, boleh dong sekarang saya mengucapkan selamat ulang tahun buat Kompasiana yang ke-16! Keren ih, Sebentar lagi seventeen lho!

Catatan ini lebih sebagai apresiasi saya saja, sebagai Kompasianer sekaligus penghobi koleksi, khususnya terhadap semakin "eksklusifnya" memorabilia dari Kompasiana! He...he...he...

Baca juga yuk! Saatnya Memunculkan Kategori "Article of The Year" di Kompasiuanival

Membahas memorabilia jelas akan bersinggungan dengan (koleksi) benda spesial yang yang bisa mengantarkan kita pada kenangan-kenangan akan "drama" dari peristiwa atau kejadian memorable yang pernah kita alami di masa lalu.

Nah, benda spesial yang saya maksudkan disini, sudah pasti memorabilia berupa pernak-pernik merchandise dari Kompasiana yang bagi saya memang  eksklusif, karena memang sangat limited!

Semua tidak lepas dari strategi manajemen Kompasiana yang sengaja tidak  memperjual belikan berbagai pernak-pernik merchandise-nya dan tidak pula memberikan pattern khusus juga reguler untuk mendapatkannya.

Memorabilia dari Akhir 2020 | @kaekaha

Inilah yang menjadikan pernak-pernik merchandise Kompasiana relatif susah didapat, hingga akan memberi kebanggaan dan kebahagiaan tersendiri bagi Kompasianer yang beruntung bisa memilikinya.

Terbukti, setelah terakhir kali mendapatkan merchandise paling memorable dari Kompasiana di akhir 2020, berupa plakat "best in citizen journalism 2020", hampir 4 tahun berikutnya atau tepatnya di awal Juli 2024 kemarin, saya baru beruntung bisa mendapatkan merchandise dari Kompasiana lagi. Lama banget bukan!


Uniknya, untuk mendapatkan merchandise Kompasiana inipun, sebenarnya sebuah kebetulan semata. Sama sekali tidak menduga dan datang begitu saja. Jadi memang belum ada rumus jitu untuk mendapatkannya

Inikah definisi rezeki yang sesungguhnya!?

Diawali dengan "even" menulis dengan topik pilihan bangunan-bangunan peninggalan kolonial Belanda,   kolaborasi Kompasiana dengan kandidat doktor dari negeri Belanda, Remco Vermeulen dekat-dekat Ramadan kemarin.

Memorabilia Kompasiana dan Oleh-oleh dari Amsterdam Remco Vermeulen | @kaekaha

Alhamdulillah, dari 4 atau 5 tulisan saya tentang bangunan-bangunan peninggalan kolonial Belanda di Kalimantan Selatan, salah satunya yang berjudul Jembatan Dewi, "Ophaal Brug" Pertama Peninggalan Belanda di Banjarmasin dipilih oleh Remco Vermeulen bersama 6 artikel lainnya untuk mendapatkan "oleh-oleh" dari Belanda.

Nah, ternyata waktu oleh-oleh Remco Vermeulen landing di Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas!, dia tidak sendirian saja, tapi juga ditemani totebag kanvas model klasik yang semakin unik dengan tampak depan lukisan dua dimensi ala-ala anak TK dalam balutan warna ngejreng dengan  signature Kompasiana yang pastinya keren banget. Auto jadi rebutan deh di rumah!

Berselang 2 minggu berikutnya, lagi-lagi Kompasiana memberi kejutan tak terduga melalui PULPEN alias Perkumpulan Pecinta Cerpen yang menyelenggarakan even sayembara cerpen dalam kolaborasi even KONGSI, itu lho pestanya penulis penggiat kanal fiksi di Kompasiana yang baru saja digelar.

Memorabilia Kompasiana dengan 2 Buku dari PULPEN X KONGSI KOMPASIANA | @kaekaha

Alhamdulillah, cerpen saya yang berjudul "Kongsi Dukun Lintrik" dipilih oleh juri sebagai pemenang ke-3. Tahu dramanya dimana?

Biasanya, even sayembara cerpen PULPEN hanya memilih dua pemenang saja, tapi khusus di edisi KONGSI ini memilih 3 pemenang dan saya yang kebagian bontotnya. He...he...he...

Satu lagi! Biasanya hadiah even sayembara cerpen PULPEN hanya memberi satu jenis hadiah saja, yaitu saldo Gopay, tapi khusus di edisi KONGSI ini selain hadiah reguler saldo Gopay, juga ada hadiah voucher K-Premium untuk 6 bulan dan yang paling keren adalah paket merchandise Kompasiana. Ini yang spesial!

Alhamdulillah, selain 2 buku keren ternyata Kompasiana juga menyertakan satu merchandise keren juga yaitu totebag desain terbaru berwarna kuning terang dengan signature Kompasiana yang ditata asimetris. Keren pokoknya!


Cerita belum berakhir! Beruntung, bulan Agustus yang selalu riuh dengan pesta kemerdekaan, menginspirasi Kompasiana untuk mengadakan even #17andiKompasiana yang mengajak Kompasianer berkreasi sekaligus mengabadikan keunikan dan kemeriahan perayaan 17-an di daerahnya masing-masing.

Alhamdulillah, video saya yang mengangkat tema panjat pinang di sungai atau rawa-rawa khas masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan, terpilih menjadi salah satu pemenang dari total 3 pemenang.

Sekali lagi Alhamdulillah, jerih payah saya memelototi panjat pinang sungai dari tepiannya selama beberapa jam, bahkan sempat juga hampir kecebur, akhirnya  diganjar 2 merchandise sekaligus dari Kompasiana , yaitu kaos hitam dengan signature asimetris Kompasiana di bagian depan dan sesanti yang belakangan sering dimainkan oleh Kompasiana, Every Story Matters di bagian punggung.

Kompasiana : Every Story Matters | @kaekaha

Saya sangat bersyukur, dalam dua bulan terakhir koleksi memorabilia Kompasiana di lemari saya bertambah 3 dari total 4 item

Mudah-mudahan selanjutnya, Kompasiana akan semakin sering dan banyak menghadiahkan merchandise kepada Kompasianer melalui berbagai even yang diselenggarakan agar candu eksklusifnya ada obat! Hingga bisa mengobati hasrat "memiliki" dari teman-teman Kompasianer semuanya.

...atau kalau boleh usul, bagaimana kalau K-Reward bulanan kita tidak hanya berupa saldo Gopay saja, tapi juga memberi opsi pernak-pernik merchandise? Boleh dong usul! He...he...he...

Eh iya, kebetulan bulan depan atau tepatnya 22 Oktober nanti, Kompasiana akan berulang tahun yang ke-16. Itu artinya pesta hajatan lebaran para kompasianer, Kompasianival edisi 2024 juga sebentar lagi. 

Baca Juga Yuk! Memanggungkan Budaya, Merayakan 1 Dekade "Ngompasiana"

Mudahan akan ada banyak merchandise Kompasiana yang dibagikan dalam pesta setahun sekali nanti. 

Syukur-syukur game atau lomba-lomba untuk memeriahkannya juga membagi-bagikan reward merchandise unik dan menarik khas Kompasiana, sebagai obat candunya! (BDJ1924)

Semoga bermanfaat!

Salam Matan Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas!


Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | @kaekaha



 

Selasa, 10 September 2024

Melestarikan "Wadai-wadai Patriotik" Merah Putih Khas Urang Banjar


 

Wadai Nona Manis Merah Putih | @kaekaha

Banyak cara kreatif yang dilakukan masyarakat nusantara untuk merefleksikan euforia hari kemerdekaan yang biasa kita sebut sebagai tujuhbelasan atau ada juga yang menyebut agustusan.

Sudah menjadi tradisi di kampung-kampung sampai di gang-gang perkotaan di seluruh pelosok nusantara, setiap memasuki bulan Agustus, semuanya bersolek dengan mengeksplorasi semua kreatifitasnya demi menyambut datangnya hari paling penting dalam sejarah kemerdekaan Indonesia tersebut.


Nah, kalau aktifitas mempercantik Regol atau gerbang desa dengan mengecatnya atau dengan menambahkan lampu-lampu Penjor, juga beragam lomba khas agustusan sudah menjadi keumuman yang lumrah dan pastinya juga sudah banyak yang handle pelaksanaannya, bagaimana kalau tahun ini kita ciptakan aksi yang berbeda!?

Baca Juga Yuk! Es Puter "Jadoel" Dharma Praja, Si Manis dari Banjarmasin yang Melegenda

Masyarakat nusantara yang dikenal mempunyai kekayaan tradisi dan budaya yang begitu luar biasa beragamnya, termasuk seni dan budaya kulinernya, sudah pasti mempunyai sajian unik yang bisa ikut menyemarakkan euforia perayaan hari kemerdekaan kita yang tahun memasuki episode yang ke-79.

Wadai Bolu | @kaekaha

Bagaimana kalau khusus tahun ini, kita coba mendokumentasikan sekaligus melestarikan beragam wadai (kue;bahasa Banjar) patriotik, kue-kue tradisional nusantara dari daerah kita masing-masing!

Khususnya yang secara tradisional memang mempunyai kekhasan pada penampilannya yang berwarna merah putih atau setidaknya wadainya bisa diberi warna merah dan putih tanpa mengganggu penampilan dan juga citarasanya. Bisa kan!?

Dari Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas dan Kalimantan Selatan secara umum, kita juga mempunyai beberapa kue cantik yang penampilannya juga identik dengan warnanya yang patriotik, yaitu merah putih. Penasaran?

Wadai Nona Manis Merah Putih dan Pandan Hijau Putih | @kaekaha

Wadai pertama dengan warna merah putih menyala adalah sejenis wadai yang oleh Urang Banjar dikenal sebagai wadai talam. Wadai ini sepertinya wadai khas masyarakat Melayu yang juga berkembang di dalam budaya kuliner masyarakat Banjar yang memang termasuk sub suku Melayu.

Wadai tradisional ini, akhir-akhir ini kembali populer dan naik daun setelah dimodifikasi sedemikian rupa dan diperkenalkan dengan identitas baru yang yang lebih segar yaitu wadai nona manis.

Wadai nona manis patriotik berwarna merah putih menyala yang ada di Banjarmasin ini sebenarnya varian warna dari wadai nona manis hijau yang mempunyai citarasa pandan yang manis dan gurih begitu lezat dengan harum khas pandan yang segar. Mau coba!?

Wadai Bolu | @kaekaha

Wadai patriotik kedua adalah wadai khas Banjar yang biasa kami sebut sebagai gegampam.

Wadai gegampam atau sebagian masyarakat ada juga yang menyebutnya sebagai "wadai bagincu", kemungkinan besar karena warna merahnya yang memang identik dengan merahnya bibir gadis-gadis Banjar yang terkenal berkulit putih nan mulus, sehingga kontras dengan bibir merahnya... he...he...he...

Wadai bercitarasa manis legit nan menggoda ini merupakan salah satu kue tradisional Banjar di Kalimantan Selatan yang dibuat dari olahan ubi kayu atau singkong (Manihot esculenta) yang biasa disebut Urang Banjar sebagai gumbili kayu!

Pastinya, siapa saja yang mencicipinya, dijamin selalu dandaman (kangen berat ; bhs Banjar) sama Kota 1000 Sungai! Mau coba?

Wadai Putri Mandi | @kaekaha

Wadai patriotik merah putih berikutnya atau wadai ketiga adalah wadai khas masyarakat Melayu yang juga bertransformasi menjadi wadai Banjar yang banyak dikenal sebagai putri mandi.

Kue berbahan tepung ketan dengan isian berupa inti dari parutan kelapa dan gula yang berasa manis legit ini masih segaris atau berkerabat dengan wadai kalalapun (kelepon;Bhs. Banjar) dan juga mendut khas dari Pulau Jawa.

Sudah pasti, Citarasanya yang manis legit akan selalu ngangeni lur! Mau coba nggak!?


Untuk wadai merah putih selanjutnya merupakan wadai yang dimana-mana ada, meskipun mungkin varian dan turunan jenisnya berbeda-beda di setiap daerah, begitu juga dengan namanya, tapi tetap saja, bahan dasar dan cara dasar untuk membuatnya sama saja. Ada yang tahu dengan wadai sejuta umat ini?

Kami, Urang Banjar biasa menyebut wadai yang satu ini dengan sebutan bolu atau wadai bolu. Di lingkungan kami saja, wadai bolu ini banyak sekali macamnya, seperti bolu kalambin (klemben;bahasa Jawa) bolu kukus, bolu bakar atau bolu panggang dan lain-lainnya. (BDJ17824)

Semoga bermanfaat dana menginspirasi!

Salam matan Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas!


Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN






Senin, 09 September 2024

Cerita dari Kinunang, Desa (Wisata) Paling Utara di Pulau Sulawesi

Homestay Unik Bergaya Rumah Adat Minahasa di Atas Rumah-rumah Warga di Desa Kinunang dan Pulisan | @kaekaha

Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Likupang di Minahasa Utara di Sulawesi Utara langsung menjadi perhatian penikmat jalan-jalan, sejak "Si Bayi Ajaib" diperkenalkan sebagai salah satu dari lima destinasi super prioritas (DSP) pariwisata bersama-sama dengan Candi Borobudur, Danau Toba, Mandalika dan Labuan Bajo pada 2017 silam.

Lingkaran kawasan DSP Likupang yang berjuluk the hidden paradise alias surga yang tersembunyi ini,  menawarkan konsep pariwisata terpadu yang mengedepankan harmoni alam dan budaya tradisional khas masyarakat Kawanua.

Di antara sekian banyak destinasi alam yang sedang diperkenalkan ada satu yang mempunyai kekhasan spesifik yang sangat unik, karena hanya ada satu-satunya di dunia. Apa itu?

Homestay Unik Bergaya Rumah Adat Minahasa di Atas Rumah-rumah Warga di Desa Kinunang dan Pulisan | @kaekaha

Desa Kinunang dan Desa Pullisan merupakan dua desa bertetangga yang masuk dalam zona inti DSP Likupang. 

Di dua desa wisata ini, pemerintah membangun banyak sekali homestay unik berbentuk rumah adat khas Minahasa dengan ciri khasnya yang berbahan material kayu sebagai penunjang aktifitas pariwisata di seputaran DSP Likupang.

Uniknya, homestay yang dibangun di dua desa ini sebagian besar tidak dibangun baru secara utuh di lokasi yang juga baru, tapi justru dibangun di lantai 2 rumah-rumah warga. Naaah bisa membayangkan bagaimana bentuk uniknya?

Homestay Unik Bergaya Rumah Adat Minahasa Bukan Panggung di Desa Kinunang dan Pulisan | @kaekaha

Pilihan ini sudah pasti bukan tanpa sebab, selain mengikuti tradisi rumah adat Minahasa yang berkonstruksi panggung dengan tangga dua kelok di bagian depan rumah untuk naik-turun, konsep menyatu dengan pemilik rumah jelas untuk lebih mendekatkan tamu dengan tradisi budaya sehari-hari masyarakat setempat.

Jadi, kalau stay menginap atau sekadar berjalan-jalan di kampung ini, kita serasa berada di kawasan konservasi rumah adat Minahasa yang suasananya adem ayem dengan segala keunikan tradisi dan budaya masyarakat pesisir khas Sulawesi Utara. Asli kerennya!

Cantiknya Pantai Paal, Likupang, Tetangga Desa Kinunang | @kaekaha

Sangat tepat memilih Desa Kinunang atau Desa Pulisan sebagai tempat stay ketika berlibur ke DSP Likupang, terutama di Desa Kinunang. 

Selain kekayaan alam dan budayanya yang otentik, Desa Kinunang punya selling point pariwisata yang unik dan spesifik, yaitu sebagai desa paling Utara di Pulau Sulawesi. Unik bukan?

Kalau dilihat di peta Sulawesi yang seperti huruf K itu, posisi Desa Kinunang ada di pucuk atau di ujung tanduk Pulau Sulawesi yang menghadap langsung Laut Sulawesi dan Samudera Pasifik. Keren kan!? Sungguh beruntung, saya dan beberapa Kompasianer terpilih, pernah menginjakkan kaki di desa yang unik dan cantik ini 

Tidak hanya itu! Di Desa Kinunang juga banyak spot keren yang sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Salah satunya adalah Bukit Larata atau banyak juga yang menyebutnya sebagai bukit Teletubbies, karena penampakannya yang memang relatif sebelas-dua belas saja dengan bukit dalam serial anak-anak  yang dulu pernah populer di jamannya itu.

Cantiknya Bukit Larata | @kaekaha

Bukit setinggi kira-kira sekitar 50-an mdpl yang cukup menjulang itu begitu cantik ketika ilalang yang rata menutupi badan bukit kompak berwarna kehijauan hingga memberi nuansa rasa sejuk dan segar, apalagi ketika diterpa sinar mentari pagi yang membawa kehangatan. Duh benar-benar romantic scene yang sempurna!

Baca Juga Yuk !  Jejak Inspiratif Dokter Marie Thomas di Antara Pesona Likupang yang Membuatmu Enggan Pulang

Untuk mengeksplor rangkaian perbukitan di ujung Desa Kinunang yang berdiri laksana benteng tangguh yang melindungi desa dari ombak laut Sulawesi dan Samudera Pasifik ini memang memerlukan sedikit effort ya! Apalagi untuk sampai di spot-spot cantiknya yang lokasinya memang menyebar di beberapa titik.

Naik ke Bukit Larata | @kaekaha

Tapi jangan kuatir, meskipun di sepanjang pendakian dari bawah sampai di puncak yang jalur tracking-nya berkelok-kelok itu belum ada fasilitas penunjang bagi pengunjung, tapi dijamin, begitu sampai diatas, semuanya akan terbayar lunas!

Eksotisnya pemandangan 360 derajat dari puncak bukit yang berbalut ilalang segar itu akan meluruhkan semua capek dan gerah atau mungkin rasa gatal akibat goresan tepi daun-daun ilalang, say hello dari mereka sama kita-kita yang belum pernah bersentuhan dengannya.


Dari ketinggian Bukit Larata kita bisa melihat cantiknya lanskap perbukitan Larata yang didominasi warna hijau segar dari balutan ilalang yang tumbuh subur dengan ketinggian seragam di sekujur bukit.

Sementara di kaki bukit, abu-abu kehitaman warna aspal hotmix jalanan yang membelah perbukitan begitu kontras dan memberi aksen yang cantik pada lukisan alam Desa Kinunang yang begitu original!.

Nah, begitu membalikkan badan, Masha Allah! Lautan biru Samudera Pasifik yang luas membentang hingga batas horison sungguh terlihat begitu indah memanjakan indera kita.

Salah Satu Spot di Puncak Bukit Larata | @kaekaha

Garis-garis gelombang yang berkejaran tak henti-hentinya hingga memunculkan riak-riaknya sampai di kaki bukit yang terlihat putih membuih ketika menyapu hamparan pasir pantai jelaslah fragmen alam terbaik sebagai katalis untuk membantu mengembalikan kesegaran dan kebugaran fisik, psikis dan mental. Semoga!

Aaaaaaah, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Yuk, jalan-jalan ke Desa Kinunang! (BDJ11824)


Semoga Bermanfaat,

Salam matan Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas!

 

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN



Artikel ini juga tayang di Kompasiana pada 13 Agustus 2024 jam  13:30 WIB (klik disini untuk membaca)

Minggu, 08 September 2024

Buku-Buku yang Beranak Pinak

Buku-buku yang Beranak Pinak, Apresiasi dari Sayembara Cerpen Pulpen XV-KONGSI  | @kaekaha

Kalau memang sudah rejeki, ya memang nggak akan kemana-mana!

Begitulah kira-kira ungkapan lawas tentang filosofi rejeki yang begitu populer dalam budaya masyarakat kita yang terabadikan secara turun temurun dengan sistematis, hingga berurat dan berakar begitu kuat di alam bawah sadar sebagian besar diantara kita, termasuk aku!

Nah faktualnya, ternyata yang namanya rejeki itu juga bisa datang dari arah mana saja yang sama sekali tidak kita sangka-sangka dan duga-duga. Kerennya, rumus rahasia untuk menghadirkan ajaibnya formulasi rejeki seperti itu "hanya" perlu bersyukur, bersyukur dan bersyukur!

Baca Juga Yuk! Het Paradijs Van Java, Menjelajah Surga Sumedang Lewat Buku

Naaah untuk yang satu ini, kebetulan saat ini aku sedang menikmati prosesnya lho! 

Bersyukur yang beneran bisa membawa nikmat dan bahagia dalam arti yang sesungguhnya. Diskripsi gambaran bahagianya tuh, kira-kira seperti orang kehausan yang tiba-tiba menemukan sebotol air dingin yang ada manis-manisnya gitu lho. 

Kebayang kan bagaimana senangnya, bahagianya dan juga nikmat segarnya!?

Tidak Ada Alasan untuk Tidak Bersenang-senang dengan Buku Kesayangan | @kaekaha

Tapi sayangnya, khusus kebahagiaan yang seperti ini, biasanya malah bikin saya susah tidur...he...he...he... Tahu kenapa?

Di sepanjang bulan Juli hingga setidaknya di awal Agustus 2024 ini, buku-buku koleksiku diam-diam terus "beranak pinak" menjadi semakin banyak. 

Baca Juga Yuk! Memoar Bang Dizzman Si Manusia Bandara

Sebagai "kutu buku yang paling kutu" yang sangat senang tenggelam dalam lautan buku, ini jelas sebuah kebahagiaan yang tidak terkira. Mana suara kutu-kutu yang lain?

Apresiasi dari Elex Media Komputindo untuk Program KKN Project | @kaekaha


Sayangnya, semakin beranak pinaknya buku-bukuku, malah membuatku semakin susah untuk tidur nyenyak! Lho, lha kok nggak bisa tidur nyenyak!?

Baca Juga Yuk! Lebih "3 Dekade" Komik Superman Koleksiku Ini Menebar Inspirasi dan Imajinasi

Mungkin ini salah satu kebiasaan burukku yang terlanjur nempel dalam alam bawah sadar! Aku biasa susah tidur nyenyak kalau buku-buku baru yang punya belum ludes terbaca. Suka penasaran!? He...he...he...

Maklum, namanya juga kutu buku. Eh,  kutu-kutu yang lain seperti itu juga nggak!? He...he...he...

Voucher Belanja Buku Hadiah dari Kompasiana | @kaekaha

Itulah yang terjadi sejak di awal Juli lalu, ketika buku-bukuku tiba-tiba beranak-pinak secara tidak lazim, tidak seperti biasanya! 

Bila lazimnya dalam sebulan itu beranaknya 1 sampai 2 saja! Lhaaah bulan ini  beranak pinak sampai 15. Waaaah pasti asyik lah, meskipun bakalan nggak bisa tidur! He...he...he... Alhamdulillah.

Begini detail persalinannya!

Berawal dari tulisan berjudul "Tidak Ada Alasan untuk Tak Bersenang-senang dengan Buku Kesayangan" yang aku ikutkan dalam even "misteri topik" THR alias tebar hikmah selama Ramadan. Tahu kan?

Itu lho, even menulis sebulanan penuh di Kompasiana selama Ramadan 2024 kemarin, Alhamdulillah mendapatkan apresiasi cantik dari Mimin Kompasiana hingga diganjar voucher Gramedia senilai Rp. 150.000,- yang dikirim langsung ke Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas di awal Juli kemarin.

Lut Bercerita | @kaekaha

Nggak mau menunggu lama, begitu vouchernya sampai langsung aku tukarkan dengan novel keren yang settingnya pas banget sama masa-masa saya kuliah, terutama pas riak-riak jatuhnya era orde baru. Jadi serasa deja vu, nostalgila gitu lho kalau membaca novelnya.

Momentum saat itu, termasuk yang paling ikonik dalam perjalanan hidupku, baik sebagai mahasiswa pelaku sejarah saat itu maupun sebagai warga negara Republik Indonesia. Karena itulah, kadangkala aku masih suka kangen dengan masa-masa itu!

Naaah, novel karya Leila S. Chudori yang terbit 2017 silam itu serasa jembatan bagiku untuk menuju ke masa itu. Eh ada yang tahu judul novelnya kan!? Itu lho, Laut bercerita! Ini anak pertama bukuku di bulan Juli 2024.

Apresiasi dari Sayembara Cerpen Pulpen XV-KONGSI  | @kaekaha

Berikutnya, tiga hari berselang! Kali ini giliran cerpen ajaibku "Kongsi Dukun Lintrik" yang bercerita!

Ya, cerpen yang berkisah tentang mengerikannya praktik lintrik, ilmu hitam pengasihan yang konon sampai hari ini masih bisa kita temukan di belahan timur pulau Jawa itu, Alhamdulillah di apresiasi dengan sangat cantik di ajang Sayembara Cerpen Pulpen XV yang kebetulan menjadi spesial event dari KONGSI, pestanya penulis fiksi kompasiana yang pertama.

Baca Juga Yuk! Bagai Kacang Ingat Kulitnya, Inilah Cara Band Radja Melestarikan Lagu-lagu Banjar

Alhamdulillah "even spesial" ini, hadiahnya juga spesial dong! Beda dari even sebelum-sebelumnya. Salah satunya adalah hadiah berupa merchandise Kompasiana yang wujudnya ternyata serupa gudibek Kompasiana sama buku. 

Nah kerennya, untuk kali ini, bukunya tidak hanya beranak 1 saja, tapi 2! Mau tahu judulnya apa! Spil nggak yaaaaaa!?


Cerita masih berlanjut! Beberapa hari setelahnya, bukuku kembali beranak! Kali ini bidannya adalah Komunitas Penulis Berbalas (KPB) melalui even menulis dengan tema dendam yang melahirkan kebaikan, dalam rangka menyambut terbitnya nobar alias novel barengan yang ditulis 33 penulis, berjudul "Kapak Algojo dan Perawan Vestal"

Alhamdulillah, tulisanku yang berjudul "Tragedi Buta Warna dan Dendam Kesumatku untuk Masa Depan Anak-anak Nusantara!" kembali mendapat apresiasi tercantik dari para Juri, hingga diganjar beberapa reward keren yang salah satunya adalah novel fenomenal karya 33 penulis hebat diatas.

Naaah novel "Kapak Algojo dan Perawan Vestal" inilah anak keempat dari bukuku di bulan Juli ini.

Apresiasi dari Elex Media Komputindo untuk Program KKN Project | @kaekaha

Terbaru dan teraktual, pagi tadi waktu Dhuha! Ketika tiba-tiba orang rumah dikejutkan oleh teriakan kurir pengantar paket. Tentu saja, seisi rumah jadi heboh. Karena kami memang tidak sedang menunggu paket orderan apapun. Eh, lha kok tiba-tiba diantari paket, gede pula!

Usut punya usut, dari pengirimnya yang tertulis PT. Elex Media Komputindo, baru saya ngeh... Ini pasti "paket kejutan" dari Gramedia Group, terkait even project menulis tema KKN di Kompasiana yang baru saja rampung, dimana tulisanku yang berjudul "Ketika Cinta Tidak Lagi Buta (Warna)" terpilih menjadi salah satu karya yang lolos untuk dibukukan! Alhamdulillah...

Saya bilang paket ini sebagai kejutan, karena dari awal memang tidak ada klausul hadiah apapun dalam even ini, selain karya 20 pemenang yang nantinya dibukukan. Walaaaah asyik juga ya, cara Gramedia menyenangkan hati kita. Sekali lagi, Alhamdulillah!

Kerennya lagi, setelah kubuka bungkusan paketnya, ternyata berisi 11 buku "bergizi tinggi" dengan genre beragam, Aaaaaaah, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Tahu aja, Gramedia cara memanjakan saya! Alhamdulillah! (BDJ5824)

Semoga bermanfaat!

Salam matan Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas!

Artikel ini juga tayang di Kompasiana pada 9 Agustus 2024  jam  14:48 WIB (klik disini untuk membaca)

 

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN






 

Es Puter "Jadoel" Dharma Praja, Si Manis dari Banjarmasin yang Melegenda

Es Puter Durian "Jadoel" Dharma Praja dengan Perangkat Jualan yang Tidak Kalah Jadulnya | @kaekaha

Sebagai negeri tropis yang dilewati garis khatulistiwa, sepanjang tahun kita mendapatkan pencahayaan matahari secara penuh, hingga suhu rata-rata di angka 26,7 C yang cenderung panas, mendorong kreatifitas masyarakat untuk terus berkreasi, menciptakan beragam asupan penyejuk, penetralisir panas.

Salah satu dari asupan penyegar penetralisir panas yang populer di sekitar kita, ya beragam olahan es yang sekarang ada di sekitar kita.

Uniknya, olahan es sebagai bagian dari jajanan tradisional masyarakat nusantara yang mempunyai keragaman budaya, banyak diantaranya telah berkelindan dengan kearifan lokal dimana olahan es itu lahir dan tumbuh, hingga akhirnya dikenal menjadi trademark dari daerah tersebut.

Es Puter Durian "Jadoel" Dharma Praja, Salah Satu Produk Es yang Bikin Dandaman | @kaekaha

Tentu tidak asing bagi kita mendengar nama Es Goyobod dari tatar Pasundan, Jawa Barat, Es Pallubasa dan Es Pallubutung dari Sulawesi Selatan, Es Brenebon dari Sulawesi Utara, juga Es Selendang Mayang dari Betawi atau seputaran Jakarta sekarang.

Selain itu di Jawa Timur, juga bisa kita temukan Es Sinom dan Es Godir yang ikonik di sekitaran Gerbangkertosusila, juga Es Dawet Jabung, Ponorogo yang sudah kesohor dan banyak lagi lainnya! Semuanya, secara spesifik berbalut cantik dengan kearifan lokalnya masing-masing. Keren kan!?

Es Puter Dharma Praja dengan Gerobak Dorong yang Manggon di Jalan Dharma Praja, Banjarmasin | @kaekaha

Tapi es tradisional khas Nusantara tidak hanya itu saja! Masih banyak lagi lainnya yang tersebar dan populer di seluruh penjuru negeri.

Salah satunya yang unik dan menarik adalah jenis es yang konon katanya diadopsi dari es krim ala Belanda yang berbahan utama susu, hingga jenis es ini akhirnya benar-benar dibuat dengan menyesuaikan bahan dan juga selera lokal khas nusantara, hingga kelak juga dikenal sebagai es krim tradisional. Ada yang tahu namanya!?

Pembeli Sedang Menikmati Es Puter Dharma Praja di Sekeliling Gerobak Dorong Jadul | @kaekaha

Di masa kanak-kanak saya di era 80-an sampai 90-an di salah satu sudut timur laut, kaki Gunung Lawu di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, masyarakat di kampung kami menyebut jenis es krim tradisional ini dengan sebutan Es Tung atau Es Tung-tung, mungkin karena penjualnya yang berjualan pakai gerobak keliling biasa membawa gong kecil yang berbunyi tung-tung.

Nah, setelah tinggal di Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas yang masyarakatnya lebih heterogen, muncullah beragam sambatan (sebutan;bahasa Banjar) untuk menyebut jenis es ini.

Amang Aman Sedang Menjuali Es Puter | @kaekaha

Ada yang menyebut es dung-dung, es nung-nung, es tong-tong dan lain-lainnya dengan tipe penamaan mirip yang biasanya dinisbatkan kepada pedagang yang keliling dengan gerobak, sedangkan nama Es Puter untuk pedagang yang manggon (menetap;bahasa Jawa).

Sayangnya, di Banjarmasin pedagang es nung-nung ataupun es puter ini jumlahnya terus menyusut, tidak sebanyak di era 80-90an dan itu pun hanya menyisakan pedagang-pedagang berusia lanjut.

Untungnya, diantara sedikitnya penjual es puter yang sekarang masih tersisa di seputaran Kota Banjarmasin, masih ada seorang pedagang es puter ikonik yang tetap bertahan dengan resep es puter keluarga yang bertahan lebih dari 3 dekade, yaitu Es Puter no name tapi lebih dikenal sebagai Es Puter Dharma Praja.

Gerobak Jadul Es Puter Durian Dharma Praja, Banjarmasin yang Citarasanya Ngangeni. | @kaekaha

Perihal nama Es Puter Dharma Praja yang kental banget dengan rasa "pemerintahannya" itu, mungkin karena lapak jualannya yang berupa gerobak dorong itu sudah manggon di lingkungan komplek Dharma Praja alias komplek perkantoran, sekolah dan sarana olahraga milik pemerintah di seputaran jalan Ahmad Yani Km. 5 hampir dua dekade.

Sebelumnya, es puter yang benar-benar berasa hidden gem, karena hanya satu-satunya yang tersisa dan juga hanya menjual es puter satu rasa saja, yaitu rasa durian yang begitu otentik ini, sekitar satu dekade berjualan di pinggir jalan paling terkenal seantero Pulau Kalimantan, yaitu jalan Ahmad Yani.

Es Puter Durian Jadoel Dharma Praja, Sedikit Lagi Mau Habis, Saatnya Diputar-putar | @kaekaha

Memang sih Paman Rahman yang biasa disapa oleh pelanggannya dengan sebutan Amang Aman, generasi kedua yang meneruskan usaha jualan es puter yang dulu dirintis abahnya itu, kalau durian sedang langka maka akan digantinya dengan nangka.

Jadi, kalau pas ke lapak jualan Amang Aman yang mulai buka diatas jam 10 WITA atau setelah jam 10 pagi sampai selepas shalat Ashar itu, ternyata es puternya tidak berasa durian, tapi berasa nangka, itu artinya memang sedang tidak musim durian.

Gambar Durian Sebagai Tanda | @kaekaha

Tapi jangan kuatir, kecuali sedang khilaf saja, biasanya kalau sedang menjual es puter durian maka Amang Aman akan memasang gambar durian di depan perangkat termos es puter jadulnya yang berbungkus kayu, tapi kalau gambar durian tidak terpasang, berarti yang dijual adalah es puter nangka. Kecuali Amang Amannya sedang khilaf...he...he...he...

Penampakan perangkat termos es puter jadul yang berbungkus kayu ini merupakan salah satu sisi unik sekaligus bukti legendarisnya olahan es krim tradisional Dharma Praja ini.

Perangkat Tua Alias Jadul Es Puter Dharma Praja, Banjarmasin | @kaekaha

 

Tidak hanya itu sisi unik yang sering disorot oleh pembeli dalam berbagai unggahannya di media sosial yang secara tidak langsung ikut mempromosikan (promotion) eksistensi es puter Dharma Praja ini, karena Amang Aman juga biasa beratraksi, memutar-mutar termos esnya saat isi es dalam termosnya tinggal sedikit dan ini menjadi hiburan tersendiri bagi pembeli.

Kerennya, dari sini kita melihat Amang Aman sepertinya sudah mengenal prinsip marketing mix atau bauran pemasaran untuk menjaga eksistensi es puter durian Dharma Praja-nya. 

Terbukti, selain citarasanya yang begitu otentik (product) dan lokasinya (place) yang sangat strategis, yaitu di simpang tiga jalan Dharma Praja yang tidak hanya menjadi lintasan "penghuni komplek" saja, tapi juga jalur penghubung dari dua ruas jalur arteri, masih ada unsur marketing mix lain yang dijaga hingga ikut berperan menjaga eksistensi es puter durian Dharma Praja ini.

Perangkat untuk Menikmati Makan Es Puter Dharma Praja | @kaekaha

Salah satunya adalah penetapan strategi harga (price) es puternya yang sangat cerdas. Kalau anda semua sempat jalan-jalan ke Banjarmasin dan ketemu dengan lapak jualan Es Puter Dharma Praja ini, jangan kaget ya kalau varian harganya receh banget! Sangat ramah di kantong.

Kalau pakai gelas kecil, harga nya hanya 2000-3000an saja per-porsinya, sedangkan kalau pakai piring atau paket bungkus yang biasanya diberi tambahan potongan roti tawar harganya hanya 7000-8000an saja. Jelas receh banget untuk citarasa es puter durian otentik yang jauh dari kata recehan! (BDJ6824)


Yuk jalan-jalan ke Banjarmasin!

Semoga bermanfaat!



Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN







 

Rahasia Pesugihan Tulang Belulang

Tulang Belulang | stockadobe.com

Sebulan terakhir, masyarakat di kawasan 3 Banjar, yaitu Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar yang beribukota di Martapura dan kotaku Banjarmasin, dihebohkan dengan viralnya pembukaan "masal" kedai bubur ayam baru!

Tidak tanggung-tanggung, kedai bubur ayam berlabel khas Banjar, bertitel "Doa Kuitan" itu langsung membuka outlet di 30 titik sekaligus. Wooooow!

Sejak saat itu, warganet dengan berbagai aplikasi medsosnya, juga media lokal di laman masing-masing, beramai-ramai mengabarkan antrian mengular pembeli di kedai bubur yang terus bertambah dan bertambah di setiap paginya, bahkan sampai pagi hari ini, setelah tiga bulan berlalu.

Tidak heran, meskipun baru buka setelah subuh, jauh sebelumnya ada saja pembeli yang rela antri untuk semangkuk bubur ayam khas Banjar yang konon katanya, menurut para pereviewnya di beberapa aplikasi kulineran, dasar liwar nyamannya, hingga ratingnyapun nyaris sempurna.

Tak ayal, warganet juga membandingkan citarasanya dengan bubur ayam khas Banjar lainnya, terutama Bubur Ayam Barakat Kuitan, yang konon tidak hanya sebelas-dua belas saja, tapi juga identik!

Terang saja, "kehebohan" ini mengundang berbagai media arus utama untuk datang, meliput dan selanjutnya semakin memviralkan kedai bubur ayam yang namanya juga otentik Banjarnya, Doa Kuitan yang berarti doa orang tua!

Konon, semua tidak lepas dari humble-nya Haji Hasan, sang pemilik yang selalu "welcome" kepada siapa saja, apalagi kepada jurnalis sepertiku yang biasa mencari tahu "rahasia dapurnya".

Bahkan, Haji Hasan sudah biasa mengadakan media gathering untuk memperkenalkan proses pembuatan bubur ayamnya, langsung di "dapurnya". Keren kan!

Tapi...

Jujur, viralnya bubur ayam Doa Kuitan ini sangat mengganggu usaha keluarga besarku yang sebenarnya telah eksis lebih dari 5 dekade silam, sejak dirintis Hajjah Maryam, datukku di akhir era 60-an! Bubur Ayam khas Banjar "Barakat Kuitan".

Kamilah yang pertama menjual bubur ayam khas Banjar, hingga menjadi trademark, sekaligus langganan pejabat dan tokoh-tokoh lokal hingga nasional.

Tidak hanya itu, banyak juga kantor-kantor pemerintahan, kedinasan, sekolah dan juga pelaku usaha swasta yang secara reguler menjadi pelanggan bubur ayam kami terutama di haji Jumat.

Sayang, sejak enam bulan terakhir omset kami terus turun. Apalagi di dua bulan terakhir, setelah tidak ada satupun kantor-kantor yang order! Tentu saja, kami kebingungan mendapati fenomena ini! Apa iya, semuanya karena Doa Kuitan?

"Ji, dari mana ya resep bubur paman Hasan tu? Bujur juakah sidin memakai pesugihan Tulang belulang?" Tanya Acil Inah juru masak kami, kepadaku saat kita menyiapkan bahan bubur.

"Darimana pula Sidin dapat modal, bukanya sudah bangkrut!?" Giliran Acil Leha partner masak Acil Inah angkat bicara.

"Sabanjaran sudah kabarnya! Banyak yang melihat, setiap tengah malam, paman Hasan keliling kota menyebar tulang belulang!" Ujar Acil Inah lagi.

"Sudahlah cil jangan ghibah ah!". Jawabku menetralisir suasana, meskipun sebenarnya aku juga penasaran.

Haji Hasan, pemilik bubur ayam "Doa Kuitan" yang viral itu, sejatinya memang bukan orang lain bagi keluarga besar kami, pemilik bubur ayam "Barakat Kuitan".

Karena, Haji Hasan adalah saudara kembar dari kakekku, Haji Husin, generasi kedua penerus usaha bubur ayam "Barakat Kuitan". Keduanya adalah putera kembar dari Hajjah Maryam, Datukku.

Menurut ibuku, Bunda Noor, dulu Kai Hasan tidak mau meneruskan usaha bubur ayam, konon mengaku lebih cocok dengan usaha bengkel dan toko onderdil datuk yang juga bernama "Barakat Kuitan".

Hingga usaha bubur, akhirnya diteruskan Kai Husin, kakekku, hingga sekarang turun ke aku, generasi keempatnya.

Sayang, bengkel dan toko onderdil yang dikelola Kai Hasan hingga menjadi salah satu yang terbesar di Banjarmasin itu, ujung-ujungnya malah disita bank, karena diagunkan menantunya untuk usaha batubara yang belakangan, disebut-sebut oleh polisi yang menangkap menantunya, sebagai tambang ilegal.

Sejak saat itulah kepemilikan usaha Bubur Ayam "Barakat Kuitan" digoyang Kai Hasan, hingga berujung di meja hijau, bahkan sampai ke mahkamah agung segala!

Tapi tetap saja, keluarga kamilah yang dianggap lebih berhak dan patut mengelola Kedai Bubur Ayam "Barakat Kuitan" oleh pengadilan.

Tapi apa iya, gara-gara itu, Kai Hasan berubah, bahkan sampai memakai pesugihan untuk usahanya!?

Baca Juga Cerpen Juara! "Kongsi Dukun Lintrik"

Langit hitam lepas tengah malam itu masih menyisakan rintik hujan, ketika dari kejauhan terdengar tiang listrik yang dipukul dua kali oleh wakar.

Seperti biasanya, bunyi ini menjadi tanda dimulainya aktifitas dapur di kedai bubur ayam kami yang selalu diawali dengan shalat malam dan doa bersama yang dipimpin Kai Husin, tapi khusus malam Jumat, karena beliau memilih "bermalam" di Masjid Raya Sabilal Muhtadin, makanya akulah yang memimpin doa bersama kali ini.

Selesai membuka dapur kedai, biasanya aku langsung pulang untuk menuntaskan kerinduanku padaNya, sambil menunggu kumandang adzan Subuh. Tapi tidak kali ini!

Aku ingin sekali keliling kota, menghirup udara segar di awal pagi, sekalian nanti shalat subuh di Masjid Raya Sabilal Muhtadin saja, kebetulan Kai Husin yang menjadi imam shalatnya.

"Ah segaaaaarnya!" Gumamku dalam hati.

Setelah puas berkeliling kota, aku langsung menuju masjid terbesar di Kalimantan Selatan yang memang nggak ada matinya ini! Apalagi di malam Jumat, seperti sekarang.

Langsung menuju ke ruang khusus imam masjid tempat Kai Husin biasanya menunggu datangnya shalat Subuh, aku dikejutkan oleh obrolan dari dua orang yang sangat kukenal suara dan juga gaya bicaranya dari dalam ruangan.

"Kai Hasan!?" Gumamku dalam hati. Ini benar-benar surprise. Sungguh! Sejak ada masalah sengketa, komunikasi kami dengan keluarga Kai Hasan benar-benar beku. Bagaimana bisa, tiba-tiba beliau bersama Kai Husin!?

Belum sempat kuketuk pintu, tiba-tiba pintu terbuka.

"Rizal!? Waaah pucuk dicinta ulam pun tiba. Ayo masuk jurnalis!" Kai Hasan yang tadinya mau keluar ruangan, langsung menarikku ke dalam.

"Baru saja, kami selesai membicarakanmu! Ayo duduk, kai pesankan minuman dulu di kantin!" Setelah menuntunku duduk, Kai Hasan langsung keluar ruangan.

"Ada apa ini kai?" Tanyaku kepada Kai Husin.

Bukannya menjawab pertanyaanku, sidin justru memberiku sebuah buku tebal mirip buku harian dengan sampul muka bertuliskan Karindangan yang tampak sudah usang dan tua.

"Itu buku catatan peninggalan datukmu, Hajjah Maryam! Disitu ada banyak rahasia yang akan menjawab semua keingintahuanmu. Bacalah cu!" Kata Kai Husin.

Di halaman pertama, aku langsung menemukan prasasti tulisan tangan datuk, "Untuk Hasan dan Husin, Putra kembarku tersayang!", berikut catatan yang mengerucut pada sebuah pesan pada keduanya untuk terus menjaga silaturahim apapun yang terjadi. Menurut Datuk, itulah ikhtiar merajut kasih sayang paling nyata.

"Masha Allah, ini ternyata alasan Sidin berdua tetap menjaga silaturahmi, meskipun bekas luka akibat sengketa belum juga mengering", Gumamku dalam hati.

Selanjutnya, berbekal penanda halaman buku yang sepertinya sengaja dibuat Kai Husin, aku menemukan catatan resep-resep orisinil dan otentik masakan khas Banjar tulisan tangan datuk, seperti sop, soto sampai bubur ayam asli khas Banjar.

"Oooooh ini ternyata kitab induknya kuliner keluarga kami!" Terjawab sudah dari mana Kai Hasan mendapatkan resep buburnya yang identik. Tapi modal usahanya? Masa iya benar-benar dari "pesugihan tulang belulang"?

Baru saja aku membatin masalah "pesugihan tulang belulang", tiba-tiba dari halaman buku yang baru saja aku balik, terpampang dengan jelas sebuah judul tulisan tangan dari datuk, "Rahasia Pesugihan" yang tentu saja membuatku syok dan terkejut! 

Apalagi setelah di halaman berikutnya aku menemukan juga sebuah tulisan tangan berjudul "Rahasia Pesugihan Tulang Belulang". Badanku langsung lemas seperti tak bertulang dibuatnya.

Astaghfirullah! Ternyata pesugihan tulang-belulang memang benar-benar ada! Bahkan datukku sendiri pelakunya!

Eiiiiits, tapi tunggu dulu...

Aaaah bodohnya aku! Hampir saja aku tertipu! Inilah akibat dari kebiasaan kita, eh... kebiasaanku, masih saja malas membaca sampai selesai.

Setelah kubaca sampai habis, baru aku paham. Ternyata yang dimaksud datukku pesugihan tulang belulang itu, sebenarnya justeru bentuk sedekah, berbagi rejeki, berbagi kasih sayang dalam bentuk makanan kepada makhluk ciptaanNya yang lain.

Jadi, tulang yang disebut-sebut untuk pesugihan itu, tulang-belulang ayam sisa bubur ayam, berikut tulang rawan dan sedikit daging yang memang sengaja disisakan oleh datuk untuk dibagi kepada kucing, binatang kesayangan sidin.

"Datukmu yang mengajarkan ilmu pesugihan tulang belulang itu, agar usaha bubur ayam semakin berkah! Hasan sudah melakukannya, kamu kapan!?" Tanya Kai Husin kepadaku.

(BDJ 010824)


Kamus Bahasa Banjar :

Acil: Tante, bulik

Barakat: Berkat orang tua

Bujur: Benar

Dasar liwar nyamannya: memang luar biasa enaknya

Datuk: Kakek/Nenek Buyut

Jua: Juga

Kai: Kakek

Karindangan: Kangen, rindu

Kuitan: Orang tua

Paman: Paklik, Om

Sidin: Beliau

Wakar: Petugas Jaga Malam


Semoga menginspirasi!

Artikel ini juga tayang di Kompasiana pada tanggal 1 Agustus 2024 jam  14:50 WIB. Klik disini kalau mau membaca ceritanya!




Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN

 

Koleksi Playboy yang Bikin Asoy Geboy!

Mobil-mobilan | @kaekaha


Lain ladang lain belalang, Lain lubuk lain pula ikannya! Naaaaah lain daerahnya lain pulalah bahasanya!


    Baca Juga Yuk! Misteri Sepasang Kunang-kunang di Balik Halimun Kabuaran

Perjalanan menuju Desa Kabuaran tempat lokasi KKN kelompok kami sebenarnya nggak terlalu sulit, karena dari kantor kecamatan tempat kami dilepas sama Pak Camat dan petinggi kampus, rombongan kami tinggal naik mobil pick-up bak terbuka yang sudah di siapkan.

Jalannya juga hanya satu arah saja, tinggal lurus mengikuti jalan beraspal mulus yang dari awal pertigaan jalan besar di samping kantor kecamatan terlihat menanjak. Ini asyik sekaligus susahnya!

Ternyata, mobil yang mengantar kami sepertinya kurang fit. Di sepanjang perjalanan, beberapa kali kenalpot mobil terbatuk-batuk dan terlihat tersengal-sengal diajak menanjak dengan beban yang lumayan berat di bak belakang.

Benar saja! Sepertinya belum separuh jalan, mobil pick-up yang membawa kami benar-benar kandas, berhenti total nggak ada suara dan nggak bisa lagi bergerak, setelah batuk-batuk lumayan berat.


Ngenesnya, ternyata sopir yang membawa mobil tidak hanya nggak paham soal mobil, karena memang bukan sopir sebenarnya, ternyata dia juga tidak tahu lokasi persis kantor desa Kabuaran yang akan kita tuju. Alamaaaaak.

Disaat kita semua kebingungan karena memang tidak ada yang bisa dimintai tolong, si sopir malah ijin untuk kembali ke kantor kecamatan untuk meminta bantuan dan meninggalkan temannya agar bersama kami menunggu di mobil.

Sesekali ada bapak-bapak lewat dan kami tanyai

"Pak Kantor Kepala Desa masih jauh?" Tanya Bang Deni.

"Oh kantor Pak Tinggi!?"  Si bapak tua bertanya balik.

"Kepala desa Pak! Pemimpin desa Kabuaran, kantornya masih jauh!?" Bang Deni berusaha menjelaskan lebih detail.

"Iya dek, kepala desa itu Pak Tinggi di sini, mun kantornya semak saja, dekat! Jalan juga sampai!" Jawab si bapak lagi.

Mendengar penjelasan si bapak yang telah berlalu pergi dengan sepeda anginnya ke arah bawah, akhirnya saya memutuskan untuk berjalan kaki menuju ke kampung ditemani Bang Taufik, wakordes dan ternyata apa yang terjadi!

    Setelah berjalan hampir dua jam dibawah terik mentari kami masih belum juga menemukan perkampungan. Kiri kanan kami masih didominasi kebun jagung dan tembakau!

Kami atau tepatnya saya, ternyata lupa bin khilaf! Sebagai wong ndeso yang lahir dan besar di lereng gunung, ternyata saya melupakan sebuah rumus paten!

Yah, sebuah rumus yang datangnya entah dari mana, saya juga tidak tahu! Ingat nggak, kalau melakukan perjalanan dikampung apalagi di gunung, setiap ditanya lokasi dan jarak, masyarakat setempat selalu cenderung menjawabnya dengan kata dekat! Dekat saja! Sekilo atau dua kiloan lah! Paling seroko'an juga sampai!? Betul?

Nah ini yang saya lupa! Seharusnya saya ingat, sekilo dua kilo-nya orang di pedesaan itu sekian kali lipat dari seribu meter ukuran di ilmu matematika kita. Naaaah iya kan!?

Tahu kenapa!? Ya jelas bedalah, saya, anda dan yang lainnya dengan orang-orang pedesaan yang jauh lebih segar dan tegar hidupnya! Apalah artinya sepuluh-dua puluh kilometer bagi kita yang bagi mereka ternyata hanya sekiloan meter saja!? Jauh bagi kita, dekat bagi mereka! Begitu juga berat bagi kita ternyata ringan bagi mereka!

Aaaaah alamaaaaaak, kena prank kita di pintu masuk Desa Kabuaran! Untung nggak semuanya ikut jalan kaki rame-rame...he...he...he...

    Baca Juga Yuk! Romansa si Tambeng dan Babi-Babi Belajar di Ketinggian Kabuaran

Padatnya program kerja kelompok KKN kami di Senin Minggu ke-2 kemarin, mengharuskan kami bersepuluh baru bisa kembali ke posko selepas Ashar. Bahkan kami tidak sempat untuk sekedar makan siang.

Karena di posko juga tidak ada persediaan makanan untuk makan besar bersepuluh, sedangkan untuk memasak kami juga sudah kepayahan, akhirnya kami putuskan untuk membeli di warung saja, makan siang setengah sore kami kali ini.

Kebetulan, di dekat kantor desa Kabuaran ada Warung Bibi Imah yang menurut Bang Zul, bungsu Haji Hasan pemilik rumah posko kami, menyediakan beberapa menu masakan nasional yang lumayan familiar di lidah dan di kantong, jadi recomended banget katanya.

Untuk itu, dua sejoli yang tanpa terdeteksi radar kita semua, ternyata sudah jadian beberapa hari yang lalu, Kak Rina yang juga "manajer keuangan" kami dan Mas Agus "manajer logistik" kamilah yang bertugas belanja makan siang di warung Bibi Imah.

"Bi, tolong dibungkus sepuluh ya! Eh lauknya apa ya bi yang masih ada?" Mas Agus memesan kepada seorang ibu yang berdiri dibalik etalase kaca.

"Sobung dek!" Jawab si ibu setengah berteriak dengan logat Maduranya yang medok.

"Sop Bung!?" tanya Mas Agus lagi sambil mengernyitkan dahi, tanda ada keheranan dalam hati. "Bung kok di sop?" Tanyanya dalam hati.

"Iya, sobung dek!" Jawab si Ibu lagi.

"Sop Bung itu apa? Emangnya anak-anak mau!" Tanya Kak Rina ke Mas Agus sambil berbisik.

"Sepertinya Sop Rebung, itu lho bambu muda bahannya lumpia Semarang!? Biar sajalah daripada kita kelaparan!" Jawab Mas Agus sekenanya ke Kak Rina.

"Ooooh ya sudahlah!" Jawab Kak Rina pasrah. "Iya ya daripada kita kelaparan!" Belanya dalam hati.

"Iya sudah bi, bungkus aja sepuluh ya!" Mas Agus menegaskan pada si ibu.

"Sobung kabbhi dek!" Jawab si ibu lagi.

 "Iya bi, sop bung-nya dibungkus saja sepuluh ya!" Mas Agus berusaha meyakinkan si ibu untuk dibungkuskan sepuluh nasi sop bung.

Mendengar jawaban Mas Agus, si ibu masuk ke dapur dan menghilang untuk beberapa saat. Pikir Mas Agus dan Kak Rina, si ibu mungkin sedang membungkuskan nasi pesanan mereka, sehingga keduanya memilih duduk di bangku panjang di depan etalase kaca yang di dalamnya terlihat tinggal menyisakan kuah-kuah sisa lauk saja.

Beberapa waktu berlalu, si Ibu tidak juga muncul, tiba-tiba dari pintu samping yang terhubung dengan kantor desa malah muncul Pak Tinggi atau Pak Kades Amsyari dengan istri beliau. Anehnya, melihat kami berdua Pak Tinggi Amsyari dan istrinya kok senyumnya aneh ya! Seperti sambil menahan tertawa gitu! Ada apa ya!?

Nggak lama, muncul juga si ibu di belakang Pak Tinggi Amsyari, juga sambil tersenyum. Tapi lagi-lagi, senyumnya juga aneh! Terlihat kalau sambil menahan tertawa juga! "Wadaaaah ada apa ini?" Tanya Mas Agus dalam hati.

"Mas Agus sama Mbak Rina ya yang mau sobung sepuluh bungkus!?" Tanya Pak Tinggi Amsyari, dengan bahasa Indonesia logat Madura yang medok, masih dengan balutan senyum yang mencurigakan.

"Iya Pak, kok bapak jadi tahu!" Jawab Mas Agus spontan dengan sedikit keheranan.

"Iya tadi Bibi Imah tadi ke kantor dan cerita, kalau ada anak KKN minta bungkus nasi sobung katanya. Makanya saya diminta kesini untuk menjelaskan ke Mas Agus dan Mbak Rina!" Pak Tinggi menjelaskan kepada Mas Agus dan Kak Rina, tapi kali ini hanya sambil senyum saja tidak dengan menahan tertawa seperti tadi.

"Memangnya ada apa ya pak dengan sop bung-nya!?" Tanya Mas Agus lagi ke Pak Tinggi Amsyari, keheranan.

"Jadi begini Mas Agus dan Mbak Rina, sobung dalam bahasa Madura itu artinya tidak ada atau bisa dimaknai sebagai habis, bukan jenis masakan atau makanan. Jadi maksud bibi Imah tadi menyebut kata sobung itu artinya makanannya sudah habis di warungnya" Pak Tinggi Amsyari menjelaskan kepada Mas Agus, kali ini beliau sepertinya tidak bisa lagi untuk menahan tawanya, begitu juga istri beliau bahkan juga Bibi Imah dan Kak Rina yang terlihat tertawa terpingkal-pingkal sambil memukuli lengan Mas Agus yang akhirnya juga ikutan tertawa ngakak juga!

"Astaghfirullah, maaf-maaf Bi Imah, saya pikir Sop Bung itu sop rebung! Saya benar-benar nggak tahu! Terima kasih lho Pak Amsyari, sudah memberi penjelasan, kalau begitu sekalian saja kami pamit. Kasihan anak-anak pada kelaparan di posko". Sambil menahan rasa gemas yang belum tuntas, Mas Agus dan Kak Rina berusaha pamit untuk segera membuang rasa malu sekaligus membeli nasi di tempat lain.

"Eh nggak usah beli nasi Mas Agus, kita makan bersama saja di rumah saya ya! Kasih tahu teman-teman di posko, kira-kira 30 menit lagi siap. Jangan kuatir, kita tidak akan menyajikan sop bung kok, ya!" Sambil tersenyum, kali ini giliran Bu Tinggi, eh maksudnya istrinya Pak Tinggi Amsyari yang bersuara.

"Alhamdulillah!" Jawab Mas Agus dan Kak Rina hampir berbarengan.

"Terima kasih ibu, bapak! Kalau begitu kami langsung pamit untuk memberi kabar kepada teman-teman semua untuk bersiap". Jawab Mas Agus sambil menyalami Pak Tinggi Amsyari dan ibu, juga Bibi Imah.

Karuan saja, sesampainya di posko kisah sobung ini membuat seisi posko ngakak berjamaah, terpingkal-pingkal! Bahkan Bang Taufik sampai terguling-guling di lantai sambil menahan kencing di celana! He...he...he... Sobung-sop bung!

    Baca Juga Yuk! Oedipus Complex, Ketika Cinta Tak Lagi Buta (Warna)

Kedekatan kami, mahasiswa-mahasiswa KKN di ketinggian Desa Kabuaran dengan masyarakat, semakin hari semakin intim. Lama kelamaan kami merasa seperti tinggal di kampung sendiri.

Mulai dari anak-anak sampai kakek-kakek dan nenek-nenek hampir semuanya akrab dengan kami. Jika dengan anak-anak kami dekat melalui sekolah dan mengaji di masjid, maka dari pemuda kami dekat melalui karang tarunanya sedang dengan orang tuanya kami dekat melalui Yasinan dan pengajian rutin.

Tapi meski begitu, tetap saja dengan anak-anaklah kami mempunyai kedekatan yang lebih natural. Bahkan karena saking dekatnya, banyak juga lho anak-anak di Kabuaran yang lebih terbuka kepada kami dari pada kepada keluarganya sendiri. Wah...wah...wah...waaaaaah!

Nah salah satu anak yang paling suka main ke posko kami, bahkan pernah juga minta kepada orang tuanya agar diijinkan ikut tinggal bersama kami di posko adalah "si bongsor", Mahmud.

Anak SD kelas empat ini badan bongsornya bahkan lebih berat dari Bang Ihsan, anggota paling gemuk dalam kelompok KKN kami. Begitu juga dengan tinggi badannya yang lebih tinggi dari mayoritas "kakak-kakak" cewek anggota kelompok KKN di posko kami. Wooooow!

Tapi ya tetap saja, sifat kekanak-kanakannya masih menjadi tanda paling mudah untuk mengenalinya sebagai anak-anak! Selain cara dia memanggil kami, "Om dan tante!"

"Om, Abah punya koleksi playboy di rumah! Banyak!" Di suatu siang, dengan berbisik-bisik di telinga Bang Deni, Mahmud berhasil membuat kehebohan di posko.

"Hah, kok Mahmud bisa tahu!? Tanya Bang Deni yang terkaget-kaget, mendengarnya. Begitu juga dengan Bang Ihsan dan Mbak Wahyu yang juga mendengar bisik-bisiknya Mahmud.

"Ya tahulah, Mahmud sering melihatnya kalau Abah main". Jawab si Mahmud enteng saja sambil ngemut permen ungu berbentuk kaki.

"Memangnya playboy itu apaan!?" Tanya Bang Deni yang semakin syok dan penasaran mendengar jawaban enteng si bongsor.

"Playboy ya playboy Om! Masak orang kota seperti Om nggak tahu playboy?" Tanya si Mahmud balik kepada Bang Deni, terlihat sambil mengernyitkan dahi pertanda keheranan.

Mendengar percakapan Bang Deni dengan si Mahmud, Bang Ihsan dan Mbak Wahyu ikut-ikutan penasaran.

"Om Ihsan boleh lihat playboy-nya nggak!?"  Tanya Bang Ihsan tidak kalah penasaayo, sambil mendekat ke arah Mahmud.

"Boleh tapi jangan bilang siapa-siapa ya Om, karena kalau ketahuan Abah, Mahmud bisa dimarahi bahkan bisa dihukum!" Jawab Mahmud dengan bahasa Indonesia bercampur bahasa Madura yang terlihat tidak semedok para tetuhanya, sambil pamit pulang, karena sebentar lagi mau mengaji di Mushala haji Hasan.

Besoknya, Bang Ihsan yang kebetulan bertemu Pak Rajab, abahnya si bongsor, Mahmud di pasar, waktu mengantar Mbak Nina belanja bahan makanan harian untuk posko, mencoba melakukan klarifikasi perkataan Mahmud kemarin di posko, tentang playboy.

"Ooooh, Mahmud cerita ya sama mas-mas KKN soal Playboy itu!? Waduh... Mahmuuud, mahmud sudah dikasih tahu ndak boleh riya', tetap saja ngasih tahu ke orang, kan dosa jadinya kalau begini!" Sambil sedikit bersungut-sungut, Pak Rajab malah meminta maaf ke Bang Ihsan terkait kelakuan Mahmud yang disebutnya riya' itu

"Saya hanya bermaksud memperkenalkan Mahmud pada dunia lelaki yang sebenarnya mas! Tidak ada maksud lain". Sambung Pak Rajab lagi.

"Riya', dosa, dunia lelaki pula!? Kok malah ini yang jadi masalah!? Lha anak sekecil itu dikenalkan sama playboy apa ya nggak bahaya pak!?" Batin Bang Ihsan dalam hati, semakin bingung mendengar komentar Pak Rajab.

"Ya sudah, kalau mas KKN berminat, silakan main ke rumah besok malam ya! Mumpung istri saya ke Bondowoso. Nanti, kita lihat playboy saya sama-sama, kalau perlu nanti kita main berdua!" Ajak Pak Rajab ke Bang Ihsan.

"Ha!? Main berdua!? Boleh bawa teman-teman yang lain ga Pak!?" Tanya Bang Ihsan ke Pak Rajab.

"Gimana ya...!? Sebenarnya lebih asyik kalau main berdua saja. Tapi ya... sudahhlah, bawa saja teman-teman KKN yang lain, asal teman perempuan jangan diajak ya, malu!" Jawab Pak Rajab sambil memberi kode untuk melanjutkan belanjanya di kios sebelah, karena masih ada barang yang belum didapat.

Setelah kepergian Pak Rajab, datang Mbak Nina dengan belanjaannya.

"Pak Rajab tadi San!? Ngobrol apaan, penasaran  sama Playboy-nya si Mahmud!?" Tanya Mbak Nina menyelidik ke Bang Ihsan.

"Ah, mau tau aja urusan laki-laki!?" Jawab Bang Ihsan sambil nyengir kuda yang dibalas tonjokan cinta ala Mbak Nina ke lengan kekasihnya itu.

Besok malamnya, selepas shalat Isya berjamaah di langgar atau mushalla Haji Hasan, kami berlima tidak kembali ke posko, tapi langsung menuju ke rumah Mahmud, karena penasaran dengan playboy koleksi abahnya, Pak Rajab.

Begitu sampai, kami langsung diajak Pak Rajab naik ke ruangan khusus di lantai dua yang sepertinya memang didesain khusus untuk menyimpan semua koleksi-koleksi Pak Rajab.

Tapi di ruangan bernuansa biru ini kok ada lintasan-lintasan balap seperti arena balapan tamiya, sirkuit jalanan untuk formula 1 versi remote control dan juga arena buatan untuk off road mobil-mobilan remote control!?

"Lhah Playboy apa ini!?" Batin kami berlima mulai curiga. Kami diajak masuk lagi ke dalam sebuah kamar yang ternyata berisi koleksi mainan mobil-mobilan dan action figure super Hero kesukaan Pak Rajab dan Mahmud.

"Silakan mas-mas KKN melihat-lihat koleksi playboy saya, silakan pilih salah satu kalau mau main!". Pak Rajab mempersilakan kami menikmati semua koleksi yang disebutnya sebagai playboy tersebut.

"Mana playboy-nya Pak?" Tanya Mas Agus.

"Lho, ya ini playboy koleksi saya!" Jawab Pak Rajab dengan nada keherenan, melihat kami keheranan ketika mendengar penjelasannya tentang playboy koleksinya!

"Mainan ini, playboy!?" Tanya saya menegaskan lagi ke Pak Rajab.

"Iya mas! Bukankah ini memang playboy!? Play itu mainan dan boy itu anak laki-laki. Kan pas itu playboy! Ya ini mainan kami yang bikin asoy geboy"  Jawab Pak Rajab lugas dengan campuran bahasa Indonesia dan Madura Pendalungan, sambil tersenyum puas.

"Ha.....!"

Semoga Bermanfaat!

Salam matan Kota 1000 Sungai,  

Banjarmasin nan Bungas!






Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN

 Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Koleksi Playboy yang Bikin Asoy Geboy!", Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/kaekaha.4277/668168f9ed641574e327a302/koleksi-playboy-yang-bikin-asoy-geboy?page=all#section7