Cantik | terkini.id
"Nang, apa sabujurnya nang handak ikam cari? Usiamu sudah lebih dari cukup, bahkan adik-adikmu semuanya sudah mempunyai momongan!" Seperti
pagi-pagi sebelumnya, sejak si Muksin sepupu yang juga sahabatku sejak
kecil, sebulan lalu akhirnya menikahi teman sekantornya, obrolan di meja
makan pagi ini kembali dibuka ibu dengan topik "panas" yang entah
sampai kapan akan terus sidin ulang-ulang.
Bahkan, karena layaknya memutar kaset pita di pagi hari yang diulang secara terus menerus, aku sampai hapal dimana sidin akan menempatkan koma, titik bahkan juga penebalan intonasi bertanda seru dari kalimat-kalimat yang hak patennya pasti milik sidin ini.
"Sabar ma, Burhan juga terus berusaha mencari menantu idaman gasan pian, semua
butuh proses dan pastinya juga tidak semudah membalik telapak tangan.
Intinya mama sabar aja ya, sambil terus doakan Burhan agar segera
berjodoh dengan bidadari yang akan menjadi pendamping Burhan di dunia
dan akhirat", jawabku sambil merapikan piring dan peralatan makan lain yang baru saja kami gunakan menyantap lontong tampusing dengan lauk kepala iwak haruan, menu sarapan kegemaran keluarga kami.
Sejak abah meninggal
dua bulan setelah Mumtaz, adik bungsuku yang melangsungkan pernikahan
kira-kira dua tahun lalu dan langsung mengikuti suaminya yang tugas
belajar ke Mesir, begitu juga dengan Jihan dan Rahma adik-adik
perempuanku lainnya yang lebih dulu mengikuti suaminya masing-masing
tinggal di luar kota, praktis tinggal aku dan mama saja yang tinggal di
rumah berarsitektur tradisional Banjar, gajah baliku yang sejak puluhan atau mungkin malah ratusan tahun silam telah menjadi tempat tinggal turun-temurun "klan" padatuan dari pihak mamaku ini.
Tidak
heran jika kemudian suasananya menjadi jauh lebih sepi dan hening,
apalagi jika siang hari, ketika aku dan mama sama-sama beraktifitas.
Saya ngantor di sebuah perusahaan tambang lokal, sedangkan mama menjadi
guru sekaligus kepala sekolah SD di Kebun Bunga, yang lokasinya masih di
seputar jalan A. Yani, tidak jauh dari kantorku.
Baca Juga : Diary Personalia | Pacaran 10 Tahun, Eh ... Giliran Nikah Cuma Bertahan 3 Bulan
"Jangan terlalu bepilih-pilih, kada bagus! Sudah berapa kali juga ibu memberikan pilihan, tapi semuanya kamu tolak!" Obrolan masih berlanjut di dalam mobil, ketika saya mengarahkan mobil hardtop kuning, peninggalan almarhum abah, menuju SD Kebun Bunga untuk mengantarkan ibu sekalian saya juga berangkat menuju kantor.
"Maaf
ma, bukannya Burhan terlalu memilih untuk urusan mencari istri, tapi
semua yang mama pilihkan tidak satupun masuk kriteria. Dari gaya
berpakaian mereka saja, mama pasti sudah tahu, sulit bagi Burhan untuk
memenuhinya, belum lagi make up dan yang lain-lainnya!" Jawabku
sambil terus menatap lalulintas pagi di jalan paling kesohor di
seantero Pulau Kalimantan yang sepagi itu sudah mulai bermacet-macet
ria, gara-gara beberapa alat berat yang membongkar paksa beberapa
konstruksi bangunan dan juga jembatan liar disepanjang sungai di tepi
jalan yang diduga menjadi salah satu penyebab parahnya banjir besar di
awal tahun kemarin.
"Ya sudah,
terserah ikam saja, tapi ingat mama sudah tua, sebentar lagi juga
pensiun. Kepingin rasanya mama menghabiskan masa tua dengan
menimang-nimang cucu sendiri bukan cucu orang lain, ya!
Setiap
mendengar ucapan ibu yang satu ini, mulutku selalu seperti dirantai dan
terkunci oleh puluhan gembok yang hilang kuncinya, diam seribu bahasa
sampai ibu mengucapkan salam, setelah si kuning berhenti tepat didepan
pintu gerbang tanpa pagar sekolah SD Kebun Bunga.
"Waalaikum salam",
jawabku sambil meraih tangan beliau untuk mencium telapak dan punggung
tangan beliau yang saya yakini merupakan pintu pembuka segala
keberkahan.
Baca juga : Rezeki Anak Saleh | "Berkah" Digigit Anjing
Penunjuk waktu di smartphone-ku
menunjukkan pukul 07.47 WITA, artinya masih ada waktu lebih dari
sepuluh menit sebelum jam masuk kantor pada pukul 08.00 WITA mewajibkan
siapapun sudah ada di ruang kerja masing-masing dan siap untuk memulai
aktivitas.
"Burhan ...!" Sapa seseorang dari arah belakangku membuyarkan imajinasi pagiku.
"Eh, Tika! Kayak hantu aja tiba-tiba nongol dari belakang ... " Spontan aku mengeluarkan jurus ice breaker jika ketemu dengan perempuan yang sebenarnya selalu membuatku gugup dan kurang percaya diri.
"Alamaaaaaak, cantik begini dibilang hantu! Tapi ngangeni khaaaan?" Aku hanya tersenyum mendengar guyonan
si-Tika atau Kartika, asisten manajer produksi yang kebetulan memang
lumayan akrab, karena selain satu almamater, dulu waktu KKN di lereng
Gunung Argopuro di perbatasan antara Kabupaten Jember dan Kabupaten
Bondowoso, Jawa Timur, kami pernah satu kelompok, meskipun dia
sebenarnya dua tingkat lebih muda dariku.
"Eh boss, ngopi dulu yuk sebentar di kantin, sekalian ada yang mau diomongin nih!" Tiba-tiba Tika menarik tanganku mengajakku belok ke kantin yang posisinya memang dekat parkiran mobil.
"Aduh
sorry Ka, aku pagi ini ada meeting sama bos, jadi musti siapin
semuanya! Nanti siang ato sore pulang ngantor aja ya ngopinya!?" Kali ini ganti aku yang menggenggam sekaligus menarik tangan Tika untuk masuk ke kantor.
"Lhaaaaaah ini, berdua belum muhrim kok sudah pada gandengan tangan sih! Minta diantar ke KUA ya!?" Tepat setelah melewati pintu kaca didepan resepsionis, dari toilet lobby kantor muncul taci Heni,
manajer keuangan yang selalu menjodoh-jodohkan kami berdua ini seperti
tidak kehabisan kata untuk "menggoda" kami berdua, termasuk momen tak
terduga pagi ini, ketangkap basah pegangan tangan yang sanggup menarik
perhatian beberapa karyawan yang kebetulan berada di lobby, termasuk
petugas Satpam kantor dan juga tamu yang sudah duduk manis.
"Waduuuuuuh!" Gumamku
dalam hati begitu bertemu karyawan paling senior sekaligus paling tahu
situasi dan kondisi "sosial ekonomi dan budaya" bahkan juga gosip asmara
semua karyawan lebih detail dari pada pejabat HRD sekalipun ini.
Spontan kulepaskan cengkeraman tanganku di telapak tangan Tika yang
seketika itu juga langsung kabur menuju ruangan kerjanya di bagian
paling belakang ruas kantor ini.
Baca Juga : Sssssst, Jangan Ganggu Ritual Sunnah Rasulku di Malam Jumat Ya!
Melihat Tika yang langsung kabur, Taci Heni langsung mendekatiku, "Han, apalagi yang kamu tunggu!? Sudah ditembak belum?" Tanya taci Heni sambil mengerlingkan mata, ketika langkahnya sudah sejajar denganku.
"Sudah dilamar aja! Kaina keduluan orang hanyar manyasal ikam!" Taci melanjutkan kalimatnya tanpa berusaha menunggu jawaban dan penjelasanku
"Ikam 28, Tika 26, pas banar itu! Hayuk lakasi, akukah melamarakan?" Taci terus saja mengeluarkan kalimat-kalimat provokasinya kepadaku, sambil tersenyum genit penuh arti.
Beruntung, dari balik pintu ruang meeting tiba-tiba keluar kepala Pak Robby, manajer HRD memberiku kode kepadaku dan juga taci Heni untuk segera masuk ke ruangan meeting.
"Kira-kira, Tika maulah ci?" Tanyaku pelan sambil membuka pintu ruang meeting.
"Ikam ni aduuuuuh jadi laki-laki kok peragu gitu, harus yakin laaaaaah!" Jawab taci Heni pelan tepat di kuping kiriku sesaat sebelum aku duduk di kursi ruang meeting.
Setelah duduk tepat disampingku, kulihat taci Heni menulis sesuatu di sticky note kecil berwarna kuning ngejreng dan setelah selesai langsung digeser dengan tangan kanannya kearahku.
"Ikam
ni terlalu banyak pertimbangan! Tidak semua perempuan itu matre seperti
yang kamu pikirkan! Lagian kalian sudah lama saling kenel dan mengenal,
sudah gitu sudah sama-sama punya penghasilan, apa lagi?" Itu isi tulisan taci Heni di sticky note. Aku hanya bisa tersenyum membaca tulisan provokatif taci Heni yang seharusnya bisa membakar keraguan dan ketidakpedeanku dihadapan perempuan selama ini.
"Entahlah,
aku sendiri juga tidak tahu "penyakit" apa yang sebenarnya membuatku
selalu gugup dan gemetaran jika harus bicara cinta, apalagi mencintai
seorang perempuan, terlebih yang baru ku kenal!"
"Tapi Tika anak orang berada ci, kita semua tahu gaya pakaiannya, tongkrongannya! Apa saya sanggup nantinya!? Tanpa banyak berpikir, dibalik sticky note yang berisi tulisan taci
Heni tadi langsung saya tuliskan apa yang saya rasakan selama ini.
Entah, kegilaan apa yang membuatku bisa terprovokasi menuliskan itu
semua.
"Kalian sudah sama-sama dewasa dan aku yakin
Tika orangnya juga tidak seperti yang kamu bayangkan. Sejauh yang kutahu
dia orangnya sederhana, bahkan teramat sederhana jika melihat latar
belakangnya. Sudaaaaah, kalau memang suka lakasi dilamar
aja, rejeki sudah ada yang mengatur! Jangan sampai kedahuluan orang dan
yang penting kesempatan belum tentu datang dua kali lho han!" Tulis Taci Heni lagi di sticky note baru yang kali ini berwarna merah jambu.
Aku menatap ke arah taci Heni dan langsung tersenyum bahagia ketika melihat sidin juga
tersenyum penuh arti. Entah kenapa, tiba-tiba hatiku begitu plong dan
lega, seperti ada beban teramat berat yang seketika itu terlepas.
"Apakah
semua ini petunjuk dari-Nya!? Pagi tadi, mama terus memintaku untuk
serius mencari pendamping, Tika tiba-tiba mengajakku ngopi dan katanya
ada yang mau disampaikan dan yang paling menarik, ketika Taci Heni, "mak
comblang" yang dikenal mempunyai reputasi mumpuni di lingkungan
regional pabrik tiba-tiba terus memprovokasiku untuk melamar Tika!" Dalam hatiku mencoba merangkai kejadian-demi kejadian pagi ini.
Baca Juga : Tradisi Poligami dan Kawin "Badadiaman" dalam Budaya Masyarakat Banjar
Sudah
menjadi tradisi masyarakat Suku Banjar, bulan Muharam diawal tahun
kalender Islam selalu ramai dengan hajatan, khususnya perkawinan,
karenanya tidak heran jika bulan Muharam juga disebut masyarakat sebagai
salah satu musim kawin di lingkungan masyarakat Banjar.
Begitu
juga bulan ini, dalam seminggu ini saja sudah enam hajatan perkawinan
yang kuhadiri. Selain karyawan pabrik, ada juga kawan bermain bola,
tetangga di kampung atau juga kawan-kawan sehobi main musik panting, musik
tradisional Banjar di komunitas seni yang menikah. Menariknya, ada
pelajaran penting yang saya dapatkan saat menghadiri acara-acara
perkawinan ini, terlebih ketika menghadiri undangan resepsi pernikahan
Syarif, Office Boy di kantor yang menikahi teman SD-nya.
Luar
biasa sekali, aku tahu betul berapa gaji Syarif tiap bulannya, tapi dia
lebih berani dariku untuk mengambil sikap menyegerakan membina rumah
demi menyempurnakan kodrat keimanannya. "Masha Allah! Ya Allah, berilah hamba petunjuk dan juga kekuatan untuk memulainya..."
Setelah menumpahkan semua uneg-uneg dalam
tahajud yang kulanjutkan dengan shalat Istikharah, hatiku semakin
mantab untuk meminang Tika. Aku harus yakin dengan diriku sendiri. Demi
Allah, besok aku akan mengatakan semuanya secara langsung kepada Tika.
"Bismillah!" Gumamku dalam hati.
Jam di smartphone-ku
menunjukkan pukul 07.55 WITA ketika untuk kelima kalinya aku memeriksa
tempat parkiran untuk memastikan kehadiran Tika. Tapi sayangnya, untuk
yang kelima kalinya juga aku harus gigit jari. Tika dan juga mobil
Innova tunggangannya belum juga nongol di sisa lima menit menjelang
limit masuk kantor, sehingga mebuatku sangat gelisah.
"Tidak
biasanya, Tika terlambat, ada apa ya? Atau jangan-jangan dia tahu aku
akan menembaknya!? Sehingga sengaja memberiku kejutan juga! Aaaaah
ngaco! Sudahlah ... ", Sambil berjalan menuju ruang kerja, dalam hatiku
terus muncul gejolak menggelora yang berrcampur aduk dengan kegelisahan,
ketakutan dan banyak perasaan aneh yang sebelumnya belum pernah aku
rasakan.
Ketika mau membuka pintu ruangan, akau melihat Taci Heni keluar dari ruangannya yang bersebelahan dengan ruanganku. Anehnya, tatapan Taci Heni
kepadaku tidak seperti biasanya, dari matanya aku mengakap kesan dan
pesan sayu layaknya orang sedang bersedih yang sayangnya aku tidak tahu
sebab-musababnya.
Apalagi ketika aku menanyakan tentang Tika
yang sampai saat ini belum terlihat batang hidungnya, sekaligus
memberitahukan maksudku untuk mengutarakan niatku kepada Tika. Bukannya
merespon dengan spontan layaknya para motivator seperti biasanya, Taci Heni justeru mengangkat kedua bahunya dan berlalu pergi meninggalkanku.
Aku langsung masuk ruanganku sesaat setelah Taci Heni meninggalkanku dengan meninggalkan tanda tanya besar memenuhi ruang di otakku. "Ada apa ini sebenarnya!?"
Setelah
duduk dan menyeruput teh hangat buatan si Syarif yang lumayan meredakan
kegelisahanku, aku memeriksa beberapa berkas lamaran kerja diatas
mejaku yang setiap hari selalu ada saja yang masuk meskipun pabrik tidak
membuka lowongan pekerjaan. Tiba-tiba, dari sekitar empat berkas
lamaran kerja yang kesemuanya bersampul cokelat itu, menyembul sebuah
berkas atau tepatnya seperti kertas undangan berbungkus plastik berwarna
merah jambu.
Dibagian sampul depan terlihat foto Adit, foreman (kapala shift selevel dibawah supervisor) bagian
produksi yang baru lulus masa percobaan beberapa hari yang lalu, bahkan
SK pengangkatannya sebagai karyawan tetap, juga baru kemarin aku
serahkan, tampak tersenyum bahagia memakai baju adat Banjar dengan
menggandeng tangan perempuan yang tidak terlihat sosoknya karena fotonya
menghiasi bagian belakang sampul undangan dan baru terlihat kalau
undangan dibalik.
Deg! Untuk sesaat dunia seperti berhenti
bergerak ketika undangan merah jambu itu kubalik dan semakin jelas
ketika kedua sisinya kubuka bersamaan diatas mejaku.
"Astagfirullah ... Tika!"
KAMUS BANJAR :
Nang : panggilan sayang kepada anak lelaki
sabujurnya nang handak ikam cari? : sebenarnya apa yang kamu cari?
gasan pian : untuk anda (orang yang dihormati)
padatuan : nenek moyang
lakasi : segera
kaina keduluan orang hanyar manyasal ikam : nanti keduluan orang kamu baru menyesal
 |
Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN
|