Jumat, 10 Mei 2024

Nasi Kuning Cempaka dan Misteriusnya Tragedi di Pagi Subuh

Nasi Kuning | @kaekaha

Jalanan Kota 1000 Sungai, kotaku Banjarmasin nan Bungas, masih belum benar-benar "terbangun" ketika ban belakang sepeda motor yang kunaiki tiba-tiba terasa liar dan...

"Ups, miris pulang ucusnya!" Gumamku dalam hati, sambil turun dari kendaraan untuk memeriksa kondisi ban  belakang. Di sisa keremangan pagi, kutemukan ada kepala paku  yang sedikit menyembul keluar di sela-sela motif kambang ban yang nyaris tak lagi tampak karena memang sudah lama mengaspal.

"Walaaaaaah!" Gumamku dalam hati, sambil celingukan kesana kemari bermaksud mencari-cari bala bantuan, siapa tahu ada tukang tambal ban super rajin di sekitar sini yang sudah buka di pagi yang masih setengah buta ini. 

Sambil mencoba mencabut paku yang sepertinya lumayan panjang dan agak berkarat hingga lumayan sulit juga dicabut dengan tangan kosong, aku juga mulai komat-kamit berdoa, mudahan ada orang baik yang mau dan bisa menolongku atau setidaknya bisa memberi solusi. 

Saat itu juga aku berjanji dalam hati, kalau ada orang baik yang menolongku, aku rela memberikan jatah sarapan spesial kesukaanku dan juga keluarga besarku, nasi kuning cempaka yang baru saja kubeli untuk...

Belum selesai aku berandai-andai, eeeeh entah dari mana datangnya, tiba-tiba ada suara yang menyapaku dari arah belakang.

"Kenapa pak?"  Sapa seorang ibu-ibu yang sepertinya baru saja pulang dari shalat berjamaah Subuh di masjid, karena selain masih memakai mukena putih yang  baunya lumayan harum, beliau juga membawa bungkusan bubur ayam Banjar, menu kuliner khas dan legendaris yang biasanya dibagikan untuk sarapan pagi khusus bagi jamaah di Masjid Raya, Banjarmasin.

 "Miris bu!" Jawabku sambil menunjuk ke arah ban belakang sepeda motorku.

"Itu, di higa warung katupat Kandangan ada tukang tambal ban, biasanya Bang Amat sungsung buka!" Ujar si ibu sambil menunjuk ke arah deretan bangunan warung  sejauh kira-kira lima ratusan meter dari tempat kami berdiri saat ini.

Mendapat informasi yang sangat berharga disaat  seperti sekarang, jelas membuatu senang bukan kepalang. Karenanya, tanpa menunggu lama, aku langsung pamitan sama sidin untuk langsung menuju ke tukang tambal ban dimaksud dan tidak lupa dengan janjiku,  sebelum berpisah  kutawari sidin nasi kuning cempaka milikku.

"Terimakasih! Kada usah gin, aku juga handak nukar nasi kuning cempaka lauk  ampadal kesukaan anakku. Ini ada jua bubur ayam...", jawab Sidin sambil memberi isyarat untuk pamit dan meninggalkanku.

Begitu sidin menyeberang jalan, aku langsung mahirit kendaraanku menuju ke tempat tukang tambal ban yang ditunjukkan sidin tadi.

"Alhamdulillah...! Lega rasanya, sidin memang sudah buka!" Teriakku dalam hati, ketika aku sampai di depan lapak tukang tambal ban yang sepagi ini sudah buka dan memang terlihat paling terang diantara deretan warung-warung di sebelahnya.

Kulihat seseorang yang sepertinya pemilik lapak tambal ban itu, mungkin beliau Bang Amat seperti yang disebut ibu-ibu yang tadi memberi tahu tempat ini, sedang menata ruang kerjanya dengan masih memakai baju koko lengkap dengan sarung dan songkok unik khas Banjar yang terbuat dari akar jangang.

Beliau tampak khidmat sekali dengan aktifitasnya, mempersiap diri untuk memulai sebuah "dimensi ibadah" yang lain, bekerja menjemput rejeki dari-Nya, sampai sama sekali tidak menyadari kehadiranku di depan lapaknya. Setelah melihatku, sidin langsung tersenyum dan langsung menghampiriku untuk  menyalami, sekaligus mempersilahkanku duduk di bangku kayu di ujung ruangan.

Setelah berganti dengan pakaian kerjanya, cuttle pack berwarna cerah yang terlihat cukup bersih, dengan cekatan sidin langsung, mengatur posisi sepeda motorku dan langsung beraksi mempertontonkan skill   kerja khas tukang tambal ban yang sepertinya cukup berpengalaman, cepat dan akurat. Wiiiih keren ini mah...

Tanpa banyak bicara, tapi tetap saja tersenyum renyah ketika tahu aksinya terus kuperhatikan dengan seksama, menjadikan pekerjaan Sidin sangat efektif dan efisien. 

Sebenarnya, dari penampilan Sidin,  jam buka yang sungsung, penampilan "ruang kerja" berikut lay out penataan perabot dan juga peralatan kerja yang rapi jali, aku meyakini kalau tukang tambal ban di hadapanku ini memang tukang tambal ban yang profesional. Pernah nemu yang begitu gaes?

Ditengah-tengah lamunanku, aku dikejutkan kemunculan anak kecil sekira dua atau tiga tahunan yang menghambur ke arah Bang Amat dengan membawa guling kucel yang sepertinya menjadi partner tidurnya.  Anak kecil yang keluar dari  bilik kecil di belakangku duduk itu langsung memeluk Bang Amat dan sepertinya merengek-rengek minta sesuatu.

"Baaaaah Iham angen mama. Ke rumah mama yu bah, Ilham andak asi uning auk padal...!"

Lamunanku langsung ambyar dan seperti terbius untuk terus mengikuti semua tingah polah si bocah yang sepertinya bernama Ilham tersebut. Terlebih setelah si bocah secara sayup-sayup menyebut nasi kuning cempaka lauk ampadal. Aku baru ingat dengan misi awalku keluar rumah selepas subuh pagi tadi, membeli nasi kuning cempaka, salah satu kuliner legendaris  di kota 1000 Sungai  untuk sarapan kami sekeluarga.

"Anak pian kah ini bang!?  Tanyaku pada Bang Amat,  tapi mungkin karena sedang asyik menenangkan si-kecil, sepertinya Bang Amat tidak begitu mendengar pertanyaanku. 

"Iya sayaaang! Insha Allah setelah ini, kita ke tempat mama dan  terus sarapan nasi kuning cempaka lauk ampadal kesukaan pian!" Hibur Bang Amat kepada si bocah yang sepertinya memang anaknya tersebut, sambil melirik ke arahku.

Tapi anehnya, sekelebatan aku melihat bulir air mata di sudut mata Sidin yang sepertinya sengaja ditahan agar tidak terjatuh. Melihat "drama" di hadapanku, tiba-tiba aku merasakan ada sesuatu yang telah terjadi di dalam keluarga Bang Amat.

"Ilham guring-lah di kamar, hari masih gelap nak!" Sepertinya Bang Amat agak kewalahan juga menenangkan Ilham. Beruntung, setelah Bang Amat berhasil meyakinkannya untuk segera ke tempat mamanya  setelah pekerjaan selesai, membuat tangis Ilham reda dan mau masuk lagi ke dalam bilik untuk mahadangi pekerjaan abahnya selesai.

Sepeninggal Ilham, Bang Amat terlihat langsung menyeka buliran air mata yang mulai turun membasahi pipinya.

"Memang mama Ilham tinggal dimana Bang?" Tanyaku pelan sambil jongkok di samping Sidin, tapi demi melihat situasi yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja ini, sebenarnya aku ingin menyudahinya dengan mundur untuk kembali duduk ke bangku kayu dan membiarkan drama ini menjadi milik mereka berdua saja.

Tapi...

"Mama Ilham, baru saja meninggal dunia dua hari yang lalu Pak, kasian Ilham Pak, dia sekarang pasti bingung, tidak ada lagi yang menyuapinya sarapan nasi kuning cempaka lauk ampadal kesukaannya". Dengan mata yang berkaca-kaca, Bang Amat akhirnya menceritakan peristiwa mengerikan yang menyebabkan kematian Mama Ilham. Sampai disini aku hanya bisa diam dan benar-benar dibuat terduduk kembali di kursi kayu itu.

"Pagi itu setelah shalat Subuh, Mama Ilham berniat membeli Nasi kuning Cempaka kesukaan mereka sekeluarga, terutama  Ilham yang mempunyai favorit lauk ampadal. Tapi nahas, dalam perjalanan pulang ban belakang sepeda motor yang dinaiki bocor dan saat sidin memeriksa ban, tiba-tiba ada mobil yang melaju tidak terkendali menghantam Sidin hingga terpental beberapa meter dan akhirnya meninggal di tempat".

"TKP kecelakaan hanya beberapa meter saja dari pintu keluar masjid raya yang berjarak sekitar setengah pal alias lima ratusan meter dari sini". Bang Amat menjelasan detail TKP sambil tangannya menunjuk ke arah yang kurang lebih sama dengan lokasiku kebocoran ban tadi.

Karenanya, tiba-tiba aku teringat dengan rangkaian kejadian yang kualami pagi ini. Ibu-ibu bermukena putih misterius itu, kebocoran ban sepeda motorku dan nasi kuning lauk ampadal itu, "kenapa semua seperti ada benang merahnya!?  Astaghfirullah, Jangan-jangan...?" Batinku dalam hati.

"Apakah waktu kecelakaan, Mama Ilham juga  masih memakai mukena putih?" Tanyaku sedikit penasaran kepada Bang Amat.

"Bagaimana bapak bisa tahu?" Tanya Bang Amat kepadaku dengan tampang keheranan penuh tanda tanya, sementara detak jantungku yang semakin kencang setelah mendengar jawaban Bang Amat, membuat keringat dingin tiba membasahi tubuhku. Innalilahi wa Inna ilaihi Raji'un, Astaghfirullah....

###


Mengenang petugas kebersihan jalan kota yang pagi tadi (5/12-2022) selepas Subuh, menemui ajal setelah tertabrak mobil di depan RRI Banjarmasin. Semoga semua amal ibadahnya diterima Allah SWT dan keluarga yang di tinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan. Amin.


Kosakata Banjar :

ampadal : ampela, rempelo
bulik : pulang
guring : tidur
handak : mau
higa : samping
kambang : bunga
mahadangi : menunggu
mahirit   :  menuntun
miris : bocor
nukar : beli
pian : kamu, anda
pulang : lagi, kembali
sidin :  beliau
sungsung : dini, pagi-pagi, cepat
ucus : ban


Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN



 

Aliling Si Imut Penghuni Rawa yang Kaya Manfaat

Aliling | cookpad.com

Aliling merupakan sebutannya Urang Banjar di seputaran Kota Banjarmasin alias Urang Banjar dengan dialek Banjar Kuala untuk sejenis keong kecil berwarna kehitam-hitaman yang habitatnya adalah air tawar perairan darat dengan pergerakan cenderung lamban, jernih dan bersih, berdasar lumpur dan ditumbuhi rerumputan air, seperti persawahan, rawa-rawa, pinggiran sungai dan irigasi.

Sedikit berbeda, urang banjar di pahuluan atau di seputaran kawasan hulu sungai yang berdialek bahasa Banjar Hulu, menyebut aliling dengan sebutan haliling, ada tambahan "H" di depannya.

Selain aliling atau haliling ini, sebenarnya ada beberapa lagi jenis keong air tawar yang dikenal Urang Banjar, seperti katuyung dan kalimbuai. tapi untuk yang ini kita bahas diartikel berbeda ya!

Aliling biasa hidup bergerombol atau berkoloni dan bisa berkembang biak sangat cepat dengan cara bertelur, pada masa musim kawin, yaitu di musim penghujan.

Aliling atau Haliling dalam Kamus Bahasa Banjar Karya Prof. Abdul Hapip Djebar | @kaekaha

Bagi Urang Banjar secara umum, populasi aliling yang sangat melimpah biasa dimanfaatkan sebagai sumber pangan pilihan maupun alternatif, tidak hanya sebagai lauk pauk, tapi juga bisa diolah menjadi camilan yang sedapnya bikin kangen!

Baca Juga :  Ini Beda Si Gendut "Adangan dan Hadangan" 

Aliling yang memang mirip dengan tutut atau keong sawah ini, bentuknya secara umum seperti kerucut membulat dengan warna hijau-kecoklatan atau kuning kehijauan yang cenderung gelap.


Olahan Gangan Aliling (kiri) dan Gangan Katuyung (kanan) khas Urang Banjar | @kaekaha

Secara umum, aliling mempunyai tinggi cangkang sampai 40 mm dengan diameter 15-25 mm. Bagian pada puncak cangkang aliling agak runcing, sedangkan tepiannya menyiku tumpul pada yang muda dengan seluk agak cembung berjumlah antara 6-7 yang membesar di bagian akhir. Pada bagian mulutnya membundar dengan tepinya bersambung dan tidak melebar yang umumnya berwarna kehitaman.

Di balik cangkang pelindung berbahan kalsium dan fospor yang keras, daging aliling mengandung makronutrien berupa protein bisa sampai 15% dari daging dewasa yang mencapai berat 4-5gram dan mikronutrien berupa2.4% lemak, kalsium, mineral dan sekitar 80% air .

Itu artinya, kandungan gizi aliling tidak kalah dengan protein hewan lainnya dan sangat berpotensi menjadi sumber protein  hewani, sekaligus menjadi sumber makanan alternatif kesehatan di masa depan. Apalagi, aliling ini rasanya gurih dan ueenaaak pooooool lho!

Aliling | pllbfmipaunlam.wordpress.com

Hanya saja, untuk mengolah aliling menjadi beragam kuliner sedap memang tidak boleh sembarangan, diperlukan keahlian khusus untuk menjadikan aliling bahan konsumsi yang bergizi tinggi. Konon bila tidak diolah secara benar, keong jenis ini bisa menyebabkan keracunan pada penikmatnya.

Baca Juga :  Sensasi Unik Menikmati "Gangan Katuyung" Khas Banjar, Bikin Ketagihan!

Sejauh ini, aliling yang dikonsumsi oleh Urang Banjar memang masih mengandalkan produksi dari alam dan memang belum ada sistem budidaya untuk berbagai keperluan di masa mendatang.

Hanya saja, karena sifat aliling yang cukup selektif dalam memilih habitat tempat hidup dan berkembang biak, maka tidak ada cara lain untuk tetap bisa menikmati sensasi lezat olahannya selain harus menjaga keseimbangan dan kelestarian alam di Kalimantan Selatan.

Semoga Bermanfaat 

Salam matan Kota 1000 Sungai,
Banjarmasin nan Bungas!


Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN




 

Sego Bebek Yu' Marem

Bebek Goreng | @kaekaha

Entah kenapa, seharian ini istriku terlihat males-malesan saja di rumah. Bilangnya sih lagi nggak enak badan!

Sepertinya sih bawaan bayi dalam kandungannya yang baru saja beberapa minggu, membuatnya serba nggak nyaman, sampai masak, aktifitas yang katanya sejak kanak-kanak menjadi satu-satunya hobi yang selalu ditulisnya di kolom isian hobi, sekarangpun enggan menyentuhnya.

Kalau sudah begini, biasanya urusan "makan-memakan" kularikan ke warung sotonya Cak Budi yang sudah buka sejak jam sarapan pagi di samping kanan pagar pabrik karung plastik tempatku bekerja.

Sedangkan untuk malam harinya, biasa... ke sego bebek-nya Yu' Maryam yang kelak malah dikenal orang sebagai Yu' Marem yang mulai mbuka gerobaknya menjelang Maghrib di pinggir jalan tepat di depan pabrikku di tepian jalan Cemengkalang, pinggiran Kota Sidoarjo.

Baca Juga :  Berburu "Bebek Kaki Lima", Menikmati Romantisme Kuliner Jalanan Legendaris Nusantara 

Keduanya memang sudah lama menjadi langganan kami, karena itu setiap beli Soto di Cak Budi atau Sego Bebek di Yu'Marem seringkali kami dapat privilese yang tidak didapat oleh pembeli-pembeli lainnya.

Termasuk saat ini, saat aku beli Sego Bebek-nya Yu' Marem sesaat setelah maghriban di langgar komplek. Tumben, Yu' Marem sendirian nggak ditemani Cak San, suaminya atau Amad anak sulungnya. Mana penerangan gerobaknya kok ya agak redup dari biasanya!

Ah Seperti biasanya, aku langsung memilih sendiri 2 potong bebek bagian dada yang besar-besar dan langsung kuserahkan pada Yu'Marem untuk digoreng. 

Nah setelah itu, aku biasanya nggak pernah memperhatikan lagi apa saja yang dilakukan Yu' Marem sampai dia selesai dan menyerahkan sebungkusan Sego Bebek pesananku.

Biasanya, sesampainya di rumah barulah ketahuan, Yu' Marem selalu menambahkan beberapa potong "onderdil" bebek sebagai bonus buat kami. Biasanya sih, potongan ati-ampela, usus setengah kering kesukaan istriku dan tentunya serundeng plus minyak bebeknya ekstra, dalam bungkusan!

Tapi malam ini kok beda ya! Sesampainya di rumah, bukan ampela dan kawan-kawannya yang menjadi bonus buatku sebagai pelanggan tetap, tapi 2 potong bagian paha bebek yang juga besar-besar!

Waduh, apa ya dapat untung Yu'Marem, kalau bonusnya saja lebih mahal dari pada harga pembelian!? Aaaaah entahlah!

Memang sih, tadi saat menyerahkan bungkusan kepadaku, Yu' Marem bilang, "ini ada yang buat si-kecil, biar nggak ngileran "! Katanya. Tapi nggak biasanya, suara beliau seperti berat layaknya orang sedang sakit, jadi suaranya seperti agak tertahan dan kurang jelas. Ah sudahlah, mungkin Yu'Marem batuknya sedang mbayahi.

Setelah berterima kasih, aku langsung pulang ke rumah yang berjarak hanya sekitar 5 menit perjalanan saja dari halaman luar pabrik tempat Yu' Marem jualan.

Akhirnya, malam itu kami benar-benar pesta sego bebek sampai puas! Bagaimana tidak, hitungannya kami menikmati seekor bebek utuh lho! 2 potong bagian dada yang ku pilih sendiri dan 2 potong paha bawah bonus dari Yu' Marem.

Alhamdulillah, terima kasih Yu'Marem. Semoga rejeki sampeyan tambah berkah dan manfaat dunia-akhirat, juga tambah buaaaaanyak! Amin.

Keesokan paginya, waktu pergi kerja dan melintas tepat di depan pabrik, di seberang tempat biasa Yu'Marem berjualan kalau malam, aku melihat seonggokan bekas gerobak yang hancur berkeping-keping dan aku tau itu gerobak Sego Bebek Yu' Marem! Apa gerangan yang terjadi!? Kok ada garis polisi segala mengelilingi onggokan gerobak itu!?

Begitu duduk di meja kerjaku, seperti biasanya aku langsung membuka buku jurnal satpam yang sejak pergantian shift jam 7 pagi tadi sudah diantarkan Kepala Satpam ke mejaku untuk ku periksa. 

Buku jurnal ini isinya catatan semua kejadian baik internal dalam pabrik maupun eksternal di seputaran pabrik selama 24 jam kerja pengamanan oleh masing-masing regu satpam di setiap shift-nya.

Sesaat, jantungku seperti berhenti berdetak ketika dalam jurnal itu terdapat catatan mengerikan! 

Jam 17.15 Gerobak sego bebek Yu' Marem  terseruduk truk pengangkut sapi yang remnya blong saat berusaha menghindari pesepeda, Yu'Marem dan anaknya yang sedang menyusun perlengkapan jualan meninggal dunia di tempat!

Lantas siapa yang menjuali aku Sego Bebek tadi malam?


Semoga Bermanfaat! 

Salam matan Kota 1000 Sungai, 
Banjarmasin nan Bungas!


Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN

 




 

"Umur Kada Babau", Mari Bersiap untuk 3 Panggilan Allah SWT

Panggilan Allah SWT untuk Shalat Wajib di Awal Waktu | @kaekaha

Ungkapan Umur kada babau begitu familiar di lingkungan Urang Banjar. Terutama dalam obrolan-obrolan masyarakat ketika tiba-tiba mendengar kabar/berita kematian, terlebih kematian tiba-tiba, tidak wajar atau yang datang pada orang-orang yang "dianggap belum saatnya" oleh masyarakat.

Setelah melafazkan bacaan Inna Lillahi wa inna ilaihi raji'un biasanya, dalam obrolan warga akan muncul pembahasan ungkapan "dasar umur kada babau" atau yang dalam bahasa Indonesia, ungkapan bahari (tua) ini secara umum biasa dimaknai sebagai memang ajal bisa datang kapan saja tersebut.

Ungkapan ini, menurut para tetuha (orang tua/yang dituakan), terinspirasi dari hadist Rasulullah, HR. Ibnu Majah no. 4259 (Hasan menurut Syaikh Al Albani) yang berisi penjelasan dari Rasulullah tentang kriteria orang yang paling baik dan orang yang paling cerdas! Siapa saja mereka!?

Menurut Rasulullah, orang yang paling baik adalah "yang paling baik akhlaknya." Sedangkan orang yang paling cerdas adalah "yang paling banyak mengingat kematian dan yang paling baik dalam mempersiapkan diri untuk alam berikutnya". Mudahan kita semua termasuk orang-orang seperti yang disebut oleh Rasulullah. Amin.

Ungkapan bertuah ini telah sejak lama menjadi spirit Urang Banjar "untuk selalu ingat mati". Maksudnya sederhana saja! Siap tidak siap, mau tidak mau, setiap saat malaikat maut bisa saja datang menghampiri untuk mencabut nyawa hamba-hambaNya dan itu artinya, siap tidak siap kita ya harus siap!

Hikmahnya, Insha Allah! Kesadaran akan datangnya ajal yang bisa kapan saja menghampiri, setidaknya bisa melembutkan hati, meluruhkan sifat sombong, menjadikan kita lebih qana'ah dan lebih berhati-hati dalam proses ber-muamallah (Hablumminannas maupun Hablumminallah).

Tidak hanya itu! Kesadaran ini juga akan mendorong kita untuk ber-husnudzan atau berpikiran positif, termasuk di dalamnya berinisiatif untuk selalu menyegerakan semua niat dan amalan baik, apalagi dalam hal urusan ibadah seperti sholat, naik haji dan umrah, sesegera mungkin sebelum ajal menjemput. Lho kok bisa?

Lhaah kan ajal bisa datang kapan saja! Lha kalau ajal keburu datang waktu kita pas menunda shalat atau menunda haji, padahal kita ada kemampuan, apa nggak repot nanti urusannya di akhirat!?

Tapi, kalaupun ajal kita benar-benar datang sebelum kita sempat melaksanakan amalan ibadah yang sudah diniatkan, terutama shalat dan berhaji/umrah, maka semua adalah takdirNya Allah SWT yang memang Maha Kuasa atas segala sesuatu dan kita tidak bisa menolaknya!

Tapi jangan kuatir Allah SWT maha adil kepada semua hamba-hambaNya! Insha Allah, disini kita sudah mendapatkan pahala dari niat kita dan juga dari amalan kita saat bersungguh-sungguh belajar semua seluk beluk ilmu untuk beribadah kepadaNya yang pastinya telah kita lakukan sejak dini pula. Insha Allah.


3 Panggilan Allah SWT

Subhanallah! Ternyata ungkapan umur kada babau ini juga relate dengan fakta 3 Panggilan Allah SWT kepada kita hamba-hambaNya!

Ya! Ternyata Allah sejatinya hanya memanggil kita untuk 3 momen saja dan ungkapan "umur kada babau" pada dasarnya mengingatkan kita, mengajak kita tidak hanya sekedar menjadi "orang yang cerdas" seperti yang disebutkan Rasulullah saja, tapi juga mengajak kita mempersiapkan diri dengan persiapan terbaik untuk menyongsong 3 Panggilan Allah SWT untuk kita hambanya yang pasti akan datang!

Kenapa kita perlu mempersiapkan diri untuk 3 Panggilan Allah SWT tersebut!? Karena ternyata, panggilan itu untuk 3 hal yang sangat-sangat berat untuk kita melaksanakannya.

Apa saja itu!? Panggilan pertama adalah untuk shalat 5 waktu (Ingat, waktu ini jelas merujuk pada keutamaan shalat diawal waktu ya!).

Lantas, apakah Urang Banjar sholatnya sudah diawal waktu semua? Mengingat ungkapan dasar umur kada babau yang begitu mengurat mengakar? Jawabnya, tentu belum semua sayang! Itulah rahasia hidayah yang hanya Allah SWT saja penggenggam rahasiaNya.

Sebaiknya, kita berpikirnya dibalik saja! Kalau dalam tradisi kearifan Urang Banjar yang mengenal ungkapan umur kada babau saja, secara faktual masih banyak yang belum istiqamah untuk terus berusaha menyegerakan shalat 5 waktu di awal waktunya masing-masing, lantas bagaimana nasib shalat kita kalau kita tidak punya motivasi apapun untuk selalu berusaha menyegerakan shalat diawal waktu!

Maka, alangkah lebih baik jika kita selalu berusaha menyegerakan shalat-shalat wajib kita di awal waktunya masing-masing. Bukankah setiap saat ajal bisa saja menemui kita. Jangan sampai ajal mendahului niat ibadah kita yang sudah jatuh tempo.


Berhaji Muda | @kaekaha

Panggilan Allah SWT berikutnya adalah panggilan untuk berhaji. Memang, panggilan Allah SWT untuk urusan ibadah yang bersumber dari syariat Nabi Ibrahim AS ini sangat-sangat halus. "Hanya" untuk orang-orang yang mampu saja! Terutama mampu fisik dan finansial ya.

Bagi yang sudah mampu berhaji, hukumnya sudah jelas! Segera laksanakan, titik! Apa lagi yang ditunggu!? Bukankah ajal setiap saat bisa datang!?

Lantas yang belum mampu gimana dong!? Apa iya kita harus menunggu mampu dulu baru berpikir dan berniat untuk berhaji!?

Untuk yang satu ini, Urang Banjar punya resepnya dan itu juga terinspirasi dari ungkapan umur kada babau tadi!

Sudah menjadi kebiasaan Urang Banjar untuk membiasakan anak-anak "mimpi" berhaji sejak dini, bahkan sejak di dalam kandungan.

Caranya!? Doakan, Jangan pernah berhenti minta pertolongan kepada Allah SWT, agar anak keturunan kita semuanya diberi jalan rezekinya sampai naik haji dan selanjutnya, jaga terus mimpi-mimpi itu sesuai dengan perkembangan logika mereka dan juga kemampuan kita masing-masing.

Ini penting! Ini sama halnya kita mengajari anak-anak kita berniat haji sejak dini, sekaligus agar tidak terdahului oleh ajal. Selain itu, mimpi ini Insha Allah juga akan mengajari dan menuntun anak-anak untuk bermental tangguh, mengenal agama sejak dini dan tentunya punya cita-cita sukses di dunia dan akhirat.

Panggilan Terakhir, Panggilan Pulang untuk Selamanya | @kaekaha

Panggilan terakhir Allah SWT yang terakhir untuk hambaNya adalah panggilan kepada kita untuk pulang, menghadap kepadaNya. Bukan pulang untuk mudik dan setelah puas kita bisa balik lagi! Tapi kepulangan untuk selamanya, untuk mempertanggungjawabkan semua amal perbuatan yang pernah kita kerjakan selama di dunia.

Tahukah anda, ungkapan umur kada babau ini sejatinya mengajak kita semua untuk bersiap-siap menghadapi semua panggilan Allah SWT tersebut, terutama ending dari semuanya, yaitu panggilan yang ketiga, kematian!


Semoga bermanfaat!

Salam matan Kota 1000 Sungai,
Banjarmasin nan Bungas!

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN





 

Minggu, 05 Mei 2024

Ada yang Salah dengan Mata Air Bengawan Solo?

Sungai  Martapura yang Mirip dengan Sungai Bengawan Solo | @kaekaha

Pagi tadi, selepas turun dari masjid untuk shalat Subuh, saya sengaja jalan kaki untuk pulang menuju ke rumah.

Saya ingin sekali menikmati suasana pagi di kampung tempat saya tinggal di pinggiran kota seribu sungai Banjarmasin nan Bungas.

Kebetulan rute jalan menuju rumah saya itu, kalau pagi banyak terdapat titik kumpul masyarakat untuk melakukan berbagai aktivitas.

Ada pasar tungging pagi, itu lho ada pasar krempyeng khas Banjar. Ada juga penjual khusus ikan air tawar, ikan air laut, ada penjual kue tradisional khas Banjar dan yang paling saya sukai adalah orang-orang yang berderet maunjun alias memancing ikan di sungai kecil di pinggir jalan.

Eh jangan salah fokus dengan Sungai kecilnya ya, karena sungai-sungai di tempat kami itu terhubung dengan rawa-rawa yang luas, habitat dari banyak ikan-ikan konsumsi.

Jadi jangan heran meskipun penampang permukaan sungai di pinggir jalan kami itu relatif kecil semeter atau 2 meter saja, tapi suplai ikan yang hilir mudik di sungai ini regenerasinya ada terus, jadi kalau dipancing ikanya juga gede-gede terus yang kena!

Nah, saat sedang asyik melihat-lihat itulah, tiba-tiba saya malah salah fokus sama bapak-bapak tua yang baru saja mengangkat jorannya berikut ikan Sapat Siam yang ikut di tali pancingnya.

Si bapak, sambil mancing juga rengeng-rengeng alias bersenandung lagu Bengawan solo-nya Mbah Gesang. Beliau mengikuti suara lirih lagu keroncong yang terkenal sampai negeri Jepang tersebut dari bunyi perangkat smartphonenya.

Setelah selesai membereskan ikan Sapat Siam seukuran telapak orang dewasa yang beliau dapat ke dalam ember, beliau kembali duduk sambil mengawasi dua joran yang ada di depannya.

Tertarik dengan style beliau yang masih setia dengan musik keroncong, akhirnya saya membuka obrolan dengan beliau hingga akhirnya kami berdua ngobrol panjang lebar sambil mengawasi joran-joran beliau, mulai dari bab keroncong sampai Bengawan Solo.

Beliau Pak Joko, asli Purwantoro, Wonogiri dan sudah sejak muda merantau ke Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas hingga akhirnya pensiun dari perusahaan "pabrik listrik" milik negara beberapa tahan lalu.

Salah satu bahasan menarik kami adalah tentang lagu Bengawan Solo yang menurut beliau ada yang keliru dalam liriknya. Hah keliru!?

Ya, menurut beliau lirik yang keliru itu adalah sebaris lirik yang berbunyi "mata airmu dari Solo"! Karena menurut beliau tidak mungkin Kota Solo mempunyai sumber mata air yang bisa menghasilkan air sebanyak debit airnya Sungai Bengawan Solo.

"Memang namanya Sungai Bengawan Solo, tapi kan ya ndak berarti sumber airnya dari Solo", tambah beliau sambil tersenyum memperlihatkan sebagian giginya yang hanya tersisa beberapa.

"Atau mungkin saja, Mbah Gesang menulis liriknya lebih mempertimbangkan nilai puitisnya daripada fakta geografisnya pak!", kata saya.

"Ya mungkin saja sih! Tapi sampean tahu Ndak dari mana sumber mata air Bengawan Solo yang sebenarnya!?" Tanya si bapak kepada saya.

Melihat saya seperti kebingungan, si bapak langsung menjawab pertanyaannya sendiri.

"Setahu saya air yang mengalir di sungai Bengawan Solo yang muaranya ada di Ujung Pangkah Gresik, Jawa Timur itu berasal dari waduk gajah Mungkur yang letaknya hampir 100 kilo di Selatan kota Solo".

"Nah, kalau waduk gajah Mungkur itu airnya berasal dari sungai-sungai kecil yang berasal dari beberapa gunung dan pegunungan yang ada di sekitarnya, seperti Gunung Lawu dan gugusan gunung kecil-kecil yang digelari Gunung Sewu".

Semoga Bermanfaat!

Salam matan Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas!

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN



 

Negeri 5 Menara dan Tobatku Jadi Katak dalam Tempurung

Negeri 5 Menara | @kaekaha

Berawal dari sebuah novel trilogi best seller super inspiratif berjudul  Negeri 5 Menara karya A. Fuadi,  Million Pictures dan KG Production akhirnya memutuskan untuk mengadaptasi kisah inspiratif yang diambil dari perjalanan hidup sang penulisnya ini ke layar lebar.

Memang secara garis besar, tidak ada perubahan yang signifikan pada kisah di film ini  dengan kisah dalam versi novelnya, kalaupun ada mungkin hanya sebatas  lompatan alur cerita karena ada adegan dalam novel yang tidak dipakai dalam film.

Tapi yang belum membaca novelnya nggak perlu khawatir tidak mengerti jalan cerita film ini secara runtut dan rapi, karena film ini dikemas  dengan begitu rapi dan cukup baik merepresentasikan kisah yang ada di novelnya secara utuh.

Kisah "petualangan" Negeri 5 menara dengan setting era 80-90an ini, di mulai dari pelosok di seputaran Danau Maninjau Sumatera Barat. 

Dialah Alif,  anak kampung yang kelak memberi contoh kepada kita semua, bahwa semua orang mempunyai kesempatan yang sama untuk sukses, asal memang berniat untuk sukses, juga berniat untuk mewujudkan kesuksesan itu.

Di sekuel pertama ini, film memang lebih banyak menyoroti dinamika kehidupan di pondok Madani yang dikisahkan terletak di Ponorogo, Jawa Timur tempat Alif melanjutkan pendidikan sesuai dengan permintaan ibunya yang berharap anaknya seperti Buya Hamka. 

Luar biasanya, film ini berhasil memberi wawasan kepada masyarakat luas, bahwa ternyata dinamika dunia pesantren jauh lebih dinamis dan kompetitif dari yang ada dalam benak kita sebelumnya  yang secara umum cenderung beranggapan dunia pondok pesantren hanya tempat belajar agama yang terbelakang.

Alif (Gazza Zubizareta), Raja (Jiofani Lubis), Dulmajid (Aris Putra), Atang (Rizki Ramdani), dan Baso (Billy Sandy) dan Said (Ernest Samudra) pemuda-pemuda tanggung yang datang dari berbagai daerah di penjuru Nusantara ini membuktikannya, mempunyai wawasan yang luas dan mempunyai mimpi dan cita-cita yang tinggi, merupakan langkah bagus untuk memulai kehidupan.

Jadi jangan mau menjadi katak dalam tempurung ! Ini yang luar biasa dari film pembuka dari kisah trilogi ini.

-Advertisement-

Tingginya cita-cita mereka,  para sahibul menara ini untuk menuntut ilmu setinggi mungkin sampai diluar negeri, jelas tidak datang tiba-tiba, tapi juga dibarengi dengan proses berwawasan  yang  luas dan ini bukan perkara biasa dan mudah bagi anak-anak era jaman itu yang secara umum tidak mempunyai akses komunikasi yang memadai.


Dengan mantra Man Jadda wajada (Siapa yang bersungguh-sungguh, pasti sukses) mereka terus berusaha semaksimal mungkin menggapai mimpinya masing-masing dalam dinamika kehidupan ala santri khas di pondok pesantren.

Semoga bermanfaat

Salam matan Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas!

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN 
Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN

Memperkenalkan (Kembali) Budaya Sarungan Kepada Anak-anak

Outfit sarungan pada Anak | @kaekaha

Sarung yang konon berasal dari tradisi berbusana masyarakat badui Yaman ini, diyakini sudah masuk ke Indonesia sejak abad ke-14 melalui para pedagang dari Arab dan Gujarat, India yang saat itu sudah banyak berdagang sampai ke Nusantara.

Sedangkan pemakaian istilah "sarung" tertua, bisa ditemukan dalam karya sastra awal abad XIX berjudul Hikayat Qadiroun yang bercerita tentang perilaku orang Arab yang dianggap aneh oleh masyarakat. Mereka berkeliling kampung berteriak-teriak sambil menawarkan sarung kepada masyarakat.

Uniknya, sejak saat itu, sarung justeru menjadi identitas budaya masyarakat Melayu, khususnya pelaut-pelaut di semenanjung Malaysia, Sumatera, Jawa dan Kalimantan.

Meskipun sarung sekarang lebih identik dengan santri, tapi setelah mendapatkan sentuhan kearifan lokal dari masing-masing wilayah di Nusantara, menjadikan sarung dari berbagai daerah di Indonesia  mempunyai cirikhas serta keunikan yang semakin mempercantik sekaligus memperkaya khasanah persarungan nusantara.


Gayung bersambut, tidak mau melewatkan momentum, akhirnya pemerintah Indonesia  menetapkan tanggal 3 Maret 2019 sebagai Hari Sarung Nasional, dengan harapan bisa meningkatkan kesadaran masyarakat tentang arti penting sarung dalam kebudayaan Indonesia.

Sayangnya, fenomena "tradisi sarungan" saat ini hanya terkonsentrasi di dalam pesantren-pesantren saja, itupun pesantren-pesantren yang bisa dikategorikan sebagai pesantren tradisional saja. Di luar pesantren jenis ini, biasanya sarung juga bukan lagi menjadi identitas para santrinya.

Padahal jika di kelola secara benar, potensi budaya dan juga ekonomi sarung pasti sangat besar di Indonesia yang sebenarnya secara budaya memang punya sejarah kedekatan yang sangat signifikan.

Berangkat dari fakta inilah, sepertinya sudah saatnya sarung diperkenalkan (kembali) kepada anak-anak Indonesia, agar sarung dan budaya sarungan kelak tidak hanya sekedar tinggal kisahnya saja.

Karena secara tradisional dan emosinal, sarung tidak sekedar kain untuk memenuhi kebutuhan pemakainya, tapi citra kesederhanaan, berwibawa dan juga estetis yang melekat padanya juga kebanggaan kita semua.

-Advertisement-

Sarung jangan hanya dijadikan sebagai bawahan untuk shalat atau peruntukan lainsesuai kebutuhan secara tradisional, tapi sudah saatnya dikembangkan menjadi produk-produk lain yang masih linier. Olah sarung menjadi berbagai produk fashion unik, menarik dan berkualitas, hingga kelak bisa menjadi bagian dari tren fashion dunia.

Semoga Bermanfaat! 

Salam matan Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas!

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan  | KOMBATAN
Kompasianer Banua Kalimantan Selatan  | KOMBATAN