Berawal dari sebuah novel trilogi best seller
super inspiratif berjudul Negeri 5 Menara karya A. Fuadi, Million
Pictures dan KG Production akhirnya memutuskan untuk mengadaptasi kisah
inspiratif yang diambil dari perjalanan hidup sang penulisnya ini ke
layar lebar.
Memang
secara garis besar, tidak ada perubahan yang signifikan pada kisah di
film ini dengan kisah dalam versi novelnya, kalaupun ada mungkin hanya
sebatas lompatan alur cerita karena ada adegan dalam novel yang tidak
dipakai dalam film.
Tapi yang belum membaca novelnya nggak perlu
khawatir tidak mengerti jalan cerita film ini secara runtut dan rapi,
karena film ini dikemas dengan begitu rapi dan cukup baik
merepresentasikan kisah yang ada di novelnya secara utuh.
Kisah
"petualangan" Negeri 5 menara dengan setting era 80-90an ini, di mulai
dari pelosok di seputaran Danau Maninjau Sumatera Barat.
Dialah
Alif, anak kampung yang kelak memberi contoh kepada kita semua, bahwa
semua orang mempunyai kesempatan yang sama untuk sukses, asal memang
berniat untuk sukses, juga berniat untuk mewujudkan kesuksesan itu.
Di
sekuel pertama ini, film memang lebih banyak menyoroti dinamika
kehidupan di pondok Madani yang dikisahkan terletak di Ponorogo, Jawa
Timur tempat Alif melanjutkan pendidikan sesuai dengan permintaan ibunya
yang berharap anaknya seperti Buya Hamka.
Luar biasanya, film
ini berhasil memberi wawasan kepada masyarakat luas, bahwa ternyata
dinamika dunia pesantren jauh lebih dinamis dan kompetitif dari yang ada
dalam benak kita sebelumnya yang secara umum cenderung beranggapan
dunia pondok pesantren hanya tempat belajar agama yang terbelakang.
Alif
(Gazza Zubizareta), Raja (Jiofani Lubis), Dulmajid (Aris Putra), Atang
(Rizki Ramdani), dan Baso (Billy Sandy) dan Said (Ernest Samudra)
pemuda-pemuda tanggung yang datang dari berbagai daerah di penjuru
Nusantara ini membuktikannya, mempunyai wawasan yang luas dan mempunyai
mimpi dan cita-cita yang tinggi, merupakan langkah bagus untuk memulai
kehidupan.
Jadi jangan mau menjadi katak dalam tempurung ! Ini yang luar biasa dari film pembuka dari kisah trilogi ini.
-Advertisement-
Tingginya cita-cita mereka, para sahibul menara
ini untuk menuntut ilmu setinggi mungkin sampai diluar negeri, jelas
tidak datang tiba-tiba, tapi juga dibarengi dengan proses berwawasan
yang luas dan ini bukan perkara biasa dan mudah bagi anak-anak era
jaman itu yang secara umum tidak mempunyai akses komunikasi yang
memadai.
Dengan mantra Man Jadda wajada (Siapa yang
bersungguh-sungguh, pasti sukses) mereka terus berusaha semaksimal
mungkin menggapai mimpinya masing-masing dalam dinamika kehidupan ala
santri khas di pondok pesantren.
Semoga bermanfaat
Salam matan Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas!
Mansoor Menggendong Peziarah Menuju Kerdanath | bollywoodhungama.in
Jujur, saya bisa bertemu dengan Kedarnath, film drama romantis yang sarat dengan pesan cinta universal ini lebih karena pesona Sara Ali Khan, si cantik dan seksi pemilik "trah" kebintangan Bollywood dari para pendahulunya yang juga bintang-bintang layar lebar film India di eranya masing-masing, termasuk Amrita Singh, sang ibu yang garis kecantikanya sebelas-dua belas dengan Sara! Duh...
Tapi bukan film India namanya kalau tidak membuat penasaran penonton, hingga membuatnya duduk manis sampai filmnya habis! Eh, kadang-kadang sambil nangis-nangis...he...he...he...
Apalagi kalau spot-spot cantik di kaki pegunungan Himalaya plus budaya unik masyarakatnya yang diekspos disepanjang cerita film! Hayo siapa yang sanggup menolak untuk duduk manis?
Tidak hanya itu! Layaknya film-film India lainnya, film yang menjadi momen debut Sara Ali Khan di dunia layar lebar ini juga menyajikan tema percintaan. Tapi kerennya, percintaan di film ini berani beda! Sangat sensitif dan sangat berpotensi memicu kontroversi di masyarakat India, apa itu?
Kisah Percintaan dengan Latar Cantiknya Pegunungan Himalaya | bollywoodhungama.in
Apalagi kalau bukan kisah amor antara Mukku, putri bungsu "konglomerat" lokal di Uttarakhand berlatar keluarga Hindu kasta tertinggi yang diperankan oleh Sarah Ali Khan dengan seorang pemuda muslim sederhana bernama Mansoor yang diperankan oleh Sushant Singh Rajput.
Baca Juga :Satria Dewa Gatotkaca, "Jembatan" Millenial Kembali Nguri-uri Kearifan Budaya Pewayangan
Seperti kita pahami bersama, sejak lama konflik sektarian di negeri India layaknya bara api dalam sekam yang sangat mudah tersulut, hingga pecah menjadi kerusuhan-kerusuhan besar dengan ending yang mengerikan.
Karenanya, tidak heran jika film yang tergolong sangat berani inipun tidak luput dari protes dari beberapa kalangan yang merasa tidak nyaman dengan isi cerita dalam filmnya!
Serunya lagi, ternyata latar besar dari film ini merupakan kisah nyata dari tragedi bencana alam paling mengerikan dalam sejarah India, khususnya di wilayah India Utara di seputaran pegunungan Himalaya atau tepatnya di kawasan kaki gunung Uttarakhand yang terjadi pada tahun 2013 silam.
Perjalanan cinta Mukku dengan Mansoor, pemuda muslim porter pengangkut barang-barang, termasuk menggendong para wisatawan dan peziarah yang menuju kuil Hindu di kaki gunung Uttarakhand yang dikenal sebagai Kedarnath, memang penuh liku-liku dan intrik khas film India yang suka menggemaskan.
Baca Juga :Menikmati Jelajah Rasa Nusantara Lewat Film
Berawal dari panah asmara Mukku yang dianggap jatuh di tempat terlarang, melahirkan berbagai konflik dan perseteruan yang tidak hanya melibatkan dua sejoli Mukku dan Mansoor saja, tapi juga keluarga, kerabat dan bahkan juga warga kampung dan dua komunitas agama berbeda di Uttarakhand. Naaaah ini yang seru eh...mengerikan!
Uniknya, ditengah-tengah drama percintaan dan perseteruan itu muncul aksi heroik Mukku yang berjiwa pemberontak, mengajak Mansoor untuk menggagalkan pembangunan hotel mewah di sekitar Kedarnath, karena dianggap mereka akan merusak kesakralan kuil Kendranath dan juga mengganggu keseimbangan alam di kawasan tersebut.
Tapi apa daya, kalau pejabat korup dengan kuasanya telah bekerja sama dengan pemodal kaya yang dengan uangnya bisa berbuat apa saja, terus rakyat kecil bisa apa?
Didukung oleh "oknum" pejabat korup yang ternyata juga berharap bisa mempersunting Mukku, berbagai cara dilakukan keluarga pendeta Briraaj, orang tua Mukku untuk memisahkan si cantik Mukku dengan Mansoor.
Sayangnya, upaya mereka lama kelamaan menjurus ke arah kriminal. Penganiayaan berat terhadap Mansoor dengan cara mengeroyok dan menyiksannya beramai-rama di depan rumah Mukku, menjadi klimaks dari perseteruan ini, sampai akhirnya kiamat kecil itu datang!
Semua drama sosial yang mengarah ke perselisihan sektarian ini akhirnya berhenti setelah banjir bandang terbesar dalam sejarah menyapu kawasan Uttarakhand di wilayah pegunungan Himalaya, termasuk Kerdanath dan juga kampungnya Mukku.
Konon, banjir besar tersebut disebabkan oleh runtuhnya gletser raksasa Himalaya yang menabrak bendungan pembangkit listrik tenaga air Uttarakhand.
Baca Juga : "Baik, Malihat Kemos, Bah!"
Dari momen bencana alam ini, munculah Mansoor layaknya "from zero to hero". Dikisahkan berhasil menyelamatkan banyak warga di kampungnya, termasuk keluarga Mukku dan orang-orang yang telah menganiayanya, Mansoor benar-benar hadir layaknya seorang pahlawan.
Sayang seribu sayang, Mansoor sendiri akhirnya justeru tidak bisa menyelamatkan diri dari ganasnya banjir ini.
Di akhir cerita, disebutkan ada 4300 korban jiwa dalam banjir bandang ini dan data ini berbeda dengan data dari relawan dan media yang menyebut lebih dari 10.000-an korban jiwa.
Selain 50.000-an jiwa yang diselamatkan oleh militer India dan sekitar 70.000-an lainnya yang dinyatakan hilang, tidak diketemukan. Ngeri?
Baca Juga: Jejak Diplomasi Film Religi Membumikan Islam yang Rahmatan Lil Alamin
Film Kedarnath ini memang hanya menggambarkan sebagian kecil saja dari bencana alam mematikan yang tidak akan mungkin dilupakan oleh masyarakat Uttarakhand, tapi dari film yang memilih mengakhiri ceritanya dengan sad ending ini, kita bisa belajar banyak bagaimana "cara kerja" cinta yang tulus menyelamatkan kehidupan. Begitu juga dengan kecintaan kita pada bumi dan alam seisinya!
Jujur, saya sedih sekali menonton ending film ini. Bukan saja karena Mukku dan Mansoor yang tidak bisa bersatu, tapi juga konsistensi saya (atau mungkin kita?) yang sampai detik ini masih saja belum bisa mengejawantahkan rasa cinta kita kepada bumi kita dengan perilaku yang lebih konkrit. Masih membuang sampah di sungai atau masih membakarnya secara sembarangan? Masih suka menebang pohon dan tidak pernah tergerak untuk menanaminya? Belum juga mengendalikan penggunaan bahan bakar fosil? Sampai kapan!?
Jangan-jangan kita juga punya andil sebagai pemicu terjadinya tragedi banjir bandang di Uttarakhand pada 2013 silam!
Kebiasaan-kebiasaan kita yang sama sekali tidak ramah lingkungan bisa jadi ikut menyebabkan global warming yang memicu pecah dan longsornya gletser-gletser raksasa di berbagai lokasi gunung-gunung atau padang-padang es yang sebelumnya kita anggap akan abadi, termasuk salah satunya di pegunungan Himalaya yang menyebabkan banjir bandang di Uttarakhand.
(Bumi berguncang, langit berkilat, terlihat
seperti orang yang cinta melihat segala kehormatan dan keindahan dunia,
gunung pun berantakan).
Kearifan Budaya Wayang
Bagi masyarakat Jawa yang kebetulan mempunyai "kedekatan" dengan budaya pewayangan, khususnya pagelaran wayang kulit purwa atau secara umum dikenal sebagai wayang kulit saja.
Tentu tidak asing dengan syair suluk atau ada juga yang menyebutnya sebagai ada-ada yang secara awam sering digelari sebagai suluk bumi gonjang-ganjing diatas. Apalagi jika sekaligus mendengarkan tampilan audionya.
Suluk merupakan sejenis prelude atau narasi pembuka dari tiap sub-rangkaian cerita dalam sajian pentas wayang kulit yang tersaji dalam bentuk "nyanyian" Ki dalang dengan teknik acapella alias tanpa iringan musik pengiring ensemble karawitan secara full team.
Dan biasanya hanya ditemani oleh bunyi dodogan atau bunyi dok...dok...dok yang muncul ketika Ki dalang mengetuk-ngetukkan campala ke bagian dalam kotak wayang dengan tangan kirinya.
Suluk
yang menurut Serat Sastramiruda karya K.P.A. Kusumadilaga, merupakan
karya Sunan Kudus dan mulai muncul di pagelaran Wayang Kulit Purwa pada
tahun 1443 Saka atau sekitar awal abad ke-16 tersebut "dimainkan" Ki
dalang untuk membantu penonton ngimajinasi atau berimajinasi pada
suasana tertentu, sesuai dengan jalan cerita yang dikehendaki Ki dalang.
Sehingga
penonton yang mendengar suluk atau ada-ada bisa segera tanggap akan
adanya pergantian sub-cerita, sehingga sesegera mungkin mempersiapkan
diri untuk berimajinasi sesuai dengan tematik suasana pada adegan
berikutnya.
Itulah sebabnya, suluk atau ada-ada mempunyai banyak jenis, sesuai dengan peruntukan yang berbeda-beda.
Suluk untuk mengawali cerita perang yang menegangkan jelas akan berbeda dengan suluk untuk prelude kisah sedih, begitu juga suluk kisah kasmaran dengan suluk yang lainnya.
Karena selalu ditampilkan di depan dan relatif sering disajikan Ki dalang, maka tidak heran jika suluk menjadi
salah satu bagian dari pentas pagelaran wayang kulit yang paling
dikenal bahkan dihafal oleh pera pecinta dan penikmatnya, begitu juga
dengan suluk "Bumi gonjang-ganjing" diatas!
Suluk bersyair bahasa Jawa Kawi atau Jawa kuno yang satu ini menjadi sangat populer, bukan saja karena nadanya yang catchy hingga relatif mudah dan enak didengar sekaligus diingat, tapi juga karena menjadi "tanda" kemunculan ksatria alias superhero paling populer dalam kisah-kisah pewayangan.
Khususnya anak-anak sebaya kami yang saat itu pastinya kesengsem berat dengan julukannya Si - Otot kawat balung wesi. Ada yang tahu siapa dia?Dialah Gatotkaca atau Ki dalang menyebutnya sebagai Gatotkoco.
Gatotkaca Ksatria Pringgadani | kompas.com
Suluk
"Bumi gonjang-ganjing" dan sosok Gatotkoco yang selalu tampil dengan
tanda bintang di dadanya inilah "dua bagian" di antara sekian banyak
rangkaian pertunjukan wayang (kulit) yang paling melekat erat dalam
memori saya dan sepertinya juga teman-teman saya, "anak-anak wayang" di
era 80-an.
Jujur, meskipun secara harfiah kami tidak paham detail cerita yang disampaikan Ki dalang karena faktor bahasanya, tapi nada-nada catchy-nya dalam ber-suluk yang begitu epik mudah sekali terekam dalam memori kami, hingga sampai sekarangpun masih sering bikin kangen untuk mendengarnya.
Beruntungnya
lagi, saat itu masih banyak orang-orang disekitar kami yang secara
fasih bisa menarasikan sekaligus mendiskripsikan secara fasih, gamblang
dan detail kepada kami, bagaimana kepribadian dan sepak terjang Gatotkoco, sosok superhero yang juga dikenal dengan nama Arimbiatmaja, Bimasiwi, Guritna, Gurudaya, Kacanegara, Purbaya dan Kancingjaya ini.
Tidak
hanya itu, narasi kepribadian ksatria putra Bima alias Werkudara yang
dikenal sakti, berani, teguh, tangguh, cerdik pandai, waspada, gesit,
tangkas, tabah dan mempunyai rasa tanggung jawab yang besar itu juga wira-wiri di telinga kami dari dongeng-dongeng kisah heroik pewayangan dari bapak dan ibu guru di kelas-kelas sekolah.
Bahkan
dulu, tugas-tugas prakarya kami di sekolah untuk pelajaran
keterampilan, juga tidak jauh-jauh dari budaya wayang (kulit), mulai
dari sekedar menggambar tokoh-tokoh favorit, sampai membuat figur-figur
karakternya dari bahan karton, kardus dan lain sebagainya.
Karenanya, tidak heran jika saat itu sosok Gatotkoco hadir dalam dunia anak-anak kami, tidak sekedar sebagai tokoh imajinner dalam tontonan wayang semata, tapi juga sosok role model yang secara emosional begitu dekat.
Sehingga, sifat-sifat ksatria yang ada padanya begitu menginspirasi alam pikiran kami, anak-anak wayang saat itu.
Satria Dewa: Gatotkaca
Satria Dewa: Gatotkaca
Gatotkaca | sumber: deviantart.com/jabriksama via Instagram/@gatotkaca_official
Setelah berlalu sekian dekade, Gatotkoco sang superhero dari Pringgodani yang dulu saya kenal lewat pagelaran wayang kulit, baik live show
maupun sekedar dari siaran radio dan juga dari dongeng para tetua di
sekeliling kami, sekarang lahir kembali dalam versi yang lebih fresh dalam bentuk film action dengan title Satria Dewa : Gatotkaca.
Bagi generasi layar lebar versi kelir alias layar lebarnya pertunjukan wayang kulit yang cenderung statis, kelahiran kembali Gatotkoco dalam kemasan tontonan layar lebar versi film yang konon menghabiskan dana sampai 24 milyar, seharusnya bisa menjadi tombo kangen yang menghibur.
Di tengah semakin minimnya ruang, waktu dan kesempatan untuk menikmati berbagai kearifan dalam fragmen pertunjukan wayang karena berbagai hal.
Terlebih wayang kulit yang secara tradisional memang mempunyai aturan dan peraturan alias pakem yang baku sehingga tidak bisa sembarangan untuk mempertontonkannya.
Belum lagi, banyaknya ubarampe yang perlu dipersiapkan dan juga biayanya yang terkenal cukup mahal, apalagi kalau Ki dalang yang pentas adalah dalang kondang!
Situasi
ini menjadikan pagelaran wayang kulit semakin sulit hadir
ditengah-tengah masyarakat yang terlanjur hidup dalam budaya pop yang
cenderung memilih praktis, efektif dan efisien sebagai pattern kehidupan.
Satria Dewa Universe | layar.id
Karenanya, kehadiran film action Satria Dewa : Gatotkaca yang mengusung semangat kisah superhero lokal
nusantara, setidaknya bisa menjadi alternatif untuk mengisi
"kekosongan" pentas kearifan wayang di lingkungan masyarakat tersebut,
apalagi film sebagai bagian dari budaya pop jelas relatif lebih mudah di
nikmati siapa saja dan kapan saja.
Dengan begitu, beragam pesan kearifan dalam wayang yang diangkat dalam film Satria Dewa : Gatotkaca
tetap bisa sampai kepada masyarakat dan tentunya tidak akan serta merta
hilang terkubur waktu, meskipun pagelaran wayangnya sendiri semakin
sulit ditemukan.
Dan yang tidak kalah penting, film yang
rencananya menjadi "pembuka" alias pintu masuk menuju semesta Satria
Dewa Universe yang garis ceritanya kurang lebih tetap sama dengan pakem kisah klasik nan monumental, perselisihan Pandawa dan Kurawa yang ujungnya kelak adalah perang Barathayuddha tersebut, juga bisa menjadi tombo kangen pada sosok superhero, pemilik julukan otot kawat balung wesi, Si-Gatotkaca yang sakti mandraguna tapi juga romantis tersebut.
Hanya
saja, asumsi ini untuk saya pribadi dan mungkin juga untuk anak-anak
yang pernah sebaya dengan saya pada era 80-an atau sebelumnya yang
pernah begadang sambil kemulan sarung, ndodok di belakang atau di depan kelir yang sama-sama asyiknya untuk menikmati indahnya suluk dan tentunya ketangkasan Ki dalang saat memainkan serta memerankan masing-masing karakter wayang kulitnya.
Walaupun begitu, saya tetap berharap, kehadiran film Satria Dewa: Gatotkaca ini tidak hanya menjadi pembuka atau pintu masuk menuju semesta Satria Dewa Universe sebagai media hiburan semata.
Tapi, bisa juga menjadi pintu masuk atau bahkan "jembatan" bagi para milenial atau siapa saja untuk kembali masuk dan merasa perlu nguri-uri budaya pewayangan yang sarat dengan kearifan warisan leluhur.
Semoga Bermanfaat! Salam Matan Kota 1000 Sunngai, Banjarmasin nan Bungas!