Jumat, 12 Januari 2024

"Log in" Borneo FC, Apa yang Dicari Jacksen F Tiago di Samarinda?


Jacksen Saat Masih Melatih Persis Solo | xnews.id

Squad Pesut Etam alias Borneo FC, Samarinda saat ini benar-benar sedang diatas angin untuk mencetak sejarah menjadi kampiun pertama kalinya di pentas kasta tertinggi sepakbola Indonesia

Mengemas 51 poin dari 23 pertandingan, menjadikan tim yang bermarkas di Stadion Segiri, Samarinda ini penguasa tertinggi tahta klasemen Liga 1.

Uniknya, pesaing terdekat squad Pesut Etam adalah “saudara tua” mereka sendiri, Bali United yang baru mengumpulkan 41 poin dari total laga yang sama, 23.

“Saudara tua?” Ya, Bali United merupakan metamorfosis dari PS. Putra Samarinda alias Pusam yang lahir di Samarinda pada 1989 silam dan sempat berganti nama menjadi Persisam Putra Samarinda pada 2003 sampai akhirnya “hijrah” ke Bali karena diakuisisi pengusaha Bali pada 2015, hingga jadilah mereka dengan identitas baru, Bali United hingga saat ini.

Jacksen Saat Menukangi Tim Nasional Indonesia | republika.co.id

Ditengah-tengah euforia hasil mengejutkan Borneo FC menjadi penguasa Liga 1, bahkan leading sampai 10 poin dari pesaing terdekat, sepertinya manajemen Borneo FC tidak mau berleha-leha.

Tanpa kasak-kusuk sebelumnya, mereka membuat gebrakan yang lumayan mengagetkan insan bola Nusantara. Tiba-tiba Borneo FC mengumumkan bergabungnya legenda Persebaya Surabaya Jacksen F Tiago, ke squad Pesut Etam per-Selasa, 2/1

Hanya saja, mantan pemain sekaligus pelatih Persebaya Surabaya, Barito Putera dan juga Persis Solo ini bukan didaulat untuk menangani Diego Michiels dkk atau menggantikan posisi Milomir Seslija sebagai pelatih kepala, tapi menjadi direktur akademi Borneo FC menggantikan Purwanto Suwondo.


Jacksen Saat Masih Melatih Barito Putera | tribunnews.com

Menurut bos Borneo FC, Nabil Husien Said Amin dalam rilisnya di laman borneofc.id menyebut Jacksen F Tiago akan menangani squad muda Borneo FC  yang bertanding di kompetisi Elite Pro Academy atau EPA yang saat ini sudah memasuki penyisihan akhir di kelompok umur 16, 18 dan 20 tahun.

Baca Juga :  Main ke Official Store Merchandise-nya Barito Putera 

Sederet prestasi dan pengalaman “juara” Jacksen F. Tiago saat menjadi pemain, terutama saat mengantarkan Persebaya menjadi juara Liga Indonesia, sekaligus menjadi topskor di musim 1996-1997, hingga mengantarkan kembali Persebaya sebagai juara liga musim 2004 tapi sebagai pelatih, lalu mengantarkan Persipura juara tiga kali pada edisi 2008, 2010-2011 dan 2011-2012, jelas menjadi alasan konkrit manajemen Barito FC berharap banyak pada Jacksen F. Tiago untuk mengasah mental dan spirit juara sekaligus skill teknis anak-anak muda Borneo.


Uniknya, pengumuman bergabungnya Jacksen ini tidak berselang lama alias masih dihari yang sama dengan pengumuman berakhirnya kerjasama Borneo FC dengan Purwanto Suwondo.

Sayangnya memang tidak ada keterangan lebih detail terkait alasan Borneo FC mengakhiri kerja sama dengan Purwanto Suwondo. Atau jangan-jangan Jacksen “tukar guling” sama Purwanto Suwondo alias tukar tempat kerja? Apalagi secara jabatan keduanya di tim sebelumnya juga sama, sama-sama Dirtek!?

Kalau iya, waaah pasti bakalan seru ni! Bagaimana tidak?

Jacksen dan Squad Juara Persebaya Liga 1996-1997 | jpnn.com

Seperti kita ketahui bersama, sebelum bergabung dengan Squad Pesut Etam muda, Jacksen adalah Direktur Teknik di Persis Solo yang masa kerjanya konon memang berakhir di bulan Nopember 2023 kemarin, setelah sebelumnya mundur dari jabatan pelatih kepala Persis Solo pada Agustus 2022.

Putra Jacksen, Hugo Samir merupakan anggota squad Persis Solo yang dipinjamkan ke Borneo FC dan sekarang sedang mengikuti TC bersama timnas U-20 di Qatar.

Artinya, kalau sekarang Jacksen bergabung dengan Squad Pesut Etam, dia akan berkumpul dengan Hugo di Samarinda dan sangat memungkinan menjadi alasan Borneo FC untuk mempermanenkan status Hugo di Borneo FC. Inikah yang di cari Jacksen hingga berlabuh ke Samarinda?

Begitu juga sebaliknya! Purwanto Suwondo, pria Jawa kelahiran Lampung Tengah mantan punggawa Timnas di eranya Bambang Pamungkas ini, ternyata orang tua si Arkhan Kaka striker muda Persis Solo dan juga Timnas U-17. Mungkinkah Purwanto Suwondo juga ingin satu bendera dengan Arkhan Kaka?

Hugo Samir Saat Bergabung di U-16 EPA Barito Putera Saat Berusia 14 Tahun | PSSI

Tidak hanya itu! Seandainya skenario “tukar guling” keduanya benar-benar terjadi, maka peta persaingan di kompetisi Elite Pro Academy (EPA) yang menjadi tanggung jawab keduanya kelak, akan semakin seru!

Saat ini saja persaingan Borneo FC dengan Persis Solo di klasemen sementara EPA Liga 1 2023/2024 sedang panas-panasnya!

Di level U-16, merupakan kompetisi dengan persaingan terpanas. Persis U-16 saat ini memuncaki klasemen dengan 35 poin dari 14 laga, satu level diatas Borneo FC yang berada di peringkat kedua dengan 32 poin.

Sedangkan di EPA U-18, Persis Solo U-18 yang bercokol di peringkat keempat dengan koleksi 23 poin, berada satu strip dibawah Borneo FC di posisi ketiga dengan raihan 24 poin dari 14 laga.


Keduanya memang masih kalah moncer dari Persib Bandung U-18 yang mengoleksi 30 poin dan PSS Sleman U-18 dengan 26 poin, tapi tetap saja “tumpang tindih” posisi keduanya di klasemen jelas memperlihatkan bagaimana ketatnya rivalitas dan juga kedalaman squad kedua tim.

Baca Juga :  Pride of Banua, Uniknya "Tanda Cinta" di Jersey Barito Putera 

Di EPA U-20, lagi-lagi Borneo FC dan Persis Solo, sama-sama menjaga tradisi ketatnya rivalitas diantara keduanya.

Jika Borneo FC saat ini berada di posisi kedua dengan koleksi 27 poin dari 14 laga di grup B. Pemuncak klasemen di grup ini dipegang oleh rival mereka, Persis Solo U-20 dengan koleksi 29 poin. Keren kan, rivalitas keduanya!?

Semoga Bermanfaat! 

Salam matan Kota 1000 Sungai, 
Banjarmasin nan Bungas!

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN




 

Kamis, 11 Januari 2024

Soto Brakot Mas Aan, Sedapnya Sensasi "Mbrakot" Kaki Sapi Jumbo

"Mbrakot" Kaki Sapi di Soto Mbrakot Mas Aan, Jogjakarta | You Tube/Dyodoran

Soto merupakan jenis kuliner Nusantara yang paling populer dan banyak variannya. Tidak heran jika pemerintah memasukkan Soto menjadi salah satu dari 5 kuliner nasional Indonesia.

Bercirikan racikan kuah kaldu dengan beragam bumbu rempah-rempah khas Nusantara yang juga sangat beragam, menjadikan banyak olahan soto juga identik dengan asal-usul daerah si empunya soto.

Baca Juga  : Andok Sate-Gule "Kongklengan" Citarasa Legendaris Kuliner Mediunan

Itulah jawaban dari kenapa sekarang kita mengenal begitu banyak kuliner soto berlabel kedaerahan, seperti Soto Banjar, Tauto Pekalongan, Soto Kudus, Soto Lamongan, Coto Makassar, Soto Betawi, Soto Padang dan lain-lainnya.

Kerennya, karena kuliner soto ini relatif mudah di modifikasi, baik racikan bumbu, kondimen, maupun isian atau elemen utama dalam penyajiannya, selain melahirkan banyak jenis soto dengan label kedaerahan, juga sangat memungkinkan lahirnya beragam jenis soto yang berbasis kreatifitas peracik-peraciknya.

Brakot Sikil dan Banlungan di Soto Mbrakot Mas Aan, Jogjakarta | hobbymakan.asia

Terbukti, sekarang banyak sekali varian baru kuliner berkuah kaldu yang identik dengan soto, lahir dan bertebaran di berbagai tempat di seluruh penjuru Nusantara, salah satunya yang sedang viral adalah Soto Brakot.

Kosakata Brakot berasal dari Bahasa Jawa yang memiliki makna sekali gigit dapat banyak, kosakata ini mempunyai "adik tingkatan", krokot artinya menggigit dalam jumlah sedang dan krikit yang artinya menggigit dalam jumlah sedikit.

Diantara sekian banyak Soto Brakot yang viral di media sosial adalah Soto Brakot Mas Aan yang beralamat di Jl. Kaliurang, Ngemplak, Sleman, Jogjakarta.

Soto Mbrakot Mas Aan, Jogjakarta | You Tube/Dyodoran

Di Soto Brakot Mas Aan ini pengunjung akan dimanjakan dengan berbagai kuliner lezat berbahan dasar olahan daging sapi mulai dari iga sapi, kaki sapi, balungan, koyor dan elemen sapi lainnya.

Baca Juga : Kisah Serendipiti di Balik Kelezatan Sepiring Tahu Campur

Bahan-bahan dari daging sapi tersebut diolah dengan bumbu rempah-rempah khas, hingga menjadi soto sapi, soto brakotan sikil, brakotan iga, brakotan balung dan brakotan sikil. Uniknya lagi, minuman khas disini adalah susu sapi murni segar. Ayoooo siapa yang suka minum susu segar!?

Sesuai daftar harga yang di pajang, harga-harga menu sajian disini relatif ramah di kantong lho! Paling mahal adalah Brakotan Sikil dan Soto Brakotan Sikil seharga 96 ewu atau 96 ribu yang menyajikan sikil alias kaki sapi utuh yang bisa dinikmati 4-5 orang sekaligus.


Setelahnya ada olahan Brakotan Iga dan Soto Iga seharga 29 ewu dan 28 ewu, juga Brakotan Balung yang seharga 28 ewu juga. Selebihnya beragam soto-sotoan, selain Soto Koyor yang seharga 12 ewu atau 12 ribuan, maka lainnya seperti soto tertelan, soto babat, soto daging, soto ISO semuanya hanya 6 ewu alias 6 ribuan saja!

Jogja memang istimewa! Tidak ada habis-habisnya menawarkan kuliner enak dan  unik!


Soto Brakot jelas tidak hanya menawarkan beragam olahan daging sapi dengan citarasa juara, tapi juga pengalaman menikmati kuliner serba jumbo yang sensasinya pasti tak kan terlupakan.

Jadi catat ya, kalau ke Jogja jangan lupa mampir ke Soto Brakot Mas Aan!

Semoga Bermanfaat.

Salam Matan Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas!

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan |
 KOMBATAN



 

Senin, 08 Januari 2024

Jangkrik Bos! Ini "Mainan Mahal" Anak-anak 80-an

Jangkrik Jrabang Betina | @kaekaha

Apa yang biasa anda rindukan dari masa kanak-kanak anda?

Meskipun masing-masing dari anda pasti mempunyai jawaban spesifik yang berbeda-beda, tapi saya yakin, karena dunia kanak-kanak memang tidak akan pernah jauh-jauh dari dunia main dan mainan, saya dan anda pasti pernah merindukan kebersamaan dengan teman-teman kanak-kanak kita, terutama saat memainkan mainan-mainan kesukaan kita secara bareng-bareng atau rame-rame.

Ayoooo apa mainan masa kecil anda yang paling berkesan!?

Baca Juga :  Mulakan dengan Bismillah

Setiap memasuki musim penghujan, biasanya ada hewan-hewan khusus yang muncul "memberi tanda" kepada kita semua bahwa musim hujan memang segera atau sudah tiba. 

Di kampung masa kecil saya, di kaki Gunung Lawu yang terletak di perbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur, setidaknya ada 2 jenis serangga yang secara konsisten selalu memberi tanda datangnya musim hujan, yaitu hadirnya laron-laron jenis besar secara masal dan munculnya jangkrik di teras-teras dan halaman rumah.

Jangkrik Jantan | @kaekaha

Kedua jenis serangga ini, tidak hanya memberi tanda saja tapi keduanya juga memberi manfaat nyata buat masyarakat di kampung kami. Biasanya, laron-laron jenis besar ini dimanfaatkan menjadi bahan pangan untuk membuat peyek dan bothok, dua kuliner khas di kampung kami yang tidak hanya bisa dimakan sendiri, tapi juga dibagi-bagi dengan tetangga, baru selebihnya dijual.

Sedangkan keberadaan jangkrik di kampung kami saat itu, setidaknya mempunyai 2 manfaat mendasar, dipelihara untuk  menakut-nakuti tikus dan untuk mainan kami, anak-anak seumuran SD di tahun 80-an. 

Kerennya, kedua manfaat ini sama-sama berpotensi ekonomi yang lumayan untuk anak-anak seperti kami saat itu!?

Baca Juga :  Main ke Official Store Merchandise-nya Barito Putera

Mungkin bagi anak-anak jaman sekarang, dua manfaat dari "jangkrik", nakut-nakuti tikus dan sebagai "mainan" akan bikin mereka melongo keheranan! Gimana caranya!?

Kami anak-anak kecil seusia SD di kaki Gunung Lawu pada dekade 80-an, meyakini kalau tikus sangat takut dengan lantangnya bunyi "ngerik" alias bunyi derik dari jangkrik jantan yang sebenarnya sedang birahi dan sedang mencari pasangan di malam hari yang biasanya sunyi senyap dari tempat yang cenderung gelap.

Keyakinan kami bahwa tikus takut dengan suara ngerik-nya jangkrik ini memang lebih pada tradisi turun menurun di lingkungan kampung kami, jadi ya kami tidak benar-benar tahu sejauh mana hubungan ilmiah diantara keduanya. Pastinya, seingat saya tikus memang mulai jarang terlihat, setelah bunyi-bunyian ngerik-nya jangkrik mulai ada di dalam rumah kami.

Nah karena alasan ngerik atau derik jangkrik yang menurut kami sangat bermanfaat itulah, saat itu kami lebih memilih untuk memelihara jangkrik jantan saja, tidak dengan betinanya. 

Jangkrik Jrabang Betina | @kaekaha

Saat itu, masing-masing anak bisa mempunyai sampai puluhan ekor jangkrik yang dipelihara dalam kandang bambu yang dibuat layaknya box dengan desain suka-suka kami, terpenting luas masing-masing kamar cukup untuk masing-masing jangkrik  hidup secara layak. Satu jangkrik akan menempati masing-masing satu kamar. 

Khusus untuk membuat kandang jangkrik, ini juga memerlukan effort khusus sih sebenernya. Selain wajib menyiapkan desain kandangnya, kita juga musti mempersiapkan bahan bambu dan juga perangkat untuk membuatnya. Ini keren banget lho buat mengasah imajinasi dan kreatifitas anak-anak!

Seingat saya, waktu itu juga belum ada peternak jangkrik skala besar yang bisa memasok untuk berbagai keperluan masyarakat, seperti untuk pakan burung, ikan dan lain sebaginya, seperti sekarang yang tinggal cari ke pasar saja kalau perlu jangkrik.

Bagi kami saat itu,  kencang dan lamanya bunyi ngerik si jangkrik merupakan ukuran  kejantanannya dan itu modal besar untuk menakut-nakuti tikus, maka harga jangkrik model begini yang biasa kami sebut kelas A (Grade A) juga akan melambung di bursa jangkrik di lingkungan anak-anak kecil di kampung kami. 

Sering juga dulu, kami mengeksplorasi cara untuk memperkeras suara ngerik-nya si Jangkrik, mulai dari dengan di kasih makan cabe-cabean yang hasilnya luar biasa! Jangkrik kami mati semua! Sampai  dengan trik ditiup bagian belakang badannya, tapi ternyata sampai sekarang kami tidak tahu juga bagaimana cara mengencangkan bunyi ngerik-nya si jangkrik!

Cara jual beli jangkrik diantara kami saat itu tidak pakai uang, tapi dengan cara barter yang kami sebut ijol-ijolan. Kalau jangkrik  yang ngerik-nya kencang bisa saja dibarter dengan 2 sampai 3 jangkrik yang dianggap biasa-biasa saja. 

Begitu aja!? Lhaah mahalnya dimana? Begini, saya menyebut jangkrik sebagai mainan mahal bagi kami saat itu, sebenarnya bukan mahal dalam arti nilai rupiahnya semata, tapi lebih kepada "mahalnya" perjuangan kami mendapatkan jangkrik-jangkrik grade A dengan karakteristik suara ngerik-nya yang lantang dan lama.


Spesifikasi jangkrik grade A seperti itu sangat jarang datang sendiri ke teras-teras rumah atau halaman kami, tapi mereka biasanya sembunyi di balik bongkahan batu atau tanah-tanah keras di balik gelapnya malam dan rerimbunan tanaman perdu. Tidak sembarangan kami bisa menangkapnya!  

Inilah "mahal" yang saya maksudkan untuk jangkrik-jangkrik mainan kami saat itu. Keren kan!?

Selain itu, keunikan jangkrik yang jarang disadari orang adalah identitas pada warna badan dan sayapnya, yang kadang-kadang karena selera juga mempengaruhi "harga jualnya". Kalau badannya hitam biasa kami sebut sebagai jliteng, sedangkan yang kemerahan kami sebut sebagai jrabang dan ada yang kekuning-kuningan, biasa kami sebut sebagai jangkrik debog bosok.

Baca Juga :  Kearifan Banjar dalam Idiom Hamuk Kalalatu

Oya hampir lupa! Mungkin anda bertanya-tanya, bagaimana cara membedakan jangkrik jantan dengan yang betina, selain dari ngerik-nya!? 

Caranya sangat mudah! Sayap pada jangkrik betina relatif mulus dan rata-ratanya cantik. Ini berbanding terbalik dengan sayap jangkrik jantan yang secara visual terlihat keriput dan tampak tidak teratur. Nah mudahkan!

Jangkrik Jantan | @kaekaha

Entah kenapa ya, jangkrikpun sayap yang betina ada unsur cantiknya, begitu sebaliknya yang jantan kok ya keriput dan cenderung jelek, tampak tidak teratur pula! He...he...he...

Tapi jangan salah, itulah adilnya Allah SWT, konon keriputnya sayap jangkrik jantan ini ada hubungannya dengan kemampuan ngerik-nya lho! 

Semakin keriput atau semakin jelek sayap jangkrik jantan dalam persepsi kita, konon lebih kencang suara ngerik-nya! Wooooow gitu looooh!

Untuk keperluan menakuti-nakuti tikus ini, biasanya kandang jangkrik yang biasa kami buat dari bahan bambu, akan ditaruh di tempat-tempat gelap yang berpotensi jadi jalur lalu lintas tikus. Begitu tiap hari sampai tikusnya kapok nggak mau singgah atau tinggal di rumah kami masing-masing. 

Selain untuk menakut-nakuti tikus, dulu "jangkrik" ini juga menjadi sarana sekaligus media bermain kami sehari-hari. 

Asalnya, adu jangkrik menjadi salah satu permainan kesukaan kami, tapi karena di tempat ngaji sering diperingatkan oleh Pak Ustad betapa mengerikannya dosa mengadu binatang, terlebih setelah kami membaca komik tentang neraka jahanam, akhirnya kami insyaf dan menggantinya dengan adu suara ngerik-nya saja.

Baca Juga :  Kisah Serendipiti di Balik Kenikmatan Sepiring Tahu Campu

Karena di habitat aslinya, jangkrik lebih suka hidup di tempat-tempat yang cenderung gelap dan terlindung dari cahaya terang, seperti di balik batu atau di bawah bongkahan tanah, maka biasanya kami juga menempatkan jangkrik-jangkrik peliharaan kami di tempat-tempat seperti di habitat aslinya, gelap dan cenderung agak basah.

Untuk makanan, biasanya jangkrik-jangkrik kami akan kami beri asupan makan berupa krokot segar, bisa juga kubis, wortel, gambas, jagung muda, pepaya dan sayuran lainnya.

Ayoooo siapa yang senyum-senyum sendirian, membaca nostalgia masa kecilnya dengan si jangkrik...he...he...he

Semoga bermanfaat!

Salam matan Kota 1000 Sungai,
Banjarmasin nan Bungas!

Artikel ini juga tayang di Kompasiana pada 6 Januari 2024 jam  10:56 WIB (klik disini untuk membaca)


 

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN







 

Senin, 09 Oktober 2023

“Terbang Pagi Buta” Menuju Writingthon Jelajahi Sumedang

 
Mentari Pagi Membayang Landasan Pacu Bandara Syamsoedin Noor yang Basah | @kaekaha
 
 
Cuaca “Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas” dalam beberapa hari di pertengahan bulan Desember ini lumayan agak dingin bila dibanding hari-hari biasanya, karena di sepanjang hari, terutama sejak sore sampai pagi keesokan harinya, sering diguyur hujan dengan intensitas yang rata-rata cukup lebat. 
 
Bahkan pagi buta kali ini (17/12), dalam perjalanan saya dari rumah di Km.7 A. Yani atau kawasan Kertakhanyar menuju ke arah ke Kota Banjarbaru, menuju ke akses terminal baru Bandar Udara Internasional Syamsoedin Noor yang berjarak sekitar 20-an km masih juga dikawani oleh gerimis, bahkan di beberapa lokasi setelah shalat Subuh di Masjid Mujahidin, Gambut, banyak titik yang hujannya lumayan lebat. Alhamdulillah, berkahNya di pagi ini, udara jadi lebih beraihan sueeeegeeeer!!! 
 
Jaga Jarak Saat "Boarding" di Masa Pandemi Covid-19 | @kaekaha
 
Oya, karena ini penerbangan pertama saya di masa Pandemi covid-19 yang “naga-naganya” akan sedikit lebih ribet bila dibandingkan dengan penerbangan di masa aman, makanya saya memilih berangkat lebih awal menuju bandara. 
 
Mungkin karena memang musim penghujan ya kawan! Makanya dalam “aturan main” yang dikirim panitia Writingthon Jelajahi Sumedang kemarin lusa, kita para peserta juga disarankan untuk membawa perlengkapan jas hujan, payung atau mantel/jaket anti air guna mengantisipasi cuaca musim penghujan selama even berlangsung yang basah banget! 
 
Apalagi kita semua tahu, geografi Sumedang yang didominasi oleh dataran tinggi, juga punya curah hujan lumayan tinggi. Nah lho! Sudah gitu, menurut spil dari panitia, lokasi even Writingthon Jelajahi Sumedang ini berada di kawasan Sumedang Selatan. 
 
Lokasinya lumayan ekstrim, di penginapan bergaya resort keren di punggung gunung yang masih dikelilingi hutan dan relatif jauh dari perkampungan penduduk. Pastinya, sering banget hujaaaaaaan dan dingin banget! Hi...hi...hi... 
 
Batik Air Take Off | @kaekaha

Bismillah. Tepat pukul 08.00 WITA, pesawat Batik Air yang menerbangkan saya ke Sumedang via Bandar Udara Soekarno-Hatta, Tangerang, take off juga dengan mulus dari landasan pacu Bandara Syamsoedin Noor meski gerimis pagi masih saja membasahi bumi Banjar, hingga akhirnya setelah sekitar 1,5 jam atau 90 menitan di udara, pesawat akhirnya landing dengan mulus juga di bandar udara terbesar di Indonesia ini. 
 
Setelah keluar dari pesawat dan singgah sebentar di terminal kedatangan, smartphone saya yang baru saja aktif kembali langsung diserbu oleh notif yang masuk dan dua diantaranya dari Mas Mustaqim (sesama alumni Writingthon Asian Games, 2018) dan Mbak Yeni , crew dari Bitread yang selalu bertugas menjemput peserta Writingthon dari luar daerah via Bandara Soetta. 
 
Reunian Sama Mas Mustaqim dari Metro, Lampung | @kaekaha
 
 Setelah konfirm sejenak dengan mereka berdua akhirnya saya langsung keluar terminal untuk bertemu mereka berdua yang sudah saya kenal sejak saya terlibat di dua even Writingthon sebelumnya dan Alhamdulillah, akhirnya saya bisa ketemu lagi dengan Mas Mustaqim yang landing dari Metro-Lampung beberapa jam sebelum saya. Tapi kok nggak ada Mbak Yeni ya!? Malah yang tampak peserta terpilih dari Pasuruan, Neng Darma Anggat yang juga landing beberapa saat sebelumnya.
 
Ternyata Mbak Yeni lagi belanja perlengkapan “jalan” menuju ke Sumedang di minimarket. Excited banget bisa ngobrol ngalor-ngidul melepas kangen lagi dengan mereka semua, nggak lama landing juga Mas Asrul Rizky, dosen berprestasi dari Aceh, peserta terakhir yang kita tungguin sebelum let’s go ke Sumedang. 
 
Eiiiiits...tunggu dulu, kita masih ada Mas Deta Arya Intifada, Kompasianer senior yang juga jurnalis, tapi dia tinggal di Jakarta dan sepertinya tempat tinggalnya satu jalur dengan rute penjemputan dari Bandara, makanya dia nungguin kita di jalanan rute menuju Sumedang. 
 
Makan Siang dan Ishoma di Rest Area | @kaekaha
 
Perjalanan menuju Sumedang via tol lancar jaya! Kita menyempatkan Ishoma alias istirahat sambil sholat dan makan di rest area tol km ... ah saya lupa…di km berapa, api lumayanlah, punggung bisa kembali tegak setelah perut diisi bensin eh... maksudnya diisi nasi! 
 
He...he...he... kalau isi bensin untuk mobil, kita stop sekalian antri di toilet POM bensin ketika hari sudah mulai senja selepas melewati kampus-kampus terkenal di Jatinangor, pintu masuk Sumedang dari arah Bandung dan Jakarta.
 
Isi Bensin. Ada yang Tahu Lokasi SPBU ini!? | @kaekaha
  

Setelahnya, kami langsung menuju penginapan “Kampung Karuhun” di Sumedang Selatan. Sempat Melawati Kota Sumedang yang kami kenali dari tulisan besar “Alun-alun Sumedang” di sudut alun-alun. Ternyata dari sini kami masih terus dan terus menjauh dari kota. 
 
Kami terus menyusuri jalanan perkampungan yang relatif sempit tapi beraspal dengan kombinasi rumah penduduk yang relatif jarang, sawah, hutan dan kadang-kadang tampak jurang dengan sungai-sungai  berair mengalir deras.
 
Aliran Sungai Cihonje | @kaekaha
 
Diiringi senja yang basah oleh rintik hujan, mobil kami masih terus menyusuri tepian hutan dan sepertinya malah menjauh dari keramaian. Bukan lagi menjauh dari keramaian Kota Sumedang, tapi kita menjauh dari keramaian kampung terdekat! 
 
Nah lho... kecurigaan saya dan mungkin teman-teman alumni Writingthon lainnya mulai terjawab. Sepertinya ini jawaban misteri “aturan main” disuruh membawa perlengkapan mandi sendiri. Jangan-jangan...?
 
Hutan di Sekitar Penginapan Tampak Hijau Menyejukkan | @kaekaha
 
Memang diluar kebiasaan dalam even Writingthon, kita peserta diwajibkan membawa peralatan mandi sendiri. Bukannya peralatan ini sudah disiapkan oleh penginapan. Lah pasti ada apa-apanya ini!?

Senja benar-benar hampir berganti malam ketika kami sampai di Kampung Karuhun, resort bergaya villa di punggung gunung yang masih dikelilingi hutan lebat dengan bunyi gareng pung alias tonggeret yang bersaut-sautan dan juga kawanan monyet yang terlihat masih cukup banyak bergelantungan di pepohonan sekitar. Selebihnya sunyi dan sepiiiiiii.
 
Registrasi Peserta Writingthon Jelajahi Sumedang 2020 | @kaekaha

Begitu memasuki area Kampung Karuhun, kami langsung disambut oleh panitia dan diminta langsung untuk registrasi dan mengambil semua kelengkapan atribut yang dikemas dalam totte bag cantik dengan ilustrasi Writingthon Jelajahi Sumedang 2020 dan juga mengisi berkas-berkas yang diperlukan untuk kepentingan akomodasi dan lain-lainnya.
 

Dari sini kami baru mengetahui, kalau rombongan kami ternyata menjadi yang paling akhir sampai di lokasi. Untuk peserta dari kawasan Sumedang dan sekitarnya sudah masuk camp sejak siang, sedangkan peserta dengan titik jemput di Jakarta tapi non pesawat terbang sudah tiba di lokasi sejak sebelum waktu Ashar tiba.
 
 
Kampung Karuhun | @kaekaha

Bersabung ke artikel ke-tiga "Malam Pertama" di Writingthon Jelajahi Sumedang

Terima kasih, Semoga bermanfaat

Salam matan Kota 1000 Sungai,
Banjarmasin nan Bungas!

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan KOMBATAN

  

 

 

 





 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 
 
 
 
 
 
 

Minggu, 01 Oktober 2023

Jar Nini, Kalau Mau Nabung Jangan Nunggu Ada Uang Sisa!



Yuk Nabung.... (Foto : Koleksi Pribadi)

Kalimat petuah diatas sebenarnya saya terjemahkan dari petuah Bahasa Banjar Bahari (Petuah Bahasa Banjar Jaman dulu) yang lengkapnya sebagai berikut "Jar Nini, Kalaunya handak manabung, jangan mahadangi ada uang labihan!" Secara umum terjemahannya kurang lebih sama dengan judul tulisan diatas. 

Intinya kalau mau menabung jangan menunggu ada duit sisa dan ungkapan paninian (Bhs. Banjar ; Nenek) tersebut secara tersirat memberi petunjuk agar kita merencanakannya dari awal bukan menunggu sisa di akhir (periode) dan menurut saya petuah paninian tersebut selaras dengan logika sederhana teori ekonomi makro (tertutup) Keynes Y = C + S dimana Y = Pendapatan (income)seharusnya secara teori ekuivalen dengan C = Konsumsi (consumption)ditambah S = Simpanan (Saving). 

Jadi petuah bahari (Bhs. Banjar ; lama/kuno) paninian diatas masih mempunyai relevansi dengan budaya saat ini, khususnya sebagai metode dasar bagi logika kita untuk menggerakkan alam sadar kita untuk peduli pada perencanaan keuangan (menabung) sejak dari awal atau bisa juga diterjemahkan sejak dari muda, sejak ada uang dan atau sejak masih produktif.

Memang, logika petuah paninian dan rumus keynes diatas sebagai dasar dari pola pikir perencanaan keuangan, relatif sangat sederhana dan menyederhanakan simpul kompleksitas elemen riil perekonomian (dalam keluarga) saat ini, karena fakta dilapangan memang tidak sesederhana itu. Banyaknya faktor yang mempengaruhi pola kehidupan masyarakat urban sekarang ini menuntut kecerdasan sikap, mental dan perilaku efektif guna mendapatkan pola perencanaan keuangan yang lebih dinamis, efektif dan efisien. Tapi setidaknya, seperti yang saya sebutkan diatas, konsep logika petuah paninianyang selaras dengan teori keynes diatas masih mempunyai relevansi sebagai dasar pijakan kita masyarakat urban dalam upaya mengelola keuangan. Sederhananya begini,

Teori Keynes (grafis : kelasx.blogspot.co.id)

Konsep Pendapatan = Konsumsi + Menabung, merupakan sebuah rumusan untuk kondisi ideal, karena faktanya masih banyak masyarakat kita yang polanya Pendapatan = Konsumsi atau tidak bisa menabung. Lantas bagaimana solusinya agar elemen S (menabung) bisa muncul? Menurut saya, orang tidak bisa menabung ada 2 (dua) penyebabnya, yaitu

A. Karena memang benar-benar pendapatannya sangat minim atau dibawah/sama dengan kebutuhan konsumsi.

Cara uji sederhana untuk mengetahui perimbangan antara pendapatan (Y), konsumsi (C) dan tabungan (S) bisa dicoba metode atau sistem amplop, caranya sediakan amplop sebanyak jenis rincian kebutuhan. Beri identitas amplop sesuai nama jenis kebutuhannya. Setelah itu, bagi yang berpenghasilan bulanan, bisa langsung membagi penghasilannya sesuai kebutuhan masing-masing pos/amplop. Hasilnya? Tentu ada tiga kemungkinan kurang, cukup/pas dan lebih. 

B. Karena gaya dan pola hidup tanpa konsep perencanaan keuangan. 

Dari kedua penyebab gagal menabung diatas, tentu membutuhkan cara yang berbeda untuk mendapatkan threatment-nya agar bisa move onuntuk menabung. Berikut logika threatment sederhananya,

Untuk kondisi A :

1. Pada keluarga dengan pola pendapatan ini, yang pertama harus dibenahi adalah mindset atau pola pikir tentang konsep menabung. Ikuti petuah paninian diatas, maksudnya jika kita diposisi ini buang jauh-jauh pola menabung menunggu ada sisa atau kelebihan uang, karena pasti tidak akan pernah mungkin terjadi. Jadi pola pikirnya harus dibalik, kita rencanakan semua  dari awal. Kita desain ulang semuanya dengan mengidentifikasikan prioritas kebutuhan kita. Karena inti keberhasilan kita menabung bukan berapa jumlah yang kita punya, tapi sejauh mana kita cermat dan bijaksana dalam mengdentifikasi prioritas kebutuhan kita. Dengan begitu, berapapun yang kita tabung asal konsisten Insha Allah akan menuntun kita pada pola kehidupan yang lebih teratur, berimbang dan memberi manfaat.

2. Bila mindset sudah bisa dikendalikan dan diajak kompromi, tapi konsep menabung dan tabungan masih belum maksimal teraplikasi. Bisa jadi penghasilan kita memang pas, atau Y = C. Kalau ini yang terjadi, berarti kita harus segera melangkah pada threatment berikutnya. Dari skala prioritas yang sudah kita susun tentu kita bisa melihat pos-pos mana yang mungkin tidak telalu urgentsehingga bisa dikurangi atau justeru di hilangkan. Sehingga alokasi dananya bisa dialihkan sebagian atau seluruhnya untuk simpanan.

Misalkan :

Diantara pos kebutuhan kita ada pos untuk entertaint seperti jalan-jalan atau berlibur, mungkin karena pos ini kurang urgent bisa dikurangi frekuensinya, sehingga anggaran pos-nya bisa dialihkan untuk tabungan.

3. Jika strategi pada point 2 diatas tetap tidak bisa memberikan kontribusi pada elemen S (tabungan) atau ada tapi tidak terlalu signifikan, berarti  harus segera melangkah pada threatment berikutnya, yaitu dengan mencari penghasilan tambahan.

Misalkan :

Di Banjarmasin banyak pencari ikan atau biasa disebut bubuhan paunjunan(Kelompok Pemancing), yang setelah mendapatkan ikan haruan (ikan gabus/kutuk) berbagai ukuran langsung dijual ke pengepul, mungkin polanya harus dirubah. Bila hasil melimpah jangan dijual semua, sebagian di keringkan dan yang masih kecil-kecil bisa dibesarkan dalam keramba. Bagus lagi, jika ikan haruan yang didapat dijual dalam bentuk olahan jadi atau masak, sehingga memberi nilai/harga yang lebih tinggi.

Untuk kondisi B :

Sebenarnya kurang lebih sama diawalnya, mungkin akan berbeda pada threatment lanjutannya. Berikut deskripsinya

1. Pada tahap awal, mindset atau pola pikir tentang konsep hidup, khususnya perencanaan keuangan (menabung) harus di setting ulang. Logika umumnya, sebagai manusia normal, untuk menjalankan sunatullah sebagai manusia tentu kita harus berpikir lebih jauh dari langkah kita sekarang. Kita harus menata dan mempersiapkan masa depan kita dengan perencanaan sebaik mungkin sebagai bagian dari ikhtiar kita. Selebihnya biar Tuhan yang memberikan jalan takdirnya.

Perencanaan keuangan metode amplop (Foto : Koleksi Pribadi)

2. Setelah mindset sudah bisa dikendalikan, coba ikuti petuah paninian diatas dan lanjutkan dengan mengaplikasikan perencanaan keuangan metode amplop seperti diatas, tapi dengan tujuan berbeda. Kalau contoh diatas tujuannya untuk memetakan posisi keuangan kita terhadap berbagai kebutuhan, disini tujuannya lebih kepada mengikuti pola perencanaan di awal atau secara sengaja memang mengalokasikan dana untuk ditabung dari awal, bukan menabung karena ada sisa.     

Kalau metode amplop sudah berjalan secara konsisten dan dalam periode tertentu mulai terlihat ada hasil apalagi hasil yang signifikan, biasanya akan memberikan kepuasan dan biasanya lagi akan memacu untuk lebih efektif dan efisien dalam menjalani hidup dan kehidupan. Sampai pada tahap ini, lebih bagus lagi jika dana tabungan yang ada dikembangkan lagi melalui berbagai instrument investasi atau bisa juga untuk berwirausaha sesuai dengan minat, keahlian atau kemampuan yang dimiliki.


Tabungan Bank Syariah (Foto ; Koleksi Pribadi)


Pernak-pernik Perencanaan di Era Modern

Menabung, dalam bentuk uang, emas atau barang dan bahan pokok sejatinya sudah menjadi kebiasaan atau budaya masyarakat kita sejak dulu. Salah satu buktinya adalah adanya petuah dari paniniandiatas. Bukti lebih konkrit kita bisa melihat keberadaan lumbung padi di desa-desa yang sampai sekarang masih banyak yang eksis atau juga kotak perhiasan untuk menyimpan emas bagi para saudagar-saudagar jaman dulu dan mungkin yang paling sering kita lihat adalah berbagai bentuk celengan yang sejak kecil tentu sudah akrab dengan kita. Ada yang berbentuk ayam jago, burung, buah-buahan, bahkan ada juga yang berbentuk rumah-rumahan. Celengan jaman dulu selain bentuknya yang unik, bahan pembuatnya juga macam-macam, mulai dari keramik kaolin, tanah liat, seng, plastic sampai kayu atau bambu. Unik ya….!?

Tradisi menabung bahan pokok di lumbung padi (Foto : lps.go.id)

Menabung, merupakan salah satu aplikasi dari perencanaan keuangan yang paling umum di terapkan oleh masyarakat. Untuk secara tradisional, biasanya masyarakat menabung uang dengan memakai media celengan, dibawah kasur, di dalam bumbung tiang rumah dari bamboo dll. Sedangkan untuk cara yang lebih modern, lembaga perbankan merupakan institusi yang paling tepat untuk menabung.

Tapi inilah fakta unik masyaraklat Indonesia! Meskipun budaya menabung pada dasarnya sudah menjadi bagian dari tradisi turun temurun, tapi uniknya untuk tabungan yang sifatnya formal di lembaga perbankan sepertinya masyarakat masih belum begitu antusias. Terbukti, dari publikasi data Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) di tahun 2015 dari total hampir 250 juta penduduk Indonesia baru sekitar 60 juta orang yang menjadi nasabah perbankan. Artinya prosentase penduduk Indonesia yang mau menabung di lembaga perbankan baru sekitar 25%.

Memang harus diakui, sejauh ini pemahaman masyarakat terhadap institusi perbankan masih relatif terbatas. Terutama di daerah pedesaan yang minim akses, baik edukasi (pendidikan), transportasi,  teknologi maupun komunikasi. Masyarakat masih banyak yang belum memahami tentang konsep legalitas, teknis perbankan apalagi perkembangan aplikasi teknologi perbankan yang semakin maju pesat.  

Kebakaran, salah satu resiko menyimpan uang di rumah (Foto : lps.go.id)

Seperti di daerah saya, sampai sekarang masih ada saja seorang juragan itik yang tidak percaya dengan keamanan menyimpan uang di bank. Boleh percaya boleh tidak! Konon menurut keluarganya, uang yang jumlahnya ratusan juta, bahkan bisa jadi sampai milyaran hanya di taruh dalam lemari brankas saja, tanpa memperhitungkan resiko keamanannya, seperti bahaya kebakaran atau perampokan. Sementara di sisi masyarakat yang lain masih muncul berbagai ironi, bank masih dianggap sebagai “rumah uang”, jadi keberadaannya dianggap hanya untuk kalangan beruang (baca : mempunyai uang) saja!

Selain minimnya akses informasi tentang dunia perbankan, penyebab lain rendahnya minat masyarakat menabubg di bank ditengarai karena sebagian besar masyarakat pada dasarnya masih belum memahami konsep menabung ala petuah paniniandiatas. Sebagian besar masyarakat masih menganggap menabung adalah menyimpan uang sisa  atau uang labihan dari biaya kebutuhan hidup dalam periode tertentu.

Disinilah, mungkin tantangan kedepan yang paling nyata bagi perbankan dan berbagai lembaga yang berkaitan dengan produktifitas dunia keuangan seperti OJK dan LPS! Sosialisasi dan edukasi berkelanjutan kepada seluruh lapisan masyarakat di seluruh pelosok Indonesia masih sangat diperlukan.

Logo LPS (grafis : lps.go.id)

Inilah fakta ironi yang harus segera dicarikan solusinya. Masyarakat harus tahu, keberadaan berbagai produk hukum termasuk lembaga yang mengatur dan menjamin sekaligus mengawasi transaksi perbankan di Indonesia, sehingga masyarakat akan lebih terbuka dengan akses dunia perbankan, karena aspek kemanan, legalitas dan kepastian pelaksanaan hak dan kewajiban antara keduanya lebih terjamin.

Salah satu contoh lembaga yang perlu disosialisaikan kepada masyarakat lebih intensif dan berkesinambungan adalah, keberadaan LPS (Lembaga Penjamin Simpanan) sebagai lembaga mandiri yang berdiri berdasar UU No. 24/2004 dengan tugas utama menjamin simpanan nasabah di bank sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap lembaga perbankan.

Infografis tentang LPS (Grafis : lps.go.id)

Masyarakat harus tahu prinsip kerja LPS, yaitu menjamin simpanan nasabah pada seluruh bank konvensional dan bank syariah yang memiliki izin beroperasi di Indonesia, termasuk di dalamnya bank umum dan Bank Perkreditan Rakyat (BPR) maksimal sebesar Rp. 2 Miliar/nasabah/bank [pokok simpanan + bunga (bank konvensional) atau bagi hasil (bank syariah)]. Artinya, masyarakat atau nasabah tidak perlu khawatir uang tabungan akan hilang jika kebetulan bank tempat menabung sedang bermasalah atau bahkan berhenti beroperasi, karena LPS akan membayar simpanan tersebut dalam waktu 5 hari setelah simpanan dinyatakan layak bayar  dengan memenuhi tiga persyaratan (3T), yaitu

Syarat simpanan nasabah yang dijamin LPS (grafis : lps.go.id)

  1. Tercatat dalam pembukuan bank.
  2. Tingkat bunga simpanan tidak melebihi tingkat bunga yang ditetapkan LPS.
  3. Tidak melakukan tindakan yang merugikan bank, seperti memiliki kredit macet.

Anda sudah tahu?

Mempunyai akses dengan dunia perbankan di jaman sekarang sepertinya buka sebuah kewajiban lagi! Tapi sudah menjadi kebutuhan bagi masyarakat. Selain fungsi utama sebagai lembaga yang akan membantu mengelola perencanaan keuangan masyarakat, baik sebagai individu maupun organisasi/kelompok dalam bentuk tabungan dengan berbagai variasi jenis dan model perencanaan didalamnya, berbagai fitur layanan perbankan seperti jasa transfer/pengiriman uang, fasilitas kredit dan produk-produk lainnya sepertinya akan semakin mempermudah proses kerja dan kinerja kita, termasuk strategi jitu kita untuk merencanakan keuangan dalam menjalani kehidupan yang penuh  dinamika kedepannya. Jadi tunggu apa lagi? Yuk menabung di Bank terbaik pilihan anda!!

 

Semoga bermanfaat!

Salam dari Kota 1000 Sungai,
Banjarmasin nan Bungas!

Artikel ini juga tayang di Kompasiana pada 16 Mei 2016  jam  22:08 WIB (klik disini untuk membaca)


Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN

 

 

 

Senin, 04 September 2023

Merindukan Kerlap-kerlip Lampu Rumah Lanting di Sungai Martapura, Banjarmasin

Pemukiman Rumah Rumah Lanting di Tepian Sungai Barito | Republika

LANTING NINI 

Di atas sungai maapung rumah kayu
Bahatap daun, dinding basusun sirih
Palindung, panaduh pacang hidup, pang hidup
Jukung di higa bajarat pintang tanjak

Ta'ilan malam balantak baisukan
Nini saurangan manggatar kadinginan
Tabungkuk-bungkuk kaluar matan lawang lanting, batiti
Suluh di tangan panarang kajajakan

Di atas lanting, nini pang guring, nini pang makan
 Di atas lanting, nini sumbahyang, nini pang hidup

Basah bahalai limbah mambangkit lukah
Di sala batang ada jua kolehan
Balenggang lanting diayun galumbang, calap
Manyalau hari banyu mara ka hulu

Lagu berlirik bahasa Banjar dengan judul Lanting Nini, salah satu karya emas dari Alm. Ennos Karli yang juga tercatat sebagai  salah satu maestro lagu-lagu Banjar diatas menceritakan tentang rumah lanting, salah satu warisan kearifan tradisi dan budaya sungai, khas Urang Banjar berikut aktifitas paninian (nenek-nenek ; bhs Banjar) yang menediaminya.

Selain lagu legendaris Lanting Nini diatas, setidaknya ada beberapa lagi lagu banjar yang bakisah (bercerita ; bhs Banjar) tentang eloknya tradisi budaya rumah lanting yang tak kalah legend-nya, salah satunya yang paling saya suka adalah lagu dengan sound klasik nan unik yang kadang-kadang memunculkan kesan mistis dan juga misterius, berjudul  singgah di lanting karya S. Hendro. 




 

Apa Itu Rumah Lanting?

Dari wikipedia, rumah lanting  diartikan sebagai rumah rakit tradisional dengan pondasi rakit mengapung terdiri dari susunan tiga buah batang pohon kayu yang besar. 

Rumah lanting merupakan desain rumah portabel semi permanen khas masyarakat Banjar sebagai bentuk adaptasi terhadap fakta geografis wilayahnya sebagai kawasan dataran rendah yang didominasi perairan darat permanen, dimana rumah dibangun diatas permukaan air di tepian sungai dengan pondasi apung berupa kayu log atau batang kayu gelondongan utuh dengan kuantitas sesuai kebutuhan yang bisa berpindah dan juga dipindahkan kapan saja dengan menggunakan tenaga arus sungai.

Sejenis dengan rumah lanting menurut wikipedia juga terdapat di sepanjang DAS Musi di Palembang, Sumatera Selatan yang oleh masyarakat setempat disebut sebagai rumah rakit. Sedangkan di Pulau Kalimantan sendiri, rumah lanting  selain ditemukan di sepanjang DAS Barito yang memanjang dari pedalaman Kalimantan Tengah di daerah hulu Barito sampai ke Kalimantan Selatan, khususnya di Kota Banjarmasin, juga ditemukan di berbagai DAS di Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur.  

Untuk menjaga pergerakan akibat arus sungai, seperti jukung, kelotok dan alat transportasi khas sungai lainnya, rumah lanting juga harus ditambatkan dengan cara mengaitkan tali tambang dari bangunan rumah lanting ke tihang pancang (tiang pancang;bhs Banjar) dari besi ataupun kayu ulin (Eusideroxylon zwageri) di tepian sungai. 


Miniatur Model Rumah Lanting Sederhana | Koleksi TROPENMUSEUM, Belanda

Bangunan rumah diatas pondasi "pengapung" tersebut semuanya berbahan dasar kayu, khusus untuk pondasi pengapung, karena sekarang untuk mendapatkan kayu log utuh sangat sulit, maka untk merenovasi rumah lanting, rata-rata menggantinya dengan paring alias bambu dengan cara menyatukan beberapa ruas sesuai kebutuhan.

Untuk bahan tawing (dinding;bhs banjar) dan lantai, seperti layaknya rumah tradisional Banjar pada umumnya, biasanya menggunakan kayu ulin (Eusideroxylon zwageri)tapi karena kayu ulin semakin mahal, khusus untuk bagian tawing inimasyarakat telah banyak yang menggunakan jenis kayu lain yang lebih murah, tapi tetap mempunyai kekuatan yang raltif tahan lama. Itulah sebabnya, rumah lanting jadul dapat bertahan hingga 50 tahun atau setengah abad. 

Sedangkan untuk bagian atap, sebagian besar menggunakan atap rumbia dan sebagian saja yang menggunakan atap sirap. Tapi, dari sekian banyak rumah lanting yang masih eksis di seputaran Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas! Seperti di kawasan kampung Pasar Lama, Seberang Mesjid, Sei Jingah, Sei Lulut, Sei Alalak, Pengambangan dan juga di Banua Anyar semuanya sudah beralih menggunakan atap dari bahan seng.

Rumah lanting yang pada umumnya dibangun sederhana dengan konsep minimalis dengan mengadopsi layaknya bangun persegipanjang dengan komposisi melebar kebagian kiri atau kanan dengan ukuran umum antara 4 x 3 meter hingga 5 x 4 meter saja, juga dilengkapi layaknya elemen bangunan rumah pada umumnya, seperti lawang (pintu), lalungkang (jendela) dan juga beberapa fungsi ruangan, seperti ruang tamu, ruang tidur dan dapur. Sedangkan untuk toilet dan kamar mandi umumnya dibangun secara terpisah dari bangunan induk.

Untuk berhubungan dan berkomunikasi dengan daratan yang umumnya berjarak sekitar 2 sampai 3 meter , biasanya disekitar pemukiman rumah-rumah lanting juga dibangun titian atau semacam jembatan kecil penghubung ke daratan yang biasanya terbuat dari kayu ulin atau ada juga yang menggunakan material dari bahan pohon kelapa (Cocos nucifera) tua yang juga sangat kuat.


Barisan Rumah Lanting | didimeka.blogspot.com

Keunikan Rumah Lanting

Jika memperhatikan kawasan pemukiman rumah lanting yang tersisa di Kota 1000 Sungai seperti tersebut diatas, kawasan-kawasan tersebut dulunya merupakan jalur lalulintas transportasi sungai dan juga perdagangan masyarakat dari dan menuju pedalaman DAS Martapura yang juga menginduk ke DAS Barito  yang pada masanya tidak pernah sepi dari keramaian dan juga hiruk pikuk tranksaksi perdagangan lintas daerah. 

Tidak heran jika beragam alat transportasi sungai, baik yang masih tradisional maupun modern, dari yang paling kecil seperti jukung, kelotok dan speedboat sampai yang paling besar seperti bus air biasa hilir mudik di kawasan ini baik untuk mengantarkan penumpang maupun barang-barang logistik keperluan masyarakat, termasuk sembako. 

Inilah sensasi unik tinggal di rumah lanting! Selain desain arsitekturnya yang unik,  juga fisik bangunannya yang terus mengapung mengikuti ketinggian permukaan air sungai, sehingga bisa memungkinkan untuk pindah tempat kapan saja dan pastinya tidak akan mungkin untuk kebanjiran, sensasi tinggal di rumah lanting juga tidak kalah seru! 

Tidak jauh berbeda dengan tinggal diatas kapal, berdiam di dalam rumah lanting juga bisa merasakan "goyangan" riak permukaan sungai akibat adanya aktifitas lalu lintas transportasi sungai yang intensitas dan juga kekuatannya tergantung dari jenis dan juga kerapatan lalulintas alat transportasi yang lalu-lalang. Asyik kan?

Barisan Rumah Lanting | didimeka.blogspot.com

Rumah lanting khas Suku Banjar di aliran Sungai Martapura, Kota Banjarmasin yang masih bertahan | Donny Muslim/banjarhits.id 

Fakta Terkini Rumah Lanting

Rumah Lanting sebagai salah satu kearifan lokal budaya sungai khas masyarakat Banjar yang telah berusia ratusan tahun, sekaligus salah satu jenis hunian tradisional khas Suku Banjar, eksistensinya terus meredup tergilas modernisasi dan juga pragmatisme zaman. Khusus di Kota Banjarmasin, populasinya saat ini bisa dibilang tinggal hitungan jari saja.

Pemandangan ini sangat kontras dengan medio 2000-an atau sekitar dua dekade silam. Tidak usah jauh-jauh, di kawasan kampung ketupat di Sungai Baru yang merupakan anak sungai dari DAS Martapura yang berada tepat di jantung Kota 1000 Sungai, saat itu masih banyak rumah lanting yang berdiri di tepian sungai yang sebenarnya relatif tidak terlalu lebar dan hanya biasa dilewati jukung atau kelotok itu.

Uniknya, fakta kontradiktif lenyapnya salah satu ikon budaya sungai khas Urang Banjar ini terjadi dan berlangsung secara masif, justeru sejak pemerintah Kota berniat untuk merevitalisasi sungai-sungai yang membelah wilayah daratan Kota Banjarmasin , kira-kira sejak tahun 2015. Kebijakan  pemerintah Kota merelokasi dan merehabilitasi rumah lanting tidak berjalan seperti yang diharapkan dan justeru terkesan "menghapus" keberadaan rumah lanting di tepian sungai-sungai yang ada di Banjarmasin.


Suasana Pemukiman di Tepian Sungai Kota Banjarmasin | apahabar.com

Memang harus diakui, revitalisasi berbagai sungai yang dilakukan oleh pemerintah Kota sejauh ini memang memberikan dampak signifikan bagi ekosistem sungai dan juga pariwisata di Kota Banjarmasin yang memang terus terus berusaha bertransformasi menjadi kota wisata sungai terbaik di dunia, tapi kebijakan yang juga berdampak "terhapusnya" salah satu elemen tradisi budaya sungai tetap saja bukan opsi terbaik!

Karena  rumah lanting bukan hanya sekedar rumah tinggal mengapung di tepian sungai semata, tapi didalamnya juga menyimpan khazanah kearifan tradisi dan budaya unik dan khas masyarakat Banjar yang begitu otentik dan tak ternilai, mulai dari keunikan arsitektur, teknologi ramah lingkungan, kecerdasan adaptif pada alam dan lingkungan, fleksibilitasnya yang luar biasa dan lain-lain. 

Artinya, ada banyak elemen yang sangat berharga dalam sebuah bangunan rumah lanting yang akhirnya ikut lenyap dan terkubur oleh waktu ketika pemerintah justeru merelokasi dan merehabilitasi pemukiman terapung tanpa ada upaya untuk melestarikannya. 


Memindahkan Rumah Lanting Zaman Sekarang dengan Bantuan Kelotok atau Perahu Bermesin Tempel | wikipedia

Pandangan ini senada dengan pernyataan Ketua Lembaga Kajian Sejarah, Sosial dan Budaya (LKS2B) Kalimantan, Mansyur yang menyatakan bahawa "Eksistensi lanting dalam masyarakat Banjar memiliki salah satu nilai penting sebagai pelestarian kebudayaan yang dimiliki. Begitu juga dengan pandangan dosen Arsitektur Universitas Lambung Mangkurat, Ira Mentayani,.

Menurutnya, Kota Banjarmasin tidak perlu meniru negara-negara lain dalam mendesain revitalisasi kebermanfaatan potensi sungai, karena karakteristik budaya asli Suku Banjar yang identik sekaligus otentik sungainya, memang sangat menarik dan mempunyai nilai-nilai estetika mumpuni sekaligus bernilai tinggi jika benar-benar dikelola dan dikembangkan dengan baik secara maksimal. Salah satunya, ya dengan merevitalisasi berbagai kearifan rumah lanting yang berdiri tepian berbagai sungai. 

Memang, secara faktual bangunan rumah lanting yang masih tersisa banyak yang terlihat tidak sedap dipandang mata, sehingga memberi kesan kumuh, kotor dan jorok. Ya wajar saja, karena sebagian besar bangunan rumah lanting yang masih tersisa memang hanya difungsikan sekedar sebagai rumah tinggal pribadi yang sepertinya samasekali tanpa sentuhan pembinaan yang memadai dari berbagai pihak yang berkepentingan, khsusnya untuk urusan estetika apalagi untuk perawatannya dan itu semua masih sangat bisa untuk disempurnakan


Barisan Rumah Lanting | didimeka.blogspot.com

Sayangnya, sampai hari ini sepertinya memang belum ada niatan pemerintah untuk melestarikan keberadaan bangunan rumah lanting di sungai-sungai yang membelah Kota Banjarmasin tersebut, atau setidaknya memberdayakannya dengan cara membinanya sebagai bagian dari pelestarian budaya  atau syukur-syukur sekaligus membedahnya agar menjadi lebih layak dan menarik, sehingga juga bisa menjadi daya tarik bagi pelancong yang datang ke Banjarmasin.

Syukurnya, ditengah-tengah menghilangnya penampakan sebagian besar rumah lanting, juga memunculkan banyak ide cemerlang dari masyarakat yang sejatinya juga tidak rela budaya unik khas Urang Banjar ini kelak hanya menjadi dongeng bagi anak cucu, termasuk saya yang terus merindukan kerlap-kerlip lampunya di malam hari yang begitu indah dan selalu membuat karindangan (rindu berat;bhs Banjar).

Buktinya, banyak sekali bermunculan ide-ide segar untuk melestarikan rumah lanting, bahkan tidak hanya ide dari segi arsitektur dan materi fisik bangunannya saja, tapi juga dari segi pemanfaatannya, seperti dijadikan rumah makan apung, perpustakaan, juga hotel atau penginapan dan banyak lagi yang lainnya.


Semoga bermanfaat!

Salam dari Kota 1000 Sungai,
Banjarmasin nan Bungas!


Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN