Selasa, 26 November 2019

Napak Tilas Liburan Charlie Chaplin di Garut Tahun 1932


Charlie Chaplin (stmed.net)
Sepertinya masyarakat Indonesia masih banyak yang belum mengetahui kalau Charlie Chaplin, komedian legendaris asal Inggris yang terkenal dengan perannya sebagai The Tram dalam film bisu tahun 20-an pernah “berlibur” ke Indonesia dan singgah ke Kota Garut di Jawa Barat pada tahun 1932 dan 1936.


Menurut catatan paling “sahih”, artikel Catatan Para Pelancong Doeloe (6): Charlie Chaplin dan Kenangan Guguling “the Dutch Wife” (1932), dituliskan kronologi kedatangan Charlie Chaplin saat pertama kali singgah ke Garut tahun 1932 ditemani saudaranya, Sydney Chaplin. 


Liburan Charlie Chaplin di Indonesia diatur oleh Cook’s Reisbureau (biro perjalanan Cook’s). Tiba dari Singapura tanggal 30 Maret dengan menggunakan kapal Van Lansbergediatur, Chaplin bersaudara sempat singgah sebentar di Batavia (Jakarta), siangnya lanjut ke Bandung dengan menggunakan mobil. Setelah beristirahat, perjalanan dilanjutkan menuju Garut dan sampai pada tengah malam. Besoknya, sore tanggal 31 Maret Chaplin bersaudara menuju Jogjakarta dari Garut menggunakan kereta api dan tanggal 1 April 1932 tiba di Surabaya. Kemudian langsung dilanjut ke Bali dengan menggunakan kapal laut.

Charlie Chaplin di depan peron stasiun Garut, 1932
(naratasgaroet.net)
Kenapa Garut?

Merujuk beberapa literatur terkait sejarah pariwisata Garut, terungkap fakta menarik! Ternyata Charlie Chaplin bukanlah satu-satunya pesohor dunia yang kepincut alam Garut di era tahun 30-an tersebut, masih ada beberapa pesohor ternama dunia yang pernah menghabiskan liburannya di Garut.

Sebut saja Mr. Dirk Fock, Gubernur Jenderal Hindia Belanda (1921-1926), George Clemenceu Perdana Menteri Prancis (1906-1909), novelis dan penyair Belanda Louis Couperus, artis film Kanada Mary Pickford, Pangeran Leopold III (Belgia), Putri Astrid (Swedia), artis Jerman akhir 1920-an, Renate Muller dan Hans Albers, semuanya pernah tergoda menikmati alam Garut yang mempesona, bahkan Pablo Neruda, seorang penyair kenamaan dari Chili pernah berbulan madu di Garut pada Desember 1930.

Pemandangan lembah Garoet dari kolam air mancur hotel Grand Ngamplang.
(KITLV, sekitar 1925)/(naratasgaroet.net)
Artinya, saat itu Garut sudah dikenal masyarakat Eropa sebagai destinasi wisata alam yang mempesona, sampai julukan Switzerland van Java dan Paradijs van het Oosten (Surga dari Dunia Timur) juga ungkapan Garoet Mooi akhirnya tersemat. Bahkan, konon ratu Belanda, Wilhelmina Helena Pauline Marie van Orange-Nassau (1880-1962), dikabarkan juga memiliki tempat peristirahatan di Garut.

Secara teori, fakta bahwa Garut yang sudah terkenal di Eropa menjadi penyebab utama Charlie Chaplin memilih Garut sebagai destinasi liburan sekaligus tempat menginap saat itu memang paling masuk akal. 

Apalagi saat itu di Garut sudah berdiri beberapa hotel dengan layanan kelas Eropa, termasuk Hotel Grand Ngamplang yang menjadi tempat menginap Charlie Chaplin selama di Garut dan “pembuktian” pada liburan pertama di tahun 1932 menjadi magnet untuk liburan kedua Charlie Chaplin ke Garut tahun 1936.

Charlie Chaplin tanpa riasan
(hot.detik.com)
Pada liburan pertama tahun 1932, Chaplin bersaudara tiba di Garut, pada tanggal 30 Maret 1932 tengah malam dan menginap di Hotel Grand Ngamplang, hotel bersejarah yang sekarang masuk program revitalisasi dan  dalam proses renovasi besar-besaran.

Ketika bangun pagi, Sidney Chaplin baru menyadari bahwa hotel yang ditempatinya ternyata mempunyai pemandangan yang sangat indah berupa perpaduan gunung-gunung dan lembah. “In the morning we found the hotel had a beautiful view over the mountains and valleys.” kata Siydney Chaplin.


View lansekap Garut dari Hotel Grand Ngamplang yang mirip dengan suasana kampung halaman Charlie Chaplin di Corsier-sur-Vevey, Swiss yang didiaminya sampai meninggal dunia, diduga menjadi asal muasal tercetusnya julukan Switzerland van Java untuk Garut.



Kliping Charlie Chaplin pergi menuju Garoet.
(Bataviaasch Nieuwsblad tanggal 31 Maret 1932)/
(naratasgaroet.net).

Garoet, 31 Maret 1932 

Catatan "resmi" terkait aktivitas Charlie dan Sydney Chaplin sepanjang hari di Garut tanggal 31 Maret 1932 adalah pelesiran ke Tjisoeroepan Hot Springs (kawah Papandayan), Lake Leles (situ Cangkuang) dan Situ Bagendit.
Jadi, kalau mau menapaktilasi liburan Charlie Chaplin di Garut, setidaknya ada 4 (empat) destinasi wisata yang wajib masuk daftar kunjungan, yaitu 

1.      Hotel Grand Ngamplang, bangunan asli dari fasilitas hotel ini memang sudah tidak ada, karena sengaja dibumi hanguskan pada saat perang kemerdekaan dan hanya menyisakan kolam air mancur di tengah bukit. Sekarang, di kawasan aset negara yang berada dalam pengawasan Kodam III/Siliwangi melalui Korem 062/Tarumanagara ini tengah dilakukan renovasi besar-besaran, jadi belum bisa untuk menginap. Tapi nggak usah kawatir! Karena untuk urusan menginap, banyak hotel murah di Garut yang akan memanjakan aktifitas jalan-jalan anda di Kota Garut dengan fasilitas terbaiknya, termasuk jaringan OYO Hotels Indonesia yang sudah tersohor.
2.      Kawah Papandayan, berjarak sekitar 24 km dari Kota Garut, selain menyajikan view pegunungan yang cantik, pengalaman terapi mandi air panas dengan sulfur yang yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit tentu sangat menggoda.

 


Cantiknya Situ Cangkuang masih terjaga
(dokpri/@kaekaha)
3.   Situ Cangkuang, danau seluas sekitar 10 ha yang dikenal dengan sebutan Lake Leles  oleh Charlie Chaplin ini selain menyajikan fragmentasi alam khas tataran tanah Garut yang indah berupa bentang danau berpagar gunung-gunung tinggi menjulang, juga menyimpan destinasi budaya dan sejarah yang sangat penting sekaligus menarik untuk dikunjungi, yaitu Kampung adat Pulo, situs makam Mbah Dalem Arif Muhamad dan situs Candi Hindu peninggalan abad ke-7 yang kesemuanya berada di sebuah pulau yang letaknya di tengah-tengah situ Cangkuang. 

4.    Situ Bagendit, lansekap danau yang bersama-sama dengan Situ Cangkuang dan juga perkebunan teh Dayeuh Manggung pada bulan September lalu diresmikan oleh menteri Pariwisata Arief Yahya sebagai pasar wisata digital ini mempunyai view yang tidak kalah menarik dengan Situ Cangkuang, yaitu hamparan perairan darat yang begitu meneduhkan dengan berpagar gunung-gunung menjulang khas Garut.

Sebenarnya, ada satu destinasi lagi yang seharusnya masuk daftar kunjungan, yaitu Stasiun kereta api Kota Garut atau Stasiun Cibatu yang menurut catatan beberapa literatur menjadi titik kedatangan Charlie Chaplin untuk kali kedua ke Garut tahun 1936, bersama dengan artis Paulette Goddard. Beruntungnya, stasiun kereta api Kota Garut yang sejak tahun 1983 ditutup karena kalah bersaing dengan moda transportasi lain itu, sekarang juga tengah direnovasi total guna reaktivasi  jalur kereta api Cibatu–Cikajang.

Cantiknya Persawahan di Cilawu, Garut
(Rendy Rizky Binawanto)

Menikmati Garut Seutuhnya!

Romantisme masa lalu Garut bersama destinasi alamnya yang sudah tersohor sampai daratan Eropa memang bukan isapan jempol semata, sampai sekarang eksotika serta keunikan topografis alam Garut yang spesifik masih ada dan tetap terjaga. 

Lansekap alam pegunungan yang memagari wilayah bagian timur, utara dan barat serta ekosistem alam dataran rendah berupa pantai yang berbatasan langsung dengan Samudera Indonesia di bagian selatan menjadi kombinasi topografi alam yang sempurna. Jarang ada daerah dengan jenis topografis serupa di muka bumi!

Keliling Kota Garut Asyiknya Naik "SONAGAR"
(dokpri/@kaekaha)
Alam Garut memang mempesona, jika menyebut eksotisnya alam Gunung Papandayan, Permandian Cipanas Garut, Situ Bagendit, Pantai Santolo, Sungai Cimanuk, Kawah Putih Talaga Bodas dan puluhan lainnya, siapa yang akan meragukan? Tapi sejatinya, Garut tidak hanya mempunyai alam yang unik dan indah saja! Garut juga mempunyai beragam destinasi budaya, sejarah, kuliner dan juga beragam cindera mata (craft) khas Garut yang tidak kalah mempesonanya. 

Ini yang bisa kita nikmati selama liburan di Garut, selain menjelajah alamnya yang eksotis!
 
A.       Destinasi Budaya,
Tradisi “Nyaneut ” merupakan tradisi minum teh kejek khas masyarakat Sunda di kaki Gunung Cikuray, Garut yang masih terjaga sampai saat ini. Sensasi menikmati hangatnya teh bercitarasa juara dalam dinginnya udara kaki Gunung Cikuray akan memberi anda suasana hangat yang terindah.



Seni Akrobatik “Lais”, merupakan jenis atraksi seni akrobatik khas Garut di ketinggian 12 - 13 meter dua batang bambu berjarak sekitar 6 meter yang dihubungkan dengan seutas tali tambang dan biasanya diiringi musik tradisional Sunda.

Ragam Raja Domba, Garut mempunyai beberapa tradisi seperti Kontes domba yang didalamnya terdiri dari beberapa jenis lomba, seperti seni laga ketangkasan, raja petet, raja kasep, dan raja pedaging.
Selain itu, Garut juga mempunyai festival Raja Dogar alias Raja Domba Garut, mirip atraksi Barongsai tapi dalam bentuk domba Garut.



Babancong Berusia Ratusan Tahun
(dokpri/@kaekaha)

B.     Destinasi Sejarah,
Babancong dan Kompleks Pendopo Garut,
bangunan unik didalam lingkungan pendopo pemerintah Garut yang digunakan oleh penguasa atau pejabat pemerintahan Garut berpidato atau melihat aktifitas masyarakatnya ini telah berusia ratusan tahun.

Selain itu ada juga situs Candi Cangkuang dan Kampung Adat Pulo, Stasiun Garut atau Stasiun Cibatu (sudah dijelaskan diatas).


Soto khas Garut Haji Ahri
(travelingyuk.com)
C.     Destinasi Kuliner
Makanan Berat, sarapan pagi dengan menu Soto khas Garut Haji Ahri, Soto khas Garut Legendaris yang mulai eksis sejak tahun 1940-an ditemani dorokdok atau kerupuk kulit khas Garut dengan bumbu istimewa yang gurihnya selalu ngangeni dijamin pasti nambah!

Makan siang nasi liwet khas Garut dipadu dengan Sambal Cibiuk merah atau Cibiuk hijau yang pedasnya nendang sangat pas dengan penawar es Goyobod, es campur khas Garut dan tataran Sunda yang konon namanya berasal dari Bahasa Belanda “Goyobod” yang berarti basah tersebut dan terakhir, citarasa manis segar buah jeruk Garut paling pas menjadi pencuci mulut siang yang terik. 

Untuk makan malam, beragam bakso Aci juga Cuanki akronim Cari uang jalan kaki, kuliner mirip bakwan Malang asli dari Garut yang lebih terkenal di Bandung ini menjadi rekomendasi utama bagi penikmat kuliner berkuah kaldu.
Kue Burayot dan Awug (tribunnews.com)
Kudapan dan Kue, setelah sarapan atau agak siang sedikit, ketika perut mulai agak lapar, pas banget mencoba kue Awug, kue tradisonal khas Garut yang terbuat dari tepung beras, kelapa dan gula merah khas Garut yang rasanya manis gurih ini paling nikmat disantap saat masih hangat.
Selain itu ada juga Burayot, Wajit,  si-legit ladu dan tentu saja icon Garut yang sudah melegenda, yaitu Dodol, khususnya Dodol Picnic yang mempunya julukan "oleh-oleh sejuta umat". Terbaru, Garut juga mempunyai icon baru yang cukup fenomenal, yaitu Cokelat Chocodot yang telah melanglang buana ke seluruh penjuru Indonesia dan dunia. 

Kuliner CUANKI khas Garut
(dokpri/@kaekaha)
Makanan Ringan, di level ini keberadaan dorokdok, kerupuk kulit, emplod Lewo yang renyah dan gurih dan Opak Bungbulang yang renyah.
D.    Destinasi Kerajinan Tangan (Craft)
Garut mempunyai 4 (empat) kerajinan unggulan yang sangat layak menjadi oleh-oleh semau wisatawan, yaitu

Salah satu hasil kerajinan kulit dari Sukaregang, Garut
(dokpri/@kaekaha)
Kerajinan Kulit, sentra industri kerajinan kulit di Kota Garut sebagian besar berada di kawasan Sukaregang dan beberapa desa disekitarnya yang masih masuk wilayah Kecamatan Kota Garut.  Produk hasil kerajinan kulit dari Sukaregang yang paling terkenal adalah produk fashion berupa jaket yang di luar Garut biasa dikenal dengan sebutan “Jaket Kulit Garut”, walaupun sebenarnya hampir semua produk fashion dan aksesoris berbahan dasar kulit seperti rompi, topi, sepatu, sandal, tas, dompet, gelang, tas sepeda/sepeda motor, bahkan sampai kursi-pun juga dikerjakan oleh perajin Sukaregang.

Batik Garutan Motif Merak Ngibing
(jelajahgarut.com)

Batik Garutan, mempunyai cirikhas bentuk geometrik yg mengarah pada garis diagonal (miring) dan bentuk kawung/belah ketupat yang umumnya merupakan cerminan kehidupan sosial budaya, falsafah hidup, adat istiadat tradisional dan juga eksotika alam pegunungan berikut flora/fauna yang memiliki kaitan erat dengan keseharian masyarakat Garut. Dari ratusan motif Batik Garutan, ada lima diantaranya yang paling terkenal, yaitu Motif Bulu Hayam, Lereng Kangkung, Merak Ngibing, Lereng dan Cupat Manggu. Sedangkan dari cara pembuatannya, bisa dibedakan menjadi empat jenis, yaitu batik tulis, batik cap, batik kombinasi tulis dan cap dan batik lukis.


Kerajinan Akar Wangi Khas Garut
(Dekranasda Kab. Garut)

Kerajinan Akar Wangi, Sentra kerajinan akar wangi Garut, Zocha (dibaca, Soka Bahasa Sunda ; mata) yang berlokasi di Jalan Pakuwon No. 10 Garut, sampai saat ini mempunyai koleksi produk lebih dari 400 (empa ratus) macam kreasi kerajinan tangan yang disukai oleh masyarakat, seperti sajadah yang dipadu padankan dengan kain batik Garutan, tudung saji,  bed cover, hiasan dinding, taplak meja, tempat tisu, tempat lilin, vas bunga, tas, boneka, gantungan kunci dan banyak lagi yang lainnya.
Untuk harga relatif ramah dikantong dan bervariasi sesuai dengan ragam produknya, yaitu dari Rp 15.000-an sampai Rp. 4,5 juta-an.


Kerajinan Bambu khas Garut
(liputan6.com)
Kerajinan Bambu, Kecamatan Selaawi, Kabupaten Garut, Jawa Barat sejak ratusan tahun yang lalu sudah dikenal sebagai sentra kerajinan tangan berbahan dasar bambu.
Beragam karya seni dari model tradisonal untuk kebutuhan masyarakat sehari-hari seperti boboko, nyiru, ayakan, tolombong, tampir, wide, reng, jodang, cotong, cetok atau caping sampai aneka sangkar burung berbagai ukuran, bahkan produk ekslusif yang sifatnya by order seperti seperangkat home decor, lampu hias, kursi, tableware, perhiasan, tas, bahkan pintu juga bisa dibuat disini. Keren kan?

Sebentar lagi, liburan akhir tahun tiba. Bosan dengan destinasi wisata yang itu-itu saja? Saatnya kita mengeksplorasi destinasi wisata anti mainstream di tanah priangan yang menawarkan beragam keindahan dan pengalaman tak terduga dan Garut-lah tempat terbaiknya!

Yuk, kita siap-siap backpakeran ke Garut!
 





Rabu, 20 November 2019

Sisi "Cantik dan Unik" Pasar Terapung Banjarmasin yang Jarang Diketahui Publik


Menikmati keunikan pasar terapung di Kalimantan Selatan sebagai salah satu destinasi petualangan budaya terbaik di Indonesia dan dunia merupakan salah satu momen yang tidak akan pernah terlupakan seumur hidup!

Selain bisa menikmati warisan budaya bahari (lama/tua) peninggalan Kesultanan Banjar yang telah berusia lebih dari lima abad, di pasar terapung kita juga bisa menikmati keindahan landscape alam perairan dan hijaunya lingkungan Kalimantan yang sejak dulu memang identik dengan segarnya hutan hujan tropis sehingga Kalimantan juga dikenal sebagai paru-paru dunia.

Baca Juga : Ketika Foto Jepretanku  Juara dan Dimuat Majalah National Geographic Indonesia

Keunikan pasar terapung di Kalimantan Selatan memang sudah tersohor ke berbagai belahan dunia, tapi sayang sejauh ini masyarakat dan wisatawan baru sebatas mengenal keunikan yang bersifat “umum” yang bisa dianalogikan sebagai casing-nya saja, seperti keunikan tempat atau lokasinya yang tidak umum alias tidak biasa, yaitu di atas sungai, serta cara dan alat untuk berjualan yang memakai Jukung. 



Padahal keunikan pasar terapung bukan hanya itu! Masih banyak aspek budaya yang berakar dari kearifan lokal khas Suku Banjar yang sesungguhnya merupakan roh dari tradisi pasar terapung itu sendiri, justeru sering terlewatkan atau malah dilewatkan oleh para wisatawan, ketika berkunjung ke pasar terapung.

Inilah yang akan membedakan pasar terapung “asli” di Kalimantan Selatan dengan berbagai pasar terapung buatan yang kini mulai banyak dikembangkan di berbagai daerah untuk menarik wisatawan berkunjung.

Berikut sisi unik pasar terapung asli khas Kalimantan Selatan yang harus diketahui oleh para pelancong yang ingin merasakan sensasi unik berpetualang, berinteraksi dan bertransaksi di atas jukung yang terus bergerak mengikuti arus ala urang Banjar bahari!



Pertama, ada tiga pasar terapung di Kalimantan Selatan
Ini fakta yang masih banyak tidak diketahui oleh para pelancong, khususnya yang dari luar Kalimantan Selatan. Sejauh ini di Kalimantan Selatan dikenal ada 3 (tiga) destinasi pasar terapung yang masing-masing menawarkan sensasi serta eksotisme yang sedikit berbeda-beda.

Pasar terapus tersebut yaitu pasar terapung alami tertua yang berusia ratusan tahun di muara sungai kuin di tepian Sungai Barito, pasar terapung buatan di sekitar menara Pandang atau Siring Tendean Sungai Martapura (keduanya terletak di Kota Banjarmasin) dan yang terakhir adalah Pasar Terapung Lok Baintan, di Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar yang lagi naik daun.

Baca Juga : Icip-icip "Gangan Katuyung" Khas Banjar, Dijamin Bikin Ketagihan!


Kedua, Bahasa Banjar
Semua pedagang di Pasar Terapung biasanya menggunakan bahasa Banjar dialek batang banyu atau Banjar hilir yang relatif tidak terlalu cepat sehingga relatif mudah untuk dipahami. Biasanya para acil ini terutama yang relatif masih muda biasa merespons bahasa Indonesia yang dipakai para pengunjung dengan baik.

Situasi ini mungkin agak berbeda bila bertemu dengan pedagang paninian (nenek-nenek; bahasa Banjar) karena beberapa di antaranya ada yang tidak begitu mengerti dengan bahasa Indonesia dan bahasa Banjarnya relatif cepat dan agak susah untuk dipahami.

Tapi jangan khawatir, justeru disinilah uniknya! Karena para pedagang ini semuanya bergerombol, jadi komunikasi dijamin tetap bisa berjalan, walaupun pasti akan disertai dengan gelak tawa “bahagia” yang akan membuat Anda selalu mengenangnya.



Makanya, kalau ke pasar terapung di Kalimantan Selatan, jangan hanya puas dengan berfoto-foto ria saja! Cobalah berinteraksi dan bertransaksi dengan para acil dan amang, karena disinilah Anda akan menemukan berbagai pengalaman unik yang tidak akan pernah Anda lupakan seumur hidup Anda dan rasakan sensasinya!

Ketiga, Acil, Amang, dan Julak
Para pedagang di pasar terapung sebagian besar merupakan ibu-ibu atau para paninian (nenek-nenek: bahasa Banjar) yang biasa dipanggil dengan sebutan acil yang artinya bibi/bulik/tante, kecuali pasar terapung yang di Muara Kuin.

Kalaupun ada laki-laki, biasanya suami atau keluarga si acil yang mengawani atau menemani saat berjualan. Para lelaki ini biasa dipanggil paman atau amang (paman: bahasa Banjar), tapi ada juga yang dipanggil Julak (Pakde: bahasa Banjar).



Keempat, dukuh dan penyambangan
Para pedagang yang berjualan di pasar terapung, menurut adatnya dibagi menjadi dua kategori yang biasa disebut dengan dukuh dan panyambangan. Dikategorikan dukuh, bila pedagang itu menjual barang-barang yang berstatus milik sendiri atau milik keluarganya sendiri, sedangkan istilah kategori panyambangan itu disematkan kepada para pedagang yang menjualkan barang milik orang lain (reseller)

Kelima, jukung
Perahu yang dipakai para Acil dan para paninian untuk berjualan ini disebut Jukung. Perahu ini tidak bermesin, jadi untuk menjalankannya harus didayung menggunakan bilah dayung.

Dalam bahasa Banjar, sebutan jukung itu merujuk pada semua jenis perahu dengan ukuran yang relatif kecil dan tidak memakai mesin. Sekadar informasi, masyarakat Banjar mempunyai macam-macam jukung yang jenisnya mencapai puluhan.


Keenam, Jukung Barenteng
Sebagian besar para pedagang pasar terapung berasal dari daerah pedalaman yang relatif jauh dari lokasi pasar terapung. Untuk bisa berjualan di lokasi pasar terapung mereka biasanya akan berangkat secara berombongan dengan cara ditarik oleh kelotok (perahu bermesin tempel dengan ukuran lebih besar) begitu juga untuk kembali pulang menuju kampung dan rumah masing-masing.
Formasi unik yang dibentuk oleh rombongan para pedagang pasar terapung saat berangkat dan pulang berjualan dengan cara mengikatkan seutas tali pada bagian ujung masing-masing jukung dalam satu rombongan yang ditarik oleh kelotok inilah yang biasa disebut dengan jukung barenteng.

Ketuju, tanggui, pupur bangkal dan kerudung.
Mayoritas pedagang di pasar terapung adalah Urang Banjar. Seperti layaknya masyarakat Banjar lainnya yang sejak dulu dikenal sangat religius, sebagian besar para pedagang pasar terapung juga “berseragam” layaknya muslimah pada umumnya, yaitu memakai baju muslim longgar yang menutup semua bagian tubuh, termasuk jilbab atau kerudung untuk penutup kepala.

Sedangkan untuk mengurangi terpaan terik sinar matahari, biasanya para acil akan melengkapi atribut di kepala dengan tanggui, sejenis topi caping yang dibuat dari bahan daun nipah dan biasa dipakai oleh para petani di Banjar.

Selain itu, para acil dan paninian juga tidak akan lupa untuk selalu memulaskan pupur bangkal atau pupur dingin ramuan tradisonal di seluruh wajah untuk menjaga kehalusan kulit sekaligus melindungi kulit dari sengatan terik matahari.



Penampilan khas acil-acil ini semakin mempesona tatkala senyuman tulus, hangat, dan bersahabat khas Urang Banjar mulai mengembang disaat menyapa para pengunjung yang datang. Hanya saja, kesan ini mungkin berbeda di mata pengunjung anak-anak yang baru pertama kali melihat penampilan acil-acil “bertopeng” layaknya riasan badut ini, ekspresinya bisa macam-macam. Ada yang tertawa terpingkal-pingkal tapi tidak jarang ada juga yang menangis ketakutan. Lucu ya!

Kedelapan, Dagangan Acil
Untuk ragam dagangan yang dijual acil dan amang, walaupun sekilas terlihat sama atau mirip-mirip, menjual buah-buahan, sayuran, bumbu dapur, tanaman, bunga, ayam, itik, telur, sembako, aneka wadai (kue), nasi kuning, soto Banjar, sampai kerajinan tangan khas suku Banjar juga ada di sini.

Sebenarnya kalau diperhatikan lebih teliti ternyata masing-masing pasar terapung mempunyai sedikit perbedaan yang menjadi ciri khas masing-masing.

Pedagang di Pasar Terapung Muara Kuin, dagagannya relatif kompleks dan lengkap, uniknya pedagang Soto Banjar, nasi kuning, aneka gaguduh (gorengan: bahasa Banjar) dan berbagai makanan semi berat dan berat lainnya dijajakan lengkap dalam kelotok yang juga ada tempat untuk duduknya disini.

Sedangkan di Pasar Terapung Siring Tendean lebih simpel dan lengkap, dimana untuk makanan semi berat dan berat dijajakan di dermaga apung bukan di kelotok dan untuk Pasar Terapung Lok Baintan juga simpel, relatif lengkap untuk hasil buminya (dominan) tapi belum kompleks, pedagang makanan semi berat dan berat masih relatif sedikit.



Kesembilan, alat bantu berjualan Acil
Jukung yang dipakai acil-acil berjualan ukurannya berbeda-beda, sehingga tidak semua jukung bisa benar-benar merapat mendekati pembeli, begitu juga sebaliknya.

Apalagi seperti konsep jualan di pasar terapung siring Tendean, dimana antara penjual dan pembeli dibatasi ujung dermaga yang mengharuskan para acil memakai tongkat dayungnya untuk mengambil uang atau menyerahkan barang yang dibeli oleh pengunjung. Begitu pula jika pembeli ingin mengambil gorengan atau kudapan, mereka harus memakai tongkat dengan tusukan diujungnya.

Kesepuluh, tradisi Bapanduk
Tradisi bapanduk atau barter merupakan tradisi bahari warisan dari para pendahulu yang masih di lestarikan oleh para pedagang di pasar terapung sampai saat ini, bedanya kalau dulu bapanduk-nya berdasar nilai barang hasil kesepakatan, sedangkan sekarang bapanduk-nya berdasar harga dalam mata uang rupiah.



Kesebelas, akad jual beli
Sebenarnya tradisi akad jual beli ini tidak hanya ada di lingkungan pasar terapung saja, tradisi yang bersumber dari syariat Islam ini juga masih tetap berlaku di berbagai tempat dimana masyarakat Banjar bertransaksi, mulai dari warung-warung kecil, pasar, minimarket, bahkan di supermarket sekalipun.
Setelah pembeli menyerahkan uang pembelian, maka penjual akan mengucapkan “jual atau dijual atau jualah!” Berikutnya pihak pembeli wajib mengucapkan “beli/belilah atau tukar/tukarlah (beli; bahasa Banjar)”.
Jadi jangan kaget, bila sekali waktu Anda membeli sesuatu di warung tiba-tiba penjualnya mengucapkan “jual atau dijual atau jualah!”, itu artinya Anda sudah sampai di bumi Kota 1000 Sungai, Banjarmasin Bungas atau di daerah lain di bumi Antasari, Kalimantan Selatan. Untuk itu anda wajib membalas dengan mengucap "beli/belilah" atau dalam bahasa Banjar"tukar/tukarlah".














Minggu, 10 November 2019

Balada Cinta Bertumbuh dalam Kelindan Gengsi dan Tanggung Jawab Seberkas Centang Biru


Selamat Ulang Tahun ke-11, Kompasiana (kompasiana)

Tepat tanggal 22 Oktober 2019 yang lalu, Kompasiana berulang tahun yang ke-11 (sebelas) tahun. Menurut artikel berjudul "Melacak Mengapa Ulang Tahun Kompasiana 22 Oktober?" tulisan kompasianer Dwiki Setiawan yang diposting di Kompasiana pada tanggal 23 Nopenber 2010,  penetapan tanggal bersejarah itu sepertinya didasarkan pada dua hal, yaitu platform Kompasiana yang pada hari itu, Rabu 22 Oktober 2008 memasuki versi betha dan  Kompasiana wajah baru ini resmi dicantolkan ke KOMPAS.com dan akan mengisi salah satu navigasi utama situs itu.

Seperti ditakdirkan berjodoh! Saya bergabung dengan Kompasiana juga di bulan Oktober, tepatnya tanggal 30 Oktober atau beda 8 (delapan) hari setelah ulang tahun Kompasiana, tapi 5 (lima) tahun setelah Kompasiana berdiri, yaitu tahun 2013. Artinya, kalau Kompasiana ulang tahun dan umurnya bertambah setahun begitu pula usia saya sebagai kompasianer! Berbanding lurus dengan usia Kompasiana berbading selisih 5 (lima) tahun. Jika Usia Kompasiana sekarang  11 (sebelas) tahun, maka usia saya sebagai Kompasianer baru 6 (enam) tahun.

akun Kompasiana saya (kompasiana)


Menurut saya, Usia 11 (sebelas) tahun yang dicapai Kompasiana, menjadi bukti sahih keberhasilan manajemen Kompasiana dengan sesanti keren #BeyondBlogging-nya untuk bermain cantik sekaligus lugas dan cerdas di segmen platform blog keroyokan yang hiruk pikuknya selama 1 (satu) dekade terakhir begitu riuh dengan persaingan inovasi dan benefit yang dikemas dengan cirikhas dan keunikan masing-masing platform brand.

Sedangkan usia 6 (enam) tahun saya sebagai Kompasianer, jelas banyak memberi saya cacatan...eh, catatan maksudnya!

Kalau memperhatikan sekian ribu wajah kompasianer yang sampai detik ini tetap aktif dan eksis berkontribusi menulis setiap hari di Kompasiana, sepertinya relatif sedikit yang "usianya" sebagai kompasianer diatas lima apalagi enam tahun. Ini bagus! Artinya, regenerasi alamiah kompasianer berjalan dengan baik.

Sedangkan saya sendiri, sebagai salah satu kompasianer yang relatif tergolong "tua" atau setidaknya termasuk estewe alias setengah tua-lah ya, mungkin bisa dianggap sebagai anomalis. Gara-gara munculnya konsep "cinta bertumbuh" kepada Kompasiana yang secara bertahap dan perlahan-lahan merasuk hingga lama-kelamaan berurat dan berakar dalam hati dan pikiran saya menjadikan kompasiana itu layaknya candu. Yah... candu yang membuat saya semakin sulit untuk melupakan apalagi meninggalkan Kompasiana.

logo kompasiana (kompasiana)

Kok bisa sih awet nulis di Kompasiana!? Emang dapat apa? Emang ada apanya sih Kompasiana?   
Jauh sebelum memulai menulis di Kompasiana, bahkan juga di blog pribadi, saya sudah lebih dulu menulis di berbagai media cetak baik lokal maupun nasional. Dari pengalaman nulis di berbagai media ini, selain mendapatkan apresiasi berupa fulus dan juga kiriman media cetak yang memuat tulisan saya, saya juga mendapatkan ilmu, pengalaman dan kepuasan batin tak terhingga sabagai penulis. 

Ketika dunia blogging mulai beranjak populer, saya juga ikut "bermain" blog dengan menuangkan semua ide, gagasan, keinginan, harapan bahkan curhatan dan juga keluh kesah saya dalam blog pribadi saya, tapi sampai dititik ini masih belum terpikirkan untuk menjadikan blog sebagai "sawah ladang" tempat mencari rejeki. 

Blog Pertamaku


Sayang, karena minimnya konsistensi dan kurang fokus,  menyebabkan lambatnya proses membangun blog untuk mendapatkan angka keterbacaan tinggi. Daripada berbagai ide, gagasan dan juga pendapat yang saya tulis dengan perjuangan ekstra tidak pernah dibaca orang, akhirnya saya memilih jalan pintas dengan cara membuat akun di 4 (empat) platform blog keroyokan terbesar dan terkenal di Indonesia sekaligus (dua milik grup televisi swasta nasional, satu milik majalah terkenal dan satunya lagi adalah, Kompasiana).

Sejak saat itu, selain tetap menulis di media cetak saya mulai keranjingan menulis dan mempostingnya di  4 (empat) platform blog keroyokan terbesar dan terkenal di Indonesia tersebut secara bergantian. Dari sinilah awal mulanya benih-benih cinta dan sayangku pada Kompasiana mulai bertumbuh. 

Persentuhan saya dengan 4 (empat) platform blog keroyokan ini secara bersamaan, mau tidak mau, sengaja tidak sengaja, menuntun saya untuk membandingkan/mengkomparasi kekuatan dan kelemahan dari ketiga platform blog keroyokan tersebut.

Akhirnya, karena beberapa sebab, termasuk karena bubarnya salah satu dari 4 (empat) platform blog keroyokan tersebut, juga cara pengoperasian platform blognya yang sangat mudah dan banyaknya lomba menulis blog untuk menguji kemampuan dan kualitas menulis,  saya lebih memilih fokus untuk menulis di Kompasiana. Inilah awal mula cinta dan sayang saya kepada Kompasiana mulai bertumbuh.


Piagam dan plakat juara (dokpri)

Cinta dan sayang itu terus terawat walaupun tidak setiap hari saya sanggup menulis di Kompasiana. Balada cinta bertumbuh saya pada Kompasiana seperti menemukan momentum terbaiknya ketika 2 (dua) tahun berselang, setelah karya tulisan  saya yang berjudul "Membangun Ruang Publik Berbasis (Budaya) Sungai Ala Kota Banjarmasin" secara tidak terduga meraih juara ke-2 (dua) pada lomba blog dengan tema "Hari habitat dunia 2015" yang diselenggarakan oleh Kementerian PUPR dengan hadiah uang tunai 7,5 juta dan jalan-jalan ke Bali. Woooow nggak boleh ngiri ya! 

Momentum cinta bertumbuh itu semakin berurat, ketika jumlah artikel saya berada di angka 142, dimana tanpa saya duga sebelumnya, saat itu akun saya mendapat kepercayaan tertinggi dari admin Kompasiana, baik terkait latar belakang bio saya, track record dan juga kualitasnya, yaitu  anugerah berupa centang biru.

Contreng/Centang Biru Akun Kompasiana (kompasiana)

 Bagi saya, contreng biru disamping kanan nama akun saya tersebut, merupakan salah satu titik balik dari perjalanan panjang saya di dunia tulis menulis. Contreng biru tidak hanya menjadi wujud kepercayaan sekaligus penghargaan tertinggi kompasiana kepada kualitas saya dan karya tulisan saya, tapi juga titik balik untuk sebuah keyakinan bahwa dengan menulis akan mempertemukan kita dengan banyak keajaiban, termasuk semakin berurat dan berakarnya cinta bertumbuh dan rasa sayang saya kepada Kompasiana.
Semakin bertumbuhnya cinta dan sayang saya kepada Kompasiana menemui kulminasinya ketika tahun lalu, saat ulang tahun Kompasiana ke-10 (sepuluh) sebagai penanda 1 (satu) dekade kehadiran Kompasiana, dalam acara Kompasianival nama saya masuk dalam nominasi kompasianer The Best Citizen Jurnalism.

Akankah, di ajang Kompasianival 2019 atau #11Tahun Kompasiana ini, cinta bertumbuh saya kepada Kompasiana bisa menemukan cinta sejatinya? Semoga!