Tampilkan postingan dengan label travel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label travel. Tampilkan semua postingan

Selasa, 19 Agustus 2025

Menjelajahi Hijaunya Alam Kampung Karuhun, Sumedang Selatan dari Hilir sampai ke Hulu

Riak Air Sungai Cihonje, Pembatas Alami Kampung Karuhun dengan Hutan Belantara dan Juga Kawanan Monyet Liar | @kaekaha!


Hipotesis biofilia yang dipopulerkan Edward O. Wilson dalam buku Biophilia karyanya yang terbit tahun 1984 silam, secara ringkas menyebut manusia secara alamiah memiliki keterikatan khusus dengan alam (nature relatedness) yang  mendalilkan naluri manusia akan berusaha mencari dan merasa nyaman di lingkungan alami yang berdampak positif pada kesehatan fisik dan mentalnya.

Sepertinya inilah alasan paling logis kenapa fungsi psikologis kita beradaptasi paling baik saat berada di lingkungan alam yang segar, hingga banyak diantara kita merasa perlu ngadem atau healing sejenak ke destinasi dengan view hijaunya pepohonan dengan udara segar, apalagi ditingkahi dengan suara gemericik air di bebatuan, ketika hidup terasa sedang stuck. Betul?

Ini juga yang saya rasakan ketika pertama kali menghirup udara sore yang super segar di Kampung Karuhun, komplek destinasi wisata dengan konsep eco green park di Sumedang Selatan yang lokasi riilnya ternyata sangat unik ini, dikelilingi hijaunya hutan hujan tropis plus diapit DAS (Daerah Aliran Sungai) Cihonje dan jalan terjal menuju perkebunan teh Margawindu dan Cisoka di kawasan Citengah yang lebih tinggi.

Baca Juga Yuk! "Negeri Bedil" Cipacing, Etalase Kreativitas Kelas Dunia di Sudut Kota Tahu Sumedang

Jadi secara fisik, komplek Kampung Karuhun ini mempunyai pagar alami berupa Sungai Cihonje di bagian kanan yang memisahkannya dengan hutan belantara sekaligus barrier untuk kawanan monyet liar dan pagar alami berupa tebing yang diatasnya merupakan jalan raya beraspal hotmix di sebelah kiri. Pastinya cantik, unik dan juga menarik!

Guide Map "Komplek" Kampung Karuhun | @kaekaha!

Setelah kesan pertama yang begitu menggoda, malam pertama di Kampung Karuhun mengantar saya ber-azam alias bertekad kuat dalam hati, untuk menjelajahi seluruh bagian Kampung Karuhun selepas Subuh esok hari sebelum agenda acara di hari kedua dimulai pada  jam 07.00 WIB. 

Oiya hapir lupa, artikel ini merupakan sekuel atau tulisan kedua dari travel story saya di Sumedang, khususnya catatan selama stay di Kampung Karuhun. Naaah, kalau ingin mengetahui latar awal dari artikel ini, boleh lah klik dulu dan baca untuk menemukan keseruan-keseruan  artikel pertamanya, "Mbediding", Serunya Membeku Bersama di Ketinggian Kampung Karuhun, Sumedang Selatan. Gratis! He...he...he...     

Sekembali dari Subuhan berjamaah dengan beberapa teman di musala berdinding bambu sederhana yang lokasinya hanya beberapa langkah  dari Bale bambu atau Barak Awi tempat saya dan peserta lelaki lainnya nge-camp, pintu dan semua jendela barak yang kita buka menjadikan udara super segar dengan aroma floral yang begitu segar langsung memenuhi ruangan barak.

View Salah Satu Kolam Renang dengan Latar Hutan Hujan Tropis yang Hijaunya Menyegarkan Mata dan Fikiran | @kaekaha!

Dari jendela Barak Awi, angle terbaik landscape bagian depan Kampung Karuhun yang menyajikan view cantik kebiru-biruan beberapa kolam renang yang konon setiap week end dan hari libur selalu penuh dengan pengunjung yang berlibur itu langsung masuk dalam bidikan kamera yang sejak kemarin sore memang sudah "gatal" ingin mengabadikan sudut-sudut menawan Kampung Karuhun.

Setelah puas membidik beberapa spot terbaik bagian depan Kampung Karuhun yang sepagi itu sudah sanggup membuat mood saya jauh lebih baik dan lebih bersemangat, seorang diri saya turun dan keluar dari komplek eco wisata yang ternyata sangat luas ini. Tiba-tiba terbersit keinginan untuk mengeksplor sisi luar Kampung Karuhun, terutama jalan raya beraspal hotmix yang menuju ke arah perkebunan teh Margawindu.

Setelah melewati gerbang utama di bagian depan yang tepat di sebelah kirinya, gemericik suara aliran Sungai Cihonje tidak henti-hentinya memberikan nuansa natural yang sangat otentik itu, saya mengambil jalan ke kanan dan langsung berjalan mengikuti kontur jalan menikung yang langsung menanjak itu. 

    

Jalan Aspal Menuju Perkebunan Teh Margawindu dengan Latar Hutan Hujan Tropis yang Hijaunya Menyegarkan Mata dan Fikiran | @kaekaha!

Keren! Itulah kesan yang saya dapat meskipun hanya sanggup menyusuri jalan sekitar 500-an meter saja, karena kiri-kanan jalan selepas Kampung Karuhun, semuanya masih berjajar pepohonan yang cukup lebat, selayaknya tepian hutan. Tidak heran jika dinginnya udara pagi disini masih terasa menggigit dan aroma floralnya yang segar itu lo, sensasinya bikin fresh jiwa dan raga, meskipun sisi misteriusnya tetap saja masih berasa!

Baca Juga Yuk! Jalan Sunyi "Panahan Kasumedangan" Menolak Punah  

Sekembali ke gerbang utama, saya tidak belok kiri menuju Barak Awi, tapi langsung menuju ke arah belakang ke pintu gerbang Camping Ground dan beberapa destinasi budaya juga wahana-wahana permainan lainnya yang menurut informasi, masih sejauh beberapa ratus meter lagi ke arah belakang mengikuti aliran Sungai Cihonje yang suara riak airnya sanggup menghadirkan sensasi alami yang menenangkan dan menyenangkan.

Jalanan Menuju Campng Ground dan Wahana Lainnya di Kampung Karuhun | @kaekaha!

Sambil terus membidik dan juga merekam beberapa spot terbaik di bagian belakang Kampung Karuhun yang semakin menjauh semakin berasa sensasi jungle-nya itu, saya terus menyusuri tepian Sungai Cihonje. Saking banyaknya spot cantik yang tersaji di sepanjang jalur, menyebabkan langkah saya melambat, karena khawatir ada yang terlewatkan. Kang sayang! He...he...he...

Baca Juga Yuk! Senandika Esok Hari, Mengudap "Legitnya Madu" Ubi Cilembu di Kota Buludru, Sumedang  

Sendirian menyusuri blok demi blok destinasi eco wisata dengan konsep yang berbeda-beda tapi semuanya mengerucut pada tematik utama yang sama, yaitu selaras dengan alam yang selepas terbit fajar saat itu tetap berasa sunyi, hening dan menyisakan udara dingin yang ditingkahi riuahnya kicauan burung dan juga sesekali suara tonggeret dari kejauhan, menjadikan me time yang sempurna! 

Disini saya mebuktikan, Hipotesis biofilia-nya Edward O. Wilson memang benar dan akan selalu aktual! Inilah me time yang benar-benar menyegarkan mata, hati dan juga fikiran. Amunisi terbaik untuk berliterasi, menulis dan membukukan catatan potensi pariwisata Sumedang.

Karuhun Bridge alias jembatan karuhun | @kaekaha!

Benar-benar surprise, ketika mata, hati dan fikiran berasa lebih fresh dari sebelum-sebelumnya, tetiba waktu serasa sangat lambat berputar. Ternyata begini ya, rasanya harmoni hidup berdampingan dengan alam yang masih utuh secara ekosistem dan ini semua mengingatkan saya pada masa kecil, saat tinggal di kaki Gunung Lawu, Jawa Timur, kampungnya ibu saya.

Kerennya, di tempat ini juga ada saung budaya yang pada momen-momen tertentu menjadi destinasi pertunjukan berbagai kesenian tradisional khas Sunda yang sudah pasti sangat otentik dan menghibur. Sebuah kolaborasi pelestarian alam dan budaya dalam satu lansekap yang sangat menarik dan bermanfaat. 

Jujur, saat itu saya membayangkan betapa menariknya, menyusuri Sungai Cihonje menjelajahi wahana alam Kampung Karuhun sambil diiringi permainan ensemble alat musik sunda, semisal degung atau kolaborasi cantik kacapi suling yang syahdunya bisa menenangkan itu! 

Honai, Rumah Adat dari Suku Dani, Papua Pegunungan di Kampung Karuhun | @kaekaha!

The show must go on, penjelajahan berlanjut! Melewati Karuhun Bridge alias jembatan karuhun, jembatan besi yang di desain kekinian dan instagrammable yang melintang diatas Sungai Cihonje tiba-tiba terlihat sekawanan lutung atau monyet bergelantungan di pepohonan di seberang sungai. Untungnya mereka hanya diam dan termangu melihat saya.

"Bismillah, peace ya mon!" Doa saya dalam hati sambil mempercepat langkah melanjutkan penjelajahan menuju kawasan etnik nusantara menyajikan diorama sasaungan, perkampungan etnik khas masyarakat Sunda dan juga Rumah Honai, rumah adat Suku Dani di Papua Pegunungan dan Papua Tengah. 

Memang belum banyak keragaman budaya nusantara, khususnya rumah adat berikut kelengkapannya yang dihadirkan di area ini. Tapi kehadiran dua model cottage atau tempat menginap berbahan alami ini sebagai sebuah awalan, tentu sebuah ide yang sangat bagus dan patut mendapatkan apresiasi.  Semoga saja, kedepannya akan semakin banyak lagi "perwakilan" rumah adat dari belahan nusantara lainnya yang hadir.

Diorama Sasaungan, "Komplek" Perkampungan Khas Sunda di Kampung Karuhun | @kaekaha!

Khusus untuk area di Sasaungan atau komplek  perkampungan khas Sunda vibes Sunda-nya memang berasa banget sih! 

Selain penampakan cottage dengan desain khas Sunda berbahan kayu yang begitu unik dan cantik yang berjajar rapi, di area ini juga dilengkapi dengan saung khusus yang memperlihatkan suasana dan juga penampakan dapur tradisional khas Sunda berikut perabotan keluarga tradisonal baheula khas keluarga Sunda yang sepertinya sudah jarang dipakai di jaman kiwari.

Selain bale-bale bambu yang khas, ada juga lesung tua yang terbuat dari kayu pohon utuh sepanjang lebih dari tiga meteran yang mirip perahu dari Papua, ketel atau panci kastrol yang biasa dipakai untuk masak nasi liwet, aneka jenis dandang berbahan tembaga dengan bentuk yang unik dan pastinya berkesan jadul banget berikut tungku tanah tradisional yang terlihat sesekali masih dipakai. (BDJ17825)  

Bersambung...   

Kelengkapan Perabotan Dapur Baheula di Kampung Karuhun | @kaekaha!


Semoga Bermanfaat!


Salam matan Kota 1000 Sungai,
Banjarmasin nan Bungas!


Artikel ini juga tayang di Kompasiana pada 17 Agustus 2025   14:45 (silakan klik disini untuk membaca)

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN




 

"Mbediding", Serunya Membeku Bersama di Ketinggian Kampung Karuhun, Sumedang Selatan

Cottage Berbentuk Rumah-rumah Kayu Tradisional di Kampung Karuhun | @kaekaha

Sinar sang surya mulai memudar terangnya ketika mobil SUV yang membawa rombongan kami mulai merayapi jalan perkampungan di kawasan Sumedang Selatan yang semakin menyempit dan kiri-kanannya lebih didominasi oleh tegakan pohon-pohon lumayan besar dan rapat yang mejadikan lingkungan sekitar terlihat lebih gelap selayaknya di tepian hutan dari pada perkampungan penduduk.

Tentu saja, kami berlima yang memang datang dari luar Pulau Jawa plus sepasang driver dan nara hubung kami yang ternyata juga "orang asing" yang tentu saja tidak familiar dengan kawasan di Selatan Sumedang ini, mulai gelisah dan celingukan ke kanan dan ke kiri, hingga sesekali harus bertanya sama warlok alias warga lokal yang sesekali terlihat melintas di jalanan yang sunyi.

Maklum, perjalanan sejak pagi dari titik kumpul di Bandara Soekarno Hatta kok sepertinya nggak nyampe-nyampe ya? Semakin lama malah menguras stamina dan logika, terlebih lagi setelah petunjuk map alias peta dari Mbah Gugel  yang menjadi andalan kami sejak awal keberangkatan entah kenapa jadi sering error. 

Apalagi, konon di hutan-hutan seputaran Summedang masih sering ditemukan macan kumbang yang berkeliaran dan sering juga diantaranya menyerang ternak warga. Waduuuuuh!  

Bagian Depan Lansekap Kampung Karuhun di Sumedang Selatan dengan Latar Hutan Hujan Tropis yang Menyegarkan dan Selalu tampak Misterius | @kaekaha

Suasana scary semakin menguat ketika rintik hujan dan kabut tipis perlahan turun di ambang senja yang semakin temaram itu. Bersyukurnya, ditengah-tengah kegalauan kami saat itu, tiba-tiba dari arah tikungan yang menanjak di depan kami muncul truk molen "bongsor" pengangkut adukan semen cor yang sepertinya baru saja selesai mengantar sekaligus membongkar muatan adukan semennya di kawasan atas yang menurut info awal memang ada beberapa destinasi wisata, termasuk kebun teh.

Itu artinya kita tidak salah jalan! Berarti ini memang jalanan aktif untuk menuju destinasi wisata Kampung Karuhun yang akan menjadi "rumah" sekaligus ruang pingit bagi kami, sekitar 20-an peserta event literasi kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Sumedang dengan penerbit Bitread dari Kota Bandung dalam rangka penulisan buku (profil) pariwisata Sumedang.   

Baca Juga Yuk! Tetirah, Menepikan Diri di Antara Pesona "Sumedang Grote Moskee"

Betul juga dugaan kami, ternyata tidak jauh dari tikungan menanjak itulah Kampung Karuhun, destinasi wisata unik dengan konsep eco green park yang memadukan keindahan alam, edukasi, dan budaya itu berada yang ditandai dengan sebuah bangunan beraksen bebatuan alam sederhana dengan papan identitas bertuliskan Kampung Karuhun di tengahnya.


Cantiknya Lansekap Kampung Karuhun di Sumedang Selatan dengan Latar Hutan Hujan Tropis yang Menyegarkan dan Selalu tampak Misterius | @kaekaha!

Kesan pertama sih cenderung biasa saja! Hanya sedikit merasa ajaib aja, di tengah-tengah kesunyian dan keheningan di dalam kepungan pepohonan yang tumbuh mengikuti kontur tanah berbukit-bukit, khas diorama hutan hujan tropis yang selalu menyejukkan dan pastinya juga misterius, bisa ada destinasi seperti ini?

Tapi semua berubah 180 derajat setelah secara perlahan rombongan kita mulai memasuki "perkampungan" di tengah hutan di Selatan Sumedang ini. Selain disergap oleh udara yang lumayan dingin, dari pintu masuk kita sudah disuguhi orkestra alam yang begitu ikonik dari samping kanan kami, yaitu gemericik air di antara bebatuan gunung yang menjadi lansekap sungai Cihonje dengan airnya yang jernih. 

Baca Juga Yuk! Jalan Sunyi "Panahan Kasumedangan" Menolak Punah

Begitu memasuki komplek "perkampungan" apalagi kalau melihat bagian depan lansekapnya dari Barak Ali, yaitu tempat menginap bergaya barak untuk rombongan besar seperti kami yang posisinya memang paling tinggi diantara kamar-kamar lainnya, bagian depan ini keren banget view-nya. Birunya kolam renang yang bersih serasa kontras dengan lingkungan sekitarnya yang dominan hijau menyegarkan khas ekosistem hutan.

Beberapa hari kedepan, kita akan nge-camp  disini untuk berliterasi. Siang hari, kita akan menyebar ke berbagai destinasi budaya dan wisata di segala penjuru Sumedang, sedang malam harinya kita mendiskusikan semua hasil "buruan" dengan stakeholder dan juga para praktisi dalam kelas santai di aula terbuka di tengah udara dingin mbediding, sampai tengah malam. Asyik!  

Ramah-tamah Sekaligus Saling Berkenalan di Pembukaan Acara di Mala Pertama |  @kaekaha!

Malam harinya atau malam pertama di Kampung Karuhun, agenda selepas Maghriban kita adalah ramah tamah dan saling kenal antar 25 peserta, pihak penerbit dan juga perwakilan dari Dinas Pariwisata Pemkab Sumedang. Menariknya, karena kita semua memang diwajibkan untuk membawa makanan khas daerah masing-masing, maka semakin serulah cerita pembukaan acara literasi kita di Kampung Karuhun.

Baca Juga Yuk! "Negeri Bedil" Cipacing, Etalase Kreativitas Kelas Dunia di Sudut Kota Tahu Sumedang

Bagaimana tidak, selain menu makan malam nasi liwet Sunda yang disajikan secara lengkap dalam paket nampan, kita juga bisa icip-icip beragam makanan dan minuman, bahkan juga snack dan buah-buahan khas nusantara lainnya seperti Amplang dari Banjarmasin, Bakso Aci, Bipang Jangkar dari Pasuruan,  kopi Buhun dan kopi Cap Naga dari Bogor, Sawo Citali, Seblak, Tutug oncom, Ubi Cilembu dan banyak lagi yang lainnya. 

Sayangnya, saya lupa asal daerah dan juga nama-namanya! He...he...he...

Paket Nasi Liwet Khas Sunda untuk Makan Malam | @kaekaha!

Malam-malam di ketinggian Kampung Karuhun, dinginnya, mbediding-nya itu asyik banget lo! Mbediding-nya masih sebelas-duabelas sama kampung halaman ibu saya di kaki Gunung Lawu dan memang membuat tidur malam tambah nyenyak, apalagi setelah seharian, bahkan sampai tengah malam berjibaku dengan literasi yang capeknya ternyata sangat menyenangkan. 

Sayangnya, mungkin karena jam biologis badan saya terlanjur terbentuk untuk selalu bangun dan biasanya tidak bisa tidur lagi setelahnya lewat jam 3-an pagi, secapek apapun hingga senyenyak apapun tidur saya di Barak Ali, nikmatnya lelap di Kampung Karuhun ternyata tetap bisa dikontrol kok. Alhamdulillah.

Baca juga Yuk! Senandika Esok Hari, Mengudap "Legitnya Madu" Ubi Cilembu di Kota Buludru, Sumedang

Ternyata, saya tidak sendirian lo bangun pagi-pagi! Bahkan di jam segitu sudah ada teman-teman lain yang sudah dan sedang mengantre untuk mandi, padahal ketika saya coba sentuh air mandi dari kran yang menurut penuturan penjaga, airnya langsung dari sumber air gunung itu ternyata dinginnya seperti es! 

Show must go on! Akhirnya saya juga ikutan challenge mandi di pagi buta yang ternyata serasa deja vu dengan rasanya mandi pagi buta di kampung ibu saya. Sayangnya, tubuh saya sudah 2 dekade lebih beradaptasi dengan iklim panas khas dataran rendah Kota Banjarmasin yang nggak ada dingin-dinginnya. Jadi ya, seketika serasa membeku ketika air sedingin es itu menyentuh permukaan kulit. Sepertinya inilah serunya mbediding ehmembeku dalam arti yang sebenarnya. (BDJ9825)

Bersambung...

Artikel ini juga tayang di Kompasiana pada 10 Agustus 2025   06:25 (silakan klik disini untuk membaca)

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN