Kamis, 14 Maret 2024

Menggagas Sister City Palembang-Banjarmasin, Merekonstruksi Venice of The East!"

Cantiknya View Sungai Musi Membelah Kota  Palembang di Malam Hari | kompas.com/Wawan H. Prabowo 
Cantiknya View Sungai Musi Membelah Kota  Palembang di Malam Hari | kompas.com/Wawan H. Prabowo



Kota Palembang yang telah ada sejak tahun 688 Masehi, merupakan kota tertua di Indonesia, karenanya wajar jika kota yang tahun ini atau tepatnya pada 17 Juni 2024 nanti berulang tahun yang ke 1341 ini menyimpan begitu banyak pesona dan cerita bagi siapa saja.

Kalau Alfian, penyanyi legendaris era 60-an itu mengabadikan kenangananya dalam lagu "sebiduk Sungai Musi" yang begitu populer pada eranya, kira-kira apa yang terlintas dalam pikiran anda ketika mendengar kata Palembang?

Sepertinya sulit bagi kita untuk tidak teringat pempek, kemplang, juga Sungai Musi dan Jembatan Ampera! Betul?

Demikian halnya jika menyebut nama Banjamasin! Pasti connect-nya sama pasar terapung, sungai Barito, Barito Putera, juga amplang dan juga soto Banjar! Betul?

Nah, dari pernak-pernik dua kota yang sama-sama menyandang sebagai ibu kota propinsi yang kebetulan nama belakangnya juga sama-sama Selatan, yaitu Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan ini, kita menemukan benang merah yang begitu faktual. Apa itu? Sungai dan rawa!

Baca Juga Yuk! Kanal-kanal Belanda di Antara "1000 Sungai" Julukan Kota Banjarmasin

Ini yang menarik! Dua kota yang sama-sama dibangun di tepian sungai dan sama-sama pernah mendapat sentuhan emas arsitek Hindia Belanda kenamaan, Thomas Karsten ini mempunyai kontur alam yang unik dan spesifik.

Wilayah daratan keduanya didominasi oleh perairan darat (sungai dan rawa-rawa). Karenanya Palembang juga dikenal sebagai Venice of the east, sedangkan Banjarmasin dengan Kota 1000 Sungai-nya! Bukankah ini yang namanya plek ketiplek!?


Desain Rumah Panggung di Tepian Sungai Musi | sumsel.tribunnews.com
Desain Rumah Panggung di Tepian Sungai Musi | sumsel.tribunnews.com

Bahkan konon, penamaan Palembang yang diambil dari bahasa Melayu, yaitu "Pa" yang berarti tempat atau situasi dan "lembang" yang berarti tempat yang selalu dibanjiri air sepanjang waktu alias genangan air.

Baca Juga Yuk! Mamair, Teknik Legendaris Memancing Ikan Gabus ala Urang Banjar

Persentuhan masyarakat dengan alam dan lingkungan uniknya yang berlangsung begitu lama, melahirkan konstruksi peradaban budaya yang sekarang kita identifikasi sebagai budaya sungai dan rawa atau budaya perairan darat.

Kelak, budaya yang sejatinya merupakan identitas masyarakat Palembang dan Banjarmasin ini melahirkan beragam tradisi dan budaya sebagai ciri khasnya yang melekat, seperti kuliner, konstruksi arsitektur rumah, mata pencaharian dan lain-lainnya, termasuk cara mereka beradaptasi dengan keunikan alam lingkungan mereka yang semuanya berbasis pada sungai dan atau rawa-rawa.

Inilah "aset mewah dan mahal" alam Palembang dan Banjarmasin yang tidak dimiliki oleh daerah di Nusantara lainnya!
LRT, Transportasi Modern Masyarakat  Palembang, Kota Terbesar ke-2 di Pulau Sumatera | Antara Foto/Nova Wahyudi
LRT, Transportasi Modern Masyarakat  Palembang, Kota Terbesar ke-2 di Pulau Sumatera | Antara Foto/Nova Wahyudi

Pars Pro Toto Palembang-Banjarmasin

Sebagai ibu kota propinsi, Palembang dan Banjarmasin secara otomatis menjadi etalase bagi propinsinya masing-masing. Karenanya wajar jika kemudian hadir mode Pars pro toto yang mengidentikkan nama Palembang dan juga Banjarmasin sebagai representasi ataupun kata ganti untuk Sumatera Selatan (Sumsel) dan Kalimantan Selatan (Kalsel)

Uniknya, seperti sudah ditakdirkan! "Kesamaan" alam kedua wilayah yang terpisah lautan sejauh ribuan kilometer ini selayaknya pinang dibelah dua. Kembar identik? Ini faktanya!

Habitat Kerbau Rawa di Rawa Gambut Sumatera Selatan | Mongabay.co.id
Habitat Kerbau Rawa di Rawa Gambut Sumatera Selatan | Mongabay.co.id

Sumsel dan Kalsel sama-sama dikenal sebagai pemilik kawasan gambut yang cukup luas, tidak heran jika keduanya mempunyai keragaman hayati yang luar biasa besar, tapi juga sekaligus menjadi langganan kebakaran lahan yang susah untuk dipadamkan di setiap musim kemarau tiba.

Tidak hanya itu, keduanya juga sama-sama dikenal sebagai penghasil batubara besar dan tertua di Indonesia yang di eksploitasi sejak era penjajahan Belanda di abad ke-19.

    Baca Juga Yuk! Oranje Nassau, Situs Pertambangan Batubara Pertama di Nusantara

Pernah dengar kerbau rawa!? Di Indonesia, satwa unik ini hanya ada di Kalsel dan Sumsel. Nah lho!

Tidak hanya itu! Selain dikenal dengan kain songketnya, Sumsel juga mempunyai kain jumputan yang proses pembuatannya relatif mirip dengan kain tradisional Kalsel, sasirangan.

Nah bagi penikmat transportasi umum jadul, Palembang merupakan salah satu dari 3 kota di Indonesia yang pernah mengoperasikan armada bajaj oranye, bersama-sama kota Jakarta dan tentunya bestie-nya Banjarmasin.

Bajaj Oranye yang Hanya Ada di Palembang, Banjarmasin dan Jakarta | @kaekaha
Bajaj Oranye yang Hanya Ada di Palembang, Banjarmasin dan Jakarta | @kaekaha

Kalau di Banjarmasin, bajaj oranye masih beroperasi, meskipun kesannya hidup segan mati tak mau! Entah bagaimana nasib kendaraan dari India ini di Kota Palembang!?

Satu lagi! Bagi penyuka sejarah tentu tidak asing dengan peristiwa "Tiga Selatan" yaitu momentum tiga daerah "berlabel selatan", Sumatera Selatan, Kalimantan Selatan dan Sulawesi Selatan yang berani membekukan aktifitas PKI di wilayah masing-masing pada tahun 1960, justeru ketika pemerintah pusat masih berada di area abu-abu.
Cantiknya View Jembatan Ampera yang Membentang di Atas Sungai Musi | indonesiakaya.com
Cantiknya View Jembatan Ampera yang Membentang di Atas Sungai Musi | indonesiakaya.com


Sister City

Fakta-fakta ajaib banyaknya kesamaan pernak-pernik Kota Banjarmasin dan Palembang yang kesemuanya sangat berpotensi untuk "dijual", khususnya sebagai destinasi wisata dengan beragam minat khusus, merupakan berkah yang wajib disyukuri dan wajib untuk di kelola untuk kemaslahatan masyarakat.

Inilah yang mendasari lahirnya gagasan menyandingkan Palembang dan Banjarmasin, duo "kota air" pemilik label "Kota 1000 Sungai" dan "Venice of the east" dalam konsep sister city, sebentuk kerjasama dua kota, dua wilayah propinsi (pars pro toto) dengan tujuan untuk memajukan ekonomi, sosial dan budaya keduanya secara bersama-sama melalui industri pariwisata dengan main course, mewujudkan Venice of the east.
Budaya Sungai, Pasar Terapung Khas Banjarmasin, Venice of the East| @kaekaha
Budaya Sungai, Pasar Terapung Khas Banjarmasin, Venice of the East| @kaekaha


Ya, Venezia dari timur! Inilah destinasi pariwisata spesifik yang kedepannya akan membawa nama Palembang dan Banjarmasin mendunia selayaknya pariwisata Venezia dengan kanal-kanak eksotis dan perahu gondolanya.

    Kenapa harus pariwisata dan bersama-sama pula!?

Banjarmasin dan Palembang tidak memerlukan modal terlalu besar untuk membangun industri pariwisata, karena sudah mempunyai modal besar, mahal dan sangat spesifik, yaitu "aset mahal" berupa bentang alam yang unik dan spesifik, berikut tradisi dan budaya yang dibentuknya.

Selain itu, kita semua juga memahami, industri berjangka panjang dan berkelanjutan yang ramah lingkungan ini, telah terbukti dibanyak tempat, bisa menggerakkan banyak sektor lain untuk lebih berdaya guna jika dikelola dengan tepat.

Venice of the East, Berwisata dengan Taxi Air Khas Sungai-sungai di Kalimantan Selatan | @kaekaha
Venice of the East, Berwisata dengan Taxi Air Khas Sungai-sungai di Kalimantan Selatan | @kaekaha



Sehingga kelak, industri pariwisata tidak hanya memberi kontribusi ekonomi semata, tapi juga bisa berperan aktif dalam mereduksi beragam permasalahan sosial di kota, seperti premanisme, tunawisma, WTS dan lain sebaginya.

Tentang konsep sister city yang bisa dimaknai sebagai bersama-sama ini, sebenarnya bentuk pengejawantahan tradisi ekstrovert kita, masyarakat Nusantara yang akan lebih excited jika melakukan segala sesuatu bersama-sama, bareng-bareng!

Dengan bersama-sama, kita bisa sharing apa saja! Berdiskusi dalam merumuskan langkah-langkah strategis dalam upaya membangun industri pariwisata yang memang memerlukan banyak gagasan out of the box!

Disini, secara teknis kita bisa saling memberi informasi, masukan, kritikan sekaligus koreksi konstruktif sebagai media kontrol yang dibangun dari kesamaan rasa, cita-cita dan tujuan.

Selain itu, dengan bersama-sama dalam konteks gagasan "sister city" berikut implementasinya ini, bergaining power kita pasti jauh lebih kuat, terutama untuk bisa mengajak pemerintah pusat terlibat dalam pembangunan industri pariwisata di Palembang dan Banjarmasin.

Ini penting dan sangat diperlukan, karena grand design membangun Venice of the east ini jelas membutuhkan biaya, waktu dan tenaga yang tidak sedikit dan tidak sesederhana yang kita bayangkan.

Sebagai gambaran, Banjarmasin yang beberapa tahun terakhir sedang gencar-gencarnya merevitalisasi kanal-kanal peninggalan Thomas Karsten dan telah menghabiskan biaya miliaran rupiah, tapi hasilnya masih  belum juga signifikan.

Karena itulah, demi masa depan perekonomian kita, khususnya industri pariwisata Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan, terkhusus lagi bagi si Kembar Identik, Kota Palembang dan Banjarmasin, ada baiknya bisa bersinergi dan berkolaborasi dalam konsep Sister City. Agar langkah-langkah strategis kita, progres kedepannya bisa lebih aktual dan terukur.

Sssst, ini rahasia ya! Untuk yang ini, tidak ada salahnya kita belajar pada the rising star pariwisata yang sebelumnya bukan apa-apa, seperti Belitung yang masuk dalam "10 Bali Baru" dan tentunya the hidden paradise, Likupang di Minahasa Utara yang secara ajaib tiba-tiba ada dan muncul di permukaan sebagai bagian DSP alias Destinasi (Pariwisata) Super Prioritas yang berimbas pada pembangunan di segala bidang bernilai rupiah sangat fantastis!

Memangnya, Palembang dan Banjarmasin nggak mau punya industri pariwisata  seperti Belitung dan Likupang?


Semoga bermanfaat!
Salam matan Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas!

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN 
Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN








 

Big Surprise! Ini Rasanya Bukber Sama Teman Lama di Perantauan

Big Surprise! Ini Rasanya Bukber Sama Teman Lama di Perantauan
Buka Puasa Bersama Teman-teman | @kaekaha

Anda percaya dengan peribasa dunia tak selebar daun kelor?

Sejak sering mendapatkan tugas kerja ke Pulau Kalimantan, hingga sekarang menetap di Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas! sejak lebih dari 2 dekade silam, saya jadi berkesempatan berkunjung dan singgah di banyak kota di seluruh pelosok bumi Borneo, tidak terkecuali di saat bulan Ramadan, bahkan saat lebaran.

Mungkin karena dasarnya saya suka travelling dan kebetulan saat itu masih bujang, jadi saya merasa enjoy saja menikmati pekerjaan yang mengharuskan saya berkeliling Kalimantan yang kelak meninggalkan banyak jejak cerita, baik suka dan duka, juga heroik dan melankolik, terutama saat Ramadan dan lebaran tiba.

Salah satu "genre cerita" yang tidak akan pernah saya lupakan adalah momentum tidak sengaja beberapa kali bertemu dengan teman lama, baik teman sekampung, teman sekolah, teman kuliah, bahkan juga "mantan" di tanah rantau, seberang lautan yang jauh dari kampung halaman.

Di salah satu SPBU di Kota Tepian, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, saat itu saya baru saja selesai membayar bensin untuk mobil dinas yang saya pakai sehari-hari selama bertugas, ketika tiba-tiba seseorang dari mobil sebelah menyapa saya.

Percaya nggak percaya, dia ternyata Budi, teman satu kos-kosan sekaligus teman  sekelas waktu kuliah dulu di Kota Tembakau di ujung timur Pulau Jawa dan kami sudah 20 tahunan lebih nggak pernah ketemu dan kehilangan kontak!

Ternyata dia sudah menjadi warga Kota Tepian, Samarinda dan berkarir di salah satu perbankan milik negara. Masha Allah, tahukah anda bagaimana rasanya pertemuan tak terduga ini!?

Karena saat itu sudah menjelang adzan Magrib sekaligus waktu berbuka, akhirnya kami memutuskan untuk menuju ke Masjid Al Khairiyah di ujung jalan KH. Aboel Hasan, selain dekat dengan tempat saya menginap, setelahnya kami juga bermaksud bukber bersama di rumah makan Surabaya, langganan saya yang lokasinya hanya beberapa meter dari masjid.

Sebenarnya sih, Budi mengajak saya untuk bukber bersama keluarga kecilnya di rumah, tapi karena agak jauh maka saya sarankan untuk bukber di rumah makan Surabaya saja, apalagi capcay kuah yang menjadi menu andalan rumah makan Jawa Timuran ini, merupakan menu favorit kami berdua sejak dulu.

-Advertisement-

Sungguh saya benar-benar tidak menyangka di pertemukan Allah SWT dengan Budi di Samarinda yang sangat jauh dari Kota Tembakau titik pertama kami bertemu, apalagi dari kampung kami masing-masing, di saat Ramadan pula!

Kejutan dari Allah SWT ternyata tidak berhenti disini! Ditengah-tengah kami asyik menikmati cap cay kuah sambil menceritakan perjalanan hidup masing-masing selama kami terpisah, tiba-tiba istri Budi menghampiri kami dan yang membuat saya syok berat adalah ternyata istri Budi adalah "mantan" saya waktu masih berseragam abu-abu putih. Nah loooooo!

Kami bertiga saling pandang dan untuk sesaat tidak ada kata yang terucap! Uniknya, ternyata Budi tidak tahu sama sekali kalau Dewi adalah mantan saya, begitu juga sebaliknya! Dewi ternyata juga tidak tahu sama sekali kalau Budi sahabat saya semasa kuliah! Masha Allah apa ini yang dimaksud dunia tak selebar daun kelor!?

Sejak saat itu, di tanah seberang kami bertiga menjalin komunikasi layaknya keluarga. Semua gara-gara pertemuan dan bukber nggak sengaja!

Berikutnya, saya pernah juga bertemu dengan teman sekelas semasa SMP, secara tidak sengaja di Butong, Muara Teweh, Kalimantan Tengah, sebut saja namanya Chomarudin.

Kebetulan si Chomarudin yang dulu semasa sekolah jago matematika dan pelajaran eksak lainnya ini, pelitnya minta ampun kalau urusan dimintai tolong pelajaran matematika dan pelajaran berhitung lainnya, hingga teman sekelas jarang ada yang akrab dengannya, termasuk saya...he...he...he...

Kami bertemu setelah hampir 25 tahun hilang kontak! Saat itu, kami bertemu di rumah makan untuk berbuka puasa ketika sama-sama dalam perjalanan pulang. Saya menuju Banjarmasin dan dia dengan keluarganya menuju Kota Palangkaraya.

Luar biasanya, saat itu Chomarudin yang lebih dulu mengenali saya dengan langsung memeluk saya dari belakang sambil menyebut nama lengkap saya secara fasih.

Sungguh pertemuan kami saat itu begitu cair dan mengharukan sekali. Bagaimana bisa, kami bisa bertemu saat buka puasa di suatu tempat yang dulu sewaktu sekolah tidak pernah kami dengar namanya apalagi berpikir untuk mendatanginya!

Sifat kanak-kanak kami yang mungkin dulunya terlihat angkuh, sombong dan tidak bersahabat ternyata luruh berganti dengan pelukan selayaknya sahabat lama yang tidak pernah berjumpa.

Sejak saat itu, jalinan pertemanan kami yang sempat kepaten obor, menjadi cair kembali selayaknya sebuah keluarga, sayang Chomarudin yang berbadan tinggi besar ternyata ditakdirkan Allah SWT, harus pulang menghadapNya lebih dulu dari kita semua, setelah gagal bertahan dari keganasan Covid-19 di awal 2021 silam. Innalilahi wa Inna ilaihi rajiun.

-Ad

Berdasarkan dari pengalaman saya selama ini hidup di perantauan, Tidak ada yang lebih membuat bahagia dalam pertemanan selain bertemu dengan orang-orang baik yang bisa menjadi teman dan sahabat, selayaknya keluarga sendiri.

Begitu juga dengan teman-teman lama, baik yang sefrekuensi maupun yang tidak, menurut saya tidak ada satupun alasan untuk tidak duduk bersama lagi, apalagi kalau event-nya adalah buka bersama.

Selain kembali menyambung silaturahmi dan menghidupkan obor yang telah lama mati, tentu keberkahan dari buka bersama dengan teman-teman lama ini sangat luar biasa manfaatnya.

Semoga bermanfaat!

Salam matan Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas!

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | @kaekaha
Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | @kaekaha

Kai Udin dan Kronika Paginya yang Mewah dan Penuh Berkah

Kai Udin Mamutiki Iwak Matan Tampiray | @kaekaha

Sudah menjadi rahasia umum, kedekatan Urang Banjar dengan Islam telah berkelindan begitu kuat dalam tradisi dan budaya banjar, sehingga dalam beberapa kesempatan relatif sulit untuk mengidentifikasikan mana budaya Banjar dan mana budaya Islam.

Situasi ini bisa kita temukan salah satunya dalam kronik pagi di keseharian Kai Udin (kakek Udin;Bhs. Banjar) termasuk di sepanjang bulan Ramadan kali ini.

Menurut Kai Udin yang menurut pengakuan beliau saat ini usianya telah menyentuh angka 80-an, beliau tidak pernah meninggalkan qiyamullail alias ibadah shalat malam, berikut berdzikir dan berighstifar di sepertiga malam terakhir untuk menjaga komunikasinya dengan Sang Khalik, Allah SWT.

Begitu juga dengan amalan sunah yang penuh berkah lainnya, yaitu makan sahur di waktu Sahar, waktu di akhir malam sesaat sebelum terbit fajar atau  sekitar 20 menit sebelum adzan Subuh.

Kerennya, “tradisi” Kai Udin ini ternyata dalil-dalilnya dalam Alquran dan juga hadits ada semua dan menariknya, waktu Sahar yang sekarang justeru kita kenal sebagai waktu imsyak ini ternyata termasuk waktu yang sangat spesial, waktu premium.

 (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur. (QS. Ali Imran : 17)

Dalam QS. Ali Imran ayat 17 diatas, Allah SWT menyebut waktu sahar sebagai waktu terbaik dikabulkannya doa, termasuk permohonan pengampunan melalui lafadz Istighfar kita.

Sedangkan dari hadits Sahih Bukhari No. 1066 disebutkan posisi waktu Sahar, yaitu

 ...setelah keduanya selesai makan sahurnya, maka Rasulullah bangkit untuk segera melaksanakan shalat. Kami bertanya kepada Anas RA,“Berapa tenggang waktu antara selesai makan sahur keduanya dengan awal shalatnya?” Anas bin Malik RA, berkata, “Kira-kira selama seorang membaca lima puluh ayat”. 

Itulah sebabnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk sungguh-sungguh berdoa, beristighfar, juga bersahur di waktu premium ini.  “Duh, sayang sekali kalau kita melepaskan waktu premium ini begitu saja”, kata Kai Udin

Tidak hanya itu, menurut Kai Udin, selepas melaksanakan berbagai ritus ibadah sunah di waktu sahar ini, semangat ibadah jangan ngendor! Apalagi sampai keuyuhan (bhs Banjar ; kecapekan) dan tertidur. “Waaaah rugi besar!” Kata Kai Udin!

Karena sesaat setelahnya kita akan kembali bertemu dengan momentum premium berikutnya, apa itu!? Waktu shalat Subuh.

Kumandang azan Subuh menjadi tanda terbitnya fajar, sekaligus sebagai tanda masuknya waktu Subuh dan dimulainya ibadah puasa.

Di waktu ini menurut Kai Udin, Rasulullah menganjurkan kita untuk melaksanakan shalat Sunnah Fajar atau Qabliyah Subuh sebanyak dua raka’at yang pahalanya, dijanjikan Allah SWT  lebih baik dari dunia dan seisinya! Sekali lagi pahalanya adalah lebih baik dari dunia dan seisinya! 

Masha Allah! Luar biasa bukan!? Bukankah ini mewah banget pahalanya!?

Tidak hanya itu, diantara adzan Subuh sampai Iqamah shalat Subuh, menurut Kai Udin, Allah SWT juga menjadikannya sebagai waktu yang juga premium, waktu yang mustajab untuk kita   berdoa, memohonkan apa saja!

Lhah kalau shalat sunah Fajar saja pahalanya lebih baik dari dunia dan seisinya yang kemewahannya tidak akan pernah bisa ditandingi oleh makhluk terkaya di dunia sekalipun, bagaimana dengan pahalanya shalat Subuh berjamaah di masjid?

Maka nikmat Tuhan kamu yang mana yang kau dustakan Son!?

Setelah shalat Subuh dan dilanjutkan dengan berdzikir seperti yang Rasulullah ajarkan, menurut Kai Udin, jangan juga buru-buru bergegas untuk pulang ya! Di sini, Rasulullah menganjurkan kita untuk berdiam sejenak di masjid untuk menunggu waktu syuruq guna melaksanakan shalat isyraq, dua Rakaat saja.

Tahukan ganjaran yang dijanjikan Allah SWT untuk ibadah yang satu ini!? Menurut Kai Udin, ganjaran pahalanya setara dengan ibadah haji dan umrah yang mabrur. Masha Allah!

Disela-sela waktu menuju waktu syuruq ini, Rasulullah menganjurkan kita untuk membaca bacaan dzikir pagi dan setelah selesai, tuntaskan kronik pagi dengan ibadah shalat isyraq, kata Kai Udin.

Setelah selesai, biasanya Kai Udin langsung turun dari langgar untuk pulang dan melanjutkan aktifitas Sidin (bhs.Banjar;beliau) di rumah, yaitu mamutiki iwak matan tampiray atau memanen ikan dari alat jebakan.

Dalam aktifitas inilah ternyata Kai Udin “berolahraga”. Untuk memanen ikan dari alat jebakan tradisional yang di Banjarmasin sering disebut tampiray ini, Sidin biasanya harus mendayung jukung atau perahu kecil khas Banjar, pergi-pulang bisa mencapai 5-8 km.

Belum lagi harus berenang dan menyelam di beberapa spot tempat tampiray dipasang yang lokasinya tidak hanya di tepian sungai saja, tapi juga sampai masuk ke dalam area rawa-rawa Lebak pasang surut yang terkadang jukung tidak bisa menjangkaunya.

Pantas ya, diusia senjanya Kai Udin masih sehat dan gesit mendayung jukung, hingga enggan untuk segera “gantung dayung” alias pensiun mendayung pagi-sore untuk memanen ikan.

Setelah sampai kembali ke rumah, sekitar jam 10 atau paling lambat jam 11 WITA, Kai berusaha untuk tidak meninggalkan shalat Dhuha, minimal dua raka’at. Menurut Kai Udin, shalat Dhuha merupakan salah satu dari tiga wasiat Rasulullah kepada umat Islam agar terus berusaha dilaksanakan.

Setelah selesai shalat Dhuha, menurut Kai Udin, Sidin selalu berusaha menyempatkan untuk tidur Qoilulah, yaitu tidur sebentar sesaat menjelang waktu Dzuhur yang manfaatnya laksana makan sahur bagi orang yang berniat berpuasa.

Masha Allah, kronik pagi Kai Udin ini telah diterapkan beliau sejak masih belia puluhan tahun silam, sampai sekarang, sampai detik ini dan hasilnya, luar biasa mewah dan penuh berkah.

Semoga Bermanfaat!

Salam matan Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas!

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | @kaekaha



 

Rabu, 13 Maret 2024

Menjadikan Setiap Waktu Kita Bernilai Ibadah Penuh Berkah

Tower Jam Makkah | @kaekaha

Menurut beberapa laporan penelitian, pasca “musibah” pandemi Covid-19 yang menginvasi sebagian besar wilayah di dunia, konon masyarakat dunia saat ini jauh lebih relijius dibanding sebelumnya. Masha Allah! Tentu ini kabar baik bagi kita semua.

Terlepas dari akurasi dan sejauh mana validitas penelitian ini, kabar aktual ini tentunya bisa kita jadikan sebagai trigger untuk berbenah menjadi pribadi yang juga lebih baik dan relijius. Apalagi momentumnya sekarang bulan Ramadan, bulan agung yang sarat akan keberkahanNya.

Sama seperti masyarakat dunia lainnya yang secara naluriah saat ini memang sedang dalam euforia relijius yang sedang bagus-bagusnya, kitapun selayaknya juga tidak boleh ketinggalan untuk ambil bagian.

Berkaca dari sesanti Urang Banjar yang menyebut Umur Kada Babau yang secara umum dimaknai sebagai ajal yang bisa datang kapan saja, memang tidak seharusnya kita menunda-nunda lagi untuk menjadi pribadi yang relijius.

Sebentuk kepribadian yang dalam bahasa seorang muslim dimaknai sebagai lebih taat kepada Rasulullah SAW dan lebih takwa kepada Allah SWT dengan menjauhi dan meninggalkan semua yang dilarangNya, juga melakukan semua yang diperintahkanNya.

Berangkat dari pemahaman inilah, sudah selayaknya kita  bertekad bulat menjadikan setiap bulan Ramadan sebagai momentum untuk meng-upgrade keimanan dan ketakwaan kita di hadapan Allah SWT.

Salah satunya, dengan menerapi diri untuk menjadikan setiap  waktu dalam hidup kita menjadi bernilai ibadah dihadapan Allah SWT. Caranya?

Sebagian besar dari kita, umat Islam sendiri, jika mendengar  kata ibadah, umumnya langsung terpikirkan pada ritual sholat, puasa dan ritus-ritus ibadah mahdhah atau ibadah utama yang waktu pelaksanaan dan juga tatacaranya telah diatur dalam Alquran dan Hadits, betul? Ini yang harus kita luruskan!

Ikhtiar kita menerapi diri menjadikan setiap detik waktu kita bernilai ibadah dihadapan Allah SWT bukan berarti kita harus sholat, puasa atau zakat terus-terusan selama 24 jam penuh!

Kapan dong cari duitnya, kapan olahraganya, kapan ngompasiananya, kapan ngopinya, kapan bercengkerama dengan keluarga, kapan istirahatnya dan pertanyaan kapan-kapan lainnya yang pasti masih panjang...!?

Siapapun tidak akan pernah sanggup melakukan model beribadah seperti itu kawan! Lantas gimana dong?

Inilah holistik-nya Islam sebagai panduan hidup dan kehidupan rahmatan Lil alamin yang senantiasa memberi kemudahan yang realistik.

Selain ibadah mahdhah diatas, Islam juga mengenal ibadah Ghairu Mahdhah, yaitu ibadah diluar ibadah utama yang biasa kita kenal sebagai ibadah Sunnah yang secara waktu dan ritusnya lebih fleksibel.

Dari jalur ibadah Ghairu Mahdhah inilah kita bisa melengkapi dan menyempurnakan ibadah kita sekaligus menjadikan setiap detik waktu dalam hidup kita bernilai ibadah dan itu artinya, kita memang bisa beribadah 24 jam non stop!

Ini caranya!

Pertama, niatkan semua aktifitas apapun yang kita lakukan untuk beribadah kepada Allah SWT.

Kedua, mulakan semua aktifitas kita dengan membaca bacaan Basmallah, syukur-syukur secara lengkap plus disempurnakan dengan doa spesifik sesuai aktiftas yang akan dilakukan seperti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Ketiga, akhiri semua aktifitas kita dengan bacaan Hamdallah, syukur-syukur secara lengkap plus disempurnakan dengan doa spesifik sesuai aktiftas yang telah dilakukan seperti yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Semisal membaca doa akan tidur berikut dzikir yang diajarkan Rasulullah ketika bersiap untuk istirahat malam dan berikutnya juga membaca doa bangun tidur berikut dzikir yang diajarkan Rasulullah sesaat setelah bangun tidur.

Dengan melakukan ibadah Sunnah ini, maka di sepanjang waktu tidur kita yang dalam keadaan tidak sadar sepenuhnya tersebut, Insha Allah di sepanjang waktu tidur sekitar 7-8 jam tersebut terhitung sebagai ibadah dihadapan Allah SWT.

Begitu juga dengan semua waktu aktifitas kita di sepanjang hari! Semuanya bisa bernilai ibadah jika memang diniatkan untuk beribadah dan kita ikuti semua tuntunan sunah-sunahnya yang menyertai.

Ini rahasia besarnya!

Dengan mengucap Basmallah saat mengawali semua aktifitas, berarti kita sudah melibatkan Allah SWT dalam semua aktifitas kita sejak dari awal. Ini juga wujud dari penghambaan kita kepada Dzat yang Maha Berkuasa atas segala sesuatu, termasuk terhadap diri kita dan juga aktifitas yang akan kita lakukan. Mudah tapi luarbiasa bukan!? 

Apa susahnya mengucap Bismillah diawal semua aktifitas kita?

Tidak hanya itu! Dengan mengucap Bismillah secara tulus dan ikhlas dari kesadaran hati terdalam, Insha Allah secara otomatis kita juga mengaktifkan alarm tanda bahaya pada alam bawah sadar kita dari aktifitas negatif fisik dan psikis kita.

Masa iya, sesaat mengucap Bismillah terus mengambil dompet orang? Berzina atau Berprasangka buruk sama orang?

Begitu juga ketika kita mengucap Hamdallah setelah menyelesaikan berbagai aktifitas, sejatinya itu bukan sekedar penyaksian akan betapa kuasanya Allah SWT terhadap bumi langit beserta isinya, termasuk kita dan aktifitas kita, tapi juga ungkapan rasa syukur kita kepadaNya atas semua karunia yang penuh dengan keberkahan dariNya.

Luar biasanya, ada juga kemungkinan kita melakukan ibadah² atau ibadah kwadrat alias ibadah dalam ibadah. Semisal menyingkirkan duri dari tengah jalan saat berangkat bekerja atau bisa juga membantu menyeberangkan jalan anak-anak sekolah dan banyak lagi yang lainnya! Artinya menjadikan setiap detik waktu kita bernilai ibadah bukanlah khayalan semata! Tapi fakta yang bisa dicapai oleh siapa saja!

Apalagi, sebenarnya masih ada banyak sekali amalan sunnah yang diajarkan Rasulullah yang semuanya bernilai ibadah dan bisa kita lakukan dalam waktu 24 jam tiap harinya, sayangnya kita terlewatkan untuk mengerjakannya!

Mudah-mudahan, di Ramadan kali ini, kita semua bisa segera melaksanakan sebanyak-banyaknya Sunnah Rasulullah SAW, sehingga bisa segera juga menjadikan setiap waktu kita bernilai ibadah dihadapan Allah SWT .

”Katakanlah, sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan Semesta Alam.” (QS. Al-An’am : 162)

Semoga bermanfaat! 

Salam matan Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas!

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | @kaekaha



 

Senin, 11 Maret 2024

"Sakit Menyamak" di Antara Hegemoni Tradisi dan Kemajuan Ilmu Kesehatan

 

Arti Manyamak dalam Kamus Bahasa Banjar | @kaekaha

Bagi Urang Banjar, tentu sangat familiar dengan istilah manyamak atau garing menyamak alias sakit menyamak yaitu "penyakit tradisional" yang rasa sakitnyaq luar biasa selayaknya rasa nyeri yang menusuk di bagian dalam dada yang biasanya juga tembus sampai ke area punggung dan bisa menyerang siapa saja- kapan saja.

Rasa nyeri menusuk-nusuk yang diakibatkan sakit manyamak ini serasa mencengkeram seluruh otot di badan bagian atas, terutama di bagian dada dan area punggung, terlebih ketika kita berusaha untuk bergerak.

Dalam situasi ini, badan benar-benar serasa tidak memungkinkan untuk digerakkan, bahkan sekedar menggerakkan tangan. Kecuali memang sanggup menahan rasa sakitnya yang teramat sangat atau bisa juga pergerakannya dibuat sangat pelan dan lamban selayaknya video slow motion, karena cengkeraman rasa nyerinya akan semakin menyebar dengan rasa sakit yang semakin menusuk tajam jika otot-otot di area pergerakan terjadi kontraksi. 

Seperti itulah yang saya rasakan, ketika terserang sakit manyamak pertama dan Alhamdulillah, sekaligus yang terakhir kalinya, sekitar 15 tahun silam yang menurut keyakinan tradisional di lingkungan Urang Banjar disebabkan oleh angin.

Seingat saya, serangan manyamak ini sebenarnya tidak benar-benar datang secara tiba-tiba, tapi bertahap. Awalnya, saya sebenarnya sudah merasakan ada sedikit rasa nyeri di bagian punggung yang rasanya mirip dengan kecethit, sejak beberapa hari sebelumnya. Tahu kecethit kan?

Tapi karena kesibukan, kemunculan rasa nyeri ini tidak saya hiraukan atau setidaknya saya kasih krim pereda nyeri saja, nah ternyata rasa nyerinya terus bertahan dan bahkan berlanjut semakin kuat dan akhirnya memuncak.

Nah memuncaknya rasa nyeri ini yang bisa datang tiba-tiba. Biasanya ini  ditandai dengan serangan  cengkraman rasa nyeri yang menusuk-nusuk di badan bagian atas tadi.

Kebetulan saya mengalami serangan puncak menyamak ini saat sedang ngantor. Karena badan tidak bisa digerakkan, akhirnya saya hanya bisa berteriak dan meminta tolong kepada asisten saya untuk menghubungi keluarga  di rumah. Ternyata, ketika saya teriak itu juga menyebabkan beberapa konstruksi di punggung belakang, sehingga menimbulkan rasa sakit yang tak kalah luar biasa.

Setelah berunding dengan istri saya di rumah dan juga asisten saya plus tim admin di kantor yang sebagian besar perempuan dan asli Urang Banjar, setelah mereka memastikan saya terkena serangan manyamak, akhirnya saya disarankan untuk ke tempat praktik penambaan (pengobatan tradisional) yang khusus bisa mencabut angin yang ada di badan saya, penyebab menyamak yang saya alami.

Celakanya, saat itu saya sendirian "jaga kandang" karena semua tim manajemen sedang ada seremonial pembukaan cabang baru di Kalimantan Tengah, sedangkan para driver dan helper-nya juga sudah turun ke lapangan, sedangkan tim admin tersisa yang kesemuanya perempuan, kebetulan tidak ada satupun yang bisa membawa mobil.

Akhirnya, sambil menahan sakit yang luar biasa, saya terpaksa menyetir sendiri (maklum, saat itu belum ada ojol he...he...he...) untuk menuju ke tempat penambaan ditemani asisten saya dan salah satu team admin yang mengetahui rumah si bapak panambaan yang kabarnya berpengalaman mencabut angin penyebab manyamak.

Sayangnya, karena praktek proses pencabutan angin ini "wilayah kerjanya" ada di punggung saya jadi saya tidak bisa melihat apa saja yang dilakukan oleh si bapak panambaan dalam prosesnya mencabut angin dari badan saya.

Menurut keterangan istri saya yang asli Banjar dan dari apa yang tercium oleh hidung saya saat itu dan juga apa yang saya rasakan di punggung, biasanya dalam prosesi pencabutan angin ini, si bapak penambaan akan menggunakan media berupa daun sirih dan kapur dalam ritual baca-baca doa tertentu di area punggung saya.

Prosesi pencabutan angin ini tidak lama hanya sekitar 5-10 menit saja yang lama biasanya justru ngantrinya, karena si bapak panambaan ini sudah terkenal dan mempunyai banyak pelanggan, termasuk beberapa tim admin di kantor saya berikut keluarganya.

Dari testimoni mereka jugalah saya mendapatkan rekomendasi untuk mendatangi tempat praktek si bapak penambaan ini yang menurut testimoni mereka, meskipun proses pencabutan angin ini juga cocok-cocokan, tapi faktanya banyak diantara mereka yang merasa cocok berobat di tempat si bapak ini, hingga sakit menyamak yang pernah mereka alami bisa disembuhkan.

Setelah selesai, si bapak panambaan bertanya apa saya perokok dan jarang berolahraga? Karena saat itu saya memang perokok berat dan memang nggak pernah olahraga, ya saya jawab apa adanya. Selain itu, si bapak juga menyebut kalau saya kecapekan dan perlu istirahat. Ini klop banget! Kebetulan sebulan terakhir saya memang sibuk banget wira-wiri Banjarbaru-Pangkalan Bun untuk mempersiapkan kantor cabang baru kami. Nah terjawab sudah asal muasal serangan manyamak ini.

Sayangnya, mungkin karena saya "tidak cocok" dengan panambaan rekomendasi dari tim admin saya tadi, di sepanjang perjalanan menuju rumah, saya masih tetap merasakan rasa nyeri yang luar biasa menusuk-nusuk ketika menggerakkan tangan kiri untuk memutar setir mobil (sedangkan tangan kanan saya masih tidak bisa saya gerakkan secara normal). Saat itu saya masih tidak merasakan perubahan sedikitpun pada sakit manyamak saya.

Sesampai di gerbang perumahan tempat saya tinggal di pinggiran kota Banjarmasin, kebetulan saya teringat di situ ada klinik berobat keluarga milik sepasang suami istri yang berprofesi sebagai mantri dan bidan senior di kampung, sedangkan anak dan menantu beliau berprofesi sebagai internist alias dokter penyakit dalam.

Dari sinilah akhirnya saya benar-benar dibuat terkejut terkait fakta medis sakit menyamak yang menurut penuturan si bapak mantri pemilik klinik, ternyata kurang lebih sama dengan penyakit angin duduk yang kita kenal sangat mematikan. Mengerikannya lagi, menurut beliau, ternyata keduanya adalah bagian dari serangan jantung!

Memastikan informasi si Pak Mantri, sesampainya saya di rumah, saya minta istri untuk menghubungi keluarganya yang kebetulan perawat dan kabarnya sering membantu dokter saat operasi jantung di rumah sakit terbesar di Kalimantan Selatan.

Ternyata jawabannya memang benar! Manyamak itu, katanya bagian dari serangan jantung dan dia juga menyebut kalau sampai dalam sebulan, manyamak ini kambuh sampai 3 kali, itu sinyal bahaya dan harus segera ditangani oleh dokter. 

Uniknya, kalau sekarang ini mencari data terkait manyamak ini di Google, di halaman pertama kita langsung  diarahkan untuk menuju artikel tentang angin duduk yang tidak lain memang serangan jantung yang mematikan. Innalilahi wa Inna ilaihi rojiun.

Jujur, mendapati fakta bahwa apa yang baru saja saya alami adalah bagian dari serangan jantung tentu saja saya syok! Tapi saya tetap bersyukur, dari sini saya mendapatkan banyak pelajaran penting.

Terutama alarm faktual terkait kesehatan jantung saya yang harus segera saya tindaklanjuti dengan merubah gaya hidup dan Alhamdulillah, beberapa tahun berikutnya saya benar-benar bisa berhenti merokok secara total, setelah sekitar 26 tahun menjadi perokok berat.

Hanya saja, sampai detik ini saya masih bingung dengan fakta masih banyaknya masyarakat yang terserang sakit manyamak dan masih meyakininya sebagai "penyakit tradisional" yang disebabkan oleh angin yang nakal dan terkesan mengesampingkan fakta horor manyamak yang sebenarnya. Luar biasanya lagi, banyak diantaranya yang mengaku sembuh total setelah dicabut angin oleh panambaan yang sejauh ini juga masih banyak yang berpraktik.

Mau tidak percaya, buktinya ada, bahkan banyak! Tidak sedikit dari mereka adalah tetangga dan kawan saya sendiri yang saya tahu betul kapasitas dan integritasnya! Nah lho...

Kerennya lagi, sejauh ini entah saya yang  kurang dolan atau memang belum ada!  saya belum pernah menemukan literasi resmi dari instansi kesehatan atau stakeholder lain yang secara nyata aktif memberi informasi faktual bahwa secara medis manyamak adalah serangan jantung dan sangat-sangat berbahaya jika tidak ditangani secara benar oleh ahlinya.

Sehingga, masyarakat luas juga mempunyai pemahaman sekaligus pengetahuan yang cukup terkait serangan manyamak sekaligus cara antisipatif dan juga langkah penanganan daruratnya.

Semoga bermanfaat! 

Salam matan Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas!

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN











 

Buah Labu dan "PesanNya yang Menakjubkan" pada Perjalanan Kenabian Dzu Nun

Buah yaqtin atau labu alias waluh | @kaekaha 


"Dan kami tumbuhkan untuk dia sebatang pohon dari jenis labu." (QS. 37 : 146)


Kutipan diatas merupakan terjemahan  Ayat Alquran, dari Surah As Saffat yang berarti barisan-barisan,  ayat 146  yang menginformasikan penggalan kisah perjalanan kenabian Dzu Nun, sebutan lain untuk Nabi Yunus Alaihis salam yang menurut  Said Quthb dalam Tafsir Fi Dzilalil Quran diartikan sebagai "pemilik paus" yang tentunya merujuk pada kisah fenomenalnya saat ditelan dan kemudian dimuntahkan ikan paus di suatu tempat yang tandus, seperti diinformasikan dalam QS. 37 : 145.

Di QS.37:146 inilah, sepenggal fragmen penting  perjalanan kenabian  Nabi Yunus Alaihis salam  pasca keluar dari dalam perut ikan Paus Raksasa yang sebelumnya telah menelannya beberapa lama hingga lemas dan sakit dikabarkan oleh Allah SWT.

Baca Juga :  Mbok Yo Sing Full Senyum Sayang...

Ada pesan menakjubkan dari Allah SWT untuk hamba-hambaNya dalam QS.37:146 ini, yaitu terkait hikmah ditumbuhkannya tanaman tanpa batang yang biasa disebut sebagai yaqtin atau dalam bahasa Arab ada juga yang menyebutnya sebagai duba' atau kar'u yang arti dan maknanya merujuk pada "sejenis" tanaman labu untuk Nabi Yunus As.

Tumbuhnya tanaman labu yang tumbuh di dekat lokasi "pendaratan" Nabi Yunus yang disebutkan sangat tandus jelas sebuah pesan anomalis yang secara nyata mengajak kita semua untuk berpikir! Jelas sekali, selain menunjukkan betapa Maha kuasanya  Allah SWT atas segala sesuatu, juga membawa kabar penuh hikmah dan manfaat untuk kita, generasi sesudahnya, khususnya terkait buah labu.

Bunga dan Daun Labu/Waluh | @kaekaha


Kenapa Tanaman Labu?

Lantas kenapa Allah SWT lebih memilih menumbuhkan tanaman labu-labuan di tempat Nabi Yunus "mendarat", kenapa bukan yang lain? Wallahu a'lam Bish-shawabi

Selain petunjuk awal atau mungkin lebih tepatnya "pengantar" dari tafsir QS.37:146 dari para muffasir, memang tidak ada petunjuk, keterangan ataupun penjelasan spesifik lanjutan terkait situasi ini di dalam Alquran. Tapi jika mengkaji tafsir-tafsir QS.37:145, seperti As-Suddy yang menyebut kondisi "sakit" Dzu Nun sesaat setelah keluar dari dalam perut ikan paus, seperti bayi yang baru lahir, sedangkan Ibnu Mas'ud menganggapnya seperti ayam yang dicabuti bulunya (dalam tafsir Ibnu Katsir), sepertinya logika dan pemahaman kita akan menemukan konteksnya. Insha Allah!

Baca Juga :  Dahsyatnya Pesugihan "Gulo Abang" Mbah Marni

Apalagi referensinya dilengapi dengan memahami tafsir-tafsir QS.37:146, seperti tafsir dari Al-Muyassar/Kementerian Agama Saudi Arabia, tafsir Al-Mukhtashar / Markaz Tafsir Riyadh, di bawah pengawasan Syaikh Dr. Shalih bin Abdullah bin Humaid (Imam Masjidil Haram), Tafsir Al-Madinah Al-Munawwarah / Markaz Ta'dzhim al-Qur'an di bawah pengawasan Syaikh Prof. Dr. Imad Zuhair Hafidz, professor fakultas al-Qur'an Universitas Islam Madinah, dll yang menyebut tanaman labu itu untuk memayunginya dan bermanfaat baginya. Ada juga yang menyebut memayunginya dan dia memakan dari buahnya atau ada juga untuk menaunginya dari sinar matahari dan melindunginya dari serangga.

Jika melihat situasinya, memang tidak salah lagi! Allah SWT sengaja menumbuhkan tanaman labu di tempat "anomalis" itu memang untuk diambil manfaatnya oleh Nabi Yunus a.s. Sifat fisik tanaman labu yang berdaun lebar dan merayap di tanah sangat bermanfaat sebagai tempat perlindungan, sedangkan nutrisi buahnya bermanfaat untuk pemulihan kesehatan dan ini   sangat related dengan kondisi aktual Nabi Yunus a.s saat itu.  

Buah yaqtin atau labu alias waluh | @kaekaha

Luarbiasanya, ternyata Allah SWT melalui Rasulullah SAW telah memberi petunjuk faktual dan otentik terkait kebermanfaatan labu dalam sunnah atau hadits-hadits yang terabadikan dengan baik sejak 1400 tahun silam, salah satunya seperti hadits yang diriwayatkan oleh Anas  ibn Malik berikut,

"Seorang tukang jahit mengundang Rasulullah untuk menikmati jamuan makan yang disajikannya. Maka aku bersama Rasulullah menghadiri undangan jamuan makan tersebut. Dia pun menghidangkan di hadapan Rasulullah roti, gandum dan kuah sup berisi labu serta daging. Lalu aku melihat Rasulullah mengambil  labu dari bejana sup tersebut. Maka sejak hari itu aku selalu menyukai labu." Tsumamah mengatakan dari Anas, "Maka kukumpulkan labu itu di hadapan beliau.". (HR. Bukhari no. 5439 )

Baca Juga :  Inspirasi Berbagi dari Siklus Alami Tubuh Kita

Selain itu, dalam kitab Thibbun Nabawi, Ibnu Qayyim Al Jauziyah menulis, dalam Al-Ghailaniyyat disebutkan sebuah hadits dari Hisyam bin Urwah, dari ayahnya Urwah bin az-Zubair, dari Aisyah r.a yang menceritakan: "Rasulullah pernah berkata kepadaku: Wahai Aisyah, jika kamu memasak makanan, perbanyaklah jumlah labu, memang labu dapat menyembuhkan kesedihan." 

Tidak hanya itu, Ibnu Qayyim dalam Thibbun Nabawi juga banyak menyebut rahasia kebermanfaatan buah labu, beberpa dantaranya mengurangi demam dan dehidrasi, sedang teksturnya yang lembut menjadikannya mudah dicerna dan diserap manfaatnya. Nah kalau penasaran dengan Thibbun Nabawi alias pengobatan ala nabi terkait manfaat labu, silakan simak video dibawah ya!



Selain manfaat labu, ada pelajaran penting yang bisa kita dapatkan dari hadits yang diriwayatkan oleh Anas  ibn Malik diatas!  Khususnya cara "ber-logika" Anas Bin Malik, bahwa segala sesuatu yang disukai Rasulullah pasti memiliki rahasia kebermanfaatan yang luar biasa, karena pasti ada bimbingan dari Allah SWT... dan terbukti  kan!

Penelitian ilmiah modern dari banyak pihak yang berkompeten membuktikan buah labu memang ada apa-apanya! Banyak nutrisi bermanfaat yang terkandung di dalamnya, ada karbohidrat, protein, lemak, serat dan lain-lainnya. Lebih detail, menurut laman U.S. Department of Agriculture, kandungan gizi  dalam 200 gr labu kuning  adalah 38 kalori, 8 gr karbohidrat, 2 gr protein, 0,5 gr lemak, 2 gr serat, 39 mg vitamin C, 444 mg kalium, 38 mcg folat, 6,4 mcg vitamin K, 0,2 mg vitamin B6, 0,8 mg zat besi, 16 mg vitamin A, 40 mg magnesium, 64 mg fosfor dan 0,1 mg riboflavin.

Labu Kuning | @kaekaha

Tidak hanya itu, faktanya buah labu ternyata juga mengandung banyak antioksidan bermanfaat, beberapa diantaranya seperti Lutein, zeaxanthin, Beta karoten, polifenol, dan flavonoid, sehingga baik untuk menurunkan berat badan, melancarkan pencernaan, meningkatkan daya tahan tubuh, menjaga kesehatan mata, kulit lebih sehat dan awet muda, menjega kesehatan jantung, menurunkan resiko kanker.

Khusus untuk manfaat daging buah labu untuk menangkal atau menurunkan resiko kanker ini, sudah diuji coba oleh Cancer Chemoprevention Research Center (CCRC) Fakultas Farmasi Universitas Gajah Mada. Bahkan tidak hanya sebagai penangkal kanker saja, dalam rilisnya, daging buahnya yang berwarna oranye kekuningan tersebut juga mengandung antiokisidan yang bermanfaat untuk penyembuhan radang, pengobatan ginjal, demam, dan diare. Air buahnya berguna sebagai penawar racun binatang berbisa, sementara bijinya yang biasa diolah menjadi kuaci juga bisa dimanfaatkan menjadi obat cacing pita.


Pais Waluh Khas Banjar nan Legit | @kaekaha

Waluh dalam Budaya Urang Banjar

Buah labu yang dalam bahasa Banjar lebih akrab disebut sebagai waluh merupakan salah satu buah (ada sebagian yang menyebutnya sebagai sayur) yang cukup populer dalam tradisi kuliner Urang Banjar, sebutan untuk masyarakat suku Banjar. Sejauh ini, ada lima spesies labu yang umum dikenal, yaitu Cucurbita Maxima Duchenes, Cucurbita Ficifolia Bouche, Cucurbita Mixta, Cucurbita Moschata Duchenes dan Cucurbita Pepo.

Baca Juga :  Sensasi Legitnya Pais Waluh yang Akan Membuatmu Rindu Banjarmasin

Uniknya, secara umum di Indonesia kelimanya biasa disebut dengan labu kuning, mungkin karena secara fisik kelimanya memiliki ciri-ciri yang hampir sama, yaitu berbentuk bulat pipih, lonjong atau panjang dengan banyak alur (15-30 alur) dan tentunya mempunyai daging buah berwarna kuning.


Sayur Bening Waluh | @kaekaha

Bagi Urang Banjar, hampir semua bagian tanaman ini bisa dimanfaatkan, diolah menjadi beragam kuliner khas Banjar, bahkan beberapa diantaranya bisa digolongkan sebagai masterpiece-nya kuliner Banjar.

Ditangan galuh Banjar (Bhs. Banjar ; gadis-gadis Banjar) dan para pawadaian (Bhs. Banjar ; pembuat kue), buah labu alias waluh ini memang bisa di muliakan menjadi makanan-makanan enak, mulai dari beragam model wadai atau kue-kue basah khas Banjar yang bercitarasa legit dan juga beberapa olahan teman makan berat yang citarasanya juga tidak kalah lezat dan tentunya tetap bergizi.

Urang Banjar mempunyai tradisi unik terkait perwadaian alias perkuean, yaitu kebiasaan mengudap wadai setiap habis makan, yah sebelas duabelas-lah sama dessert-nya ala orang-orang barat. Makanya tidak heran jika Urang Banjar mempunyai banyak jenis wadai enak untuk dessert sehari-hari, termasuk deretan wadai-wadai bercitarasa legit dari bahan waluh alias labu, khususnya labu kuning.

Daun dan Bunga Waluh | @kaekaha

Dalam kamus per-wadaian Urang Banjar  ada beberapa model atau cara mengolah kue. Ada aneka wadai paisan (bhs.banjar ; pepes) yang dibungkus daun pisang, ada yang dipanggang/dibakar, ada juga yang di sumap atau dikukus. Naaah...kebetulan,  olahan wadai Banjar yang berbahan waluh ini juga ada dalam beberapa model olahan tersebut.

Wadai dari bahan labu yang dipais atau di pepes itu biasa disebut sebagai pais waluh, sedangkan kue waluh yang dipanggang/dibakar namanya "bingka waluh", nah kalau yang di sumap atau dikukus macamnya lebih banyak, ada hamparan tatak yang mirip kue nogosari dari Pulau Jawa tapi tidak dibungkus pisang, ada juga kue talam, lumpur dan lain-lainnya.

Tinutuan dengan Labu Kuning | @kaekaha

Sedangkan untuk teman makan berat, daging buah waluh juga biasa diolah menjadi sayur baik sayur bening dengan dicampur dengan bayam, maupun sayur santan (mirip lodeh tapi tidak pedas) dengan tambahan daun muda plus bunganya yang berwarna kuning cerah. Komposisi daun muda, bunga dan juga daging buah waluh ini juga menjadi andalan keluarga saya saat memasak tinutuan alias bubur Manado, kuliner yang dibawa leluhur istri saya dari kampung halamannya di kawasan tanduk Pulau Sulawesi.


Semoga Bermanfaat!

Salam Matan Kota 1000 Sungai, 

Banjarmasin nan Bungas!


Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN







 

Memahami Ibadah Shalat sebagai "Nukleus" Rasa Syukur Kepada-Nya

Keutamaan Shalat 5 Waktu Berjamaah di Masjid | @kaekaha

Sejak masjid di kampung kami dikelola oleh takmir yang mayoritas adalah anak-anak muda, beragam inovasi untuk kemakmuran masjid dan juga pemberdayaan jamaahnya secara konsisten terus berkembang. 

Selayaknya dinamika prinsip kaizen yang mengajarkan setiap detik waktu yang kita songsong adalah momentum terbaik untuk terus memperbaiki diri.

Salah satu yang dinamikanya paling aktual dan faktual adalah konsep dan metode dakwahnya yang selalu up to date, sehingga jatuhnya lebih tepat sasaran, fokus dan aplikatif untuk jamaah dan umat.

Melalui berbagai media sosial dan grup aplikasi perpesanan khususnya grup WA yang dikelola masjid, tim admin yang dikendalikan oleh alumni salah satu universitas Islam ternama di jazirah arab ini, tidak hanya sekedar mempermudah komunikasi dan silaturahmi semata, tapi juga mempermudah dan mempercepat distribusi info, reminder dan juga materi dakwah digital dengan tema-tema aktual.

Salah satu kreatifitas anak-anak muda takmir masjid kami yang paling "nyantol" di banyak jamaah adalah ajakan digital berupa reminder untuk selalu shalat 5 waktu di masjid dengan diksi yang selalu unik, menarik dan segar, khususnya untuk "mas-mas dan bapak-bapak" penghuni grup WA jamaah masjid.

"Mas-mas dan Bapak-bapak, Monggo Sholat 5 waktu di Masjid!"

Cerdasnya, anak-anak muda ini juga selalu menambahkan "catatan ekor" berisi narasi singkat, padat dan jelas berbagai tematik dakwah yang menggugah, terutama terkait keutamaan-keutamaan ibadah shalat yang sejatinya merupakan "nukleus" dari rasa syukur kita, umat manusia kepada Allah SWT.

"Inti (pokok) segala perkara adalah Islam dan tiangnya (penopangnya) adalah shalat." (HR. Tirmidzi no. 2616 dan Ibnu Majah no. 3973)

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, "Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada hari kiamat adalah shalatnya..." [HR. Tirmidzi, no. 413 dan An-Nasa'i, no. 466]

Dua hadits yang secara tegas menyebut shalat adalah tiangnya agama sekaligus amalan pertama yang akan dihisab di hari pengadilan kelak tersebut, merupakan dua dari sekian banyak "catatan ekor" yang sering menyertai reminder ajakan shalat di masjid via media sosial masjid.

Shalat Berjamaah Saat Pandemi COVID-19| @kaekaha

Sedemikian pentingnya ibadah shalat bagi umat! Melaksanakan shalat 5 waktu, termasuk keutamaannya di masjid untuk mas-mas dan bapak-bapak alias untuk pria adalah bentuk ketaatan kita kepada Rasulullah SAW dan juga ketakwaan kita kepada Sang Khalik, Allah SWT.

Karena perintah shalat berjamaah (5 Waktu di masjid) berikut keutamaannya (banyak juga ulama yang menafsirkannya sebagai kewajiban) banyak terdapat dalam Alquran dan Hadist Rasulullah.

Salah satunya adalah di QS. Al-Baqarah : 43 yang artinya "Dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan ruku'lah bersama orang-orang yang ruku" dan juga beberapa hadits Rasulullah SAW seperti, HR. Al-Bukhri, no. 644; Muslim, no. 651; Abu Dawud, no. 548; An-Nasa-I, II/107; dan Ibnu Majah, no. 79.

Jika shalat 5 waktu di masjid adalah bentuk riil ketaatan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT, maka sejatinya ketaqwaan kepada Allah SWT yang secara sederhana bisa kita maknai sebagai upaya untuk melaksanakan semua perintah dan menjauhi semua larangan-Nya merupakan nukleus alias inti dari rasa syukur kita kepada Allah SWT. Wallahu alam Bisshawab.

Semoga bermanfaat!

Salam matan Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas!

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN