Tampilkan postingan dengan label ramadan 2024. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ramadan 2024. Tampilkan semua postingan

Minggu, 17 Maret 2024

Bertinutuan, Sahur Bubur yang Sedap di Lidah dan Sehat di Badan

Tinutuan alias Bubur Manado | @kaekaha

Bertinutuan atau menikmati Tinutuan alias Bubur Manado bersama-sama, merupakan salah satu tradisi warisan leluhur dari keluarga istri saya yang berasal dari Air Madidi, Minahasa Utara yang sampai saat ini masih terpelihara dengan baik.

Setidaknya, sebulan minimal bisa 2 atau 3 kali kami bersama keluarga besar menikmati tinutuan yang artinya dalam bahasa Indonesia adalah semrawut atau campur aduk tersebut.

Sebagai penikmat sayur-sayuran hijau sejak dini, saya langsung jatuh cinta dengan tinutuan ketika pertama kali menyantapnya, maklum orang gunung yang lahir dan besar di kaki Gunung Lawu yang kiri kanannya memang melimpah sayur mayur.

Jujur, saya sangat menyesal baru mengenal kuliner sedap sarat nutrisi lengkap ini baru, setelah menikah dengan Urang Banjar, keturunan Minahasa. Kenapa nggak dari dulu ya?

Khusus di Bulan Ramadan, tradisi bertinutuan kami justeru lebih sering, baik untuk menu sahur rame-rame maupun buka bersama rame-rame. 

Bahan Pembuatan Tinutuan ala Kearifan Lokal Urang Banjar | @kaekaha

Nah khusus untuk yang terakhir keluarga kami juga sesekali berbagi menu yang relatif murah tapi super sehat ini dengan tetangga dan juga jamaah masjid di dekat rumah.

Hitung-hitung, selain berbagi rezeki sekaligus berharap pahala puasa dari membukakan puasanya orang lain, juga ikut memperkenalkan sekaligus melestarikan menu makanan yang layak digelari superfood ini ke masyarakat.

Bubur tinutuan termasuk kuliner murah, tapi jelas tidak murahan! Selain karena bahan-bahannya mudah didapat dari sekitar rumah, apalagi di pasar...he...he...he..., cara membuatnya juga sangat mudah.

Tapi ya itu tadi! Sudah rasanya pasti enak, buburnya yang lembut, hangat dan mudah dicerna membuat perut lebih nyaman dan aman. Kerennya lagi, nutrisi yang dikandungnya juga bukan kaleng-kaleng, sangat lengkap memasok kebutuhan energi penikmatnya.

Memang sih, resep tinutuan khas keluarga istri yang 2 generasi terakhir sudah lahir dan besar di Banjarmasin,  secara prinsip sudah ber-evolusi menyesuaikan lidah Urang Banjar alias tidak lagi otentik 100% seperti aslinya yang dibawa oleh leluhurnya langsung dari Air Madidi.

Misalnya, kita tidak lagi menggunakan batang sereh, daun Gedi (Abelmoschus manihot) dan daun Leilem (Clerodendrum minahassae) yang di Banjarmasin sulit di dapat, begitu juga pemanfaatan sayuran lainnya yang sifatnya lebih insidental alias sesuai dengan kebutuhan, keinginan dan tentunya kemampuan dan ketersediaan di kebun dan dapur.

Termasuk pemanfaatan ikan rawa yang ada dan tersedia di kolam samping rumah sebagai “tandem” menyantap tinutuan, semua tergantung mood kebutuhan, keinginan dan pastinya ketersediaan bahan ikannya. Inilah hebatnya memasak tinutuan, bebas berinovasi dan berimprovisasi sesuai dengan kebutuhan, kemampuan dan keadaan!

Tapi jangan salah! Dari kelengkapan semua bahannya, terutama dari ragam sayur-sayurannya, umbi-umbiannya, juga buah labu dan bahan karbo dari beras, singkong dan jagung manisnya, asupan nutrisi tinutuan ala keluarga kami dijamin tetap berkualitas prima.

Nggak percaya? Ok, kita bedah ya kelengkapan bahan dan kandungan nutrisi bahan-bahannya!

Baca Juga Yuk! Berburu Kuliner Tradisional Banjar di Pasar Wadai Kota 1000 Sungai

Selain menggunakan beras pulen dari Jawa sebagai bahan utama bubur, bahan sayuran yang biasa kami olah secara reguler adalah kangkung, bayam daun kemangi dan daun bawang pre.

Sedangkan secara insidental kami juga sering menambahkannya dengan pucuk daun waluh berikut bunganya, daun so atau daun belinjo muda, kuncup daun kastela atau kuncup daun pepaya yang warnanya masih transparan. 

Bisa juga tambahkan tomat, juga kentang,  wortel dan sesekali rebung kalau pas ada,  bahkan saat isteri hamil dan menyusui sering juga kami tambahkan daun katu.

Selain itu, potongan buah waluh kuning, jagung manis dan potongan singkong juga tidak pernah absen dari olahan bubur yang sejatinya merupakan representasi kecerdasan masyarakat Minahasa dan Sulawesi Utara dalam menyiasati krisis pangan di era penjajahan ini.

Bahan Lauk Ikan Haruan atau Ikan Gabus | @kaekaha

Sedangkan untuk “teman” menyantap tinutuan, kami tidak selalu menjadikan ikan asin sebagai satu-satunya tandem abadi, tapi sering juga kami tambahkan ikan haruan atau gabus, ikan patin, ikan teri, udang papay atau udang kering, bahkan ikan talang, itu lho ikan asin premium khas Kalimantan Selatan.

Nah karena citarasa dasar tinutuan adalah gurih-hambar, maka sebagai tambahan mood booster, selayaknya masyarakat nusantara lainnya, sudah pasti kami juga menyantap tinutuan dengan sambal. Secara reguler, biasanya kami menjadikan sambal acan atau sambal terasi bercitarasa asin pedas dan sedikit asam khas Banjar sebagai penyedap tradisional bubur tinutuan.

Baru, kalau kepingin atau memang ada persiapan bahan, kami biasa juga membuat sambal dabu-dabu, sambal roa, bahkan juga bakasang, itu lho hasil fermentasi ikan cakalang cincang dengan bahan-bahan tertentu dengan cara di jemur. Ini kalau dibuat sambal rasanya juara, kawan!

Waluh Kuning Bernutrisi Tinggi | @kaekaha

Mari kita cermati bersama! Dari daftar bahan-bahannya seperti tersebut diatas, jelas bahwa tinutuan memang superfood yang kaya serat dan   banyak nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh kita, termasuk yang sedang berpuasa.

Karbohidrat yang bersumber dari bubur beras, singkong dan jagung merupakan penyuplai kebutuhan energi selama berpuasa. Sedangkan ragam sayuran yang begitu banyak merupakan sumber vitamin dan mineral yang baik untuk tubuh.

Begitu juga dengan beragam ikan segar maupun kering sebagai teman sedap menyantap tinutuan merupakan sumber protein yang baik.

Penasaran dan ingin mencoba tinutuan untuk sahur besok pagi!? Jangan kuatir, ini ada resep keluarga yang halal untuk dibagi-bagikan kepada siapa saja yang ingin mencobanya. Semoga menjadi amal jariah ya! Amin.

Tomat Segar Bergizi | @kaekaha

Bahan-bahan dasar bubur (standar)

200 gr beras pulen

1,5 liter air

2 lembar daun salam

Garam secukupnya

ubi kayu atau singkong potong sesuai selera, secukupnya

Labu kuning secukupnya

Jagung manis secukupnya

Seikat kangkung segar, ambil daun dan batang atas

Seikat bayam segar, ambil daun dan batang atas

Daun Kemangi secukupnya

Bahan tambahan (Kalau berkenan)

Sereh secukupnya.

Pucuk daun waluh berikut bunganya, secukupnya.

Daun so atau daun belinjo muda, secukupnya.

Daun katu secukupnya.

Kuncup daun kastela atau kuncup daun pepaya yang warnanya masih transparan, secukupnya saja.

2 biji tomat segar.

Kentang, wortel dan rebung iris sesuai selera, secukupnya.

Ikan teri/ udang papay secukupnya.

Catatan : Untuk bahan tambahan ini sifatnya insidental saja alias kalau mau. Bisa semua itemnya dipakai atau pilih saja sayurnya sesuai selera.

Ikan Patin Goreng Ini Sedap Betul! | @kaekaha

Bahan Lauk :

Ikan asin secukupnya

Ikan haruan/gabus sesuai selera dan kebutuhan

Ikan patin sesuai selera dan kebutuhan

Ikan teri/udang papay/ikan telang secukupnya, sesuai selera.

Catatan : untuk lauk ini silakan pilih yang paling disukai saja untuk menambah citarasa saat menyantap tinutuan.

Bahan Sambal :

Cabai secukupnya

Terasi secukupnya

Bawang merah Secukupnya

Garam secukupnya

Jeruk sambal

Bahan Sambal | @kaekaha

Cara Membuat :

Rebus beras dan daun salam sampai lunak selayaknya bubur.

Tentatif, kalau suka bisa juga ditambahkan batang serai, bonggol bawang pre dan teri/udang papay untuk menambah aroma dan citarasa bubur.

Tambahkan juga dalam panci bubur, bahan dan sayuran keras seperti labu, singkong, kentang, wortel dan rebung kalau ada

Jika beras sudah nampak lunak, tambahkan sedikit garam kemudian aduk hingga merata dan cicipi untuk koreksi rasa.

Setelah itu tambahkan daun kangkung, bayam dan daun kemangi hingga aroma wanginya menguar.

Setelah masak, segera hidangkan bubur dalam keadaan panas-panas bersama dengan lauk ikan yang dipilih dan juga sambal Acan atau sambal pilihan anda sendiri.

Mengutip laman hallodoc, disebutkan dalam 100 gram bubur manado, akan didapatkan  nutrisi sebagai berikut :

Energi: 156 kkal

Protein: 2,3 gram

Lemak: 0,2 gram

Karbohidrat: 15,60 gram

Serat: 8,2 gram

Vitamin C: 15 miligram

Kalsium: 41 miligram

Kalium: 164 mg

Fosfor: 20 mg

Tembaga: 300 mikrogram.


Selamat mencoba!

Semoga bermanfaat! 

Salam Matan kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas!

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN


Berburu Kuliner Tradisional Banjar di Pasar Wadai Kota 1000 Sungai

Pasar Wadai Banjarmasin | @kaekaha
Pasar Wadai Banjarmasin | @kaekaha

Pasar Wadai Ramadan atau pasar kue selama bulan Ramadhan merupakan even kuliner legendaris yang menjadi kalender tetap pemerintah kota Banjarmasin dalam rangka menyemarakkan kehadiran bulan suci Ramadan setiap tahunnya.

Pasar  yang hadir selayaknya bazar kuliner tradisional khas Banjar ini selalu menghadirkan berbagai macam kearifan lokal kuliner khas Banjar dari beragam kue basah yang terkenal manis dan legit, kue kering, juga beragam kuliner berat khas Banjar yang banyak diantaranya hanya ada di bulan Ramadhan.


 

Anda pernah menikmati karih kambing atau karih ayam khas Banjar? Atau mungkin mau merasakan Ipau? Itu lho pizza tradisional ala Urang Banjar yang citarasa gurih plus rempah-rempahnya selalu bikin Karindangan?

Simak keseruan berburu ribuan jenis kuliner khas Banjar dan kuliner dari berbagai negeri? Langsung saja klik videonya yaa!

Semoga Bermanfaat!

Salam matan Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas!

Input sumber gambar

Sabtu, 16 Maret 2024

Basambang di Pasar Wadai, Menikmati Konservasi Kuliner Khas Banjar



Pasar Wadai, Arena Basambang alias Ngabuburit Favorit Urang Banjar | @kaekaha


Pernah dengar kosakata Basambang atau Basasambang!?

Basambang atau basasambang merupakan kosakata bahasa Banjar yang mempunyai makna sepadan dengan kata istilah ngabuburit, kosakata bahasa Sunda yang sekarang telah menasional dan dimaknai sebagai aktifitas menunggu azan Maghrib terutama saat Ramadan.

Keberadaan kosakata Basambang atau basasambang dalam kosakata bahasa Banjar, menjadi petunjuk faktual bahwa dalam tradisi ramadanan masyarakat Banjar juga ada aktifitas senja untuk menunggu datangnya waktu Maghrib, terutama di bulan Ramadhan.

Nah, lantas apa saja dan dimana saja aktifitas Basambang atau ngabuburit Urang Banjar di sepanjang bulan Ramadhan!?

Aktifitas Basambang Air ala Urang Banjar di Sungai Martapura | @kaekaha

Sebagai kota berjuluk 1000 Sungai, sudah pasti Kota Banjarmasin tumbuh dan berkembang dari peradaban budaya sungai, karenanya menjadi wajar jika hampir semua landmark dan juga bangunan-bangunan penting di Kota Banjarmasin didirikan tidak jauh dari Sungai, bahkan sebagian besar memang menghadap sungai.

Sebut saja Masjid Raya Sabilal Muhatadin, Kantor Gubernur (lama), Kantor Walikota dan kantor publik lainnya, termasuk Markas Polda, Korem sampai sekolah dan beragam jenis pasar yang kesemuanya dibangun di bibir sungai, bahkan pasar terapung justeru eksis di atas sungai!

Itu artinya secara tradisional aktifitas Urang Banjar memang tidak bisa jauh dari sungai yang sudah menjadi urat nadi kehidupannya sejak berabad-abad silam.

Apalagi sejak pemerintah kota Banjarmasin membranding kota Banjarmasin sebagai kota Sungai terindah di dunia, banyak ruang publik terbuka hijau berupa taman dan tempat bermain anak-anak sampai orang dewasa dibangun di sepanjang tepian sungai Martapura, satu dari dua sungai besar yang membelah kota selain Sungai Barito.

Di taman-taman terbuka hijau yang lokasinya sangat dekat dengan masjid dan dikenal Urang Banjar sebagai kawasan siring inilah tempat Basambang alias ngabuburit paling ramai di kawasan kota Banjarmasin.

Siring Kantor Walikota  Banjarmasin | @kaekaha

Sebut saja siring Tendean, Siring Sudirman, siring pasar lama, Siring sungai baru, Siring bekantan park dan lain-lainnya.

Selain menawarkan view hijaunya hutan kota dan juga taman vegetasi khas rawa dataran rendah, juga daerah aliran sungai alias DAS, di siring-siring ini juga sering diadakan even-even olahraga, seni dan budaya.

“Salah dua” diantaranya yang paling dinanti-nanti saat Ramadan adalah aktifitas jelajah susur sungai dan Pasar Wadai alias bazar kuliner khas Banjar terbesar di Kalimantan Selatan.

Pasar Wadai 1445 H/2024 | @kaekaha

Memang untuk even pasar wadai, sejauh ini ada 3 tempat yang biasa dipakai untuk penyelenggaraanya, yaitu di Siring Sudirman di depan kantor gubernur lama, Siring Balaikota di depan kantor walikota dan di taman Kamboja yang ketiganya secara umum juga tidak jauh-jauh dari sungai.

Even pasar wadai ini menjadi salah satu event budaya dan pariwisata spesial sekaligus paling ditunggu oleh masyarakat karena di event inilah semua kuliner khas Banjar yang termasuk langka dan muncul sifatnya hanya temporer pada waktu-waktu tertentu atau waktu-waktu khusus biasa tampil dan keluar dari sarangnya.

Kue-kue Tradisional khas Banjar | @kaekaha

Namanya memang “pasar wadai” alias pasar kue, tapi yang di jual tidak hanya kue-kue khas Banjar yang dikenal bercitarasa manis dan legit saja , tapi juga beragam olahan masakan “sedap betul” untuk makan berat khas Banjar. 

Tidak hanya itu, di area bazar yang memanfaatkan Siring dan juga ruas jalan raya RE Martadinata di depan Kantor Walikota Banjarmasin, sepanjang kurang lebih 500 meter ini juga terdapat stan kuliner dari berbagai daerah di Indonesia, bahkan juga menu-menu dari timur Tengah, Asia timur dan Afrika. Keren kan!?

Stand Wisma Kambing, Arabian Food di Pasar Wadai | @kaekaha

Karena fakta ini juga, kehadiran Pasar Wadai setiap ramadan dianggap ikut berjasa melestarikan eksistensi kuliner Banjar selayaknya selayaknya ruang konservasi bagi beragam produk budaya kuliner khas masyarakat Banjar yang masih otentik sampai saat ini.

Jika anda pernah mendengar 41 macam wadai khas Banjar yang biasa menjadi uborampe alias kelengkapan berbagai upacara tradisional khas tradisi masyarakat Banjar yang sebagian termasuk sudah langka dan jarang ditemukan seperti,

Apam Habang, Apam Putih, Bubur Habang, Bubur Putih, Bubur Baayak, Babungku, Babalungan Hayam, Bingka, Cingkaruk Habang,, Cingkaruk Putih, Cincin, Cucur Habang, Cucur Putih, Cucur Kuning, Dodol Habang, Dodol Putih, Gagatas Habang, Gagatas Putih, Hintalu Karuang, Kakicak Habang, Kakicak Putih, Kakicak Gumbili dan Kakulih Habang.

Kue Ipau, Pizza khas Banjar | @kaekaha

Selain itu ada juga  Kakulih Putih, Kalalapun, Lakatan Putih Bahinti, Lakatan Kuning Bahintalu, Lamang, Lupis, Pupudak Baras, Pupudak Sagu, Papari, Putu Mayang, Roti Baras Habang, Roti Baras Putih, Roti Sagu, Surabi, Tapai Baras, Tapai Gumbili, Ular-Ular dan Wajik, kalau Anda beruntung anda akan menemuinya di pasar wadai ramadan.

Daftar di atas belum termasuk kue-kue sedap lainnya seperti kue ipau, hula-hula, jaring tahi Lala, juga aneka bubur manis khas Banjar yang jumlahnya juga tidak kalah banyak dan pastinya juga enak.

Selain beraneka ragam wadai alias kue, dalam tradisi kuliner orang Banjar juga dikenal  beragam kuliner untuk makan berat yang tidak kalah banyak dan enaknya.



Sebut saja selada banjar, lontong tampusing, ketupat batumis, garih batanak, itik masak habang, soto Banjar, Gangan Katuyung, Gangan Haliling, gangan keladi, Gangan umbut, gangan asam Banjar, pundut nasi, pundut nasi isi telur itik, cancangan itik, haruan baubar dan banyak lagi yang lainnya.

Inilah magnet bagi masyarakat Banjar beramai-ramai datang untuk basambang alias ngabuburit di pasar wadai. Anda ingin merasakan sensasinya juga? Yuk main ke Banjarmasin...

Semoga Bermanfaat! 

Salam matan Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas!

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | @kaekaha

Kamis, 14 Maret 2024

Big Surprise! Ini Rasanya Bukber Sama Teman Lama di Perantauan

Big Surprise! Ini Rasanya Bukber Sama Teman Lama di Perantauan
Buka Puasa Bersama Teman-teman | @kaekaha

Anda percaya dengan peribasa dunia tak selebar daun kelor?

Sejak sering mendapatkan tugas kerja ke Pulau Kalimantan, hingga sekarang menetap di Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas! sejak lebih dari 2 dekade silam, saya jadi berkesempatan berkunjung dan singgah di banyak kota di seluruh pelosok bumi Borneo, tidak terkecuali di saat bulan Ramadan, bahkan saat lebaran.

Mungkin karena dasarnya saya suka travelling dan kebetulan saat itu masih bujang, jadi saya merasa enjoy saja menikmati pekerjaan yang mengharuskan saya berkeliling Kalimantan yang kelak meninggalkan banyak jejak cerita, baik suka dan duka, juga heroik dan melankolik, terutama saat Ramadan dan lebaran tiba.

Salah satu "genre cerita" yang tidak akan pernah saya lupakan adalah momentum tidak sengaja beberapa kali bertemu dengan teman lama, baik teman sekampung, teman sekolah, teman kuliah, bahkan juga "mantan" di tanah rantau, seberang lautan yang jauh dari kampung halaman.

Di salah satu SPBU di Kota Tepian, Kota Samarinda, Kalimantan Timur, saat itu saya baru saja selesai membayar bensin untuk mobil dinas yang saya pakai sehari-hari selama bertugas, ketika tiba-tiba seseorang dari mobil sebelah menyapa saya.

Percaya nggak percaya, dia ternyata Budi, teman satu kos-kosan sekaligus teman  sekelas waktu kuliah dulu di Kota Tembakau di ujung timur Pulau Jawa dan kami sudah 20 tahunan lebih nggak pernah ketemu dan kehilangan kontak!

Ternyata dia sudah menjadi warga Kota Tepian, Samarinda dan berkarir di salah satu perbankan milik negara. Masha Allah, tahukah anda bagaimana rasanya pertemuan tak terduga ini!?

Karena saat itu sudah menjelang adzan Magrib sekaligus waktu berbuka, akhirnya kami memutuskan untuk menuju ke Masjid Al Khairiyah di ujung jalan KH. Aboel Hasan, selain dekat dengan tempat saya menginap, setelahnya kami juga bermaksud bukber bersama di rumah makan Surabaya, langganan saya yang lokasinya hanya beberapa meter dari masjid.

Sebenarnya sih, Budi mengajak saya untuk bukber bersama keluarga kecilnya di rumah, tapi karena agak jauh maka saya sarankan untuk bukber di rumah makan Surabaya saja, apalagi capcay kuah yang menjadi menu andalan rumah makan Jawa Timuran ini, merupakan menu favorit kami berdua sejak dulu.

-Advertisement-

Sungguh saya benar-benar tidak menyangka di pertemukan Allah SWT dengan Budi di Samarinda yang sangat jauh dari Kota Tembakau titik pertama kami bertemu, apalagi dari kampung kami masing-masing, di saat Ramadan pula!

Kejutan dari Allah SWT ternyata tidak berhenti disini! Ditengah-tengah kami asyik menikmati cap cay kuah sambil menceritakan perjalanan hidup masing-masing selama kami terpisah, tiba-tiba istri Budi menghampiri kami dan yang membuat saya syok berat adalah ternyata istri Budi adalah "mantan" saya waktu masih berseragam abu-abu putih. Nah loooooo!

Kami bertiga saling pandang dan untuk sesaat tidak ada kata yang terucap! Uniknya, ternyata Budi tidak tahu sama sekali kalau Dewi adalah mantan saya, begitu juga sebaliknya! Dewi ternyata juga tidak tahu sama sekali kalau Budi sahabat saya semasa kuliah! Masha Allah apa ini yang dimaksud dunia tak selebar daun kelor!?

Sejak saat itu, di tanah seberang kami bertiga menjalin komunikasi layaknya keluarga. Semua gara-gara pertemuan dan bukber nggak sengaja!

Berikutnya, saya pernah juga bertemu dengan teman sekelas semasa SMP, secara tidak sengaja di Butong, Muara Teweh, Kalimantan Tengah, sebut saja namanya Chomarudin.

Kebetulan si Chomarudin yang dulu semasa sekolah jago matematika dan pelajaran eksak lainnya ini, pelitnya minta ampun kalau urusan dimintai tolong pelajaran matematika dan pelajaran berhitung lainnya, hingga teman sekelas jarang ada yang akrab dengannya, termasuk saya...he...he...he...

Kami bertemu setelah hampir 25 tahun hilang kontak! Saat itu, kami bertemu di rumah makan untuk berbuka puasa ketika sama-sama dalam perjalanan pulang. Saya menuju Banjarmasin dan dia dengan keluarganya menuju Kota Palangkaraya.

Luar biasanya, saat itu Chomarudin yang lebih dulu mengenali saya dengan langsung memeluk saya dari belakang sambil menyebut nama lengkap saya secara fasih.

Sungguh pertemuan kami saat itu begitu cair dan mengharukan sekali. Bagaimana bisa, kami bisa bertemu saat buka puasa di suatu tempat yang dulu sewaktu sekolah tidak pernah kami dengar namanya apalagi berpikir untuk mendatanginya!

Sifat kanak-kanak kami yang mungkin dulunya terlihat angkuh, sombong dan tidak bersahabat ternyata luruh berganti dengan pelukan selayaknya sahabat lama yang tidak pernah berjumpa.

Sejak saat itu, jalinan pertemanan kami yang sempat kepaten obor, menjadi cair kembali selayaknya sebuah keluarga, sayang Chomarudin yang berbadan tinggi besar ternyata ditakdirkan Allah SWT, harus pulang menghadapNya lebih dulu dari kita semua, setelah gagal bertahan dari keganasan Covid-19 di awal 2021 silam. Innalilahi wa Inna ilaihi rajiun.

-Ad

Berdasarkan dari pengalaman saya selama ini hidup di perantauan, Tidak ada yang lebih membuat bahagia dalam pertemanan selain bertemu dengan orang-orang baik yang bisa menjadi teman dan sahabat, selayaknya keluarga sendiri.

Begitu juga dengan teman-teman lama, baik yang sefrekuensi maupun yang tidak, menurut saya tidak ada satupun alasan untuk tidak duduk bersama lagi, apalagi kalau event-nya adalah buka bersama.

Selain kembali menyambung silaturahmi dan menghidupkan obor yang telah lama mati, tentu keberkahan dari buka bersama dengan teman-teman lama ini sangat luar biasa manfaatnya.

Semoga bermanfaat!

Salam matan Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas!

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | @kaekaha
Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | @kaekaha

Kai Udin dan Kronika Paginya yang Mewah dan Penuh Berkah

Kai Udin Mamutiki Iwak Matan Tampiray | @kaekaha

Sudah menjadi rahasia umum, kedekatan Urang Banjar dengan Islam telah berkelindan begitu kuat dalam tradisi dan budaya banjar, sehingga dalam beberapa kesempatan relatif sulit untuk mengidentifikasikan mana budaya Banjar dan mana budaya Islam.

Situasi ini bisa kita temukan salah satunya dalam kronik pagi di keseharian Kai Udin (kakek Udin;Bhs. Banjar) termasuk di sepanjang bulan Ramadan kali ini.

Menurut Kai Udin yang menurut pengakuan beliau saat ini usianya telah menyentuh angka 80-an, beliau tidak pernah meninggalkan qiyamullail alias ibadah shalat malam, berikut berdzikir dan berighstifar di sepertiga malam terakhir untuk menjaga komunikasinya dengan Sang Khalik, Allah SWT.

Begitu juga dengan amalan sunah yang penuh berkah lainnya, yaitu makan sahur di waktu Sahar, waktu di akhir malam sesaat sebelum terbit fajar atau  sekitar 20 menit sebelum adzan Subuh.

Kerennya, “tradisi” Kai Udin ini ternyata dalil-dalilnya dalam Alquran dan juga hadits ada semua dan menariknya, waktu Sahar yang sekarang justeru kita kenal sebagai waktu imsyak ini ternyata termasuk waktu yang sangat spesial, waktu premium.

 (yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap taat, yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur. (QS. Ali Imran : 17)

Dalam QS. Ali Imran ayat 17 diatas, Allah SWT menyebut waktu sahar sebagai waktu terbaik dikabulkannya doa, termasuk permohonan pengampunan melalui lafadz Istighfar kita.

Sedangkan dari hadits Sahih Bukhari No. 1066 disebutkan posisi waktu Sahar, yaitu

 ...setelah keduanya selesai makan sahurnya, maka Rasulullah bangkit untuk segera melaksanakan shalat. Kami bertanya kepada Anas RA,“Berapa tenggang waktu antara selesai makan sahur keduanya dengan awal shalatnya?” Anas bin Malik RA, berkata, “Kira-kira selama seorang membaca lima puluh ayat”. 

Itulah sebabnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk sungguh-sungguh berdoa, beristighfar, juga bersahur di waktu premium ini.  “Duh, sayang sekali kalau kita melepaskan waktu premium ini begitu saja”, kata Kai Udin

Tidak hanya itu, menurut Kai Udin, selepas melaksanakan berbagai ritus ibadah sunah di waktu sahar ini, semangat ibadah jangan ngendor! Apalagi sampai keuyuhan (bhs Banjar ; kecapekan) dan tertidur. “Waaaah rugi besar!” Kata Kai Udin!

Karena sesaat setelahnya kita akan kembali bertemu dengan momentum premium berikutnya, apa itu!? Waktu shalat Subuh.

Kumandang azan Subuh menjadi tanda terbitnya fajar, sekaligus sebagai tanda masuknya waktu Subuh dan dimulainya ibadah puasa.

Di waktu ini menurut Kai Udin, Rasulullah menganjurkan kita untuk melaksanakan shalat Sunnah Fajar atau Qabliyah Subuh sebanyak dua raka’at yang pahalanya, dijanjikan Allah SWT  lebih baik dari dunia dan seisinya! Sekali lagi pahalanya adalah lebih baik dari dunia dan seisinya! 

Masha Allah! Luar biasa bukan!? Bukankah ini mewah banget pahalanya!?

Tidak hanya itu, diantara adzan Subuh sampai Iqamah shalat Subuh, menurut Kai Udin, Allah SWT juga menjadikannya sebagai waktu yang juga premium, waktu yang mustajab untuk kita   berdoa, memohonkan apa saja!

Lhah kalau shalat sunah Fajar saja pahalanya lebih baik dari dunia dan seisinya yang kemewahannya tidak akan pernah bisa ditandingi oleh makhluk terkaya di dunia sekalipun, bagaimana dengan pahalanya shalat Subuh berjamaah di masjid?

Maka nikmat Tuhan kamu yang mana yang kau dustakan Son!?

Setelah shalat Subuh dan dilanjutkan dengan berdzikir seperti yang Rasulullah ajarkan, menurut Kai Udin, jangan juga buru-buru bergegas untuk pulang ya! Di sini, Rasulullah menganjurkan kita untuk berdiam sejenak di masjid untuk menunggu waktu syuruq guna melaksanakan shalat isyraq, dua Rakaat saja.

Tahukan ganjaran yang dijanjikan Allah SWT untuk ibadah yang satu ini!? Menurut Kai Udin, ganjaran pahalanya setara dengan ibadah haji dan umrah yang mabrur. Masha Allah!

Disela-sela waktu menuju waktu syuruq ini, Rasulullah menganjurkan kita untuk membaca bacaan dzikir pagi dan setelah selesai, tuntaskan kronik pagi dengan ibadah shalat isyraq, kata Kai Udin.

Setelah selesai, biasanya Kai Udin langsung turun dari langgar untuk pulang dan melanjutkan aktifitas Sidin (bhs.Banjar;beliau) di rumah, yaitu mamutiki iwak matan tampiray atau memanen ikan dari alat jebakan.

Dalam aktifitas inilah ternyata Kai Udin “berolahraga”. Untuk memanen ikan dari alat jebakan tradisional yang di Banjarmasin sering disebut tampiray ini, Sidin biasanya harus mendayung jukung atau perahu kecil khas Banjar, pergi-pulang bisa mencapai 5-8 km.

Belum lagi harus berenang dan menyelam di beberapa spot tempat tampiray dipasang yang lokasinya tidak hanya di tepian sungai saja, tapi juga sampai masuk ke dalam area rawa-rawa Lebak pasang surut yang terkadang jukung tidak bisa menjangkaunya.

Pantas ya, diusia senjanya Kai Udin masih sehat dan gesit mendayung jukung, hingga enggan untuk segera “gantung dayung” alias pensiun mendayung pagi-sore untuk memanen ikan.

Setelah sampai kembali ke rumah, sekitar jam 10 atau paling lambat jam 11 WITA, Kai berusaha untuk tidak meninggalkan shalat Dhuha, minimal dua raka’at. Menurut Kai Udin, shalat Dhuha merupakan salah satu dari tiga wasiat Rasulullah kepada umat Islam agar terus berusaha dilaksanakan.

Setelah selesai shalat Dhuha, menurut Kai Udin, Sidin selalu berusaha menyempatkan untuk tidur Qoilulah, yaitu tidur sebentar sesaat menjelang waktu Dzuhur yang manfaatnya laksana makan sahur bagi orang yang berniat berpuasa.

Masha Allah, kronik pagi Kai Udin ini telah diterapkan beliau sejak masih belia puluhan tahun silam, sampai sekarang, sampai detik ini dan hasilnya, luar biasa mewah dan penuh berkah.

Semoga Bermanfaat!

Salam matan Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas!

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | @kaekaha