Indahnya harmoni budaya sungai khas Kalimantan Selatan
Berlibur, saat ini bukan lagi “barang mewah” yang menjadi domain dari kalangan kelas atas yang berkantong tebal. Revolusi teknologi informasi, khususnya kehadiran internet dengan segala produk turunannya yang fenomenal berupa “reportase warga (citizen journalism)”, baik dalam bentuk BLOG (tulisan) maupun VLOG (video) yang biasanya berisi informasi yang sangat detail, turut merubah perilaku serta paradigma “berlibur atau berwisata” pada masyarakat.
Berlibur, berwisata atau apapun istilah yang familiar di masyarakat, sekarang mempunyai makna yang lebih luas dan jauh berkembang dari sekedar usaha untuk menghibur diri dengan menikmati indahnya pemandangan dan atau juga suasana di tempat wisata “mainstream” yang sudah ada dan tersedia yang biasanya juga telah termasyhur.
Tidak hanya itu, berkat semakin beragam dan berkembangnya kualitas isi maupun kemasan dari “reportase warga” khususnya di seputar tema pariwisata dan urusan berlibur yang terhimpun dalam berbagai macam platform, terutama kekuatan dalam pengambilan angle (personal/orang pertama) serta pelibatan emosi serta pengalaman dari penulis atau kameramen dalam memberi ilustrasi, secara tidak langsung akan menimbulkan ikatan emosi dengan pembaca atau penikmat video yang seakan-akan berada di tempat wisata yang menjadi obyek tulisan atau video tersebut.
Efeknya, berbagai keunggulan dari “reportase warga”, baik dalam bentuk BLOG (tulisan) maupun VLOG (video) tersebut, mulai menggeser dominasi media-media tradisional mainstream yang lebih dulu menjadi “penguasa” sumber informasi bagi masyarakat
Sekarang, masyarakat lebih cerdas dan pragmatis dalam memilih serta memilah sumber informasi. Lebih, cepat, akurat dan terpercaya, mereka langsung memilih situs-situs media online terpercaya yang secara khusus dan spesifik (spesialis) konsen hanya menyajikan informasi dengan tema-tema tertentu yang dicari.
Khusus untuk tema pariwisata dan liburan, situs Travelblog.id merupakan pioneer yang populer dan sedang naik daun di Indonesia. Situs yang secara khusus menjadi wadah bagi para blogger dan vlogger menuliskan berbagai pengalaman menariknya saat “berlibur” ini mempunyai fitur yang relatif lengkap, informatif dan sangat bermanfaat, baik bagi pembaca/penikmat videonya maupun bagi kreatornya (blogger dan vlogger)
Jadi, Travelblog.id itu seperti rumah besar yang siap menampung kreatifitas teman-teman blogger dan vlogger yang ingin terus berbagi informasi pariwisata dan liburan kepada dunia.
Khusus untuk para kreator baik blogger maupun vlogger selain bisa menyalurkan hobi menulis sekaligus sebagai media beraktualisasi diri, juga bisa mendapatkan reward keren. Reward berupa poin yang didapatkan dari setiap karya baik berupa tulisan maupun video yang berhasil tayang di laman situs Travelblog.id dan poin-poin yang didapat, nantinya bisa ditukar dengan produk-produk menarik lho!
Di Travelblog.idmasing-masing blogger maupun vlogger bisa membuat account sendiri-sendiri yang bisa diatur dan disesuaikan dengan kreatifitas masing pada fitur user yang secara lengkap berisi Dashboard, post artikel, post video, point dan tata cara penulisan di Travelblog.id.
Tertarik ikut nulis? Apalagi yang ditunggu!? Segera bikin account di Travelblog.id!
Berselancar di situs Travelblog.id, kita seperti diajak keliling Indonesia. Semua informasi wisata dari Sabang sampai merauke tersaji lengkap dalam ragam informasi yang unik dan sangat menarik, baik dalam bentuk tulisan, video maupun infografis, mulai dari destinasi wisatanya, kuliner khas daerahnya, ragam seni dan budaya masing-masing daerahnya juga tidak ketinggalan berbagai tips dan info menarik terkait pariwisata dan liburan.
Jika budget liburan keliling Indonesia masih belum cukup, nggak usah berkecil hati! Kita bisa kok keliling Indonesia dengan Travelblog.id. Mau lihat feature titik nol Indonesia paling barat di Pulau Weh? Atau ingin melihat pacu itik khas nagari Payakumbuh di Sumatera Barat!? Atau mungkin ingin mengetahui uniknya Pasar Terapung di Banjarmasin? Jangan kuatir, semua ada di Travelblog.id .
Jadi, nggak usah kemana-mana mencari referensi liburan atau wisata terlengkap dan teraktual! Cukup klik Travelblog.idsaja!
Masjid Sabilal Muhtadin Banjarmasin yang megah dan unik
(Foto : @kaekaha)
Masjid Sabilal Muhtadin atau dikenal juga dengan sebutan Masjid Raya Banjarmasin merupakan salah satu masjid terbesar dan termegah yang menjadi salah satu landmark Kota Banjarmasin dan Kalimantan Selatan. Kubah utama masjid yang terbuat dari logam tembaga berwarna keemasan dengan diameter mencapai 38 meter terlihat sangat unik, begitu juga 5 (lima) kubah pada menara yang ukurannya lebih kecil, sekitar 5-6m di ketinggian 45 m untuk menara utama dan 21 m untuk 4 (empat) menara pendamping. Desain arsitektur kubah ini terinspirasi dari tanggui, caping penutup kepala tradisonal khas masyarakat suku Banjar yang terbuat dari rangkaian daun nipah yang biasa dipakai petani dan nelayan beraktivitas. Bentuk kubah ini merupakan salah satu bentuk dialektika Islam dengan budaya lokal Suku Banjar yang paling mudah dilihat, sekaligus menjadi ciri khas keunikan Masjid yang dibangun pada tahun 1981 ini.
Petani berangkat ke ladang dengan tanggui menutupi kepala
(Foto: Putra Balangan)
Nama Sabilal Muhtadin diambil dari judul kitab atau buku buah karya ulama besar Kesultanan Banjar alm Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari (1710—1812), Sabilal Muhtadin lit-tafaqquh fi amriddin yang secara umum diartikan sebagai ”Jalan bagi orang-orang yang mendapat petunjuk untuk mendalami urusan-urusan agama". Nama tersebut merupakan salah satu bentuk penghormatan dan penghargaan terhadap jasa-jasa ulama besar yang selama hidupnya memperdalam dan mengembangkan agama Islam di Kerajaan Banjar atau Kalimantan Selatan sekarang ini. Ulama besar yang juga dikenal dengan sebutan Datu Kelampayan ini tidak hanya dikenal dan dihormati di lingkungan Kesultanan Banjar saja, tapi juga seluruh Nusantara, bahkan mancanegara. Beliau juga dikenal dan dihormati oleh umat Islam dan para alim ulama yang tersebar di Malaka, Filipina, Bombay, Mekkah, Madinah, Istambul dan Mesir. Makam beliau di daerah Kelampayan, Martapura, Kabupaten Banjar ini sejak lama dikenal sebagai salah satu destinasi wisata religius di Kalimantan Selatan.
Bedug hias dengan name tag Masjid Sabilal Muhtadin, Banjarmasin
(Foto: @kaekaha)
Masjid Sabilal Muhtadin dibangun di area seluas 100.000 m2 di bekas lahan asrama tentara "Tatas" (pada jaman penjajahan Belanda, kawasan ini merupakan tempat berdirinya Fort Tatas atau Benteng Tatas yang letaknya sangat strategis) tepat di tengah Kota Banjarmasin di tepian Sungai Martapura, salah satu anak Sungai Barito yang membelah Kota Banjarmasin. Urat nadi kehidupan masyarakat Kota Banjarmasin dan sekitarnya sejak berabad-abad silam.
Monumen peresmian Masjid Sabilal Muhtadin, oleh Presiden Soeharto
(Foto: @kaekahai)
Di dalam lingkungan area Masjid Sabilal Muhatadin terbagi atas Bangunan Utama masjid, plaza dan menara, bangunan pendukung (kantor MUI, BAZNAZ, administrasi, aula, dll), Lembaga Pendidikan, tanah lapang dengan rumput hijau dan Ruang terbuka hijau (RTH) Hutan kota Masjid Raya.
Secara umum, desain bangunan utama masjid yang terdiri dari dua lantai seluas 5.250 m2 berikut area plaza dan menara yang tinggi menjulang dibalut oleh batuan marmer sekitar 14.830 m2, menjadikan suasana di dalam masjid terasa adem dan sejuk. Sangat representatif untuk melaksanakan berbagai kegiatan ibadah dengan khusyuk dan khidmat. Hal ini didukung oleh desain pintu dan jendela masjid yang sengaja dibuat tinggi dengan jumlah banyak dengan model terawang atau tembus udara dan cahaya secara langsung. Uniknya, pada 4 (empat) pintu utama yang terbuat dari tembaga ini didesain begitu cantik dengan memadukan kaligrafi Arab yang bertuliskan nama-nama 4 (empat) Khalifah dengan ornamen ukiran hias khas suku Dayak yang cantik. Demikian juga dengan jendela-jendelanya.
Desain unik pintu utama Masjid Sabilal Muhtadin
(Foto: @kaekaha)
Jendela terawang menghiasi dinding samping kiri dan kanan Masjid
(Foto: @kaekaha)
Khusus untuk ornamen ukiran hias Suku Dayak, juga bisa ditemukan di sebelah kiri dan kanan mihrab utama tempat imam memimpin shalat berjamaah. Ornamen hias yang terbuat dari lempeng tembaga ini begitu anggun dipadukan dengan kaligrafi bertuliskan huruf Arab berbahan sama yang disusun mengikuti alur ruas mihrab. Sekali lagi, inilah sebuah dialektika cantik antara arsitektur Masjid Sabilal Muhtadin dengan hasil karya cipta budaya lokal yang menghasilkan perpaduan yang unik, cantik dan tentunya menambah estetika ruang dalam tempat ibadah terbesar bagi umat Islam di Kalimantan Selatan ini.
Ornamen Suku Dayak yang menghiasi kiri dan kanan mihrab
(Foto: @kaekaha)
Untuk interior di dalam ruangan utama masjid, hiasan kaligrafi bertuliskan ayat-ayat suci Al-Qur'an dalam bentuk khat indah bergaya Naski, Diwani, Riqah, Tsulus dan Kufik berbagai ukuran yang terbuat dari tembaga, mempercantik ruangan utama masjid. Kaligrafi yang paling mencolok dengan ukuran yang besar terlihat menghiasi dinding di sebelah kiri dan kanan mihrab. Sedangkan kaligrafi Asmaul Husna yang berisi 99 nama Keagungan Sang Maha Pencipta terlihat begitu cantik dan anggun menghiasi langit-langit masjid di bawah kaca patri yang berada tepat di bawah dinding penyangga kubah tanggui raksasa.
Selain itu, hiasan interior di dalam masjid yang terlihat khas selain tampilan kaligrafi dan ornamen Suku Dayak yang memesona adalah keberadaan lampu gantung hias (chandelier) yang tepat tergantung di tengah-tengah ruangan di bawah kubah tanggui raksasa. Lampu ini menurut kaum (pengurus/marbot masjid) terdiri dari 17 buah unit gantungan dengan ribuan bola kaca membentuk lingkaran bergaris tengah 9 m. Memunculkan kesan anggun dan cantik dalam balutan tema sederhana yang kental.
Lampu hias ruang utama masjid yang terlihat sederhana dan anggun
(Foto: @kaekaha)"]
Masjid yang mampu menampung jamaah sebanyak 15.000 orang, dengan rincian 7.500 pada bagian dalam dan 7.500 pada bagian halaman plaza ini, sebagian besar dinding serta lantai bangunan, menara dan turap plaza, termasuk juga sebagian dari kolam pancuran di bagian depan, berlapiskan marmer indah dengan kesan mewah, sedangkan untuk tempat mengambil air wudhu, dinding dan lantainya dilapisi dengan porselein, sedang untuk halaman plaza keseluruhannya dilapis dengan keramik.
Tempat wudhu terbuka di halaman masjid
(Foto: @kaekaha)
Selain pesona bangunan fisik dan berbagai ornamen indah yang menghiasi interior dan exterior Masjid Sabilal Muhtadin, area halaman luar masjid yang luas, hijau dan segar dengan berbagai koleksi tumbuhan tanaman langka merupakan oase menyegarkan bagi masyarakat Kota Banjarmasin, terlebih Kota Banjarmasin dikenal sebagai daerah dataran rendah dengan ketinggian rata-rata daratannya 60 mdpl yang mempunyai iklim panas dengan kelembaban tinggi, sehingga siang maupun malam akan selalu terasa gerah.
Hutan Kota Masjid Raya yang hijau dan segar
(Foto: @kaekaha)
Pohon-pohon besar yang tumbuh di halaman Masjid Sabilal Muhtadin
(Foto: @kaekaha)
Hutan Kota Masjid Raya Sabilal Muhtadin dan Taman Maskot yang ada di sebelahnya serta hutan kota milik Korem di seberang jalan yang banyak ditumbuhi tanaman-tanaman besar berkayu keras seperti angsana, rambutan, mangga, mahoni, kelengkeng dll merupakan kawasan terbuka hijau yang masih tersisa di Kota Banjarmasin. Dengan sendirinya, keberadaanya merupakan magnet tersendiri bagi aktifitas pariwisata masyarakat lokal Kota Banjarmasin. Letaknya yang strategis di tengah kota, berseberangan dengan area wisata menara pandang di siring Sungai Martapura dan ikon destinasi wisata baru berupa patung bekantan raksasa, menjadikan area ini tidak pernah sepi dari aktivitas masyarakat.
Kubah menara masjid dilihat dari siring Sungai Martapura (Foto: Koleksi Pribadi)
Tiap Minggu pagi, di kawasan ini (segitiga Masjid Sabilal Muhtadin, Menara Pandang dan Patung Bekantan) menjadi pusat aktivitas pariwisata Kota Banjarmasin. Di Masjid Sabilal Muhtadin diadakan kegiatan pengajian rutin oleh ulama terkenal Kalimantan Selatan, sedangkan di jalanan sekitarnya ada kegiatan car free daydan di sungai Martapura yang berada di seberangnya terdapat pasar terapung dan event-event sosial dan budaya lainnya. Jadi jangan heran pada Hari Minggu, masyarakat Kota Banjarmasin dan kota-kota sekitarnya akan tumpah ruah di area ini. Yuk, jalan-jalan ke Kota Banjarmasin....
“Dimana bumi dipijak, disitulah langit dijunjung!” Pepatah ini sangat tepat untuk menggambarkan posisi saya sebagai “orang rantau”. Sebagai orang Jawa yang lahir dan besar di Jawa, tinggal di Kota Banjarmasin, Kalimantan Selatan tentu memberi konsekuensi hidup yang tidak sesederhana yang awalnya saya bayangkan. Karena harus ada kompromi dan komodifikasi pada beberapa hal.
Untuk urusan budaya, secara umum saya kira tidak terlalu masalah, karena sebagai pelaku seni sekaligus pemerhati sosial dan budaya, relatif mudah bagi saya untuk berkomunikasi lintas budaya. Khusus untuk budaya yang berurusan dengan perut alias makan dan makanan, saya relatif paling mudah untuk beradaptasi dengan berbagai kuliner khas Indonesia, termasuk kuliner khas Banjarmasin yang secara umum saya kategorikan berani bumbu dan full taste! Apalagi untuk kuliner yang berkuah kaldu kesukaan saya.
Satu-satunya yang saya relatif susah beradaptasi di Banjarmasin adalah iklim dan cuacanya yang puanaaas itu lho! Tapi itulah yang saya maksud dengan “Dimana bumi dipijak, disitulah langit dijunjung!” Selain menikmati indahnya budaya Banjar berikut aneka kuliner khas yang full taste saya juga harus bisa menikmati gerahnya Kota Banjarmasin. He...he...he...
Dasarnya, saya memang paling suka dengan berbagai kuliner nusantara yang berkuah kaldu, baik kaldu dari bahan ayam, itik, sapi, ikan/udang atau dari jenis binatang halal lainnya, meskipun begitu bukan berarti saya anti dengan kuliner yang tidak berkuah kaldu lho…
Untuk kuliner khas Banjar, saya paling suka dengan Soto Banjar Bapukah milik H. Anang di Jl. Kolonel Sugiono, Soto Banjar Bang Amat di Banua Hanyar, Soto Kuning khas Kotabaru, Ketupat Kandangan, Lontong Tampusing, Berbagai olahan dari Ikan Patin di RM. Sari Patin di Kayu Tangi, Mie Bancir dan untuk kuliner tanpa kuah, saya suka ikan haruan baubar + sambal acan dan Nasi Kuning Cempaka. Kuliner-kuliner tersebut sepertinya sangat layak untuk di apresiasi lho…! Cita rasanya bak mak comblang…! Selalu diharap berita dan kehadirannya…he…he…he…
Selain kuliner yang sudah umum dan dikenal masyarakat, karena banyak yang menjualnya seperti yang saya sebutkan diatas, saya juga mempunyai beberapa referensi kuliner khas Banjar yang jarang dijual oleh warung atau rumah makan di Banjarmasin, yaitu kuliner rumahan khas Urang Banjar yang bercitarasa gurih cenderung asin, asam dan pedas menyegarkan yang disebut oleh masyarakat Banjar dengan “Garih Batanak”. Selain cita rasanya yang menurut saya unik dan sedap tentunya, kuliner yang satu ini bisa dibilang Indonesia Banget! Karena dibuat dari bumbu rempah-rempah khas Indonesia yang tentunya sudah tidak asing di telinga kita.
Garih adalah ikan yang diasinkan tapi biasanya tidak terlalu kering (Orang Jawa menyebutnya dengan gerih), sedangkan batanak secara leksikal artinya adalah memasak. Mungkin, makna gramatikal dari istilah kuliner Garih Batanak adalah masakan ikan yang diasinkan berikut ubarampe-nya (Bhs Jawa ; perlengkapannya).
Masyarakat Banjar, biasanya menggunakan ikan jenis haruan atau ikan gabus yang sudah diasinkan untuk bahan mengolah kuliner garih batanak. Oh ya, garih atau ikan asin haruan ini tidak se-asin ikan telang atau juga Jambal, walaupun tidak masalah juga sih kalau mau memakai ikan telang atau ikan asin lainnya, tergantung selera!
Kalau menurut saya, garih ikan haruan lebih nikmat, selain tidak terlalu asin garih ikan haruan juga berdaging tebal dan tekstur dagingnya terasa pas jika digigit. Tapi, tetap harus hati-hati ya, karena ikan haruan seperti layaknya ikan-ikan lainnya juga mempunyai duri lho! Tapi jangan kuatir, durinya besar-besar kok jadi relatif lebih mudah dilihat sekaligus dibersihkan.
Disinilah menurut saya seninya makan garih batanak dari ikan haruan, pelan-pelan dan teliti. Penasaran kepingin tahu rasanya!? Eiiiits, tunggu dulu! jangan kepingin tahu rasanya saja! Cara membuatnya juga dong....
Ini dia resep sekaligus step by step cara membuat hidangan murah meriah dan simple tapi cita rasanya super menggoda ini,
Bumbu :
- 5 butir bawang merah
- 5 siung bawang putih
- 1 ruas jari jahe
- 1 ruas jari kunyit
- 3 butir kemiri
- Secukupnya Ketumbar
- Secukupnnya merica
- 1 batang serai, ambil bagian putihnya, memarkan
- 2 lbr daun jeruk purut
Bahan-bahan :
- 1/2 kg garih ikan haruan kering/ikan jenis lain sesuai selera, rendam air bersih sekitar lima menit atau sesuai kebutuhan
- 3 buah tomat mentah
- 10 buah belimbing wuluh
- 2 biji cabe merah/hijau besar, iris miring
- Segenggam daun kemangi (tentative/jika suka)
- 2 sdm minyak untuk menumis
- Secukupnya santan siap pakai
Cara Memasak :
1. Cuci bersih garih ikan haruan kering dan potong sesuai selera.
2. Kecuali serai dan daun jeruk, haluskan semua bumbu.
3. Panaskan wajan, tambahkan minyak goreng lalu tumis bumbu halus hingga tercium harum. Tambahkan segelas air/sesuai kebutuhan, lalu masak hingga mendidih.
4. Masukkan garih ikan haruan dan masak kembali hingga ikan matang.
5. Tambahkan santan dan aduk rata, masak hingga mendidih sambil terus diaduk. Terakhir sebelum diangkat, masukkan daun kemangi, belimbing atau tomat dan cabai rawit. Setelah dirasa cukup, angkat masakan dan tuang dalam wadah untuk dihidangkan.
Tambahan :
1. Jika masakan kurang asin, bisa ditambah garam sesesuai selera. Bila menginginkan rasa gurih, bisa juga menambahkan penyedap rasa atau gula secukupnya.
2. Tomat dan belimbing wuluh, sebagai pencitarasa asam bisa dipilih salah satu. Tapi jika menyukai keduanya atau dirasa kurang rasa asamnya, bisa juga dipakai keduanya.
3. Jika sensitive terhadap garih/jenis ikan asin atau khawatir adanya kandungan bahan berbahaya dalam ikan asin, bisa juga kok menggunakan ikan segar sebagai alternatif, tapi namanya bukan garih batanak lagi ya.....he...he...he...
Awalnya saya masih belum ngeh juga! ketika dalam perjalanan dari Tanjung Pandan menuju Gantong, di Belitung Timur, beberapa kali sopir yang juga merangkap guide kami sering menyebut -nyebut kampung Ahok. Saat itu saya hanya berpikir, kita juga akan melewati kampung atau rumah-nya Pak Ahok di Belitung Timur, karena saya juga tahu kalau Pak Ahok adalah orang asli kelahiran Belitung Timur.
Suasana Kampung Ahok
Semuanya terjawab setelah kami berjalan sekitar 10 menit dari Museum Kata-Andrea Hirata, ternyata kami memang benar-benar dibawa oleh guide kami, tidak hanya melewati saja, tapi mengunjungi "Kampoeng Ahok", destinasi wisata baru di Belitung dengan konsep rintisan terpadu yang dibangun oleh keluarga besar Pak Ahok di Belitung Timur dengan maksud untuk mengobati rasa penasaran masyarakat terhadap ensiklopedi masa lalu seorang Basuki Thahaja Purnama atau Ahok sang Gubernur DKI Jakarta. Ternyata ada wisata "Kampoeng Ahok" di Belitung!
Suasana Kampung Ahok
Ini surprise! Karena destinasi ini memang tidak pernah ada adalam jadwal destinasi yang akan kita kunjungi selama mengeksplor Belitung. Selain itu, nama "kampung Ahok" juga sama sekali tidak kami ketahui, bahkan sampai kami berangkat menuju Belitung Timur untuk mengeksplor Museum Kata dan replika sekolah laskar pelangi milik penulis novel fenomenal "Laskar Pelangi" di Gantong.
Siapa tidak kenal Ahok, pria bernama lengkap Basuki Tjahaja Purnama yang juga mantan Gubernur DKI Jakarta ini. Popularitas pria yang dikenal suka bicara ceplas-ceplos ini ternyata membuat banyak orang penasaran dengan masa lalu dan latar belakang kampung halamannya di daerah Gantong, Belitung Timur.
Sosok Ahok
Setelah sehari sebelumnya mengeksplor Pulau Lengkuas, Belitung (Selat Gaspar), akhirnya saya berkesempatan mengunjungi sekaligus mengeksplorasi destinasi wisata di Belitung Timur dan salah satu destinasi yang kami kunjungi adalah wisata "Kampoeng Ahok" di Jl. KA. Bujang Gantong, Belitung Timur.
Teras Rumah di Kampung Ahok
Turun dari bis, kami disambut papan nama besar bertuliskan 'Kampoeng Ahok' yang terbuat dari semen dengan warna mencolok tepat di pinggir jalan. Di belakangnya, berdiri replika rumah keluarga besar Ahok di masa lalu yang menjadi obyek utama destinasi ini. Di pojok halaman rumah sebelah kiri atau sebelah kanan dari sisi penjunjung yang masuk area wisata "Kampoeng Ahok" terdapat sebuah bangunan mirip gubuk atau saung yang dipaki seorang ibu-ibu muda untuk berjualan kuliner khas Belitung mpek-mpek dengan saus taucho dengan harga Rp.2000 per potong. Agak berbeda dengan mpek-mpek Palembang yang biasanya menjadikan kuah cuka yang rasanya cenderung asam sebagai partner makan mpek-mpek, kalau mpek-mpek Belitung partner makanya adalah saus taucho yang ada rasa gurih-gurihnya! Wooooow ngiler jadinya....
Dinding Rumah Khas Belitung di Rumah Kampung Ahok
Memasuki rumah kayu dengan desain sederhana berbahan kayu Bulin (Kayu Ulin/Kayu besi) dan bergaya etnik khas Belitung ini, terasa teduh dan adem. Sangat kontras dengan udara luar yang terasa panas menyengat. Ruangan yang luas ditambah dengan banyaknya jendela dan atap rumah yang relatif tinggi merupakan cirikhas rumah daerah tropis yang cocok untuk daerah Belitung dan sekitarnya.
Pengunjung Sedang Menikmati Aneka Kuliner Khas Belitung
Di dalam rumah, selain dipajang bingkai foto Ahok dan perabotan rumah tangga masa lalu juga terdapat berbagai suuvenir seperti kaos, tudung saji dan caping berbahan daun enau khas Belitung, kaleng kerupuk, hiasan dinding dan camilan khas Kampoeng Ahok.
Menurut penjaga suvenir, rumah ini merupakan rintisan untuk menjadikan kampung kelahiran Ahok sebagai desa wisata terpadu yang nantinya menghadirkan berbagai keunikan dan kekhasan seni budaya khas belitung. Konsepnya nanti ada kebun binatang mini, stand khusus souvenir, kuliner khas Belitung, batik atau kain khas Belitung (sekarang masih ditempatkan di rumah orang tua Ahok yang berada tepat di seberang jalan "Kampoeng Ahok") dll.
Rumah Orang Tua dan Keluarga Ahok
Sayangnya, rasa penasaran kami terhadap kisah masa lalu dari mantan DKI 1 yang membentuknya menjadi pria dengan karakter seperti sekarang ini tidak mendapat jawaban dari eksplorasi di rumah "Kampoeng Ahok". Disini, kami sama sekali tidak menemukan secuilpun data/keterangan sejarah (biografi) ataupun diorama masa lalu Ahok saat masih kecil sampai dewasa semasa tinggal di Belitung yang sebenarnya menjadi magnet paling kuat dari destinasi wisata "Kampoeng Ahok".
Tertarik? Jangan lupa mencatat Kampoeng Ahok di Gantong, Belitung Timur dalam daftar destinasi kunjungan anda ke Belitung.
Istilah Jaton akronim Jawa Tondano dan Jamer akronim Jawa Merauke mungkin sudah populer di telinga para pemerhati sosial dan budaya tanah air. Keduanya adalah komunitas (keturunan) suku Jawa yang tinggal dan beranak pinak di seberang lautan tanah nenek moyangnya, Pulau Jawa. Kalau Jaton di daerah Sulawesi Utara dan Gorontalo,sedangkan Jamer di Merauke Papua.
Tapi untuk istilah Jawa Gambut, mungkin baru sebagian kecil saja yang pernah mendengarnya. Seperti komunitas Jaton dan Jamer, secara spesifik istilah Jawa Gambut merupakan sebutan untuk keturunan suku Jawa yang lahir dan besar di tanah Kalimantan, uniknya sebagian besar diantara mereka belum pernah menginjakkan kaki di tanah moyangnya, Pulau Jawa.
Anak-anak Jawa Gambut (Foto : @kaekaha)
Asal muasal istilah "Jawa Gambut", sampai sekarang memang belum ada rujukan dari segi literasinya. Sejauh ini istilah Jawa Gambut lebih banyak menjadi identitas tutur yang berkembang secara spontan dalam masyarakat Kalimantan Selatan. Kalau merujuk dari istilah kata "Gambut" sendiri, secara umum masyarakat Kalimantan Selatan memahami dua hal, yaitu
Pertama, "Tanah Gambut", yaitu jenis tanah yang terbentuk dari sedimentasi lapukan tumbuh-tumbuhan yang dalam kurun waktu tertentu akan ber-mutasi menjadi tanah.
Walaupun sudah bermutasi menjadi tanah, tanah gambut ini kalau musim kemarau yang kering dimana kelembapan dan kandungan air berkurang akan mudah terbakar bila tersulut api dan sangat sulit untuk dipadamkan apabila letak sedimen tanah yang terbakar semakin dalam.
Jenis tanah Gambut inilah yang mendominasi hampir semua daratan dataran rendah di Kalimantan Selatan yang sebagian besar berekologi rawa-rawa lebak.
Kedua,"Kecamatan Gambut", yaitu salah satu kecamatan yang masuk dalam wilayah Kabupaten Banjar yang beribu kota di Martapura si Kota Intan. Kecamatan Gambut, sejauh ini dikenal sebagai lumbung padi-nya Kalimantan Selatan, khususnya untuk varian padi jenis jenis unus dan Siam penghasil beras Banjar super dan nomor wahid dengan harga yang selangit!
Beras Banjar (Foto : @kaekaha)
Seperti daerah penghasil pertanian umumnya, dahulu daerah Kecamatan Gambut ldentik dengan daerah udik alias “ndeso” sehingga pada era 80-90an penduduk terutama anak mudanya banyak yang “malu” bila harus menyebut alamat tempat tinggalnya sebagai orang gambut. Tapi itu dulu! Roda telah berputar.
Sekarang, Kecamatan Gambut selain tetap dikenal sebagai lumbung padi-nya Kalimantan Selatan, Kec. Gambut juga menjadi etalase Kalimantan Selatan, karena wilayahnya dibelah oleh Jalan Ahmad Yani yang dikenal sebagai jalan lintas Kalimantan satu-satunya yang bisa menghubungkan Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah dengan Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara.
Dari dua referensi yang mengandung unsur kata gambut di atas, entah istilah Gambut yang mana yang dijadikan sumber inspirasi terbentuknya istilah Jawa Gambut...!?
Jawa Gambut dan Komodifikasi Budaya Jawa di Tanah Seberang
Sampai saat ini suku Jawa merupakan pendatang terbesar yang bisa eksis berakulturasi dengan budaya suku Banjar di Kalimantan Selatan, sehingga tidak heran, jika kehadirannya ikut membawa perkembangan paras sosial budaya masyarakat di Kalimantan Selatan.
Generasi awal masyarakat Jawa berikut keturunannya yang tersebar di Kalimantan Selatan, beraktivitas pada sektor informal, seperti pertanian, perkebunan, peternakan, UMKM dsb. Mereka dikenal luas sebagai pekerja keras dan pantang menyerah! Sementara untuk generasi berikutnya, seiring dengan berjalannya proses akulturasi dan perbaikan sosial ekonomi bisa lebih fleksibel untuk memilih aktifitas/pekerjaan.
Salah satu jenis usaha informal yang banyak digeluti orang Jawa (Foto : @kaekaha)
Masyarakat keturunan suku Jawa di Kalimantan Selatan yang disebut dengan Jawa Gambut ini sekilas tidak berbeda dengan masyarakat Jawa lainnya yang tinggal dan menetap di Kalimantan Selatan.
Dari generasi pertama sampai yang kesekian, sebagian besar pendatang dari Pulau Jawa tetap mempertahankan ciri budaya dan tradisi nenek moyangnya di Pulau Jawa. Secara umum mereka masih ngugemi budaya Jawa, minimal tetap menjadikan bahasa Jawa sebagai bahasa ibu dalam percakapan di lingkungan keluarga, uniknya mereka umumnya juga bisa melafalkan dialek bahasa Banjar sesuai tempat lahir dan tumbuhnya dengan baik dan fasih.
Bahasa Banjar, sejauh ini dikenal mempunyai beberapa dialek, diantaranya adalah dialek pahuluan di gunakan masyarakat Kalimantan Selatan Bagian utara (Banua Anam) yang meliputi Kabupaten Tapin, Hulu Sungai Selatan (HSS), Hulu Sungai Tengah (HST), Hulu Sungai Utara (HSU), Tabalong dan Kabupaten paling muda, Balangan. Sedangkan dialek Banjar Pesisir yang sudah banyak dipengaruhi oleh berbagai dialek pendatang di gunakan di Kabupaten Banjar, Kota Banjarbaru, dan Kota Banjarmasin.
Adat temu manten (Foto : @kaekaha)
Di ranah seni budaya, khususnya di daerah yang telah lama dikenal menjadi kantong-kantong masyarakat Jawa berikut keturunannya, seperti di Kota Banjarbaru, Kabupaten Tanah Laut dan Kabupaten Barito Kuala seni budaya Jawa seperti pertunjukan wayang kulit, seni jaranan, ludruk, campursari, termasuk berbagai kuliner khas masyarakat Jawa relatif masih mudah di jumpai di berbagai tempat.
Begitu juga berbagai tradisi budaya seperti tradisi temu manten, piton-piton bayi, tradisi methil atau selamatan panen padi semuanya masih ada dan terjaga sampai saat ini, hanya saja prosesi dan uba rampe-nya (perlengkepannya) tidak selengkap layaknya di kampung halaman, tanah Jawa, sebagian memang sudah mengalami komodifikasi alias tidak 100% ontentik lagi dengan aslinya.
Mungkin, inilah salah satu konsekuensi dari berlangsungnya proses akulturasi budaya dalam masyarakat Jawa di Kalimantan Selatan, dimana didalamnya terjadi komodifikasi terhadap tatanan budaya yang sudah ada karena adanya berbagai kompromi untuk menyesuaikan ruang dan waktu yang ditempati sekarang.
Upaya pelestarian budaya Jawa di tanah Banjar, tidak terlepas dari peran dari berbagai organisasi paguyuban masyarakat (keturunan) Jawa di Kalimantan Selatan.
Di Kalimantan Selatan, paguyuban-paguyuban yang biasanya dibentuk berdasar asal kabupaten di Pulau Jawa, jumlahnya mencapai puluhan dan mereka hampir semuanya berafiliasi kepada paguyuban masyarakat (keturunan) Jawa paling tua dan terbesar, yaitu Pakuwojo (Paguyuban Keluarga Wong Jowo).
Bagi masyarakat (keturunan) Jawa di Kalimantan Selatan, kehadiran berbagai paguyuban keluarga Jawa bukan bermaksud untuk membentuk eksklusifitas berlatar belakang primordialisme, tapi sebagai wadah komunikasi budaya untuk tetap menjaga proses lestarinya unggah-ungguh budaya Jawa di tanah rantau sebagai upaya untuk tetap menjaga harmoni dan keselarasan kehidupan dalam bermasyarakat sekaligus sebagai representasi komunal masyarakat (keturunan) Jawa dalam berkomunikasi dengan berbagai entitas budaya yang eksis di Kalimantan Selatan, khususnya budaya Banjar sebagai tuan rumah.
Terbukti, kehadiran berbagai paguyuban ini tidak hanya berhasil menjadi jembatan budaya bagi masyarakat Jawa Gambut untuk tetap mengenali bahkan melestarikan budaya leluhurnya saja, tapi juga berhasil menjadi salah satu elemenpenting dalam menjaga keberlangsungan proses kehidupan sosial masyarakat di Kalimantan Selatan tetap berjalan secara natural dengan mengedepankan prinsip, dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung dan mikul dhuwur mendem jero!
Sejarah Panjang Komunikasi Jawa - Banjar
Sejarah komunikasi antara suku Jawa di Pulau Jawa dan suku Banjar di Kalimantan diduga sudah berlangsung sejak jaman eksistensi kerajaan Majapahit, hanya saja catatan literatur lebih banyak mencatat pada era perang Banjar, sejak kedatangan bala bantuan dari Kerajaan Demak di Jawa Tengah dalam upayanya membantu Kesultanan Banjar melawan penjajah Belanda dan antek-anteknya diakhir abad 19 silam.
Sejak itulah komunikasi yang diikuti dengan proses migrasi penduduk pulau Jawa ke Pulau Kalimantan dengan berbagai tujuan berlangsung dan ketika Orde Baru berkuasa, melalui program transmigrasi dengan tujuan pemerataan penduduk proses perpindahan penduduk ini diformalkan.
Kamus Bahasa Banjar-Indonesia (Foto : @kaekaha)
Bukti adanya akulturasi budaya antara Suku Jawa dan Suku Banjar, antara lain terlihat dari kesenian wayang kulit purwa banjar diatas. Dari segi nama, proses pagelarannya, tokoh, bentuk karakter dan cerita dari wayang kulit Banjar semuanya mirip, bedanya pada bahasa dalang dan kelengkapan gamelan yang dipakai.
Selain itu, kosakata Bahasa Jawa dan Bahasa Banjar banyak yang mempunyai kemiripan dan kesamaan dalam hal penulisan, pelafalan dan pemaknaanya. Sebagai contoh kosakata Bahasa Bajar yang sama persis baik tulisan, pelafalan maupun artinya antara lain, lawang (pintu), banyu (air), uyah (garam), gulu (leher), jarang (rebus), tapih (kain/jarik).
Sedangkan yang mempunyai kesamaan tulisan dan arti tapi beda pengucapan, antara lain kiwa (kiri) Bahasa Jawa baca kiwo , Banjar tetap kiwa ada lagi kanca (teman) Jawa dibaca konco, Banjar tetap kanca dan yang mempunyai kemiripan tulisan dan pelafalan tapi mempunyai kesamaan arti antara lain abang = habang (Banjar) artinya merah, udek=Udak (Banjar) artinya aduk (di udak = diaduk), tape = tapai (Banjar) berarti makanan tape ketan/singkong... dan masih banyak yang lainnya!
Perhelatan Opening Ceremony Asian Games 2018 yang sempat viral sampai ke mancanegara, ternyata membawa berkah tersendiri bagi gaung lagu-lagu daerah Indonesia yang pada malam itu menjadi musik pengiring penampilan ribuan penari Ratoeh Jaro yang diyakini menjadi "kunci" pembuka dari kesuksesan upacara pembukaan pesta olahraga terbesar kedua di dunia tersebut.
Selain lagu Bungong Jeumpa dari Aceh dan beberapa lagu dari daerah lainnya, malam itu juga menjadi ajang "internasionalisasi" bagi dua lagu daerah Banjar, Kalimantan Selatan, yaitu Ampar-ampar Pisang dan Paris Barantai, dua lagu Banjar bahari (lama) yang sudah melegenda ciptaan dua maestro musik Banjar, (Alm) Hamiedan AC dan (Alm) Kolonel (Purn) Anang Ardiansyah.
Pasca pesta pembukaan Asian Games di Gelora Bung Karno tersebut, banyak tulisan apresiatif terkait lagu-lagu daerah yang malam itu sukses "bergema" ke segala penjuru dunia.
Bahkan salah satunya ada yang mengaku seperti "terhipnotis", karena sampai esok harinya sepanjang hari terus bersenandung lagu-lagu daerah tersebut dengan sendirinya, khususnya Ampar-ampar Pisang. Lagu daerah kami, Kalimantan Selatan. Wooooow!!! Mudah-mudahan ini menjadi titik balik bergaungnya kembali lagu-lagu daerah kita di negeri sendiri.
di Banjarmasin, dari menjadi saksi mata bergemanya dua lagu Banjar bahari, Ampar-ampar Pisang dan Paris Barantai di Gelora Bung Karno, saya langsung membongkar koleksi kaset pita dan CD yang saya miliki. Saya teringat dengan satu koleksi CD spesial album lagu-lagu Banjar bahari hasil karya re-arrangement salah satu band papan atas Indonesia yang dua frontman-nya memang asli Banjarmasin, radja. Di album itu ada juga lagu Ampar-ampar Pisang dan Paris Barantai dengan aransemen penuh energi dan ngerock ala radja.
Jujur, sayapun ingin terus mengulang euforia menggemanya dua lagu daerah kami saat acara opening ceremony Asian Games di Gelora Bung Karno dengan cara saya! Memutarnya keras-keras sambil menikmati kopi semi pahit plus camilan gaguduh pisang alias pisang goreng manis. Woooow ini pasti nikmat!
Pada tahun 2010, Grup musik radja yang dua pentolannya memang asli Banjar, yaitu Ian Kasela (Vokalis) dan sang kakak Moldy (Gitar) dengan dibantu tiga personil baru, Aldy (Keyboard), Ojie (Bass) dan Vidin (Drum) mengeluarkan album kesembilan mereka dengan judul Journey to Banjar. Album spesial bin khusus yang didedikasikan untuk Banua tercinta ini berisi sepuluh lagu Banjar bahari karya musisi-musisi Banjar yang diaransemen ulang sesuai dengan style radja.
Sayang, album ini diproduksi terbatas dan hanya sedikit yang di jual secara komersil, selebihnya hanya dijadikan sebagai souvenir saja.
Alasan Ian Kasela dan Moldy mengeluarkan album Journey to Banjar selain tidak ingin menjadi kacang yang lupa kulitnya adalah ingin melestarikan sekaligus memperkenalkan seni budaya Kota Seribu Sungai, Banjarmasin ke seluruh Nusantara dan dunia melalui lagu-lagu daerahnya yang punya potensi untuk go nasional menyusul Ampar-ampar Pisang dan Paris Barantai yang lebih dulu akrab di telinga masyarakat Indonesia.
Dari sepuluh lagu yang masuk dalam album Journey to Banjar itu, enam diantaranya adalah karya maestro lagu-lagu Banjar (Alm) Anang Ardiansyah, dua karya (Alm) Hamiedan AC dan selebihnya karya maestro lagu Banjar lainnya, seperti Zaini dan A. Thamrin. Berikut komposisi sepuluh lagu Banjar dalam album radja, "Journey to Banjar" berikut penciptanya,
Komposisi Lagu Album Journey to Banjar (Foto : @kaekaha)
Paris Barantai (Anang Ardiansyah)
Anak Pipit (Hamiedan AC)
Uma Abah (Anang Ardiansyah)
Saputangan Babuncu Ampat (Zaini)
Kambang Goyang (Anang Ardiansyah)
Si Jantung Hati (A. Thamrin)
Giwang Barlian ( Anang Ardiansyah)
Sangu Batulak (Anang Ardiansyah)
Pambatangan (Anang Ardiansyah)
Ampar-ampar Pisang (A. Thamrin /Hamiedan AC)
Diantara kesepuluh judul lagu daerah Banjar dalam list track diatas, mungkin masyarakat Indonesia hanya mengenal lagu Ampar-Ampar Pisang dan Paris Barantai saja.
Hal ini bisa dimaklumi, karena sejak tahun 1960-an, lagu Paris Barantai sudah direkam dalam piringan hitam di perusahaan rekaman Lokananta di Solo oleh Orkes Melayu Rindang Banua, dimana Alm. Anang Ardiansyah menjadi salah satu personilnya, sedang Ampar-ampar Pisang direkam oleh Orkes Melayu Taboneo dan setelahnya, kedua lagu itu semakin populer sejak diputar Radio Republik Indonesia (RRI) di seluruh Tanah Air.
Untuk materi lagu lainnya, meskipun tidak familiar bagi mayarakat Indonesia, tapi jangan kuatir! Radja telah memilihkan lagu-lagu Banjar yang easy listening dengan komposisi nada yang sederhana dan tentunya ramah di telinga masyarakat melayu secara umum. Bahkan, lagu-lagu Banjar dalam album ini, bisa dibilang kumpulan lagu-lagu terpopuler yang paling sering atau bisa dibilang lagu yang wajib di putar atau wajib dinyanyikan pada setiap event kedaerahan dan acara hajatan masyarakat Banjar.
Sedangkan dari sisi liriknya, jangan ditanya! Semuanya mempunyai makna yang dalam, karena berisi falsafah, petuah dan ungkapan-ungkapan bijak khas keluhuran budaya Banjar yang sebagian besar bersumber dari Al Quran. Jadi dijamin sangat menginspirasi (khususnya bagi yang paham bahasa Banjar ya! He...he...he...).
Tentang Paris Barantai
Khusus untuk lagu Paris Barantai ciptaan Alm. Anang Ardiansyah yang di posisikan sebagai lagu pembuka dalam album ini, memang mempunyai cerita yang agak unik! Kalau tidak mengerti latar belakang sejarah terciptanya lagu ini, sepertinya akan sulit untuk memahami maksud dari judul termasuk makna dari liriknya. Beruntung, lagu ini mempunyai karakter yang kuat dari sisi pemilihan serta penyusunan nadanya, sehingga dengannya seolah-olah masyarakat tidak ambil pusing dengan judul apalagi makna dari liriknya.
Berikut, beberapa keunikan lagu Paris Barantai yang akan memperkaya wawasan budaya kita,
Keunikan pertama, Sebagian besar masyarakat (termasuk di Kalimantan Selatan sendiri) tidak tahu judul dari lagu ini. Mungkin, salah satu sebabnya adalah, kata dalam kalimat judul sama sekali tida ada dalam lirik, sehingga masyarakat justeru sering menganggap judul lagu ini adalah Kotabaru, Kotabaru Gunungnya Bamega atau malah Bamega saja dan ketika mengetahui judulnya ternyata Paris Barantai, pasti akan mengerutkan dahi sambil begumam "Lho kok...?" atau "Lho arti dan maknanya apa ya!?"
Keunikan kedua, inspirasi terciptanya lagu ini berasal dari pertunjukan seni tradisi bagandut yang telah lama punah, yaitu sejenis tayub atau ronggeng khas Banjar yang dipentaskan secara berpasang-pasangan. Jadi bukan dari indahnya gunung Kotabaru yang tertutup mega atau awan atau dari yang lainnya. Kata Kotabaru jadi masuk dalam lirik, karena saat itu seni pertunjukan Bagandut dari Banjarmasin ini sudah bisa pentas sampai ke Kotabaru yang jaraknya mencapai 305 km atau sekitar 8 jam perjalanan darat.
Journey to Banjar (Foto : @kaekaha)
Keunikan ketiga, kata Paris dari judul Paris Barantai ternyata diambil dari nama penari paling cantik, sekaligus idola dari grup kesenian bagandut tersebut, yaitu Suparis. Waduh...! Lantas makna sebenarnya dari judul Paris Barantai itu apa ?
Keunikan keempat, sekaligus yang terakhir, saya yakin anak-anak sekolah terutama mulai level SD di seluruh Indonesia pernah mendengar irama lagunya dan biasanya kenal sedikit lirik diawalnya....
Paris Barantai
Wayah pang sudah
Hari baganti musim
Wayah pang sudah
Kotabaru gunungnya bamega
Bamega umbak manampur disala karang
Umbak manampur disala karang
Batamu lawanlah adinda
Adinda iman didada rasa malayang
Iman didada rasa malayang
Pisang silat tanamlah babaris
Babaris tabang pang bamban ku halangakan
Tabang pang bamban ku halangakan
Bahalat gunungnya babaris
Babaris hatiku dandam ku salangakan
Hati ku dandam kusalangakan
Burung bintri batiti dibatang
Titi batang dibatang buluh kuning manggading
Dibatang buluh kuning manggading
Malam tadi bamimpilah datang
Mimpi datang rasa bapaluk lawan si ading
Rasa bapaluk lawan si ading
Kacilangan lampulah dikapal
Dikapal anak walanda main kumidi
Anak walanda main kumidi
Malam tadi guringlah sabantal
Sabantal tangan kadada hidung kapipi
Tangan kadada hidung kapipi
Tentang Ampar-Ampar Pisang
Lagu Ampar-Ampar Pisang selain dikenal sebagai lagu daerah Banjar, Kalimantan Selatan juga dikenal sebagai lagu anak-anak nusantara. Mungkin karena nada lagunya yang ceria plus lirik lagu yang relatif lugas, pendek dan mudah dilafalkan meskipun tidak tahu artinya, menjadi alasan untuk menempatkan lagu Ampar-Ampar Pisang sebagai salah satu lagu anak-anak favorit di seluruh Indonesia.
Ampar-ampar pisang
Pisangku balum masak
Masak sabigi, dihurung bari-bari 2x
Masak sabigi, dihurung bari-bari 2x
Manggalepak, manggalepok
Patah kayu bengkok
Bengkok dimakan api,
apinya kakurupan
Bengkok dimakan api,
apinya kakurupan
Nang mana batis kutung, dikitip bidawang 2x
Jari kaki sintak, dahuluakan masak 2x
Ampar-ampar pisang
Pisangku balum masak
Masak sabigi, dihurung bari-bari 2x
Masak sabigi, dihurung bari-bari 2x
Mangga ricak, mangga ricak
Patah kayu bengkok
Tanduk sapi, tanduk sapi, kulibir bawang 2x
Lagu Ampar-Ampar Pisang, sebenarnya bercerita tentang proses pembuatan Rimpi, makanan tradisonal khas Banjar yang terbuat dari pisang masak yang dijemur (mirip sale pisang, tapi tanpa proses pengasapan).
Pada proses penjemuran, biasanya pisang akan dihurung atau dikerubuti binatang kecil-kecil yang suka dengan aroma makanan/buah-buahan manis yang di masyarakat Banjar disebut dengan bari-bari.
Sedangkan lirik Nang mana batis kutung, dikitip bidawang ini sebenarnya untuk menakut-nakuti kakanakan atau anak-anak yang suka mengambil pisang masak yang lagi dijemur.
Bidawang adalah sejenis kura-kura air tawar/bulus yang mempunyai gigi sangat tajam. Habitat hidup mereka di rawa dan sungai-sungai yang juga menjadi tempat anak-anak mandi berenang. Bila menggigit, biasanya tidak akan pernah dilepaskan jika belum putus, termasuk ketika mengigit jari-jemari. Hi....!!! Makanya jangan mengambil pisang yang dijemur ya!
Lirik Lagu dalam Journey to Banjar (Foto : @kaekaha)
Tentang Lagu-lagu yang Lain
Anak Pipit, lagu ini bercerita tentang adab/bagaimana cara kita bermuamallah atau berhubungan dengan makhluk ciptaan Allah SWT yang lainnya, terutama binatang. Tapi bisa juga istilah "anak pipit" ini dimaknai sebagi simbol dari rakyat kecil yang harus dilindungi.
Uma Abah, lagu dengan setting sosial masyarakat Banjar pahuluan yang "sawah ladangnya" adalah rawa/sungai ini berkisah tentang bakti seorang anak kepada kedua orangtuanya yang susah payah mencari nafkah dengan malunta atau menjaring ikan.
Sapu Tangan Babuncu Ampat, lagu dengan nada rancak ini berisi petuah terkait cara bermuamallah dengan sesama manusia atau hablumminannas. Hati-hati kalau mau berbicara, karena luka dihati akibat ucapan tidak akan mudah untuk disembuhkan dan Jangan memelihara dendam karena dendam hanya akan memperpendek umur.
Sangu Batulak, lagu ini berisi petuah urang tua bahari (orang-orang tua jaman dahulu) bagi siapapun yang ingin bepergian (batulak). Bekal terbaik untuk bepergian adalah mulailah semuanya dengan Bismillah, melangkahlah dengan kaki kanan terlebih dahulu dan selanjutnya bertawakal hanya kepa Allah, SWT.
Lagu ini bisa juga dimaknai, sebagai petuah untuk mempersiapkan bekal amal dan iman terbaik guna perjalanan panjang kita semua di akhirat kelak.
Pambatangan, lagu ini menceritakan kisah hidup pambatangan atau orang-orang banua bahari yang bekerja memilirkan batangan kayu dari hulu Sungai Barito menuju kota-kota lain di hilir sampai muara Sungai Barito.
Upaya kreatif radja untuk melestarikan lagu-lagu daerah Banjar sekaligus memperkenalkannya ke level nasional melalui proyek album Journey to Banjar ini sudah selayaknya mendapatkan apresiasi dari berbagai pihak, terutama pemerintah daerah Kalimantan Selatan. Semoga kreatifitas radja Banjar ini, kedepannya menjadi inspirasi positif bagi upaya pelestarian budaya oleh radja-radja lain dari seluruh Indonesia. Semoga!
Lirik lagu Album Journey to Banjar (Foto : @kaekaha)
Kota Banjarmasin, Ibu kota propinsi Kalimantan Selatan selain dikenal dengan julukan “Kota 1000 Sungai, Kota 1000 Damkar” juga telah lama dikenal sebagai salah satu kota perdagangan tua di nusantara bahkan dunia. Keberadaan kota tua Banjarmasin yang menurut sejarah telah ada sejak abad XVI, juga mempunyai peran vital sebagai pintu masuk utama bagi mobilisasi dan distribusi barang dan manusia dari dan menuju pedalaman Pulau Kalimantan.
Diawal berdirinya, Kota Banjarmasin tidak bisa dilepaskan dari sejarah berdirinya Kesultanan Banjar, pemerintahan berbasis agama Islam pertama di Pulau Kalimantan di bawah kepemimpinan Sultan Suriansyah, Sultan beragama Islam pertama di tanah Banjar.
Sebelum Kesultanan Banjar berdiri di abad XVI, wilayah hilir sampai muara Sungai Barito merupakan daerah kekuasaan Kerajaan Daha yang pusat pemerintahannya di daerah Nagara, sekarang masuk wilayah Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan. Saat itu, kerajaan Daha yang berafiliasi pada agama Hindu dipimpin oleh Maharaja Sukamara yang tak lain adalah kakek dari Sultan Suriansyah kecil yang saat itu masih bernama Pangeran Samudera.
Ornamen buah manggis khas Kesultanan Banjar ( Foto : @kaekaha)
Maharaja Sukamara mempunyai 4 (empat) orang anak, yaitu 3(tiga) laki-laki Pangeran Mangkubumi, Pangeran Tumanggung dan Pangeran Bagalung, serta seorang anak perempuan/putri, yaitu Putri Intan Sari atau Putri Galuh, yang kelak dikenal sebagai ibu kandung dari Pangeran Samudera atau Sultan Suriansyah.
Dari hikayat tutur masyarakat Banjar disebutkan, pada suatu masa kerajaan Daha mengalami perpecahan akibat sebuah kontroversi yang disebabkan oleh wasiat sang Maharaja Sukamara. Wasiat Maharaja Sukamara kepada anak-anak dan cucunya ini berisi pesan penting terkait suksesi kepemimpinan Kerajaan Daha jika dirinya wafat.
Isi wasiat sang maharaja menjadi kontroversi ketika, ternyata Sang Maharaja memilih cucunya, Pangeran Samudra putra dari pasangan Putri Galuh dan Menteri Jaya sebagai penerus suksesi kepemimpinan di Kerajaan DAHA.
Artinya, wasiat ini tidak sesuai dengan tradisi kerajaan yang sudah berlaku sejak lama, dimana pewaris tahta seharusnya adalah putra mahkota atau putra laki-laki tertua atau bisa digantikan oleh saudara laki-laki lainnya bila anak tertua tidak menghendaki.
Atang atau pagar kayu ulin dengan ukiran khas Banjar (Foto : @kaekaha)
Berbeda dengan sang putra mahkota, Pangeran Mangkubumi yang tidak keberatan dengan wasiat ayahnya, sang adik Pangeran Tumanggung dan Pangeran Bagalung menentang titah kontroversif ayahnya.
Alhasil, saat Maharaja Sukarama benar-benar meninggal, kontroversi internal kerajaan ternyata masih belum menemui titik temu. Suasana dalam istana memanas. Situasi ini dibaca oleh Arya Trenggana, punggawa kerajaan yang masih setia dan bersimpati kepada Pangeran Samudera yang saat itu masih kecil dan belum memahami masalah perpecahan dalam keluarga besarnya, karena saat itu Pangeran Samudera diperkirakan masih berusia kurang dari 10 tahun.
Karena merasa jiwa Pangeran Samudera terancam, Arya Trenggana menyarankan agar Pangeran Samudera meninggalkan istana secepat mungkin. Dengan berbekal makanan, pakaian secukupnya, dan alat tangkap ikan, akhirnya Pangeran Samudera meninggalkan istana melalui jalur sungai dengan menggunakan jukung (perahu khas suku Banjar).
Ada beberapa versi, episode perjalanan Pangeran Samudera pasca keluar dari istana Kerajaan Daha, Intinya, Pangeran Samudera akhirnya berjumpa dengan Patih Masih, penguasa di perkampungan Kuin. Patih Masih mengenali Pangeran Samudera. Singkat cerita, Atas dukungan patih lain dan rakyat, Patih Masih mengangkat Pangeran Samudera menjadi raja Kerajaan Banjar, melepaskan diri dari Kerajaan Daha.
Saat itu, Kerajaan Daha dipimpin Pangeran Tumanggung. Ia menggantikan kakaknya, Pangeran Mangkubumi, yang tewas dibunuh. Mendengar Pangeran Samudera masih hidup dan menjadi Raja Banjar, Pangeran Tumanggung langsung menyatakan perang dengan kerajaan baru yang dipimpin oleh keponakannya itu.
Dalam peperangan tersebut Pangeran Samudera mengalami kekalahan dan akhirnya meminta bantuan kepada Kerajaan Demak. Saat itu, pihak Kerajaan Demak dibawah kepemimpinan Sultan Trenggono, Raja Ketiga dari Kerajaan Islam yang berpusat di daerah Demak Bintoro itu menyanggupi, dengan syarat Pangeran Samudra dan seluruh rakyatnya bersedia memeluk Islam setelah perang usai.
Dermaga Sungai Masjid Sultan Suriansyah (Foto : @kaekaha)
Setelah syarat diterima oleh Pangeran Samudra, akhirnya Sultan Trenggono benar-benar mengirimkan pasukan perang ke wilayah Banjarmasin dibawah komando seorang Panglima perang yang juga seorang mubaligh bernama Khatib Dayyan, yang konon beliau merupakan keturunan langsung dari Sunan Gunung Jati.
Peperangan akhirnya benar-benar terjadi dan kemenangan akhirnya berpihak kepada Pangeran Samudra. Selain atas ijin Allah, berkat kepiawaian diplomasi Khatib Dayyan, akhir dari perang saudara ini berakhir baik. Pangeran Tumenggung, akhirnya mengakui Pangeran Samudra sebagai raja Kerajaan Banjar. Artinya, Kerajaan Banjar secara resmi telah berdaulat dan resmi berpisah dari Kerajaan Daha.
Peristiwa bersejarah ini diperkirakan terjadi pada tanggal 24 September 1526 yang akhirnya kelak diabadikan sebagai hari jadi Kota Banjarmasin.
Masjid Sultan Suriansyah (Foto : @kaekaha)
Sesuai dengan janjinya kepada Sultan Trenggono, raja Demak yang membantunya dalam peperangan. Dibawah bimbingan Khatib Dayyan, Pangeran Samudera dan seluruh rakyatnya akhirnya memeluk Islam dan berganti nama menjadi Sultan Suriansyah.
Konsekuensinya, untuk keperluan beribadah sholat 5 waktu berjamaah di lingkungan istana, akhirnya Sultan Suriansyah memprakarsai berdirinya Masjid pertama yang didirikan di tanah Kalimantan ini, yaitu sebuah masjid yang sekarang kita kenal dengan nama Masjid Kuin atau Masjid Sultan Suriansyah.
Selamat Ulang tahun ke 592 Kotaku tercinta, Kota 1000 Sungai, Kota 1000 Damkar, Kota 1000 Masjid, Kota 1000 Langgar ... Banjarmasin Bungas!