Senin, 09 September 2024

Cerita dari Kinunang, Desa (Wisata) Paling Utara di Pulau Sulawesi

Homestay Unik Bergaya Rumah Adat Minahasa di Atas Rumah-rumah Warga di Desa Kinunang dan Pulisan | @kaekaha

Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Pariwisata Likupang di Minahasa Utara di Sulawesi Utara langsung menjadi perhatian penikmat jalan-jalan, sejak "Si Bayi Ajaib" diperkenalkan sebagai salah satu dari lima destinasi super prioritas (DSP) pariwisata bersama-sama dengan Candi Borobudur, Danau Toba, Mandalika dan Labuan Bajo pada 2017 silam.

Lingkaran kawasan DSP Likupang yang berjuluk the hidden paradise alias surga yang tersembunyi ini,  menawarkan konsep pariwisata terpadu yang mengedepankan harmoni alam dan budaya tradisional khas masyarakat Kawanua.

Di antara sekian banyak destinasi alam yang sedang diperkenalkan ada satu yang mempunyai kekhasan spesifik yang sangat unik, karena hanya ada satu-satunya di dunia. Apa itu?

Homestay Unik Bergaya Rumah Adat Minahasa di Atas Rumah-rumah Warga di Desa Kinunang dan Pulisan | @kaekaha

Desa Kinunang dan Desa Pullisan merupakan dua desa bertetangga yang masuk dalam zona inti DSP Likupang. 

Di dua desa wisata ini, pemerintah membangun banyak sekali homestay unik berbentuk rumah adat khas Minahasa dengan ciri khasnya yang berbahan material kayu sebagai penunjang aktifitas pariwisata di seputaran DSP Likupang.

Uniknya, homestay yang dibangun di dua desa ini sebagian besar tidak dibangun baru secara utuh di lokasi yang juga baru, tapi justru dibangun di lantai 2 rumah-rumah warga. Naaah bisa membayangkan bagaimana bentuk uniknya?

Homestay Unik Bergaya Rumah Adat Minahasa Bukan Panggung di Desa Kinunang dan Pulisan | @kaekaha

Pilihan ini sudah pasti bukan tanpa sebab, selain mengikuti tradisi rumah adat Minahasa yang berkonstruksi panggung dengan tangga dua kelok di bagian depan rumah untuk naik-turun, konsep menyatu dengan pemilik rumah jelas untuk lebih mendekatkan tamu dengan tradisi budaya sehari-hari masyarakat setempat.

Jadi, kalau stay menginap atau sekadar berjalan-jalan di kampung ini, kita serasa berada di kawasan konservasi rumah adat Minahasa yang suasananya adem ayem dengan segala keunikan tradisi dan budaya masyarakat pesisir khas Sulawesi Utara. Asli kerennya!

Cantiknya Pantai Paal, Likupang, Tetangga Desa Kinunang | @kaekaha

Sangat tepat memilih Desa Kinunang atau Desa Pulisan sebagai tempat stay ketika berlibur ke DSP Likupang, terutama di Desa Kinunang. 

Selain kekayaan alam dan budayanya yang otentik, Desa Kinunang punya selling point pariwisata yang unik dan spesifik, yaitu sebagai desa paling Utara di Pulau Sulawesi. Unik bukan?

Kalau dilihat di peta Sulawesi yang seperti huruf K itu, posisi Desa Kinunang ada di pucuk atau di ujung tanduk Pulau Sulawesi yang menghadap langsung Laut Sulawesi dan Samudera Pasifik. Keren kan!? Sungguh beruntung, saya dan beberapa Kompasianer terpilih, pernah menginjakkan kaki di desa yang unik dan cantik ini 

Tidak hanya itu! Di Desa Kinunang juga banyak spot keren yang sangat sayang untuk dilewatkan begitu saja. Salah satunya adalah Bukit Larata atau banyak juga yang menyebutnya sebagai bukit Teletubbies, karena penampakannya yang memang relatif sebelas-dua belas saja dengan bukit dalam serial anak-anak  yang dulu pernah populer di jamannya itu.

Cantiknya Bukit Larata | @kaekaha

Bukit setinggi kira-kira sekitar 50-an mdpl yang cukup menjulang itu begitu cantik ketika ilalang yang rata menutupi badan bukit kompak berwarna kehijauan hingga memberi nuansa rasa sejuk dan segar, apalagi ketika diterpa sinar mentari pagi yang membawa kehangatan. Duh benar-benar romantic scene yang sempurna!

Baca Juga Yuk !  Jejak Inspiratif Dokter Marie Thomas di Antara Pesona Likupang yang Membuatmu Enggan Pulang

Untuk mengeksplor rangkaian perbukitan di ujung Desa Kinunang yang berdiri laksana benteng tangguh yang melindungi desa dari ombak laut Sulawesi dan Samudera Pasifik ini memang memerlukan sedikit effort ya! Apalagi untuk sampai di spot-spot cantiknya yang lokasinya memang menyebar di beberapa titik.

Naik ke Bukit Larata | @kaekaha

Tapi jangan kuatir, meskipun di sepanjang pendakian dari bawah sampai di puncak yang jalur tracking-nya berkelok-kelok itu belum ada fasilitas penunjang bagi pengunjung, tapi dijamin, begitu sampai diatas, semuanya akan terbayar lunas!

Eksotisnya pemandangan 360 derajat dari puncak bukit yang berbalut ilalang segar itu akan meluruhkan semua capek dan gerah atau mungkin rasa gatal akibat goresan tepi daun-daun ilalang, say hello dari mereka sama kita-kita yang belum pernah bersentuhan dengannya.


Dari ketinggian Bukit Larata kita bisa melihat cantiknya lanskap perbukitan Larata yang didominasi warna hijau segar dari balutan ilalang yang tumbuh subur dengan ketinggian seragam di sekujur bukit.

Sementara di kaki bukit, abu-abu kehitaman warna aspal hotmix jalanan yang membelah perbukitan begitu kontras dan memberi aksen yang cantik pada lukisan alam Desa Kinunang yang begitu original!.

Nah, begitu membalikkan badan, Masha Allah! Lautan biru Samudera Pasifik yang luas membentang hingga batas horison sungguh terlihat begitu indah memanjakan indera kita.

Salah Satu Spot di Puncak Bukit Larata | @kaekaha

Garis-garis gelombang yang berkejaran tak henti-hentinya hingga memunculkan riak-riaknya sampai di kaki bukit yang terlihat putih membuih ketika menyapu hamparan pasir pantai jelaslah fragmen alam terbaik sebagai katalis untuk membantu mengembalikan kesegaran dan kebugaran fisik, psikis dan mental. Semoga!

Aaaaaaah, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Yuk, jalan-jalan ke Desa Kinunang! (BDJ11824)


Semoga Bermanfaat,

Salam matan Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas!

 

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN



Artikel ini juga tayang di Kompasiana pada 13 Agustus 2024 jam  13:30 WIB (klik disini untuk membaca)

Minggu, 08 September 2024

Buku-Buku yang Beranak Pinak

Buku-buku yang Beranak Pinak, Apresiasi dari Sayembara Cerpen Pulpen XV-KONGSI  | @kaekaha

Kalau memang sudah rejeki, ya memang nggak akan kemana-mana!

Begitulah kira-kira ungkapan lawas tentang filosofi rejeki yang begitu populer dalam budaya masyarakat kita yang terabadikan secara turun temurun dengan sistematis, hingga berurat dan berakar begitu kuat di alam bawah sadar sebagian besar diantara kita, termasuk aku!

Nah faktualnya, ternyata yang namanya rejeki itu juga bisa datang dari arah mana saja yang sama sekali tidak kita sangka-sangka dan duga-duga. Kerennya, rumus rahasia untuk menghadirkan ajaibnya formulasi rejeki seperti itu "hanya" perlu bersyukur, bersyukur dan bersyukur!

Baca Juga Yuk! Het Paradijs Van Java, Menjelajah Surga Sumedang Lewat Buku

Naaah untuk yang satu ini, kebetulan saat ini aku sedang menikmati prosesnya lho! 

Bersyukur yang beneran bisa membawa nikmat dan bahagia dalam arti yang sesungguhnya. Diskripsi gambaran bahagianya tuh, kira-kira seperti orang kehausan yang tiba-tiba menemukan sebotol air dingin yang ada manis-manisnya gitu lho. 

Kebayang kan bagaimana senangnya, bahagianya dan juga nikmat segarnya!?

Tidak Ada Alasan untuk Tidak Bersenang-senang dengan Buku Kesayangan | @kaekaha

Tapi sayangnya, khusus kebahagiaan yang seperti ini, biasanya malah bikin saya susah tidur...he...he...he... Tahu kenapa?

Di sepanjang bulan Juli hingga setidaknya di awal Agustus 2024 ini, buku-buku koleksiku diam-diam terus "beranak pinak" menjadi semakin banyak. 

Baca Juga Yuk! Memoar Bang Dizzman Si Manusia Bandara

Sebagai "kutu buku yang paling kutu" yang sangat senang tenggelam dalam lautan buku, ini jelas sebuah kebahagiaan yang tidak terkira. Mana suara kutu-kutu yang lain?

Apresiasi dari Elex Media Komputindo untuk Program KKN Project | @kaekaha


Sayangnya, semakin beranak pinaknya buku-bukuku, malah membuatku semakin susah untuk tidur nyenyak! Lho, lha kok nggak bisa tidur nyenyak!?

Baca Juga Yuk! Lebih "3 Dekade" Komik Superman Koleksiku Ini Menebar Inspirasi dan Imajinasi

Mungkin ini salah satu kebiasaan burukku yang terlanjur nempel dalam alam bawah sadar! Aku biasa susah tidur nyenyak kalau buku-buku baru yang punya belum ludes terbaca. Suka penasaran!? He...he...he...

Maklum, namanya juga kutu buku. Eh,  kutu-kutu yang lain seperti itu juga nggak!? He...he...he...

Voucher Belanja Buku Hadiah dari Kompasiana | @kaekaha

Itulah yang terjadi sejak di awal Juli lalu, ketika buku-bukuku tiba-tiba beranak-pinak secara tidak lazim, tidak seperti biasanya! 

Bila lazimnya dalam sebulan itu beranaknya 1 sampai 2 saja! Lhaaah bulan ini  beranak pinak sampai 15. Waaaah pasti asyik lah, meskipun bakalan nggak bisa tidur! He...he...he... Alhamdulillah.

Begini detail persalinannya!

Berawal dari tulisan berjudul "Tidak Ada Alasan untuk Tak Bersenang-senang dengan Buku Kesayangan" yang aku ikutkan dalam even "misteri topik" THR alias tebar hikmah selama Ramadan. Tahu kan?

Itu lho, even menulis sebulanan penuh di Kompasiana selama Ramadan 2024 kemarin, Alhamdulillah mendapatkan apresiasi cantik dari Mimin Kompasiana hingga diganjar voucher Gramedia senilai Rp. 150.000,- yang dikirim langsung ke Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas di awal Juli kemarin.

Lut Bercerita | @kaekaha

Nggak mau menunggu lama, begitu vouchernya sampai langsung aku tukarkan dengan novel keren yang settingnya pas banget sama masa-masa saya kuliah, terutama pas riak-riak jatuhnya era orde baru. Jadi serasa deja vu, nostalgila gitu lho kalau membaca novelnya.

Momentum saat itu, termasuk yang paling ikonik dalam perjalanan hidupku, baik sebagai mahasiswa pelaku sejarah saat itu maupun sebagai warga negara Republik Indonesia. Karena itulah, kadangkala aku masih suka kangen dengan masa-masa itu!

Naaah, novel karya Leila S. Chudori yang terbit 2017 silam itu serasa jembatan bagiku untuk menuju ke masa itu. Eh ada yang tahu judul novelnya kan!? Itu lho, Laut bercerita! Ini anak pertama bukuku di bulan Juli 2024.

Apresiasi dari Sayembara Cerpen Pulpen XV-KONGSI  | @kaekaha

Berikutnya, tiga hari berselang! Kali ini giliran cerpen ajaibku "Kongsi Dukun Lintrik" yang bercerita!

Ya, cerpen yang berkisah tentang mengerikannya praktik lintrik, ilmu hitam pengasihan yang konon sampai hari ini masih bisa kita temukan di belahan timur pulau Jawa itu, Alhamdulillah di apresiasi dengan sangat cantik di ajang Sayembara Cerpen Pulpen XV yang kebetulan menjadi spesial event dari KONGSI, pestanya penulis fiksi kompasiana yang pertama.

Baca Juga Yuk! Bagai Kacang Ingat Kulitnya, Inilah Cara Band Radja Melestarikan Lagu-lagu Banjar

Alhamdulillah "even spesial" ini, hadiahnya juga spesial dong! Beda dari even sebelum-sebelumnya. Salah satunya adalah hadiah berupa merchandise Kompasiana yang wujudnya ternyata serupa gudibek Kompasiana sama buku. 

Nah kerennya, untuk kali ini, bukunya tidak hanya beranak 1 saja, tapi 2! Mau tahu judulnya apa! Spil nggak yaaaaaa!?


Cerita masih berlanjut! Beberapa hari setelahnya, bukuku kembali beranak! Kali ini bidannya adalah Komunitas Penulis Berbalas (KPB) melalui even menulis dengan tema dendam yang melahirkan kebaikan, dalam rangka menyambut terbitnya nobar alias novel barengan yang ditulis 33 penulis, berjudul "Kapak Algojo dan Perawan Vestal"

Alhamdulillah, tulisanku yang berjudul "Tragedi Buta Warna dan Dendam Kesumatku untuk Masa Depan Anak-anak Nusantara!" kembali mendapat apresiasi tercantik dari para Juri, hingga diganjar beberapa reward keren yang salah satunya adalah novel fenomenal karya 33 penulis hebat diatas.

Naaah novel "Kapak Algojo dan Perawan Vestal" inilah anak keempat dari bukuku di bulan Juli ini.

Apresiasi dari Elex Media Komputindo untuk Program KKN Project | @kaekaha

Terbaru dan teraktual, pagi tadi waktu Dhuha! Ketika tiba-tiba orang rumah dikejutkan oleh teriakan kurir pengantar paket. Tentu saja, seisi rumah jadi heboh. Karena kami memang tidak sedang menunggu paket orderan apapun. Eh, lha kok tiba-tiba diantari paket, gede pula!

Usut punya usut, dari pengirimnya yang tertulis PT. Elex Media Komputindo, baru saya ngeh... Ini pasti "paket kejutan" dari Gramedia Group, terkait even project menulis tema KKN di Kompasiana yang baru saja rampung, dimana tulisanku yang berjudul "Ketika Cinta Tidak Lagi Buta (Warna)" terpilih menjadi salah satu karya yang lolos untuk dibukukan! Alhamdulillah...

Saya bilang paket ini sebagai kejutan, karena dari awal memang tidak ada klausul hadiah apapun dalam even ini, selain karya 20 pemenang yang nantinya dibukukan. Walaaaah asyik juga ya, cara Gramedia menyenangkan hati kita. Sekali lagi, Alhamdulillah!

Kerennya lagi, setelah kubuka bungkusan paketnya, ternyata berisi 11 buku "bergizi tinggi" dengan genre beragam, Aaaaaaah, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? Tahu aja, Gramedia cara memanjakan saya! Alhamdulillah! (BDJ5824)

Semoga bermanfaat!

Salam matan Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas!

Artikel ini juga tayang di Kompasiana pada 9 Agustus 2024  jam  14:48 WIB (klik disini untuk membaca)

 

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN






 

Es Puter "Jadoel" Dharma Praja, Si Manis dari Banjarmasin yang Melegenda

Es Puter Durian "Jadoel" Dharma Praja dengan Perangkat Jualan yang Tidak Kalah Jadulnya | @kaekaha

Sebagai negeri tropis yang dilewati garis khatulistiwa, sepanjang tahun kita mendapatkan pencahayaan matahari secara penuh, hingga suhu rata-rata di angka 26,7 C yang cenderung panas, mendorong kreatifitas masyarakat untuk terus berkreasi, menciptakan beragam asupan penyejuk, penetralisir panas.

Salah satu dari asupan penyegar penetralisir panas yang populer di sekitar kita, ya beragam olahan es yang sekarang ada di sekitar kita.

Uniknya, olahan es sebagai bagian dari jajanan tradisional masyarakat nusantara yang mempunyai keragaman budaya, banyak diantaranya telah berkelindan dengan kearifan lokal dimana olahan es itu lahir dan tumbuh, hingga akhirnya dikenal menjadi trademark dari daerah tersebut.

Es Puter Durian "Jadoel" Dharma Praja, Salah Satu Produk Es yang Bikin Dandaman | @kaekaha

Tentu tidak asing bagi kita mendengar nama Es Goyobod dari tatar Pasundan, Jawa Barat, Es Pallubasa dan Es Pallubutung dari Sulawesi Selatan, Es Brenebon dari Sulawesi Utara, juga Es Selendang Mayang dari Betawi atau seputaran Jakarta sekarang.

Selain itu di Jawa Timur, juga bisa kita temukan Es Sinom dan Es Godir yang ikonik di sekitaran Gerbangkertosusila, juga Es Dawet Jabung, Ponorogo yang sudah kesohor dan banyak lagi lainnya! Semuanya, secara spesifik berbalut cantik dengan kearifan lokalnya masing-masing. Keren kan!?

Es Puter Dharma Praja dengan Gerobak Dorong yang Manggon di Jalan Dharma Praja, Banjarmasin | @kaekaha

Tapi es tradisional khas Nusantara tidak hanya itu saja! Masih banyak lagi lainnya yang tersebar dan populer di seluruh penjuru negeri.

Salah satunya yang unik dan menarik adalah jenis es yang konon katanya diadopsi dari es krim ala Belanda yang berbahan utama susu, hingga jenis es ini akhirnya benar-benar dibuat dengan menyesuaikan bahan dan juga selera lokal khas nusantara, hingga kelak juga dikenal sebagai es krim tradisional. Ada yang tahu namanya!?

Pembeli Sedang Menikmati Es Puter Dharma Praja di Sekeliling Gerobak Dorong Jadul | @kaekaha

Di masa kanak-kanak saya di era 80-an sampai 90-an di salah satu sudut timur laut, kaki Gunung Lawu di perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, masyarakat di kampung kami menyebut jenis es krim tradisional ini dengan sebutan Es Tung atau Es Tung-tung, mungkin karena penjualnya yang berjualan pakai gerobak keliling biasa membawa gong kecil yang berbunyi tung-tung.

Nah, setelah tinggal di Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas yang masyarakatnya lebih heterogen, muncullah beragam sambatan (sebutan;bahasa Banjar) untuk menyebut jenis es ini.

Amang Aman Sedang Menjuali Es Puter | @kaekaha

Ada yang menyebut es dung-dung, es nung-nung, es tong-tong dan lain-lainnya dengan tipe penamaan mirip yang biasanya dinisbatkan kepada pedagang yang keliling dengan gerobak, sedangkan nama Es Puter untuk pedagang yang manggon (menetap;bahasa Jawa).

Sayangnya, di Banjarmasin pedagang es nung-nung ataupun es puter ini jumlahnya terus menyusut, tidak sebanyak di era 80-90an dan itu pun hanya menyisakan pedagang-pedagang berusia lanjut.

Untungnya, diantara sedikitnya penjual es puter yang sekarang masih tersisa di seputaran Kota Banjarmasin, masih ada seorang pedagang es puter ikonik yang tetap bertahan dengan resep es puter keluarga yang bertahan lebih dari 3 dekade, yaitu Es Puter no name tapi lebih dikenal sebagai Es Puter Dharma Praja.

Gerobak Jadul Es Puter Durian Dharma Praja, Banjarmasin yang Citarasanya Ngangeni. | @kaekaha

Perihal nama Es Puter Dharma Praja yang kental banget dengan rasa "pemerintahannya" itu, mungkin karena lapak jualannya yang berupa gerobak dorong itu sudah manggon di lingkungan komplek Dharma Praja alias komplek perkantoran, sekolah dan sarana olahraga milik pemerintah di seputaran jalan Ahmad Yani Km. 5 hampir dua dekade.

Sebelumnya, es puter yang benar-benar berasa hidden gem, karena hanya satu-satunya yang tersisa dan juga hanya menjual es puter satu rasa saja, yaitu rasa durian yang begitu otentik ini, sekitar satu dekade berjualan di pinggir jalan paling terkenal seantero Pulau Kalimantan, yaitu jalan Ahmad Yani.

Es Puter Durian Jadoel Dharma Praja, Sedikit Lagi Mau Habis, Saatnya Diputar-putar | @kaekaha

Memang sih Paman Rahman yang biasa disapa oleh pelanggannya dengan sebutan Amang Aman, generasi kedua yang meneruskan usaha jualan es puter yang dulu dirintis abahnya itu, kalau durian sedang langka maka akan digantinya dengan nangka.

Jadi, kalau pas ke lapak jualan Amang Aman yang mulai buka diatas jam 10 WITA atau setelah jam 10 pagi sampai selepas shalat Ashar itu, ternyata es puternya tidak berasa durian, tapi berasa nangka, itu artinya memang sedang tidak musim durian.

Gambar Durian Sebagai Tanda | @kaekaha

Tapi jangan kuatir, kecuali sedang khilaf saja, biasanya kalau sedang menjual es puter durian maka Amang Aman akan memasang gambar durian di depan perangkat termos es puter jadulnya yang berbungkus kayu, tapi kalau gambar durian tidak terpasang, berarti yang dijual adalah es puter nangka. Kecuali Amang Amannya sedang khilaf...he...he...he...

Penampakan perangkat termos es puter jadul yang berbungkus kayu ini merupakan salah satu sisi unik sekaligus bukti legendarisnya olahan es krim tradisional Dharma Praja ini.

Perangkat Tua Alias Jadul Es Puter Dharma Praja, Banjarmasin | @kaekaha

 

Tidak hanya itu sisi unik yang sering disorot oleh pembeli dalam berbagai unggahannya di media sosial yang secara tidak langsung ikut mempromosikan (promotion) eksistensi es puter Dharma Praja ini, karena Amang Aman juga biasa beratraksi, memutar-mutar termos esnya saat isi es dalam termosnya tinggal sedikit dan ini menjadi hiburan tersendiri bagi pembeli.

Kerennya, dari sini kita melihat Amang Aman sepertinya sudah mengenal prinsip marketing mix atau bauran pemasaran untuk menjaga eksistensi es puter durian Dharma Praja-nya. 

Terbukti, selain citarasanya yang begitu otentik (product) dan lokasinya (place) yang sangat strategis, yaitu di simpang tiga jalan Dharma Praja yang tidak hanya menjadi lintasan "penghuni komplek" saja, tapi juga jalur penghubung dari dua ruas jalur arteri, masih ada unsur marketing mix lain yang dijaga hingga ikut berperan menjaga eksistensi es puter durian Dharma Praja ini.

Perangkat untuk Menikmati Makan Es Puter Dharma Praja | @kaekaha

Salah satunya adalah penetapan strategi harga (price) es puternya yang sangat cerdas. Kalau anda semua sempat jalan-jalan ke Banjarmasin dan ketemu dengan lapak jualan Es Puter Dharma Praja ini, jangan kaget ya kalau varian harganya receh banget! Sangat ramah di kantong.

Kalau pakai gelas kecil, harga nya hanya 2000-3000an saja per-porsinya, sedangkan kalau pakai piring atau paket bungkus yang biasanya diberi tambahan potongan roti tawar harganya hanya 7000-8000an saja. Jelas receh banget untuk citarasa es puter durian otentik yang jauh dari kata recehan! (BDJ6824)


Yuk jalan-jalan ke Banjarmasin!

Semoga bermanfaat!



Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN







 

Rahasia Pesugihan Tulang Belulang

Tulang Belulang | stockadobe.com

Sebulan terakhir, masyarakat di kawasan 3 Banjar, yaitu Kota Banjarbaru, Kabupaten Banjar yang beribukota di Martapura dan kotaku Banjarmasin, dihebohkan dengan viralnya pembukaan "masal" kedai bubur ayam baru!

Tidak tanggung-tanggung, kedai bubur ayam berlabel khas Banjar, bertitel "Doa Kuitan" itu langsung membuka outlet di 30 titik sekaligus. Wooooow!

Sejak saat itu, warganet dengan berbagai aplikasi medsosnya, juga media lokal di laman masing-masing, beramai-ramai mengabarkan antrian mengular pembeli di kedai bubur yang terus bertambah dan bertambah di setiap paginya, bahkan sampai pagi hari ini, setelah tiga bulan berlalu.

Tidak heran, meskipun baru buka setelah subuh, jauh sebelumnya ada saja pembeli yang rela antri untuk semangkuk bubur ayam khas Banjar yang konon katanya, menurut para pereviewnya di beberapa aplikasi kulineran, dasar liwar nyamannya, hingga ratingnyapun nyaris sempurna.

Tak ayal, warganet juga membandingkan citarasanya dengan bubur ayam khas Banjar lainnya, terutama Bubur Ayam Barakat Kuitan, yang konon tidak hanya sebelas-dua belas saja, tapi juga identik!

Terang saja, "kehebohan" ini mengundang berbagai media arus utama untuk datang, meliput dan selanjutnya semakin memviralkan kedai bubur ayam yang namanya juga otentik Banjarnya, Doa Kuitan yang berarti doa orang tua!

Konon, semua tidak lepas dari humble-nya Haji Hasan, sang pemilik yang selalu "welcome" kepada siapa saja, apalagi kepada jurnalis sepertiku yang biasa mencari tahu "rahasia dapurnya".

Bahkan, Haji Hasan sudah biasa mengadakan media gathering untuk memperkenalkan proses pembuatan bubur ayamnya, langsung di "dapurnya". Keren kan!

Tapi...

Jujur, viralnya bubur ayam Doa Kuitan ini sangat mengganggu usaha keluarga besarku yang sebenarnya telah eksis lebih dari 5 dekade silam, sejak dirintis Hajjah Maryam, datukku di akhir era 60-an! Bubur Ayam khas Banjar "Barakat Kuitan".

Kamilah yang pertama menjual bubur ayam khas Banjar, hingga menjadi trademark, sekaligus langganan pejabat dan tokoh-tokoh lokal hingga nasional.

Tidak hanya itu, banyak juga kantor-kantor pemerintahan, kedinasan, sekolah dan juga pelaku usaha swasta yang secara reguler menjadi pelanggan bubur ayam kami terutama di haji Jumat.

Sayang, sejak enam bulan terakhir omset kami terus turun. Apalagi di dua bulan terakhir, setelah tidak ada satupun kantor-kantor yang order! Tentu saja, kami kebingungan mendapati fenomena ini! Apa iya, semuanya karena Doa Kuitan?

"Ji, dari mana ya resep bubur paman Hasan tu? Bujur juakah sidin memakai pesugihan Tulang belulang?" Tanya Acil Inah juru masak kami, kepadaku saat kita menyiapkan bahan bubur.

"Darimana pula Sidin dapat modal, bukanya sudah bangkrut!?" Giliran Acil Leha partner masak Acil Inah angkat bicara.

"Sabanjaran sudah kabarnya! Banyak yang melihat, setiap tengah malam, paman Hasan keliling kota menyebar tulang belulang!" Ujar Acil Inah lagi.

"Sudahlah cil jangan ghibah ah!". Jawabku menetralisir suasana, meskipun sebenarnya aku juga penasaran.

Haji Hasan, pemilik bubur ayam "Doa Kuitan" yang viral itu, sejatinya memang bukan orang lain bagi keluarga besar kami, pemilik bubur ayam "Barakat Kuitan".

Karena, Haji Hasan adalah saudara kembar dari kakekku, Haji Husin, generasi kedua penerus usaha bubur ayam "Barakat Kuitan". Keduanya adalah putera kembar dari Hajjah Maryam, Datukku.

Menurut ibuku, Bunda Noor, dulu Kai Hasan tidak mau meneruskan usaha bubur ayam, konon mengaku lebih cocok dengan usaha bengkel dan toko onderdil datuk yang juga bernama "Barakat Kuitan".

Hingga usaha bubur, akhirnya diteruskan Kai Husin, kakekku, hingga sekarang turun ke aku, generasi keempatnya.

Sayang, bengkel dan toko onderdil yang dikelola Kai Hasan hingga menjadi salah satu yang terbesar di Banjarmasin itu, ujung-ujungnya malah disita bank, karena diagunkan menantunya untuk usaha batubara yang belakangan, disebut-sebut oleh polisi yang menangkap menantunya, sebagai tambang ilegal.

Sejak saat itulah kepemilikan usaha Bubur Ayam "Barakat Kuitan" digoyang Kai Hasan, hingga berujung di meja hijau, bahkan sampai ke mahkamah agung segala!

Tapi tetap saja, keluarga kamilah yang dianggap lebih berhak dan patut mengelola Kedai Bubur Ayam "Barakat Kuitan" oleh pengadilan.

Tapi apa iya, gara-gara itu, Kai Hasan berubah, bahkan sampai memakai pesugihan untuk usahanya!?

Baca Juga Cerpen Juara! "Kongsi Dukun Lintrik"

Langit hitam lepas tengah malam itu masih menyisakan rintik hujan, ketika dari kejauhan terdengar tiang listrik yang dipukul dua kali oleh wakar.

Seperti biasanya, bunyi ini menjadi tanda dimulainya aktifitas dapur di kedai bubur ayam kami yang selalu diawali dengan shalat malam dan doa bersama yang dipimpin Kai Husin, tapi khusus malam Jumat, karena beliau memilih "bermalam" di Masjid Raya Sabilal Muhtadin, makanya akulah yang memimpin doa bersama kali ini.

Selesai membuka dapur kedai, biasanya aku langsung pulang untuk menuntaskan kerinduanku padaNya, sambil menunggu kumandang adzan Subuh. Tapi tidak kali ini!

Aku ingin sekali keliling kota, menghirup udara segar di awal pagi, sekalian nanti shalat subuh di Masjid Raya Sabilal Muhtadin saja, kebetulan Kai Husin yang menjadi imam shalatnya.

"Ah segaaaaarnya!" Gumamku dalam hati.

Setelah puas berkeliling kota, aku langsung menuju masjid terbesar di Kalimantan Selatan yang memang nggak ada matinya ini! Apalagi di malam Jumat, seperti sekarang.

Langsung menuju ke ruang khusus imam masjid tempat Kai Husin biasanya menunggu datangnya shalat Subuh, aku dikejutkan oleh obrolan dari dua orang yang sangat kukenal suara dan juga gaya bicaranya dari dalam ruangan.

"Kai Hasan!?" Gumamku dalam hati. Ini benar-benar surprise. Sungguh! Sejak ada masalah sengketa, komunikasi kami dengan keluarga Kai Hasan benar-benar beku. Bagaimana bisa, tiba-tiba beliau bersama Kai Husin!?

Belum sempat kuketuk pintu, tiba-tiba pintu terbuka.

"Rizal!? Waaah pucuk dicinta ulam pun tiba. Ayo masuk jurnalis!" Kai Hasan yang tadinya mau keluar ruangan, langsung menarikku ke dalam.

"Baru saja, kami selesai membicarakanmu! Ayo duduk, kai pesankan minuman dulu di kantin!" Setelah menuntunku duduk, Kai Hasan langsung keluar ruangan.

"Ada apa ini kai?" Tanyaku kepada Kai Husin.

Bukannya menjawab pertanyaanku, sidin justru memberiku sebuah buku tebal mirip buku harian dengan sampul muka bertuliskan Karindangan yang tampak sudah usang dan tua.

"Itu buku catatan peninggalan datukmu, Hajjah Maryam! Disitu ada banyak rahasia yang akan menjawab semua keingintahuanmu. Bacalah cu!" Kata Kai Husin.

Di halaman pertama, aku langsung menemukan prasasti tulisan tangan datuk, "Untuk Hasan dan Husin, Putra kembarku tersayang!", berikut catatan yang mengerucut pada sebuah pesan pada keduanya untuk terus menjaga silaturahim apapun yang terjadi. Menurut Datuk, itulah ikhtiar merajut kasih sayang paling nyata.

"Masha Allah, ini ternyata alasan Sidin berdua tetap menjaga silaturahmi, meskipun bekas luka akibat sengketa belum juga mengering", Gumamku dalam hati.

Selanjutnya, berbekal penanda halaman buku yang sepertinya sengaja dibuat Kai Husin, aku menemukan catatan resep-resep orisinil dan otentik masakan khas Banjar tulisan tangan datuk, seperti sop, soto sampai bubur ayam asli khas Banjar.

"Oooooh ini ternyata kitab induknya kuliner keluarga kami!" Terjawab sudah dari mana Kai Hasan mendapatkan resep buburnya yang identik. Tapi modal usahanya? Masa iya benar-benar dari "pesugihan tulang belulang"?

Baru saja aku membatin masalah "pesugihan tulang belulang", tiba-tiba dari halaman buku yang baru saja aku balik, terpampang dengan jelas sebuah judul tulisan tangan dari datuk, "Rahasia Pesugihan" yang tentu saja membuatku syok dan terkejut! 

Apalagi setelah di halaman berikutnya aku menemukan juga sebuah tulisan tangan berjudul "Rahasia Pesugihan Tulang Belulang". Badanku langsung lemas seperti tak bertulang dibuatnya.

Astaghfirullah! Ternyata pesugihan tulang-belulang memang benar-benar ada! Bahkan datukku sendiri pelakunya!

Eiiiiits, tapi tunggu dulu...

Aaaah bodohnya aku! Hampir saja aku tertipu! Inilah akibat dari kebiasaan kita, eh... kebiasaanku, masih saja malas membaca sampai selesai.

Setelah kubaca sampai habis, baru aku paham. Ternyata yang dimaksud datukku pesugihan tulang belulang itu, sebenarnya justeru bentuk sedekah, berbagi rejeki, berbagi kasih sayang dalam bentuk makanan kepada makhluk ciptaanNya yang lain.

Jadi, tulang yang disebut-sebut untuk pesugihan itu, tulang-belulang ayam sisa bubur ayam, berikut tulang rawan dan sedikit daging yang memang sengaja disisakan oleh datuk untuk dibagi kepada kucing, binatang kesayangan sidin.

"Datukmu yang mengajarkan ilmu pesugihan tulang belulang itu, agar usaha bubur ayam semakin berkah! Hasan sudah melakukannya, kamu kapan!?" Tanya Kai Husin kepadaku.

(BDJ 010824)


Kamus Bahasa Banjar :

Acil: Tante, bulik

Barakat: Berkat orang tua

Bujur: Benar

Dasar liwar nyamannya: memang luar biasa enaknya

Datuk: Kakek/Nenek Buyut

Jua: Juga

Kai: Kakek

Karindangan: Kangen, rindu

Kuitan: Orang tua

Paman: Paklik, Om

Sidin: Beliau

Wakar: Petugas Jaga Malam


Semoga menginspirasi!

Artikel ini juga tayang di Kompasiana pada tanggal 1 Agustus 2024 jam  14:50 WIB. Klik disini kalau mau membaca ceritanya!




Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN

 

Koleksi Playboy yang Bikin Asoy Geboy!

Mobil-mobilan | @kaekaha


Lain ladang lain belalang, Lain lubuk lain pula ikannya! Naaaaah lain daerahnya lain pulalah bahasanya!


    Baca Juga Yuk! Misteri Sepasang Kunang-kunang di Balik Halimun Kabuaran

Perjalanan menuju Desa Kabuaran tempat lokasi KKN kelompok kami sebenarnya nggak terlalu sulit, karena dari kantor kecamatan tempat kami dilepas sama Pak Camat dan petinggi kampus, rombongan kami tinggal naik mobil pick-up bak terbuka yang sudah di siapkan.

Jalannya juga hanya satu arah saja, tinggal lurus mengikuti jalan beraspal mulus yang dari awal pertigaan jalan besar di samping kantor kecamatan terlihat menanjak. Ini asyik sekaligus susahnya!

Ternyata, mobil yang mengantar kami sepertinya kurang fit. Di sepanjang perjalanan, beberapa kali kenalpot mobil terbatuk-batuk dan terlihat tersengal-sengal diajak menanjak dengan beban yang lumayan berat di bak belakang.

Benar saja! Sepertinya belum separuh jalan, mobil pick-up yang membawa kami benar-benar kandas, berhenti total nggak ada suara dan nggak bisa lagi bergerak, setelah batuk-batuk lumayan berat.


Ngenesnya, ternyata sopir yang membawa mobil tidak hanya nggak paham soal mobil, karena memang bukan sopir sebenarnya, ternyata dia juga tidak tahu lokasi persis kantor desa Kabuaran yang akan kita tuju. Alamaaaaak.

Disaat kita semua kebingungan karena memang tidak ada yang bisa dimintai tolong, si sopir malah ijin untuk kembali ke kantor kecamatan untuk meminta bantuan dan meninggalkan temannya agar bersama kami menunggu di mobil.

Sesekali ada bapak-bapak lewat dan kami tanyai

"Pak Kantor Kepala Desa masih jauh?" Tanya Bang Deni.

"Oh kantor Pak Tinggi!?"  Si bapak tua bertanya balik.

"Kepala desa Pak! Pemimpin desa Kabuaran, kantornya masih jauh!?" Bang Deni berusaha menjelaskan lebih detail.

"Iya dek, kepala desa itu Pak Tinggi di sini, mun kantornya semak saja, dekat! Jalan juga sampai!" Jawab si bapak lagi.

Mendengar penjelasan si bapak yang telah berlalu pergi dengan sepeda anginnya ke arah bawah, akhirnya saya memutuskan untuk berjalan kaki menuju ke kampung ditemani Bang Taufik, wakordes dan ternyata apa yang terjadi!

    Setelah berjalan hampir dua jam dibawah terik mentari kami masih belum juga menemukan perkampungan. Kiri kanan kami masih didominasi kebun jagung dan tembakau!

Kami atau tepatnya saya, ternyata lupa bin khilaf! Sebagai wong ndeso yang lahir dan besar di lereng gunung, ternyata saya melupakan sebuah rumus paten!

Yah, sebuah rumus yang datangnya entah dari mana, saya juga tidak tahu! Ingat nggak, kalau melakukan perjalanan dikampung apalagi di gunung, setiap ditanya lokasi dan jarak, masyarakat setempat selalu cenderung menjawabnya dengan kata dekat! Dekat saja! Sekilo atau dua kiloan lah! Paling seroko'an juga sampai!? Betul?

Nah ini yang saya lupa! Seharusnya saya ingat, sekilo dua kilo-nya orang di pedesaan itu sekian kali lipat dari seribu meter ukuran di ilmu matematika kita. Naaaah iya kan!?

Tahu kenapa!? Ya jelas bedalah, saya, anda dan yang lainnya dengan orang-orang pedesaan yang jauh lebih segar dan tegar hidupnya! Apalah artinya sepuluh-dua puluh kilometer bagi kita yang bagi mereka ternyata hanya sekiloan meter saja!? Jauh bagi kita, dekat bagi mereka! Begitu juga berat bagi kita ternyata ringan bagi mereka!

Aaaaah alamaaaaaak, kena prank kita di pintu masuk Desa Kabuaran! Untung nggak semuanya ikut jalan kaki rame-rame...he...he...he...

    Baca Juga Yuk! Romansa si Tambeng dan Babi-Babi Belajar di Ketinggian Kabuaran

Padatnya program kerja kelompok KKN kami di Senin Minggu ke-2 kemarin, mengharuskan kami bersepuluh baru bisa kembali ke posko selepas Ashar. Bahkan kami tidak sempat untuk sekedar makan siang.

Karena di posko juga tidak ada persediaan makanan untuk makan besar bersepuluh, sedangkan untuk memasak kami juga sudah kepayahan, akhirnya kami putuskan untuk membeli di warung saja, makan siang setengah sore kami kali ini.

Kebetulan, di dekat kantor desa Kabuaran ada Warung Bibi Imah yang menurut Bang Zul, bungsu Haji Hasan pemilik rumah posko kami, menyediakan beberapa menu masakan nasional yang lumayan familiar di lidah dan di kantong, jadi recomended banget katanya.

Untuk itu, dua sejoli yang tanpa terdeteksi radar kita semua, ternyata sudah jadian beberapa hari yang lalu, Kak Rina yang juga "manajer keuangan" kami dan Mas Agus "manajer logistik" kamilah yang bertugas belanja makan siang di warung Bibi Imah.

"Bi, tolong dibungkus sepuluh ya! Eh lauknya apa ya bi yang masih ada?" Mas Agus memesan kepada seorang ibu yang berdiri dibalik etalase kaca.

"Sobung dek!" Jawab si ibu setengah berteriak dengan logat Maduranya yang medok.

"Sop Bung!?" tanya Mas Agus lagi sambil mengernyitkan dahi, tanda ada keheranan dalam hati. "Bung kok di sop?" Tanyanya dalam hati.

"Iya, sobung dek!" Jawab si Ibu lagi.

"Sop Bung itu apa? Emangnya anak-anak mau!" Tanya Kak Rina ke Mas Agus sambil berbisik.

"Sepertinya Sop Rebung, itu lho bambu muda bahannya lumpia Semarang!? Biar sajalah daripada kita kelaparan!" Jawab Mas Agus sekenanya ke Kak Rina.

"Ooooh ya sudahlah!" Jawab Kak Rina pasrah. "Iya ya daripada kita kelaparan!" Belanya dalam hati.

"Iya sudah bi, bungkus aja sepuluh ya!" Mas Agus menegaskan pada si ibu.

"Sobung kabbhi dek!" Jawab si ibu lagi.

 "Iya bi, sop bung-nya dibungkus saja sepuluh ya!" Mas Agus berusaha meyakinkan si ibu untuk dibungkuskan sepuluh nasi sop bung.

Mendengar jawaban Mas Agus, si ibu masuk ke dapur dan menghilang untuk beberapa saat. Pikir Mas Agus dan Kak Rina, si ibu mungkin sedang membungkuskan nasi pesanan mereka, sehingga keduanya memilih duduk di bangku panjang di depan etalase kaca yang di dalamnya terlihat tinggal menyisakan kuah-kuah sisa lauk saja.

Beberapa waktu berlalu, si Ibu tidak juga muncul, tiba-tiba dari pintu samping yang terhubung dengan kantor desa malah muncul Pak Tinggi atau Pak Kades Amsyari dengan istri beliau. Anehnya, melihat kami berdua Pak Tinggi Amsyari dan istrinya kok senyumnya aneh ya! Seperti sambil menahan tertawa gitu! Ada apa ya!?

Nggak lama, muncul juga si ibu di belakang Pak Tinggi Amsyari, juga sambil tersenyum. Tapi lagi-lagi, senyumnya juga aneh! Terlihat kalau sambil menahan tertawa juga! "Wadaaaah ada apa ini?" Tanya Mas Agus dalam hati.

"Mas Agus sama Mbak Rina ya yang mau sobung sepuluh bungkus!?" Tanya Pak Tinggi Amsyari, dengan bahasa Indonesia logat Madura yang medok, masih dengan balutan senyum yang mencurigakan.

"Iya Pak, kok bapak jadi tahu!" Jawab Mas Agus spontan dengan sedikit keheranan.

"Iya tadi Bibi Imah tadi ke kantor dan cerita, kalau ada anak KKN minta bungkus nasi sobung katanya. Makanya saya diminta kesini untuk menjelaskan ke Mas Agus dan Mbak Rina!" Pak Tinggi menjelaskan kepada Mas Agus dan Kak Rina, tapi kali ini hanya sambil senyum saja tidak dengan menahan tertawa seperti tadi.

"Memangnya ada apa ya pak dengan sop bung-nya!?" Tanya Mas Agus lagi ke Pak Tinggi Amsyari, keheranan.

"Jadi begini Mas Agus dan Mbak Rina, sobung dalam bahasa Madura itu artinya tidak ada atau bisa dimaknai sebagai habis, bukan jenis masakan atau makanan. Jadi maksud bibi Imah tadi menyebut kata sobung itu artinya makanannya sudah habis di warungnya" Pak Tinggi Amsyari menjelaskan kepada Mas Agus, kali ini beliau sepertinya tidak bisa lagi untuk menahan tawanya, begitu juga istri beliau bahkan juga Bibi Imah dan Kak Rina yang terlihat tertawa terpingkal-pingkal sambil memukuli lengan Mas Agus yang akhirnya juga ikutan tertawa ngakak juga!

"Astaghfirullah, maaf-maaf Bi Imah, saya pikir Sop Bung itu sop rebung! Saya benar-benar nggak tahu! Terima kasih lho Pak Amsyari, sudah memberi penjelasan, kalau begitu sekalian saja kami pamit. Kasihan anak-anak pada kelaparan di posko". Sambil menahan rasa gemas yang belum tuntas, Mas Agus dan Kak Rina berusaha pamit untuk segera membuang rasa malu sekaligus membeli nasi di tempat lain.

"Eh nggak usah beli nasi Mas Agus, kita makan bersama saja di rumah saya ya! Kasih tahu teman-teman di posko, kira-kira 30 menit lagi siap. Jangan kuatir, kita tidak akan menyajikan sop bung kok, ya!" Sambil tersenyum, kali ini giliran Bu Tinggi, eh maksudnya istrinya Pak Tinggi Amsyari yang bersuara.

"Alhamdulillah!" Jawab Mas Agus dan Kak Rina hampir berbarengan.

"Terima kasih ibu, bapak! Kalau begitu kami langsung pamit untuk memberi kabar kepada teman-teman semua untuk bersiap". Jawab Mas Agus sambil menyalami Pak Tinggi Amsyari dan ibu, juga Bibi Imah.

Karuan saja, sesampainya di posko kisah sobung ini membuat seisi posko ngakak berjamaah, terpingkal-pingkal! Bahkan Bang Taufik sampai terguling-guling di lantai sambil menahan kencing di celana! He...he...he... Sobung-sop bung!

    Baca Juga Yuk! Oedipus Complex, Ketika Cinta Tak Lagi Buta (Warna)

Kedekatan kami, mahasiswa-mahasiswa KKN di ketinggian Desa Kabuaran dengan masyarakat, semakin hari semakin intim. Lama kelamaan kami merasa seperti tinggal di kampung sendiri.

Mulai dari anak-anak sampai kakek-kakek dan nenek-nenek hampir semuanya akrab dengan kami. Jika dengan anak-anak kami dekat melalui sekolah dan mengaji di masjid, maka dari pemuda kami dekat melalui karang tarunanya sedang dengan orang tuanya kami dekat melalui Yasinan dan pengajian rutin.

Tapi meski begitu, tetap saja dengan anak-anaklah kami mempunyai kedekatan yang lebih natural. Bahkan karena saking dekatnya, banyak juga lho anak-anak di Kabuaran yang lebih terbuka kepada kami dari pada kepada keluarganya sendiri. Wah...wah...wah...waaaaaah!

Nah salah satu anak yang paling suka main ke posko kami, bahkan pernah juga minta kepada orang tuanya agar diijinkan ikut tinggal bersama kami di posko adalah "si bongsor", Mahmud.

Anak SD kelas empat ini badan bongsornya bahkan lebih berat dari Bang Ihsan, anggota paling gemuk dalam kelompok KKN kami. Begitu juga dengan tinggi badannya yang lebih tinggi dari mayoritas "kakak-kakak" cewek anggota kelompok KKN di posko kami. Wooooow!

Tapi ya tetap saja, sifat kekanak-kanakannya masih menjadi tanda paling mudah untuk mengenalinya sebagai anak-anak! Selain cara dia memanggil kami, "Om dan tante!"

"Om, Abah punya koleksi playboy di rumah! Banyak!" Di suatu siang, dengan berbisik-bisik di telinga Bang Deni, Mahmud berhasil membuat kehebohan di posko.

"Hah, kok Mahmud bisa tahu!? Tanya Bang Deni yang terkaget-kaget, mendengarnya. Begitu juga dengan Bang Ihsan dan Mbak Wahyu yang juga mendengar bisik-bisiknya Mahmud.

"Ya tahulah, Mahmud sering melihatnya kalau Abah main". Jawab si Mahmud enteng saja sambil ngemut permen ungu berbentuk kaki.

"Memangnya playboy itu apaan!?" Tanya Bang Deni yang semakin syok dan penasaran mendengar jawaban enteng si bongsor.

"Playboy ya playboy Om! Masak orang kota seperti Om nggak tahu playboy?" Tanya si Mahmud balik kepada Bang Deni, terlihat sambil mengernyitkan dahi pertanda keheranan.

Mendengar percakapan Bang Deni dengan si Mahmud, Bang Ihsan dan Mbak Wahyu ikut-ikutan penasaran.

"Om Ihsan boleh lihat playboy-nya nggak!?"  Tanya Bang Ihsan tidak kalah penasaayo, sambil mendekat ke arah Mahmud.

"Boleh tapi jangan bilang siapa-siapa ya Om, karena kalau ketahuan Abah, Mahmud bisa dimarahi bahkan bisa dihukum!" Jawab Mahmud dengan bahasa Indonesia bercampur bahasa Madura yang terlihat tidak semedok para tetuhanya, sambil pamit pulang, karena sebentar lagi mau mengaji di Mushala haji Hasan.

Besoknya, Bang Ihsan yang kebetulan bertemu Pak Rajab, abahnya si bongsor, Mahmud di pasar, waktu mengantar Mbak Nina belanja bahan makanan harian untuk posko, mencoba melakukan klarifikasi perkataan Mahmud kemarin di posko, tentang playboy.

"Ooooh, Mahmud cerita ya sama mas-mas KKN soal Playboy itu!? Waduh... Mahmuuud, mahmud sudah dikasih tahu ndak boleh riya', tetap saja ngasih tahu ke orang, kan dosa jadinya kalau begini!" Sambil sedikit bersungut-sungut, Pak Rajab malah meminta maaf ke Bang Ihsan terkait kelakuan Mahmud yang disebutnya riya' itu

"Saya hanya bermaksud memperkenalkan Mahmud pada dunia lelaki yang sebenarnya mas! Tidak ada maksud lain". Sambung Pak Rajab lagi.

"Riya', dosa, dunia lelaki pula!? Kok malah ini yang jadi masalah!? Lha anak sekecil itu dikenalkan sama playboy apa ya nggak bahaya pak!?" Batin Bang Ihsan dalam hati, semakin bingung mendengar komentar Pak Rajab.

"Ya sudah, kalau mas KKN berminat, silakan main ke rumah besok malam ya! Mumpung istri saya ke Bondowoso. Nanti, kita lihat playboy saya sama-sama, kalau perlu nanti kita main berdua!" Ajak Pak Rajab ke Bang Ihsan.

"Ha!? Main berdua!? Boleh bawa teman-teman yang lain ga Pak!?" Tanya Bang Ihsan ke Pak Rajab.

"Gimana ya...!? Sebenarnya lebih asyik kalau main berdua saja. Tapi ya... sudahhlah, bawa saja teman-teman KKN yang lain, asal teman perempuan jangan diajak ya, malu!" Jawab Pak Rajab sambil memberi kode untuk melanjutkan belanjanya di kios sebelah, karena masih ada barang yang belum didapat.

Setelah kepergian Pak Rajab, datang Mbak Nina dengan belanjaannya.

"Pak Rajab tadi San!? Ngobrol apaan, penasaran  sama Playboy-nya si Mahmud!?" Tanya Mbak Nina menyelidik ke Bang Ihsan.

"Ah, mau tau aja urusan laki-laki!?" Jawab Bang Ihsan sambil nyengir kuda yang dibalas tonjokan cinta ala Mbak Nina ke lengan kekasihnya itu.

Besok malamnya, selepas shalat Isya berjamaah di langgar atau mushalla Haji Hasan, kami berlima tidak kembali ke posko, tapi langsung menuju ke rumah Mahmud, karena penasaran dengan playboy koleksi abahnya, Pak Rajab.

Begitu sampai, kami langsung diajak Pak Rajab naik ke ruangan khusus di lantai dua yang sepertinya memang didesain khusus untuk menyimpan semua koleksi-koleksi Pak Rajab.

Tapi di ruangan bernuansa biru ini kok ada lintasan-lintasan balap seperti arena balapan tamiya, sirkuit jalanan untuk formula 1 versi remote control dan juga arena buatan untuk off road mobil-mobilan remote control!?

"Lhah Playboy apa ini!?" Batin kami berlima mulai curiga. Kami diajak masuk lagi ke dalam sebuah kamar yang ternyata berisi koleksi mainan mobil-mobilan dan action figure super Hero kesukaan Pak Rajab dan Mahmud.

"Silakan mas-mas KKN melihat-lihat koleksi playboy saya, silakan pilih salah satu kalau mau main!". Pak Rajab mempersilakan kami menikmati semua koleksi yang disebutnya sebagai playboy tersebut.

"Mana playboy-nya Pak?" Tanya Mas Agus.

"Lho, ya ini playboy koleksi saya!" Jawab Pak Rajab dengan nada keherenan, melihat kami keheranan ketika mendengar penjelasannya tentang playboy koleksinya!

"Mainan ini, playboy!?" Tanya saya menegaskan lagi ke Pak Rajab.

"Iya mas! Bukankah ini memang playboy!? Play itu mainan dan boy itu anak laki-laki. Kan pas itu playboy! Ya ini mainan kami yang bikin asoy geboy"  Jawab Pak Rajab lugas dengan campuran bahasa Indonesia dan Madura Pendalungan, sambil tersenyum puas.

"Ha.....!"

Semoga Bermanfaat!

Salam matan Kota 1000 Sungai,  

Banjarmasin nan Bungas!






Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN

 Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Koleksi Playboy yang Bikin Asoy Geboy!", Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/kaekaha.4277/668168f9ed641574e327a302/koleksi-playboy-yang-bikin-asoy-geboy?page=all#section7

Misteri Sepasang Kunang-kunang di Balik Halimun Kabuaran

Kunang-kunang | unsplash.com/@phanchutoan




    "Sepasang kunang-kunang yang terbang beriringan itu, pelan-pelan pendar cahayanya berubah menjadi kemerahan-merahan dan semakin memerah darah ketika wujudnya semakin besar, besar dan terus membesar ketika didekati dan..."

Memasuki hitungan pekan ketiga-keempat, pengabdian kelompok KKN kami di ketinggian Desa Kabuaran, Bondowoso, progresnya terus membaik. Bahkan saking membaiknya beberapa diantara kita, malah serasa tinggal di kampung sendiri lho!

Secara perlahan, kami mulai menikmati beragam sensasi tinggal di lereng pegunungan bersama oreng pendhalungan atau Madura Pendalungan, sub etnis Madura yang sudah bercampur dengan masyarakat Jawa di sepanjang kawasan tapal kuda, Jawa Timur, termasuk di Bondowoso.

Khusus yang mendiami kawasan Bondowoso, konon memang sudah mendiami Bumi Bondowoso ini jauh sebelum Kadipaten ini didirikan oleh Ki Ronggo I, Bupati pertama Bondowoso yang juga bangsawan Madura di awal-awal abad ke-19.

Berbagai kendala krusial di awal-awal pengabdian, terutama masalah komunikasi yang tidak lancar, karena tidak satupun diantara kami yang bisa berbahasa Madura dengan baik, akhirnya menemukan juga jalan solusi.



Begitu juga dengan masalah MCK "open" yang awalnya membuat kami risih, setelah menemukan triknya, sekarang kami malah ketagihan dengan sensasinya...he...he...he... Sueeger mase!

Satu lagi! Kegamangan kami, terutama "kakak-kakak" cewek terhadap keamanan Desa Kabuaran yang disebut-sebut masih cukup berbahaya, karena dikenal sebagai "destinasi" utama sindikat maling sapi yang setiap beraksi konon suka nekat! Alhamdulillah sejauh ini tidak terbukti. Sampai detik ini, Kabuaran masih aman-aman saja.

Memang sih, beberapa hari yang lalu kita di posko sempat siaga 1, setelah Mbak Wahyu dan Kak Hani yang kebetulan terbangun di lepas tengah malam karena sakit perut dan harus menuntaskannya di WC dapur posko, mengaku dikejutkan oleh obrolan misterius, sepertinya dari beberapa orang di balik dinding dapur, tapi dengan suara berbisik, sehingga tidak terlalu jelas isi obrolannya, meskipun sekilas mereka menyebut-nyebut kata sapi dalam bahasa Madura!

Maklum, meskipun dinding seng di dapur posko terlalu tipis untuk meredam percakapan misterius itu. Tapi, mereka sepertinya cukup berhati-hati dan terbukti, begitu terdengar gemericik air dari WC, suara percakapan itu tak lagi terdengar. Siapa malam-malam ngobrol di situ? Komplotan maling sapi!? Atau mungkin warga yang sedang berjaga di kebun jagung!? Ah entahlah!

Memang, masyarakat Kabuaran mempunyai tradisi unik di setiap menjelang musim panen jagung, yaitu melek'an masal, khususnya  para pemuda dan bapak-bapak.

Seperti saat ini, ketika panen raya jagung tinggal menuggu harinya saja, sebagian besar lelaki dewasa di Kabuaran akan memilih untuk begadang di malam hari dari pada tidur. Mereka lebih memilih menjaga kebun jagung dari serangan koloni babi, bersama saudara atau tetangga lainnya, maupun untuk ronda malam bersama grupnya, hingga sejauh ini keamanan di Kabuaran memang terasa kondusif.

Nah, sambil menyelam minum susu, eh... minum air! Tentu saja kami tidak mau melewatkan kesempatan emas untuk berbaur dengan warga Kabuaran dalam aktifitas kesehariannya, sekaligus merasakan sensasi begadang malam-malam menghadang serangan babi-babi liar, juga kemungkinan kawanan sindikat maling sapi. Kapan lagi kami bisa merasakan sensasinya ini semua kalau tidak sekarang!?

Makanya, dengan senang hati kami juga memilih untuk ikut terlibat dalam dua aktifitas warga Kabuaran yang kelak mempertemukan kami dengan definisi dari sensasi ngeri-ngeri sedap yang sebenar-benarnya ini!

Kerennya! Berangkat dari kebersamaan dan keintiman kita dengan masyarakat inilah, akhirnya kami justeru menemukan banyak fakta mengejutkan terkait dinamika kehidupan sosial dan budaya masyarakat Kabuaran yang sebelumnya sangat sulit untuk kami gali alias off the record, mungkin karena dianggap aib hingga dinilai tabu untuk dibicarakan, apalagi dibahas dengan "orang luar" seperti kami.

"Kalau di gunung, kalian melihat sepasang atau lebih kunang-kunang dengan jumlah genap, segera tinggalkan! Jangan dilihat lagi apalagi di hampiri!", pesan Haji Hasan, tetua kampung yang juga juragan tembakau dan jagung di Kabuaran, pemilik rumah posko kami, sesaat sebelum kami shalat Isya berjamaah di langgar Al Hidayah di depan rumah beliau.

"Tapi kalau jumlah kunang-kunangnya ganjil, tidak apa-apa!" Lanjut beliau, masih dengan bahasa Maduranya yang medok, sambil memberi aba-aba kepada Bang Ihsan agar segera mengumandangkan Iqamah, hingga kami tidak sempat bertanya sedikitpun perihal misteri sepasang kunang-kunang yang baru saja disebut-sebut beliau, hingga kami semua dibuatnya penasaran. Makhluk atau apa itu sebenarnya?

    Baca Juga Yuk! Oedipus Complex, Ketika Cinta Tak Lagi Buta (Warna)

Malam ini, sesuai jadwalnya, aku dan Bang Deni kebagian jaga malam di kebun jagung Haji Hasan bareng Bang Zul, Bang Harun, sulung Haji Hasan dan warga lainnya.

Seperti biasanya, kami selalu mempersiapkan semua perbekalan wajib "dinas malam" di kebun jagung selengkap mungkin. Bahkan Bang Deni sampai membuatkan check list-nya agar tidak ada satupun yang tertinggal. Karena kalau ada yang ketinggalan, ujung-ujungnya pasti kita juga yang bakalan super repot!

Tidak hanya capek dan menguras tenaga saja, kalau harus bolak-balik dari kebun ke rumah Haji Hasan yang sebagian besar memang hanya bisa diakses dengan jalan kaki sekitar 2 jam perjalanan, tapi juga seremnya suasana di sepanjang perjalanan yang gelap gulita itu lho yang enggak nguatin!

Tahu sendiri kan, situasi kebun yang terletak di bagian atas kampung Kabuaran! Selain jarang ada pemukiman warga, kecuali pantulan cahaya rembulan, juga bisa dibilang tidak ada penerangan yang memadai di sepanjang perjalanan. Apalagi kalau kabut pekat ikut turun menyelimuti, ini akan menyempurnakan dinginnya udara malam dan juga serunya...eh seremnya! Hi...hi...hi...hiiiiiiiiiiii!

Untuk kelengkapan badan, kami pasti sudah siap dengan pakaian lengkap sejak dari posko, mulai dari kaos lengan panjang, jaket, sarung, kupluk sampai kaos kaki dan kaos tangan juga tidak ketinggalan.

Selain itu, rombongan kami juga akan membawa bekal lengkap untuk sekira 5-6 orang sekaligus, mulai dari nasi lengkap dengan lauk pauknya masakan Bu Haji Hasan, beragam gorengan manis dan asin sekantong plastik lumayan besar, kopi panas yang minimal harus membawa 3-4 termos, si tambeng secukupnya tidak boleh ketinggalan, juga tas obat yang sejak kehadiran kami nggak boleh lagi terlewatkan.

Malam ini merupakan "dinas" kali keduaku di kebun jagung Haji Hasan, begitu juga dengan Bang Deni setelah sekitar seminggu sebelumnya aku mengawalinya, tapi dengan Bang Taufik sebagai partner dari posko.

Pengalaman seru pertama kalinya diserang kawanan babi yang menurut Bang Zul masih level-level kelas yunior saat itu, jelas tidak akan pernah aku lupakan. Bahkan untuk mengingatnya sekaligus berbagi keseruannya, aku merasa perlu menuliskannya dalam sebuah cerita pendek berjudul "Romansa si Tambeng dan Babi-babi Belajar di Ketinggian Kabuaran" yang Alhamdulillahnya, dimuat juga di salah satu media nasional terbesar Indonesia. Keren kan!?

"Kenapa Bang !?" Suara berbisik tapi seperti teriakan tertahan karena terkejutnya Bang Deni ketika Bang Zul, pemimpin rombongan di depannya, tiba-tiba berhenti mendadak membuyarkan "tayangan film" di benakku saat itu, hingga akupun hampir menubruk Bang Deni yang ada di depanku.

"Sssssssst!!!", terdengar suara Bang Zul mendesis dan sekilas tampak memberi aba-aba ke kita yang di belakang agar diam dengan menaruh jari telunjuk kirinya di depan bibir, sedangkan dengan tangan kanannya yang diantara jemarinya masih menjepit tingwe si-tambeng, meminta kita yang dibelakangnya untuk merapat ke depan dan tetap waspada. Entah apa maksud dan tujuannya!?

Kami tidak tahu apa yang sedang terjadi. Semua diam beberapa menit dalam kegelapan malam, hanya cahaya dari kretek si-tambeng terbakar yang dihisap Bang Zul di depan dan Bang Harun di belakang kami saja yang masih meninggalkan jejak cahaya, sampai Bang Zul akhirnya memberi kode agar kita berdiri untuk melanjutkan perjalanan.

Sementara itu di posko, Ce Netty yang sendirian mempersiapkan makan malam di dapur, sedangkan Mbak Wahyu, Mbak Nina, Ka Hani dan Kak Rina masih Yasinan di langgar, tiba-tiba dikejutkan oleh suara geraman halus tapi jelas terdengar dari arah belakang. "Hhhheeeeemrmrmrmrm!" suara menggeram itu kembali terdengar. Kali ini sedikit lebih jelas dan menjadikan suasana so scary!

Tiba-tiba Ce Netty merasakan bulu kuduknya berdiri dan merinding di sekujur badannya. Bulu-bulu halus di tangannya berdiri tegak! Ini aneh! Ce Netty menjadi keheranan sendiri melihat bulu-bulu tangannya berdiri tegak!

"Ada apa ini!? Seumur-umur baru sekali ini aku merasakan suasana seperti ini". Sambil terus berbisik pada dirinya sendiri untuk menjaga kesadaran, Ce Netty juga terus berusaha menguasai diri dengan terus berpikir logis.

Setelah terdengar geraman ketiga, barulah Ce Netty bangkit dan berbalik menuju arah asal suara yang sepertinya dari kamar mandi. Tapi anehnya, di kamar mandi bercahaya lampu pijar 10 Watt itu, Ce Netty tidak menemukan apapun. Tapi ketika mau berbalik, ekor mata Ce Netty menangkap sesuatu dari lubang angin WC yang mengarah ke kebun.

Meskipun sekejap, Ce Netty sempat menangkap dua bola cahaya kekuningan bersemu merah, sepertinya inti bola mata yang seketika seperti terbang dan menjauh dengan menyisakan suara menggeram yang lebih panjang dari sebelumnya.

"Ya Tuhan, apa itu tadi!?" Meskipun kaget dan lumayan bergidik juga, Ce Netty yang tiba-tiba merasa kegerahan meskipun udara sedang dingin-dinginnya, tetap berusaha tenang dan menguasai diri dengan duduk dan mengatur nafasnya senyaman mungkin.

    Baca Juga Yuk! "Romansa si Tambeng dan Babi-babi Belajar di Ketinggian Kabuaran"  

"Ada yang lewat dan tiba-tiba memotong jalan kita tadi!" Bang Zul membuka obrolan, memecah kebekuan dalam cuaca dingin, ketika kami baru saja sampai di pondok dan mulai meluruskan kaki-kaki kami sambil meneguk air mineral dari botol yang kami bawa.

 "Ooooh!" sahutku juga Bang Deni berbarengan, sambil berpandang-pandangan dan mengangguk-angguk tanpa merasa perlu lagi memperjelas apa yang diceritakan Bang Zul. Kami paham apa maksudnya. Karena kami berdua yang posisinya saat kejadian tepat di belakang Bang Zul, tidak merasa melihat apapun saat itu. Artinya yang dimaksud Bang Zul lewat dan memotong jalan pastilah... Ah, pahamkan siapa itu?

Di pondok yang sengaja hanya ditutup sebagian saja di bagian bawah itu, dengan pencahayaan dari ublik yang berbahan bakar getah damar dengan bau harum yang khas itu, kami memulai "dinas malam" dengan makan bersama sambil sesekali menyeruput seduhan kopi Arabika nashitel buatanku yang Insha Allah akan membuat kita melek terus semalaman.

Kali ini, karena bertepatan dengan malam Jumat, seperti biasanya Bu Haji Hasan selalu membekali kami dengan lauk spesial, yaitu ayam bakar pedas resep keluarga Pendalungan yang telah berumur ratusan tahun sebanyak 2 ingkung atau 2 ekor ayam yang dimasak utuh. Waaah siapa yang sanggup menolak kalau sudah begini!?

Karena selepas Maghrib tadi, aku dan Bang Deni nggak sempat ke dapur posko untuk makan malam dan sepertinya kami berenam memang kelaparan setelah berjalan menanjak sekitar 2 jam, maka ingkung ayam bakar yang baunya begitu menggoda ini, sepertinya tidak akan berumur panjang.

Ketika lagi enak-enaknya menikmati ingkung ayam bakar yang mengingatkanku pada olahan ayam panggang tumbang alias ayam panggang berbumbu ketumbar-bawang khas Madiunan olahan ibu yang citarasanya mirip banget, tiba-tiba kami dikejutkan oleh Bang Deni yang tiba-tiba berdiri dan terlihat seperti melihat sesuatu di titik sebelah kanan kami, tepat di pepohonan trembesi tua yang dari jauh kelebatan daunnya membentuk imajiner selayaknya rambut kribo itu.

"Duduk Den, palingkan pandanganmu!" Perintah Bang Harun sambil menarik tangan kiri Bang Deni yang sepertinya melihat sesuatu di kejauhan, sampai dia terduduk.

"Astaghfirullah, Bang...!" Ucap Bang Deni setelah berhasil menguasai dirinya sendiri sepenuhnya.

"Iya aku tahu! Sudah biarkan saja! Ayo dilanjut makannya, nanti keburu dingin dan nggak enak lagi dimakan!" Jawab Bang Harun lagi, singkat padat dan jelas dengan bahasa Maduranya yang medok.

Kami yang lain hanya saling pandang saja. Kalau Bang Zul, Bang Harun dan warga lain yang ikut jaga, aku yakin mereka pasti sudah biasa dengan situasi seperti ini dan pastinya tahu betul apa yang dilihat sama Bang Deni barusan, tapi aku!?

Aku benar-benar tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi!? Apa yang dilihat sama Bang Deni? Apa iya, calon tukang insinyur listrik itu melihat sepasang kunang-kunang seperti yang dibilang Haji Hasan sore tadi? Waduuuuuuuuh!

Selesai membereskan peralatan makan, kami berenam langsung dibagi Bang Zul menjadi 2 tim, Aku, Bang Deni dan Bang Zul tetap berjaga di pondok yang sekarang kita tempati, sedang Bang Harun dan dua warga lainnya di pondok ujung kebun yang lokasinya masih harus naik keatas sekitar sejam perjalanan lagi.

Seiring kepergian Bang Harun dan warga yang bertugas di pondok atas, kabut halimun tipis mulai turun dan menyelimuti sekitar kami. Sayup-sayup dari kejauhan sudah mulai terdengar riuh bebunyian yang rangkaian talinya pasti dikekang oleh penjaga kebunnya, menandakan sudah ada pergerakan koloni babi di sekitarnya.

Mendengarnya, Bang Zul langsung memberi aba-aba kepada kami berdua agar bersiap untuk segera menarik tali kekang bebunyian yang terikat di tiang-tiang sudut pondok, agar kawanan babi yang sudah berkeliaran tidak mampir ke kebun kita. Seketika, keheningan malam yang tadinya begitu senyap langsung tersentak oleh riuhnya bebunyian yang perlahan mulai memekakkan telinga.

Secara bergantian, aku dan Bang Deni, juga Bang Zul menarik tali kekang tanpa henti setidaknya selama 30 menit atau sampai situasi dirasa aman yang biasanya ditandai dengan berhentinya semua bebunyian dari berbagai arah kebun.

"Tang!" Di tengah-tengah adrenalin kami yang mulai naik karena mulai terlihat ada beberapa babi yang tersasar, lepas dari koloni yang berlarian tak tentu arah di dekat pondok, Bang Deni tiba-tiba berteriak kearahku.

"Ada apa bang?" Tanyaku kepadanya, setelah kulepas tali kekang bagianku.

"Kau coba perhatikan itu!? Masak kau tak lihat sepasang kunang-kunang atau apa itu!?" Sambil mengarahkan jari telunjuk tangan kanannya ke arah pohon trembesi raksasa berjarak sekitar 30 meteran dari pondok, Bang Deni menyebut ada sepasang kunang-kunang atau entah apa disana.

    Tapi anehnya, aku sama sekali tidak bisa melihatnya.

Mendapati kami berdua sedang menunjuk-nunjuk kearah pohon trembesi, Bang Zul langsung menghampiri kami.

"Itu yang warnanya kuning kemerahan menyala-nyala!" Bang Deni terus mendiskripsikan si kunang-kunang atau entah apa itu sedetail-detailnya kepadaku, tapi aku tetap saja tidak bisa melihat apapun. Makhluk apa sebenarnya, sepasang kunang-kunang itu?

"Den, Tang! Sudah jangan dilihat terus! Palingkan pandanganmu! Si Kunang-kunang itu hanya ingin menarik perhatian  kalian. Abaikan saja! Ayo tarik lagi kekangnya, dari arah atas suara bebunyian semakin lantang dikekang, berarti babi-babi itu mulai datang ayo bersiap!" Teriak Bang Zul kepada kami berdua dengan bahasa Madura Pendalungan yang mulai akrab di telinga kami.

"Menarik perhatian!?" Gumamku dalam hati. Emang dia apa, eh siapa? Kok aku nggak bisa juga melihatnya ya!? Aku benar-benar semakin penasaran dibuatnya.

Benar saja, tidak berselang lama, tiba-tiba pecahan koloni babi yang sepertinya masih seumuran dengan yang seminggu lalu menyerang kebun kami, nyasar menghambur ke kebun dari beberapa arah. Bahkan karena arah lari mereka yang tidak beraturan, ada beberapa diantara mereka yang saling bertabrakan, bertumbukan! Buuuug! Hingga beberapa diantaranya terguling-guling di hadapan kami.

    Tentu saja yang begini jadi hiburan tersendiri bagi kami, orang luar yang belum pernah melihat sebelumnya. Mau tertawa takut kualat, nggak tertawa tapi lucunya nggak ada obat! He...he...he...

Inilah salah satu keunikan tradisi di Kabuaran, setiap menjelang panen raya jagung yang kelak ingin kami rekomendasikan kepada pemerintah setempat untuk dijadikan destinasi wisata minat khusus.

Kalau wilayah hutan diatas yang dikelola perhutani sudah biasa menjadi destinasi wisata berburu oleh klub-klub pemburu babi profesional, maka area kebun yang ada di bawahnya bisa juga dijadikan destinasi wisata festival panen raya jagung yang salah satu ikonnya, ya pertunjukan menghalau koloni babi-babi di tengah malam ini.

Apalagi, aktifitas ini telah lama menjadi kearifan lokal Kabuaran yang terus dijaga. Meskipun babi-babi itu termasuk hama yang menggangu dan merugikan, tapi masyarakat Kabuaran sama sekali tidak berniat melukai apalagi membunuh mereka!

Ini yang unik! Menurut keyakinan komunal mereka, jika ada babi yang terluka apalagi terbunuh, maka koloni mereka akan semakin besar dan beringas menyerang apa saja sampai ke rumah-rumah di kampung. Wooow!

    Baca Juga Yuk! Kongsi Dukun Lintrik

"Sama sepasang kunang-kunang raksasanya juga?" Bang Deni menyela pemaparanku terkait ide menjadikan tradisi menghalau babi yang full atraksi itu menjadi destinasi wisata, saat kelompok KKN kami berdiskusi dengan Pak Tinggi atau Pak Kades Kabuaran dan Pak Camat beberapa hari kemudian di Posko.

Anehnya, meskipun berusaha tersenyum, gestur Pak Tinggi tiba-tiba berubah ketika mendengar ucapan Bang Deni soal sepasang kunang-kunang itu. Dari yang tadinya sumringah dan terlihat sangat antusias mendengar pemaparan kami, tiba-tiba terlihat menjadi gusar dan gelisah, seperti orang yang ketakutan. Kenapa ya?

Bahkan tiba-tiba, ditengah-tengah obrolan yang belum tuntas itu, Pak Tinggi Amsyari minta ijin untuk pulang. Sebentar saja, katanya mau mengambil sesuatu di rumah.

Sepeninggal Pak Tinggi, kami melanjutkan diskusi dengan Pak Camat yang ternyata baru saja menjabat di Kecamatan Grujugan sekitar sebulan sebelum tim KKN kami di terjunkan ke Kabuaran, jadi beliau juga mengaku masih belum mengenal betul dinamika kehidupan sosial budaya masyarakat di Kabuaran, termasuk tradisi berjaga babi sebelum panen jagung dan tentunya "legenda" sepasang kunang-kunang raksasa yang tadi disebut-sebut Bang Deni.

    Tidak berapa lama Pak Tinggi Amsyari datang dengan membawa seperti buku atau bundel kliping yang dari penampakannya terlihat tampak sudah lumayan tua.

"Adik-adik KKN yang saya cintai dan sayangi, ini saya bawakan kliping milik almarhum orang tua saya yang dulu juga jadi Pak Tinggi di akhir 70-an sampai 80-an".

"Artikel berita yang dikliping abah saya ini didapat dari koran dan majalah yang memberitakan tentang 'legenda' misteri sepasang kunang-kunang di desa kita yang tadi disebut sama Bang Deni. Salah satu diantaranya yang berjudul 'Misteri Sepasang Kunang-kunang di Balik Halimun Kabuaran' yang ditulis oleh wartawan berdasarkan pengalaman saya  yang terjadi kalau tidak salah di sekitar awal 80-an dan traumanya masih tertinggal sampai hari ini".

"Saat itu keluarga kami baru saja pindah ke Desa Kabuaran ini setelah Abah yang memang asli orang sini memenangkan Pilkades atau terpilih menjadi kepala desa yang di sini disebut sebagai Pak Tinggi, disaat Ami atau ebo (ibu) saya sedang hamil besar dan tinggal menunggu hari untuk melahirkan".

"Sore itu, saya sendirian di rumah, karena Abah mengantarkan Ami ke bidan di desa bawah sana, karena mau melahirkan. Selepas Maghrib, karena merasa sangat lapar, saya bermaksud membeli kue atau makanan apa saja yang ada di warung untuk dimakan".

"Tapi, beberapa puluh meter dari rumah, tepatnya di balik tegakan pohon trembesi tua di dekat perempatan yang sekarang sudah jadi balai warga itu, saya melihat sepasang kunang-kunang terbang dari jarak sekitar 20 meteran. Karena dasarnya saya suka penasaran sama yang nggak biasa gitu, maka saya datangi sepasang kunang-kunang itu".

"Tapi anehnya, pelan-pelan pendar cahayanya berubah menjadi kemerahan-merahan dan semakin memerah darah ketika wujudnya terlihat semakin jelas, besar, besar dan terus membesar ketika didekati dan tiba-tiba hermrmrmrmrmrm! Suara menggeram itu!"

"Sepasang kunang-kunang itu ternyata biji mata dari sosok yang sangat besar! Sekujur tubuh raksasanya yang lebih tinggi dari rumah dipenuhi bulu kasar yang sangat tebal dan berbau apek, saat itu juga saya ingin lari, tapi kaki saya seperti lumpuh dan semakin lemas ketika kepala bermata merah dengan gigi bertaring tajam yang sangat besar dan mengerikan itu terus mendekat hingga tak berjarak, sampai saya mengenalinya, itulah gondoruwo!"

Semoga bermanfaat!

Salam matan kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas!




Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN

 




Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul "Misteri Sepasang Kunang-kunang di Balik Halimun Kabuaran", Klik untuk baca:
https://www.kompasiana.com/kaekaha.4277/667ca6f8ed641569f861eb52/misteri-sepasang-kunang-kunang-di-balik-halimun-kabuaran?page=all#section7