Senin, 22 Juni 2020

Apresiasi Dialogis, Analogi Pelacur Berjilbab dan Logika Terbalik Suluk Lir-Ilir


Pertama Murni Syariah | @kaekaha
Saya mulai berhubungan dengan Bank Syariah sejak tahun 2010, ketika saya memutuskan membuka Tabungan Haji Arafah di Bank Muamalat Cabang Banjarmasin. Bank Muamalat menjadi pilihan saya untuk membantu memuluskan sekaligus meluruskan niat saya untuk "menjemput" panggilan haji karena saya tertarik dengan konsep syariah yang ditawarkan oleh Bank yang mempunyai tagline pertama murni syariah tersebut. 

Niat saya adalah ingin menjemput panggilan ibadah tersebut dengan cara "ibadah" juga. Sampai hampir 6 (enam) tahun menjadi nasabah tabungan haji di Bank Muamalat saya memang sama sekali tidak menemui "sesuatu"! Semua berjalan normal.

Pengalaman menarik berhubungan dengan Bank syariah justeru saya temui di luar konteks hubungan saya sebagai nasabah dengan Bank Muamalat, tapi ketika saya berniat untuk menambah modal kerja untuk mengembangkan usaha saya. 

Beruntung, di lingkungan tempat tinggal saya banyak praktisi perbankan yang menjadi langganan usaha saya. Dari tetangga sekaligus langganan saya tersebut, saya mendapatkan berbagai referensi dan masukan terkait produk perbankan, khususnya kredit modal kerja. Bahkan beberapa diantaranya mengirimkan staf marketingnya ke rumah untuk menjelaskan berbagai produk perbangkan masing-masing.  

Dari sinilah akhirnya saya bertemu dan berkenalan dengan berbagai produk perbankan baik umum maupun syariah lebih detail lagi, termasuk dengan tipikal perbankan yang menjadi produsennya. Berangkat dari perkenalan dan komunikasi intensif dengan mereka, akhirnya saya mendapatkan banyak pengetahuan berharga yang sangat membantu saya dalam memilih partner terbaik untuk mengembangkan usaha saya.

Disini, saya tidak akan membandingkan masing-masing produk perbankan ataupun bank penerbit atau produsennya. Saya hanya ingin membuka sebuah wacana diskusi terkait beberapa hal yang berhubungan dengan perbankan syariah dari kaca mata saya dalam kerangka menjembatani komunikasi perbankan syariah dengan masyarakat secara umum, termasuk saya sebagai nasabah.

Teori analogi "Pelacur Berjilbab"

Secara umum, dalam konteks "teori dan konsep" sebagian besar masyarakat memahami Bank Syariah sebagi bank yang berazaskan dengan agama (Islam), hal ini sesuai dengan hasil survey persepsi yang dilakukan oleh BI-MarkPlus tahun 2010.  Persepsi masyarakat ini tentu sangat beralasan, karena konsep perbankan syariah pada dasarnya memang "pengembangan" dari konsep keuangan syariah yang bersumber dari Al Quran dan As sunnah. 

Apalagi diawal munculnya perbankan syariah, hampir semua produk-produknya memakai istilah dari bahasa arab. Sayangnya, berkembangnya persepsi masyarakat ini tidak dibarengi dengan proses komunikasi dan edukasi kepada masyarakat umum secara memadai. Sehingga poin inti dari prinsip syariah yang ditawarkan kepada masyarakat juteru tidak pernah sampai. Secara umum, masyarakat hanya mengingat kata "syariahnya" saja tanpa berusaha mengkaji lebih dalam untuk memahami isi yang ada didalamnya. Akhirnya perbankan syariah mendapat label eksklusif dari masyarakat dan dianggap untuk kalangan tertentu saja (Islam dan kelas menengah keatas), bukan inklusif yang bisa atau boleh diakses oleh siapapun.

Saya lebih memilih kata "pengembangan'' pada konsep syariah yang diterapkan di lembaga perbankan syariah Indonesia, karena rujukan hukum perbankan syariah di Indonesia tidak hanya dari  Al Quran, As sunnah dan atau fatwa/ijtihad ulama yang sudah diakui saja, tapi juga produk hukum positif yang berlaku di Indonesia yang mempunyai relevansi dengan usaha keuangan syariah, seperti UU No.7 /1992 tentang Perbankan atau juga UU No.21/2008 tentang Perbankan Syariah dan lainnya.

Dari "pengembangan" rujukan hukum dan "pengembangan-pengembangan" lainya, dinilai beberapa kalangan menjadi celah bagi masuknya "praktek-praktek" tidak syar'i pada lembaga perbankan syariah di Indonesia. Salah satu bukti kecurigaan masyarakat adalah muncul dan berkembangnya istilah "pelacur berjilbab"  untuk mengkonotasikan institusi bank syariah.
 

Jilbab salah satu tanda keimanan bagi wanita muslim | infobusanamuslim

Istilah konotatif "pelacur berjilbab" ini bisa dimaknai sebagai gambaran anomalis dari sebuah konsep atau tatanan umum yang berlaku dan dipahami oleh masyarakat. Kenapa anomali? Kata Pelacur adalah sebuah profesi yang berkonotasi buruk/haram, sedangkan berjilbab adalah sebuah bentuk gambaran yang menunjukkan ketaatan dalam konteks syar'i.  Pelacur kok berjilbab!

Dalam konteks hubungannya dengan institusi perbankan syariah, istilah "pelacur berjilbab" secara lugas dipahami sebagai gambaran ironi praktik perbankan syariah di Indonesia yang dianggap bergeser jauh dari fiqih muamalah, kata pelacur untuk analogi praktik ribawi bank dan berjilbab untuk analogi syariah. 

Pada praktiknya bank syariah dianggap menjalankan syariah hanya di awal, pada saat akad saja. Selanjutnya bank syariah dinilai masih menjalankan praktik ribawi mirip pola kraktik bank konvensional (khususnya untuk produk pinjaman/kredit), sehingga banyak kalangan yang mempertanyakan dimana letak syariahnya?

Kehadiran perbankan syariah di Indonesia, di satu sisi merupakan angin segar bagi masyarakat Indonesia, terutama yang menginginkan adanya konsep "berkah" didalamnya, tapi di sisi lain juga berpotensi menjadi ancaman serius bagi eksistensi perbankan konvensional. Buktinya, hampir semua bank umum konvensional yang sudah mapan, beramai-ramai membuka unit syariah secara massive di Indonesia. 

Keberadaan unit syariah dari bank-bank umum konvensional ini juga dinilai berbagai kalangan turut "mengaburkan" konsep syariah dari perbankan syariah di Indonesia. Bagaimana dengan struktur modalnya? Darimana sumber modalnya? Bagaimana dengan split atau pemisahan koneksitas jalur kebijakan strategis diatara keduanya? Masyarakat masih bertanya-tanya.

Hati-hati menyikapi prasangka! | neverblast.com

Sementara di lapangan, benturan dan pertarungan bebas antara perbankan konvensional dan perbankan syariah tidak terelakkan lagi! Secara logika, bagaimana mungkin bagi bank-bank besar yang menguasai marketshare dan memaksakan diri berdiri pada dua kaki yang berpijak pada prinsip dan konsep yang saling bertentangan bisa berjalan beriringan? 

Disinilah yang dikhawatirkan akan memunculkan berbagai bentuk kompromi tidak sehat, yang bisa menyeret sekaligus mengaburkan konsep syariah yang sedang dikembangkan di Indonesia dan dengan pola sistematik juga tidak menutup kemungkinan untuk terjadinya proses pelemahan daya saing perbankan syariah dari dalam! 

Toh meskipun Bank Syariah yang menjadi unit usaha dikatakan sudah terpisah dari induk secara manajerial, tapi tetap saja posisinya sebagai anak usaha! Dimana-mana yang namanya anak pasti harus nurut sama bapaknya.....

Fakta dilapangan, istilah konotatif  "pelacur berjilbab" dijadikan kompetitor sebagai salah satu barrier to entry yang efektif untuk menahan laju infiltrasi proses marketing perbangkan syariah di masyarakat yang otomatis akan ikut berperan menahan laju proses sosialisasi perbankan syariah secara umum. 

Maka tidak heran jika sampai sekarang marketshare  perbankan syariah di negeri yang mayoritas penduduknya beragama Islam ini belum sampai 5%. Ironis bukan? Disisi lain, berkembangnya Istilah konotatif  "pelacur berjilbab" tentu semakin membuat bingung masyarakat, karena menjadi kontradiktif dengan citra persepsi yang terbangun di awal sebagai lembaga keuangan yang berazaskan agama (Islam) yang seharusnya rahmatan lil alamin!?

Muncul dan berkembangnya istilah konotatif  "pelacur berjilbab" di masyarakat, setidaknya memberikan 2 (dua) pesan penting bagi institusi perbankan syariah, yaitu

1. Sesegera mungkin melakukan introspeksi dan membenahi semua perangkat usahanya yang sudah terlanjur berlabel "syariah" agar benar-benar menerapkan konsep syariah secara utuh.

2. Bank syariah tidak sendirian menikmati kue di pasar perbankan Indonesia. Mereka berhadapan dengan raksasa-raksasa perbankan yang sudah eksis selama puluhan bahkan ratusan tahun.

Memang tidak ada gading yang tak retak, tidak ada yang sempurna di dunia ini! Mengutip pernyataan Deputi Direktur Pengembangan Produk dan Edukasi Departemen Perbankan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (PPE DPbS OJK) Dr. Setiawan Budi Utomo, “Tidak ada bank syariah yang seratus persen syariah. Sama halnya saya katakan bahwa tidak ada dosanya manusia itu. Artinya kesalahan itu pasti ada”.

Dalam kerangka "proses",  pernyataan Dr. Setiawan Budi Utomo masih bisa diterima. Dengan catatan, upaya perbaikan dan penyempurnaan prinsip syariah secara total dan berkesinambungan untuk menuju konsep falah benar-benar bisa terwujud, sekaligus memberi manfaat bagi perbaikan struktur ekonomi masyarakat, karena penyematan label "syariah" urusannya dunia akhirat jadi tidak bisa sekedar wacana apalagi sekedar tempelan untuk tujuan marketing semata. 

Untuk itulah, berangkat dari semua fakta riil dilapangan diharapkan kedepan semua pihak yang berkepentingan dengan lembaga keuangan syariah, khususnya perbankan syariah harus bekerja keras untuk berkonsolidasi sekaligus menyamakan persepsi baik diantara lembaga keuangan syariah sendiri, dengan pemerintah sebagai regulator, MUI sebagai organisasi representasi ke Islaman di Indonesia,  maupun dengan masyarakat sebagai obyek pasar sekaligus obyek dakwah. 

Konsep "Logika Terbalik" untuk Mengembangkan "Konsep Perbankan Syariah" di Indonesia

Konsep logika terbalik ini mengacu pada pola dan strategi Rasulullah dan Para Wali songo dalam menyebarkan agama Islam  di wilayah dakwah masing-masing. Saya memilih istilah logika terbalik, karena menurut saya strategi dakwah atau penyebaran Islam oleh Rasulullah dan Walisongo memang berbanding terbalik dengan konsep sosialisasi/penyebaran Bank Syariah di Indonesia yang saya analogikan sebagai proses dakwah untuk menyebarkan sistem ekonomi keuangan syariah

Saya sangat tertarik dengan keyword dari kisah-kisah inspiratif beliau-beliau  yang mungkin bisa diterapkan dalam upaya penetrasi dan sosialisasi perbankan syariah di Indonesia.

Ilustrasi pasar Madinah era Rasulullah | Zill Qayyim
Sebagai ilustrasi, berikut saya ceritakan kisah inspiratifnya secara singkat :

Di sudut pasar Madinah Al-Munawarah seorang pengemis Yahudi buta, hari  demi hari apabila ada orang yang mendekatinya ia selalu berkata "Wahai saudaraku jangan dekati Muhammad, dia itu orang gila, dia itu pembohong, dia itu tukang sihir, apabila kalian mendekatinya kalian akan dipengaruhinya".

Setiap pagi Rasulullah SAW mendatanginya dengan membawa makanan, dan tanpa berkata sepatah kata pun Rasulullah SAW menyuapi makanan yang dibawanya dengan lemah lembut penuh kasih sayang kepada pengemis itu walaupun pengemis itu selalu berpesan agar tidak mendekati orang yang bernama Muhammad. Rasulullah SAW  melakukannya setiap hari hingga menjelang Beliau SAW wafat.

Setelah Rasulullah wafat, tidak ada lagi orang yang membawakan makanan setiap pagi kepada pengemis Yahudi buta itu. Suatu hari Abu Bakar r.a berkunjung ke rumah anaknya Aisyah r.ha. Beliau bertanya kepada anaknya, "anakku adakah sunnah  kekasihku yang belum aku kerjakan", Aisyah r.ha menjawab pertanyaan ayahnya, "Wahai ayahanda engkau adalah seorang ahli sunnah hampir tidak ada satu sunnah pun yang belum ayahanda lakukan kecuali satu sunnah saja".

"Apakah Itu?", tanya Abu Bakar r.a.

Setiap pagi Rasulullah SAW selalu pergi ke ujung pasar dengan membawakan makanan untuk seorang pengemis Yahudi buta yang berada di sana", kata Aisyah r.ha.

Keesokan harinya Abu Bakar r.a. pergi ke pasar dengan membawa makanan untuk diberikannya kepada pengemis itu. Abu Bakar r.a mendatangi pengemis itu dan memberikan makanan itu kepada nya. Ketika Abu Bakar r.a. mulai menyuapinya, si pengemis marah sambil berteriak, "siapakah kamu ?".

Abu Bakar r.a menjawab, "aku orang yang biasa".

"Bukan !, engkau bukan orang yang biasa mendatangiku", jawab si pengemis buta itu.

"Apabila ia datang kepadaku tidak susah tangan ini memegang dan tidak susah mulut ini mengunyah. Orang yang biasa mendatangiku itu selalu menyuapiku, tapi terlebih dahulu dihaluskannya makanan tersebut", pengemis itu melanjutkan perkataannya.

Abu Bakar r.a. tidak dapat menahan air matanya, ia menangis sambil berkata kepada pengemis itu, "aku memang bukan orang yang biasa datang pada mu, aku adalah salah seorang dari sahabatnya, orang yang mulia itu telah tiada lagi. Ia adalah Muhammad Rasulullah SAW".

Setelah pengemis itu mendengar cerita Abu Bakar r.a. ia pun menangis dan kemudian berkata, "benarkah demikian? Selama ini aku selalu menghinanya, memfitnahnya, ia tidak pernah memarahiku sedikitpun, ia mendatangiku dengan membawa makanan setiap pagi, ia begitu mulia...." Pengemis Yahudi buta tersebut akhirnya bersyahadat dihadapan Abu Bakar r.a.

Selain kisah diatas, kisah konseptual penuh hikmah para Sunan yang tergabung dalam Walisongo saat menyebarkan ilmu tauhid di Pulau Jawa juga sangat layak untuk diapresiasi. Metode "gerakan dakwah" para sunan dinilai sangat visioner. 

Mereka dinilai sudah menerapkan aspek manajerial dalam menyebarkan ajaran Islam, khususnya manajemen organisasi dan manajemen strategi yang dikelola secara konsisten, solid, rasional, sistematis, harmonis dan kontinyu sehingga proses dakwah menjadi relatif lebih efektif dan efisien.

Diantara strategi dakwah Walisongo yang paling jitu dan terkenal adalah ide Sunan Kalijogo atau Raden Said yang menjadikan seni dan budaya sebagai media dakwah dengan cara memasukkan filosofi, simbol dan ungkapan tauhid dalam beberapa unsur budaya Jawa, seperti seni ukir, wayang, gamelan, dan seni tetembangan suluk. 

Kata "suluk" yang dikenal dalam seni wayang tradisonal Jawa berasal dari terminologi Al-Qur'an, Fasluki, dalam Surat An-Nahl [16] ayat 69, Fasluki subula rabbiki zululan, yang artinya ...Dan tempuhlah jalan Rabb-mu yang telah dimudahkan (bagimu). Suluk secara harfiah berarti menempuh (jalan). Dalam kaitannya dengan agama Islam dan sufisme, kata suluk berarti menempuh jalan (spiritual) untuk menuju Allah. 

Tembang suluk gubahan Sunan Kalijogo yang populer adalah Ilir-ilir dan Gundul-gundul Pacul. Selain itui beliau juga menggagas baju takwa yang mengadopsi dari surjan, baju khas pria dari Jawa Tengah, perayaan sekatenan, gerebeg maulud, serta lakon carangan/karangan Layang Kalimasada dan Petruk Dadi Ratu. 

Pandawa Lima jadi perlambang dari Lima rukun Islam | sutrasurga

Dari kisah dakwah inspiratif sekaligus inovatif Rasulullah dan Walisongo diatas, saya mendapatkan 2 (dua) keyword atau kata kunci yaitu, (keutamaan) akhlak dan strategi (pendekatan budaya). 

Menariknya, dengan ke-2 keyword itu baik Rasulullah maupun Walisongo sepertinya tidak perlu lagi menambahkan istilah atau embel-embel yang memberikan kesan Islami secara eksplisit, sehingga si Yahudi Buta dan masyarakat Jawa lebih fokus pada materi yang menjadi inti dari dakwah yang secara tidak langsung di ajarkan kepada mereka. 

Coba kalau dibalik! Misalkan Rasulullah sebelum menyuapi si Buta mengatakan aku Muhammad atau aku orang Islam, tentu si buta pasti langsung menolak dari awal. Begitu juga seandaianya Sunan Kalijogo memberi judul karya seni wayangnya dengan judul " Intisari Bacaan Kalimat Syahadat"  atau istilah suluk diganti dengan Fasluki subula rabbiki zululan atau bisa juga seandainya judul tembang suluk  "Gundul gundul Pacul" yang sarat makna filosofis diganti menjadi "Jalan Islami mengemban amanah" misalkan, bisa jadi kisahnya akan lain. 

Disinilah saya melihat adanya penerapan strategi yang cerdas! Rasulullah dan Sunan Kalijogo jeli membaca situasi dan kondisi medan dakwahnya. Beliau berdua paham benar kapan saatnya secara eksplisit menyatakan inilah konsep syariah atau Islami seperti yang dituntunkan dalam Aquran dan As Sunnah!

Dalam konteks perbankan Syariah, 2 (dua) keyword atau kata kunci yaitu, (keutamaan) akhlak dan strategi (pendekatan budaya) diatas, menurut saya juga bisa dijadikan keyword bagi sosialisasi perbankan syariah ke masyarakat Indonesia.

Tentang keutamaan akhlak, aplikasinya tentu dengan menerapkan konsep syariah secara utuh dan bulat, bukan 1/4, 1/2 atau 3/4 saja, tapi secara utuh bulat atau orang Jawa mengatakan bunder ser! Lantas kalau ada pertentangan dengan hukum positif gimana? 

Karena dari awal konsep perbankan syariah mengikrarkan diri menerapkan konsep syariah (Islam) sebagai rujukan, otomatis semua harus dikembalikan ke sumber hukum asalnya Al  Quran dan As sunah (hadist)  dan atau Ijmak, Qiyas, Ijtihad, Istihsan, Urf, Istishhab. 

Dengan menerapkan hukum syariah secara total, adalah jaminan bagi keadilan, keseimbangan dan kemaslahatan seperti 3 (tiga) pilar ekonomi syariah yang diterapkan di Indonesia. Apabila keadilan, keseimbangan dan kemaslahatan benar-benar sudah menjadi dasar dari pola perbankan syariah di Indonesia, Insha Allah tanpa embel-embel kata syariah sekalipun sistem perbankan gaya baru dari ilmu tua yang bertuah ini pasti dicari orang! Sehingga dengan sendirinya istilah analogi pelacur berjilbab  tidak akan pernah ada atau paling tidak kedepan tidak akan menggema lagi....

Sedangkan strategi (pendekatan budaya), lebih kearah pendekatan logika humanis dan harus disesuaikan dengan situasi dan kondisi daerah sosialisasi, jadi tidak text book seperti cara Walisongo. Logika humanis ini perlu dipakai untuk mengeliminir kesan eksklusif dan kemungkinan adanya gesekan, terutama di daerah yang mayoritas penduduknya mempunyai resistensi terhadap kata Islam, walaupun terkadang konsep Islami justeru menjadi bagian dari kehidupan mereka sehari-hari. 

Misalkan, pemaparan konsep perbankan syariah dilakukan dengan konsep simulasi humanis yang mempertemukan bentuk keadilan, keseimbangan dan kemaslahatan  dalam kasus-kasus kehidupan sehari-hari agar lebih sederhana dan mudah dipahami. Dengan strategi ini, proses sosialisasi sistem perbankan syariah tidak hanya tersegmentasi pada kalangan, waktu dan tempat yang terbatas. Jadi bisa lebih terbuka dan inklusif!

Mengenai strategi normatif yang sudah berjalan, seperti melalui jalur komunitas dan aktifitas Islami tidak masalah untuk terus dilanjutkan, anggap saja kita bergerak dengan multitalent dan multisegment yang sudah pasti memerlukan multistrategy. Toh nanti juga kelihatan konsep mana yang paling efektif.

Konklusi Solusif

Berhadapan dengan berbagai pilihan produk perbankan (terutama produk pinjaman/kredit) dari berbagai bank penerbit, memang bukan perkara mudah untuk memutuskan pilihan yang paling tepat. Sering muncul rasa gamang atau bingung untuk memilih yang terbaik sebagai partner menuju kesuksesan dunia dan akhirat. Begitu banya variabel yang harus dijadikan sebagai bahan pertimbangan.

Analisa SWOT | bisnisrumahanpemula.com

Untuk urusan yang satu ini, saya punya pengalaman yang mungkin juga bisa dijadikan referensi atau bahan pertimbangan oleh siapa saja. Setelah mengkaji dari berbagai teori tentang produk perbankan baik dari sisi keuangan maupun agama dan berdiskusi dengan orang-orang yang menurut saya berkompeten dengan dunia perbankan, manajerial dan ilmu syariah/ke-Islaman, akhirnya setiap berhadapan dengan berbagai pilihan yang membingungkan saya memilih menggunakan metode SWOT, yaitu sebuah metode analisa perencanaan strategis sederhana dengan cara mengevaluasi kekuatan/kelebihan (strenght), kelemahan/kekurangan (weaknesses), peluang/kesempatan/kemungkinan (opportunities) dan ancaman/bahaya/mudharat (threats) dari masing-masing pilihan. dari sini nanti saya bisa mendapatkan point karakter dari masing-masing pilihan yang membingungkan tersebut sehingga akhirnya saya bisa menentukan pilihan terbaik yang paling sesuai dengan keinginan atau harapan saya. 

Contoh analisa SWOT | ilmukelast

Menurut saya metode analisa SWOT ini selaras dengan prinsip dalam konsep fiqh Islam ketika kita berada dalam posisi kebingungan untuk memilih sebuah pilihan, yaitu “WADHIDDUHU TAZAKUMUL MAFASIDDI FARTAKIBUL ADNA MINAL MAFASIDI” yang artinya (adapun lawannya) jika bertabrakan antara mudharat satu dengan yang lainya maka diambil mudharat yang paling kecil dan ringan. 

Hal ini disumberkan dari dalil Al Quran, Surat  Al-Baqarah : 173 “Maka barang siapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Tabungan Haji Bank Muamalat | @kaekaha

Dimana seseorang tidak mampu meningalkan dua mudharat dan mafsadah (bahaya) secara bersamaan yang dia mampu adalah meninggalkan yang satu tetapi tidak bisa lepas dari bahaya yang lainnya, maka jika menghadapi kondisi yang demikian itu: dia harus memilih bahaya yang lebih kecil dan ringan untuk mencegah bahaya dan mafsadah yang lebih besar.

Dalam aplikasinya, ketika memilih partner perbankan untuk menuju kesuksesan dunia dan akhirat, bisa dipetakan dengan model analisa SWOT seperti contoh diatas. Kalau parameternya hanya sukses di dunia mungkin relatif mudah, tapi kalau ada tambahan sukses di akhirat rasanya hanya memberikan satu pilihan tersisa, yaitu perbankan syariah.
Bank Syariah dan Bank Konvensional | bankmuamalahcilegon.com


Memang perbankan syariah di Indonesia masih belum bisa menerapkan konsep syariah secara utuh dan murni, itu adalah realitas yang tidak bisa kita pungkiri. tapi dari sisi ancaman/bahaya/mudharat (threats)-nya paling kecil diantara yang lain. Apalagi bila wacana proses perbaikan terus dilakukan oleh pihak-pihak yang berwenang. Terlebih lagi, kabarnya sekarang perbankan syariah sudah sama bagusnya, sama lengkapnya dan sama modern-nya dengan bank konvensional.

Bagaimana tertarik ikut mencoba?  Silahkan, semoga memberi manfaat di dunia dan akhirat. Amin.

Kampanye Perbankan Syariah (Grafis : kompasiana-OJK)


Artikael juga diposting di Kompasiana pada 8 Mei 2016   02:20 dan penjadi pemenang dalam lomba blog yang adakan oleh OJK bekerja sama dengan Kompasiana berhadiah uang tunai 2,5 jt

Sabtu, 20 Juni 2020

[Inspirasi Bocah] Bersahabat dengan BMX Firebird, Beraksi ala Freestyler dan Kisah "Mbengkel" ala Mereka!


Freestyle ala Rabbani | @kaekaha
Waktu berlalu begitu cepat, seperti berlari saja!. Event blogcompetition tentang "sepeda" yang dihelat Kompasiana dengan pabrikan sepeda Wimcycle seperti menyadarkan saya dari lamunan panjang!

Betapa tidak, Si Sulung Raihan sebentar lagi naik ke kelas 2 (dua) SMP, padahal sepertinya baru kemarin saya belikan dia sepeda Wimcycle tipe BMX (kalau tidak salah serial firebird) ukuran 20", tapi betapa terkejutnya saya ketika si Raihan mengatakan kalau sepeda itu dibelikan ketika dia masuk SD, bukan kemarin seperti yang saya rasaka.

Artinya hampir 7 (tujuh) tahun sudah sepeda WimcycleBMX firebird itu menjadi bagian dari keluarga kami, tidak hanya menjadi tunggangan si Raihan ke sekolah, warung, les, mengantar pesanan kue saja, tapi juga menjadi sumber inspirasi sekaligus obyek eksplorasi imajinasi anak-anak saya si Raihan dan Rabbani.

Saat itu, alasan saya membelikan si Raihan sepeda Wimcycle tipe BMX firebird ukuran 20" adalah,

1. Model sepeda BMX tidak akan pernah ketinggalan jaman. Jadi bisa dipakai sampai kapanpun  dan oleh siapapun, termasuk saya kalau perlu.2. Si-Raihan sudah terlanjur Wimcylce minded khususnya untuk semua tipe BMX. Mungkin, karena hampir semua teman-teman bermainnya di komplek juga memakai sepeda BMX produk Wimcycle, berbagai ukuran dan berbagai tipe. Termasuk sepupunya yang memulai memakai sepedaBMX tipe firebird.

Sistem rem detangler | Park Tool

Kebetulan,  saya yang kurang begitu mengikuti perkembangan teknologi "persepedaan" terbaru, saat itu dibuat terheran-heran sekaligus kepincut oleh teknologi rem terbaru yang diaplikasikan pada sepeda tipe BMX firebird incaran si-Raihan,  yaitu  sistem rem setang putar (istilah ini saya dapatkan dari tukang bengkel langganan) dan setelah mencari di internet ternyata istilahnya yang tepat adalah sistem detangler, yaitu aplikasi rangkaian sistem pengereman yang memungkinkan setang dan roda depan bisa berputar 360 derajat tanpa harus khawatir terlilit oleh jalur kabel/tali rem. 

Bagi saya, teknologi sistem pengereman yang secara mekanika terlihat sederhana ini, tergolong sangat cerdas, kreatif dan inovatif. Sangat cocok dan mendukung style dan fungsi atraktif sepeda BMX produk Wimcylce.

Pada masa awal mempunyai sepeda Wimcycle tipe BMX firebird warna kuning tersebut si Raihan memang masih belum memakainya secara rutin tapi hanya sesekali saja, karena ukuran sepedanya yang 20" masih kebesaran. Memang saya sengaja membelikan ukuran yang besar, agar bisa dipakai lebih lama. Toh, sepeda kecil si Raihan yang lama masih baik dan masih layak dipakai.

Raihan dan penampakan si-kuning! sekitar 4 (empat) tahun yang lalu | @kaekaha
Setelah sekitar 1 (satu) tahun lebih banyak menganggur di garasi, akhirnya sepeda Wimcycle tipe BMX firebird warna kuning tersebut benar-benar mulai rutin dipakai si Raihan ketika mulai duduk di bangku kelas 2 SD. Ketika jangkauan kakinya mulai bisa menyentuh pijakan. Sejak saat itu bagi si Raihan, tiada hari tanpa si kuning julukan yang saya berikan untuk sepeda Wimcycle tipe BMX firebird warna kuning miliknya. 

Salah satu kesukaanya adalah bersepeda ala crosscountry di area tanah merah di bagian belakang komplek kami yang sebenarnya merupakan lahan persiapan untuk pembangunan perumahan. Kombinasi tanah urukan berkontur layaknya sirkuit yang dipadu dengan lahan basah berupa rawa lebak setengah kering benar-benar membawa imajinasi layaknya menaklukkan rute crosscountry yang menantang. 

Ternyata tidak hanya si Raihan dan si Rabbani saja yang menyukai sirkuit dadakan ini, karena berangsur-angsur kemudian banyak juga orang-orang dewasa, khususnya warga komplek yang ikut memainkan sepeda crosscountry beneran di tempat ini. Seru jadinya ....! Sayangnya sejak 2 (dua) tahun yang lalu sirkuit telah berganti menjadi barisan rumah-rumah beton permanen tinggi menjulang.

Seiring intensitas pemakaian yang semakin padat, sepertinya setelan sistem operasional rem detangler sepeda BMX si Raihan mulai ada yang bergeser, remnya mulai terasa kurang kosong dan kurang pakem. 

Dasar anak-anak, bersama adiknya si Rabbani mereka berusaha memperbaikinya sendiri. Akhirnya..... Bukanya menjadi labih baik, tapi justreru semakin kacau balau. Sampai disini baru mereka mengatakan tentang kondisi sepedanya yang tidak bisa berjalan. Setelah saya cek, benar saja! Setelan tarikan kawat rem belakang sepertinya terlalu kecang, sehingga bantalan karet rem mengunci roda belakang.

Raihan dan penampakan si-kuning! | @kaekaha

Disinilah, awal mula kebigungan saya pada sistem operasional rem detangler. Setelah saya coba setel sana-sini, tarik kawat rem sana-sini ternyata tidak bisa juga saya mengembalikan seperti setelan awal bawaan dari pabrik. Karena sudah mentok, akhirnya mau tidak mau saya bawa sepeda si Raihan kebengkel sepeda langganan di dekat rumah. Surprise! Ternyata tukang bengkel sepeda langganan saya juga kesulitan menyetel rem yang sekilas terlihat sederhana tersebut.

Setelah ber-jam-jam akhirnya menyerah juga si paman menghadapi teknologi baru yang menurut saya memang lumayan cerdas ini. Besoknya, dengan mengajak si Raihan dan Rabbani sepeda saya bawa ke toko tempat saya membeli, eh....disini tidak pakai lama rem sudah kembali normal kembali seperti semula. 

Beruntung si Rabbani yang memang suka mengutak-atik apa saja yang menarik perhatiannya, termasuk sepeda, ternyata memperhatikan dengan seksama bagaimana si mekanik toko menyetel rangkaian sistem pengereman canggih itu. Akhirnya, si Rabbani-lah yang bisa meperbaiki kalau muncul masalah pada rem detangler si kuning.

Rabbani sedang asyik beraktifitas sepulang dari sekolah | @kaekaha

Sepertinya, momentum seputar rem detangler sepeda Wimcycle tipe BMX firebird kuning inilah yang menjadi titik tolak bagi si Raihan dan Rabbani semakin percaya diri mengutak-atik sepeda. Sejak saat itu mereka semakin jauh dan berani mengeksplorasi semua sepeda “nganggur” yang ada dirumah secara otodidak. 

Tidak hanya yang ringan-ringan saja, yang semi beratpun mulai dicobanya, seperti membongkar roda, mengganti ban dalam atau ban luar, mengganti rantai bahkan memotong dan menyambung rantai pun mereka bisa.

Rabbani dan teman-teman sedang "mbengkel | @kaekaha

Eksplorasi mereka tidak berhenti disitu saja, mereka juga mulai berani memodifikasi sepedanya dengan berbagai gaya. mengganti roda dengan ukuran yang lebih kecil atau lebih basar, mengganti warna body dengan cara di cat semprot, bahkan beberapa kali saya perhatikan mengganti ukuran gear  dengan menggunakan peralatan bengkel seadanya milik saya. 

Khusus untuk mengganti warna body, si kuning juga tidak terlewatkan. Selama kurun waktu 2 (dua) tahun terakhir, seingat saya si firebird kuning sudah berganti rupa lebih dari 3 (tiga) kali, hitam, merah, coklat metalik dan biru. Sehingga julukan si kuning sudah tidak berlaku lagi sejak saat itu.

Bahkan rem detangler kebanggaan si kuning akhirnya juga masuk ranah eksplorasi mereka, sayangnya sekarang sudah mereka lepas karena gearbelakang mereka bikin turbo(istilah Bengkel Bersama Banjarmasin) dengan cara di las. Sehingga mereka tidak memerlukan rem lagi, karena bila injakan pedal tidak dikayuh maka speda akan berhenti dengan sendirinya.

Suasana Bengkel Bersama Banjarmasin milik bersama | @kaekaha
Berawal dari berita dari mulut ke mulut antar sesama kawan di komplek, bakat dan keahlian terpendam si Raihan dan Rabbani dalam "mengolah" sepeda"by custom" ala mereka mulai terkenal. Sejak saat itu, ruang garasi menjadi semacam base camp anak-anak komplek. Ada saja yang mereka lakukan, dari yang ringan-ringan seperti mengencangkan baut-baut, memompa ban dan menempel sticker. 

Untuk level sedang, seperti nyetel kekencangan rantai, nyetel rem, bongkar pasang ganti setang atau dudukan (sadel). Sedangkan untuk level berat seperti ganti rangkaian tali/kawat rem, ganti ukuran roda, ganti ban dalam/luar, ganti gear bahkan ada juga yang minta ganti warna cat body. Semua gratis...tis...tis! Karena bahan-bahan yang diperlukan biasanya teman-teman si Raihan dan Rabbani membawa sendiri dari rumah.

Raihan dan teman-temannya sedang asyik bermain sepeda | @kaekaha

Memang ada beberapa tetangga dan orangtua  yang memaksa memberikan ongkos setiap minta tolong perbaikan sepeda, saya anggap itu rejeki yang harus diterima sebagai penghargaan dan pengakuan terhadap kemampuan dan jerih payah si Raihan dan Rabbani. Biasanya, uang yang mereka dapatkan dipakai untuk membeli peralatan, onderdil atau sekedar aksesoris sepeda terbaru yang lagi tren, tapi tidak jarang juga dibelikan jajan dan dimakan bersama dengan teman-temannya.

Jujur! Awalnya saya sempat tidak percaya dengan apa yang telah dilakukan oleh anak-anak saya. Kebisaan terpendam yang mereka miliki sama sekali tidak pernah masuk dalam radar perhatian saya, sampai saya melihat dengan mata kepala sendiri ketika mereka berdua bisa membongkar dan memasang sendiri roda ban belakang sepeda motor bebek saya yang kebetulan harus ganti ban dalam dan luar karena sobek akibat sudah terlalu tipis, sedangkan untuk membawa ke bengkel lumayan jauh.
Raihan dan Rabbani dengan sepeda masing-masing | @kaekaha
Sejak saat itu, demi melihat minat, bakat dan antusias positif mereka pada dunia sepeda, khususnya perbengkelan. Saya tidak keberatan untuk mendukung hobi mereka dengan membelikan seperangkat alat-alat bengkel (toolshet) ketika mereka merengek-rengek memintanya. 

Apalagi, ketika saya mendengar bahwa anak-anak ingusan ini resmi memberi nama bengkel mereka “Bengkel Bersama Banjarmasin” disingkat B3 tapi dibaca "B" saja. Entah apa yang ada di alam pikiran mereka dengan “Bengkel Bersama” itu!? Saya benar-benar terharu mengikuti perjalanan kreatif mereka. Saya berpikir, aktifitas mereka sangat positif untuk memupuk kreatifitas, semangat untuk maju, jiwa sosial untuk berbagi dan mental pantang menyerah dengan prinsip kerja keras dan cerdas.

Hanya saja, tetap saya tegaskan kepada si Raihan dan Rabbani termasuk semua teman-teman mereka yang sudah saya anggap seperti anak sendiri, bahwa aktifitas positif mereka mbengkel di garasi saya tidak boleh mengganggu aktifitas pokok mereka untuk belajar. Sekolah tetap harus nomor satu.

Dari waktu kewaktu, tidak hanya anak-anak komplek saja yang suka berkumpul seusai pulang sekolah. Teman-teman sekolah mereka juga banyak yang mulai bergabung, kebetulan diatas garasi atau di lantai dua yang sengaja saya manfaatkan untuk perpustakaan untuk menyimpan berbagai koleksi buku dan majalah menjadikan mereka semakin betah untuk berlama-lama. Mereka seperti mendapatkan rumah baru yang cocok untuk menggali banyak hal baru.

Atraksi freestyle Rabbani | @kaekaha
Ada satu hal menarik setiap mereka berkumpul di garasi rumah saya. Disaat ada yang sedang membongkar pasang sepeda atau baca-baca buku cerita, ada beberapa diantara mereka yang mencoba berlatih freesyle dengan menggunakan sepeda masing-masing. Entah siapa yang memulai dan darimana mereka mengenal istilah sekaligus atraksi freestyler itu, yang jelas dari sinilah, awal mula si Raihan dan Rabbani ikut-ikutan bisa memainkan beberapa gaya freestyle dengan menggunakan sepeda BMX yang membuat saya terkesima dan geleng-geleng kepala. ...and show must go on!

 


 ###

Saya dedikasikan doa dalam tulisan ini untuk 4 (empat) Jagoan saya, Muhammad Raihan Akbar, Muhammad Rabbani Al-Ghazali,  Muhammad Razzaq Abu Bakar, Muhammad Ramadhan Al Hilal Abrar dan semua anak-anakku yang tergabung dalam bengkel impian, “Bengkel Bersama Banjarmasin”. Belajar yang rajin ya….!



Selamat berkreatifitas anak-anakku! Semoga langkah-langkah kecil kalian bersama “Bengkel Bersama Banjarmasin” akan membawa kalian semua kepada langkah-langkah besar yang akan mewarnai dunia!"



Tulisan juga diposting di Kompasiana pada 23 Maret 2016   07:37 Diperbarui: 23 Maret 2016   19:17

Artikel ini menjadi pemenang utama lomba blog WimCycle Sepeda Terbaikku kerjasama Kompasiana dengan WIMCYCLE berhadiah sepeda keren. Link pengumuman pemenang bisa diklik disini

 





Selasa, 16 Juni 2020

Inspirasi Cantik dari Bandara Kalimarau dan SAMS Sepinggan


Bandara Kalimarau, 

Tanjung Redeb, Berau

Beberapa hari yang lalu penulis dan beberapa anggota rombongan event DATSUN RISERS EXPEDITION 3 KALIMANTAN, ETAPE I SAMARINDA-TANJUNG REDEB yang berasal dari beberapa Kota di Indonesia, sempat dibuat melongo oleh penampilan Bandara Kalimarau, bandara yang berada hampir di ujung pulau Kalimantan, tepatnya di Kota Tanjung Redeb, Kabupaten Berau Kalimantan Timur.
Kami sama sekali tidak menyangka jika di Kota kecil seperti Tanjung Redeb yang relatif kurang dikenal oleh masyarakat Indonesia karena minim publikasi dan lokasinya yang juga relatif jauh dari pusat pemerintahan atau simpul-simpul perekonomian pulau Kalimantan seperti Balikpapan, Samarinda apalagi Banjarmasin bisa mempunyai bandara berkelas internasional dengan tampilan keseluruhan areanya yang begitu megah, artistik dan sangat mempesona.



Decak kagum saya dan rekan-rekan yang berasal dari berbagai Kota di Indonesia seperti tidak terbendung. Mau tidak mau, suka tidak suka logika linier penulis langsung berlari ke kampung halaman di Banjarmasin untuk membuka memori tentang Bandara Syamsoedin Noor satu-satunya bandara terbesar di Kalimantan Selatan  yang seminggu lalu saya tinggalkan. Kenapa bandara Syamsoedin Noor, bandara kebanggan kita, masyarakat Kalimantan Selatan seperti tertinggal beberapa dekade?



Memasuki areal Bandara Kalimarau, dari pintu masuk kita sudah disuguhi tampilan futuristik bangunan-bangunan kecil berjajar rapi loket parkir dengan atap berkonsep tenda seperti ruang tunggu kedatangan Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, KSA yang terlihat bersih dan terjaga, walaupun proses ticketing parkirnya masih manual. Jalam menuju pallet parking yang kami lalui sepanjang kurang lebih 100 meter dilapisi aspal masak (hotmix) yang sangat mulus dan bersih.



Disebelah kiri-kanan jalan terdapat taman-taman minimalis hanya ditanami rumput hijau segar dengan kombinasi berbagai tanaman berkayu keras dengan jarak tanam yang sangat rapi dan teratur penataanya, memberikan kesan segar, minimalis, simple, rapi dan teratur sangat sedap dipandang mata. 

Setelah saya perhatikan, selain berfungsi sebagai area penghijauan kawasan bandara, ternyata ruas taman-taman ini juga berfungsi sebagai area pembatas fungsi lahan di halaman depan bandara Kalimarau, seperti area parkir kendaraan roda 4 dan kendaraan roda 2. Diantara badan jalan yang kami lalui dengan taman dibatasi oleh siring yang terbuat dari semen cor dengan tinggi sekitar 20 cm yang dicat hitam putih layaknya zebra cross, semakin menambah cantik penampilan muka Bandara Kalimarau.



Dari area parkir yang begitu luas, bersih (penulis tidak menemukan sampah sama sekali, bahkan sehelai daun sekalipun) dan tampak asri, keindahan dan kemegahan arsitektur Bandara Kalimarau sangat jelas terlihat. Sekilas arsitekturnya mirip dengan Bandara Sultan Hasanudin Makasar. Identitas tulisan Bandara Kalimarau yang begitu besar dan mentereng terlihat mencolok, mendominasi view tampak depan bangunan bandara seolah-olah memberi pesan please, look at me...!  



 Memasuki area bandara, dimulai dari lorong teras sepanjang kurang lebih 300-an meter, sekali lagi kami dibuat terkagum-kagum dengan kebersihan dan kerapian bandara yang satu ini, seolah-olah tidak sedang berada di Indonesia. 

Begitu pula ketika memasuki ruang check-in bandara yang banyak dihiasi ornamen seni ukir khas suku dayak dan ornamen laut yang didominasi oleh relief diorama kehidupan kura-kura, seolah-olah memberi pesan sekaligus mengingatkan semua orang yang akan meninggalkan Kota Tanjung Redeb pada keindahan budaya dayak dan sajian alam Kepulauan Derawan, habitat penyu hijau yang sudah sangat langka. 



Sejauh mata memandang, meskipun ruangan ini terdapat banyak atribut berupa x banner, spanduk dan papan peringatan baik dari pemerintah maupun maskapai penerbangan, tapi penataan yang cermat dan rapi benar-benar menjadikan Bandara Kalimarau sebagai destinasi wisata tersendiri bagi kami.
 
Naik ke lantai 2, di sepanjang lorong menuju ke ruang tunggu berjejer lengkap berbagai fasilitas bandara. Ada area bermain anak-anak, cafe, musholla, toilet dan ini yang menarik, ruang menyusui. Seperti area bandara Kalimarau lainnya, lantai 2 menuju ruang tunggu keberangkatan juga terlihat rapi dan bersih.



Memasuki ruang tunggu keberangkatan yang sangat luas dengan dinding kaca terang ke arah luar memberikan para calon penumpang akses pemandangan lingkungan sekitar bandara berupa hutan yang masih hijau dan segar. 

Didalam ruang tunggu keberangkatan, sekali lagi kami disuguhi desain tata ruang yang ciamik! hiasan-hiasan seperti di ruang check-in berupa  ornamen seni ukir khas suku dayak dan ornamen laut yang didominasi oleh relief diorama kehidupan kura-kura juga terpajang di sini, menambah suasana ruang tunggu  keberangkatan menjadi lebih hidup dan menarik.



Selain itu ada lagi yang menarik untuk diamati, yaitu keberadaan tempat sampah dengan peruntukan yang tertulis jelas pada masing-masing wadahnya dan penataan kursi ruang tunggu yang diatur secara zig zag terlihat artistik dan memberi nuansa berbeda. Terima kasih Kalimarau, untuk pengalaman indahnya...!







Bandara 

Sultan Aji Muhammad Sulaiman, 

Sepinggan Balikpapan





Disebutkan dalam rilis, Harian Banjarmasin Post tanggal 27 Januari 2016, Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman, Sepinggan Balikpapan masuk dalam urutan 16 besar Bandara Internasional terbaik versi Airport Council International (ACI). 

Catatan prestasi ini merupakan sebuah pencapaian yang luar biasa untuk Bandara di Indonesia, apalagi bagi bandara di luar pulau Jawa. Tapi kalau melihat sosok penampilan Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman, Sepinggan Balikpapan pencapaian prestasi masuk dalam 16 besar bandara terbaik dunia merupakan hal yang wajar, mengingat berbagai inovasi layanan dan fasilitas yang disediakan oleh pengelola memang benar-benar lengkap dan bermanfaat. Sebut saja layanan inovatif berupa area bermain untuk anak-anak.




Totalitas pengelola bandara yang tengah menggodok konsep eco airport ini dalam upayanya menjadikan Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman, Sepinggan Balikpapan sebagai pintu gerbang wisata dan budaya Kalimantan Timur juga patut diacungi empat jempol sekaligus! (Bisa.....?).



 Dari pintu masuk kedatangan, disepanjang lorong dan ruangan yang dilalui penumpang untuk check out maupun transit, kita disuguhi berbagai informasi menarik seputar budaya, sejarah, flora dan fauna serta ornamen artistik khas suku Dayak berupa wallpaper, baliho dan poster-poster cantik berukuran raksasa yang terpajang hampir di semua tempat-tempat strategis di lingkungan bandara, bahkan sampai di toilet-pun tidak ada space kosong yang lepas dari bahan-bahan promosi pariwisata dan kampanye penyelamatan satwa endemik Kalimantan Timur.



Tidak berhenti disitu saja, untuk mendukung kelestarian budaya daerah, pengelola Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman, Sepinggan juga menyediakan ruang untuk ekspresi budaya, yaitu mengadakan acara talent n' creativity berlokasi di terminal keberangkatan lantai 3 dan di gerbang kedatangan penumpang, setiap hari Sabtu dan Minggu pukul 12.00-18.00 WITA, berisi live show penampilan tarian dan musik tradisonal/modern. Ini yang menarik! Ini yang membedakan Bandara Sultan Aji Muhammad Sulaiman, Sepinggan Balikpapan dengan bandara-bandara lain di Indonesia, bahkan dunia.





Artikel ini juga tayang di Kompasiana pada tanggal 31 Januari 2016   02:09

"Than Must Soegenk", Sang Komendan....

 
Sugeng Siswoyudono alias "Than Must Soegenk" | Hello pet

From Zero to Hero!

Nama Sugeng Siswoyudono mungkin agak asing bagi telinga masyarakat Indonesia, tapi kalau Than Must Soegenk (dibaca : Den Mas Sugeng) laki-laki berambut panjang pembuat kaki palsu dari Mojokerto, mungkin sebagian besar diantara kita baru ngeh! 

Sugeng Siswoyudono adalah laki-laki berambut gondrong dengan logat Jawa timuran yang kental, kaki kanannya palsu dan pernah menjadi buah bibir masyarakat Indonesia setelah menjadi tamu acara Kick Andy  besutan Andy F Noya yang tayang medio April 2008 dengan tema, "Berbagi Dalam Keterbatasan". 

Karena banyaknya pemirsa yang termotivasi dan terinspirasi style Sugeng Siswoyudono dalam menyikapi kehidupannya yang timpang sebelah karena kaki kanannya yang harus diamputasi akibat kecelakaan di jalan raya pada tahun 1981, memaksa Andy F Noya dan tim kreatifnya kembali mengundang sang komendan, julukan dan panggilan Sugeng di kampungnya Kauman Gg. III/33 Mojosari-Mojokerto, untuk hadir di acara Kick Andy untuk kali kedua, di bulan yang sama yang akhirnya mengantarkannya bertemu dengan Menteri Negara Riset dan Teknologi (saat itu), Kusmayanto Kadiman yang akhirnya ikut tergerak dan terdorong untuk mengadakan gerakan 1000 kaki palsu untuk masyarakat yang membutuhkan, bekerja sama dengan bengkel produksi kaki palsu milik Sugeng yang diberi nama Than Must Soegenk Mirtha Production.

Papan nama di depan rumah/bengkel kerja Than Must Soegenk |  Media Pembelajaran Kami


Kenapa programnya harus 1000 kaki palsu? Memang, semua tidak lepas dari sosok Than Must Soegenk alias Sugeng Siswoyudono. Pria kelahiran Baturaja, Sumatera Selatan ini menjadi figur sentral sekaligus teladan bagi semua kalangan dalam memaknai sebuah kehidupan. Dengan kaki tinggal satu, tidak membuat Than Must Soegenk merasa minder dan frustasi, tapi justeru memberinya ide kreatif dan inspiratif untuk memproduksi produk "mainannya", kaki palsu!

Suasana bengkel kerja Than Must Soegenk Mirtha Production |  The Jakarta Post


Berawal dari kebiasaanya memperbaiki kaki palsunya yang sering gonta-ganti karena rusak, padahal harganya tidak murah. Akhirnya mengusik jiwa kreatif sugeng untuk berkreasi lebih jauh, yaitu membuat sendiri kaki palsu. Setelah merasa mampu, akhirnya sejak tahun 1995 Sugeng memberanikan diri membuka bengkel reparasi dan produksi prothesa kaki atau kaki palsu berbahan fiber dibawah bendera Than Must Soegenk Mirtha Production di rumah yang sekaligus menjadi bengkelnya tersebut.

Motivasi pedas dan nylekit ala Than Must Soegenk

Selain keahlian langkanya memproduksi prothesa kaki yang didapat secara otodidak, ada beberapa catatan tentang Sugeng Siswoyudono yang membuatnya cepat dikenal masyarakat luas, yaitu

Than Must Soegenk sedang memberikan penjelasan tentang kaki palsu buatannya |
 AntaraFOTO

1. Keahlian MEMOTIVASI orang tanpa si orang menyadari telah disuntik motivasi,

khususnya dalam memberi motivasi kepada semua "pasiennya" yang sebagian besar memang sedang dalam kondisi tertekan dan down akibat kehilangan kaki atau tangan karena berbagai sebab. Berbeda dengan sebagian besar dari kita yang lebih memilih untuk mengasihani dengan empati dan simpati yang cenderung dengan sikap dan ungkapan yang lemah lembut, Sugeng justeru sebaliknya! 

Dengan gaya bicara ceplas-ceplos yang selalu dibumbui dengan gaya berkelakar ala Jawa Timuran  plus logat Jawa Timurannya yang medok dan cenderung keras, dalam terapi mental yang biasanya dilakukan tanpa sengaja karena berlangsung secara alamiah saat sugeng dan pasiennya sedang ber-audiensi sepanjang proses pengukuran, pembuatan dan test produk.

Sugeng terlihat sama-sekali tidak memberi peluang "pasiennya" untuk merasa dikasihani, rendah, minder apalagi minta dikasihani, melalui sikap dan pilihan kosakata yang keluar dari mulutnya. 

Bahkan dengan beberapa kosakata khas Jawa Timuran yang bagi sebagian orang dimaknai sebagai kata yang kasar dan keras, ternyata justeru menjadi kata kunci untuk mengangkat kembali mental para pasiennya. 

Gambaran teknik motivasi ala Sugeng, sekilas bisa dilhat dalam iklan salah satu minuman energi terkenal yang dibintanginya bersama beberapa artis dan tokoh terkenal tersebut. Berikut ilustrasi singkatnya,

Ada seorang pria dengan satu kaki buntung terlihat murung. Lantas datang rekannya dan berteriak menasehati pria murung itu "Koen gak semangat?!  Yo goblok!" (Kamu tak bersemangat, ya goblok!).

Demikian ilustrasi adegan dalam iklan sebuah produk minuman energi yang melibatkan Sugeng Siswoyudono sang Komendan didalamnya. Pria yang datang menasehati itu, ternyata juga tak punya satu kaki seperti rekan yang dinasehatinya, dialah Sugeng Siswoyudono. Coba perhatikan pilihan kosa kota dalam iklan itu!

Cara dan teknik motivasi seperti diatas sudah menjadi trademark Sugeng Siswoyudono, menurutnya itu sebuah realitas. Teknik motivasi ini merupakan hasil kontemplasi yang dilaluinya sejak kaki kanannya di amputasi dan Alhamdulillah terbukti berhasil! 

Apa yang di lakukan Sugeng Siswoyudono, mengingatkan saya pada satu kalimat motivasi paling dahsyat yang pernah saya dengar dari seorang motivator terkenal Indonesia, Andri Wongso. "Kalau kita keras pada diri kita, maka dunia dan seisinya akan lunak kepada kita. Begitu juga sebaliknya!"

Than Must Soegenk sedang menjadi narasumber pada acara seminar |
rumahusaha.com
 
2. Konsep Usaha Than Must Soegenk Mirtha Production yang kental dengan jiwa sosial. 

Untuk "jiwa sosial" ini terlihat langsung dalam urusan "harga" dari berbagai prothesa yang diproduksinya. Baginya membuat kaki palsu yang telah dijalani sejak tahun 1995, bukanlah untuk bisnis, tapi dianggapnya main-mainan berhadiah. 

Betapa tidak, Sugeng tidak pernah mematok harga untuk kaki palsu yang dibuatnya. Sugeng hanya meminta uang seharga bahan baku yang telah dikeluarkannya, sedangkan untuk ganti ongkos kerja dan tetek bengek lainnya dia serahkan kepada pembelinya berapa besaran yang dia mampu. Wooooow....! 

Bahkan tidak jarang, Sugeng harus mengikhlaskan modal bahan yang telah dikeluarkan, begitu "pasien" yang datang ke bengkelnya ternyata benar-benar tidak mampu, bahkan itupun masih diberinya garansi untuk perbaikan plus memberinya ongkos untuk pulang.

3. Teknologi sederhana dan tepatguna.

Kaki palsu buatan Sugeng, terbuat dari kombinasi bahan fiber, spon dan kayu. Kaki itu bisa digerakkan 45 derajat hasil dari pengalaman, pengamatan dan belajar secara otodidak dari berbagai referensi.  

Prothesa kaki buatan bengkel Than Must Soegenk Mirtha Production, disebut-sebut lebih enteng, pas dan nyaman mendekati gerakan kaki seperti aslinya yang tentunya dengan harga yang relatif murah dari pada produksi pabrik yang kaku dan tentunya mahal. 

Bagi yang tetap ingin tampil modis dan gaul, kaki palsu ini bisa dipasangi stocking aneka rupa dan motif, bahkan juga bisa ditattoo segala. Detail desain prothesa kaki-nya bisa dipakai nyeker, pakai sandal atau sepatu.

Untuk menjaga eksistensi usaha sosialnya, sekarang Sugeng memiliki sebuah wadah/lembaga yang diberi nama Paguyuban Penyandang Cacat Jasmani dan Wirausaha (P2CJDW) yang bertempat di Kabupaten Mojokerto. Wadah ini diharapkan bisa menjadi ajang untuk bersilaturahmi dan berbagi motivasi dan semangat berwira usaha kepada sesama penyandang cacat di wilayah Mojokerto dan sekitarnya.


Katifitas Sugeng Siswoyudono | bliyanbayem

Apa kabar Than Must Soegenk?

Secara visual, tidak ada perubahan yang mencolok pada diri seorang Sugeng Siswoyudono setelah menjadi orang terkenal. Diundang sebagai narasumber pada acara kick Andy dua kali dan menjadi bintang iklan sebuah minuman energi terkenal, membuat wajahnya terdokumentasikan dan terlihat mondar-mandir dalam berbagai media, terutama elektronik yang berhasil membuat jutaan orang terinspirasi dan termotivasi untuk kembali merasakan hidup yang lebih hidup. Lantas....?

"Biasa saja! Tetap menjalani aktifitas sehari-hari" Kata Sugeng Siswoyudono seperti diwartakan dalam beberapa media online. Disela-sela aktifitasnya bergelut dengan dunia prothesa kaki, Sugeng Siswoyudono terus berusaha mensyukuri berkah kehidupan dari yang Maha Kuasa dengan memanfaatkan waktu lebih yang dimiliki untuk berbagai kegiatan produktif, seperti kegiatannya ngloper susu. Mengambil susu pada pagi hari buta ke daerah Pacet dan langsung mengantarkannya ke warung-warung, rumah makan dan ke semua pelanggannya. Ckckckck....Opo gak kesel ta Cak?

Memang diakuinya, kemunculannya 2 kali dalam acara Kick Andy dan menjadi bintang iklan produk minuman energi terkenal dan puncaknya ketika Sugeng Siswoyudono terlibat langsung dalam program gerakan 1000 kaki palsu yang dicanangkan Menristek Kusmayanto Kadiman tahun 2008 silam, orderan prothesa kaki di bengkel sekaligus rumah tinggalnya mengalir berdatangan dari seluruh pelosok Indonesia berbarengan dengan orderan dari gerakan 1000 kaki palsu tersebut. 

Dari normalnya rata-rata mengerjakan 20 prothesa kaki per-bulannya, sekarang bisa 3 kali lipat bahkan lebih. "Alhamdulillah", kata lelaki yang sempat mondok di Pondok Pesantren di kawasan Ngabar, Ponorogo tersebut. Ini adalah hasil dari benih kerja keras dan jiwa sosial yang ditanam dalam usaha prothesa kaki yang ditekuninya selama ini.

Seiring semakin banyaknya orderan yang masuk ke bengkel kerjanya, Sugeng tidak ingin serakah dengan menggarapnya sendiri. Sugeng malah berencana bagi-bagi rejeki dengan mendidik relawan agar bisa mengerjakan produksi prothesa kaki di daerah masing-masing dengan kualitas yang sama dengan hasil produksinya di bengkel Than Must Soegenk Mirtha Production Mojosari, Mojokerto. 

Untuk rencana ini, beberapa waktu lalu Sugeng telah mendidik 24 relawan dari berbagai daerah mengenai cara menyeting dan pembuatan kaki palsu berbahan fiber ala Than Must Soegenk Mirtha Production.

Sekarang, Than Must Soegenk Mirtha Production mempunyai "pasukan berani kerja" sebanyak 20 orang yang semuanya adalah tetangga kiri-kanan rumahnya plus Risa putri sulungnya yang bertugas menjadi assiten sekaligus manager pribadi. Apalagi...?

Sekarang memang bukan jamannya untuk mengeluh dan berkeluh kesah, sekarang waktunya untuk move on! Out of the Box dari comfort zone semu kita....monggo, Than Must Soegenk!


Brosur Kartu nama Than Must Soegenk MARI BERKARYA

Artikel ini juga tayang di Kompasiana pada tanggal 27 Januari 2016   17:41