Selasa, 11 Maret 2025

Yuk Coba "Self Challenging", Alternatif Olahraga yang Ramah Puasa!

Olahraga Ringan Selama Bulan Ramadan | @kaekaha

Sejak beberapa episode Ramadan terakhir, saya terus berusaha mencari cara paling efektif untuk tetap bisa berolahraga, tetap "adil" memberikan hak kepada tubuh untuk tetap cukup bergerak secara teratur agar tetap sehat dan bugar. Meskipun, jenis, pola dan juga durasinya berbeda dengan olahraga yang rutin saya tekuni di hari-hari biasa.

Semua saya lakukan setelah saya mengetahui dari beberapa literatur yang saya baca, selain terus memaksimalkan beragam amaliyah ruhaniah khas Bulan Ramadan, ternyata Rasulullah SAW juga tetap berolahraga secara teratur. Tentu saja, porsi olahraganya sudah dimodifikasi agar tidak mengganggu ibadah puasanya. Ini yang menginspirasi saya!

Luar biasanya, berdasarkan referensi dari beberapa hadis sahih terbukti, olahraga kegemaran Rasulullah SAW ternyata nggak kaleng-kaleng mas bro! Memanah, anggar, gulat, berenang, dan berkuda. Keren kan!?

Selain karena terinspirasi oleh aktifitas ramadan Rasulullah SAW yang tetap berolahraga untuk menjaga kesehatan dan kebugaran, secara faktual saya juga merasakan ketidaknyaanan di badan saya, setelah seminggu berpuasa tanpa sedikitpun aktifitas olahraga sama sekali

Baca Juga Yuk! "Basambang" di Rawa-rawa, Bersama Julak Mamutiki Iwak

Badan jadi serasa nggak fit, pegal-pegal di persendian dan sekujur punggung dari pinggang hingga pangkal leher, bahkan kadang-kadang sampai kesusahan kalau harus menengok ke kanan atau ke kiri.

Pengalaman dari check up kesehatan sebelumnya, dulu sih waktu saya masih malas olahraga tapi tetap brutal menjadi pemakan segala! He...he...he... Biasanya sih, itu karena kolesterol saya naik, salah satunya karena stres pekerjaan yang numpuk dan itu relevan dengan gaya hidup saya selama seminggu pertama puasa yang minim gerak karena pekerjaan yang menumpuk, ditambah kecenderungan saya yang kembali brutal menjadi pemakan segala, terutama saat berbuka puasa.

Olahraga Ringan Selama Bulan Ramadan | @kaekaha

Setelah mencari referensi disana-sini dan jawaban dari keluhan saya hanya dua, yaitu tetap olahraga  dan kendalikan asupan makanan saat sahur dan juga berbuka puasa, seperti yang saya tuliskan dalam artikel "Mindfull Eating untuk Ramadan dan Kehidupan yang Sehat Penuh Berkah"akhirnya mau nggak mau saya memulai lagi berolahraga lagi.

Untuk olahraganya fleksibel aja kok! Prinsipnya sih dilakukan dengan  intensitas yang terukur, tidak terlalu lama dan tidak terlalu berat atau menyesuaikan dengan kebiasaan, kebutuhan serta kemampuan fisik  masing-masing. 

Setidaknya, cukup untuk memperlancar sirkulasi peredaran darah dan tetap menjaga berlangsungnya pembakaran kalori meskipun dalam skala terkecil, sehingga metabolisme tubuh tetap berjalan dengan baik.

Baca Juga Yuk! Segera Mulai, Sebesar Apapun Langkah untuk Meraih Dunia dan Akhirat

Tujuannya, agar aktifitas olahraga kita tidak mengganggu ibadah puasa tapi tetap cukup memberikan kebugaran dan kesehatan pada  tubuh, syukur-syukur kalau olahraga yang kita pilih jenis olahraga yang disunahkan oleh Rasulullah SAW di atas. Masha Allah!

Jadi olahraganya sih apa saja ya, asal masih dalam koridor prinsip-prinsip diatas OK aja sih! Kalau saya sih, biasanya mengawali dengan senam-senam ringan tapi serius seperti foto yang diperagakan anak-anak saya diatas, , sampai stretching, termasuk gerakan kayang dan sit up semampunya, kadang bisa juga dilanjut dengan main bulu tangkis di halaman rumah atau jalan santai terukur keliling komplek. 

Olahraga Ringan Selama Bulan Ramadan | @kaekaha


Sayangnya, kadang-kadang karena kesibukan saya tidak bisa menyediakan waktu khusus untuk olahraga, meskipun hanya 30 menit sampai 1 jam seperti biasanya. Apalagi saya biasa olah raganya di sore selepas Ashar atau menjelang Magrib seperti saran dr Michael Triangto, SpKO, praktisi kesehatan olahraga dari Slim and Health Sports Therapy. 

Beruntung, akhirnya saya menemukan tips baru yang mencerahkan yaitu aktifitas yang Insha Allah memberikan manfaat sepadan dengan olahraga, meskipun secara faktual kita tidak secara khusus sedang berolahraga yang biasa saya sebut sebagai self callenging!

Apa itu self callenging?
   
Self callenging ini merupakan sebuah tantangan terhadap diri sendiri untuk sekreatif mungkin memodifikasi aktifitas rutin kita sehari-hari menjadi media berolahraga.

Contohnya, di pagi hari, kalau biasanya saya berangkat ke masjid untuk shalat Subuh yang jaraknya sekitar 1 km naik sepeda motor, maka untuk selanjutnya saya ganti dengan jalan kaki PP alias pergi-pulang dan seringnya untuk jalan pulang saya pilih jalan yang berbeda dengan jalan berangkat. 

Lumayan lo ini! Karena waktu tempuhnya lebih dari 30 menit, waktu ideal secara umum berolahraga di bulan puasa yang banyak disarankan oleh praktisi kesehatan .

Ke Pasar jalan Kaki atau Bersepeda untuk yang Lebih Jauh | @kaekaha

Aktifitas jalan kaki ke Masjid ini yang paling memungkinkan untuk saya lakukan, sementara ini baru untuk salat subuh PP dan salat isya atau tarawih untuk P terakhir saja alias pulangnya, karena biasanya berangkatnya sejak sebelum Maghrib dan dilanjut itikaf sampai datang waktu salat Isya yang dilanjut dengan Tarawih dan salat Witir.    

Baca Juga Yuk! Masjid Sultan Suriansyah "Mesin Waktu" Menuju Sejarah Berdirinya Kota Banjarmasin

Sejauh ini, selain aktifitas ke masjid, aktifitas lain yang bisa saya modifikasi untuk self callenging baru aktifitas ke pasar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk berbuka dan sahur yang hampir setiap pagi juga kami lakukan. Biasanya, sama istri naik sepeda motor, sekarang diganti dengan jalan kaki saja dengan strategi yang sama, selalu memilih jalan pulang yang berbeda dengan jalan berangkat.

Bagi anda yang punya kebun atau sawah yang range jaraknya 1-2 km bisa juga tuh dimodif untuk self callenging. Atau mungkin anda yang pekerja kantoran yang tempat kerjanya bertingkat. Kalau biasanya naik ke lantai 2 atau 3 pakai lift mulai sekarang dibisakan pakai tangga saja. Lumayan lo!

Mau lagi yang lain? Silakan kreasikan sendiri aktifitas rutin anda menjadi olahraga. Selamat mencoba!(BDJ11325)

Semoga bermanfaat!

Salam Matan Kota 1000 Sungai,
Banjarmasin nan Bungas!

Artikel ini juga tayang di kompasiana pada 11 Maret 2025 jam  16:48 (Klik disini untuk membacanya)


Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN





Sabtu, 08 Maret 2025

"Basambang" di Rawa-rawa, Bersama Julak Mamutiki Iwak

Menyusuri Tepian Sungai Sungai dan Rawa Menuju Titik-titik Tampairay | @kaekaha

Ngabuburit di rawa, bersama Pak de mengambil/memanen ikan

Ngabuburit di rawa, bersama Pak de mengambil/memanen ikan. Begitulah kira-kira makna terjemahan dari judul tulisan diatas. Basambang atau basasambang, merupakan kosakata dalam bahasa Banjar yang mempunyai makna sepadan dengan kata ngabuburit dalam bahasa Sunda  maupun bahasa Indonesia. 

Sedangkan kata mamutiki sebenarnya memang identik dengan kata kata memetik dalam bahasa Indonesia tapi untuk makna jamak/banyak, sehingga bisa juga dimaknai sebagai mengumpulkan dan penggunaan kata mamutiki ini dalam bahasa Banjar juga cenderung lebih luas.

Baca Juga Yuk! Berusaha Melazimkan Setiap Detik Waktu Kita Bernilai Ibadah 

Sedangkan tampiray adalah sebutan Urang Banjar untuk lukah atau bubu dan sejenisnya, yaitu sebuah alat untuk menjebak ikan di rawa-rawa atau tepian sungai yang biasanya dirangkai dari bahan rotan, bambu atau sekarang sudah ada juga yang membuat dari bahan kawat 

Tampiray atau lukah ini sebenarnya banyak tersebar di berbagai daerah di nusantara. Pembedanya mungkin hanyalah bahan, ukuran dan juga desain bentuk tampiray-nya yang secara umum disesuaikan dengan target ikan yang diincar, baik jenis maupun ukurannya, juga target lokasi peletakan tampiray-nya yang biasanya di titik-titik strategis pinggiran sungai atau rawa-rawa.

Jadi, cerita ini memang perihal "basambang", ngabuburit versi kearifan lokal Urang Banjar di Kalimantan Selatan berikut diasporanya di senja hari Bulan Ramadan. Yuk, Basambang di rawa...

Tampiray yang Baru Saja Dibangkit atau Diangkat | @kaekaha


Merujuk pada julukannya yang telah lama melekat sebagai Kota 1000 Sungai, tentu masyarakat nusantara dan dunia sudah mafhum dengan fakta unik topografis dan juga geografis Kota Banjarmasin, mantan ibu kota Propinsi  Kalimantan Selatan ini.

Rata-rata ketinggian daratan kotanya yang hanya 60-80 cm dibawah permukaan air laut, menyebabkan sebagian besar daratannya didominasi perairan darat, berupa sungai dan rawa-rawa. Inilah asal muasal julukan Kota 1000 Sungai yang kelak menjadi identitas Kota Banjarmasin.

Baca Juga Yuk! Lho Mbah, Arah Kiblat Sholatnya Kok ke Arah Barat?

Persentuhan selama berabad-abad antara Urang Banjar dengan ekosistem perairan darat, melahirkan kearifan lokal yang kelak kita kenal sebagai budaya sungai dan salah satu kearifan lokalnya yang sampai sekarang masih eksis dan terbukti ikut berperan menjaga kelestarian ekosistem sungai dan rawa adalah tradisi maiwak atau cara menangkap ikannya yang sangat ramah lingkungan.  

Di antara sekian banyak cara menangkap ikan dalam tradisi maiwak khas Urang Banjar ini, ada satu teknik maiwak yang paling populer karena ramah lingkungan dan cocok untuk ekosistem tepi sungai dan rawa, relatif mudah, sederhana, tidak perlu skill khusus, tapi setiap hari hasilnya bisa dipanen, yaitu teknik maiwak dengan menggunakan tampiray. 

Nah, sore ini kita akan basambang alias ngabuburit produktif dengan mamutiki  atau memanen ikan dari puluhan sampai ratusan  tamparay yang tersebar dipinggir sungai dan rawa-rawa belakang rumah. Yuk siap-siap!  

Tampiray dari Bahan Kawat Siap Dipasang kembali Setelah Ikannya Dikeluarkan | @kaekaha

Secara keseluruhan, aktifitas mamutiki atau tepatnya mamanen ikan dari dalam tampiray ini biasa disebut Urang Banjar sebagai mambangkit (mengangkat;bahasa Banjar) tampiray

Aktifitas ini sangat mengasyikkan, karena dilakukan dengan menyusuri anak-anak sungai dan jalur air rawa-rawa di sela-sela berbagai jenis kumpay, sejenis rerumputan rawa dengan menggunakan jukung atau perahu kayu kecil khas Banjar yang sensasinya tuh dijamin ngangeni banget!

Jadwal mamutiki atau memanen iwak dari Tampiray ini idealnya dua kali dalam sehari, pagi dan sore. Jadi pas banget untuk aktifitas basambang atau ngabuburit.

Baca Juga Yuk! Memaknai Produktivitas Berkelas ala Cak Udin "Rombeng"

Hal di lakukan untuk meminimalisir kematian ikan yang terjebak dalam tampiray, terutama ikan dengan badan besar yang juga sering terperangkap. Karena kalau ikan terlanjur mati, biasanya hanya bisa diolah menjadi iwak karing dan iwak asin (ikan kering/ikan asin;bahasa Banjar) saja, nggak bisa diolah menu lain. Sayang kan!?

Apalagi kalau hari panas dan banyu (air;bahasa Banjar) sedang surut, biasanya saat begitu ikan yang terjebak di tampiray jauh lebih banyak daripada saat banyu tinggi akibat air pasang karena hujan atau sungai konektor dapat kiriman banjir dari hulu. 

Anak Sungai yang Menjadi Tempat Memasang Tampiray Sekaligus Jalur Basambang Kita sore ini | @kaekaha

Oiya, tipikal rawa di Banjarmasin rata-rata merupakan rawa pasang surut atau rawa lebak yang terhubung dengan sungai, handil, anjir atau jalur-jalur pengairan tradisional khas Banjar lainnya dengan kedalaman bervariasi. Untuk rawa-rawa lebak yang menjadi obyek penempatan tampiray ini, kedalamannya antara 0,5 meter sampai 1 meter yang biasanya akan semakin dalam jika semakin dekat dengan sungai konektor.

Baca Juga Yuk! Semua Menang, Semua Senang di "War Takjil" Pasar Wadai, Banjarmasin

Di Banjarmasin, iwak atau ikan yang menjadi target maiwak dengan menggunakan tampiray ini umumnya adalah ikan-ikan berukuran kecil seperti sapat atau ikan sepat (Trichopodus trichopterus), ikan Sapat Siam (Trichopodus pectoralis), Papuyu atau ikan bethik/bethok (Anabas testudineus).

Meskipun terkadang ada juga ikan-ikan berbadan lumayan besar ikut terjebak, seperti haruan atau ikan gabus (Channa striata), pentet atau sejenisikan lele asli Kalimantan, walut atau belut (Monopterus albus), kadang-kadang ada juga ikan mas atau nila, bahkan juga ular rawa yang terjebak dan tidak bisa keluar lagi dari tampiray.

Ikan Hasil Mambangkit Tampiray Pertama | @kaekaha

Sejak bahari (dulu;bahasa Banjar), aktifitas mambangkit tampiray ini menjadi salah satu aktifitas favorit Urang Banua, termasuk para galuh alias gadis-gadis Banjar, bahkan juga anak-anak, karena sensasi mengangkat tampiray itu memang nggak ada obat! Apalagi kalau di dalamnya banyak terdapat ikan dengan jenis yang beragam dan cukup besar-besar. Duh ... berjuta rasanya mas bro!

Sebenarnya, daya tarik aktivitas yang satu ini bukan hanya sensasi pas mambangkit dan mautiki iwak-nya saja lho! Karena tampiray ini diletakkan terpisah dengan jarak yang lumayan berjauhan dan jumlahnya cukup banyak, bisa puluhan sampai ratusan, maka dengan mendayung jukung, saat menuju ke masing-masing lokasi tampiray, bisa menjadi olahraga alternatif untuk membantu membakar lemak.

Dan satu lagi! Di sepanjang perjalanan mendayung jukung, kita juga akan disuguhi kekhasan sekaligus keunikan ekosistem rawa dan sungai atau jalur pengairan tradisional khas Kalimantan Selatan yang juga ijo royo-royo bikin adem mata, hati dan pikiran.

Baca Juga Yuk! Segera Mulai, Sebesar Apapun Langkah untuk Meraih Dunia dan Akhirat

Selain padi khas rawa tanaman milik warga yang ditanam di sawah yang juga bagian dari rawa lebak dangkal, rawa-rawa ini juga menjadi habitat berbagai jenis tanaman-tanaman rawa berdaun hijau segar seperti Genjer (Limnocharis flava), Jariangau (Acorus calamus L. Acoraceae), Kalakai atau pakis (Stechnolaena palustris),  supan-supan atau sayuran putri malu (Neptunia oleracea), talipuk atau bunga teratai (Nymphae pubescens Willd) dan banyak lagi yang lainnya.

Gimana, sudah siap basambang bersama Julak, mambangkit dan mamutiki iwak dari tampiray?

Hayuk bajajalanan ka Banjarmasin!(BDJ8325)


Semoga Bermanfaat!

Salam matan Kota 1000 Sungai,
Banjarmasin nan Bungas!


"Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadan 1446 H"

Artikel ini juga tayang di kompasiana pada 8 Maret 2025   21:35 (Kik disini untuk membacanya)


Jumat, 07 Maret 2025

Segera Mulai, Sebesar Apapun Langkah untuk Meraih Dunia dan Akhirat Terbaik

Kalau Anda Tidak Buta Warna, Pasti Bisa Mengenali dan Membaca Tulisan dalam Bulatan Pada Gambar di Atas | @kaekaha 

...Sesungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri... (QS. Ar-Ra’d 11)

Dunia saya tida-tiba serasa gelap, masa depan hancur yang sehancur-hancurnya, karena kelainan buta warna yang diam-diam saya warisi dari jalur ibu saya yang seorang ternyata seorang carrier alias pembawa sifat buta warna tapi beliau sendiri tidak buta warna, benar-benar menggagalkan cita-cita besar saya, bahkan disaat satu tangan saya sudah merengkuhnya!

Sejak saat itu juga, menyantap materi tema-tema pengembangan diri baik soft skill maupun hard skill, pengetahuan, etika, pola pikir, motivasi dan lain-lainnya yang juga populer sebagai self growth atau juga self improvement itu, sudah selayaknya Nasi Pecel, Madiun ataupun Es Dawet Jabung, Ponorogo yang menjadi makanan dan minuman saya sehari-hari! 

Baca Juga Yuk! Berusaha Melazimkan Setiap Detik Waktu Kita Bernilai Ibadah

Kalau anda penasaran dengan kisah tragedi buta warna yang saya alami, cerita pendek versi online-nya yang berjudul Oedipus Complex, Ketika Cinta Tidak Lagi Buta (Warna) bisa dibaca di kanal KKN Kompasiana ya! 

Nah untuk versi cetaknya yang dibukukan dengan judul sama tapi dengan isi yang sedikit aja beda karena editan oleh editor dan diterbitkan dengan judul bukunya Kuliah Kerja Ngonten : Dari Serem ke Sayang, Dari Ketawa ke Bimbang oleh Kompasiana dan Penerbit Elex Media Komputindo bisa dibeli di Gramedia ya! Promosi dikit boleh dong...he...he...he...  

"Kitab Kuning" KKN | @kaekaha

Semua saya lakukan karena "kewarasan saya" yang tidak mau gagal menjadi manusia, saya tidak mau bunuh diri dengan bersedih dan membiarkan diri berlarut-larut dalam keterpurukan akibat kelainan buta warna yang saya ratapi siang dan malam. Tidak mudah sih, perlu waktu dan perjuangan yang "berdarah-darah" untuk bisa survive!

Terbukti, berlarut-larut dalam kesedihan dan keterpurukan, faktanya tidak merubah apapun! Kelainan buta warna di mata saya tidak juga tiba-tiba berganti dengan mata normal seperti yang anda-anda punya!

Sampai di situ, saya memang harus realistis! Saya harus tahu diri dan nggak perlu ngeyel memaksakan diri, tetap berharap bisa jadi dokter, tentara atau profesi lain yang memang "mengharamkan" buta warna, karena sampai kiamat pasti nggak bakalan lolos. Rugi waktu, rugi tenaga dan juga rugi biaya jadinya.

Baca Juga Yuk! Lho Mbah, Arah Kiblat Sholatnya Kok ke Arah Barat?

Beruntung memang, saya tumbuh dalam lingkungan keluarga dengan basic kultur, keyakinan dan juga pendidikan yang cukup kondusif, sehingga lingkungan juga berperan besar membantu saya untuk tetap kuat secara mental dan spiritual, hingga akhir pergulatannya saya tetap bisa berpikir logis dan realistis menyikapi anugerah buta warna yang sebelumnya sama sekali tidak saya ketahui track record-nya. Bahkan, akhirnya saya meyakini, pasti ada rencana dahsyatNya dibalik ini semua!

Tes Buta Warna Sejak Dini di Rumah | @kaekaha

Selain materi-materi pengembangan diri klasik dan modern dari dunia barat, sebagai muslim sudah pasti saya juga menyantap materi pengembangan diri dalam Islam dari berbagai sumber yang akhirnya semakin memantapkan pemahaman dan keyakinan saya. 

Saya memang harus mengembangkan diri dengan mengikhlaskan kelainan buta warna yang saya miliki berikut berbagai tragedi yang pernah terjadi karenanya dan berusaha terus untuk menggali semua potensi yang saya miliki sebagai modal awal untuk memulai hidup dengan peta yang baru, mimpi, harapan, cita-cita yang semuanya baru.

Di titik ini saya banyak terinspirasi dari literatur-literatur Islam baik yang klasik maupun kontemporer, terutama sepenggal dari QS. Ar-Ra’d ayat 11, pembuka dari artikel ini dan juga QS. An Nisa ayat 100 yang secara implisit memberi insight untuk segera berhijrah yang dalam konteks saya saat itu adalah bersegera move on dengan segera berpindah haluan kepada dunia yang baru. 

Alhamdulillah, meskipun awalnya tetap tidak mudah, tapi akhirnya Allah SWT memang membuktikan janji-janjinya, mempertemukan saya dengan dunia baru yang ternyata jauh lebih berwarna! Ini bemar-benar lebih berwarna, karena salah satu usaha saya di bidang usaha kerajinan tangan mengharuskan saya benar-benar berkutat dengan warna. Bukankan dunia ini memang penuh misteri mengejutkan?


Setelah dunia baru saya mulai memberikan hasil dengan stabilitas dan kualitas kehidupan yang semakin terjaga baik, pergulatan saya dengan kehidupan tentu saja mulai berbeda arenanya. Di level ini memang relatif tidak lagi berdarah-darah seperti di awal saat merintis dunia baru, tapi ternyata menjaga konsistensi alias untuk bisa istiqamah ternyata juga tidak mudah. Banyak sekali godaan yang datang!

Pernah dengar cerita tentang keberhasilan atau kesuksesan luar biasa dari orang-orang biasa yang diuji dengan himpitan bermacam-macam kekurangan dan kesusahan, tapi justeru "gatot" alias gagal total ketika diuji dengan keberlimpahan, termasuk kekayaan, ketenaran dll? Saya tidak mau terjebak dalam drama-drama seperti itu. Saya tidak mau jatuh ataupun terjatuh untuk yang kedua kalinya!

Anda boleh percaya dan sangat boleh juga untuk tidak percaya! Faktanya, sungguh di titik ini saya kembali beruntung! Alhamdulillah, dalam pengembaraan spiritual yang begitu intensif saya lakukan, secara bertahap akhirnya saya menemukan dasar berpijak aktual bagi kita-kita menjalani hidup dan kehidupan yang pastinya nggak kaleng-kaleng  dari beberapa sumber Alquran dan Hadis sahih Rasulullah SAW.  

Baca Juga Yuk! Memaknai Produktivitas Berkelas ala Cak Udin "Rombeng"

Seperti dalam  QS. Ali Imran ayat 139, QS. Al-Ankabut ayat 2, QS.Al Insyiraḥ ayat 5-8 yang secara umum membahas ujian sebagai sebuah keniscayaan yang harus dihadapi dengan teguh dan tidak boleh bersikap lemah, karena di setiap kesulitan yang dihadapi akan selalu disertai dengan kemudahan.



Selajutnya ada juga dalam QS. An Najm ayat  39 dan QS. Al Baqarah ayat 148 yang secara umum meyakinkan saya bahwa segala daya upaya dan usaha merupakan sarana yang efektif untuk pengembangan diri. Sedangkan QS. Ali Imran ayat 185  dan  QS. Al Hashr ayat 18 memberikan kesadaran bahwa akhirat adalah ending atau muara  dari sebuah kesuksesan.

Dari hadis sahih Rasulullah SAW, saya sangat terinspirasi oleh sebuah riwayat yang datang dari sahabat  Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma yang menyebut Rasulullah SAW pernah menasehati seseorang yang isinya, 

“Manfaatkanlah lima perkara sebelum lima perkara,  waktu mudamu sebelum datang tuamu, waktu sehatmu sebelum datang waktu sakitmu, masa kayamu sebelum datang masa miskinmu, masa luangmu sebelum datang masa sibukmu dan hidupmu sebelum datang matimu.”

Menurut saya, momentum terbaik untuk melaksanakan pengembangan diri bagi masing-masing orang jelas berbeda-beda dan yang paling tahu dan paham dengan timing terbaiknya ya diri pribadinya masing-masing. 

Hanya saja, di Bulan suci Ramadan yang dijanjikan Allah SWT dengan beragam keistimewaan, dirasa paling tepat menjadi momentum pelaksanaannya, karena praktik "terapi" pengembangan diri yang pada dasarnya memang sebuah sunatullah alias sebuah keniscayaan yang dianjurkan dalam Islam, tidak hanya akan lebih efektif prosesnya saja, tapi juga akan bernilai ibadah yang pahalanya berlipat ganda! (BDJ7325)

Semoga Bermanfaat
Salam matan Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas!

Artikel ini juga tayang di Kompasiana pada 7 Maret 2025  jam 23:01 (klik disini kalau mau membaca)

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN




 

Kamis, 06 Maret 2025

Semua Menang, Semua Senang di "War Takjil" Pasar Wadai, Banjarmasin

Wadai Puteri Selat dan Hamparan Tatak di Pasar Wadai, Favorit War Takjil di Pasar Wadai | @kaekaha

Bulan suci Ramadan, bulan ke-9 dalam kalender Hijriah yang begitu agung karena beragam keistimewaannya dalam keyakinan Islam ini, telah sejak lama menjadi sumber inspirasi sekaligus katalis bagi lahir dan terbentuknya berbagai entitas budaya dengan beragam tradisi unik dan khas yang tersebar di seluruh penjuru dunia. 

Salah satunya yang cukup otentik dan sekarang menjadi perhatian masyarakat di dunia adalah tradisi seputar kuliner berikut pernak-perniknya nan unik yang menyertai datangnya bulan suci ramadan. 

Uniknya, syariat bagi umat Islam untuk menunaikan ibadah puasa selama sebulan penuh selama Ramadan, ternyata justeru mendorong kreatifitas umat untuk melahirkan karya-karya kuliner yang unik, khas dan tidak jarang mempunyai manfaat spesifik tertentu sebagai menu bersantap saat buka puasa.

Wadai Bingka Barandam, Wadai Favorit untuk Berbuka Puasa yang Paling Dicari saat War Takjil di Pasar Wadai |@kaekaha


Itu juga yang terjadi di lingkungan Urang Banjar, sebutan untuk masyarakat suku Banjar di Kalimantan Selatan yang sejak bahari (lama;bahasa Banjar) memang dikenal dengan wadai-wadai (kue;bahasa Banjar) basah Ramadannya yang termasyhur dengan citarasanya yang rerata manis dan legit.

Baca Juga Yuk! Berusaha Melazimkan Setiap Detik Waktu Kita Bernilai Ibadah

Siapa Urang Banjar yang tak kenal ragam wadai basumap (wadai basah kukus;bahasa Banjar) yang identik untuk buka puasa seperti wadai puteri selat, sari muka, sari india, hula-hula, lam, maksubah sampai beragam bingka bakar dan juga bingka barandam, si-wadai unik dan enak berkuah kinca segar.

Karena aneka wadai khasBanjar bercitarasa manis legit diatas menjadi menu pencuci mulut yang wajib ada di meja makan saat berbuka puasa, tidak heran jika akhirnya juga melahirkan tradisi pasar wadai alias pasar kue di sepanjang bulan Ramadan yang kelak semakin mendunia seiring dengan lahirnya budaya pop kekinian, berburu wadai untuk buka puasa yang sekarang lebih dikenal sebagai war takjil.

Keramaian Pasar Wadai di Banjarmasin, Arena War Takjil yang Tidak Pernah Sepi di Sepanjang Bulan Ramadan |@kaekaha


Sebenarnya tradisi beburu wadai, kemungkinan termasuk war takjil juga, khususnya ala Urang Banjar ini sudah sejak dulu ada dan beriringan dengan munculnya tradisi pasar wadai itu sendiri yang sejarahnya bisa dibaca pada artikel berjudul Perjalanan Panjang Pasar Wadai Mewarnai Ramadan di Kota Banjarmasin

Tapi harus diakui memang, lahirnya istilah war takjil setelah pandemi covid-19 yang sempat "menghilangkan" semua tradisi Ramadan di dunia, termasuk pasar wadai yang terpaksa tidak diselenggarakan beberapa kali periode Ramadan, turut berperan mengembalikan denyut nadi bursa pasar kue Ramadan terbesar se Kalimantan ini, hingga kembali hidup dan menghidupi.

Baca Juga Yuk! Lho Mbah, Arah Kiblat Sholatnya Kok ke Arah Barat?

Pasar wadai Ramadan atau pasar kue yang diselenggarakan pemerintah Kota Banjarmasin dan Pemerintah Propinsi Kalimantan Selatan sebulan penuh selama bulan Ramadhan ini merupakan even kuliner legendaris yang menjadi kalender tetap pemerintah dalam rangka menyemarakkan syiar bulan suci Ramadan setiap tahunnya.

Pasar  yang hadir selayaknya bazar kuliner on the road, karena biasanya memang di selenggarakan di tepi ruas jalan dan sungai Martapura di beberapa titik jantung Kota Banjarmasin sepanjang lebih dari 500-an meter ini senyatanya tidak hanya menyediakan beragam kuliner tradisional Banjar lengkap saja, tapi juga kuliner nasional yang di bawa oleh para pendatang dan juga kuliner internasional, khususnya dari jazirah Arab. Jadi sangat cocok menjadi arena war takjil yang sesungguhnya!

Pintu Gerbang Pasar Wadai Saip Menyambut Semua Serdadu-serdadu Pemburu Takjil untuk "War Takjil" | @kaekaha

 

Khusus untuk baramian (main-main/hiburan;bahasa Banjar) war takjil yang sekarang sedang ngetren dikalangan anak muda di seluruh Indonesia. Pasar wadai di Kota Banjarmasin merupakan arena bertempur yang paling cocok! 

Apalagi dua entitas pasar wadai yang biasanya masing-masing diselenggarakan terpisah oleh pemko Banjarmasin dan Pemprop Kalimantan Selatan, untuk tahun 2025 ini keduanya bersatu dan diselenggarakan di satu tempat yang sama yaitu di sepanjang Jalan Jendral Sudirman atau siring 0 kilometer, Banjarmasin. 

Di sepanjang ruas Jalan Jendral Sudirman yang juga dikenal sebagai kawasan kantor gubernur lama ini, ada lebih dari 200 stan kuliner yang siap melayani "serdadu-serdadu" militan pemburu takjil yang siap melakukan war takjil. Arena yang lebih panjang dan lengkap sudah pasti akan memberikan pengalaman war takjil yang takkan terlupakan.

 

Selain beragam wadai-wadai basah pencuci mulut yang citarasanya aduhai, untuk war takjil tersedia beragam wadai karing alias kue kering khas Banjar seperti wadai ilat sapi, juga beragam jenis bubur manis khas Banjar, seperti bubur hintalu karuang, bubur gunting, bubur baayak, bubur randang dan kawan-kawannya.

Baca Juga Yuk! Memaknai Produktifitas Berkelas Ala Cak Udin "Rombeng"

Satu lagi! Ini yang banyak ditunggu-tunggu oleh serdadu-serdadu pemburu kuliner militan, yaitu hadirnya beragam kuliner berat khas Banjar yang relatif lebih mudah ditemukan di bulan Ramadhan! Anda pernah menikmati karih kambing, karih ayam atau bubur karih khas Banjar yang begitu kaya dengan bumbu rempah menggoda? 

Atau mungkin mau merasakan Katupat Kandangan, Soto dan sop Banjar, Salada Banjar, Lontong Banjar, Katupat Batumis, Lamang, atau mungkin Ipau? Itu lho pizza tradisional khas Urang Banjar yang citarasa gurih plus rempah-rempahnya selalu bikin Karindangan alias rindu berat?

Semua ada dan tersedia cukup setiap harinya! Itulah sebabnya kalau war takjil di Pasar Wadai Banjarmasin, semuanya menang dan semuanya senang. (BDJ6325).


Semoga Bermanfaat
Salam matan Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas!

Artikel ini juga tayang di Kompasiana pada Kamis, 6 Maret 2025  jam 14:34 (klik disini kalau ingin membacanya)

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN




 

Minggu, 02 Maret 2025

Bukan Aku, Tapi "Mie Habang" Ini yang Akan Membuatmu Kangen Banjarmasin!

Mie Habang Kuah Sop, Kuliner Berkuah Kaldu sarat Rempah Khas Kalimantan Selatan yang Sedepnya Membuat Karindangan | @kaekaha

Masih ingat dengan artikel saya yang berjudul Ini Sop dan Soto Banjar, Duo "Kembar Siam" Berkuah Rempah Khas Kalimantan yang sempat nangkring di angkringan "Artikel Utama" yang sejak konsepnya diperbarui, menjadi lebih lama bertahta di puncak halaman user interface alias antarmuka Kompasiana di awal tahun 2025 lalu?

Alhamdulillah, artikel kuliner yang terafiliasi dalam topil alias topik pilihan "makanan berempah" ini, ternyata mendapat sambutan luar biasa dari pembaca dan sepertinya banyak menjawab pertanyaan dan juga rasa penasaran penikmat kuliner  nusantara, khususnya penikmat kuliner berkuah kaldu dan wabil khusus-nya lagi para "kolektor rasa" persotoan nusantara terhadap kuliner dari Pulau Kalimantan.

Baca Juga Yuk! Menikmati Musik Panting & Soto Banjar di Tepian Sungai Martapura Banjarmasin

Nah, setelah kita mendedah duo kuliner "kembar siam" full rempah Soto dan Sop Banjar sedetail-detailnya, seperti kok nggak afdol ya kalau kita tidak mengulik kuliner-kuliner sarat rempah khas Banjar lainnya, apalagi kalau kulinernya cukup unik, enak dan masih ada "hubungan kekerabatan" dengan Soto dan Sop Banjar. Mau? 

Mie Habang Original Sebelum Diberi Kuah Sop | @kaekaha

Setidaknya, sejauh yang saya ketahui sampai saat ini, ada dua jenis kuliner khas Banjar yang masih berkerabat dengan Soto dan Sop Banjar, karena keduanya secara faktual memang menjadikan "kuah" dari sop Banjar sebagai elemen utama dari olahan sedapnya, hingga menjadi ciri khas dari tekstur, citarasa dan tentunya penampakan kulinernya.

Baca Juga Yuk! Sedapnya Soto Banjar Ayam Bapukah/Bapulas Khas Haji Anang

Jika anda berkesempatan jalan-jalan ke Kota Banjarmasin atau kota-kota satelit disekitarnya yang disatukan dalam kawasan strategis propinsi Banjarbakula atau disebut juga sebagai kawasan Banjar Raya yang meliputi Kota Banjarmasin-Kota Banjarbaru-Kabupaten Banjar-Kabupaten Barito Kuala dan Kabupaten  Tanah Laut, cari dan temukan kuliner Mie Habang (Kuah Sop) dan Bubur Sop khas Banjar.

Mie Habang (kuah sop), Kuliner Berkuah Kaldu sarat Rempah Khas Kalimantan Selatan yang Sedepnya Akan Membuatmu Karindangan | @kaekaha

Keduanya cukup populer di seputaran Banjar Raya, sehingga untuk mendapatkannya relatif mudah, terutama di warung atau kedai-kedai masakan tradisional Banjar yang tersebar dimana-mana. 

Hanya saja, mungkin karena keduanya lebih identik sebagai menu untuk sarapan, maka pagi hari merupakan waktu yang paling pas untuk berburu dua kuliner murah tapi nggak murahan ini. 

Sudah siap untuk berburu kawan?

Tapi untuk kali ini, sepertinya kita akan "berburu" Mie Habang (Kuah Sop) dulu aja ya, biar lebih gayeng menikmatinya! Sedangkan untuk Bubur Sop khas Banjarnya, Insha Allah akan saya tuliskan di artikel terpisah, biar detail ensiklopediknya juga lebih tertata baik dan memorable, hingga selalu evergreen.

Sayur Sop, Sumber Utama Citarasa Sajian Mie Habang dan Bubur Sop | @kaekaha

Pertama kali menginjakkan kaki di Kota Banjarmasin lebih dua dekade silam, saya begitu tergoda dengan kuliner mie berwarna merah menyala "endemik" Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas! yang lazim dijual di warung-warung bakso dan mie ayam, juga di kedai-kedai masakan Banjar yang tersebar di segala penjuru kota dengan sebutan mie yamin.

Tapi mie yamin merah menyala khas Banjar ini jelas beda dengan mie yamin dari Pulau Jawa yang kita kenal dengan citarasanya yang cenderung manis, meskipun sekarang sudah bertransformasi dengan adanya pilihan citarasa yang bisa di request sesuai dengan selera, seperti mie yamin Bandung. 

Selain mie warna merahnya yang unik, perbedaan mie yamin khas Banjar ini ada pada kuahnya yang menggunakan kuah sop  khas Banjar yang macam rempahnya saja mencapai puluhan jenis, kalau ingin tahu detailnya silakan baca di artikel Eksistensi "Sambal Banjar" Sarat Rempah di Antara Serbuan Bumbu Instan Pabrikan. 

Belakangan mie yamin khas Banjar juga terus bertransformasi, tidak hanya pada racikan bumbu dan isian topping mienya saja yang semakin variatif, tapi juga pergeseran nama, bahkan keidentikan dengan penjualnya. Sebutan mie yamin, sekarang lebih identik dengan mie merah dengan ukuran lebih besar (mirip mie untuk bakmie di Pulau Jawa) dengan bumbu khusus yang disiram kuah mie ayam-bakso dan dijual di warung bakso-mie ayam, sedangkan mie merah dengan kuah sop yang sekarang "bergeser" dijual di kedai-kedai masakan Banjar bukan lagi populer sebagai mie yamin, tapi lebih dikenal sebagai "mie habang", sebuah frasa dalam bahasa Banjar yang artinya mie merah. 

Naaah, biar semakin nyamleng menikmatinya! Detail tentang sedapnya kuliner mie yamin khas Banjar yang biasa disajikan selayaknya mie ayam dan pastinya jauh berbeda dengan olahan mie yamin di luar sana, juga kolaborasinya dengan bakso hingga melahirkan kuliner baru bertitel bakso yamin yang juga khas Kota 1000 Sungai, Insha Allah akan saya kupas tuntas di artikel terpisah aja ya, kan kita mau menikmati mie habang, sayang!

Uniknya Mie Habang, Bukan Bulat Gilig Seperti Biasanya Bentuk Mie, Tapi Berbentuk Kotak | @kaekaha


Kuliner mie merah khas Banjar yang dijual di kedai atau warung-warung  masakan Banjar yang sekarang lebih populer dengan sebutan mie habang ini, biasanya bentuk mienya bukan bulat gilig seperti biasanya bentuk mie, tapi berbentuk kotak, dengan ukuran diameter diagonal yang lebih kecil.

Mie habang bisa disajikan tanpa kuah karena pada dasarnya mie yang biasanya diurai di nampan besar ini memang sudah dibumbui rempah sop tapi memang masih dalam versi yang minimalis, termasuk dengan irisan sayur kol atau kubis, meskipun kuantitasnya tergolong minimalis, juga topping yang biasanya berupa irisan telur itik rebus dan kondimen khasnya berupa bawang goreng dan juga daun sop. Beda bukan dengan mie yamin!?

Baca Juga Yuk! Tanda Tanya dalam Sepiring Mie Bancir, Khas Kota Banjarmasin nan Bungas 

Secara tradisi, Urang Banjar banyak yang menjadikan mie habang ini soulmate untuk menyantap buras, itu lho lontong yang berbalut citarasa gurihnya santan. Meskipun sebenarnya, disantap langsung juga tidak kalah nikmatnya, apalagi ditambahkan sambal pedas, saus, kecap dan tentunya limau kuit ataupun jeruk nipis sesuai selera.


Apalagi ditemani sama ayam goreng krispi bercitarasa cenderung gurih-asin, khususnya bagian kepala, sayap maupun ceker ayamnya yang sejak lama memang telah soulmate-an sama mie habang. Duh, ini dasar liwar banar nyamannya wal ai alias ini enak banget kawan!

Tapi meskipun begitu, menurut saya! Sekali lagi menurut saya lho ya! Masih ada lagi cara terbaik untuk menikmati mie habang secara paripurna alias maksimal, yaitu dengan menambahkan sop khas Banjar secukupnya atau sesuai selera ke dalam piring mie habang yang sudah siap disantap.

Kalau kuahnya sedikit hanya nyemek-nyemek saja, kami biasa menyebutnya mie bancir. Nah kalau kuahnya banyak seperti kesukaan saya, jadilah mie habang kuah sop yang sempurna! 

Waaah kalau sudah sampai di fragmen yang ini, dijamin anda, anda dan anda semua akan selalu karindangan alias kangen berat sama saya, eh sama Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas! Tahu kenapa? Karena ini unik dan uenaaak tenan!

Coba bayangkan ya! Mie habang yang pada dasarnya sudah berbumbu racikan rempah sop, meskipun masih versi minimalisnya, diguyur kuah sop berbumbu full rempah khas masakan Banjar yang di dalamnya juga berisi potongan-potongan ayam, wortel, kubis, daun bawang prei, daun sop atau seledri, kucai dan taburan bawang goreng. Beneran, ini enak banget! (BDJ23225)


Semoga Bermanfaat!

Salam matan Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas!

Artikel ini juga tayang di Kompasiana pada 23 Februari 2025   21:20


 jam 00:01  WIB (klik disini untuk membaca)

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN




 

Selasa, 31 Desember 2024

"Teh Es dan Teh Dingin", Sisi Unik Tradisi Ngetehnya Urang Banjar"

Teh Es, Teh Manis yang Ditambahkan Es Batu sebagai Pendingin sekaligus Penyegar. Di Daerahmu apa sebutannya, Teh Es atau Es Teh? | @kaekaha 


"Minumnya apa pian, teh es, teh dingin atau teh panas?"

Desa Mawa Cara

Sesanti berbahasa Jawa di atas, merupakan penggalan dari sesanti desa mawa cara, negara mawa tata yang makna parsialnya kurang lebih adalah setiap tempat (daerah/desa) pasti punya cara dan cirinya masing-masing (kearifan lokal). 

Sesanti ini sepertinya identik dengan peribahasa dalam bahasa Indonesia yang begitu masyhur, lain ladang lain belalang, lain lubuk lain pula ikannya! Ada lagi yang lain?

Sesanti di atas secara tersirat memberi pesan, bahwa setiap perbedaan adalah sebuah keniscayaan, rahmat dan anugerah dari Tuhan yang (diciptakan, sebenarnya untuk saling melengkapi dan) tidak bisa kita hindari.

Termasuk dalam konteks dan perspektif Indonesia kita yang memang didirikan sebagai bangsa dan negara, benar-benar di atas rajutan erat dari jalinan berbagai suku dengan keragaman tradisi dan budayanya, agama, ras dan juga golongan. 

Hingga para founding father bangsa ini merasa perlu mengaktualisasikannya dalam semboyan keren yang kita kenal sebagai Bhinneka Tunggal Ika, sebaris frasa yang dikutip dari kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular yang ditulis di era keemasan Kerajaan Majapahit, sekitar abad ke-14. Keren kan Indonesia kita!?

Teh Dingin, Perbendaharaan Frasa yang Unik dalam Tradisi Ngetehnya Urang Banjar  | @kaekaha

Itulah sebabnya, saya sangat bersyukur menjadi bagian dari negeri bernama Indonesia, karena kemanapun saya pergi ke berbagai pelosoknya, setiap jengkal tanahnya akan selalu memberi pengalaman dan pemahaman autentik, unik dan menarik yang selalu baru dan berbeda-beda.

Nah, itu juga yang seringkali saya temui dan dapati setiap kali berkesempatan mengunjungi tempat-tempat baru di berbagai pelosok nusantara, terutama dulu, saat masih aktif bekerja dengan range area proyek memang se-nusantaraPernak-pernik keseruan "kerja sambil jalan-jalan" saya ini pernah saya spill pada artikel  "Berselancar" di Kompasiana, Berkeliling Indonesia, Mengabadikan Indahnya Keragaman NusantaraSilakan klik bila ingin ikut merasakan sensasi serunya!

Salah satunya yang paling menyenangkan (setidaknya bagi saya), sekaligus paling sering bersentuhan dengan keseharian masyarakat kita adalah keragaman tradisi dan budaya kulinernya, khususon lagi budaya ngeteh-nya.

Baca Juga Yuk! Eksistensi "Sambal Banjar" Sarat Rempah di Antara Serbuan Bumbu Instan Pabrikan

Ya! Budaya ngeteh atau segala pernak-pernik tradisi minum teh yang saya maksudkan di sini tentu saja tidak hanya sekadar merujuk pada ritus minum teh-nya semata, tapi juga mencakup tahapan pemilihan bahan baku teh terbaik, tahapan pengolahannya, sampai seduhan teh terbaik ini hadir di meja, siap untuk disesap kehangatan dan juga aromanya yang menenangkan sekaligus menyegarkan.


Teh Es, Teh Manis yang Ditambahkan Es Batu sebagai Pendingin sekaligus Penyegar. Di Daerahmu Apa sebutannya, Teh Es atau Es Teh? | @kaekaha

T

Balada Ngeteh ala Urang Banjar

Memang budaya minum teh masyarakat nusantara, mungkin belum setenar budaya minum tehnya masyarakat Jepang atau Tiongkok yang literasi dan bahkan promosinya sebagai bagian dari daya tarik wisata sudah dikemas dengan baik hingga mendunia, tapi jangan salah ya! 

Jika mengacu pada kekayaan tradisi dan budaya kuliner berbagai suku-suku bangsa se-nusantara yang begitu besar, saya yakin besarnya keragaman pada ciri unik dan ciri khasnya tradisi ngeteh atau pernak-pernik seputar tradisi minum teh masyarakat Indonesia bukan sekedar isapan jempol semata! 

Terbukti, bahkan banyak daerah yang bukan penghasil teh, seperti Kalimantan Selatan dan Kota Banjarmasinnya yang berada di dataran rendah, tapi mempunyai produk teh yang populer, hingga mempunyai tradisi ngeteh yang juga autentik.

Mungkin karena minimmya literasi dan juga dokumentasi yang baik saja, hingga potensi keragaman dan kekayaan budaya ngeteh kita yang autentik masih belum terdeteksi, apalagi muncul ke permukaan sebagai destinasi pariwisata budaya dan kuliner. Salah satunya seperti yang tersurat dalam kalimat berbahasa Banjar pada pembuka artikel diatas. "Minumnya apa pian, teh es, teh dingin atau teh panas?"

Pertama kali mendengar kalimat di atas, lebih dari dua dekade silam saat pertama kali menginjakkan kaki di Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan bungas! dan marasai (mencoba; bahasa Banjar) makan di warung Banjar, tentu saja saya sempat keheranan juga mendengarnya. 

Saya yang di kampung terbiasa dengan sebutan es teh, kenapa di sini jadi teh es? Terus ada juga disebut teh dingin, teh seperti apa pula itu? Apa bedanya teh dingin dengan es teh, eh teh es yang pastinya juga dingin, kan ada es batunya? 

Satu lagi, teh panas! Ini yang tidak kalah membuat saya terkaget-kaget! Soalnya saat itu setting waktunya pada ba'da Dhuhur alias saat siang bolong lho dan cuaca Banjarmasin juga sedang panas-panasnya! Kok ditawari teh panas?


Teh Es, Teh Manis yang Ditambahkan Es Batu sebagai Pendingin sekaligus Penyegar. Di Daerahmu Apa sebutannya, Teh Es atau Es Teh? | @kaekaha


Saat itu, tentu saja langsung muncul banyak pertanyaan dalam benak saya! Tapi sejurus kemudian saya tersadar, inilah nusantara, Indonesia kita kawan! Inilah salah satu bukti keragaman tradisi dan budaya ala nusantara yang memang bukan isapan jempol semata, tapi aktual dan faktual! Persis seperti makna yang terkandung dalam sesanti desa mawa cara atau lain ladang lain belalang, lain lubuk lain pula ikannya!   

Meskipun begitu, bukan berarti rasa penasaran saya pada ketiga jenis teh ala Urang Banjar ini hilang ditelan waktu. Justeru sebaliknya, semakin membuat rasa penasaran saya pada pernak-pernik budaya Banjar terus memuncak. Apalagi dengan beragam tradisi dan budaya kulinernya yang terus menggoda!

Memang banyak versi jawaban ketika saya menanyakan asal-usul sebutan teh es untuk es teh ala Urang Banjar ini kepada berbagai kalangan, mulai dari pemilik warung yang juga menjual teh es sampai akademisi dan budayawan Banjar. 

Ini bukan mencari tahu tentang salah dan benarnya lo ya, tapi lebih kepada menggali pemahaman masyarakat terhadap kearifan lokal yang diwarisi dan dimilikinya.

Hingga akhirnya saya menemukan tiga jawaban menarik sebagai hipotesa asal-usul frasa teh es, yaitu 

Pertama, teh es memang bahasa Banjarnya dari es teh!

Kedua, teh es itu maksudnya teh (manis) yang ditambahkan es batu ke dalamnya. Untuk maulahnya (membuat;bahasa Banjar), dimulai dari membuat teh dulu baru ditambahkan es batu dan proses ini tidak bisa dibalik, makanya sebutannya adalah teh es bukan es teh!

Ketiga, frasa teh es ini sesuai kaidah hukum DM (diterangkan menerangkan) yang dicetuskan oleh Sutan Takdir Alisjahbana sebagai pembeda bahasa Indonesai dan rumpun bahasa Austronesia lainnya, termasuk bahas Banjar dengan rumpun bahasa Indo Eropa yang menganut hukum sebaliknya, MD alias menerangkan diterangkan. Teh es (DM), Ice tea (MD), nah kalau es teh?

Teh Es dengan Pemanis Gula Pasir Masih Utuh | @kaekaha

Tidak hanya itu, kisah teh dingin ala ngetehnya Urang Banjar ternyata juga tidak kalah unik dan seru lho dari teh es. Kosakota dingin dalam bahasa Banjar sebenarnya mempunyai makna yang sama dengan kata dingin dalam bahasa Indonesia. Tapi uniknya, khusus untuk frasa teh dingin ala Urang Banjar ini, ternyata maksud dan maknanya bukanlah teh yang dingin, tapi teh hangat.

Dalam tradisi aslinya, kulineran ala Urang Banjar, tidak mengenal istilah atau frasa teh hangat! Jadi kalau pas makan di warung atau rumah makan Banjar, dalam daftar menunya terdapat teh dingin atau mungkin malah ditawari teh dingin langsung sama pemilik warungnya maksudnya ya teh dengan level panas yang hangat-hangat kuku bukan teh yang dingin apalagi teh yang dingin karena ada es-nya alias es teh! Nah unik bukan?

Sepertinya  sih, asal-usul frasa teh dingin ini merupakan bentuk pembanding dari level panasnya air teh panas. Jadi teh dingin ini maksudnya teh (yang lebih) dingin (dari teh panas), bukan teh yang dingin seperti merujuk pada arti kata dasar pembentuknya.  

Tidak heran jika kemudian, khusus untuk frasa teh dingin ini sering menimbulkan perdebatan karena salah tafsir. Terlebih jika salah satu pihak  diantaranya, entah pembeli atau penjualnya adalah pendatang alias non Banjar. tapi jangan kuatir karena ujung-ujungnya pasti sama-sama senyum sendiri kok, He...he...he...  

Baca Juga Yuk! Cerita Pohon Seho, Bakar Nyala dan Gendutnya Cucur Tu ur Ma'asering di Tomohon

Untuk teh panas, saya mempunyai cerita unik yang mungkin saya sendiri juga tidak akan pernah mempercayai "kabar burung" yang menyebut Urang banjar paling suka menikmati makanan dan minuman dalam keadaan serba panas, seandainya saat itu tidak melihat dan mendengar dengan indra saya sendiri, hingga akhirnya saya bisa memahami keunikan salah satu tradisi ngeteh panas ala Urang Banjar ini.

Di suatu siang yang terik khas Kota Banjarmasin yang  gerah, saya yang lagi ngadem di sebuah warung makan tradisional khas Banjar langganan saya, benar-benar dibuat keheranan oleh beberapa pengunjung di meja tepat di depan saya yang tampak sangat menikmati sajian kuliner berkuah pedas dan panas yang didampingi dengan teman minum berupa teh panas yang benar-benar panas.

Teh Es dengan Pemanis Gula Sirup | @kaekaha

 

Darimana saya tahu, air minum pengunjung di meja depan saya benar-benar teh yang sangat panas?  Saya mengetahui dari permintaan si pengunjung kepada pemilik warung, "banyu teh panasnya nang hanyar manggurak lah!" (air teh panasnya yang baru mendidih ya!)

Uniknya, menurut si pengunjung, air teh  yang dihidangkan saat itu katanya masih kurang panas! Hingga membuat kebingungan si pemilik warung, karena menurut pemilik warung, air untuk menyeduh teh itu diambil dari pamci diatas kompor yang airnya masih mendidih.

Dari sinilah, akhirnya saya mengerti dan percaya, kalau Urang Banjar juga paling suka makan dan minum serba panas yang konon, jika dinikmati dengan cara dan teknik yang benar sangat bermanfaat bagi kesehatan dan pastinya, akan membuat penikmatnya mandi keringat sekaligus terpuaskan hajatnya. 

Pantas saja, di siang bolong yang sedang panas-panasnya, saya juga pernah dirawari pilihan minuman teh panas juga saat pertama kali makan di warung makan Banjar dua dekade silam  (BDJ311224)


Semoga Bermanfaat!

Salam matan Kota 1000 Sunagi, Banjarmasin nan Bungas!

Artikel ini juga tayang di Kompasiana pada 1 Januari 2025 jam 00:01  WIB (klik disini untuk membaca)

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN



 

Menikmati Diplomasi Rendang di Daerah Terdampak Bencana Alam

Rendang untuk Sigi Palu dan Donggala (Grafis/Foto : tribunstyle.com)
Rendang untuk Sigi Palu dan Donggala | tribunstyle.com

Bangsa dan Negara Indonesia layaknya sebuah analogi dari badan atau tubuh kita. Jika ada bagian tubuh kita yang sakit, maka bagian tubuh yang lain juga akan ikut merasakan dampak ketidaknyamanan akibat sakit yang diderita tadi. Begitu pula sebaliknya, jika ada bagian tubuh kita yang merasakan nikmat, maka anggota tubuh yang lain juga ikut merasakan relaksasi dampak dari rasa nikmat tadi.

Itu juga yang saat ini sedang terjadi! Disaat kabupaten Lombok Utara diguncang gempa bumi berkekuatan 7,0 skala Richter dan berikutnya SiPa Dongga (Kota Sigi, Palu dan Donggala) Sulawesi Tengah dilanda musibah gempa bumi 7,4 scala Richter yang diikuti terjadinya tsunami dan likuifaksi (liquefaction) yang diperkirakan menyebabkan korban jiwa lebih dari 2000 orang, di sini rasa ke-Indonesiaan semua elemen bangsa seperti mendapat mementum!

Tanpa komando dan tanpa harus menunggu lama, kesedihan dan duka dari daerah-daerah terdampak bencana dahsyat diatas secara otomatis menjalar sekaligus menyengat  rasa solidaritas  seluruh elemen bangsa di seluruh pelosok tanah air Indonesia.

Serentak, berbagai bentuk bantuan dari masyarakat dalam berbagai bentuk mulai dari uang, sembako, mie instan, lauk rendang, air bersih, obat-obatan, pakaian layak pakai, BBM bahkan sampai truk, alat berat, helikopter dan pesawat terbang mengalir menuju daaerah-daerah terdampak bencana di Lombok Utara dan SiPa Dongga.

Dari berbagai bentuk bantuan yang mengalir ke daerah terdampak bencana baik di Lombok Utara maupun ke daerah SiPa Dongga ada satu bentuk bantuan yang menarik untuk disimak sekaligus dinikmati baik obyek barangnya maupun kemanfaatannya bagi masyarakat yang mengalami bencana, yaitu keberadaan olahan lauk rendang daging sapi dan ikan tuna yang dikirim langsung oleh masyarakat Sumatera Barat melalui BNPB Sumatera Barat.

Tidak tanggung-tanggung, khusus untuk bantuan ke Lombok Utara total bantuan sekitar 1 Ton dan untuk daerah SiPa Dongga, jumlahnya lebih dari 1 ton.  

(foody.id)

Rendang si-Cita Rasa Juara!

Bagi masyarakat Indonesia, olahan rendang daging (atau apapun isiannya) hasil karya dari olah cipta, rasa dan karsa masyarakat Minangkabau Sumatera Barat ini, tentu bukanlah sesuatu yang asing. Selain sangat mudah di temui, karena setiap rumah makan Padang yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia selalu menyediakan jenis masakan yang kaya rempah ini dan yang terbaru, pemerintah Indonesia melalui Kementerian Pariwisata baru saja menetapkan rendang dan empat jenis masakan lainnya, yaitu soto, nasi goreng, sate dan gado-gado sebagai National Food atau masakan nasional Indonesia.

Sebelumnya, dari ranah internasional. Dipertengahan tahun 2017, grup media internasinal CNN lebih dulu menetapkan rendang sebagai kuliner terlezat di dunia berdasar dari survei yang mereka lakukan kepada 35.000 pembacanya di seluruh dunia.

Selain rendang, dalam urutan 10 teratas jenis makanan paling enak sedunia versi CNN tersebut, juga menempatkan Nasi Goreng diurutan ke-2 disusul berurutan oleh Sushi (Jepang), Tom Yam Goong (Thailand), Pad Thai (Thailand), Som Tam-Papaya Salad (Thailand), Dim Sum (Hongkong), Ramen (Jepang), Bebek Peking (China) dan Kari Masaman (Thailand) di urutan ke-10.

Artinya, cita rasa serta kelezatan rendang tidak hanya sekedar bisa diterima "lidah" dunia internasional tapi sudah diakui sebagai kuliner dengan cita rasa juara.

Diplomasi Rendang

Ketika masyarakat Sumatera Barat memilih rendang sebagai "kode peduli dan empati" mewakili kehadiran mereka di berbagai daerah terdampak bencana alam di Indonesia yang kini menjadi trademark  atau ciri khas dari Masyarakat Sumatera Barat ini tentu bukan tanpa alasan, maksud dan tujuan!

Dimulai dari sumbangan ke daerah bencana tsunami di Aceh 2004 sampai ke bencana kabupaten Lombok Utara yang diguncang gempa bumi berkekuatan 7,0 skala Richter dan berikutnya SiPa Dongga (Kota Sigi, Palu dan Donggala) Sulawesi Tengah dilanda musibah gempa bumi 7,4 scala Richter yang diikuti terjadinya tsunami dan likuifaksi (liquefaction). Inilah inspirasi "nendang" dari diplomasi cantik dari si cita rasa juara, rendang!

Rendang di pilih karena telah dikenal oleh masyarakat Indonesia, tidak hanya sekedar nama dan asal-usulnya semata, tapi juga cita rasanya. Ini penting! Cita rasa "juara" rendang yang relatif bisa diterima oleh lidah seluruh masyarakat Indonesia tentu akan lebih mudah untuk menggugah kembali nafsu makan saudara-saudara kita di daerah terdampak bencana yang sedang "tidak karuan rasa", sehingga dengan bangkitnya nafsu makan diharapkan mereka akan kembali mengasup asupan yang cukup sehingga akan mengembalikan stamina dan semangat untuk terus membangun kembali masa depan.

Selain soal rasa, bahan isian untuk membuat rendang yang umumnya berupa produk hewani seperti daging sapi, ayam, telor, ikan tuna, udang dll sudah barang tentu mempunyai kandungan gizi yang baik  untuk dikonsumsi masyarakat di daerah yang terdampak bencana yang karena situasi dan keadaan biasanya hanya mendapatkan asupan gizi makanan yang sangat terbatas dan tidak berimbang.

Salah satu keunikan sekaligus kelebihan rendang adalah daya tahannya yang bisa sampai 1 bulan, meskipun tanpa bahan pengawet dan perlakuan khusus. Ini sangat penting! Keunikan dan kelebihan ini menjadikan rendang sangat cocok untuk pemenuhan asupan makanan bergizi di tengah-tengah masa tanggap darurat bencana, karena lebih praktis dan tidak merepotkan dan yang terpenting tetap enak, bergizi dan tentunya aman untuk dikonsumsi. Tidak banyak kuliner olahan yang mempunyai daya tahan lama apalagi sampai 1 bulan tanpa perlakuan khusus.

Rempah-rempah untuk memasak rendang (Foto : databisnisekonomi.com)
Rempah-rempah untuk memasak rendang | databisnisekonomi.com

Olahan rendang bisa bertahan lama antara lain karena banyaknya rempah-rempah (total sekitar 16 macam) bahan baku membuat rendang yang fungsinya tidak hanya untuk penguat cita rasa semata tapi juga berfungsi sebagai bahan pengawet alami sekaligus antioksidan.  

Rata-rata rempah yang digunakan masyarakat Minangkabau untuk memasak masakan padang, mempunyai kemampuan menghambat bakteri atau antimikroba dalam mengurai makanan sehingga masakan jauh lebih awet dibanding dengan yang menggunakan rempah sedikit.

Selain karena bahan baku, lamanya proses memasak rendang yang berisi bermacam-macam rempah tersebut juga menjadikannya sebagai pengawet alami.

Jadi, sangat tepat ketika masyarakat Sumatera Barat memilih rendang yang notabene merupakan kuliner juara untuk dikirim kepada saudara-saudara di Lombok dan SiPa Dongga sebagai "kode peduli dan empati" mereka atas musibah bencana yang menimpa, setidaknya selama masa tanggap darurat.

Dengan rendang yang bisa tahan lama, setidaknya akan membantu masyarakat di daerah-daerah terdapak bencana untuk tetap bersemangat memenuhi asupan makanan bergizi tanpa harus direpotkan untuk membuat, mengolah atau sekedar menjaga agar lauk pauk tidak rusak.

Rumah Makan Masakan Padang (Foto : @kaekaha)
Rumah Makan Masakan Padang | @kaekaha

Buah Diplomasi Rendang

Dari diplomasi rendang di daerah-daerah terdampak bencana, mungkin tidak ada yang diharapkan oleh masyarakat Sumatera Barat selain saudara-saudara di daerah bencana juga  bisa tetap makan dengan nyaman dan tenang dengan rendang Padang. Karena saya yakin, Masyarakat Minangkabau di Sumatera Barat  sama seperti masyarakat Indonesia lainnya yang secara tulus dan ikhlas mengirimkan bantuan ke daerah bencana  karena "ikut merasakan sakit" yang dirasakan oleh saudara-saudara kita di daerah bencana.

Tapi, pepatah bijak berkata "Siapa menanam dia akan memetik" atau  "siapa yang menabur makan akan menuai". Meskipun masyarakat Sumatera Barat samasekali tidak berharap apa-apa dari bantuan rendang yang dikirimkan ke berbagai daerah terdampak bencana, tapi hukum alam seperti diskripsi dari pepatah bijak diatas pasti akan tetap berlaku! "Proses biasanya tidak akan mengkhianati hasil!" Inilah buah dari diplomasi rendang.

Tanpa disadari, selain pahala dari Tuhan yang tentunya melihat apa yang dilakukan oleh masyarakat Sumatera Barat, diplomasi rendang di daerah bencana merupakan pembuktian eksistensi sekaligus promosi gratis dari rendang sebagai salah satu hasil olah cipta, rasa dan karsa dari masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat. Selain itu, sekali lagi  tanpa disadari!

Secara tidak langsung pemberitaan diplomasi rendang di berbagai media merupakan promosi gratis bagi semua rumah makan Padang di seluruh Indonesia dan dunia.

Infografis tentang Rendang (Grafis : goodnewsfromindonesia.com)
Infografis tentang Rendang | goodnewsfromindonesia.com

Ketenaran olahan rendang sebagai produk dari olah cipta, rasa dan karsa dari masyarakat Minangkabau Sumatera Barat, secara khusus tentu akan semakin mendekatkan komunikasi batin antara masyarakat Minang dengan masyarakat daerah-daerah terdampak bencana dan secara umum dengan seluruh masyarakat Indonesia. Sehingga, pada gilirannya nanti akan tercipta harmoni diantara sesama anak bangsa karena adanya ikatan batin yang kuat yang dibangun dari rendang!

Selain memberi feedback positif untuk rendang dan masyarakat Minangkabau, Sumatera Barat sendiri, kesuksesan diplomasi rendang di berbagai daerah terdampak bencana tentunya akan  menginspirasi semua elemen bangsa untuk bisa mengikuti jejak masyarakat Minangkabau dan Sumatera Barat  untuk mengeksplorasi berbagai kearifan lokal daerah masing-masing, khusunya untuk kuliner. 

Saya yakin di negeri yang kaya rempah dan mempunyai catatan ragam kuliner terbanyak di dunia seperti Indonesia, masih banyak jenis olahan kuliner daerah yang paling tidak mempunyai ketahanan (syukur-syukur juga kenyamanannya) setara dengan rendang Padang, sehingga suatu saat nanti mungkin juga bisa berdiplomasi di daerah-daerah terdampak bencana.

Paket Rendang yang siap dikirim ke daerah bencana (Foto : republika.co.id)
Paket Rendang yang siap dikirim ke daerah bencana | republika.co.id