Tampilkan postingan dengan label Bakul Purun. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bakul Purun. Tampilkan semua postingan

Senin, 17 Maret 2025

Hampers Bakul Purun untuk "Green Ramadan" yang Lebih Berkah

 

Hampers Bakul Purun untuk "Green Ramadan" yang Lebih Berkah |@kaekaha 

Setiap entitas budaya di seluruh pelosok nusantara pasti mempunyai produk budaya yang menjadi ciri khas yang akhirnya menjadi semacam trade mark ataupun identitas yang melekat dan dikenali secara umum oleh masyarakat luas. Wujudnya bisa sangat beragam, salah satunya bisa jadi dipengaruhi kondisi alam dan lingkungannya.

Begitu juga dengan masyarakat suku Banjar di Kalimantan Selatan yang dikenal luas dengan budaya sungai atau rawa-nya, karena sebagian luas wilayahnya yang memang berupa ekosisten rawa. Hal menjadikan bayak produk budaya masyarakat suku Banjar yang berbasis pada hasil sungai atau rawa. 

Salah satunya yang sedang naik daun adalah produk kerajinan tas tangan atau kantongan tradisional serbaguna berbahan dasar sejenis "rerumputan" yang unik, cantik, tahan lama dan pastinya ramah lingkungan yang biasa disebut sebagai bakul Purun.

Baca Juga Yuk! "Basambang" di Rawa-rawa, Bersama Julak Mamutiki Iwak

Merujuk pada namanya "bakul purun", bahan untuk membuat tas tangan tradisionalnya Urang Banjar ini adalah tanaman purun, khususnya jenis  purun danau (Lepironia articulata Retz), yaitu tumbu-tumbuhan sejenis rumput-rumputan yang masih keluarga dekat dari rumput teki-tekian yang habitat aslinya di rawa-rawa atau di tepian danau.

Pemanfaatan tanaman purun dalam tradisi budaya masyarakat Banjar, tidak hanya diolah menjadi bakul purun saja tapi juga diolah menjadi berbagai macam kerajinan tangan cantik nan estetik yang sudah pasti bernilai ekonomi lumayan tinggi sebagai pernak-pernik souvenir, seperti tikar, topi, hiasan dinding, kotak tisu, bahkan juga sedotan.

Bakul purun, tas tangan atau tas jinjing serbaguna berbahan alami hasil kerajinan tradisional khas Banjar ini sangat lekat dengan aktifitas sehari-hari Urang Banjar, jauh sebelum kantongan plastik atau tas kresek yang terlanjur menjadi bagian dari budaya pop masa kini hadir dan akhirnya begitu kuat mencengkeram peradaban kehidupan kita semua.

Bakul Purun |@kaekaha

 

Sayangnya seiring dengan perjalanan waktu, bakul purun lebih identik sebagai wadah jintingan atau tas bawaan acil-acil (bibi-bibi;bahasa Banjar) para pedagang di pasar atau setidaknya ibu-ibu yang hendak berbelanja ke pasar, juga amang-amang (paman;bahasa Banjar) yang pergi maunjun atau memancing untuk wadah ikan atau jualan tapai (tape;ahasa Banjar) keliling. 

Saat itu, secara kultural bakul purun seperti terdegradasi ke level titik terendah, sulit naik kelas untuk bersaing dengan produk tas plastik ataupun produk kerajinan yang mirip-mirip, sejenis dan serupa yang datang entah dari mana. . 

Beruntung, seiring dengan tren isu seputar lingkungan yang akhir-akhir ini gaung dan pengaruhnya terhadap beberapa kebijakan publik mulai terasa membaik, berpengaruh terhadap  kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap kelestarian alam, terutama terkait penggunaan kantongan plastik.

Seperti mendapatkan berkah dari kepedulian masyarakat terhadap kelestarian lingkungan yang berangsur terus membaik, bakul purun sekarang selayaknya gadis cantik yang sedang ranum-ranumnya, siapapun ingin datang untuk memetiknya. 

Baca Juga Yuk! Bisa Kok "Nggak Nyampah" Sejak dalam Pikiran, Ini Caranya! 

Sekarang, banyak Urang Banjar yang sudah kembali tersadar, kembali pulang kepada alam dan memulai lagi untuk  memanfaatkan bakul purun sebagai kearifan lokal warisan leluhur yang tidak kalah cantik, unik, ekonomis, praktis dan tentunya tetap bisa dipakai untuk ngeksis ini!

Fenomena ini menemukan momentumnya, ketika instansi-instansi pemerintahan  dan juga perusahaan-perusahaan di Kalimantan Selatan kembali menggunakan kantongan tradisional tahan lama ini untuk kemasan pembagian daging kurban dan juga bingkisan ramadan ataupun lebaran, sejak beberapa tahun terakhir.

Hampers Ramadan Bakul Purun | @kaekaha

 

Menariknya lagi, sejak itu juga banyak penjual hampers dan parcel di seputaran Kalimantan Selatan yang mulai mengemas barang-barang untuk bingkisan ramadannya dalam bakul purun dan mulai meninggalkan keranjang berbahan rotan yang juga semakin mahal dan susah ditemukan lagi. Ini kabar baik yang patut disyukuri oleh semua pihak! 

Derasnya pesanan bakul purun sudah pasti akan menggerakkan ekonomi masyarakat dari hulu seperti petani purun sampai ke hilir, yaitu perajin dan penjual kerajinan bakul purun. Kerennya, sekarang bentuk dan ukuran bakul purun juga semakin variatif dan terus berkembang, tidak terpatok pada produk osrisinilnya saja. 

Pesanan dalam bentuk costumize alias pesanan khusus dengan dimensi ukuran dan juga bentuk yang biasanya lebih khusus dan personal, sehingga menjadi jauh lebih ekslusif, sepertinya semakin digemari oleh masyarakat. Meskipun, secara detail ciri unik dan estetik khas  kerajinan tangan tradisional tetap dipertahankan.

Baca Juga Yuk! Menu Baru dan Keluarga Baru, "Insight" Buka Puasa Seru di Pedalaman Kalimantan

Tren pemanfaatan bakul purun sebagai upaya untuk ikut menjaga kelestarian alam sekaligus melestarikan kearifan lokal,  budaya luhur asli warisan leluhur, sejak beberapa tahun terakhir juga mulai populer di lingkungan  komplek tempat saya tinggal di pinggiran kota 1000 Sungai untuk berbagai keperluan, termasuk untuk hampers Ramadan kali ini.

Luar biasanya, ternyata multiplayer effect dari kembalinya kita-kita menggunakan bakul purun dalam berbagai aktifitas sehari-hari, terbukti tidak hanya membantu mereduksi sampah plastik, sekaligus melestarikan keberadaan kantongan serbaguna nan tahan lama alias tas tradisional super keren itu saja lho!

Tapi juga ikut memberdayakan perekonomian masyarakat lokal di sepanjang rantai pasok bakul purun berjalan plus ikut melestarikan ekosistem tanaman purun danau di sekitar rawa-rawa lebak yang  juga menjadi "rumah" bagi ikan dan berbagai satwa endemik rawa-rawa lainnya untuk berkembang biak dan bertumbuh. Keren kan!?

Yuk, ikutan mengemas hampers dengan bakul purun teman-teman, kita jadikan Ramadan kita kali ini sebagai green ramadan agar lebih berkah dan bermanfaat untuk kita dan seluruh alam. (BDJ17325)

Semoga Bermanfaat!

Salam Matan Kota 1000 Sungai,
Banjarmasin nan Bungas!

Artikel ini juga tayang di kompasiana pada 17 Maret 2025 jam  23:00   (Klik disini untuk membacanya)

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN



Selasa, 02 April 2024

Hampers Bakul Purun, Berbagi Berkah Ramadan Unik dan Ramah Lingkungan

Bingkisan Lebaran Bakul Purun | @kaekaha

Masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan mempunyai produk kantongan tradisional serbaguna berbahan “rerumputan” yang unik, cantik, tahan lama dan pastinya ramah lingkungan yang biasa disebut sebagai bakul Purun.

Sesuai namanya “bakul purun”, bahan untuk membuat kantongan atau tas tradisional ini adalah purun atau ada juga yang menyebutnya sebagai purun danau, tumbuhan sejenis rerumputan yang masih keluarga dari rumput teki-tekian yang berhabitat di rawa-rawa dan juga di tepian danau.

Sebagai salah satu produk kerajinan tradisional khas Banjar,  kantongan serbaguna ini sangat lekat dengan aktifitas sehari-hari Urang Banjar, jauh sebelum kantongan plastik yang terlanjur menjadi bagian dari budaya pop masa kini hadir dan begitu kuat mencengkeram peradaban kehidupan kita semua.

Hampers untuk Bingkisan Lebaran Sederhana tapi Kena | @kaekaha

Selain dibuat menjadi bakul purun di lingkungan masyarakat Banjar, tanaman purun juga bisa diolah menjadi berbagai macam kerajinan tangan cantik full estetik dan pastinya bernilai ekonomi cukup tinggi, seperti tikar, topi, hiasan dinding, kotak tisu, bahkan juga sedotan.

Beruntung, kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap kelestarian alam, terutama terkait penggunaan kantongan plastik, sejauh ini berangsur membaik dan sebagai gantinya, Urang Banjar sekarang sudah banyak yang memulai untuk  kembali memanfaatkan kearifan lokal warisan leluhur yang tidak kalah ekonomis, praktis dan tentunya tetap bisa dipakai untuk ngeksis ini!

Bakul Purun Tradisional Banjar | @kaekaha

Sejak beberapa tahun terakhir, bakul purun kembali populer setelah acara-acara besar seperti pembagian daging kurban dan juga bingkisan lebaran dari instansi dan juga perusahaan-perusahaan di Kalimantan Selatan kembali menggunakan kantongan tradisional tahan lama ini.

Kerennya lagi, sejak itu juga banyak penjual hampers yang mengemas barang-barangnya dalam bakul purun, baik yang original maupun yang costumize alias pesanan khusus dengan dimensi ukuran dan juga bentuk yang biasanya lebih khusus dan personal, sehingga menjadi jauh lebih ekslusif, tanpa harus meninggalkan ciri unik dan estetik khas  kerajinan tangan tradisional.

Bakul Purun Berhias Pita | Tokopedia.net

Karena itu juga, karena ingin juga ikut menjaga kelestarian alam sekaligus melestarikan kearifan lokal,  budaya luhur asli warisan leluhur, sejak beberapa tahun terakhir juga, setiap berkesempatan berbagi rejeki dengan orang lain di hari raya, warga komplek tempat tinggal  kami juga mengemasnya dengan bakul purun.

Tahukah anda, ternyata multiplayer effect dari kembalinya kita-kita menggunakan bakul purun dalam berbagai aktifitas sehari-hari, tidak hanya sekedar melestarikan keberadaan kantongan alias tas tradisional super keren itu saja lho! 

Tapi juga ikut memberdayakan perekonomian masyarakat lokal plus melestarikan ekosistem tanaman purun di sekitar rawa-rawa Lebak disekitar rumah yang ternyata juga menjadi "kandangnya" ikan untuk berkembang biak. Keren kan!?

Semoga Bermanfaat! 

Salam Matan Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas!

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | @KOMBATAN