Minggu, 31 Maret 2024

Balai Hakey, Saksi Bisu Tradisi Toleransi Berusia Ratusan Tahun

Ilustrasi Rumah Adat Dayak | @kaekaha

Jauh sebelum Kesultanan Banjar berdiri di abad ke-16, bahkan sebelum  kerajaan Nagara Dipa dan Kerajaan Daha cikal bakalnya ada, masyarakat suku Ma’anyan, salah satu sub suku Dayak, telah mempunyai peradaban yang cukup maju berikut tata pemerintahan sendiri yang kelak dikenal dalam sejarah sebagai Kerajaan Nan sarunai.

Sayang, kerajaan yang eksis sejak jaman prasejarah hingga sekitar abad ke-14 di Pulau Kalimantan  ini akhirnya bubar setelah diluluh lantakkan oleh serangan armada Majapahit, hingga masyarakat suku Ma’anyan akhirnya terdiaspora.

Dikisahkan dalam tradisi lisan masyarakat Suku Ma’anyan sendiri, pasca terdiaspora ini, munculah tokoh legendaris Labai Lamiah, seorang mualaf sekaligus mubaligh atau pendakwah asli putra Dayak Ma’anyan pertama yang berdakwah di seputaran wilayah Nagara yang sekarang masuk ke wilayah Kabupaten Hulu Sungai Selatan, Kalimantan Selatan.

Dari dakwah Labai Lamiah inilah masyarakat Suku Ma’anyan, khususnya yang tinggal di seputaran Banua Lawas atau sekarang dikenal sebagai kawasan Pasar Arba, tidak jauh dari Kecamatan Kalua, Kabupaten Tabalong akhirnya secara mayoritas memeluk agama Islam.

Dalam perjalanannya, karena orang-orang Ma’anyan muslim ini memerlukan tempat ibadah untuk melaksanakan shalat 5 waktu, maka akhirnya Balai Adat orang Ma’anyan di kawasan ini dialih fungsikan menjadi masjid yang sampai sekarang masih ada dan dikenal sebagai masjid pusaka Banua lawas.

Orang-orang Ma’anyan muslim inilah yang kelak disebut hakey oleh saudara-saudara mereka, masyarakat Ma’anyan yang masih memeluk keyakinan lama mereka.

Asal-usul sebutan hakey yang juga disematkan kepada Orang-orang Islam yang menjadi utusan dari Kesultanan Banjar dalam upacara Ijambe, upacara kematian khas Suku Ma’anyan juga cukup unik lho!

Awalnya, para utusan yang beragama Islam ini, dengan sopan menolak untuk menyantap hidangan tradisional yang disajikan oleh tuan rumah yang sebagian besar memang berbahan daging babi dan juga unggas yang sudah pasti tidak disembelih sesuai tuntunan dalam Islam, sehingga orang Islam tetap dilarang untuk memakannya.

Selain itu, melalui ketua utusan, mereka juga menjelaskan secara detail larangan dari syariat Islam untuk ikut menikmati sajian adat tersebut.

Beruntungnya, dilingkungan adat masyarakat Ma’anyan sendiri sudah ada yang muslim juga, hingga dari situasi ini kelak justeru lahir tradisi penuh toleransi yang kelak juga kita kenal sebagai balai hakey.

Tetua adat Suku Ma’anyan yang mendengar penjelasan langsung dari para utusan dari Kesultanan Banjar dan juga masukan dari muslim Ma’anyan sendiri langsung berkata “O ... hakahiye sa!” yang maknanya “O ... begitukah!”.

Dari sinilah, istilah hakey akhirnya tersematkan kepada semua muslim, baik utusan dari kesultanan Banjar, maupun juga orang Dayak Ma’anyan yang telah bersyahadat alias sudah beragama Islam.

Tidak hanya itu, sejak saat itu juga, tetua adat suku ma’anyan memerintahkan dibangunnya balai hakey di setiap penyelenggaraan acara-acara adat besar yang mengundang hakey.

Balai Hakey adalah bangunan rumah besar yang dibangun khusus untuk masyarakat muslim, baik dari kalangan suku Maanyan sendiri maupun Suku Banjar yang yang hadir dalam acara-acara adat besar seperti upacara ijambe, tewah dan aruh ganal atau kenduri besar lainnya.

Di balai hakey, masyarakat muslim diberikan fasilitas lengkap dan layak, termasuk tempat ibadah, alat memasak khusus dan tentunya bahan makanan halal yang bisa dimasak sendiri kapan saja, sehingga kehalalannya pasti bisa dipertanggungjawabkan. Luar biasa bukan?

Memang harus diakui, lahirnya orang hakey menjadikan suku Ma’anyan tidak lagi satu, mereka terbelah menjadi dua bagian besar. Uniknya, sebagian besar yang memilih menjadi muslim, mereka semuanya melebur dalam status baru, sebagai Urang Banjar.

Sedangkan sebagian besar lainnya lagi lebih memilih untuk tetap melanjutkan tradisi keyakinan serta adat istiadat nenek moyangnya.

Nah, Mmasyarakat Ma’anyan yang memilih tetap dalam keyakinan leluhur ini, akhirnya juga memilih untuk sedikit menjauh ke daerah baru di tepian Sungai Siong, bagian Barat Daya kawasan Tamiang Layang yang sekarang masuk wilayah Kalimantan Tengah.

Luar biasanya! Meski orang Ma’anyan ini memilih untuk menjauh dari saudara-saudara hakey-nya, mereka, tetap intens untuk menjaga tali silaturahmi dan tali kekerabatan dengan saudara-saudaranya yang sekarang telah bertransformasi menjadi entitas baru dan lebih dikenal sebagai Urang Banjar tersebut.

Persaudaraan Orang Ma’anyan dengan kerabat hakey tetap terjalin baik. Bahkan, banyak tercatat dalam sejarah Banjar maupun tradisi lisan Orang Ma’anyan, beberapa Sultan yang memerintah Kesultanan Banjar dan juga keturunannya kelak banyak yang kawin-mawin dengan para pembesar Orang Ma’anyan, menjadikan tali temali persaudaraan diantara mereka justeru terjalin semakin kuat.

...dan Balai Hakey sejak berabad-abad silam, sejak beratus-ratus tahun lalu, telah menjadi saksi bisu kuatnya ikatan persaudaraan mereka yang didasarkan pada konsep toleransi yang sangat kuat hingga detik ini.

Kehadiran tradisi bertoleransi dalam wujud balai hakey, sampai detik ini dan seterusnya Insha Allah akan tetap aktual, karena sampai saat ini masih bisa dilihat, terutama di Kecamatan Paju Epat, Kabupaten Barito Timur, Kalimantan Tengah saat penyelenggaran even besar seperti aruh ganal dan lainnya guna menginspirasi dunia, bagaimana bertoleransi yang adil dan proporsional di daerah.

Semoga bermanfaat!

Salam matan Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas!




 

Sabtu, 30 Maret 2024

Seperti Toilet, Gunakan Medsos Kalau Benar-benar Perlu Saja!


 

Media Sosial |@geotimes.id

Menurut data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), pengguna internet Indonesia tahun 2024 mencapai 221.563.479   individu pengguna. Angka ini setara 79,5% dari total populasi penduduk Indonesia yang berjumlah 278,7 juta orang.

Dari total 221 juta lebih pengguna internet di Indonesia tersebut, rata-rata berinternetan sekitar 7 jam 38 menit, dimana hampir separuhnya atau sekitar 3 jam 11 menit dipakai untuk bermedia sosial di 7,8 platform berbeda tiap bulannya.

Luar biasanya, jika dirata-rata dalam satu bulan masyarakat Indonesia menghabiskan waktu 38 jam 26 menit untuk mengakses tik tok, 31 jam 28 menit untuk YouTube, 16 jam 10 menit untuk IG, 12 jam 56 menit untuk Facebook, 6 jam 26 menit di X/Twitter dan 1 jam 26 menit untuk mengakses Pinterest.

Total angka waktu ini, durasinya jelas lebih panjang dibanding dengan waktu yang dihabiskan untuk mengakses TV dan radio, yang masing – masing durasinya hanya 2 jam 41 menit dan 32 menit saja.

Artinya, sejauh ini internet telah menjadi media hiburan dan informasi terfavorit masyarakat Indonesia.

Melihat sajian faktual angka-angka dari data statistik penggunaan dan pemanfaatan internet dan media sosial masyarakat Indonesia diatas, sepertinya kita akan bertanya-tanya sendiri, masak iya selama itu kita main medsos!? Selain pertanyaan ini normal nggak sih?

Data yang tersaji diatas adalah data rata-rata, artinya durasi yang sebenarnya terjadi di lapangan bisa lebih dan bisa juga kurang dari angka yang tersaji.

Nah untuk pertanyaan normal atau nggak, jawabannya sudah pasti bisa iya bisa juga tidak, karena seperti yang kita pahami bersama, pemanfaatan media sosial saat ini tidak hanya sekedar sebagai etalase untuk self branding pemilik akunnya semata, tapi banyak juga yang memang benar-benar menjadi etalase untuk berjualan berbagai produk.

Artinya, kebutuhan durasi masing-masing pengguna untuk  mengakses media sosial tentu berbeda-beda. Antara yang sekedar mencari hiburan, tentu beda dengan pengguna yang menjadikan medsos sebagai etalase berjualan beragam barang kreatif.

Memang sih melihat kecenderungannya, sebagian besar dari kita masih banyak menjadikan medsos lebih sebagai hiburan daripada sebagai media strategis untuk aktifitas produktif, dengan berjualan atau usaha sejenis lainnya.

Uniknya, secara umum masyarakat nusantara sejauh ini terlihat masih welcome dengan fenomena semakin massive-nya pemanfaatan internet dan medsos yang semakin mencengkeram kehidupan masyarakat Indonesia.

Lantas bagaimana seharusnya kita menyikapi situasi ini!?

Kehadiran internet dan media sosial merupakan sebuah keniscayaan yang mustahil untuk kita abaikan apalagi kita tolak.

Selayaknya perkara muamalah lainnya, internet dan media sosial pasti selayaknya pisau bermata dua yang disaat bersamaan bisa dipakai untuk berbuat keburukan dan berbuat baik.  ini sangat bergantung pada kebijaksanaan pemakainya masing-masing.

Meskipun begitu, kita mempunyai kaidah umum yang bisa dipakai sebagai alat kontrol pemanfaatan internet dan media sosial. Apa dan bagaimana itu? Internet dan media sosial bisa kita nisbatkan sebagai alat atau bisa juga tempat.

Sebagai alat kita bisa membandingkannya dengan gergaji, palu, cangkul atau jenis alat lainnya.

Logikanya begini, kita akan mengakses atau mengambil gergaji kalau kita memang memerlukannya untuk menggergaji kayu saja, begitu juga sebaliknya! 

 Ya lucu, kalau kita nggak perlu gergaji untuk menggergaji sesuatu, tiba-tiba kita ambil gergaji dan menentengnya kemana-mana!?

Begitu juga dengan smartphone! Seharusnya kita mengaksesnya, termasuk internetan dan aplikasi medsosnya sebatas kalau kita memang perlu saja!

Masih kurang mantap? Kita bisa juga memanfaatkan analogi  toilet. Bukankah  kita ke toilet kalau perlu saja? Mustahil kita ke toilet Cuma mau main doang? 

Begitu juga dengan acara kita mengakses internet dan media sosial, pakai saja kalau kita memang benar-benar perlu memakai dan segera tinggalkan ketika selesai memakainya.

Semoga bermanfaat 

Salam Matan Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas!

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | @kaekaha








Jumat, 29 Maret 2024

30 Menit untuk Bugar Berpuasa

Pentingnya Olahraga di Bulan Puasa | @kaekaha

Selama ramadan, selain memaksimalkan beragam amaliyah ruhaniah, Rasulullah SAW tetap “adil” memberikan hak kepada tubuh dengan berolahraga secara teratur dan cukup agar tetap sehat dan bugar.

Referensi hadis-hadis sahih menyebutkan, Rasulullah SAW  memang gemar berolahraga, sekaligus menganjurkan umatnya untuk membiasakan beberapa jenis olahraga berikut, yaitu jalan kaki, memanah, anggar, gulat, berenang, dan berkuda.

Nah, karena di bulan puasa situasinya berbeda dengan hari biasa, menurut Praktisi kesehatan olahraga dari Slim and Health Sports Therapy, dr Michael Triangto, SpKO, sebaiknya olahraganya sore hari.


Ini untuk menghindari afterburn effect atau EPOC (Excess of Post Exercise Oxygen Consumption), yaitu aktivitas pembakaran kalori pasca beraktivitas, saat tubuh menuju fase istirahat yang bisa menyebabkan dehidrasi.

Bisa juga sih, olahraganya pagi hari setelah shalat Subuh, asalkan dilakukan dengan  intensitas yang terukur, tidak terlalu lama dan tidak terlalu berat atau menyesuaikan dengan kebiasaan, kebutuhan serta kemampuan fisik  masing-masing.  

Terpenting, tidak mengganggu ibadah puasanya dan cukup memberikan kebugaran pada  tubuh, syukur-syukur olahraga yang kita pilih jenis olahraga yang disunnahkan oleh Rasulullah SAW di atas. Masha Allah!

Setidaknya olahraga 30 menit sampai satu jam pada pagi dan atau sore cukup untuk memperlancar sirkulasi peredaran darah dan tetap menjaga berlangsungnya pembakaran kalori meskipun dalam skala terkecil, sehingga metabolisme tubuh tetap berjalan dengan baik.

Di pagi hari, setelah turun dari masjid, olahraganya  bisa jalan kaki atau bersepeda keliling komplek atau jalan-jalan ke pasar, sekalian untuk membeli sayur dan buah-buahan untuk buka puasa nanti.

Olahraga Ringan Sesuai Kemampuan dan Kebutuhan | @kaekaha

Bagi yang punya kebun, bisa sambil jalan ke kebun memetik buah atau sayur apa saja untuk bekal buka puasa.

Tapi kalau lebih suka olahraga statis alias di rumah-rumah saja, bisa kok dengan melakukan senam-senam cantik seperti  video di atas.

Semoga bermanfaat! 

Salam Matan Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas!

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN



 

Kamis, 28 Maret 2024

Bersiwak, Meraih Keridhaan Allah SWT untuk Kesehatan Mulut dan Imun Tubuh

 

Bersiwak | klikdokter.com

Bau mulut sering menjadi sumber masalah bagi sebagian banyak umat yang sedang menjalankan ibadah puasa.

Selain bisa menjadi indikator gangguan kesehatan, bau mulut jelas akan memberi masalah besar ketika si empunya harus berkomunikasi secara langsung dengan orang lain.

Tidak hanya itu, bahkan dalam dimensi ibadah, dalam sebuah hadisnya Rasulullah SAW  menyebut bahwa malaikat juga terganggu dengan bau mulut, hingga melarang umatnya yang memakan makanan berbau tajam untuk shalat di masjid.

“Barangsiapa makan bawang putih atau bawang merah, maka janganlah ia mendekati masjid kami dan hendaklah ia shalat di rumahnya, karena sesungguhnya para malaikat itu juga terganggu dengan apa-apa yang mengganggu manusia” [Al-Bukhari, kitab Adzan 854, Muslim, kitab Al-Masajid 564]

Lantas bagaimana sebaiknya mengelola kesehatan mulut agar dimensi sosial dan ibadah kita bisa berjalan beriringan dengan baik!?

Sejak 1400-an tahun silam Rasulullah SAW telah mengajarkan kepada kita salah satu amalan sunnah yang paling disukai beliau, yaitu bersiwak. 

“Siwak merupakan kebersihan bagi mulut dan keridhaan bagi Rabb“. [Hadits shahih riwayat Ahmad, Irwaul Ghalil no 66). [Syarhul Mumti’ 1/120 dan Taisir ‘Alam 1/62]

Dari hadis diatas, secara tersurat Rasulullah memberi petunjuk, bahwa bersiwak bermanfaat untuk menjaga kesehatan mulut dan belakangan, ilmu kesehatan modern secara sains tidak hanya membuktikan itu saja, tapi juga meningkatkan sistem imun pada tubuh.

Menurut Dosen Spesialis Medikal Bedah, PhD Lincoln College University Malaysia, Prima Trisna Aji, bersiwak selayaknya 

 yang mempunyai 3 manfaat sekaligus bagi yang  rutin menjalaninya, yaitu menjaga kesehatan, meningkatkan sistem imune dan (ittiba kepada Rasulullah SAW yang pasti berujung pada) keridhaan dan keberkahaan dari Allah SWT.

Sebegitu hebatnya Manfaat Bersiwak?

Dalam penelitian ilmiah modern, Siwak (Salvadora persica) terbukti mengandung beberapa senyawa aktif yang manfaatnya tidak sekedar untuk membersihkan gigi dan mulut secara alami saja, termasuk mencegah plak gigi hingga meningkatkan kesehatan gusi, tapi juga mendukung kinerjanya dalam meningkatkan kesehatan gigi dan mulut.

Sebut saja senyawa resin yang bisa membentuk lapisan pada area sekitar enamel sebagai pelindung gigi dari karies. Sedangkan Silika, selain memiliki efek memutihkan gigi juga bisa melawan plak, juga Asam tanat atau tanin, untuk mengurangi perkembangan plak dan radang gusi

Ada juga Alkaloid dan Belerang yang antibakteri dan antijamur, Kalsium mineral penguat enamel gigi, Sodium bicarbonate, pemutih gigi alami dan Vitamin C, untuk perbaikan jaringan dan mencegah kerusakan gigi serta mulut.

Tidak hanya itu, siwak juga mengandung Fluorida dan klorida, penyuplai mineral pada gigi, sekaligus penjaga kebersihan mulut, sedangkan minyak atsirinya,  memberi aroma segar guna menetralisir bau mulut dan juga merangsang produksi air liur.

Banyaknya senyawa bermanfaat dalam batang siwak, secara utuh jelas akan memberikan manfaat luar biasa kepada semua yang membiasakan diri memakainya untuk bersiwak.

Pengalaman saya pribadi, sejauh saya memanfaatkan kayu siwak untuk bersiwak, saya melakukannya lebih karena ittiba kepada Rasulullah SAW atau karena saya ingin mengikuti Sunnah beliau. Karena bagi umat Islam, apa saja yang datang dari Rasulullah SAW, pasti baik dan akan terbukti baik.

Sunnah yang dimaksud termasuk cara menggunakannya dan juga waktu-waktu terbaik penggunaannya.

Sedangkan banyaknya manfaat yang dikandung, termasuk sifatnya yang antikarsinogenik dan analgesik, Insha Allah atas ijin Allah akan saya dapatkan semuanya, karena saya meyakininya.

Tapi meskipun begitu, untuk memaksimalkan kesehatan mulut dan gigi di sepanjang bulan Ramadhan, saya tetap tidak meninggalkan kebiasaan-kebiasaan hidup sehari-hari yang mendukung kerja siwak, seperti cukup minum air putih, menghindari makanan yang berbau tajam, banyak makan buah dan sayur segar dan sehat, berhenti merokok dan sikat gigi dengan baik dan benar.

Semoga Bermanfaat! 

Salam matan Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas!

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN






Rabu, 27 Maret 2024

Tidak Alasan untuk Tidak Bersenang-senang dengan Buku Kesayangan!

Buku Kesukaan Saya |@kaekaha

Secara prinsip sebenarnya tidak ada perubahan yang signifikan dari aktivitas saya di bulan ramadan dengan hari-hari biasa diluar ramadan, kalaupun ada mungkin lebih kepada penyesuaian dengan pola geser-menggeser waktunya saja.

Begitu juga dengan salah satu aktifitas hobi saya dari kecil yang telah bertransformasi menjadi kebutuhan bagi saya, membaca. Membaca apa saja!

Awalnya sih, saya paling suka baca komik dan buku cerita, hingga akhirnya merembet ke koran, majalah dan tentunya buku, hingga sekarang saya merasa perlu mengkoleksi koran terbitan dari berbagai daerah dan negara, juga beberapa majalah Indonesia yang sudah tidak terbit lagi.

Sedangkan untuk buku, tentu saja saya hanya membeli dan membaca buku yang saya sukai, yaitu buku-buku yang bertema sosial budaya Nusantara dan dunia.

Inilah teman saya bersuka ria setiap harinya, termasuk di bulan Ramadan seperti sekarang.

Contoh buku kesukaan saya adalah karya-karya Baharuddin Aritonang, Orang Batak Naik Haji dan Orang Batak Berpuasa, Folklor Madura karya Emha Ainun Nadjib, Manusia Bugis karya Christian Pelras, Orang Bajo Pengembara Laut karya Francois-Ribert Zacot dan banyak lagi lainnya.

https://assets.kompasiana.com/items/album/2024/03/27/img-20240327-wa0006-660442d2de948f4d176882f2.jpg?t=o&v=770
Sebagian Novel "Unik" Saya | @kaekaha

Setiap pagi, saya biasakan membaca koran terbitan lokal Banjarmasin sampai habis. Inilah salah satu me time terbaik saya dengan ditemani secangkir kopi tubruk pahit dan kental, tanpa rokok karena saya memang sudah berhenti sejak 7 tahun silam.

Selebihnya, selain berusaha berteman dengan buku bacaan bertema sosial, seni dan budaya di setiap waktu longgar saya, (kebiasaan saya memang selalu membawa buku bacaan kemana saja saya pergi) saya juga masih suka baca komik dan buku cerita, termasuk novel-novel cakep dengan latar belakang geografi yang jelas dan tradisi budaya masyarakat Nusantara.

Novel-novel kesukaan saya seperti Desersi-M.T.H. Perelaer, Khatulistiwa-ES Murdani, Pesan dari Sambu-Tasmi P.S, Anak Bakumpai Terakhir-Yuni Nurmalia, Jalan Lain ke Tulehu-Zen RS, Gemblak-Enang RA sampai Giganto karya Koen Setyawan yang bercerita tentang primata raksasa dari Kalimantan.

Ada yang kenal dengan novel-novel diatas?

Mungkin anda akan bertanya kenapa saya suka dengan buku dan juga novel berlatar budaya?

Alasannya, dengan membacanya saya serasa ikut berada di berbagai daerah yang ditulis dan diceritakan dalam buku atau novel tersebut, sehingga bisa ikut menikmati vibes dari  lingkungan daerah-daerah tersebut, sekaligus suasana yang terbentuk di setiap scene-nya!

Dengan begitu, setidaknya cita-cita saya untuk keliling Indonesia dan melihat dengan mata kepala sendiri keaneka ragaman seni budaya Nusantara bisa dicicil dulu...he...he...he...

https://assets.kompasiana.com/items/album/2024/03/27/img-20240327-wa0005-1-66044318de948f44aa1c4d09.jpg?t=o&v=555
Alquran Buku Kesayangan | @kaekaha

Naaaah ini yang spesial di bulan Ramadan! Di bulan yang penuh berkah ini, umat Islam dianjurkan untuk memperbanyak membaca dan mentadabburi Alquran, buku kesayangan kita semua, umat Islam di seluruh penjuru dunia, bahkan karenanya juga dianjurkan untuk mengkhatamkannya minimal sekali dalam Ramadan.
Inilah buku kesayangan saya, teman saya Bersenang-senang setiap harinya, terlebih di bulan Ramadan seperti sekarang.

Saya selalu berusaha untuk mengkhatamkannya minimal sekali selama Ramadan. Mau tahu caranya nggak? Mudah kok tinggal niat, lakukan dan nikmati saja!

Ini ilustrasi mudahnya! Alquran terdiri dari 30 juz atau bagian, dimana setiap juz-nya terdiri dari 20 halaman atau 10 lembar.

Nah kalau targetnya mengkhatamkan 1 kali selama ramadan, tinggal dibagi saja!

Kalau 1 juz 10 lembar, berarti 30 juz 300 lembar, maka perhari harus membaca 10 lembar atau 1 juz.

Ini bisa di break down menjadi, 10 lembar dibagi menjadi 5 (waktu shalat/hari), sehingga setiap sebelum atau sesudah shalat wajib, harus konsisten untuk membaca Alquran setidaknya 2 lembar sebelum atau sesudah shalat 5 waktu.

Alquran inilah buku kesayangan, teman saya bersenang-senang di sepanjang Ramadan.

Semoga bermanfaat? 

Salam matan kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas!

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | KOMBATAN


Artikel ini juga tayang di Kompasiana pada 7 Maret 2024   jam  23:06  WIB (klik disini untuk membaca) dalam rangka mengikuti leven THR Ramadan Kompasiana 2024 dan dan Alhamdulillah menjadi "pemenang Challenge Topik Misteri" dengan reward keren! Voucher Belanja Gramedia senilai 150 ribu!  

oucher Belanja Gramedia senilai 150 ribu



 

Minggu, 24 Maret 2024

Main Musik Sehatkan Badan, Memang Asyik Berpantun Ramadan

Menikmati Dzikir Ramadan


Berdayung sampan memanglah lelah

Semakin jauh sehatlah badan

Layaklah berucap Alhamdulilah

Takdir Kita Jumpa ramadan


Arah ke hulu airnya berbusa

Laju perahu apalah dibawa

Ramadan tiba saatnya berpuasa

Kuatkan iman tingkatkan takwa


Sungai beriak dangkalnya terasa

Ragu tak sampai baik disudahi

Sebulan penuh kita berpuasa

Mendekatkan diri pada Illahi


Menyusur riam terbukalah langkah

Melaju pelan gelombangpun terbagi

Nikmatnya sahur penuh berkah

Pembuka hari bersemangat pagi


Menerjang jeram gelenglah kepala

Kuatnya biduk membuatku bangga

Berbuka kurma baiknya berpahala

Bolehlah satu, dua atau tiga


Lubuk nan dalam tak lagi kuatir

Kuatnya katinting sudahlah aman

Shalatlah tarawih sampai witir

Sebab Pahalanya shalat semalaman


Arus menguat tegakkan badan

Bila kehulu tak ada air bah

Jangan lewatkan berkah ramadan

Perbanyak sedekah tinggalkan ghibah


Berlayar sendiri manalah tahan

Meski semuanya kita punya

Sholatul lail jembatan keberkahan

Di sepertiga malamlah waktunya


Semoga bermanfaat!

Salam matan Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas!


Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | @kaekaha

 

Jumat, 22 Maret 2024

Pecel, Salad, dan Sandwich Beluntas Iftar Memories Saat Ngekos Dulu!

Pecel, Salad, dan Sandwich Beluntas Iftar Memories Saat Ngekos Dulu!
Kerupuk Pecel | @kaekaha

Bulan Ramadan selalu menjadi bulan yang istimewa bagi umat Islam di seluruh penjuru dunia termasuk saya dan juga teman-teman satu kos-kosan dulu, saat masih berjuang menuntut ilmu di kota tembakau di ujung timur pulau Jawa.

Vibes romansanya yang begitu kental jelas tidak akan pernah bisa terlupakan!

Salah satu pernik ramadan yang banyak meninggalkan jejak cerita saat masih ngekos dulu adalah kisah-kisah seputar makan dan makanan, baik untuk iftar atau buka puasa, makan malam setelah tarawih, maupun untuk sahur di Pagi hari sebelum shalat Subuh.

Di kos-kosan saya dulu, akses pintu masuk menjadi satu dengan akses pintu utama rumah ibu kos, hanya saja setelahnya kami harus naik tangga, karena kamar kami ada di lantai dua.

Menariknya, di lantai dua hanya ada 3 kamar kos dan ketiganya yang menempati adalah saya dan 2 teman saya sekelas yang kebetulan dulu sama-sama terdampar di jurusan Manajemen, setelah sebelumnya sama-sama terlempar dari fakultas eksak pilihan masing-masing karena belakangan terdeteksi menyandang kelainan buta warna.

Selain dipersatukan oleh buta warna, persahabatan kami juga diikat oleh kesukaan yang sama, yaitu sama-sama sayurholic alias penikmat beragam sayur-sayuran hijau dan segar.

Maklum, ternyata kami bertiga juga punya latar belakang yang sama, yaitu anak-anak gunung! Bukan pendaki lho ya, tapi memang anak-anak yang lahir dan besar di seputar gunung-gunung di Jawa Timur dan Jawa Tengah...he...he...he...

Salah satu kenangan kami terkait masalah makan-memakan yang mungkin paling berkesan, baik bagi kami maupun keluarga ibu kos adalah hobi kami memanfaatkan tanaman pagar beliau, beluntas (Pluchea Indica Less) untuk kami olah menjadi berbagai makanan sedap.

Anda tahu beluntas kan? Kecuali batang tuanya, semua bagian beluntas mulai dari daun, pucuk daun muda berikut batang muda dan juga binganya enak banget untuk lalapan, salad, trancam, urap-urap, pecel, sampai bothok sayur dan sesekali kami tumis pedas.

Memang sih, untuk beberapa jenis olahan, kami harus menambahkan bahan sayuran lainnya sebagai pelengkap dan penyedap.

Secara tradisional, masyarakat di kampung saya di kaki Gunung Lawu sana meyakini, kalau daun beluntas ini sangat bermanfaat untuk terapi mengurangi bau badan. Benar tidaknya, sejauh ini memang belum ada penelitian yang memberi keterangan terkait hal itu.

Tapi, karena keyakinan komunal tersebut, akhirnya saya dan sepertinya kedua teman saya jadi terbiasa mengkonsumsi beluntas yang aroma langu-nya memang bisa menjadi mood booster untuk nafsu makan.

Hingga akhirnya, kelak kita semua mengetahui manfaat beluntas yang ternyata justeru jauh diatas ekspektasi kami, seperti menurunkan kadar kolesterol jahat, menurunkan resiko kanker alias antioksidan, mengontrol gula darah, mempercepat penyembuhan luka dan mencegah kerusakan sel akibat radikal bebas. Kurang keren apa coba khasiat si beluntas?

Menariknya lagi buat kami, kami tidak perlu beli untuk mendapatkan berapapun beluntas untuk kami olah, meskipun untuk mendapatkannya kami harus ramban alias memetiknya dulu di pagar depan rumah kos-kosan kami.

Uniknya, ketika hari ini kami petik pucuk daun beluntas ini, besoknya sudah muncul tunas-tunas pucuk daun baru. Nah karena cepatnya daun muda tumbuh, sejak kami rutin mengkonsumsinya, pagar tanaman beluntas di depan rumah kos kami menjadi jauh lebih rapi dari sebelumnya!

Lhah ini kan yang namanya simbiosis mutualisme alias kerjasama yang sama-sama menguntungkan? Kita dapat bahan pangan selayaknya superfood gratis dalam keadaan hijau segar, sedangkan ibu kos mendapati pagar rumahnya selalu terjaga kerapihannya.

Selama bulan ramadhan, sebenarnya kami justeru jarang membuat menu berbuka, karena kami bertiga biasanya berbuka di masjid milik kantor Depag yang lokasinya hanya di sebelah kos-kosan kami. Enak to!

Kami mengolah makanan, biasanya justeru selepas tarawih dan untuk makan sahur. Sebagai sayurholic, kami jelas tidak akan pernah bisa meninggalkan sayur untuk menu kami, termasuk sayur beluntas.

Paling sering, karena relatif paling cepat juga proses mengolahnya, kami biasa mengolah daun beluntas untuk trancam, salad asli Indonesia yang dibuat dari sayuran mentah dan segar. Biasanya Minggu pagi atau pas libur kuliah, kami sering membuat menu ini.

Tapi selama bulan Ramadhan, jadwal Minggu pagi bisa nggak berlaku lagi! Kami biasa mengolah sekaligus menyantapnya selepas tarawih, bahkan saat sahur juga!

Rasa sambal kelapanya yang nagih dipadu dengan sayuran hijau segar yang teksturnya kriuk-kriuk menjadikan pengalaman kuliner kami dengan beluntas semakin tak terlupakan. Murah meriah dan sedapnya nggak kaleng-kaleng, palagi khasiat daun segarnya!

Kalau bosan dengan trancam, kami bisa juga mengolahnya menjadi kuluban alias sayur matang yang direbus. Nah kalau sudah begini, mau dibuat urap-urap atau kuluban alias sayurnya pecel juga Ok!

Oya khusus untuk olahan pecel, kita tinggal nambahin sambal kacang khas Madiun yang citarasanya sangat otentik, karena saya biasa punya stok sambal pecel Madiun yang langsung dikirim dari Madiun oleh orang tua saya, yang memang masih tercatat masuk wilayah karesidenan Madiun. Duuuh sedapnya!

Jadi intinya, kami biasa memasak beluntas ini menjadi beragam menu yang kita sesuaikan selera kita, termasuk di saat Ramadan.

Bahkan kalau lagi rajin bisa saja kami mengolahnya menjadi tumis atau bothokan sedap, bahkan dengan ditemani roti tawar dan telur ceplok plus saus tomat dan saus sambal kami biasa juga mengolahnya menjadi sandwich. Duh rasanya...

Semoga bermanfaat!

Salam matan Kota 1000 Sungai, Banjarmasin nan Bungas!

Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | @kaekaha
Kompasianer Banua Kalimantan Selatan | @kaekah
a