Sabtu, 06 Juni 2020

(Final) Adu Nyali dengan Datsun Go+Panca, Menggali Potensi, Menebar Inspirasi untuk Negeri




Durian Runtuh di Kalimantan
Woooow Kereeeen! itu yang pertamakali mencuat dari benak saya ketika membaca di Kompasiana, akan ada even Kompasiana Blog Trip - Datsun Risers Expedition yang akan melintas dan menjelajahi eksotisnya alam liar Pulau Kalimantan,  dari Tanjung Redeb, Berau Kalimantan Timur sampai ke Kota Pontianak di Kalimantan Barat.Ck...ck...ck....ini even langka yang nggak boleh dilewatkan!

....waduh! Batas pendaftaran untuk etape 1 untuk jalur Samarinda-Tanjung Redeb hari ini terakhir? Masih sempat gak ya...? Wis pokoknya daftar aja dulu, diterima apa nggak itu urusan yang diatas (sama urusan admin kompasiana kali ye....he..he..he...). Alhamdulillah siang itu dalam tempo yang secepat-cepatnya semua persyaratan yang diminta admin Kompasiana siap dan beres untuk di kirim ke petugas berwenang...dan Alhamdulillah, akhirnya jadi juga saya bergabung dengan rekan-rekan dari seluruh Indonesia dalam Datsun Risers Expedition menjelajahi wisata pulau terdepan!

Inilah yang saya bilang sebagai durian runtuh di Kalimantan. Even ini merupakan berkah untuk pariwisata Kalimantan, khususnya daerah yang dilintasi oleh para risers (sebutan untuk peserta Datsun Risers Expedition), karena mendapatkan media promosi pariwisata paling efektif dan efisien, gratis lagi.....!  Kenapa efektif dan efisien? Para risers terpilih yang nantinya menjelajahi Pulau Kalimantan bukan risers biasa yang hanya jago nyetir mobil, tapi mereka adalah kompasianers, yaitu komunitas penulis media blog terbesar dan paling berpengaruh di Indonesia, Kompasiana. Mereka penulis-penulis handal dibidangnya, jadi melalui tulisan para risers-Kompasianers inilah promosi pariwisata Kalimantan akan terekspos ke seantero dunia. Kalau sudah begini, jadinya durian runtuh matang pohon sudah terbelah lagi....he...he...he....cakep banget Datsun-Kompasiana!

Terima Kasih Datsun! Terima Kasih Kompasiana! Mudah-mudahan setelah even ini, potensi besar pariwisata Kalimantan yang masih sering terabaikan dan sering timbul tenggelam, bisa segera bangkit dan take off .....


Pesona Gadis Dayak | @kaekaha

Mangenali Simpul-Simpul  Eksotisme Jantung Kalimantan

Bagi yang belum pernah mendengar dan melihat Pulau Kalimantan, membayangkan pulau terbesar di Indonesia ini yang terlintas pasti hutan belantara yang lebat, suku dayak dengan ciri khas telinga panjangnya dan orang utan! Betul...? Memang benar, semua itu bagian dari Kalimantan, tapi Kalimantan tidak sesempit itu bro...! Masih banyak ikon potensial Pulau Kalimantan yang belum tereskspos secara luas.

jangankan keluar negeri didalam negeri saja masih perlu ketelatenan dan kerja keras untuk memperkenalkannya. Untuk itulah, inisiatif dan ide cemerlang pabrikan mobil Datsun untuk mengadakan Datsun Risers Expedition yang akan menjelajahi Pulau Kalimantan patut mendapatkan apresiasi. Come on Let's go....
 
Selamat Datang di Balikpapan | @kaekaha

- Welcome to Balikpapan -

Perjalanan resmi hajatan bertajuk Datsun Risers Expedition" Round III Kalimantan etape 1 dimulai dari Kota Samarinda menuju Kota Tanjung Redeb di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Berlangsung dari tanggal 11-15 Januari 2016 memang tidak melewati Kota Balikpapan. Hanya saja, sepertinya kurang afdhol kalau kita harus melewatkan begitu saja "pintu masuk" para risers Datsun Risers Expedition dibumi Kalimantan ini.

Islamic Center (Masjid Baitul Muttaqien) landmark Kota Samarinda | @kaekaha

-- Samarinda "Kota Tepian" --

Kota Samarinda si Kota Tepian, Ibu Kota Propinsi Kalimantan Timur. Kota yang berada di tepian Sungai Mahakam ini mempunyai sejarah panjang sebagai kota perdagangan yang sangat penting bagi pergerakan dan pertumbuhan perkonomian regional Kalimantan. 

Posisi strategis Kota Samarinda yang tepat berada di jalur lalu lintas perdagangan antar pulau dan antar daerah di pedalaman Kalimantan, menjadikan pelabuhan sungai Mahakam sebagai pelabuhan tersibuk di jamannya dan Sungai Mahakam sebagai salah satu sungai telebar dan terpanjang di Indonesia sangat mendukung untuk kepentingan itu.

Hebatnya, ditengah-tengah sibuknya jalur pelayaran Sungai Mahakam ternyata didalamnya masih menyimpan spesies unik dan langka yang hampir punah, pesut mahakam. Binatang mamalia air yang lebih kita kenal dengan ikan duyung ini dengan mati-matian dijaga kelestariannya oleh masyarakat Samarinda. Mau ikut serta menjaganya, kompasianer?

Dealer Nissan-Datsun Sampaja Samarinda | @kaekaha

Perjalanan para risers dimulai dari titik ini, Dealer Nissan-Datsun Sempaja, Samarinda. Tim kami risers 4 (#Jagaw Risers) beranggotakan Rahab Ganendra, Ang Tek Khun dan saya sendiri, kaekaha.

Sekitar pukul 13.30 WITA rombongan Datsun Risers Expedition yang berjumlah 5 mobil plus beberapa mobil Offcial berangkat menuju Kota Sangatta di daerah Kutai yang berjarak sekitar 260km. 

Selama perjalanan, #JagawRisers" tidak mengalami kendala yang berarti. Driver kami Rahab Ganendra tidak perlu waktu lama untuk menyesuaikan diri dengan tunggangan baru kami Datsun Go+ Panca.  

Dengan laju kendaraan yang sifatnya koordinatif beriring-iringan dengan rata-rata kecepatan antara 50-60 km/jam kami bisa menikmati kenyamanan berkendara berkelas yang disediakan oleh rancangan Datsun Go+ Panca yang elegan dan tetap aman.

Tipikal jalan menuju Kota Sangatta dari Kota Samarinda didominasi oleh tanjakan dan turunan yang dikombinasi dengan tikungan-tikungan tajam yang berkelok-kelok, kami bisa dibilang sangat jarang bertemu dengan jalur lurus datar dengan panjang lebih dari 500 meter! Keren kan? 

Tapi itulah hebatnya Datsun Go+ Panca, dengan medan yang lumayan ekstrim dan menantang seperti itu tetap bisa berakselerasi secara maksimal, hebatnya lagi tetap bisa memberikan kenyamanan dan keamanan maksimal kepada semua penumpang yang ada di dalam kabin. Good Job, Datsun! 

Akhirnya, sekitar pukul 19.00 WITA kami mulai memasuki kota Sangatta, negeri kecil penghasil batubara terbesar di Kalimantan Timur.

Angka meter jarak tempuh Sangatta-Desa Miau Baru | @kaekaha

----  Adu Nyali di Jalur Tengkorak Sangatta-Tanjung Redeb ----

Kaekaha, ini dia driver #JagawRisers untuk jalur tengkorak Sangatta-Barau | @kaekaha
Bismillah, setelah berdoa bersama akhirnya kami tim #JagawRisers dan semua peserta Datsun Risers Expedition Kalimantan, berangkat menuju Kota Tanjung Redeb, Berau. 

Kali ini saya yang duduk di belakang kemudi. Jam tangan saya menunjukkan tepat pukul 07.30 WITA ketika start dimulai, sedangkan catatan kilometer pada speedometer mobil kami menunjukkan angka 8327 dengan kondisi bahan bakar full. Seperti sehari sebelumnya, tim kami selalu mencatat data-data tersebut guna mengetahui total jarak tempuh yang kami tuntaskan plus tingkat konsumsi bahan bakar mobil tunggangan kami Datsun Go+ Panca.
 
Keluar dari, area parkir Q Hotel Kota Sangatta, semua risers dan tim official lansung melaju teratur sesuai urutan angka mobil. Sekitar 15 menit pertama, para risers masih menjelajahi area Kota Sangatta yang pagi itu terlihat sudah mulai menggeliat aktifitas warganya. 

Sebagai kota kecamatan, Kota Sangatta memang tidak terlalu padat dan sibuk layaknya Kota Samarinda yang kemarin telah kita lalui. Beberapa saat berlalu, perjalanan risers mulai memasuki daerah tidak berpenghuni yang terlihat didominasi oleh lahan kosong pertambangan batubara baik yang masih aktif mapun yang sudah tidak aktif. 

Dari papan nama yang bertebaran di beberapa titik, area pertambangan yang terlihat masih aktif tersebut adalah milik salah satu perusahaan tambang batubara nasional yang namanya tentu sudah tidak asing di telinga, yaitu KPC (Kaltim Prima Coal) milik salah satu pengusaha nasional. Sedang yang tidak aktif lagi, terlihat tidak terurus dan terbengkalai tidak jelas siapa pemiliknya.

Medan di Kalimantan! | @kaekaha
Semakin jauh meninggalkan Kota Sangatta, jalanan yang kami lalui semakin menyempit dan menantang nyali. Terdapat beberapa ruas yang aspalnya terkoyak, sehingga perlu ekstra hati-hati untuk melintasinya. 

Kontur geografis wilayah Sangatta-Tanjung Redeb yang berbukit-bukit dengan hutan lindung di sekelilingnya menyebabkan sepanjang jalan yang kami lalui layaknya mengendarai roller coaster di tengah hutan. 

Bergelombang, tanjakan, turunan dengan tingkat kecuraman sedang, luar biasa, sampai yang super ekstrem plus kelokan dengan variasi tikungan biasa sampai hampir berputar 180 derajat dengan lengkung putar yang relatif sempit, belum lagi di sebelah kiri atau kanan sebagian besar adalah jurang-jurang menganga dengan kedalaman sampai puluhan meter yang tidak jarang terkombinasi dengan badan jalan yang tinggal 1/3-nya saja, karena longsor. 

Wooooooooe! Sereeeeeem! Tapi memang inilah yang harus kami lalui, alam liar Kalimantan yang masih perawan dan sangat menantang bagi para petualang seperti kami, semua risers.

Angka meter jarak tempuh Sangatta-Desa Miau Baru | @kaekaha

CSR DATSUN DI DESA ADAT DAYAK MIAU BARU

Angka speedometer kami saat itu menunjukkan angka 8517, artinya kami sudah melakukan perjalanan sejauh 190 km dari titik Q Hotel, Kota Sangatta yang kami tempuh selama 6,5 jam perjalanan, ketika semua risers Datsun Risers Expedition diajak oleh official untuk berbagi CSR kepada anak-anak usia sekolah suku dayak di desa Miau Baru, Kecamatan Kombeng, Kabupaten Kutai Timur. 

Desa yang selama ini lebih dikenal sebagai salah satu destinasi wisata budaya ini, memang luar biasa. Selain masih menjaga tradisi adat dayak dengan baik, dibuktikan dengan masih terjaganya lamin atau rumah panjang sebagai simbol adat yang terus difungsikan, dipertahankan dan dilestarikan sampai detik ini.

CSR Datsun di Rumah Lamin Desa Miau Baru | Official DATSUN
Selain itu, desa ini bisa dijadikan contoh riil dari hidupnya budaya toleransi yang begitu luar biasa. Masyarakat dayak di desa ini bisa hidup berdampingan dengan para pendatang yang datang dan menetap didesa mereka yang tentunya mempunyai latar belakang suku, agama, ras dan golongan yang berbeda-beda dengan aman dan damai. 

Dalam acara CSR yang berdurasi sekitar 1 jam tersebut, acara dikemas sangat kreatif. Para risers dilibatkan secara langsung untuk menunjukkan kreatifitas kelompok masing-masing dalam memberikan influence berbagai pengetahuan dan keilmuan baru yang relevan dan bermanfaat bagi adik-adik dari SDN Miau Baru. 

Kami dari tim #JagawRisers, mengusung tema indahnya berbagi yang dikemas dalam bentuk dongeng dan game seru. Rangkaian acara CSR datsun diakhiri dengan makan bersama dan dilanjutkan dengan sesi eksplorasi rumah adat dayak miau baru dengan foto dan video.

Tim #JagawRisers bersama anak-anak SD Miau Baru | @kaekaha

ROLLER COASTER DI TENGAH BELANTARA HUTAN KALIMANTAN

Setelah semua rangkaian acara CSR Datsun berakhir, kami risers dan semua rombongan berpamitan kepada tetua adat setempat untuk melanjutkan peejalanan kami menuju Tanjung Redeb dengan estimasi perjalanan sekitar 5 jam perjalanan. 

Tidak seperti perjalanan Kota Sangatta-Desa Miau Baru yang kiri kanan kami sepanjang perjalanan didominasi lahan tambang yang gersang dan vegetasi kebun sawit, peejalanan dari Desa adat Dayak Miau Baru menuju Tanjung Redeb, yang berjarak sekitar 170km lebih didominasi oleh hijaunya hutan hujan tropis Kalimantan yang masih perawan dengan pohon-pohon tinggi dengan kerapatan yang masih terjaga dengan baik. 

Meskipun kontur jalanan yang kami lalui masih sama seperti roller coaster tapi setidaknya pemandangan hijau disekitar kami bisa membuat segar mata dan paru-paru kami, sehingga mengurangi rasa jenuh dan lelah kami para risers setelah menempuh perjalanan jauh.

Sebagian Roller Coaster jalur tengkorak Sangatta-Tanjung Redeb | @kaekaha
 Setelah melanjutkan perjalanan sekitar 3 jam, semua rombongan Datsun Risers Expedition akhirnya memutuskan singgah sebentar di Kantor Kecamatan Kelay untuk sholat dan istirahat sekitar 30 menit, kebetulan di sini terdapat sebuah Masjid dan halaman Kantor Kecamatan Jelai Kabupaten Berau yang luas bisa menampung semua mobil rombongan Datsun Risers Expedition. 

Sampai disini angka speedometer mobil kami 8599, artinya jarak antara Desa Adat Dayak, Miau Baru dengan Kantor Kecamatan Kelay Kabupaten Berau adalah sejauh 82 km dan kami tempuh selama 3 jam perjalanan.


Foto Bersama di depan Kantor Kecamatan Kelay | @kaekaha

Setelah melaksanakan kewajiban Shalat Dhuhur dan Ashar yang di gabung (jamak qashar) sekaligus berdoa dengan meminta keselamatan dan kemudahan dalam perjalanan kepada yang Maha Kuasa, perjalanan menuju Tanjung Redeb Kita lanjutkan dengan hati dan pikiran yang lebih lapang dan fresh. 

Medan yang kami lalui masih relatif sama. Kiri kanan kami masih berupa jurang-jurang menganga yang dibalut oleh hijaunya dedaunan hutan hujan tropis Kalimantan yang maaih perawan, hanya saja kami mulai bertemu dengan peradaban manusia, berupa beberapa rumah dan perkampungan penduduk walaupun masih relatif jarang dan sedikit.

KETANGGUHAN MESIN DATSUN MENGANTARKAN PARA RISERS SAMPAI TUJUAN

Ditengah perjalanan mendekati Maghrib, kami para risers dikejutkan oleh berita salah satu mobil official yang memang mengawal kami dari jauh di belakang kehabisan bahan bakar ditengah hutan.

Memang sepanjang perjalanan kami sama sekali tidak menemukan SPBU, untung mobil Datsun G+ Panca yang kami tunggangi iritnya jagoan! Jadi tidak perlu risau meskipun sepanjang jalan tidak ada SPBU. 

Selain itu ketahanan dan ketangguhan mesin Datsun Go + Panca tidak perlu diragukan lagi. Datsun mampu melibas dengan aman dan nyaman, turunan, tanjakan dan tikungan-tikungan super ekstrem.

Saya membuktikan sendiri dengan mengendarainya sejauh 366 km dari Kota Sangatta - Tanjung Redeb dengan waktu tempuh yang ralatif lama (13 jam) dan saya tetap fit dan segar!  

Lamanya perjalanan disebabkan karena pola dan sistem yang dipakai dalam event Datsun Risers Expedition kali ini adalah sistem konvoi yang mengharuskan semua mobil wajib berjalan sesuai dengan nomor urut masing-masing, tidak boleh saling mendahului. Sehingga perjalanan memakan waktu lebih lama bila dibanding dengan waktu idealnya.


Iring-iringan rombongan Datsun Risers Expedition etape 1 | Official  Datsun

Semakin mendekati Kota Tanjung Redeb, hutan hujan tropis Kalimantan yang menyegarkan mata perlahan-lahan menghilang berganti dengan pemukiman dan perkampungan rumah penduduk yang rata-rata terbuat dari kayu dengan desain arsitektur dan ornamen khas adat dayak yang sudah dimodifikasi. 

Setelah sekian lama melaju menyusuri jalanan, akhirnya sekitar jam 20.30 WITA rombongan Datsun Risers Expedition mulai memasuki Kota Tanjung Redeb dan akhirnya kami memilih menginap si salah satu hotel terbaik di Kota yang berjuluk Kota Sanggam itu Hotel Swara Cantika. 

Angka speedometer mobil kami saat itu menunjukkan angka 8698 artinya total jarak yang telah ditempuh para risers dari Samarinda menuju Tanjung Redeb adalah sejauh 366 km dengan waktu tempuh total sekitar 13 jam.

Angka meter jarak tempuh Kelay - Tanjung Redeb | @kaekaha


Lelah memang lelah, tapi saya pribadi dan semua para risers sangat bangga dengan pencapaian kami bersama Datsun Go+ Panca menjelajahi Pulau Kalimantan untuk etape 1, Samarinda-Tanjung Redeb dengan sukses tanpa terjadi insiden apapun. Datsun Go+ Panca memang jaminan mutu di kelasnya.

Budayakan, Berwisata Cerdas!

Dari tiga tempat wisata utama yang dikunjungi para risers Rumah adat Dayak Miau Baru, Pulau Derawan dan Pulau Kakaban, ada beberapa catatan penting bagi kita semua yang peduli dengan kelestarian dan pengembangan pariwisata di Indonesia, khususnya di Pulau Kalimantan.

Rumah adat dayak, Lamin Miau Baru | @kaekaha

- Mengangkat Eksotisme Rumah Adat Dayak Miau Baru -

Rumah adat Dayak Miau Baru, atau warga setempat menyebutnya Lamin (Maaf...untuk yang cowok, jangan bisakan mengajak lawan jenis anda berwisata ke sini dengan mengatakan " Ayo kita main kexxxxx...ya! he...he...he....nanti kena sensor!). 

Sebenarnya sangat potensial menjadi destinasi wisata unggulan seperti rumah adat serupa di Desa Adat Dayat Pampang di Samarinda Utara. Detail ornamen khas Suku Dayak baik pada motif ukiran maupun art printing-nya begitu indah dan sangat rapi. 

Begitu juga tonggak-tonggak sapundu dengan motif ukiran yang tak kalah cantiknya di depan bangunan yang berdiri kokoh sejak ratusan tahun silam merupakan bukti dari kolektifitas semangat masyarakat Dayak untuk menjaga dan merawat budayanya yang luar biasa eksotis.

Tapi sayang, keindahan, kelokan dan pesona budaya yang begitu berharga tampak kurang terawat, terutama untuk masalah kebersihan baik didalam ruangan maupun lingkungan sekitar yang tidak dijaga. 

Didalam ruangan, disana-sini tampak terlihat sarang laba-laba dan debu yang terlihat mulai menebal, sedangkan diluar ruangan sampah yang berserakan sangat mengganggu view rumah lamin yang begitu eksotis. 

Kedepan, harapan saya semua pihak terkait terutama warga desa adat Miau Baru bisa lebih maksimal menjadikan rumah lamin ini sebagai aset untuk menjadikan desa mereka sebagai destinasi pariwisata unggulan tidak hanya untuk Kalimantan tapi untuk Dunia! 

Dengan terus menjaga dan merawatnya secara maksimal. Sedangkan untuk pemangku kebijakan, seperti Kedinasan Daerah terkait bisa memberikan pembinaan lebih intensif dan terarah demi menjadikan Desa Adat Miau Baru sebagai destinasi Wisata kelas wahid untuk mendatamngkan kesejahteraan dan kemakmuran warga setempat dan Kalimantan Timur secara umum. 

Pesan saya kepada pihak swasta, terutama DATSUN sebagai pabrikan otomotif yang telah terbukti sangat peduli dengan pariwisata Kalimantan, tentunya akan lebih bagus lagi seandainya DATSUN bisa menjadikan Desa adat Miau Baru sebagai anak asuh binaan, demi mengangkat potensi besar pariwisata desa adat ini ke jalur yang baik! Bagaimana Datsun?

View Pulau Derawan yang mempesona | @kaekaha

-- Terpanah Asmara Cantiknya Derawan --

Cantiknya pesona Pulau Derawan di ujung perairan selat Sulawesi sudah menggema ke seluruh dunia. 

Bersama-sama dengan beberapa pulau di sekitarnya seperti Pulau Kakaban, Sangalaki dan Maratua, pulau Derawan dengan pasir putihnya yang bersih dan lembut telah menjadi ikon pariwisata unggulan Kabupaten Berau dan Propinsi Kalimantan Timur.  

Cantiknya Pulau Derawan tidak lepas dari anugerah dari yang Maha Menciptakan. Selanjutnya adalah kewajiban kita untuk menjaga dan merawatnya.

Untuk Pulau Derawan yang juga berfungsi sebagai pulau hunian bagi masyarakat, saya berharap masyarakat disana juga mempunyai tekad, semangat dan harapan yang sama untuk menjadikan Pulau Derawan sebagai Destinasi Pariwisata kelas wahid dengan menjaga, merawat dan mengembangkan semua potensi yang ada dengan konsep yang benar, terstruktur dan terprogram dengan goal yang  jelas dan terukur dengan pemerintah sebagai pembina dan pengawasnya.

Jangan sampai pengembangan potensi Pulau Derawan berjalan pragmatis, bergerak sendiri-sendiri tanpa koordinasi, pola dan arah yang jelas yang akhirnya justeru terlihat semrawut dan tidak berkonsep. 

Terus terang, saya sudah melihat kemungkinan dan kecenderungan ini di Derawan. Seiring pamor yang semakin melejit yang otomatis berbanding lurus dengan tingkat kunjungan wisatawan dan okupansi penginapan, maka pragmatisme kapitalis yang bermain. 

Pembangunan penginapan di tepi pantai yang menjorok ke laut semakin marak dan sepertinya (semoga ini salah...) tidak berkonsep alias semaunya pemilik modal. tentu akan membahayakan ekosistem dan mengganggu luas penampang pantai berpasir putih yang selama ini menjadi salah satu andalan wisata Pulau Derawan.

Jangan lakukan aktifitas ini di Danau Kakaban | @kaekaha

--- Mengembalikan KKL Pulau Kakaban Sebagai Destinasi Wisata Pendidikan dan Penelitian ---


Keunikan dan kecantikan Pulau Kakaban dengan instrument laguna air payau peninggalan jaman prasejarah yang menjadi habitat berbagai spesies flora dan fauna langka hasil evolusi selama ribuan tahun lamanya, masih menyimpan banyak misteri ilmu pengetahuan yang belum terungkap dan harus diungkap dengan cara yang arif dan bijaksana. Itu tugas kita bersama!

Mari kita sebarluaskan keunikan dan kecantikan Pulau Kakaban sekaligus mengkampanyekan larangan untuk beraktifitas dan berinteraksi langsung dengan ekosistem didalamnya! Karena Pulau Kakaban sejatinya bukanlah tempat wisata umum, tapi destinasi wisata pendidikan dan penelitian, sesuai amanat Permenhut Nomor P 57 Tahun 2008 dan Surat Keputusan Bupati Berau, No.70 Tahun 2004.

Kalaupun tetap dipaksa menjadi destinasi wisata umum karena keunikan fakta dan data ilmiah Pulau Kakaban, tidak seharusnya pengunjung bisa berinteraksi secara langsung dengan berenang, snorkling, bahkan menyelam sampai ke dasar, tapi cukup dengan mengamati dari dermaga yang sudah ada. Ketentuan ini guna melindungi eksklusifitas dan private teritory ekosistem Danau Kakaban yang tentunya juga mempunyai aturan sendiri sejak ribuan tahun yang lalu.

Mari kita Nikmati Keunikan dan Kecantikan Danau Kakaban Dengan Cara yang Cerdas! Lindungi Habitat dan Ekosistem Alami Danau Kakaban dengan Tidak Berenang, Snorkling dan Diving di dalamnya!



Artikel ini juga diposting di Kompasiana, pada  23 Januari 2016   23:15
 
Artikel ini menjadi juara pertama sekaligus satu-satunya pemenang pada ajang Kompasiana Blogtrip - Datsun Risers Expedition All Etape Kalimantan (3 etape) yang penjuriannya dilakukan oleh Kompasiana, Kompas Otomotif, dan Datsun Indonesia. 
 
Pengumuman pemenang dengan hadiah iPad Mini 2 ini bisa dilihat di artikel dibawah

Inilah Pemenang Blog Review Datsun Risers Expedition Kalimantan!

Jumat, 05 Juni 2020

Untuk Risers DRE I Etape 2: Ke Banjarmasin, Belum Lengkap kalau Belum...


Gerbang Kota Banjarmasin | @kaekaha
Event Datsun Risers Expedition I Kalimantan sekarang sudah memasuki etape 2, yaitu trip Balikpapan - Banjarmasin. Informasi terakhir dari @Raadjaa orang paling sibuk dalam event ini (he..he...yang lain gak boleh sensi ya.....) kemarin sore rombongan sudah berada di daerah Loksado, Hulu Sungai Selatan, yaitu destinasi pariwisata alam liar Kalimantan yang dipadu dengan  adat dan budaya Dayak Meratus yang tidak kalah eksotisnya dengan desa adat dayak lainnya di Kalimantan Timur seperti Desa Pampang, Miau baru yang sempat dikunjungi oleh risers DRE I Kalimantan Etape 1 : Samarinda-Tanjung Redeb.

Kabupaten Hulu Sungai Selatan (HSS) dengan ibu kota kabupaten Kota Kandangan berjarak sekitar 135km dari Kota Banjarmasin. Kota Kandangan terkenal dengan kuliner Katupat Kandangan, dodol Kandangan.  

Para risers etape 2 dah pada incip-incip belum....? Rugi deh kalo belum mencoba! Karena sepanjang jalan menuju Banjarmasin, nantinya di masing-masing daerah/kabupaten mempunyai kekhasan kuliner masing-masing lho! dan semuanya dijamin mak nyuuuuus semuanya! 

Mulai dari Kabupaten Tapin, Kabupaten Banjar, Kota Banjarbaru dan Kota Banjarmasin. Jangan bingung ya...! Di Kalimantan Selatan memang ada 3 daerah Kabupaten/Kota yang diawali dengan nama Banjar. Susuri dan nikmati deh semuanya......

Semalam di Banjarmasin

Tujuan akhir Datsun Risers Expedition I Kalimantan etape 2, adalah Kota Banjarmasin, Ibu Kota Propinsi Kalimantan Selatan yang dikenal dengan Kota Seribu Sungai dan yang terbaru dengan ikon julukan baru Kota 1000 Pemadam Kebakaran. Banyak hal menarik yang bisa rekan-rekan risers etape 2 dapati di Kota Banjarmasin Bungas!  (Bungas ; Cantik, Bahasa Banjar). 

Makanya begitu sampai di Banjarmasin jangan buru-buru pulang ke daerah masing-masing ya. Jelajahi dulu Kota Banjarmasin, karena semalam di Banjarmasin pasti akan memberi kesan yang luar biasa buat para risers. Oh ya... kalimat semalam di Banjarmasin kalau dalam bahasa Banjar artinya kemarin di Banjarmasin, beda dengan bahasa Indonesia.


Kalau sudah sampai di Banjarmasin, nggak afdol kalau belum......

A. Berkunjung ke destinasi wisata berikut :

Pasar Terapung | @kaekaha

Pasar terapung

Kota Banjarmasin mempunyai 3 destinasi pasar terapung dengan spesifikasi yang berbeda-beda. yaitu Pasar terapung Muara Sungai Kuin, Pasar terapung Siring Sungai Martapura dan Pasar Terapung Lok Baintan. Khusus untuk destinasi terakhir letaknya sebenarnya di Kabupaten Banjar. 

Pasar Terapung muara Sungai Kuin di tepian Sungai Barito merupakan destinasi wisata pasar terapung pertama yang dikenal oleh masyarakat, berkat dijadikan id station salah satu stasiun televisi swasta nasional di awal 90-an. Pasar terapung siring Sungai Martapura di seberang Kantor Gubernur lama merupakan pasar terapung buatan yang hanya ada di hari libur tanggal merah dan hari minggu saja, Sedangkan Pasar terapung Lok Baintan, walaupun sama-sama tuanya dengan pasar terapung di muara sungai Kuin, tapi baru beberapa tahun terakhir dikenal luas masyarakat sebagai destinasi wisata jempolan!

Masjid Sabilal Muhtadin, Banjarmasin yang megah dan unik | @kaekaha

Masjid Sabilal Muhtadin dan Masjid Sultan Suriansyah

Kedua masjid ini merupakan landmark Kota Banjarmasin yang mewakili jamanya masing masing. Nama masjid Sabilal Muhtadin diambil dari nama kitab karya ulama Besar Kesultanan Banjar,  Syekh Arsyad Al Banjari atau dikenal juga dengan Datuk Kelampayan. 

Keunikan Masjid Terbesar di Kalimantan Selatan ini yang paling mencolok adalah bentuk kubahnya yang unik dan khas, mengambil tema dari tanggui, topi penutup kepala khas suku Banjar yang biasa dipakai oleh petani ketika akan ke ladang atau kesawah. 

Secara keseluruhan,  tema arsitektur Masjid ini merupakan perpaduan antara arsitektur Banjar, Dayak dan Melayu. Jadi jangan heran jika masuk kedalam masjid di kiri kanan mihrab terdapat ornamen ukiran khas suku Dayak yang cantik menghiasi dinding. Selain itu,  Masjid Sabilal Muhtadin juga mempunyai kawasan hutan kota yang ditumbuhi berbagai jenis pohon yang rindang,  sejuk dan segar.  

Masjid Sultan Suriansyah adalah Masjid tertua di Kalimantan Selatan peninggalan Kesultanan Banjar yang usianya hampir 3 abad. Masjid berarsitektur Banjar asli ini dibangun dengan menggunakan kayu ulin atau kayu besi yang terkenal sangat kuat.

Peta sebaran Rumah Tradisional (Foto : Dinas Tata Ruang & Bangunan Kota Banjarmasin)

Kota Pusaka Banjarmasin

Destinasi Kota Pusaka ini terletak di ddalam kota Banjarmasin,  tepatnya didaerah Sei Jingah. Disini terdapat banyak peninggalan cagar budaya berupa rumah adat Banjar "bahari" (bhs Banjar, tua) yang usianya lebih dari seratus tahun.

Museum Waja Sampai Kaputing (wasaka)

Museum Wasaka adalah museum dengan arsitektur rumah adat banjar yang menyimpan benda-benda bersejarah perjuangan masyarakat Banjar dalam mempertahankan kedaulatan daerahnya melawan penjajahan belanda. Selain itu museum yang terletak persis di sebelah jembatan banua anyar di pinggir sungai Maryapura ini juga menyimpan koleksi benda-benda peninggalan budaya Banjar.

Menara Pandang | @kaekaha

Menara Pandang Siring Martapura

Destinasi wisata terbaru di Kota Banjarmasin ini terletak di seberang Masjid Sabilal Muhtadin. Dalam komplek siring Martapura, selain ada menara pandang yang bisa dipakai untuk melihat landscape Kota Banjarmasin dari ketinggian juga terdapat beberapa item obyek menarik yang layak untuk dikunjungi,  yaitu rumah anno 1925 (rumah berarsitektur banjar yang usianya hampir satu abad),  Patung Bekantan raksasa dan khusus dihari libur di kawasan siring ini juga terdapat pasar tetapung buatan yang sangat otentik dengan aslinya. Dari dermaga siring ini wisatawan juga bisa melakukan wisata susur sungai dengan menggunakan kelotok atau perahu bermesin tempel khas Banjarmasin yang juga disebut taksi air.

B. Menikmati Kuliner Khas Banjarmasin.

Susunan Piring Soto Banjar Bapukah Siap dikuahi 
(Foto : Aditya Firmansyah)

Soto Banjar

Soto adalah makanan khas asli Indonesia. Hampir semua kota di Indonesia mempunyai kuliner soto dengan ciri dan ke-khasan masing-masing. 

Soto Banjar adalah kuliner khas masyarakat suku banjar di Kalimantan Selatan. Secara sekilas penampilan Soto Banjar tidak jauh berbeda dengan kuliner soto di daerah lain, mungkin perbedaannya adalah bahan pembuatan kuah yang dicampur susu cair dan rempah-rempah khas Banjar. 

Orang Banjar meyebut soto jika kuah beserta isinya dimakan dengan lontong atau ketupat,  tapi kalau kua sama isinya dimakan pakai nasi,  bukan soto lagi namanya!  Tapi Nasi Sop. 

Di seputaran Kota Banjarmasin banyak terdapat kedai atau warung soto Banjar dengan nama yang sudah termasyhur. Uniknya ternyata soto banjar yang mereka jual mempunyai cirikhas citarasa yang berbeda-beda satu sama lain.


Sebut saja Soto Bapukah, soto banjar yang pelanggannya lebih banyak para pendatang.  Soto Bang Amat, soto banjar langganan pejabat dari pusat dan daerah ini selain menyediakan menu soto banjar dengan citarasa asli soto Banjar ini juga menawarkan view sungai martapura dengan berbagai aktifitas warga di dalamnya.  

Kalau hari minggu disini juga ada pertunjukan musik panting,  musik tradisional khas suku banjar yang unik dan asyik ditelinga.

Selanjutnya ada  Soto Yana Yani, Warung soto ini termasuk salah satu pelopor warung soto banjar di Kota Banjarmasin. Letaknya tidak jauh dari destinasi wisata kota pusaka Banjarmasin. Warung soto ini juga menawarkan view sungai martapura dengan sudut yang berbeda,  yaitu perkampunngan khas suku banjar dengan rumah lanting dan rumah panggung yang luar biasa uniknya.

Lontong ORARI

warung ini telah me-nasional, karena menjadi jujugan artis dan tamu-tamu dari berbagai daerah yang berkunjung ke Kota Banjarmasin. Nama uniknya diambil dari salah satu komunitas radio amatir terkenal yang menjadikan warung ini sebagai tempat nongkrong dan ngumpul-ngumpul. Menu andalan di warung ini tentu saja lontong dengan tambahan lauk ikan haruan berkuah santan yang lezat rasanya.  Mau....?

Nasi Kuning Cempaka

Nasi kuning pera yang rasanya gurih khas Banjarmasin ini selalu dibungkus dengan daun pisang segar pilihan berwarna hijau tua, citarasanya benar-benar"ngangeni"! apalagi bagi penikmat sambal. Sambal yang melengkapi nasi kuning Cempaka ini selalu bikin ketagihan siapapun yang pernah merasakannya. Nasi kuning Cempaka disajikan dalam bentuk nasi bungkus dengan beberapa pilihan lauk, seperti telur itik, jeroan, ayam dan dendeng daging rusa. Di Banjarmasin ada beberapa outlet Warung Nasi kuning Cempaka di A Yani Pal 4, Jalan Niaga Pasar baru, Jl. Kampung Melayu Darat dan Jl. S Parman.


Nasi Itik Gambut | @kaekaha


Nasi Itik Gambut

Nasi itik gambut adalah sajian menu khas dari daerah Gambut Jl. A.Yani Km.13, Kabupaten Banjar Kabupaten tetangga Kota Banjarmasin, tapi karena masih satu arah perjalanan ke Banjarmasin jadi bolehlah di coba juga. Kuliner bercitarasa manis dan gurih ini cocok untuk sarapan, makan siang bahkan makan malam sekalipun. Penyajian standartnya berupa nasi putih dengan tambahan lauk berupa potongan daging itik yang di "masak habang" (habang; merah,bhs banjar ) mirip masakan bumbu bali salah satu kuliner khas suku Banjar plus teh manis panas atau hangat. Hmmmmm Nikmaaaaat.....


C. Beli oleh-oleh khas Banjarmasin

 
Kaos HY-MUNK kental rasa Banjar-nya (Foto : kaos HY-MUNK)

Kaos Rasa Banjarmasin

Trend kaos dengan tema lokal (daerah) memang lagi booming, tidak ketinggalan di Kota Banjarmasin. Kalau di Jogja ada kaos DAGADU, di Banjarmasin ada kaos HY-MUNK yang artinya senang, bahagia. Berbeda dengan konsep kaos daerah lainnya, Kaos Asli Banjar ini lebih memilih untuk menjadi media promosi bagi berbagai potensi adat dan budaya masyarakat Suku Banjar secara detail. Bila melihat katalog produk dari kaos HY-MUNK, kita seperti melihat dan membaca rekam jejak (ensiklopedi) budaya, adat istiadat dan profil suku banjar serta daerah Kalimantan Selatan secara utuh tanpa harus mengurangi roh artistik dan komersial dari produk kaosnya. Sungguh eksotis dan pasti menarik untuk dipakai dan dikoleksi.

 
Ragam motif Kain Sasirangan | @kaekaha

Kain Sasirangan

Kain sasirangan adalah kain khas suku Banjar di Kalimantan selatan. Nama "Sasirangan" sebenarnya adalah kata kerja, yaitu mengadopsi dari proses pembuatannya. "Sa" yang berarti "satu" dan "sirang" yang berarti "jelujur/lajur".

Secara harfiah sasirangan bisa diartikan sebagai proses pen-jelujur/lajur-an yang di simpul/diikat dengan benang atau tali lainnya kemudian di celup untuk pewarnaannya.
Sasirangan setidaknya mengenal 19 motif, di antaranya sarigading, ombak sinapur karang (ombak menerjang batu karang), hiris pudak (irisan daun pudak), bayam raja (daun bayam), kambang kacang (bunga kacang panjang), naga balimbur (ular naga), daun jeruju (daun tanaman jeruju), bintang bahambur (bintang bertaburan di langit), kulat karikit (jamur kecil), gigi haruan (gigi ikan gabus), turun dayang (garis-garis), kangkung kaombakan (daun kangkung) dan jajumputan (jumputan). Selain itu ada pula kambang tampuk manggis (bunga buah manggis), dara manginang (remaja makan daun sirih), putri manangis (putri menangis), kambang cengkeh (bunga cengkeh), awan beriring (awan sedang diterpa angin), dan benawati (warna pelangi).
Menurut sejarahnya, masing-masing motif kain sasirangan mempunyai fungsi yang berbeda-beda dalam ritual upacara adat suku banjar, ada yang khusus untuk pengobatan orang sakit (ghaib), laung (ikat kepala adat Banjar), Kakamban (serudung), udat (kemben), babat (ikat pinggang), tapih bahalai (sarung/jarik untuk perempuan), dan lain sebagainya.
Seiring ke-khasan kain Sasirangan yang "menjual", peruntukan kain sasirangan tidak hanya sebagai bagian dari ritual adat suku Banjar saja, tapi sudah melebar dan meluas melampaui batas-batas sakral sebagaimana fungsi awalnya. Sekarang, ditangan pejuang-pejuang kreatif, (tanpa berusaha mengubah fungsi utamanya), kain kebanggan masyarakat Kalimantan Selatan ini telah menjelma menjadi berbagai produk seni yang menakjubkan, bahkan sudah siap untuk go internasional!
Untuk info oleh-oleh dari Banjarmasin yang lebih lengkap cek di Blog saya ya, Kalbuning Manah Hati atau Kumpulan artikel saya di sini
Sebenarnya tidak cukup kalau hanya 1 atau 2 hari saja mengunjungi Kota Banjarmasin. Karena masih banyak destinasi plesiran di Banjarmasin yang belum saya tampilkan di sini. Tapi tak apalah, kehadiran rekan-rekan risers Datsun Risers Expedition Kalimantan etape 2 di Kota Banjarmasin sudah cukup membuat saya (alumni risers etape 1) juga turut bangga.....Inilah Kotaku Banjarmasin Bungas!


Artikel ini juga diposting di Kompasiana pada 21 Januari 2016   21:53

 

 

 

 

 


(Eksploitasi) Pariwisata Pulau Kakaban, Bukti Ego dan Keserakahan Manusia

Panorama di bagian luar Pulau Kakaban yang Eksotis | @kaekaha
 "Pulau Kakaban merupakan surga kekayaan biologi yang ada di Indonesia. Misteri bagaimana hewan dan tumbuhan yang terisolasi dalam danau ini merupakan salah satu obyek yang sangat diminati oleh ilmuwan untuk diungkap. Karena itu, laut ini memang pantas menjadi obyek konservasi alam yang seharusnya dilindungi dan dilestarikan"

(Dr. Thomas Tomaschik, Ahli kelautan Kanada) 

Pesona Danau Kakaban memang memikat siapapun yang pernah datang | @kaekaha

 
Dasar ilmiah pernyataan dari Dr. Thomas Tomaschik, adalah :
  1. Pulau Kakaban yang menurut bahasa lokal setempat berarti "pelukan", karena pulau atol dengan luas 774,2 ha ini mempunyai laguna berair payau yang terperangkap sejak jaman prasejarah sekitar 19 ribu tahun yang lalu di zaman peralihan holosin di dalamnya yang seolah-olah berada dalam pelukan rimbunya tepian danau yang berupa karang terjal setinggi sekitar 50 meter yang ditumbuhi oleh berbagai vegetasi tanaman hutan Pulau Kakaban yang khas. 
  2. Di dunia hanya ada 2 tempat yang mempunyai fakta  alam dan sejarah terbentuknya seperti Pulau Kakaban yang unik, yaitu terbentuk dari uplifted reef atau terumbu karang yang terangkat yaitu Pulau Kakaban sendiri dan Pulau Palau, Kepulauan Micronesia di sebelah tenggara Samudra Pasifik sekitar 1000 km dari Filipina. 
  3. Danau Kakaban dan beberapa danau kecil di pulau Kakaban termasuk dalam kategori anchialine, yaitu danau yang tidak mempunyai hubungan permukaan air dengan laut di sekitarnya, walaupun masih dipengaruhi oleh pasang surut air laut. 
  4. Kekayaan, kelangkaan, keunikan dan keberagaman biota danau kakaban yang berbeda sifat dan kondisi fisiknya dengan spesies sejenis di sekitarnya sebagai akibat proses adaptasi dan evolusi yang berlangsung sejak ribuan tahun lamanya, merupakan misteri alam yang menjadi daya tarik bagi penelitian ilmiah multi science. 
  5. Danau Kakaban menjadi rumah bagi 4 spesies ubur-ubur tanpa sengat sekaligus, yaitu ubur-ubur terbalik (Cassiopea ornata) ubur-ubur ini berenang terbalik karena sedang ber-simbiosis mutualisma dengan Algae yang menempel dibagian kaki yang membutuhkan sinar matahari untuk ber-fotosentesa, ubur ubur totol (Mastigias cf papua) besarnya sekepalan tangan seperti bola pijar dengan warna biru kecoklatan, ubur-ubur bulan (Aurelia aurita)  ubur-ubur ini bening seperti mangkok kaca dan ubur-ubur kotak (Tripedalia cystophora) ubur-ubur ini relatif lebih kecil dibanding lainnya dengan kecenderungan berbentuk kota dengan ukuran rata-rata sebessar ujung jari. Sedangkan Danau Pulau Palau di gugusan Kepulauan Micronesia hanya dihuni satu jenis ubur-ubur saja, yaitu Golden Jellyfish atau ubur-ubur emas (Mastigias sp). 
  6. Selain ubur-ubur tanpa sengat, Danau Pulau Kakaban juga dihuni oleh berbagi jenis biota air yang tentunya juga telah ber-evolusi selama ribuan tahun. Ada jenis ikan [ikan kupu-kupu (Chaetodontidae), serinding (Apogon lateralis), puntang (Exyrias puntang), teri karang (Antherinomorus endrachtensis) dan ikan julung-julung (Zenarchopterus dispar)], ular laut, kepiting bakau dsb. 
  7. Selain berbagai jenis fauna unik, Pulau kakaban juga menjadi habitat dari berbagai flora khas yang beberapa diantaranya merupakan endemik setempat. Bagian daratan Pulau Kakaban yang terlihat memeluk danau kakaban sebagian besar ditumbuhi oleh berbagai jenis mangrove dengan tutupan mencapai lebih dari 60% seperti Rhizophora mucronata, Rhizophora stylosa, Xylocarpur granatum, Tanjang (Bruguiera gymnorrhiza) dan Excoecaria agalocha. Ada juga pohon api-api (Avicennia), dan pidada (Sonneratia). Di sepanjang kiri dan kanan jembatan titian yang terbuat dari kayu meranti penghubung dermaga luar dengan bibir Danau Kakaban, tumbuh menjulang berbagai jenis pepohonan liar yang sebagian diberi identitas dengan nama lokal, seperti Asin-asin, Bituai,Bulung-Bulung, Gaggil, Puut, Taluntung dsb.
Sebagian pohon yang tubuh di hutan Pulau Kakaban | @kaekaha

Dari beberapa fakta dan data ilmiah tentang Pulau dan Danau Kakaban diatas yang begitu spesial, dari sudut pandang orang awampun ungkapan Dr. Thomas Tomaschik adalah sebuah keniscayaan! Rasanya memang tidak ada alasan lain bagi kita semua "pemilik" pulau dan danau warisan jaman prasejarah tersebut selain harus melindungi dan melestarikannya. Lantas, apa yang kira-kira bisa kita lakukan untuk tujuan dan maksud tersebut?

Menurut Permenhut Nomor P 57 Tahun 2008, tentang daftar spesies-spesies prioritas nasional untuk katagori spesies bahari dan perairan tawar, ubur-ubur danau Kakaban termasuk salah satu dari total 21 jenis satwa yang mendapatkan prioritas tinggi untuk dilindungi.

Menurut Surat Keputusan Bupati Berau, No.70 Tahun 2004, Pulau Kakaban ditetapkan sebagai Kawasan Konservasi Laut (KKL) Daerah, dengan mengemban visi : konservasi dan misi : Pelestarian, pendidikan dan ekonomi yang secara teknis membagi Pulau Kakaban menjadi 2 kategori wilayah (zone), yaitu :

    Inner Zone : Perlindungan habitat dan ekosistemnya
    External Zone : Perlindungan dan Kawasan Wisata

dimana Dinas perikanan dan kelautan sebagai lembaga yang bertugas untuk mempersiapkan perencanaan Kawasan Konservasi Laut Daerah, mengkoordinasikan dan sekaligus mensosialisaikan kepada semua pihak terkait.


Snorkling di Danau Kakaban, seharusnya tidak perlu dilakukan | @kaekaha

Dari dua produk hukum diatas, intinya adalah sama! Ingin menjaga dan melestarikan habitat dan ekosistem Pulau Kakaban. Pertanyaannya, apakah dua produk hukum diatas sudah signifikan memberikan kontribusi maksimal bagi "keamanan" dan kelestarian habitat dan ekosistem Pulau dan Danau Kakaban? Sepertinya belum!



Jembatan titian menuju dermaga di bibir danau @kaekaha

Status Kawasan Konservasi Laut (Daerah) yang disematkan kepada pulau Kakaban menurut saya kurang tepat, karena semua yang ada di dalam Pulau Kakaban terlalu berharga. Kalau melihat data dan fakta ilmiah Pulau Kakaban yang begitu luar biasa, seharusnya status Kawasan Pulau Kakaban adalah suaka margasatwa, cagar alam atau paling tidak Taman Nasional yang mempunyai konsekuensi pengelolaan dan pemeliharaan obyek alam dimaksud lebih ketat, kuat dan legitimate, baik dari segi hukum maupun kualitas action-nya.

Berdasarkan observasi pandangan mata sederhana ketika berkunjung ke Pulau Kakaban dan Danau Kakaban beberapa hari yang lalu bersama para risers-kompasianer dalam rangkaian event Datsun Risers Expedition-Kompasiana Blog Trip, ada kegundahan dan kekhawatiran yang langsung menyeruak ketika melihat langsung "cara dan proses" para pengunjung menikmati eksklusifitas habitat dan ekosistem, khususnya Danau Kakaban yang sangat tidak sejalan dengan semangat menjaga dan melestarikan sesuai amanat Permenhut Nomor P 57 Tahun 2008 dan Surat Keputusan Bupati Berau, No.70 Tahun 2004, karena :


Terkesan asal-asalan, tidak terurus dan tidak profesional | @kaekaha
  1. Dengan mengijinkan pengunjung berinteraksi secara langsung bahkan beraktifitas didalam ekosistem biota endemik yang masuk dalam spesies-spesies prioritas nasional untuk dilindungi, merupakan sebuah blunder dan kesalahan besar yang harus segera dikoreksi! Kita, manusia termakan jargon "ubur-ubur di danau Kakaban sangat bersahabat dengan manusia". Ini jelas konyol! Karena "bersahabat" jelas-jelas bukan naluri binatang. Jangan-jangan jargon ini sebenarnya adalah upaya legalisasi kita untuk menginvasi dan mengeksploitasi mereka yang lemah tanpa senjata berikut ekosistemnya?  Seandainya ubur-ubur di danau Kakaban bisa diajak berdialog dengan bahasa manusia, mungkin hanya keluh kesah dan bahasa galau yang akan keluar dari mulut mereka! Analogi berikut mudah-mudahan bisa membantu logika emosional kita. Kira-kira apa yang kita rasakan, ketika tiba-tiba ada segerobolan gajah yang tentunya lebih besar dan lebih kuat dari kita, meskipun jinak tapi tetap mempunyai naluri membunuh dan merusak, tiba-tiba masuk ke komplek perumahan kita, ingin berdekat-dekatan, bermain-main dengan kita, anak-anak kita dan lingkunan komplek perumahan kita? manusia 
  2. Eksploitasi Danau Kakaban sebagai daerah pariwisata umum, seharusnya juga dikoreksi! Menurut Surat Keputusan Bupati Berau, No.70 Tahun 2004, kawasan Danau Kakaban seharusnya masuk dalam Inner Zone, yaitu fungsi perlindungan habitat dan ekosistemnya. Kalau kita memang ingin melindungi habitat dan ekosistem Danau Kakaban, seharusnya secara total jangan setengah-setengah, riilnya habitat dan ekosistem Danau Kakaban harusnya bersih dari berbagai aktifitas dan kegiatan manusia dalam bentuk apapun, apalagi berinteraksi/bersentuhan secara langsung dengan biota Danau Kakaban seperti berendam, berenang, snorkling dan diving, kecuali untuk tujuan pendidikan dan penelitian ilmiah. Kalaupun Danau Kakaban tetap dipaksa menjadi destinasi wisata umum karena keunikan fakta dan data ilmiah diatas, tidak seharusnya pengunjung bisa berinteraksi secara langsung dengan berenang, snorkling, bahkan menyelam sampai ke dasar, tapi cukup dengan mengamati dari dermaga yang sudah ada. Mungkin cara ini lebih arif dan bijaksana untuk menjaga eksklusifitas dan privasi ekosistem Danau Kakaban. Atau kalau memungkinkan, kedepan bisa dibuatkan semacam terowongan kaca seperti seaworld di dasar danau dari ujung dinding ke ujung dinding danau? Tapi opsi ini tentu harus melawati kajian yang mendalam meliputi teknologi dan dampak lingkungannya. 
  3. Tidak ada mekanisme aturan atau peraturan yang secara jelas, lugas dan tegas untuk pengunjung, terpasang di lokasi yang mudah diakses oleh pengunjung, selain himbauan dan informasi umum yang dipasang dengan kesan asal-asalan, tidak terurus, tidak profesional bahkan terlihat jorok dan merusak view alam yang begitu indah, Materinyapun sudah tidak terlalu jelas isi pesannya. 
  4. Tidak ada petugas pendamping atau sistem teknologi pengawasan yang ditugaskan, ditempatkan dan diterapkan dilapangan. Kesan yang tertangkap, pengunjung memang bebas untuk melakukan apapun di Danau Kakaban. Waduuuuuh! Seiring dengan tersebarnya keunikan dan kecantikan Danau Kakaban ke seantero dunia, logikanya pasti akan berbanding lurus dengan angka kunjungan wisatawan dan pasti berbanding lurus juga dengan juimlah manusia yang nyebur ke Danau Kakaban. Jadi ngeri membayangkan masa depan ubur-ubur yang begitu ramah menyambut kedatangan para pengunjung.
Berinteraksi dengan ubur-ubur semacam ini seharusnya dilarang! @kaekaha

Keunikan dan kecantikan Pulau Kakaban dengan instrument laguna air payau peninggalan jaman prasejarah yang menjadi habitat berbagai spesies flora dan fauna langka hasil evolusi selama ribuan tahun lamanya, masih menyimpan banyak misteri ilmu pengetahuan yang belum terungkap dan harus diungkap dengan cara yang arif dan bijaksana. Itu tugas kita bersama! Mari kita sebarluaskan keunikan dan kecantikan Pulau Kakaban sekaligus mengkampanyekan larangan untuk beraktifitas dan berinteraksi langsung dengan ekosistem didalamnya!


Keindahan dan kecantikan Pulau Kakaban memang mempesona! | @kaekaha


Mari Kita Nikmati Keunikan dan Kecantikan Danau Kakaban Dengan Cara yang Cerdas! Lindungi Habitat dan Ekosistem Alami Danau Kakaban dengan Tidak Berenang, Snorkling dan Diving di dalamnya!

Artikel ini juga di muat di Kompasiana pada 21 Januari 2016   01:13